Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 317: Raffa Patah Hati


__ADS_3

Sepulang dari tempat les Raffa terlihat sangat bahagia. Wajahnya ceria, ia makin ramah pada adeknya dan bersabar pada kakaknya yang jahil makannya juga lahap.


"Suster, Raffa kelihatan senang sekali ada apa?" Tanya Rita, mereka berada di kolam renang belakang rumahnya.


"Tadi Michele menegurnya Bu, mereka duduk bersama"


"Oh pantesan!"


"Aaahhhh!!!" Raffa berteriak keras karena Ranna menembakan pistol air ke wajahnya.


"Kakak!" Rita mengambil pistol air miliknya dan menembakan ke arah wajah Ranna.


"Aaahhhh mamii!!" Teriak Ranna gelagapan


"Gak enak kan digituin?" Ujar Rita tertawa kemudian menghentikan tembakannya. Tak berapa lama Rayya datang menghampiri bersama suster Eva.


"Adek...sudah bangun ya?? Sini!" Rita memangkunya di kursi. Rayya menyenderkan badannya di atas badan maminya.


"Adek mau berenang?"


Rayya menggeleng, ia tampak masih mengantuk.


"Dari kemarin kelihatan maunya tidur saja Bu" lapor suster Eva


"BAB nya lancar gak suster?"


"Hmm... kurang Bu"


"Ohh..." Rita mengambil ponselnya lalu meminta Beatrice membuatkan agar-agar.


"Nanti makan siangnya agar-agar saja ya dek?" Rita mencium rambut anaknya.


Rayya melihat kedua kakaknya main air


"Miii!!" Dia menunjuk ke dalam rumah


"Oh adek gak mau di sini ya?" Rita bangkit dari kursinya


"Suster, satu jam lagi anak-anak sudah selesai ya mainnya, nanti masuk angin" ujar Rita


"Iya Bu!"jawab suster Erni.


Rita menggendong Rayya kembali masuk ke dalam rumah.


"Si Adek manja sekali, kayaknya sudah tahu bakal ada adeknya lagi" ujar Rita pada suster Eva.


"Kayaknya iya Bu, kakak-kakaknya sudah tahu?"


"Sudah, mereka tiap malam nempel terus sama saya, papinya sampai kesal karena tempat tidurnya jadi penuh" Rita tersenyum sambil mengusap kepala Rayya.


"Kita jadi ke Kanada Bu?"


"Jadi, tapi tunggu surat tugas dari kantornya bapak. Seperti sebelumnya, di sana dipersiapkan dulu untuk tempat tinggal kita jadi gak langsung datang begitu saja"


"Oh begitu, saya lihat di tv katanya Kanada lagi ada kebakaran hutan Bu? Apa aman buat kita?"


"Kanada itu salah satu negara yang luas sus, belum tentu kita di tempat kan di situ. Mungkin di daerah lainnya"


"Oh iya ya? Saya kalau nonton berita banyak khawatirnya, dimana-mana bencana alam, malah takut pergi kemana-mana"


"Memang, tapi diam saja di rumah juga gak jamin kita gak celaka kan?"


"Iya sih Bu"


"Karena suster Rini gak disini, suster Eva bisa urus Ranna ya, biar Rayya sama saya dulu"


"Iya bu!" Eva langsung ke halaman belakang tempat anak-anak bermain air.


Rita dan Rayya ke dapur, agar-agar yang ia pesan sudah matang.


"Masih panas dek, nanti ya dimakan?"


"Adek kenapa?" Tanya Beatrice, ia mengelap tangannya lalu memegang kening Rayya.


"Normal, gak demam kenapa dia kelihatan lemas?"


"Sudah dua hari belum BAB, badannya gak enak" jawab Rita, mencium pipi Rayya.


Beatrice tersenyum melihat perlakuan Rita pada anaknya.


"Anda seperti pak Daniel" ujarnya


"Saya?"


"Iya, pagi-pagi sebelum Anda turun ke sini ia sudah menggendong Rayya berkeliling rumah. Tampak sekali ia sangat sayang pada anak-anak."


"Suami ku anak tunggal, dia bilang ingin punya anak banyak supaya tidak kesepian seperti dia. Tapi gak nyangka jarak tiap anak dekat-dekat "


"Tentu saja, dengan istri yang cantik dan muda, gak mungkin dia tidak tergoda terus kan?" Goda Beatrice


"Aku cantik? Aku sudah 21 tahun, anak hampir 4.Aku sering minder dengan suami ku yang selalu tampak muda"


"Kalian berdua masih muda, terlihat sekali kalian masih sangat menggebu-gebu mungkin kalau kami dan anak-anak tidak ada di sini kalian akan terus-terusan bermesraan" goda Beatrice lagi


"Belum tentu juga, suamiku suka sekali dengan game online, kadang dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk main game"


"Apa Anda tidak khawatir?"


