
Sepulang dari rumah sakit, Rita selalu merasa gelisah dan bersalah. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya kepada suaminya tetapi ia takut suaminya marah. Ia bertanya pada beberapa orang, termasuk mamanya.
“Jadi ma, menurut mama, Rita harus terus terang sama Daniel tentang penyebab pendarahan kemarin?”
“Gak usah!, toh gak ada apa-apa, kamu dan bayi kamu aman kan?”
“Iya sih ma, tapi kalau Daniel lihat video rekaman itu bagaimana?”
“Nah, kalau sudah ketahuan baru deh bilang, kalau enggak ya gak usah”
“Kenapa ma? Berarti Rita gak jujur dong sama suami Rita?”
“Kalau jujur tapi akhirnya kalian ribut? Mending mana?”
“Tapi ma?”
“Terserah kamu deh Rit, kalau kamu merasa itu penting dan ingin lega dengan dimarahin sama suami mu, ya ceritain, gitu aja kok repot!”
“Mama mau kemana? Kok packing lagi?”
“Mama disuruh kembali ke rumah kakek Sugiyono, Andi sudah kembali ke London!”
“Oh ya? kok gak mampir ke sini dulu?”
“Tadinya mau jenguk kamu di RS tapi harus PCR dulu, dia malas. Begitu tahu kamu gak apa-apa dia langsung terbang ke London”
“Sama Kakek Darmawan?”
“Enggak!, kakek Dar masih ngurus Singapura 1, memangnya masalahnya serius ya Rit?”
“Gak tahu ma! Daniel gak pernah cerita masalah kantor ke Rita”
“Ohh begitu, ya udah Rit. Mama pamit dulu ya? salam sama kakek dan suami mu!” Rita mengantar Ratna sampai ke mobilnya
“Hati-hati ya Ma?” Ia memeluk mamanya
“Kamu juga ya? ah cucu-cucu ku!”
Ranna dan Raffa menghampiri nenek mereka dan memeluknya
“Kak Ranna, Bang Raffa baik-baik ya jaga mami! Jangan minta gendong, ok!”
“Nek, ikutt!” pinta Ranna
“Ranna mau nginep di rumah kakek Aki?” tanya Ratna senang, dia melihat ke arah Rita
“Jangan dulu ma, nanti papinya nyariin.”
“Ah, begitu ya? nanti saja deh Ranna, kalau adek sudah keluar, kamu bisa nginep lama sama nenek, oke” bujuk Ratna, Ranna mengangguk. Ia melepaskan pelukannya dari Ratna.
Mobil Velfire hitam membawa Ratna pergi dari rumah Rita.
“Dadahhh!!!” ujar mereka
“Kak, Bang!, sudah siang makan yuk!” ajak Rita, mereka bersama baby sitter pergi ke ruang makan keluarga
“Tumben bu Rita makan di ruang makan sini?” bisik-bisik staf dapur
“Soalnya, pak Daniel kan lagi keluar jadi gak perlu ditemani makan di kamar”
“Kenapa pak Daniel jarang makan di ruangan ini? Kita-kita kan pengen ngeliat!”
“Hush! Bu Rita datang tuh!”
Rita dan anak-anak makan dengan memilih makanan yang disediakan secara prasmanan, juga para baby sitternya. Beberapa menit kemudian ia telah selesai, lalu berpesan
“Nanti, sayur ini, lauk ini, ini dan ini sama cemilan bawa ke kamar saya ya?”
“Baik bu!”
“Terima kasih! Yuk anak-anak Kita istirahat siang!” Rita mengajak anak-anak ke taman Zen, ia sangat menyukai taman bernuansa Jepang dengan ikan Koi, dan suara gemericik air mengalir.
“Mami! Read!” Rafa memberikan sebuah buku kepada maminya
“sini Bang, ayo kita baca sama-sama, kak Ranna mau ikut baca gak?” ajak Rita. Ranna lebih senang bermain dengan ikan Koi, ia berkali-kali memberi makanan
“Kak, jangan terlalu banyak kasih makannya, nanti kekenyangan ikannya!” ujar Rita memperingatkan
Ranna menghentikan kegiatannya lalu menghampiri maminya.
