
Daniel memeriksa paket yang dikirimkan untuk dirinya, ia membuka flash disk di laptopnya
“hmm...” Sambil membaca berkas di flash disk, kemudian ia menyalinnya di cloud. Ia melakukan hal yang sama untuk kartu memori.
“Eddy, aku keluar dulu ada keperluan, kamu hubungi aku jika ada mendesak”
“Baik Pak!”
Daniel membawa sendiri mobilnya untuk menjemput Rita, sebelumnya ia mampir ke toko elektronik untuk membeli scanner portable. Setelah urusannya beres, ia segera menjemput Rita di tokonya.
Di dokter
“Anak ini sehat pak/bu, kami tidak mendeteksi adanya penyakit berbahaya yang ia idap”
“Alhamdulillah” ucap Daniel dan Rita bersamaan
“Masuk trimester akhir ya bu, tetap dijaga makanannya agar tidak terlampau besar bayinya, hindari terlalu banyak kegiatan yang menguras tenaga”
“Baik dokter, terima kasih banyak!”
Daniel mengambil foto USG tiga dimensi anaknya, kemudian mereka meninggalkan rumah sakit.
“Yang, waktu kamu hamil Ranna, kakek Sugi mengadakan selamatan 7 bulanan? Apa yang kedua ini beliau akan mengadakannya juga?”
“Sepertinya tidak, karena mama masih di London”
“Kalau kita yang mengadakannya saja gimana? Kamu tahu caranya kan?”
“Sebenarnya 7 bulanan itu kan hanya adat, gak begitu penting!”
“Oh ya? tetapi aku takut anak kedua ini iri karena tidak diadakan 7 bulanan untuknya”
“Waktu Ranna kita juga tidak datang kan?”
“iya ya?”
“Begini saja, kita sedekahkan saja ke panti asuhan dan dhuafa, atas nama anak ini minta didoakan kesehatannya, juga kesehatan kita”
“Kalau doa, kita bisa sendiri kan?”
“Iya betul itu, tapi sedekahnya tetap Yang!”
“Baiklah, berapa aku harus transfer?”
“Aku akan minta tolong Lisa”
“Lisa? Teman mu?”
“Iya, dia mengelola yayasan panti asuhan dan dhuafa, kemarin dia sharing tentang pesantren untuk anak yatim dan dhuafa”
“Baiklah, kamu atur saja ya. Hmm...mungkin nanti aku agak telat pulang”
“Kenapa? Kamu ingat janji dengan orang RS kan?”
“ingat! Mungkin mereka datang agak malam, kamu juga harus diperiksa kan?”
“Apa ada masalah dengan proyek mu?”
“Dengan proyek ku? Tidak ada masalah, alhamdulillah semua lancar”
“Apa ada sesuatu yang mengganggu mu?”
“Aku?”
“Iya!, aku perhatikan sejak tadi sepertiya kamu banyak pikiran”
“Aku menerima paket dari seseorang bernama Dianra”
“Dianra? Apa seorang perempuan?”
“Apa Dianra nama perempuan?”
“Biasanya, memang isi paketnya apa?”
“Hmm...flash disk, memory card dan berkas-berkas, aku belum membaca semuanya. Aku hendak memindahkan semuanya ke satu tempat agar mudah aku mengaksesnya tanpa berantakan”
“Dianra...Dianra..apa kamu pernah kenal perempuan bernama Dianra?”
“Seingatku tidak ada kenalan ku yang bernama Dianra”
“Mungkin pengagum gelap mu?”
“Kalau pengagum, kenapa yang ia kirim berkas? Itu aneh bukan?”
“Dianra..dianra, mungkin itu anagram?”
“Anagram? Seperti kode begitu?”
“Mungkin? Dianradianra” Rita mengulang-ulang nama itu
“eh tadi kamu bilang apa?”
“Anagram?”
“bukan, setelahnya”
“Dianradianra”
“Radian??” keduanya mengucap bersamaan
“Pak Radian mengirimiku berkas-berkasnya, kenapa aku gak kepikiran tentang nama itu?”
“Kamu akan menyalin semuanya terlebih dulu? Atau membacanya dulu?”
