Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
chapter 247: kontraksi lagi


__ADS_3

Daniel memperhatikan koleksi tas bermerek milik Rita yang terpajang di lemari kaca dalam kamarnya.


“Aku gak menyangka kamu punya koleksi tas branded juga, Tory Burch, Belenciaga, Chanel, Dior, LV, Fendy, kenapa kamu gak pernah pakai ini semua?”


“beberapa pemberian rekan bisnis kakek, biasanya mereka ingin menjilat kakek agar perusahaan kakek mau bekerja sama dengan mereka”


“Gak mungkin semuanya kan?”


“Yang TB , Balenciaga,versace, F, sisanya mama yang belikan.”


“Kalau begitu kamu bawa saja, jadi kamu gak pakai Dior yang aku belikan terus”


“Dior dari mu itu istimewa, aku suka sekali.”


“Hehehe..iya ya? waktu aku melihatnya tiba-tiba aku teringat wajah mu, segera saja aku membelinya”


“Oo begitu, akhir-akhir ini wajahku jarang muncul ya? jadi gak beliin tas lagi?”


“Bukan begitu, kemarin aku lihat Andi dan Mario juga membelikan mu tas, lumayan bermerek kan? Sayang kalau aku belikan lagi”


“Kalau begitu jangan tas, kan ada sepatu, dompet”


“Oh kamu mau?”


“Iya dong?”


“Kenapa gak bilang waktu di Paris? Kamu tahu kan kita bisa membeli lebih murah kalau beli di sana?”


“Aku gak kepikiran, karena udara dingin sepertinya bayi di perut ku kurang nyaman dengan udara di sana.”


“Apa kalian tidak apa-apa?” Daniel tampak khawatir


“Enggak apa-apa sih sempat gak enak badan saja”


“Kenapa kamu gak bilang?”


“Karena bayi di perut ku ini tidak bereaksi pada setiap negara yang kita kunjungi, hanya Perancis dan Belgia saja yang sepertinya kurang nyaman”


“Aneh ya? oh iya makan malam tadi lumayan ramai ya?”


“Iya, kakek Sugi senang para cucunya berkumpul. Kamu lihat kan tante-tante ku yang pada datang?”


“Iya, aku baru mengenal mamanya Roby dan Daisy”


“Oh ya? gimana menurut mu?”


“Penampilan mereka lebih sederhana dibandingkan apa yang aku pikirkan”


“Maksud mu?”


“Ayah tante mu kan orang kaya, tapi kelihatannya tante-tante mu sederhana sekali”


“Oh itu, kata mama, ketika mereka memilih menikah dengan lelaki pilihan mereka, kakek memberikan surat perjanjian kepada para suami tante, kalau beliau tidak menyuport hidup tante lagi. Dan itu benar-benar. Contohnya mamanya Daisy, dulu pernah ada lelaki ingin menumpang hidup dari kakek, jadi ia mati-matian mengejar mama Daisy agar mau ia nikahi. Tetapi setelah membaca perjanjian dari kakek eh dia malah mundur”


“Jadi mama Daisy 2x menikah?”


“Bukan!, maksud ku sebelum tante ku bertemu dengan papanya Daisy. Tetapi kakek menjamin hidup para cucunya. Biaya sekolah kakek yang menanggung, apalagi mereka diwajibkan tinggal di rumah ini”


“Apa para papa gak masalah?”


“Kayaknya mereka justru senang karena terlepas dari tanggung jawab menghidupi anak kan?”


“Gak mungkin semua papa begitu, pasti mereka keberatan juga?”


“Iya sih, dulu ada juga yang tidak mau cucunya diasuh kakek, tetapi setelah ia jatuh sakit dan dibantu kakek, akhirnya ia membolehkan sepupu ku tinggal di sini”


“Rumah ini sangat luas, kamarnya lebih banyak dari rumah kita, pasti mereka mempunyai kamar sendiri-sendiri kan?”


“Iya betul!”


“Apa kamar mereka seperti kamar mu ini?”


“Setahu ku, kakek Sugi menyerahkan kepada selera cucunya masing-masing. Kalau aku, ini desainnya mama. Beliau yang mengatur kamar ku juga kamar kak Andi. Para sepupu ku sering iri kalau datang ke kamar ini”


“Kenapa mereka gak minta bantuin mama mu untuk mendesain kamar mereka?”