“Kak Ranna habis pegang makanan ikan, cuci tangan dulu!” suruh Rita. Ranna dan Raffa ditemani baby sitter mereka mencuci tangan, setelah itu keduanya bergabung di ayunan besar putih bersama mami mereka. Rita membacakan isi buku cerita, hingga membuat kedua anaknya terlelap. Tanpa ia sadari ia pun turut terlelap. Dalam tidurnya ia bermimpi:
“Kamu tuh membahayakan anak kita! Sudah tahu sedang hamil muda masih saja atraksi yang berbahaya! Memangnya kamu mau pamer sama siapa? Sama Dewa? Indra? Ada lagi gebetan kamu?” ujar Daniel marah
“Bukan begitu Yang!, awalnya cuma memukul saja aku pikir tidak berbahaya, tapi karena sorak-sorai penonton, aku jadi ingin atraksi lebih!”
“Kamu itu benar-benar deh! Apa gak belajar dari keguguran yang lalu? Hah? Jangan-jangan kamu sengaja ya berbuat begitu? Kamu gak ikhlas kan hamil anak ku?”
“Astagfirullah enggak Yang! Masa aku begitu. Sudah ada Ranna dan Raffa masa kamu masih menuduh aku kayak begitu?” jawab Rita menangis
“Sepertinya kamu begitu! Kamu keberatan hamil lagi! Makanya kamu berbuat apapun supaya anak itu gugur kan?”
“Astagfirullah, enggak! AKU gak sengaja! Aku...aku..” Rita gak tahan lagi, ia menangis sejadi-jadinya .
“Brak!!!” Daniel membanting pintu kamar lalu pergi, sejak saat itu ia tidak lagi pulang ke rumah besar.
Sudah dua hari Daniel tidak pulang ke rumah besar, Rita menelpon supir Daniel.
“Pak Surya, hari ini pak Daniel pulang ke rumah?” tanya Rita
“Maaf bu, pak Daniel tadi berpesan ia akan tinggal di hotel selama beberapa hari”
“Oh begitu, hotel mana pak?”
“Maaf bu, pak Daniel melarang saya untuk bilang ke ibu”
“hmm..pak Surya, tolong kasih tahu pak Daniel kalau saya menelpon!”
“Baik bu!”
Sore hari sepulang kantor
“Pak, tadi bu Rita menelpon. Hari ini bapak pulang?” tanya Surya
Daniel melihat keluar jendela
“Hotel saja pak!” pintanya
“Baik pak!” surya mengarahkan mobil ke hotel berbintang 5, di mana Daniel tinggal di kamar mewah.
Sesampainya di kamar ia menghempaskan dirinya ke ranjang besar yang nyaman.
“Ahh...sudah lama aku gak menikmati keheningan ini,hmmm...” Daniel terlelap tanpa mengganti pakaiannya
Tak terasa sudah beberapa bulan Daniel tidak pulang, suatu hari Rita datang ke kantor.
“Saya istrinya pak Daniel, bisa saya bertemu dengannya?” tanya Rita pada resepsionis
“Maaf bu, pak Daniel sedang rapat pimpinan, mungkin ibu bisa menunggu?”
“Berapa lama kira-kira rapatnya?” tanya Rita
“Wah kamu tidak tahu bu, biasanya 3-4 jam”
“Lama sekali ya? kalau begitu saya bisa titip pesan?”
“Bisa bu!” Rita menuliskan jadwal kontrol dokter kandungan
“tolong ya sampaikan ke pak Daniel!” pinta Rita, lalu ia kembali pulang.
Rita menunggu Daniel di rumah sakit poli ibu dan anak.
“Rita Darmawan” panggil suster
“Sebentar suster “ dengan susah payah Rita bangun dari duduk. Kandungannya kini menginjak 8 bulan.
__ADS_1
“Sendirian bu? Bapak mana?” tanya suster
“Sedang tugas luar!” jawab Rita berbohong.
“Selamat siang dokter!” sapa Rita memasuki ruangan praktek
“Selamat siang bu Rita, wah sendirian lagi?” tanya dokter Wahyu SPOG muda dan tampan.
“hehehe iya dokter, bapaknya lagi dinas luar!”
“Oh begitu, langsung tiduran saja ya bu?” Suster membantu Rita tidur di tempat tidur
“masih suka kram bu perutnya?” tanya dokter
“Sudah enggak dok, Cuma saya sering mual!”
