Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 226: Eve Logan, Rita cemburu?


__ADS_3

“Maaf, Anda Daniel bukan?” seorang wanita menegur Daniel ketika ia sedang berbicara dengan salah seorang stafnya


“Ahh...iya?”


“Anda masih ingat saya?” tanya wanita cantik berusia sekitar 30 tahunan,


“hmmm....” Daniel memincingkan matanya berusaha mengingat di mana ia pernah bertemu wanita ini


“Aku Eve!, Anda pernah mengantar aku sampai hotel? Waktu itu kita menghadiri..ups maksud ku kita bertemu dipernikahan sepupu ku?”, Daniel masih tidak ingat


“Waktu itu kamu diserang oleh tunangan eh mantan tunanganku Henry!”


“Diserang? Maaf aku belum ingat! Maaf ya Aku ada rapat dengan Hanada!”


“Saya Eve dari Hanada!”


“Oh, Anda salah satu penasehat hukum yang dikirim Hanada?”


“Iya, saya ketua tim penasehat hukum Hanada cabang Singapura” Eve mengeluarkan kartu namanya


“Eve Emilie Logan, Senior Law Expert” Daniel membaca kartu nama yang diberikan Eve


“Ahh..Anda seorang pengacara rupanya?”


“Hahaha...gak terlihat ya?” Eve tertawa renyah, mereka memasuki ruang rapat dan duduk berhadapan, Daniel sengaja memilih tempat duduk yang tidak berhadapan langsung dengan Eve.


Rapat berlangsung sekitar 2 jam, mereka mendiskusikan langkah hukum selanjutnya


“Jadi Ibu Eve, Anda mengenal pak Daniel sudah lama?” tanya Davies setelah rapat selesai


“Sebenarnya tidak lama, waktu itu Aku bertengkar dengan tunanganku eh sekarang mantan tunanganku, pak Daniel membantu ku agar aku tidak dilukainya” Eve bercerita dengan semangat


“Oh ya? bagaimana?”


“Sebenarnya kami sedang berdansa”


“Kami?”


“Ya, Aku dan pak Daniel, waktu itu aku agak mabuk. Rupanya Henry tunangan ku waktu itu cemburu dengan Daniel, lalu ia langsung menhentakku, Daniel mencegahnya agar ia tidak berbuat lebih jauh padaku. Henry malah menyerang Daniel, akhirnya mereka berkelahi”


“Wow, pak Daniel aku gak menyangka dibalik wajah tampan dan ketenangannya ternyata Anda pembela wanita juga ya?” goda Davies. Daniel masih mengingat-ingat kejadian itu


“Ah, maaf sudah waktunya makan siang. Bapak-ibu saya permisi lebih dulu!” Daniel tersenyum dan meninggalkan mereka yang masih basa-basi di ruang rapat.


“Eve, senang bertemu lagi dengan Anda!” Daniel menyalami Eve, lalu pergi meninggalkan ruang rapat, setelah Daniel pergi, mereka bergosip


“Masih dingin seperti dulu” gumam Eve


“Dingin? Daniel?” tanya Davies, beberapa staf wanita mencuri dengar obrolan mereka


“Iya, dulu ia juga menjaga jarak seperti ini. Sepertinya ia sangat menjaga sikapnya”


“Pak Daniel telah menikah dengan cucu pemilik perusahaan ini!” bisik Davies


“Hah? Daniel telah menikah?”


“Iya, anaknya sudah dua, sepasang!” Davies masih berbisik


“Kapan mereka menikah?”


“Sekitar 2 tahun yang lalu”


“Apa mereka menikah karena hamil duluan?” tanya Eve


“Sepertinya enggak, tapi gak tahulah itu bukan urusanku! Baiklah ibu Eve, senang bertemu dengan Anda. Kami menantikan pertemuan berikutnya dengan Anda!” Davies menyalami Eve lalu meninggalkan ruang rapat.


