
“Raka keterlaluan, sudah tahu rumahnya jauh dari gerbang utama, kirim orang untuk jemput kek!” gerutu Dewa yang harus berjalan menuju rumah Raka yang berjarak sekitar 1 km dari gerbang depan.
Beberapa saat kemudian..
“Hah? Di mana nih?” Dewa yang tersesat di hutan tampak kebingungan. Ia berjalan perlahan, lalu ia memutuskan mencari pohon yang agak besar, kemudian duduk di bawah pohon tersebut untuk berisitirahat. Ia membuka ranselnya, mengeluarkan termos minum dan membuka bekalnya.
“Dasar Raka! Tadinya di bekal untuk kita makan sama-sama, karena dia gak jemput, gue aja yang makan!” ia memakan bekalnya dengan lahap. Setelah bekalnya habis ia merapikan semuanya, karena terlalu lelah berjalan ia pun tertidur.
“SSTTT!!! Heh! Heh!”
“HAH??!” ia terkejut
“Jangan bergerak! Lihat ke depan, jangan panik!” seorang anak cewek menggoncangkan bahunya membangunkan
Dewa melihat ke arah yang ditunjuk cewek itu, seekor ular menatapnya dengan lidah menjulur, walaupun ular itu tidak besar tapi cukup membuatnya ketakutan
“Jangan panik! Diam di situ!” cewek itu berlari menjauhinya, beberapa saat kemudian ia kembali membawa ranting panjang dengan dahan. Dari samping ular ia mengarahkan ranting itu ke tubuh ular, setelah ular menempel di ranting ia melemparkan ranting itu sejauh mungkin.
Dewa yang masih terkejut, antara masih ngantuk dan juga takut dengan ular.
“Kamu gak pa-pa kan?” tanya cewek itu
“Ehh...yah lumayan, makasih ya!” Dewa akhirnya sadar dari keterkejutannya
“Hmm...ngapain tidur di sini? Seharusnya kalau mau aman istirahatnya di atas pohon!” ujar cewek itu menyarankan
“Ehmm..yah..tadi ketiduran gak niat tidur di sini, oiya makasih ya tadi udah di tolongin!” Dewa kembali berterimakasih
“iya!” cewek itu tersenyum manis
“eh iya, ini di mana ya?” tanya Dewa
“Kamu mau kemana? Ini kebun kakek, kamu penyusup ya?” tuduh cewek itu
“Penyusup?.. ah masa penyusup ganteng kaya gini!” canda Dewa untuk mencairkan suasana
“Hmmm” cewek itu memperhatikan dengan seksama
“Jadi mau kemana?” tanya cewek itu dengan nada tak percaya
“Kamu tahu rumahnya Raka?”
“Raka?? Kak Andi maksudnya?”
“Ahhh..iya betul Andi..Raka Andika!” Dewa mengangguk membenarkan
“Kamu siapanya kak Andi?” tanya cewek itu lagi penuh selidik
“Hmm...saya Arya temannya Raka!”
“Beneran?”
“Suerr deh, kalau gak percaya tanya orangnya saja!” Dewa lebih percaya diri
“Kalau begitu ikutin aku, supaya gak nyasar!” cewek itu mengajak Dewa untuk jalan bersamanya
Dewa mengikutinya dari belakang, ia memperhatikan cewek itu. Tubuhnya kecil, wajahnya seperti orang jepang, rambutnya dikuncir dua kiri-kanan.
“Lucu juga!” pikirnya sambil tersenyum
“Ehh..kamu siapa? Siapanya Andi?” tanya Dewa ke cewek itu
“Hmm..menurut kamu siapanya?” tanya cewek itu lagi
“Ditanya kog nanya lagi?”
“Aku adiknya kak Andi”
“Hah?? Raka punya Adik?”
“Kamu beneran temannya kak Andi? Kog gak tahu ia punya adik?”
“Bukan begitu, dia gak pernah cerita tentang adiknya!”