“Oh itu karena stres bu, banyak pikiran”
“Stress? Kira-kira supaya stressnya hilang gimana ya dok?”
“Ibu saya rujuk ke bagian psikiater saja ya? ini bukan berarti ibu sakit jiwa, tapi terkadang orang itu butuh pendapat orang lain yang mengerti ilmunya”
“Begitu dok? Boleh deh. Terima kasih ya dokter?”
“Sama-sama bu. Kandungannya sehat tidak ada cacat bawaan atau apapun”
“Jenis kelaminnya apa dokter?”
“Oh ibu belum tahu?”
“Belum! Terakhir kali USG anak ini masih menyembunyikan di balik pahanya”
“Hahaha..iya anak ini senang menggoda. Jenis kelaminnya perempuan.”
“Alhamdulillah...” Rita mengucapkan sampai berlinang air mata.
Selesai kontrol di dokter, ia pun pulang ke rumah. Di rumah ia bertemu Daniel yang sedang bermain dengan anak-anak mereka.
“Kamu kemana saja?” tanya Rita kesal
“Aku kesini!, kangen sama anak-anak!”
“Kamu gak baca pesan dari aku?” tanya Rita
“Baca!, tapi kamu kan orang yang mandiri, masa cek kandungan saja harus ditemani? Manja amat!”
“Kok kamu sekarang jadi begitu? Ini kan anak kamu juga!” ujar Rita
“Memang!, tapi kamu saja cuek sama anak itu, kenapa aku harus peduli!”
“Kalau aku cuek, ngapain aku capek-capek ke dokter? Mending aku biarin saja!”
“Iya! Biarian saja! Akhirnya kelihatan kan ibu macam apa kamu itu!” jawab Daniel ketus
“Aku? Ibu macam apa? kamu tuh! Bapak macam apa!, berbulan-bulan gak pulang! Apa itu yang disebut bapak yang baik? Ngaca kalau ngomong!” teriak Rita marah
“Kenapa kamu teriak-teriak sama suami mu? Hormat mu sudah hilang ya? hah?”
“Aku ini lagi hamil tua Niel! Anak mu! Aku tahu aku salah! Tapi apa kamu gak ada maaf buat aku? Sampai kamu menghukum aku dan anak-anak seperti ini?”
“Masalahnya bukan hanya tentang anak itu saja Rit!, Aku cuma merasa tertekan berada bersama dengan mu! Di rumah besar ini, menjadi cucu menantu orang kaya!..Aku cuma merasa...ahhh..sudah lah!”
“Jadi mau mu apa? Kamu mau aku meninggalkan rumah besar ini? Ayo! Aku gak keberatan!”
“Sama saja! Kemana pun kamu, kedua kakek mu pasti tidak akan membiarkan kamu bersama suami miskin macam aku”
“Miskin? Kamu kan sudah CEO, miskin dari mana? Kamu tuh jangan terlalu merendahkan diri deh! Jangan-jangan kamu sudah ada perempuan lain ya?”
“Perempuan lain? Jangan asal tuduh! Sembarangan saja! Kamu kali tuh! Senang banget ke SPOG, ternyata karena dokternya ganteng! Huh maling teriak maling!”
“Kamu keterlaluan Niel! Sudahlah lepas tanggung jawab, kamu menjelek-jelekkan aku seperti itu”
“Kamu duluan!”
Setiap pagi ia melihat suaminya berangkat kerja dijemput dengan mobil kantor.
“Sus, anak-anak sudah mandi?”
“Sudah bu, tadi juga sudah makan bersama bapak, ibu sudah makan?”
“Sudah tadi, aku agak pusing.”
“Kalau begitu, istirahat saja bu, perlu saya telpon bapak?”
“Gak usah!, biar saja!” Rita kembali ke tempat tidurnya. Beberapa saat kemudian kedua anaknya berhambur datang ke kamarnya
“Mami!!!” panggil Ranna dan Raffa
“Hey!! Kakak, abang! Sini tidur sama mami”
“Mi kok bobo terus?” tanya Ranna
“Mami sakit ya?” tanya Raffa, ia mengusap pipi maminya lembut
“Iya, mami sakit!” ujar Rita menangis
“Adek sakit juga?” tanya Raffa , ia meletakan kepalanya di perut buncit Rita
“Enggak adek gak sakit. Tapi aduuhh” tiba-tiba Rita mengerang kesakitan
“Suster!!” panggilnya
Kedua suster datang menghampiri
“Tolong telpon ambulan, kelihatannya saya kontraksi” pinta Rita
Suster segera melakukan perintah Rita, beberapa jam kemudian ambulan datang dan membawa Rita ke rumah sakit. Daniel dihubungi, tetapi ia tidak mengangkat telepon.