“Aku hendak menyalinnya dulu, aku takut berkas-berkas itu akan hilang atau rusak”
“Sebaiknya sih segera kamu pelajari, dan jangan bilang pada siapa pun kalau om Radian mengirimi mu file terakhirnya”
“Eddy yang menerima paket itu ketika aku masih di Swiss”
“Mulai sekarang kamu harus hati-hati Yang, kalau perlu kamu menggunakan taksi biasa saja untuk berangkat kerja”
“Kenapa? Kok seperti paranoid?”
“ada sebab mengapa Om Radian mengirimi mu berkas itu tidak menggunakan nama aslinya?”
“Menurut mu begitu?”
“Bersikap hati-hati lebih baik kan? Dari pada terlambat, lihat saja Om Radian tidak mengira nyawanya hilang.”
Daniel mendengarkan istrinya sambil berpikir
“Sepertinya aku akan terseret kasus baru nih?”
“Yang, mulai sekarang, kamu share lokasi mu dengan aku ya?”
“eh kenapa?”
“Kamu pernah cerita tentang diculik kan? Nah aku takut kamu menjadi korban penculikan”
“Ah kamu jangan menakuti begitu, aku sudah pensiun dari semua kegiatan spionase”
“Itu kan menurut mu, tetapi orang-orang dulu yang pernah berurusan dengan mu kan gak peduli, sudahlah lakukan saja permintaan ku”
“Baik nyonya, tapi kamu juga melakukan hal yang sama ya?”
“tentu dong!”
Daniel menurunkan Rita di tokonya
“Sampai nanti sore!” Rita mencium bibir suaminya
“See you!” Daniel tersenyum dan melanjutkan perjalanan kembali ke kantor
“Ranna!” panggil Rita, Ranna menangis ketika melihat maminya datang, ia minta digendong
“Tadi dia mencari Anda bu!” ujar Rini sang baby sitter
“Maaf ya Ranna, mami harus cek adik, kalau kamu ikut nanti kamu kecapekan” Rita membawa Ranna ke ruangannya.
“Anda bisa beristirahat suster” ujar Rita
“Baik bu”
“Ranna !..anak baik..anak sholeha!” Rita mengangkat Ranna ke atas,
“aahhhaaa..hahahaaa....Mamamamam..” teriaknya
Setelah bermain sebentar, Rita meletakan Ranna di boks bayi yang ada di ruangannya,
“Kamu main ini ya?” dia memberikan mainan suara-suara, suster Rini yang selesai istirahat kini mengawasi Ranna, sementara Rita menghubungi Lisa. Setelah berbicara agak lama
“Oke Lis, kirimi gue no. Rekening yayasan lo ya, insya Allah kita jadi donatur tetap!”
“Alhamdulillah, thanks Rit, thanks juga untuk laki lo ya, semua kalian sekeluarga sehat-sehat selalu dan selamat di dunia dan di akherat”
“aamiin!! Thanks Lis, see you!”
“Dah Rit!”
Setelah melakukan Vcall dengan Lisa, Rita membenahi semua barang-barangnya.
“Suster, tolong rapi kan barang-barang Ranna ya, kita pulang sekarang”
“Sekarang bu?”
“Iya, aku sudah agak lelah. Oh iya hari ini jam kerja mu sampai jam 6 ya? karena tadi kamu datang jam 10. Besok kamu bisa datang jam 8 ke apartemen ku”
“Baik bu!”
Rita datang ke ruangan Erina
__ADS_1
“Erina, aku kembali sekarang ya. kalau ada apa-apa hubungi aku saja!”
“Baik bu!, oh iya saya sudah melakukan pemesanan bahan baku untuk akhir minggu ini”
“oh oke, setelah menerima barang tolong dicek expirenya dan kondisi kemasan ya? minta Ismael untuk melakukan dokumentasi tentang itu”
“Baik bu!”
Setelah itu Rita dan Rini yang membawa Ranna di strollernya kembali ke apartemen yang letaknya tidak jauh dari D’Ritz.
“Suster, ini kamar Ranna semua keperluannya ada di pojok situ. Kamu bisa berkeliling dulu”
“Baik bu!”
Rita rebahan di ranjangnya untuk tidur siang ia tampak kelelahan, sementara Ranna bermain bersama suster Rini.
“Eh sudah sore, aku belum sholat Ashar” perlahan ia bangkit dari ranjangnya, perutnya yang mulai membuncit agak menyulitkannya untuk bangkit. Setelah berusaha beberapa menit, ia berhasil bangun lalu ke kamar mandi untuk mandi dan wudhu.
“Suster, kamu sudah makan?”