“Hmmm...” cewek itu terdiam
“Nah..dari sini kamu ambil jalan ke kanan lalu terus, nah kira-kira beberapa meter akan kelihatan rumah besar!” cewek itu menunjukkan jalan
“Eh, kamu gak mau ikut sekalian ke rumah?” tanya Dewa bingung
“Enggak, sampai di sini saja!” cewek itu pergi meninggalkannya
Dewa melihatnya pergi, lalu melanjutkan perjalanannya mengikuti arahan cewek tadi, beberapa saat kemudian ia pun tiba di rumah besar
“Assalammu’alaikum, Saya Arya temannya Raka!” sapa Dewa kepada penjaga rumah
“wa'alaykumsalam, Ooo,..nak Arya tadi kemana saja? Saya menunggu di gerbang utama, tadi nak Raka menyuruh saya untuk jemput nak Arya!” ujar bapak itu
“Oh..tadi saya datang lebih cepat Pak, jadi karena itu kita gak ketemu” ujar Dewa merasa gak enak hati karena sudah berprasangka buruk pada temannya
“Silakan masuk Nak!, langsung ke lantai 2 ya, nak Raka sudah menunggu sejak tadi!”
“Baik Pak!, terimakasih” Dewa berjalan masuk ke rumah besar yang mungkin lebih cocok di sebut istana.
“Selamat Siang, Mas Arya? Ayo saya antar ke mas Raka!” seorang staf rumah menyapa dan memintanya untuk mengikutinya. Dewa mengikuti orang itu, mereka masuk ke lift
“Eh, mbak kenapa gak naik tangga saja?”
“Ruang yang ada tangganya sedang banyak tamu nyonya, lewat lift ini akan lebih cepat!”
Dewa menurut, beberapa saat kemudian mereka tiba di lantai 2.
“Ayo mas!”
Dewa mengikuti staf itu, berjalan di belakang staf. Lantai dua berlantaikan marmer warna putih gading, Dewa melihat ke langit-langit rumah yang berbentuk seperti kubah besar namun transparan, sehingga cahaya matahari dapat masuk ke dalam rumah.
“ehm..mbak, kog di sini gak panas ya? padahal atapnya itu kaca kan ya?”
“Iya, itu kaca istimewa, ia menyerap panas dari cahaya, tapi tidak membuat ruangan di bawahnya panas.”
“Kog bisa ya?”
“iya itu teknologi terbaru, tuan menggunakan panas dari cahaya untuk pembangkit listrik rumah ini”
“Wow!!” Dewa terkagum-kagum, ia berjalan mengikuti staf itu masuk ke sebuah ruangan yang sejuk, ada taman di dalam rumah
“Silakan masuk mas Arya, mas Raka sudah di dalam, saya akan kembali ke bawah” staf tadi membukakan pintu
“Terimakasih!” Dewa mengangguk dan masuk ke ruangan itu
“Hei!! Ar!, lama banget, emang gak ketemu pak Edy di gerbang?” tanya Andi
“Bilang dong kalau mau jemput! Jadi gue nungguin!” ujar Dewa cemberut
“Lha?? Pasti gue jemput lah, jarak rumah ke gerbang 1,5 km gila lo kalau mau jalan!” ujar Andi
“Eh??” Dewa tersipu menyadari kesalahannya
“udah makan belom?” tanya Andi lagi
“Tadi waktu jalan kemari gue makan perbekalan, tapi sudah lapar lagi!”
“Hah?? Jadi tadi sempat jalan? Nyasar?”
“Iya ke hutan!”
“Bukan hutan, itu kebun apel, karena baru panen jadi gak kelihatan buahnya!
“Masa kebun, pohonnya besar-besar!”
“Hah?? Berarti lo salah jalan, pantesan lama!”
“Ngomong-ngomong Ka, Lo ga bilang punya adik cewek?”
“eh, kog Lo bisa tahu?”
“Makanya gue nanya, aneh kog lo gak pernah cerita?”
__ADS_1
“Kita makan apa ya? sebentar, gue pesan sama staf bawah” Andi mengangkat teleponnya dan meminta staf untuk membawakan makanan untuknya
Beberapa saat kemudian, staf datang dengan membawa kereta makanan, ia membawakan spageti dalam mangkuk besar, ayam goreng krispy, kentang goreng, pizza, sushi,dimsum, minumannya teh, jus apel dan jeruk.