Bayi ketiga lahir dengan selamat kali ini melalui operasi cesar. Kelahiran bayi ketiga Rita , ditemani kakek Sugiyono.
“Mana Daniel?” tanya nya pada Ridwan
“Pak Daniel sedang di kantor pak!”
“Apa dia tidak bisa dihubungi?”
“Ponselnya gak diangkat pak!” jawab Ridwan, ia agak takut dengan Sugiyono
“Kalau begitu kamu samperin ke kantornya, bilang anaknya lahir prematur!” ujarnya tegas
“Baik pak!”, Ridwan segera melaksanakan perintah Sugiyono
Di kantor Lexington cabang Jakarta
“Selamat Siang!”
“Siang!”
“Saya ingin bertemu dengan pak Daniel?”
“Maaf Anda dari mana ya?”
“Saya Ridwan, mau memberikan pesan kalau istrinya pak Daniel telah melahirkan di rumah sakit”
“Oh, baiklah.” Resepsionis itu segera menghubungi sekretaris Daniel, tak berapa lama muncullah seorang perempuan muda dan cantik, ia datang menemui Ridwan
“Pak Daniel sedang meeting pak, ada yang bisa saya sampaikan ke pak Daniel?”
“Gak bisa mba, saya harus langsung memberitahu pak Daniel, kalau enggak saya bisa dipecat!” ujar Ridwan berakting
“Kalau begitu bapak tunggu saja di sini, mungkin nanti pak Daniel akan datang” ujar sekretaris cantik itu.
Ridwan menurut, ia menunggu cukup lama di ruang tunggu. Dua jam kemudian, Daniel memasuki ruangannya dan bertemu dengan Ridwan
“Eh pak Ridwan kenapa di sini?” tanya Daniel
__ADS_1
“Bu Rita melahirkan pak!”
“Hah? Kapan?”
“Tadi pagi pak, beberapa hari ini beliau mengeluh kram perutnya, tadi pagi mulai kontraksi”
“Rumah sakit mana?”
“Sincere”
“Eh, rumah sakitnya kakek Sugiyono” gumam Daniel, ia agak takut
“Ayo pak!” ajak Ridwan
“Eh..iya ayo!” Daniel mengikuti Ridwan, beberapa menit kemudian ia sampai di rumah sakit.
“Kakek!” sapanya kepada Sugiyono
“Hmm!..kamu kemana saja! Anak mu lahir kamu gak peduli!” hardik Sugiyono
“Maaf Kek!” Daniel tertunduk
“Anak mu masih dalam inkubator, karena lahir belum cukup bulan jadi nafasnya harus dibantu oleh mesin!”
“Rita di mana kek?” tanya Daniel
“Kamu masih peduli sama cucu ku? Aku mendengar kalian bertengkar, kamu sampai keluar rumah berbulan-bulan”
“Eh?” Daniel tidak berani melihat wajah Sugiyono
“Dengar ya Niel!, Rita itu memilih mu karena ia sangat mencintai mu! Kamu jangan sakiti dia! Apalagi dia lagi hamil. Seharusnya kamu lebih sayang sama dia!”
“Iya kek, saya salah!”
“Ini tidak bisa dibiarkan!, mungkin Rita bisa memaafkan mu, tapi aku tidak! Untuk sementara anak-anak dan juga cucu ku tinggal bersama ku!”
“Tapi kek?”
“Kenapa? Kamu keberatan? Kamu kembali saja ke kantor mu yang besar itu! Kamu gak peduli kan sama cucu ku?” Kakek Sugiyono mengatakan dengan nada kesal, lalu pergi meninggalkan Daniel sendirian.
Daniel terduduk lemas di ruang tunggu, ia menyadari kesalahannya kepada istrinya. Sejak dari rumah sakit, Rita dan anak-anak tinggal di kediaman Sugiyono, dan kakek itu tidak membiarkan Daniel untuk bertemu dengan anak dan istrinya.