“Mama mereka melarangnya”


“Kenapa?”


“Kamu tahu gak kalau mama ku itu anak dari istri sahnya kakek. Sedangkan yang tiga lainnya itu dinikah secara siri. Nah, karena secara hukum status mama lebih jelas, maka mereka sering iri sama mama. Mama seperti dijauhi”


“Oh mungkin itu sebabnya kamu juga sering dibully para sepupu mu ya?”


“Iya betul! Aku dan kak Andi. Tetapi karena kesehatan kak Andi, mereka gak berani menyentuhnya, mereka mengincar aku”


“Tapi kamu hebat bisa bertahan dari serangan para sepupu”


“Sebenarnya enggak juga, setiap aku kalah, ayah yang membesarkan hati ku. Beliau yang memunculkan keberanian untuk melawan mereka semua”


“Kalau mama mu?”


“hmm..mama ya? beliau itu seperti duta besar. Dia gak mau terlibat kalau anaknya berkelahi karena ia merasa gak enak pada tante ku”


“Tapi anaknya sendiri bonyok gimana? Masa diam saja?”


“Beliau Cuma bilang, kalau melawan jangan ragu-ragu. Jangan mudah menangis karena mereka senang melihat kamu lemah”


“Mama mu bilang begitu?”


“Iya! Beneran! Padahal aku baru saja dipukuli Maia”


“Wah dunia mu kejam juga ya?”


“Tapi tidak semuanya jelek sih, kalau bulan ramadhan dan hari raya, rumah ini ramai. Kami mengaji bareng, kemudian sahur bareng, malah membuat cemilan untuk lebaran bareng-bareng. Seolah kami melupakan semua permusuhan”


“Oh begitu, seru juga ya? karena aku anak tunggal jadi aku gak pernah merasakan keramaian seperti itu”


“Tapi kamu sering ngumpul sama sepupu mu kan?”


“Sayang sekali, papa ku juga anak tunggal, aku ngumpul dengan para sepupu dari keluarga mama”


“Mereka pasti asyik-asyik dong?”


“Gak juga, biasa saja. Mereka benar-benar di set oleh orang tuanya untuk jadi PNS. PNS di Korea sangat sulit ujiannya, bahkan ada yang beberapa kali ujian dan selalu gagal.”


“Memangnya gajinya besar?”


“PNS di Korea itu mendapatkan gaji yang lumayan dan beberapa fasilitas lainnya. Dapat pensiun juga”


“Kamu gak tertarik jadi PNS?”


“Aku? Enggak! sejak kecil aku dididik untuk menjadi pengusaha. Aku membantu mama berdagang, membantu papa, mengantar teman-teman papa, antara lain kakek-kakek mu!”


“Tapi kamu malah jadi pegawai ya?”


“Ya, begitulah, tetapi pegawai plus-plus dong!”


“Iya betul, huaah...aku ngantuk sekali” Rita mulai menguap. Kedua anaknya sudah terlelap sejak tadi.


“Besok kita pulang ya?” ujar Daniel


“He eh”


“Eh Yang, aku boleh gak bawa piyama ini pulang?” Daniel menunjukkan piyama yang ia pakai


“Bawa saja, lagi pula di sini siapa yang memakai? Aku juga sudah berpesan pada staf di sini untuk mengirimkan koleksi tas dan sepatu ke rumah kita”


“Apa boleh?”


“Itu kan punya aku, dari pada di sini tidak terpakai?”

__ADS_1


“Iya, di rumah kita juga barang-barang mu belum banyak!”


“Tentu saja! Kita baru beberapa bulan pindah kan? Tetapi kalau barang di Singapura sudah pasti banyak sekali”


“Iya, nantilah sedikit-sedikit kita bawa ke rumah”


“Memangnya apartemen di Singapura mau dikosongin?”


“Sebenarnya mau aku sewakan, kan lumayan uangnya apalagi banyak peminatnya”


“Oh ya? kok kamu tahu?”


“Aku iseng pasang iklan, eh banyak yang tertarik. Aku meminta salah satu staf ku di Dar.co dulu menjadi brokernya. Kalau ada orang yang tertarik, dia yang mengajak melihat-lihat apartemen”


“Tapi barang-barang kita gimana?”