“Bu Eve, kita langsung kembali ke kantor?” tanya asistennya


“Nanti dulu! Aku masih ada keperluan di sini, kalian duluan saja!” Eve menaruh pulpen dan agenda ke tas jinjing mahalnya, lalu meninggalkan ruang rapat.


“Maaf saya ingin bertemu dengan pak Daniel, bisa saya tahu dimana ruangannya?”


“pak Daniel? di sini ada 3 orang bernama Daniel bu, Daniel yang mana ya?”


“Yang putih seperti orang Korea?”


“Ahh...pak Daniel yang itu!” kedua resepsionis tersenyum


“Dia sangat populer di sini ya?”


“Begitulah bu, tetapi jangan berharap banyak ya? karena sepertinya selain staf dan istrinya ia kurang suka berhubungan dengan orang lain”


“Hush! Kamu ngegosipin pak Daniel dengan tamunya!” temannya memperingatkan


“Ups maaf bu!”


“Gak apa-apa ,Jadi dia di ruang berapa?”


“Beliau di lantai 20 bu, lantai FBI”


“FBI?”


“Iya karena seluruh staf wanitanya menggunakan pakaian berwarna gelap dan bercelana panjang seperti agen FBI”


“Oh begitu, baiklah, terima kasih!” Eve dengan penuh percaya diri menuju lantai 20, sebelumnya ia berdandan sejenak di toilet dan memakai parfum dengan wangi menggoda. Ia tampak sangat cantik dan mahal, setiap lelaki yang berpas-pasan dengannya pasti menoleh melihatnya


Di lantai 20


“Ada yang bisa kami bantu?” tanya resepsionis lantai 20, seperti yang disebutkan di lantai lain. Resepsionis lantai 20 berpenampilan seperti bodyguard


“Saya Eve Logan, ingin bertemu dengan pak Daniel bisa?”


“Pak Daniel sedang makan siang di kantornya, mungkin Anda bisa menunggu di sini?”


“Bisa katakan padanya untuk menemui saya di sini?” Eve mulai tidak sabar


“Selamat Siang semuanya!” Rita datang dengan ramah


“Selamat Siang bu! Apa kabar?”


“Baik!, Bapak Ada?”

__ADS_1


“Ada bu! Silakan langsung masuk saja!” ujar resepsionis tadi


“Hei! Kamu gak sopan! Saya lebih dulu datang! Kenapa ia langsung masuk begitu?” protes Eve galak


“Maaf bu, itu tadi bu Rita istrinya pak Daniel, ia sering mampir untuk makan siang bersama.”


“Tadi istrinya?” Eve terdiam dan kembali duduk di sofa ruang tunggu.


Tak berapa lama, seorang OB memberinya teh hangat serta roti


“Silakan bu, maaf harus menunggu” ujar OB tersebut


“Saya tidak memesannya?” ujar Eve sambil kembali ke ponselnya


“Oh ini, dari bu Rita, tadi beliau minta saya menyediakan teh serta roti yang ia bawa untuk tamu di sini”


“Bu Rita?”


“Iya, istrinya pak Daniel, permisi!” OB pergi meninggalkan Eve. Tadinya Eve tidak tertarik dengan teh dan roti, tetapi saat itu sudah jam makan siang. Akhirnya ia menyeruput teh lalu memakan roti yang disediakan.


“Hmm...roti apa ini? Enak sekali?” Eve membaca bungkus rotinya


“D’Ritz! Aku harus mencari tokonya” ia melahap habis rotinya, lalu menyimpan bungkusnya.


Setengah jam kemudian, Rita keluar dari ruangan, Daniel mengantarnya keluar.


“Pak Daniel!”Eve menegurnya


“Oh, Ibu Eve! “ Daniel menarik Rita bersamanya


“Kenalkan ini istriku Rita, ini ibu Eve Logan. Dia salah satu pengacara dari Hanada yang kemarin aku ceritakan”


“Rita!, maaf harus menunggu agak lama, suamiku ini kadang manja minta ditemani makan siang!” ujar Rita tersenyum


“Ah...gak apa-apa!” Eve agak minder dengan wajah Rita yang muda dan cantik dengan polesan make up yang sederhana


“Aku pulang dulu ya? anak-anak sudah menunggu ku!”


