
“Yang!”
“Ya?”
“Kok kamu gak panik sih?”
“Panik tentang apa?”
“Kehamilan ini, usiamu bahkan belum 20 tahun, tapi kayaknya kamu lebih tenang dari pada aku” tanya Daniel
“Siapa bilang? aku panik kok!, tapi aku punya orang-orang yang sangaaat care sama aku. Mama, Ayah, Kak Andi, Mamamu, bahkan papinya anak ini sangat perhatian.. jadi untuk apa panik lagi”
“Kalau papinya anak ini panik gimana?”
“yaa, kita minta bantuan orang lain. Mamaku dan mamamu sudah siap sedia tuh jagain cucu.”
“Hah? Mamaku? kok dia gak hubungi aku?”
“Beliau takut mengganggu mu, mama mu bilang nanti menjelang kelahiran beliau akan kesini menemani. Kalau mama aku sih sudah siapin kamar di rumah Kakek Sugi, beliau bilang kalau aku kesana kamarnya sudah lengkap!”
“Tapi percuma juga kan? Toh kalau ke Jakarta kamu pulangnya ke rumah kakek Darmawan.”
“Rumah kakek Darmawan juga sudah siapin kamar khusus untuk cicit pertamanya. Wah heboh deh, padahal belum lahir, tapi anak ini sudah bikin kedua kakek bersitegang terus.”
“Memang sih, mungkin kita harus ngasih banyak cucu Yang!” ujar Daniel genit
“Yaa,..satu dulu saja, kita lihat. Kalau berjalan sesuai rencana, ya kita tambah lagi.”
“Setidaknya empat atau lima atau bahkan 10!”
“Hah? 10? Yang benar saja? Memangnya aku kelinci?”
“Kayaknya lagi trend tuh punya banyak anak, kamu lihat IG deh, ada yang anaknya sampai 12, ckckckc...beda umurnya dekat-dekat lagi”
“Kamu yakin? Banyak anak, biayanya besar lho!”
“Tapi ada kakek-kakek mu , pasti mereka yang akan menyekolahkan! Gak mungkin deh kita dibiarkan sendirian mengasuh anak sebanyak itu”
“Ini benar suamiku apa bukan sih? Jangan-jangan alien?” Rita memegang wajah suaminya dengan heran
“Suamimu asli nih!, aku cuma berpikir rumah kedua kakekmu sangat besar, kakek Sugi masih mending deh cucunya banyak, sedangkan kakek Darmawan kan cuma kamu sama Andi saja. Kalau masing-masing kalian punya 2 anak, kamar yang lain akan kosong tak terpakai.”
“Tapi kamar yang lain kan bisa untuk pengasuh atau dibuat ruang bermain.”
“Ngomong-ngomong tentang rumah, kayaknya kita sewa rumah saja bagaimana? Tempat ini terlalu sempit. Masa mamaku akan tidur di sofa terus.”
“Rumah? di Singapura? Gak salah Yang? Kenapa gak sewain apartemen di bawah kita saja, atau kita modifikasi tempat ini menghilangkan ruangan yang gak perlu untuk kamar mama?”
“Nanti bayi kita tidur di mana?”
“Ya, di sini lah bersama kita, minimal 2 tahun aku harus menyusuinya.”
“Yahh..kita gak ada privasi dong!” keluh Daniel
“Ada dong!, kan bayi kita masih kecil, kalau kita melakukannya gak berisik bisa dong!”
“Memangnya bisa?”
“Atau bayinya kita geser dulu ke ruangan lain”
“hmm...padahal waktu kamu mau pindah kemari, aku sengaja pindah ke apartemen lebih luas, tapi dengan datangnya si kecil, jadi butuh ruangan lagi ya?”
“Nanti deh kita pikirin, masih ada waktu 4 bulan lagi”
“Sempit itu waktunya, nanti aku lihat-lihat apartemen sekitar sini, kalau ada yang lebih luas dari ini, kita pindah saja gimana?”