“Tenang saja, aman kok. Biasanya orang-orang itu justru tertarik melihat apartemen yang sudah terisi, jadi mereka bisa membayangkan posisi barang mereka jika di tempatkan di situ.”


“Kalau ada yang tertarik gimana?”


“Nah, aku punya kenalan di sana yang memiliki usaha penyewaan garasi.”


“Garasi?”


“Iya,kalau di sini sebutannya gudang. Aku bisa menyewa gudangnya dan menyimpan barang-barang kita di sana”


“Ide mu sih bagus, aku setuju deh!”


“Pokoknya kamu gak usah repot deh, urusan barang-barang serahkan pada ku!”


“Okeee...” Rita pun terlelap


Siang harinya setelah makan siang mereka pamit pada kakek dan Ratna


“Kakek, Rita pulang dulu ya?”


“Iya, kalian akur-akur ya? Niel, titip Rita dan anak-anak ya?” pesan kakek, ia mencium kepala Rita dan menyalami Daniel


“Iya kek”


“Ranna, Raffa, kalau ke Jakarta main ya kemari!” ujar Kakek Sugi sambil memeluk kedua cicitnya


“Iya Aki kakek! Gitu dong! Kak, bang!” Rita mengajarkan


“Iya aki!” jawab Ranna dan Raffa kompak dengan suara lucu


Mereka pun kembali ke rumah besar.


“Alhamdulillah, sampai juga!” Daniell langsung rebahan di kasurnya


“Kok kamu kayak habis pergi jauh saja?” tanya Rita, ia mengganti pakaiannya


“Kamar mu di sana memang nyaman, tetapi tetap saja aku merasa itu bukan rumah kita.”


“Tapi kamu tidurnya lelap banget lho, beberapa kali aku perhatikan kamu tidurnya mendengkur!”


“Masa? “


“Beneran, kata orang kalau tidur sampai mendengkur berarti ia sudah tidur sampai tahap tidur yang paling dalam. Artinya otak kamu benar-benar beristirahat”


“Hmmm..begitu ya? mungkin tinggal bersama kakek Sugi memberikan rasa aman, jadi aku gak perlu mengkhawatirkan semuanya"


“Memangnya di sini kamu khawatir?”


“Kalau di sini? Kakek Darmawan jarang di rumah, otomatis aku kan kepala rumah tangganya. Kadang aku was-was dengan rumah ini”


“Mulai deh overthinking!, sudahlah gak usah mikir macam-macam, tokh banyak keamanan di sini, pak Ridwan juga stand by untuk kita 24 jam! Jadi kamu gak usah khawatir!” Rita tersenyum, lalu ia hendak keluar


“Kamu mau ngapain?”


“Mau keluar, aku mau ngeliat studio”


“Yang, masih sore nanti anak-anak datang menyerbu bagaimana?” Rita kegelian, Daniel bangkit, lalu mengunci pintu kamar mereka


“Nah aman kan?” ia membuka pakaiannya, mereka pun bercinta.


Menjelang maghrib mereka telah menyelesaikan aktivitas bercinta mereka, dan telah bersih-bersih.


“Aku ke mesjid dulu ya?” ujar Daniel


“Iya!” Rita menyuapi kedua anaknya


“Kalian tuh, kenapa gak mau disuapi sama para suster? Masa mami juga yang menyuapi?” protes Rita pada kedua anaknya


“Mami tadi tutup pintu” ujar Ranna tiba-tiba


“Mami tutup pintu” Raffa mengulangi perkataan kakaknya


“Tadi? Kapan?” tanya Rita


“Tadi sama papi. Kakak dan abang diam di luar” ujar Ranna lagi


“Hah? Kalian di luar? Di luar pintu ini?” tanya Rita kaget,


“Heee!” jawab Raffa


“Kalian gak dengar apa-apa kan?” tanya Rita, ia agak takut aktivitasnya terdengar anak-anaknya


Ranna menggeleng, Raffa mengikuti.