“Silakan!” ujar staf dapur
“Terimakasih!” ujar Andi sambil membuka tutup kereta makanan
“Ar, gue denger kemarin, tante bilang lo lagi cacingan jadi males makan. Temen gue gak boleh cungkring, jadi makan yang banyak!”
Hidangan yang menggugah selera, membuat air liur Dewa menetes ditambah perjalanan yang cukup jauh, membuatnya melahap semua hidangan
“Alhamdulillah...terimakasih Ka, gue jadi saudara lo aje yeh, enak banget di sini!” ujar Dewa sambil mengelus perutnya yang penuh
“Enggak ah, gue udah punya banyak saudara, sepupu gue banyak banget, kebetulan ini bukan hari libur, mereka di rumahnya masing-masing, kalau libur sekolah. Rumah ini rame banget, malah ada pertandingan segala!”
“asyik dong jadi lo gak kesepian!, btw Lo belom cerita tentang adik Lo?”
“Oh,..dia muncul lagi di hutan ya?” ujar Andi sambil mengambil kentang goreng
“Maksudnya muncul lagi? Tadinya muncul di mana? Itu beneran adik lo apa bukan?” Dewa mulai meragukan pertemuannya dengan cewek tadi
“yaa, setengah adik, dia anak dari suami mama gue yang sekarang. Masih ada rupanya?” Andi kembali dengan suara misterius
“Maksud lo masih ada itu apaan sih Ka? Maksudnya adik lo sudah meninggal gitu?” Dewa mulai gak sabar
Andi hanya terdiam dan meneruskan makannya, Dewa memperhatikannya dengan wajah bingung bercampur kesal
“Lo nginep sini kan Ar?” tanya Andi
“gak bawa baju!” ujar Dewa kesal karena pertanyaannya tidak dijawab
“Tenang, baju sepupu gue banyak, mereka kalau kesini selalu beli baju baru, dipakai juga enggak. Dasar pemborosan!” Andi menggerutu, ia mengangkat telepon dan meminta staf membawakan pakaian ganti untuk Dewa
Beberapa saat kemudian datanglah staf dengan membawa koper ukuran sedang, ketika koper itu dibuka, isinya baju dan pakaian baru .
“Pakai itu saja Ar, bisa untuk beberapa hari lo nginep di sini!”
“Yakin ini gak pa-pa? Nanti sepupu lo marah gimana?”
“Kan pinjam, lagi pula nanti dicuci bersih, dia gak bakal tahu. Kalau hari biasa, gue bosnya di sini!”
“Bos berumur 8 tahun?” Dewa terkekeh
“sebentar lagi 9 tahun!, yuk kita berenang!”
Andi mengajak Dewa ke kolam renang di samping rumah
“Di sini ada berapa kolam renang?” tanya Dewa
“Dua, indoor dan outdoor”
“Hah? Kenapa gak indoor?”
“Itu sering dipakai orang untuk latihan!”
“Maksudnya?”
“Kakek membangun sasana olah raga di sebelah rumah ini, salah satu fasilitasnya kolam renang indoor, oh iya kakek juga pembina olah raga renang di negara ini. Ukuran kolam renangnya juga disesuaikan dengan aturan internasional, jadi para atlet berlatih di situ”
“Ooo, gue kira indoor di dalam rumah besar tadi.”
“Tadinya ada, tapi terus di ubah menjadi ruangan lain, setelah adik gue mengalami kecelakaan di situ!”
“glekk!..uhuk..uhukk..uhukk!” ia terbatuk mendengar kata terakhir Andi
“Pelan-pelan Ar, minum nih!” Andi memberikan jus jeruknya
“Terimakasih!” Dewa meminum jusnya
Beberapa jam setelah mereka berenang, dan berganti pakaian, Andi mengajaknya untuk makan malam. Kali ini makan malam mereka berada di ruangan besar, dengan meja yang besar pula
Dewa terkagum-kagum, ini lebih cocok jadi hotel daripada rumah, pikirnya
“Duduk sini, Ar!” Andi menggeser bangku di sampingnya
“Wah, masih hobi makan nasi goreng!, Mbak, tolong dong aku mau makan kayak dia!” pinta Andi kepada staf dapur
Dengan sigap para staf melayani Andi sesuai permintaannya.