“Yahh...aku harus packing untuk pindahan dong? Gak usah deh Yang, kita modifikasi saja apartemen ini” keluh Rita
“Siapa nih yang bisa kita kasih kerjaan dan bisa dipercaya?”
“Eh Yang, kata mama si O ada di Singapura”
“Ngapain dia ke sini?”
“Kakek membeli beberapa property di sini, beliau bilang akan disewakan, nah O jadi designer interiornya.”
“Sebentar, kakek yang mana nih?”
“Kakek Darmawan”
“Property baru? Sebentar itu divisinya siapa ya?” Daniel berpikir sejenak
“Besok pasti kita meeting nih. Aku juga ingin tahu O di bawah arahan siapa, mungkin dia bisa aku ajak kemari” ujar Daniel
“Boleh Yang, sekalian bisa minta tolong untuk mendekor ulang apartemen kita. Dia jago lho, kamu tahu kan bagaimana dia menyulap aula rumah kakek jadi luas banget?”
“iya, insya Allah. Besok kalau ketemu dia, aku ajak kemari”
“Thanks Yang!” Rita mencium pipi suaminya
Keesokan paginya, seperti yang Daniel duga seluruh kepala proyek mengadakan meeting. Setelah Daniel melaporkan perkembangan proyeknya, tibalah presentasi proyek dari bidang property.
(bahasa Inggris)
“Bapak dan ibu sekalian, kita kedatangan tamu dari kantor pusat, beliau personal dekorator bos besar di sana. Beliau ini akan bekerja sama dengan divisi property yang baru untuk mendekor atau mendesign interior apartemen. Saya perkenalkan Mario Obama!” Davis memanggil Mario, yang selama ini berada di ruang sebelah. Mario datang dengan gayanya yang flamboyan
“Selamat Pagi! “
“Perkenalkan saya Mario yang akan bekerja sama dengan Kalian, jadi mohon bantuannya!”
Tiba-tiba seseorang dari divisi lain menanyakan sesuatu, Mario yang hanya paham sedikit bahasa Inggris, bingung harus menjawabnya, ia hanya mengucapkan
“Maksudnya apa?” orang itu mengulangi ucapannya, Mario tetap tidak mengerti, orang itu bergumam,
“Personal dekorator bos besar? Mungkin hanya mulut besar saja!” gumamnya, beberapa orang di dekatnya mendengar gumamannya, termasuk Daniel
“Maaf Pak, Mario ini asalnya dari Indonesia, menurut saya ada kendala bahasa, mungkin kalau ada translator, beliau bisa menjawab pertanyaan Anda dengan baik!” ujar Daniel membela
“Ooo begitu, bos besar tidak mengatakan apapun tentang kekurangan beliau” ujar Davis
“Mungkin bisa disediakan seorang translator untuk sementara, dia ini seorang jenius, saya yakin dia bisa beradaptasi dengan bahasa Inggris dengan cepat” ujar Daniel
Mario sangat lega Daniel, satu-satunya yang ia kenal berada di situ. Dia tidak begitu mengerti yang dikatakan Daniel, tapi ia mendengar kata jenius, jadi dia pikir itu pujian baginya.
“Daniel, istri Anda orang Indonesia kan? Anda pasti paham bahasa Indonesia?” tanya Davis
“Kami berkomunikasi dengan bahasa Inggris, saya hanya tahu beberapa kata saja bahasa Indonesia”
“Baiklah kalau begitu, sampai ada translator yang membantu pak Mario, kita skip saja membahas tugas beliau. Nanti biar dia berdiskusi langsung dengan Martin kepala proyeknya” ujar Davis lagi. Mario meninggalkan ruangan, ia menunggu di ruang tunggu.
Satu jam kemudian, rapat selesai. Mario menunggu Daniel keluar dari ruang rapat. Mario menghampiri Daniel yang baru saja keluar dari ruang rapat
“Hey Mr.Daniel, apa kabar?” tanyanya, Daniel tersenyum menyalaminya
“Sebentar!” Daniel menelpon seseorang
“Ayo kamu ke ruangan saya!” Daniel mengajaknya ke ruangannya
Mario naik ke lantai 20.