“Ah syukurlah!” Rita merasa lega


“Mami, adek kapan ada?” tanya Raffa, ia menunjuk perut maminya


“Masih 5 bulan lagi” jawab Rita


“5 bulan? Berapa itu?” tanya Ranna


“ini 1,2,3,4,5!” Rita menunjukkan jari 5 kepada kedua anaknya


“Oh ini 5! Hahaha..kakak ini 5!” ujar Raffa lucu


“Sudah selesai, ayo ganti pakaian!, kakak, abang!” Rita mengajak kedua anaknya ke kamar mereka, tiba-tiba ia merasa kontraksi di perutnya


“aduh!” erangnya


“Mami? Mami kenapa?” tanya Raffa khawatir


“Gak apa-apa! ayo kalian segera ganti pakaian!” perintah Rita. Kedua anaknya menuruti. Setelah berganti pakaian, mereka memperhatikan maminya sholat maghrib. Lalu mereka terlelap. Rita mulai merasakan perutnya sakit. Ia menghubungi pak Ridwan


“Pak, bisa kita ke rumah sakit sekarang?” pintanya


“Oh mba Rita, baik bu!”


Tak berapa lama, Ridwan dan beberapa staf rumah datang, membawa kursi roda. Daniel yang baru selesai sholat isya di mesjid mendapat kabar dari Ridwan, ia segera pulang ke rumah.


“Kamu kenapa?” tanya Daniel panik


“Perut ku sakit” ujar Rita


“Ayo kita ke dokter!” Daniel membawa istrinya ke rumah sakit


“Pak Ridwan, titip anak-anak ya? mereka sudah tidur” ujar Daniel


“Iya Pak!”


Daniel membawa Rita ke rumah sakit, ia langsung masuk unit gawat darurat. Dokter kandungan dipanggil dan memeriksa kandungannya.


“Sudah berapa minggu bu kandungannya?” tanya dokter


“tujuh belas minggu dokter”

__ADS_1


“Ibu lihat skala sakit di sana? Ibu mengalami yang mana?”


“Tujuh dokter!”


“Kita USG ya bu!”


Rita di USG hingga 4 dimensi. Agar lebih akurat keadaan bayinya. Setelah melihat kondisi janin, dokter menemui Daniel dan Rita.


“Kondisi janinnya normal, hasil tes tidak menunjukkan hal yang berbahaya” ujar dokter


“Tapi kok, tadi saya seperti kontraksi ya dokter?”


“Apa sebelumnya, kalian berhubungan suami istri?” tanya dokter


“Eh, iya dokter!” jawab Daniel agak malu


“Untuk kehamilan usia 16 minggu, masih rentan untuk berhubungan pak, jadi ditahan dulu ya?”


“Tapi saya pelan-pelan dok!” sanggah Daniel


“Iya, menurut kita pelan, tapi belum tentu si janin merasa hal yang sama!”


“Tapi dokter, pada kehamilan anak pertama dan kedua, saya tidak pernah merasakan hal semacam ini walau tetap berhubungan?” ujar Rita


“Tiap anak kan beda-beda bu, ada yang senang dijenguk ayahnya, ada yang tidak. Mungkin anak ini termasuk yang tidak suka dijenguk. Saya beri obat ya bu, kalau sakitnya tidak berkurang, terpaksa kita lakukan tindakan”


“Tindakan? Apa dokter? “ tanya Daniel


“Kuret!”


“hah? Digugurkan? Kan tadi dokter bilang bayinya gak apa-apa kenapa harus dikeluarkan?” tanya Daniel kaget


“Itu kan yang terburuk pak! Ibu dirawat di sini dulu ya?” ujar dokter tersebut


Daniel gelisah, ia merasa ada yang tidak beres sama dokter ini.


“Sayang, kita pindah rumah sakit! “, setelah mengurus semua administrasi, Rita dibawa ke rumah sakit yang lebih besar.


Di sana ia kembali menjalani USG.


“Jadi bagaimana dokter?” tanya Daniel


“Malam ini, ibu tinggal di sini dulu ya pak? Kami sedang mengecek hasil darah ibu dan bayi, kemungkinan hasilnya besok karena labnya sudah tutup malam ini”


“Iya dok!” Daniel menyewa kamar VVIP untuk mereka tinggal. Ia mengabari Ratna tentang kondisi Rita, Ratna segera datang ke rumah besar Darmawan untuk menjaga Ranna dan Raffa.


Malam itu, Daniel sangat gelisah, ia tidak bisa tidur pikiran buruk berkecamuk di kepalanya.