“Belum bu!”
“Ayo makan bersama ku!” Rita menyediakan makanan untuknya dan suster Rini
“Baik bu, Ranna sudah makan dan mandi sejak tadi. Saya juga sudah memberikan ASI yang berada di lemari pendingin”
“Tinggal berapa kantong ASI di lemari pendingin?”
“Tinggal 2 bu”
“nanti aku pompa lagi, Ranna giat sekali meminum ASI, sepertinya dia tahu sebentar lagi dia akan berbagi ASI dengan adiknya”
“Adik Ranna akan lahir kapan bu?”
“Sekitar 2 bulan lagi, minggu ini masuk bulan ke-7”
“Ranna akan mendapatkan teman main ya?”
“Hahahaha...iya, aku dan papinya Ranna tidak merencanakan anak kedua, tetapi malah jadi. Bagaimana pun juga kami bersyukur, karena sebelum Ranna kami pernah kehilangan”
“Oh kakaknya Ranna? Berapa bulan bu?”
“Baru 1 bulan, ia tidak berkembang jadi harus dikuret”
“Oh begitu, berapa bulan jaraknya dengan Ranna?”
“Mungkin sekitar 3 bulan, tak lama Ranna muncul”
“Saya ditugaskan oleh pak Darmawan untuk mengasuh cicit perempuannya, saya pikir cucu pak Darmawan sudah berumur ternyata masih sangat muda”
“Hahaha..iya, kami menikah saat usia ku mendekati 18 tahun, papinya Ranna tidak mau terlalu lama pacaran takut dosa katanya, suster sudah menikah?”
“Sudah, tapi suami ku meninggal dua tahun lalu, sekarang anakku tinggal bersama neneknya di Surabaya”
“Oh suster orang Surabaya, aku senang bersama orang Indonesia di negeri asing, usia anak suster berapa?”
“Anak pertama 12 tahun dan kedua 5 tahun”
“Suster sudah lama menjadi TKI?”
“Sejak suami ku meninggal. Aku harus bertahan untuk kedua anakku”
“Perempuan memang hebat ya suster, saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik”
“Oh iya bu, jam kerja saya 9 jam?”
“iya, jika lebih akan aku hitung lembur.”
“Kalau si kecil sudah lahir bagaimana?”
“Nanti kita bicarakan lagi, sebenarnya suamiku lebih suka kami mengurus anak kami sendiri, tetapi sepertinya kami membutuhkan bantuan”
“Baik bu, saya permisi dulu” Suster Rini pulang setelah mencuci bekas makannya sendiri, sementara Rita mengajak Ranna jalan-jalan keluar dengan strollernya
“Ranna, kamu kan sudah berat, sudah ada adik di perut mami jadi mulai sekarang kamu di stroller saja ya? kecuali kalau bersama papi”
“mamamammmm” Ranna tersenyum mendengar ucapan maminya
“Anak baik!” Rita mendorong stroller ke lantai bawah, mereka bertemu dengan satpam
“Bu Daniel” panggil salah satu satpam
“Ya?”
“Ada paket untuk Anda dititipkan di sini”
“Kenapa gak langsung ke tempat saya?” tanya Rita sambil melihat kotak paket kecil yang dialamatkan untuknya
“tadi kami hendak sampaikan, eh kebetulan Anda lewat kesini jadi sekalian saja”
“Baiklah, terima kasih pak!” Rita menaruh paket itu di bawah stroller Ranna
Rita dan Ranna bermain di taman dekat apartemen mereka, di sana banyak pula anak-anak bermain. Ranna terlihat sangat senang melihat anak-anak berlarian dan melakukan permainan. Ia seperti meminta turun dan bermain bersama mereka
“Maaf Anda dari apartemen atas ya?” tanya salah satu ibu
“Atas? Letaknya di atas betul, tetapi Anda harus spesifik dengan nomor apartemennya kan?” jawab Rita
“Kami gak tahu nomor apartemen di lantai paling atas tapi kami dengar beberapa waktu lalu ada pencuri masuk ke apartemen di lantai atas”
“Oh ya? dari mana Anda tahu?”
“Salah seorang satpam memperingatkan kami untuk mengunci pintu dan jendela ketika kami hendak pergi”
“Apa ada yang hilang?” tanya temannya si ibu
“Hmm..gak ada”
“Gak ada? Anda yakin?”