“Baiklah!” Daniel mengantarnya sampai lift terbuka


“Sampai nanti sore!” Rita melambaikan tangannya, Daniel membalasnya dengan senyum ramah


Para resepsionis melihat wajah ramah Daniel dengan mulut hampir terbuka, Eve bingung dengan reaksi para resepsionis yang menurutnya berlebihan.


“Hmm..maaf..apa kalian selalu seperti ini?” tanya Eve heran


“aaa...hehehe...maaf bu, kami senang melihat wajah ramah pak Daniel setelah ia bertemu istrinya”


“Oh ya? memangnya ada perbedaan?” tanya Eve, belum sempat para resepsionis menjawab, Daniel telah kembali ke ruangan itu dengan wajah yang serius.


“Maaf bu Eve, kita ngobrol di sini saja ya? ruangan saya sangat sumpek dengan kertas-kertas berkas untuk menghadapi tuntutan jaksa.” Daniel menerima Eve di ruang tunggu dan tidak menerima Eve secara pribadi di ruangannya.


“Saya gak masalah dengan tumpukan kertas pak” Eve mendesak untuk berbicara di ruangan Daniel secara pribadi


“Apa ada yang hendak Anda sampaikan ke saya mengenai pekerjaan?” tanya Daniel


“hmmm...sebenarnya tidak ada. Aku pikir kita bisa pergi minum setelah pertemuan ini” akhirnya Eve menyampaikan maksudnya


“Saya menghargai maksud Anda, tetapi seperti yang Anda ketahui , Kami sedang mempersiapkan banyak bukti untuk diserahkan ke kejaksaan jadi untuk minum-minum rasanya belum tepat” jawab Daniel terus terang


“Terima kasih atas undangannya dan maaf sudah menunggu lama!” Daniel membalas jabat tangan Eve


“Maaf saya tidak bisa mengantar Anda!” ujar Daniel


“Tidak apa-apa! saya permisi!” Eve keluar dari ruangan di lantai 20, sedangkan Daniel kembali ke ruangannya. Dari wajahnya Eve tampak kecewa dengan sikap Daniel yang dingin.


Malam hari di apartemen Rita dan Daniel, Mario ikut makan malam bersama mereka


“Bos, cewek yang wangi tadi siapa?” tanya Mario, Rita melirik suaminya


“Oh itu, itu Eve Logan! Pengacara yang tadi ketemu kamu juga!” jawab Daniel ke Rita


“Ohh yang tadi, wangi banget ya?” ujar Rita


“Iya, untung aku gak lagi ngidam, kalau enggak bisa-bisa aku muntah di depannya” jawab Daniel


“Masa bos ngidam?” Mario heran


“Iya, waktu dia hamil Rafa, yang ngidam kan aku!, bahkan gak tahan dengan parfumku sendiri” ujar Daniel


“Oh begitu”


“Kamu jadi mata-mata Rita di kantor ku ya?” tanya Daniel dengan nada menyelidik


“Eitss, itu fitnah bos!, Aku penasaran saja. Bos tahu? Tadi cewek itu balik lagi ke lantai 20”


“Hah? Ngapain?”


“Dia nanya bos tinggal di mana”


“Kamu kok bisa tahu?” tanya Daniel dan Rita bersamaan


“Bos gak tahu ya? di lantai 20 para staf cewek membentuk pasukan pelindung bos Daniel dari cewek gatel!”


“Ah!!..ngaco kamu bagaimana bisa ada pasukan kayak gitu?” ujar Daniel, ia melirik istrinya yang wajahnya mulai berubah kesal


“Ada bos!, mereka bilang bos Daniel, suami bersama mereka dengan bu Rita sebagai permaisurinya sedangkan mereka para gundik.”