Daniel membuka google translator yang menerjemahkan perkataannya ke bahasa Indonesia
“Seluruh ruangan di lantai ini, khusus untukku dan tim ku!” ujarnya dalam bahasa Indonesia
“Wah..hebat!!!” Mario mengagumi
“Ayo masuk!” Daniel mempersilakan Mario masuk ke ruangannya. Mario sangat gelisah, ia merasa seperti anak hilang.
“Kamu gak usah khawatir, mereka hanya belum mengenalmu dengan baik, nanti kalau sudah kenal pasti mereka akan lebih menghormatimu!” ujar Daniel menghibur
Mario lega mendengar perkataan Daniel
“Terima kasih, kayaknya aku diprank kakek soto deh. Beliau gak bilang apa-apa tentang rapat tadi, aku kan gak siap” ujar Mario menghapus keringatnya
__ADS_1
“Pak Darmawan memang selalu menguji orang seperti itu, beliau bilang agar kita selalu waspada”
“tok..tok..”
“Ya?”
“Pak, ada bu Rita!” ujar OB , ia mengantarkan istrinya masuk ke dalam ruangan.
Mario sangat senang melihat sahabatnya, ia hendak memeluknya, tetapi Rita langsung datang ke suaminya dan mencium pipinya. Mario kelihatan agak sebal, tetapi kemudian ia tenang setelah Rita menyalaminya.
“Apa kabar O?“ sapanya
“Aduuhhh Ritong...suer deh kakek lo ngerjain gue..untung ada laki lo yang belain Ai!”
“Kamu bantuin dia ya hari ini, sampai perusahaan menyewa translator” ujar Daniel
“Aku dibayar gak nih?” tanya Rita
“Kamu bisa nego sama dia, kita kan butuh bantuannya?” bisik Daniel, Rita mengangguk mengerti
“Jadi gimana O?” tanya Rita menepuk pundak sahabatnya
“Aduuhh masih keras saja pukulannya!, baikk buu...Yu gimana?
“Baikk dong, Alhamdulillah. Kakek gimana O?”
“Tenang saja, ada nenek sekarang!”
“Oya? Apa kabar Nenek?”
“Ya masih nenek-nenek!”
“Hahahaha....tentu dong masih nenek-nenek!” jawab Rita
“Jadi kita ngapain sekarang?” tanya Mario melihat ke arah Daniel
“Kalian datangi divisi properti, menghadap pak Martin dan timnya. Nanti kamu presentasi tentang pengalaman kamu, kamu bawa port folio kamu kan?”
“Apa tuh port Folio?” tanya Mario bingung
“Ya, seperti hasil pekerjaan kamu selama ini, kamu foto-fotoin kan?” tanya Daniel, Rita membantu menerjemahkan
“Iya sih, tapi ada di ponsel aku semua!” jawab Mario
“Wah, masa kamu gak bikin persiapan dulu? Memangnya kakek gak nyuruh kamu bikin?” tanya Rita
“Enggak!, beliau cuma bilang, besok ke Singapura gih, jadi design interior! Gitu doang!”
“Wahh...kakek gimana nih?” ujar Rita
“Kamu bantuin deh Yang, tunggu sebentar ya?” Daniel memanggil Eddy melalui interkom
“Bapak membutuhkan saya?”
“Ed ada ruangan yang belum terisi?”
“gak ada pak?”
“Semua sudah diisi staf ya?”
“Iya”
“Kalau ruang fotokopi gimana?”
“Masih penuh dengan barang dari ruangan lama pak, belum sempat dirapikan OB”
“Ooo begitu, ya sudah, nanti kita pergi setengah 10 ya Ed!”