“Iya, yakin” Rita tidak ingin membicarakan koleksi lingerienya yang hilang
“Jadi kenapa dia masuk ke apartemen kalau tidak mengambil apapun?” ujar teman ibu itu lagi
“Kalau begitu Anda harus lebih hati-hati, mungkin yang masuk ke apartemen Anda seorang stalker”
“Apa itu stalker?” tanya temannya, Rita hanya menyimak obrolan ketiga ibu itu
“Stalker itu penguntit, biasanya dia hanya mengambil milik kita yang pribadi, misalnya pakaian dalam.”
“Idih, untuk apa dia mengambil pakaian dalam?”
“Biasanya dia terobsesi dengan pemilik rumah, mungkin dia menyukai secara diam-diam tapi tidak berani mengungkapkan maksudnya”
“Kalau orang seperti itu tertangkap, kira-kira dia akan dipenjara?”
“Mungkin, bisa juga kena denda atau harus ikut terapi. Biasanya orang yang mencuri pakaian dalam itu karena ada kelainan pada dirinya”
“Ah sial! Orang seperti itu pasti akan dibebaskan karena dianggap sakit! Makanya aku setuju jika ada orang mesum digebuki dulu sebelum diserahkan kepada polisi” ujar salah satu ibu, Rita mengangguk setuju
“Oh iya, berapa usia anak Anda?” tanya ibu itu sambil memegang Ranna yang tersenyum
“Dia ? sudah masuk 9 bulan”
“9 bulan? Sebentar lagi dia akan bisa berjalan”
“Anakku berjalan di usia 13 bulan!”
“Anakku 10 bulan, dia mendorong sendiri kursinya agar bisa berdiri”
“Tetapi rata-rata anak sekarang bisa berjalan 12 bulan, aku lupa berapa usia anakku ketika ia mulai berjalan. Tapi anakku bicara lebih dulu baru dia berjalan. Dokter bilang anakku ini hiperaktif”
“Oh ya? bagaimana anda menanganinya?” tanya Rita mulai tertarik
“Aku membawanya terapi, agar ia bisa konsentrasi selain itu aku membuatnya lelah dengan mengikuti berbagai kegiatan yang menghabiskan tenaga, seperti olah raga”
“Sekarang berapa usia anak anda?” tanya Rita
“Delapan tahun”
“Anakku yang pertama 10 tahun, yang kedua 8 tahun”
“Anakku juga 8 tahun”
“Maaf ibu-ibu sepertinya suami saya sudah pulang, saya akan kembali sekarang!” Rita pamit kepada ketiga ibu itu
“Baiklah!, sampai jumpa lagi!” teriak salah satu ibu , Rita melambaikan tangannya. Ia mampir sebentar ke minimarket untuk membeli es krim, kentang beku, sosis, nugget serta makanan bayi untuk Ranna.
“Tiba-tiba mami kepengen gorengan Ranna” Rita menggendong Ranna di punggungnya, sedangkan belanjaan ia taruh di stroller.
“Assalammu’alaikum” Rita masuk ke apartemennya,
“Wa’alaikummussalam!” jawab Daniel ia menghampiri istrinya dan mengambil Ranna
“Kalian dari mana?”
“Tadi Ranna melihat anak-anak bermain di taman lalu mampir sebentar ke mini market”
“Eh kamu juga beli es krim dan kentang?” Daniel heran melihat belanjaan istrinya
“Iya, kamu juga beli?”
“Iya, tadi tiba-tiba aku ingin makan gorengan” jawab Daniel
“hmm...mungkin ini yang namanya se frekuensi” ia memasak kentang, nugget dan sosis dengan air frier, sementara Daniel mandi. Rita juga menghangatkan masakannya untuk Daniel.
“Bagaimana Yang, sudah cari tahu tentang dokumen itu?” tanya Rita
“Belum, aku sedang melihat berkas di flash disk. Ada videonya juga, tetapi untuk membukanya harus pakai password”
“Passwordnya berupa angka atau kata?”
__ADS_1
“Angka, 6 angka. Aku sudah mencoba kombinasi angka yang mungkin.”
“hahaha..seperti menebak nomor lotere ya?”
Mereka makan malam dengan tenang
“Oh iya, tadi ada rapat gabungan”
“Tentang apa?”
“Salah satunya tentang Mario, dia memutuskan untuk menghentikan kerjasamanya dengan Dar.Co”
“Oh ya? apa dia menyebutkan alasannya?”