"Tentu aku khawatir, tapi sejauh ini dia masih tahu diri kok."


Sementara yang sedang digibahi


"Hatchi...hatchi.."


"Anda tidak apa-apa pak Daniel?" Tanya Alvin memberikan tissue kepada Daniel


"Tidak apa-apa, mungkin hanya mau flu"


"Oh iya pak, Anda diminta ke lantai 25"


"Lantai 25? Itu HRD bukan?"


"Betul pak!"


"Sekarang?"


"Iya pak!"


"Kalau begitu sebentar!" Daniel beranjak dari kursi dan menuju toilet, ia mencuci muka dan merapikan pakaiannya setelah tapi ia pun bergegas menuju lantai 25.


Keesokan harinya Raffa pulang les lukis tampak lesu. Begitu sampai rumah ia langsung rebahan di sofa.


"Abang, gak ganti baju dan rapi-rapi dulu?" Tanya suster Erni


Raffa menggeleng, ia tampak kesal.


Suster Erni membantunya berganti pakaian dan merapikan peralatan lukisnya.


"Terimakasih ya sustel, maaf melepotkan "ujar Raffa kembali tiduran di sofa. Erni mengusap rambut anak majikannya dengan sayang.


"Gak apa-apa Bang, istirahat dulu saja ya?" Raffa mengangguk lemas


Sementara Ranna dan Eva baru saja pulang dari les vokal


"Assalamualaikum...!" Teriak Ranna


"Ya!" jawab Raffa malas


"Dek, kata papi kalau ada yang bilang salam halus dijawab!" Ujar Ranna menegur adeknya yang sedang rebahan.


"Iya kak! Wa'alaikummussalam!" Jawab Raffa kesal, ia menghadap ke arah lain.


Ranna pergi ke dapur mencari maminya.


"Mami mana ya? Sustel mami mana?" Tanya Ranna ada Erni yang sedang berada di dapur


"Mami, adek dan Grany Beatrice ke supermarket" jawab Erni


"Oh ..."


"Kak Ranna ganti pakaian dulu nanti mami marah lho!" Eva membawa baju ganti Ranna dan mengikutinya dari belakang.


Ranna menurut, ia mengganti pakaiannya.


"Telimakasih sustel!" Ujarnya riang


"Sama-sama kak!" Suster Eva membawa baju kotor ke ruang laundry dan merapikan tas les anak majikannya.


Ranna ke kamarnya lalu memakai smartwatch pemberian uwanya, ia menghubungi papinya

__ADS_1


"Papoi!!" Panggilnya


"Ya kak? Sudah selesai lesnya?" Tanya Daniel


"Sudah Pi, eh iya tadi Miss bilang kakak sudah selesai lesnya..altinya apa Pi?" Tanya Ranna bingung


"Artinya kakak sudah selesai les jadi gak usah les lagi"


"Jadi kakak gak les lagi?" Wajah Ranna terlihat kecewa


"Mami mana kak?"


"Mami ke supelmalket sama glany sama adek"


"Abang?"


"Adek dibawah bobo"


"Oo..kakak..sudah makan?"


"Belum Pi, nanti aja..sudah ya poi..dadah!" Ranna mematikan smartwatch nya.


"Maaf , itu tadi anak sulung ku!" Ujar Daniel tersenyum, ia sedang meeting dengan para stafnya.


"Oh..usia berapa pak?"


"Tiga tahun lebih"


"Sudah lancar bicara dan bisa nelpon ya pak?"


"Bicara sangat lancar bahkan cerewet, dia nelpon dari smartwatch nya"


"Wah pintar sekali, saya saja masih bingung cara pakainya" ujar salah satu staf


"Ipar saya yang memberikan dan mengajarkannya, ia bilang itu penting agar kami selalu terhubung."


"Iya juga ya?" Para staf saling berdiskusi tentang itu.


"Baiklah kita kembali ke topik pembicaraan kita!" Ujar Daniel mengarahkan.


Satu jam kemudian Rita kembali dari supermarket membeli banyak bahan makanan.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikummussalam!" Ranna berlari menghampiri


"Mami!! Tadi kata Miss kakak sudah selesai lesnya jadi gak usah les lagi" ujar Ranna memburu maminya yang baru saja masuk ke rumah


"Suster Eva, tolong!" Rita memberikan Rayya kepada Eva lalu ia duduk sebentar.


"Kenapa kak? Lesnya sudah selesai?"


"Iya mi"


"Terus kakak tahu dari mana gak usah les lagi?"


"Dali papi, tadi kakak nelpon papi"


"Bisa kak?"