“Kamu jangan cerita yang aneh-aneh di depan istriku, nanti dia marah gimana?” Daniel mulai resah


“Lanjut O!, mereka pada gundik gimana?”


“Ehem!!” Mario menghentikan ucapannya, ia merasa tidak enak pada Daniel


“Sebenarnya aku pernah bertemu Eve di salah satu pesta pernikahan, waktu itu aku sempat mengantarnya ke hotel”


“Kamu mengantarnya ke hotel?” tanya Rita


“Gak sampai masuk ke dalam hotel, Cuma sampai depan lobby , itupun karena ia melarikan diri dari tunangannya yang mabuk”


“Kapan itu terjadinya?” tanya Rita menyelidik

__ADS_1


“Kamu inget gak waktu aku datang ke peternakan kuda?”


“Hmmm...” Rita mengingat-ingat kejadian itu


“Terus kenapa?” tanyanya lagi


“Nah itu, aku baru pulang kondangan langsung ke peternakan”


“Ahh...waktu itu kamu menghilang satu minggu kan?” Rita mengingat-ingat


“Enggak! aku menghubungi kamu! Tapi ponsel mu tertukar dengan ponselnya teman mu!”


“haaa...yang itu? Oh karena habis bertemu dengan cewek itu, kamu langsung lari ke aku?” tanya Rita


Mario merasa dirinya terjebak di tengah keributan suami dan istri, Ia mempercepat makannya, lalu membereskan bekas makannya, setelah cuci piring


“Oke Tong, Bos, Ai kembali ke kandang yee, terima kasih makan malamnya enak sekali!” Ia langsung pergi meninggalkan apartemen itu.


Di luar apartemen


“Ahh..hampir saja terlibat perang dunia!” gumamnya, ia kembali ke apartemennya yang terletak satu lantai di bawah apartemen Rita.


“Iya!, setelah aku berbicara dengan dia, aku jadi kangen kamu” jawab Daniel mengakui


“Kenapa bisa?”


“Waktu itu dia cerita tentang hubungannya dengan tunangannya yang berjalan selama 4 tahun dan tak kunjung menikah”


“Terus dia mau sama kamu?”


“Dengerin dulu dong, jangan marah-marah dulu. Aku tahu kamu cemburu, tapi dengarkan dulu ya?” Daniel menenangkan istrinya


“Terus kenapa kamu kangen aku?”


“Dia bilang tunangannya minder sama dirinya karena ia hanya karyawan biasa di perusahaan ayahnya Eve.”


Mendengar itu, Rita terdiam. Ia menyadari kasus itu mirip antara dirinya dan Daniel


“Tunangannya selalu mengajaknya bertengkar karena masalah-masalah kecil, sehingga ia memutuskan untuk tidak meneruskan pertunangannya”


“Jadi mereka putus?” tanya Rita


“Ya gak tau!, aku bilang pada Eve supaya tidak menyerah pada hubungan itu . Tapi sebelumnya aku tegaskan ke dia, kalau aku gak tertarik dengan urusannya!”


“Gak tertarik urusan tapi mengantarnya ke hotel?”


“Nih ya? tunangannya menyerangku hingga aku mendarat di kue-kue. Setelan baru ku kotor, jadi aku membersihkannya di toilet, lalu hendak pulang. Eh tiba-tiba dia masuk ke mobil dan menyuruhku jalan”


“Kamu kan bisa menyuruhnya turun dan naik taksi!”


“Aku sudah melakukannya, ia bilang tasnya masih ada di dalam gedung dan dia tidak membawa apa-apa untuk membayar taksi. Aku sempat akan memberikannya uang untuk ongkos taksi, tapi dengan kondisi pakaian yang terlalu seksi dan tidak bersepatu, aku takut terjadi sesuatu padanya”


“Misalnya?”


“Dilecehkan supir taksi? Jadi aku mengantarnya sampai depan lobby saja, setelah itu aku tinggal. Sudah sampai situ saja!”