“Menurut Martin karena masalah kesehatannya.”
“Bagaimana mereka menerimanya?”
“Sepertinya mereka keberatan tetapi keputusan Mario sudah bulat”
“Apa kakek Dar tahu?” tanya Rita sambil menyantap sosisnya
“Entahlah, aku tidak sempat ngobrol dengan Mario, sepertinya dia menghindariku”
“Hmm...aku akan coba bicara dengannya”
“Kalau dia tidak mau jangan dipaksa ya. Aku mengerti ia mengalami trauma akan lebih baik baginya untuk menenangkan diri” ujar Daniel
“Aku dengar dia tidak menempati apartemen bawah, entah dia kemana” ujar Rita
“Mungkin ia kembali ke apartemennya yang dulu. Mungkin dia merasa gak enak sama kita”
“Sayang banget apartemen bawah tidak digunakan, masa sewanya masih ada 10 bulan kan?” tanya Rita, Daniel membereskan bekas makan mereka.
“Hari ini kamu kuliah Yang?” tanya nya
“Iya, perkuliahan akan di mulai 1 jam lagi, tolong jaga Ranna ya?”
“Siap bu!” canda Daniel, ia mengajak Ranna ke kamar untuk main dengan laptopnya, sementara Rita tetap di ruang tamu untuk kuliah online.
Dua jam kemudian kuliahnya selesai
“Ahh...aku capek sekali..” ia tiduran sejenak di sofanya. Tanpa sengaja ia terlelap. Ia bermimpi seseorang memanggil namanya dari kejauhan
“Rita!...Rita!”
Rita menoleh,
“Siapa?” ia berusaha menghampiri arah suara, tetapi semakin di dekati suara itu semakin menjauh
“Yang! Rita!” Daniel membangunkan
“Eh, aku ketiduran ya?”
“Iya pindah tidurnya!”
“Hhhh....baiklah!” Daniel membantunya bangun
“perut mu kelihatan bulat seperti ada bola bowling ya?” ujar Daniel memperhatikan perut istrinya
“iya, semoga bayinya tidak terlalu besar, jadi bisa lahir normal seperti Ranna”
“Kamu masih Yoga kan?”
“Masih, tapi libur beberapa minggu karena kita kan pergi ke luar negeri”
“Iya juga ya, mulai saja lagi. Aku perhatikan,stamina mu lebih baik kalau ikut yoga”
“Kamu sendiri masih fitnes?”
“Masih, walau sudah jarang tapi aku usahakan seminggu sekali”
“Otot perut mu masih terbentuk dengan bagus!” Rita menarik piyama suaminya dan mencium bibirnya. Mereka berciuman cukup intense.
“Aku gak bisa melanjutkan malam ini karena besok masih ada rapat gabungan, aku gak bisa kelelahan” Daniel menyudahi sesi ciuman intense mereka.
“kita gak perlu melakukannya, aku cuma ingin dipeluk kamu saja!” Rita memeluk tubuh suaminya.
“Hmm...nyaman sekali” ia menyenderkan kepalanya di dada suaminya
“Yang, gak capek berdiri?” tanya Daniel
“Hmm...sebentar lagi”Rita masih memeluk suaminya
“Oke selesai!” ia melepaskan pelukannya lalu langsung ke kamar mandi, Daniel tersenyum melihat kelakuan istrinya yang terkadang random.
Esok paginya, Rita menunggu Mario di apartemen bawah
“Astaghfirullah!” Mario kaget melihat Rita sudah berada di dalam apartemennya sambil menggendong Ranna
“Woy O! Kemana aja lo?” tanya Rita
“Hmm..Laki lo tahu lo di sini? Di apartemen lelaki lain?” tanya Mario
“Tahu, tadi gue sudah bilang sama dia”
“hmm..ngapain lo di sini?” tanya Mario, ia seperti menghindari tatapan Rita
“Pengen nanya kabar lo saja, Laki gue bilang lo resign jadi interior desainer Dar.Co?”
“he eh!, gue capek!”
“Capek ya istirahat!”