“Silakan Mas!” staf memberikan sepiring nasi goreng dengan toping telur ceplok dan sosis
“Terimakasih!” Andi tersenyum
“Mas Raka, ibu Ratna minta mas untuk membujuk Neng Rita makan, dari tadi siang dia belum makan” ujar staf tadi
“Hmm...iya sebentar ya, tolong ini ditutup, aku mau panggil dia!” Andi beranjak dari tempat duduknya
“Lo lanjutin makan Ar, gue pergi sebentar!” Andi berlari keluar dari ruang makan
Dewa hanya memperhatikannya, “Rita? Siapa?” pikirnya
Beberapa saat kemudian Andi datang menggandeng cewek berkuncir yang tadi siang bertemu dengannya di hutan
“huk..uhukk..uhukk!!” Dewa terbatuk tersedak sekaligus terkejut dengan cewek yang di bawa Andi
“Kamu makan dulu, supaya ada tenaga untuk kabur!” bujuk Andi ke cewek itu, anehnya cewek itu menurut
“Eh iya, Rita ini teman kak Andi, namanya..”
“Arya Dewangga!” sambung Rita
“Eh kalian sudah kenal?” tanya Andi bingung
Dewa melotot kesal, ke Andi
“Ini cewek yang tadi gue ceritain!” ujarnya ketus
“Ooo...Rita, iya ini Rita, usianya 7 tahun!” ujar Andi memperkenalkan
“Tapi Ka, kenapa tadi Lo bersikap seolah-olah Rita ini sudah jadi hantu?” tanya Dewa kesal
“Hantu?, kapan gue bilang Rita hantu?”
“Tadi Lo bilang muncul lagi di hutan, masih ada, terus kecelakaan di kolam renang!” jelas Dewa makin kesal
“Hahahaha....Rita ini sering kabur kalau guru les taekwondonya datang, makanya gue bilang dia ada di hutan, guru lesnya masih ada. Waktu kecil dia memang hampir tenggelam, tapi bisa selamat.”
“Ooo..begitu,..salam kenal ya Rita, panggil saja aku kak Arya atau Dewa!” Dewa memperkenalkan diri sambil tersenyum
“Kakak ini takut sama ular ya? tadi Rita bantuin ngusir ular!” ujar Rita tiba-tiba
“Siapa yang ke hutan?” suara menggelegar namun tegas, semua mata tertuju padanya
“Kakek!” panggil Andi
Kakek Andi bernama Sugiyono, salah satu konglomerat terkaya di negeri ini
“Rita, kakek sudah bilang, jangan main ke hutan itu, selain jauh kakek belum menyuruh orang untuk menyisir kalau-kalau ada binatang buas di sana!” ujar kakek dengan suara tegas memarahi Rita yang tertunduk
Kakek duduk di ujung meja besar, dan langsung dilayani para staf bak raja di istananya.
“Kamu bolos les lagi ya?” tanya kakek dengan menatap tajam ke arah Rita
“Cuma hari ini Kakek, Rita menunggu Ayah” ujar Rita yang berusaha tegar
“Kamu gak boleh ketemu ayah kalau gak mau latihan!” ujar kakek tegas
“Kenapa sih Kek, Rita kan masih 7 tahun, pentingnya latihan bela diri itu apa?” ujar Andi membela Rita
“Kalau jantung mu gak lemah, juga kakek suruh latihan lebih keras! Kakek gak mau punya cucu mleyot lemah!”
Semua orang di ruangan makan terdiam, Andi meneruskan makannya, sesekali dilihatnya Rita yang terisak. Di dekatinya Rita, lalu ia menyuapi nasi gorengnya ke mulut Rita dengan sayang. Rita menatapnya dengan mata terharu
“Plang!!” kakek menjatuhkan sendoknya
“Selain malas latihan, kamu juga gak bisa makan sendiri ya Rita?” tanya Kakek
__ADS_1
“ Bisa kakek!” jawab Rita setengah berteriak, ia mengambil sendok dari tangan Andi dan makan sendiri.
Andi yang merasa iba kembali ke tempat duduknya
“Kamu temannya Andi? Arya bukan?” tanya Kakek dengan nada datar
“Iya Kek!”
“Berapa hari kamu menginap di sini?”