“Siap Pak!” Jawab Eddy melalui interkom
“Hmm,.. ya udah deh. Yang, Kamu bantu O membuat port folio di sini saja. Kalian bisa memakai laptop ini. Kalau butuh flash disk kosong atau kabel data juga ada” ujar Daniel
“Di sini Yang? Gak apa-apa?”
“O, laki gue bilang, Lo bikin port Folionya di sini saja pakai laptop dia, nanti lo tinggal presentasi”
“hah? Laptop? Ai mah udah punya, nih!” Mario membuka tas ranselnya dan mengeluarkan laptop barunya.
“Wih...laptop baru euy!!” puji Rita, Daniel juga melihat laptop baru Mario.
“Anding, sudah bantuin Ai buat masukin aplikasi yang Ai butuhin, cuma Ai lupa cara pakainya!”
“halahh...gimana sih KAU!, nanti kak Andi marah lho ajarannya dilupain!”
“Biarin!, habis sih, dia neranginnya kayak ngomong sama orang yang sudah biasa dengan komputer, Ai itu jagonya otodidak, mana tahu tentang komputer-komputer kayak gini”
“Lah, laptop ini canggih lho, keluaran terbaru, yang beli siapa?” tanya Rita sambil melihat spesifikasi laptop
“Anding!, dia bilang kado selamat datang di keluarga Darmawan!”
“Waaahh...enak banget Lo! Dapat kado selamat datang, perasaan waktu gue datang gak ada kado-kadoan segala!” protes Rita
“Hehehe...berarti gue lebih diperhatikan dong ya?” Mario merasa menang, wajah Rita berubah kesal, Daniel melihat suasana hati istrinya berubah, ia menghampiri istrinya
“Kenapa Yang?” tanyanya, Rita menceritakan kegundahannya
“Kamu gak usah cemburu begitu, laptop di Auckland yang beli siapa?”
“Aku!”
“Uangnya dari?”
“Ya kakek lah aku mana punya uang!” ujar Rita dengan suara merajuk
“Nah,anggap saja sama kan?” Daniel mengelus punggung istrinya dengan sayang. Mario pura-pura tidak melihat adegan itu, ia sibuk membuka isi laptopnya.
“Eh Tong, udah begini diapain?” tanyanya, Rita menghampiri kemudian membantu memindahkan file foto-foto hasil kerja Mario dari ponsel ke laptop.
“Sudah jam setengah 10, aku tinggal ya, Yang!” ujar Daniel, ia mengambil tas serta jasnya kemudian mengecup kening istrinya
“Hati-hati ya! dadah!!” Rita mengantarnya sampai ke depan pintu, Daniel meninggalkan ruangannya bersama Eddy asistennya.
“Laki lo sibuk banget ya? tapi dia masih sempat memperhatikan gue? Terharu banget gue!”
“Iyaa..begitulah laki gue, makanya, Lo kalau dimintain tolong sama dia jangan perhitungan ya?”
“Iya..iya...jasa yu berdua akan Ai ingat sampai mati!”
“Nah gitu dong!” mereka melanjutkan membuat presentasi, beberapa jam kemudian port folio yang dimaksud selesai.
“Alhamdulillah!!!...selesai juga..ini ibaratnya Ai merangkum hasil kerja Ai selama 20 tahun!”
“20 tahun? Lo saja masih 20 tahun, jadi lo kerja dari mulai 1 tahun gitu?” protes Rita
“Kan, ibaratnya! Masa Yu gak paham bahasa sih?”
“Ya udah, yuk sekarang kita ke divisi property” Rita dan Mario keluar dari ruangan Daniel, semua karyawan menghormat padanya
“Ah bu Rita ..kita gak tahu ibu datang!” ujar Erina menghampiri dengan sopan
“Sejak tadi kok, silakan kembali ke pekerjaan masing-masing, saya dan teman saya ini mau ke divisi property”
“Divisi Property? Pak Martin?” tanya Erina
“Iya betul Martin!” jawab Mario
“Kalau begitu mari saya antar!” Erina mengajak Rita dan Mario mengikutinya. Erina membantu memperkenalkan Rita dan Mario di Divisi Property.