“Yakin kamu gak punya perasaan apapun padanya?” tanya Rita sangsi


“Aku tidak punya perasaan khusus padanya, aku menjaganya karena ia seorang perempuan. Kalau aku bisa mencegah kejahatan yang mungkin terjadi itu lebih baik kan?” jawab Daniel


Rita mengangguk, ia memahami kebaikan hati suaminya.


“Kamu gak sholat di mesjid hari ini?” tanya Rita


“Hari ini di rumah saja, aku lelah sekali dengan interogasi mu, jujur nih. Menghadapi kecemburuan mu lebih menakutkan dari pada menjawan 250 pertanyaan jaksa” canda Daniel


“Kenapa bisa begitu?” tanya Rita cemberut


“Karena pertanyaan jaksa hanya berhenti sampai setelah ada bukti, tapi kalau pertanyaan kamu? Selama kamu gak tenang, bisa-bisa aku gak dapat jatah malam” ujar Daniel sambil mencuci piring


Rita tersenyum, ia menghampiri kedua anaknya yang sedang main di boksnya


“Kalian senang sekali mainnya? Kakak pandai ya berbagi sama adek” Rita mengusap rambut anak perempuannya.


“Yang para suster sudah kembali ke Jakarta?” tanya Daniel setelah berkumur


“Sudah tadi siang, aku yang menyuruh mereka kembali. Besok pagi suster Rini akan kembali kemari”


“Rafa, kamu main apa nak?” tanya Daniel, ia bertanya pada anak keduanya


“Pane!” jawab Rafa


“Oh plane! Pesawat!” Daniel melihat ke Rita. Rafa sudah pandai menjawab pertanyaan.


“Pi!, Ai pay doll” ujar Ranna


“Oh kamu bermain boneka?” tanya Daniel, Ranna mengangguk sambil menunjukkan bonekanya


“Sepertinya Ranna gak mau kalah. Ia mendengar Mario bilang Rafa bisa bicara lebih dulu, jadi sepanjang hari tadi dia terus nyerocos” ujar Rita menceritakan tingkah anak pertamanya


“Persaingan antar saudara ya? kalian belum ngantuk ya?” tanya Daniel


Kedua anaknya melihat mata ayahnya yang terlihat lelah.


“Pi..sleep!” Ranna menghampiri papinya, Rafa gak mau kalah


“Sleep pi!!” ujar Rafa


“Kalian minta tidur bareng papi?” tanya Daniel tersenyum, ia mengangkat kedua anaknya, dan membawa ke kamar tidurnya. Sementara Rita kuliah online selama 2 jam. Selama ia mendengarkan kuliah dosen, ia melihat kedua anaknya keluar dari kamar


“Hei! Kalian bisa turun dari tempat tidur?” Rita kaget melihat Ranna berjalan ke arahnya, dan Rafa merangkak keluar dari kamar tidur kedua orang tuanya. Rita melihat ke dalam kamar, Daniel terlelap sangat nyenyak sehingga tidak sadar kedua anaknya bisa turun dari ranjang.


“Mi, ding!” pinta Rafa


“Ding mi!!” pinta Ranna


“Oh kalian haus ya?, Rita mengambil botol susu dari pemanas, lalu menuangkan ASInya ke botol kemudian memberikannya kepada kedua anaknya. Tak berapa lama anak-anak tertidur di atas karpet menemani Rita kuliah online, perlahan Rita memindahkan mereka ke tempat tidur mereka. Ia menyudahi kuliah onlinenya dan mengunci semua pintu lalu berganti pakaian dan tidur di samping suaminya.


“Rita!, aku gak ada hubungan apa-apa sama Eve! Kamu harus percaya!” igau Daniel


Rita tersenyum, memperbaiki posisi tidur suaminya yang random.

__ADS_1


“Iya, aku percaya kamu!” bisik Rita ke telinga Daniel, ia mencium bibir suaminya lalu mematikan lampu tidur dan terlelap di samping suaminya.


_bersambung_


__ADS_2