“Ehm...besok saya pulang kek!” jawab Dewa , hatinya mulai takut dengan kakek yang tegas
“Tidak, tadi orang tua mu menelpon, kamu di sini sampai di jemput orang tua mu. Adikmu lagi sakit kan? Mereka minta supaya kamu tinggal di sini selama mereka merawat adikmu. Dan selama di sini kamu juga harus mengikuti yang dilakukan anak-anak di sini!” ujar kakek
“Hah?? Eh iya Kek!” Dewa yang terkejut dengan perkataan kakek , karena orang tuanya tidak mengatakan apa-apa sebelumnya
“ Andi, Kamu sekamar sama Dewa kan?”
“Eh iya Kek!”
“hmm,..apa tempat tidurnya cukup?” tanya kakek
“cukup Kek, Andi senang ada teman di kamar!”
“Tidak!, Alan! siapkan kamar untuk Dewa, yang kosong itu sebelah kamar Rita." perintah kakek kepada staf yang bernama Alan
"Kakek gak suka kalian sekamar, nanti kalian akan asyik sendirian di kamar gak peduli dengan sekitar, jadi akan lebih baik kalau tidur kalian terpisah!”
“Iya Kek!” Andi menuruti kata-kata kakeknya.
“Rita, kalau kakek dengar kamu kabur lagi dari pelajaran bela diri, kakek akan betul-betul melarang kamu ketemu ayahmu! Kamu tahu kan kakek gak pernah main-main dengan ucapan kakek?” ujar kakek tegas sambil mengelap tangannya lalu beranjak meninggalkan ruang makan
“Iya Kek, Rita gak akan bolos lagi!” ujar Rita menjawab perkataan kakeknya
Malam menjelang, setelah makan mereka berkumpul di ruang belajar, ruang belajar berada di lantai 2, selain layar besar, dengan sound system lengkap, juga penuh dengan buku. Terkagum Dewa di buatnya
“Semua buku ada di sini Ar?” tanya Dewa sambil melihat bukuyang tersusun rapi di rak
“ he eh, kakek sangat suka membaca, beliau bilang dengan membaca duniamu akan terbuka. Beliau mengoleksi buku-buku sejak ia remaja masih ada hingga kini. Bahkan masih terawat rapi” ujar Andi menjelaskan
“Eh Ka, maaf cuma nanya, memangnya ayahmu gak tinggal sama kamu lagi?” tanya Dewa
“hmm, kalau ayahku sudah meninggal setahun setelah aku lahir, beberapa bulan kemudian mama menikah lagi dengan dokternya ayah, nah itu ayahnya Rita!”
“Kog ayahnya Rita gak tinggal di sini?”
“Soal itu gue gak tahu, yang jelas kakek selalu kesal kalau Rita menyebut tentang Ayahnya”
“Ooo begitu, adik lo itu berani juga ya sama kakek, gue dengar suaranya saja sudah takut.”
“Rita itu memang pemberani, walaupun ia ketakutan tapi selalu berusaha melawan ketakutannya. Padahal tadinya cengeng, entah sejak kapan cengengnya berkurang!”
“Tapi Lo kakak yang baik juga ya, Ka!”
“Gue dan Rita walaupun beda bokap tapi nyokap kita kan sama, Cuma kita berdua yang keluarganya gak lengkap, kalau kita gak berani bisa dibully sepupu-sepupu yang lain!”
“Emang sepupu lo banyak?”
“ada 12 kalau gak salah, yang paling tua sebenarnya seumuran gue, namanya Roby, dia kasar banget. Btw baju yang lo pakai tadi itu punya dia!”
“Waduuuhh..kalau dia tahu bisa gawat nih!” Dewa mulai khawatir
“Tenaaangg...dia gak bakal tahu!!” ujar Andi menenangkan, perkataannya berlawanan dengan kejadian sebenarnya
Beberapa hari kemudian...
“Biiii.....baju aku mana???” tanya Roby
Salah satu staf bernama Bibi, datang ke kamarnya tergopoh-gopoh
“Eh, baju yang mana ya mas?”