Rita memperkenalkan diri sebagai penerjemah sementara. Mario mempresentasikan hasil kerjanya selama ini, setelah selesai. Para anggota tim pengajukan beberapa pertanyaan, Mario bisa menjelaskannya melalui Rita. Beberapa jam kemudian pertemuan pertama mereka selesai. Mereka akan mengadakan rapat bersama lagi besok. Mario diberikan satu ruangan di lantai itu sebagai ruang kerjanya.
“Nah O, Lo mau balik sekarang, atau di sini dulu sampai jam pulang? Tadi sih bos Martin bilang, karena ini masih Day1 lo bisa rapi-rapi ruang kerja lo, sudah gitu balik juga gak apa-apa!”
“Lo bisa di sini aja gak? Mario kelihatan masih panik
__ADS_1
“Gak bisa, gue harus balik ke toko. Gue kemari karena laki gue nelpon, dia bilang O butuh bantuan. Jadi gue langsung kemari”
“Gak nyangka ya? laki lo selain gak pelit juga perhatian banget. Tadi dia yang ngebelain gue dari si Martin.”
“Hehehe...iya kan? Gue gak salah milih laki? Gini deh gue temani lo beres-beres kantor, nanti setelah selesai kita pulang ke toko gue ya?”
“Mana bisa cepet rapi-rapi kantor? Gue harus mikirin estetika dong!”
“Lo cuma harus liat ruangan lo aja, terus mikirin kira-kira lo butuh apa saja, nanti ajukan ke admin. Besok barang yang lo butuhin akan mereka sediakan.”
“Mereka bilang begitu?”
“Iya, masa gue boong!”
“Ya udah, yuk ke ruangan gue!” ajak Mario
Mereka pergi ke ruangan yang disediakan untuk Mario
“Yahh..kok kecil banget ya? beda banget sama ruangan laki lo” keluh Mario
“Beda dong, Lo kan tenaga kerja lepas, sedangkan laki gue salah satu CEO di sini, wajar!”
“Iya..iya..gue ini cuma remahan rempeyek!” ujar O mendramatisir
“Kumat deh dramanya, udeh cepetan, bikin daftar yang dibutuhkan, gue gak bisa lama-lama nih!”
“Iya..iya..bawel !”
Rita duduk di salah satu kursi, ia mengistirahatkan kakinya yang lelah karena sejak tadi berdiri.
“Sudah nih Tong!”
“Ya udah, yuk ke ruang admin!” ajak Rita
Di ruang administrasi, salah satu stafnya mengenali Rita
“Eh Ibu Daniel!” panggilnya
“Iya,..” Rita agak risih dipanggil dengan nama suaminya
“Ada perlu apa bu?”
“Ini, saya menyerahkan daftar yang dibutuhkan untuk tenaga lepas baru di divisi properti”
“Ohh..” Staf tersebut membaca surat tugas Mario dan daftar yang dibutuhkan”
“Baiklah segera akan kami sediakan!, oh iya ibu juga menjadi tenaga lepas di sini?” tanyanya
“Oh tidak, tadi suami saya minta tolong, katanya ada orang baru yang terkendala bahasa, kebetulan kami dari negara yang sama jadi saya langsung kemari membantu”
“Ah..Anda baik sekali, terima kasih banyak bu!”
“Sama-sama, oh iya kami boleh pulang?”
“Iya silakan!”
Merekapun pamit dan keluar dari kantor, Rita memberhentikan taksi yang membawa mereka ke tokonya
“Kok naik taksi? Mobil Yu mana?”
“Masih di Auckland, di sini transportasinya lebih bagus, jadi gak usah punya mobil pribadi”
“Tapi laki Yu punya mobil kan?”
“Iya, kan dipakai laki gue kerja. Lagi pula sekarang gampang pakai grab!” jawab Rita
“hey Tong, Yu baik-baik saja kan di sini?” tanya Mario, dia melihat Rita yang kelihatan segar
“tentu dong!, Lo lihat muka gue cerah selalu kan?”