Beberapa kali Daniel datang untuk bertemu dengan Rita, tetapi pesuruhnya tidak memperkenankannya untuk bertemu. Beberapa bulan kemudian, Daniel menerima sepucuk surat panggilan dari pengadilan agama. Ia akan dipanggil hanya untuk putusan cerai.
“Kenapa bisa begini? Bukannya seharusnya ada mediasi dulu?” protes Daniel pada hakim
“Seharusnya begitu pak, tetapi mediasi bisa terjadi kalau kedua pihak setuju, tetapi sepertinya istri Anda tidak menghendaki mediasi”
“Apa iya? Bahkan saya tidak bertemu dengannya beberapa bulan ini” ujar Daniel lagi
“Istri anda sudah memberikan beberapa bukti yang menguatkan bahwa Anda sudah mengabaikannya selama ia hamil”
“Tapi saya”
“Sudahlah pak, mungkin jodoh anda hanya sampai di sini saja” bujuk hakim
“Bagaimana dengan hak asuh anak-anak?” tanya Daniel
“Semua jatuh ke tangan istri Anda”
“Bagaimana jika saya ingin bertemu anak-anak saya?” tanya Daniel
“Anda bisa membicarakan lagi dengan mantan istri anda” ujar pak hakim
Akhirnya pengadilan memutuskan perceraian mereka.
“Rit! Rita!” Daniel membangunkan dengan suara lembut
“Eh kamu?” Rita melihat cincin di jarinya, yang masih ada. Ia melihat wajah suaminya.
“Kamu ketiduran?” tanya Daniel
“Iya, hhhh...kamu baru pulang?” tanya Rita
“Iya, anak-anak mana?” tanyanya
“Tadi di?” Rita mencari anaknya
“oh mungkin sudah dipindahkan ke kamar” ujarnya lagi, Daniel membantunya bangun
“Kamu kok tidur di situ, apa gak sakit punggungnya?”
“Tadi setelah makan, anak-anak minta dibacakan cerita, lalu aku ketiduran”
“Ayo kembali ke kamar”
“Eh Yang, ada yang mau aku sampaikan”
“di sini?”
“di kamar saja deh”
Keduanya berjalan perlahan ke kamar mereka.
“Kamu sudah makan?” tanya Rita
“Sudah tadi, waktu aku datang, meja makan sudah terhidang masakan. Aku langsung makan, aku pikir ini pasti kamu yang menyediakan”
“Ah syukurlah! Terimakasih ya, kamu sampai membereskan semuanya”
“Gak apa-apa, jadi kamu mau bilang apa?”
“Hmm..sebenarnya waktu pernikahan Lisa yang lalu aku melakukan atraksi yang cukup berbahaya”
“Oh ya? atraksinya apa?”
“Awalnya memukul kayu, lalu tendangan berputar di udara”
“Berputar di udara? Jadi kamu seperti terbang?”
“Iya, aku pikir gak apa-apa, karena aku baik-baik saja. Eh pas pulang malah pendarahan”
“syukurlah kamu gak apa-apa”
“Eh kamu gak marah Yang?”
“Marah?”
“Iya? Aku kan membahayakan bayi ini”
“Tapi gak ada apa-apa kan? Dokter bilang bayinya aman.”
“Iya sih, tapi kamu kok gak marah sama aku?”
“Kamu mau aku marahin?”
“Enggak sih, tapi aku takut kamu marah”
“Sejujurnya nih, aku sudah menebak deh pasti kamu berbuat aneh-aneh, walaupun gak menyangka kamu bakal atraksi kayak begitu”
“Kamu menebak?”
“Iya, aku sedikit curi dengar. Beberapa orang junior mu di klub taekwondo mu meremehkan mu kan? Jadi aku sudah menduganya. Atraksi itu untuk membuktikan kalau kamu masih jago!”
“memang iya?”
“Kalau aku jadi kamu pasti begitu. Sudahlah yang penting kamu dan bayi kita baik-baik saja gak usah overthinking. Kita siapin untuk ke Swiss besok yuk!” ajak Daniel
“Jadi kita ke Swiss?”
“Jadi dong!”
“Asyikk!! Horeee!!!” Rita memeluk suaminya dengan senang.
_bersambung_
__ADS_1