“Itu baju yang ada di lemari ini, aku kan baru beli, belum aku pakai!” ujar Roby dengan mata garang
“Ehh, sebentar ya, bibi tanya dulu, ia meraih telepon di kamar Roby dan menanyakan pada staf lainnya
“eh, Mas, bajunya dipinjam sama temannya mas Raka”
“Kurang ajar si lemah itu!!” Roby berlari keluar kamar menuju kamar Andi, di tengah jalan ia melihat Dewa yang sedang duduk di dekat tangga memakai bajunya. Tanpa pikir panjang Roby menyerang Dewa, selain dipukul dari belakang ia juga menarik baju Dewa hingga terlepas dari badannya. Dewa yang terkejut dengan serangan tiba-tiba Roby hanya pasrah ia melindungi tubuhnya dari tendangan Roby.
“Ini baju gue! Dasar pengemis sembarangan saja memakai baju orang!” hardiknya sambil terus menendang Dewa
Tiba-tiba Rita menendang punggung Roby hingga ia terantuk tangga dan jatuh terguling, Rita menarik tangan Dewa dan mengajaknya lari
“Lari kak! Jangan diam saja!” Dewa menuruti Rita dan mengikutinya, sekujur tubuhnya sakit.
Rita membawanya masuk ke kamarnya,dan menguncinya
“Tidur di sini Kak!” ia membuka selimutnya, Dewa menuruti. Ia berbaring, sekujur tubuhnya penuh dengan lebam.
“Sebentar ya Kak!” Rita mengambil obat dari lemari di kamarnya dan memberikan kepada Dewa
“Minum ini kak, supaya gak sakit. Nih pakai baju ini saja ya?”
Dewa mengangguk pelan, anak kecil ini sangat berani pikirnya. Setelah minum obat dan berganti pakaian, ia pun tertidur. Ketika bangun ia dapati dirinya sudah berada di ranjang rumah sakit.
Kakek mendengar insiden tadi pagi segera menyuruh stafnya untuk membawa Dewa ke rumah sakit untuk di ronsen takut ada yang patah dan segera diobati.
“Arya, maaf ya!” ujar Andi menyesal, tadi gue beli baju ganti untuk Roby, ternyata terlambat, dia sudah keburu tahu. Untung ada Rita”
“Eh iya, Rita mana?” tanya Dewa sambil mencoba untuk bangkit
“Tadi dia sudah dijemput ayahnya, mulai sekarang dia gak tinggal sama kita lagi!” ujar Andi sedih
“Dia yang bawa gue kemari?” tanya Dewa
“Enggak, tapi waktu ayahnya datang ia minta ayah untuk mengecek keadaan Lo, atas rekomendasi beliau Lo langsung di bawa ke RS!”
“ Terus Roby gimana?”
“Karena jatuh dari tangga, dia juga diopname, tapi gak di sini, sama kakek si suruh ke RS yang agak jauh supaya gak dendam sama Rita.”
“Roby itu mengerikan ya, Lo gak pa-pa Ka?”
“Mana berani Roby nyentuh gue, sekali aja, habis tu orang sama kakek!”
“Kakek lo bukannya juga melindungi Roby?”
“Bukan kakek yang ini, tapi kakek, ayahnya bokap gue, Kakek Darmawan. Cucunya luka, dia bakal perhitungan!”
“Ohh..begitu, keluarga kog jadi mirip gangster!”
“Tapi Lo sudah gak pa-pa kan?” tanya Andi Khawatir
“yah Cuma kaget aja sih, kayaknya gak ada yang patah!” ujar Dewa melihat tubuhnya yang lebam-lebam
“Kakek bilang Lo jangan pulang dulu sampai lebamnya hilang, beliau gak enak hati sama ortu lo!”
“Yahh..namanya kecelakaan, mau diapain!, hehehe!” Dewa tersenyum, Andi memukul bahunya
“Masih becanda aje lo!”
“Aduhh!!! Sakit tahu!!” erang Dewa
“Ups Maaff!!!”
Kenangan singkat bersama Rita tertanam dalam hati Dewa,
“Si kecil pemberani, gak nyangka ketemu lagi sembilan tahun kemudian!” Dewa menjatuhkan tubuhnya di gubuk tengah hutan
“Aduuuhhh!!!” tiba-tiba terdengar suar perempuan dari balik tumpukan jerami di gubuk
Dewa terkejut
“Rita??”’
-Bersambung-
__ADS_1