“Iya juga ya, Lo dirawat laki lo dengan baik ya?”
“Kita saling merawat lah!”
“eh, kandungannya usianya berapa bulan?”
“Jalan 5 bulan, makanya sudah mulai agak berat nih. Gue ambil yoga untuk ibu hamil, lalu ikut program diet supaya bayinya gak terlalu besar di dalam perut.”
“Sudah beda ya omongan Yu, sudah kayak emak-emak beneran!” ledek O
“Hampir jadi emak-emak dong, kita semua pada akhirnya mendewasa O, gak mungkin kayak anak-anak terus!”
“begitu ya? mungkin ini cara kakek Yu ngirim Ai kemari, supaya lebih dewasa”
“Hahaha...iya mungkin juga. Gimana kabar kak Andi?”
“Anding, sibuk kuliah, sebentar lagi dia kuliahnya selesai, kok dia bisa cepet begitu ya?”
“Kak Andi itu selalu ngambil semester pendek di kampusnya, jadi kalau orang-orang libur, dia tetap kuliah”
“Ya ampuun...rajin sekali dia!, pantesan gak punya pacar!”
“Memangnya Lo yang banyak waktu luang, punya pacar?”
“Belum...sih..Ai kan masih meraba-raba”
“Eh O, lo kan sudah lama juga kan di Auckland, masa masih belum bisa bahasa Inggris?”
“Aduuh...gimana ya Tong, Ai juga bingung”
“Staf di Auckland juga pakai bahasa inggris kan?”
Mario menunduk
“Mereka jadi jago bahasa Indonesia Tong!, Ai yang ngajarin mereka!”
“Yahhh....lo gimana sih!!!...pantesan kakek ngirim lo kemari”
“Iya,..nih...Lo tolongin gue dong!”
“Lo harus ambil les privat sama guru bahasa inggris O, jangan sama gue.”
“Tapi tadi lo bagus kog nerjemahin buat gue”
“Laki gue gak bakal ngebolehin gue kerja serius kayak gini, laki gue itu cemburuan, pusing deh nanti kalau ada rekan di kantornya yang naksir gue!” ujar Rita
“Ahh...Yu Geer Nih!”
“Beneran!, Lo gak tau, tadi gue disuruh ke toilet, menghapus make up gue yang menurutnya ketebalan. Gue cuma disuruh pakai bedak sama lipstick saja. Dia bilang kerja mode-on”
“Tapi tadi Lo memang menor banget Tong!, gue aja kaget, gue kira lo mau kondangan!”
“Sialan Lo!, gue ikut kursus make up!, habis kalau kondangan gue bego banget dandannya, masa tiap kondangan ke salon melulu, pemborosan!”
“Nahh..berarti lo sukses tuh sama make up lo tadi!. Lagi pula menurut gue di tempat itu jangan terlalu menonjol lah untuk cewek ”
“Kenapa?”
“Masa lo gak merhatiin? Selain di lantai 20, cewek-cewek di lantai lain pada pakai rok ketat sama high heel. Gue ngeri mereka jatuh”
“oh ya? gue gak merhatiin!”
“Terus Si Martin itu agak genit!, gue merhatiin dia ngeliatin Lo sampai segitunya. Mau gue colok aje matanya!”
“Heh O!, jangan berprasangka begitu! Lo masih baru, harus pinter beradaptasi dengan lingkungan supaya kerja lo nyaman!”
“Iya sih Tong, jujurly, gue lebih nyaman di lantai 20. Orangnya ramah-ramah, apalagi Erina tadi, sudah cantik, sopan lagi”
“Ciye,...ciye...ada yang kesengsem nih!!” goda Rita
“Ah bisa aje lo Tong!” Mario tersipu malu
Beberapa saat kemudian mereka tiba di D’Ritz
__ADS_1
_Bersambung_