"Bisa dong! Asalkan ada wifi disini bisa nyambung mi, iya kan dek?" Raffa mengangguk malas


"Yang ngajarin uwa ndi ya?"


"He eh! Mami, Anna lapal!"


"Mami beli banyak makanan di dapur, kesana minta sama Grany!"


Ranna berlari ke dapur. Rita mengangkat Raffa yang tiduran lemah di sofa .


"Hmm...anak ganteng! Kenapa sayang??" Tanya Rita mendekap Raffa


"Mami.. Michele gak mau menikah sama Abang.. huaaaa...waaaaa...."Raffa menangis kejer, seperti dia sudah menahannya sejak tadi.


"Kasihan.."Rita mendekap Raffa erat


"Katanya Michele mau menikah sama Dani...huaawaaaaa..."Raffa mengambil robot Transformer dari sofa lalu melemparkannya


"Jangan begitu dong sayang, optimus Prime gak salah apa-apa!"


"Huuuu..huuu.."Raffa kembali mengambil mainannya lalu kembali kepelukan maminya.


"Sudah.. Abang hari ini sama mami saja ya? Begini?" Rita memeluk lalu menggelitiknya leher Raffa hingga ia kegelian.


Ranna datang dari dapur membawa spaghetti kesukaannya


"Apaan tu kak?" Tanya Raffa


"Spaghetti "


"Minta dong!"


"Ambil sendili!" Ujar Ranna sambil meletakkan piring nya di atas karpet, ia menyantap dengan lahap.


"Mami beli banyak, Abang minta sama Grany ya?"


"He eh!" Raffa mengangguk dan pergi ke dapur.


Rita menghampiri Ranna


"Kak! Suka ketemu Michele gak di tempat karate?" Tanya Rita


"Enggak mi, kata Sensei Anne, Michele gak kalate lagi"


"Kakak tahu kenapa?"


"Michele kan lagi sakit mi, waktu itu aja kelual dalah dali idungnya" cerita Ranna


"Kok bisa? Kena pukul gitu?"


"Enggak mi, Michele kan duduk saja ngeliatin Olang latihan"


"Oo begitu,..kak, kalau adek Raffa ketemu Michele nya kapan?"


"Gak tau mi, kakak kan vocal!"


"Oh iya!" Rita mengambil tissue dan mengelap saus di mulut anaknya


"Kamu makan spaghetti berantakan, mirip papinya!"


"Anna kan anaknya! Wajal dong!" Ujarnya


Rita kaget dengan bahasa anaknya yang berkembang pesat


"Wajar? Kakak tau dari mana kata itu?"


"Dali papi..papi kan seling bilang wajal dong..."


"Oh iya ya!! Lanjutin deh makannya"


Tak berapa lama kemudian Raffa datang, suster Erni membantu membawa piring yang terisi spaghetti.


"Telimakasih sustel!" Ujarnya


"Sama-sama Abang!" Jawab Erni, ia kembali ke dapur.


"Wah banyak amat bang? Habis gak itu?" Tanya Rita


"Habis mi, Abang lapal" Ia melahap makanannya


"Dek, tadi kakak liat mamanya Michele jemput Dani"


"Hah?.. huaawaaaaa..."Raffa menangis lagi, tapi ia masih melanjutkan makannya


"Abang, makannya yang bener dong, mau makan dulu apa nangis dulu?"Rita geli melihat Raffa yang menangis tapi tetap memasukkan makanan ke mulutnya


"Tapi dek, Dani itu bodoh!" Ujar Ranna


"Hei kakak gak boleh ngatain orang bodoh!" Rita memperingatkan


"Memang bodoh mi, dia kalah telus sama kakak"


"Kalah apa kak?"


"Spaling!"


"Sparing? Tapi Dani kan usianya lebih tua dari kak Ranna kok boleh sparing?" Tanya Rita heran


"Waktu itu Sensei nanya, Anna mau spaling sama siapa. Anna pilih Dani"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kalna dia nakal sama adek dan sustel Elni"


"Oh yang itu, tapi kakak kok bisa menang?"


"Nah itu Mi, Dani gelakannya itu-itu telus jadi Anna bisa tau..jatuh deh dia"


"Nangis gak dia?"


"Yang peltama enggak, yang kedua dan ketiga nangis kalna Anna tendang dadanya sampai kelual Alena".


Raffa mendengarkan cerita kakaknya, ia berhenti menangis.


"Mi, menikah itu apa?" Tanya Ranna


"Menikah itu tinggal bersama, seperti kita ini" jawab Rita


"Dek jangan menikah sama Michele!"ujar Ranna ke Raffa


"Napa?" Raffa mengelap air matanya


"Michele bau! Jolok!" Ujar Ranna


"Heii..Kakak..kok dari tadi ngatain orang terus?" Rita memperingatkan


"Benel mi, waktu Anna main di lumahnnya ,eh dia pipis gak belsihin..ih..kan bau. Kamal mandinya juga bau!! Adek mau kalau menikah lumahnya banyak kecoa?"