“Bukan capek badan, tapi capek mental!” Mario duduk berhadapan dengan Rita, lalu memberikan amplop coklat
“Apaan nih?” Rita membuka amplop berukuran A4, lalu membaca isinya
“Maksud lo apa?” tanya Rita setelah membaca kertas dari amplop itu
“Gue bukan saja mundur dari Dar,co. Gue juga mau mundur dari anak angkatnya kakek Darmawan. Gue sudah konsultasi sama pengacara gue untuk membatalkan status anak angkat keluarga Darmawan”
“Mario..Mario...kalau ingin berhenti kerja, ya berhenti saja. Tapi jangan berhenti jadi anak angkat! Apa lo gak sadar. Melepaskan status anak angkat, lo bisa kehilangan banyak hal dari kakek?”
“Gak apa-apa. Gue berterimakasih sama Kakek, sama Lo, Andi, tante Ratna, bahkan laki lo yang sudah menganggap gue keluarga. Tapi menjadi keluarga Darmawan mengerikan, gue hampir kehilangan nyawa”
“O, mati dan rejeki orang sudah ditakdirkan sebelum kita lahir. Tanpa lo jadi keluarga Darmawan juga lo pasti mati. Jadi kenapa harus mundur jadi anak angkat”
“Setidaknya gue matinya lama kalau enggak jadi keluarga Darmawan”
“Lo pikirin lagi deh sebelum mengajukan ini. Kakek Darmawan sudah terlanjur sayang sama Lo. Selain om Radian, Elo yang dia percaya”
“Kan ada Andi!”
“Kak Andi akan sibuk mengelola perusahaan, kakek mengandalkan elo O!”
“Kenapa harus gue sih? Kita Cuma kenal beberapa bulan, eh beliau langsung ngangkat Ai jadi anak padahal Ai gak minta”
“Kan sudah gue bilang, kakek Darmawan itu punya feeling bagus tentang seseorang. Dan dia melihatnya dari diri lo. Lagi pula kalau lo melepaskan semuanya lo mau balik lagi ke Jakarta? Mau ngerjain kerjaan lo yang dulu? Apa elo sudah gak peduli sama anak-anak panti yang lo support melalui gaji lo?” tanya Rita, ia menyerahkan kertas itu ke Mario
“Pikir-pikir lagi O!, jangan memutuskan dalam keadaan marah. Kemarin Daniel mengingatkan gue supaya jangan memaksa lo untuk kerja, dia bilang trauma itu tidak mudah untuk di lupakan”
“Daniel bilang begitu?”
“Iya! Daniel juga suka sama Lo, O. Dia bilang O itu seniman yang hebat!”
“Daniel bilang begitu?”
“Beneran!, waktu di Jakarta melihat kamar kami, dia bilang: Gue mengakui kerjaannya O, dia benar-benar jenius!” Rita mengulangi kata-kata suaminya
“Lo gak boong kan? Apa ini kata-kata lo saja supaya gue gak keluar dari keluarga Darmawan?”
“Masa kata-kata gue. Lo ingat gak komentar gue tentang interior lo dulu?”
“Kelas kampung?”
“Nah!.. itu kata-kata gue!”
“Ternyata laki lo lebih menghargai karya gue, dibandingin istrinya!” gumam Mario
“Ya udah, gue mau ke D’Ritz, kalau lo mau bantuin di sana, ayo ikut!”
“Gak usah, gue mau tidur. Sudah seminggu gak bisa tidur!”
“Memangnya lo tidur di mana seminggu ini?”
“Di apartemennya Ayah. Gue pikir kalau di situ bisa menenangkan diri. Gak taunya ya ampun”
“Kenapa? Bau ya?”
“Iya!, sialan! Sampahnya menggunung itu yang bikin bau!”
“Lagian sih elo, sudah disewain apartemen nyaman eh malah milih yang bau!”
“Gue inget ayah Reza, beliau bilang dia juga jadi anak angkatnya pak Darmawan.”
“Iya memang, tapi kalau ayah bukan anak angkat seperti lo, dia lebih ke anak asuh.”
“Beda memangnya?”
“Beda!, beliau cuma disekolahkan sampai selesai. Sedangkan lo jadi anak angkat beneran, alias diadopsi.”
“Ai kan sudah dewasa, masa masih ada kata adopsi?”
“Itu cuma istilah hukum saja O supaya lo nyaman menjadi keluarga Darmawan, sudah ya gue mau ke toko!” Rita meninggalkan apartemen O.
“Hey Ritong!” Mario mengejar sampai depan pintu
“Apa?”
“Makasih ya!” ujarnya tersenyum
__ADS_1
“Sama-sama!” balas Rita sambil tersenyum
_Bersambung_