“Sayang! Kamu kenapa?” tanya Rita melihat suaminya gelisah


“Kamu gak apa-apa kan? Sudah gak sakit?” tanyanya


“Infus ini bikin sakitnya hilang” ujar Rita


“Sayang, maaf ya?” Daniel menggenggam tangan istrinya


“Maaf kenapa?”


“Karena aku...”


“Jangan begitu!, aku juga menikmatinya. Kita berdoa saja semoga bayi ini baik-baik saja”


Siang harinya, dokter datang


“Begini pak, bu. Kondisi janinnya sehat, kontraksi yang terjadi itu karena masuknya ****** yang mengandung hormon prostaglandin. Hormon ini sering menyebabkan kontraksi pada rahim. Mungkin ke depannya jika berhubungan intim memakai pengaman ya pak?” ujar dokter lelaki berusia setengah baya tersebut.


“Jadi bayi kami gak apa-apa dokter?”


“Sehat kok pak, tidak ditemukan kecacatan, sang ibu juga”


“Tapi kenapa istri saya mengalami kontraksi semacam itu?”


“Mungkin karena saat ini kondisi kesehatan bapak sangat baik, sehingga ****** yang dihasilkan hormonnya bekerja dengan baik. Itu bisa terjadi pak, ada beberapa suami-istri yang berhubungan saat kehamilan tanpa pengaman istrinya tidak mengalami kontraksi”


“Kondisi istri saya bagaimana dokter?” tanya Daniel khawatir


“Istri anda juga sehat”


“Boleh dia di sini dulu sehari lagi, sampai saya yakin?” tanya Daniel


“Boleh saja sih pak, nanti kami akan melakukan tes lagi untuk meyakinkan!”


“Terima kasih dokter!”


Infus di tangan Rita dicabut, untuk meyakinkan Daniel ia tidak lagi mengalami kesakitan


“Sudah gak sakit kok Say, mungkin dokter itu benar. Kesehatan mu lagi dalam puncaknya. Kamu kan akhir-akhir ini tidak sesibuk dulu”


“Iya sih, tapi aku harus yakin kamu gak apa-apa.”


“Kamu takut ya?” tanya Rita


“Iya!, aku takut terjadi apa-apa sama kamu!” Daniel menggenggam tangan istrinya dan menciumnya


“Kamu sayang sama aku ya?”


“Banget! Makanya kamu sehat ya? supaya kita bisa bersama terus sampai tua” ujar Daniel tersenyum, ia mencium dahi istrinya dengan sayang.


“Insya Allah! Kamu juga jaga kesehatan. Kalau aku sakit anak-anak kasihan”


“Ada mama kamu, aku sudah bilang ke mama untuk jaga Ranna dan Raffa”


Tak berapa lama anak-anak datang bersama nenek dan uwa mereka


“Assalammu’alaikum!!” sapa Ratna, ia menuntun Ranna, sedangkan Andi menuntun Raffa


“Wa’alaikummussalam!” Jawab Daniel sambil membuka pintu kamar


“Eh anak-anak!” sapanya, kedua anaknya langsung memeluk papinya. Ratna dan Andi melihat wajah Daniel yang memerah seperti habis menangis.


“Ayo kita keluar!” ajak Daniel menggendong kedua anaknya, Ratna dan Andi mendekati Rita


“Hai, kenapa lo?” tanya Andi


“Kontraksi dini!” jawab Rita


“Kontraksi dini?” mamanya heran


“Tapi gak apa-apa kan?” tanya Andi lagi


“Enggak apa-apa, besok pulang kok. Sebenarnya hari ini bisa pulang tapi Daniel pengen yakin kalau aku gak kesakitan lagi”


“Bagus deh!” ujar Andi lega


“Si Daniel habis nangis ya Rit?” tanya Ratna


“Iya, dari kemarin dia panik. Gelisah ketakutan aku kenapa-napa”


“oh begitu, kamu beruntung ya Rit, suaminya sayang banget” ujar Ratna


“Aamin ma”


“Kalau sakit begini kepergian lo ke Swiss ditunda dong?”


“Daniel yang pergi ke sana dulu, katanya untuk mempersiapkan rumah kita di sana”


“Oh begitu, mama dan Andi di rumah kamu deh ya, nemenin”


“Asyiiikkk,..makasih ya ma!”


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2