"Kan ada mba yang belsihin"


"Enggak dek, inget gak uwa bilang kalau olang jolok dibelsihin olang juga tetap jolok!" Ujar Ranna kesal


Rita tersenyum mendengar percakapan kedua bayi.


"Tapi kak!"


"Udah ah dek, kakak gak suka sama Michele..dia gak suka sama adek, jadi kakak juga gak suka sama dia!" Ujar Ranna tegas


"Mamiii!!" Raffa menangis menghampiri Rita


"Kok kakak tahu Michele gak suka sama Raffa?"


"Dia yang bilang, katanya Affa masih kecil, kalau Dani sudah besal"


"Kapan itu bilangnya Kak?"


"Waktu main di lumahnya!"


"Oh begitu"


Raffa terus memeluk Rita, ia sangat kecewa l.


Saat jam makan siang Rita menghubungi suaminya.


"Lagi istirahat kan Yang?"


"Iya, baru selesai sholat, ini baru mau makan" Daniel membuka bekalnya


"Yang, Raffa patah hati"


"Patah hati? Anak belum 3 tahun?" Daniel santai menyantap makan siangnya


"Beneran Yang, tadi aku pulang dari supermarket, dia tiduran di sofa lemas, gak mau ngapa-ngapain."


"Nanti deh aku ngomongin lagi sama dia"


"Tadi sih kak Ranna sudah bilangin ke dia"


"Ke Raffa?"


"Iya, Michele bilang ke Ranna kalau gak suka sama Raffa karena masih kecil, kalau Dani sudah besar, katanya "


"Dani ini umurnya berapa?"


"Lima tahun, seumuran Michele"


"Oh begitu, iya nanti aku ngomongin deh ke Abang, Rayya lagi ngapain?"


"Tuuh!" Rita menunjukkan Rayya yang sedang asyik main air di kolam renang


"Sudah ceria lagi ya?"


"Iya perutnya sudah plong!"


"Alhamdulillah.."


"Ya sudah, lanjutkan deh makan siangnya, sampai nanti sore! Muachh!" Rita mencium ponselnya.


Daniel tersenyum dan menyalakan video pertandingan anaknya beberapa minggu yang lalu.


Malam harinya setelah makan malam Daniel ke kamar Raffa.


"Bang, kok sendirian di sini? Gak mau sama mami?"


Raffa menggeleng, dia memainkan robotnya


"Papi, kalau olang jolok itu susah belsih ya?" tanyanya


"Biasanya sih iya, karena sudah kebiasaan jorok"


"Jolok itu bahaya ya Pi?"


"Iya dong! Jorok itu akan mengundang banyak kuman penyakit."


Raffa mengangguk


"Wajal Michele sakit"


"Kenapa bang?"


"Kak Anna bilang Michele jolok, kalau pipis gak dibelsihin..makanya dia sakit"


"Oh gitu, Abang..gak apa-apa kan?"


"Kenapa Pi?"


"Michele gak mau menikah sama Abang?"


Tiba-tiba..Raffa kembali menangis


"Papiiii!!! Huuuu..huuu"Daniel memeluknya erat, ia jadi teringat penolakan Saveetri dulu. Walaupun masih kecil perasaan ditolak itu tetap menyakitkan


" Gak apa-apa nak, nanti Abang akan ketemu perempuan yang lebih cantik, manis dan gak jorok kayak papi ketemu mami" ujarnya


"Kayak mami Pi?"


"Iya! Mami Abang cantik kan?"


"He eh! Apa Abang menikah sama mami saja?"


"Jangan dong, mami kan punya papi, Abang cari lagi saja ya?"


"Cali Pi? Di mana?"


"Ya..nanti juga ketemu, sekarang Abang fokus saja sama papi, mami, kak Ranna, adek Rayya."


"Fokus itu apa Pi?"


"Abang hanya sayang sama kita-kita saja gitu !"


"Sama Aki eyang?"


"Iya!"


"Uwa Ndi?"


"Iya!"


"Uncle O?"


"Uncle O? Abang suka uncle O?"


"Uncle O lucu Pi, Affa kasihan uncle gak punya papa dan mama"


"Iya deh..Abang boleh sayang sama uncle O!"


"Iya!" Raffa memeluk Daniel erat.


"Anak sholeh, yuk sholat Isya, Abang jadi makmum ya?"

__ADS_1


"Iya Pi!" Raffa ke toilet untuk berwudhu, Daniel keluar dari kamar anaknya dan menyiapkan sajadah untuk sholat berjamaah


_bersambung_


__ADS_2