
Hari Sabtu pagi, Daniel telah berpakaian rapi biasanya ia menghabiskan waktunya di sofa depan tv.
Rita baru selesai membuat sarapan, melihat suaminya
"Yang, hari ini memang golfnya pagi?"
"Enggak sih, aku siap-siap aja, jam 8 aku langsung pergi"
"Golf ini akan rutin setiap Sabtu?"
"Mungkin? Entahlah. Kemarin aku diminta menemani Davis untuk golf bersama klien"
"Biasanya Davis pergi bersama siapa?"
"Jameson"
"Terus Jamesonnya kemana?"
"Dia masih non aktif, entahlah apa dipecat atau mutasi"
"Hmm...kesalahan Jameson parah ya? Sampai dipecat?"
"Aku gak tahu,Sayang!..yang jelas divisinya digabung dengan divisi aku."
"Yahh..aku sendirian lagi di rumah" keluh Rita
"Kan kamu bisa berlama-lama di toko tanpa harus khawatir mengabaikan aku" bujuk Daniel
"Iya sih, padahal rencana ku tuh, ingin leyeh-leyeh sama kamu"
"Nantilah, kita tanya dokter dulu ya? Nanti Sore kan ke dokternya?" tanya Daniel sambil tersenyum
"Gak ngapa-ngapain kok Yang, kadang aku cuma pengen dipeluk-peluk saja"
"Hmm...sini deh!"
Daniel menarik istrinya ke sofa, kemudian mereka tiduran saling berpelukan
"Begini kan?"ujar Daniel
"Heeh!" Rita memeluk suaminya erat. Beberapa menit kemudian tanpa terasa ia tertidur.
Daniel melihat jam tangannya
"Ah, sudah setengah 9"pelan-pelan ia melepaskan pelukan istrinya kemudian ia mengambil bantal dari ranjang mereka dan meletakan di kepala istrinya, ia tersenyum melihatnya terlelap, lalu mengecup kening dan perut istrinya. Pelan-pelan ia keluar dari apartemen mereka.
Sesampainya di lapangan golf
"Apa kabar Niel!" Davis menyalaminya
"Baik Pak!"
"Kita tunggu satu orang lagi dari tim kita"
"Oh ya? Siapa?"
"Nanti kamu juga tahu sendiri"
Seseorang muncul dari kejauhan, ia dan caddy yang membawa peralatan golfnya.
"James?" tanya Daniel melihat ke arah Davis
"Iya, klien kita sangat menyukainya, walaupun kantor kita masih menonaktifkan, tapi klien gak perlu tahu kan?" Ujar Davis, ia menghampiri James
"Hai James! Apa kabar?" Sapa Davis ramah, Daniel ikut menghampiri dan hendak menyalami, tetapi James bersikap acuh, ia mengabaikan Daniel
"Daniel juga akan ikut golf bersama kita,James!" Ujar Davis, akhirnya James menyalami Daniel walaupun dengan terpaksa.
Terlihat sekali Davis yang terbiasa dengan James juga para klien, awalnya Daniel merasa diabaikan. Tapi Daniel bisa menarik hati kliennya dengan kemampuan golfnya.
"Wahh..Anda atlet golf pak Daniel?" tanya Jake, klien mereka
"Hahaha..tidak itu hanya pukulan keberuntungan" ujar Daniel merendah.
"Pukulan keberuntungan? Berkali-kali pukulanmu hampir mendekati lubang,.. syukurlah kita tidak bertaruh"
Davis tertawa mendengar kata-kata Jake
"Pak Jake, apakah Anda akan memperpanjang kontrak dengan perusahaan kami?"
"Entahlah,..aku berniat golf saja hari ini pak Davis"
"Hehehe biasanya kita juga membicarakan pekerjaan di sini kan?"
"Memang, tapi biasanya kamu mengajak orang-orang yang berhubungan dengan pekerjaan kita kan?" Ujar Jake sambil mengayunkan tongkat dan memukul bola
"Eh?" Davis bingung dengan perkataan Jake, mereka berjalan beriringan berdua
"Aku dengar rumor yang tidak baik tentang James, katanya ia dinonaktifkan di kantor kalian?" Bisik Jake
"Ehh..."Davis tidak bisa berkata-kata
"Aku boleh tahu sebabnya?" Tanya Jake lagi
"Oh itu kebijakan kantor pusat, mereka hendak melakukan efisiensi dengan menyatukan dua departemen. Dept.proyeksi dan manajemen. James sebelumnya kepala dept.manajemen harus dinonaktifkan dulu sampai ada jabatan baru untuknya" ujar Davis
"Benarkah? Siapa yang menjadi kepala di dua departemen itu sekarang?" tanya
Jake
"Daniel!"
"Hmm.." Jake memperhatikan Daniel yang sedang memukul bola. Dan James yang sedang memperhatikannya
"Daniel ini orang baru?" tanya Jake
"Bukan, sebelumnya ia di kantor pusat Auckland, ia asisten pak Radian"
"Wahh...asisten kemudian menjadi kepala departemen? Apa dia sehebat itu?" tanya Jake
Davis mengangguk sambil berancang-ancang untuk memukul bola.
"Ia berhasil menarik klien dan memperpanjang kontraknya di awal karirnya"
"Oya? Berapa nilai kontrak kalian?"
"Itu rahasia Pak!" Ujar Davis tersenyum
"Aku ingin menjajal kemampuannya, apakah ia lebih baik dari James?" ujar Jake
"Oya? Bagaimana?"
"Aku ingin dia yang memegang proyek ku selanjutnya bagaimana?"
"Maksudnya, Anda akan memperpanjang proyek, tapi Daniel yang mengepalainya?" tanya Davis
"Iya, bisa gak?" tanya Jake lagi, ia memukul bola lagi
"Aku harus menghubungi kantor pusat dulu, karena sekarang ini kliennya Daniel mendapatkan tempat eksklusif di kantor kami.
"Wow!!, Kalau begitu aku akan menunggu sampai kantormu memperbolehkan proyekku dipegang Daniel"
"Bagaimana dengan James? Bukankah Anda menyukainya?"
"Hmm...aku cenderung mengikuti arah angin, sepertinya angin tidak berpihak pada James!" kali ini ia berhasil memasukkan bola, dan permainan selesai.
"Baiklah, aku pamit dulu ya, Davis, Daniel, James! Sampai bertemu lagi" Jake menyalami mereka bertiga, lalu ia pergi.
"James, Niel, kita makan dulu di cafe" ajak Davis
Daniel melihat jam tangannya, sudah pukul 1 siang.
"Maaf pak, sepertinya Saya tidak bisa ikut kalian. Saya sudah ada janji dengan dokter kandungan istri saya jam 3 sore ini"
"Owh!! Baiklah!! Terimakasih Niel, salam sama istrimu ya!"
Daniel menyalami Davis dan James, kemudian ia segera menuju mobilnya. Ia berganti pakaian di mobil kemudian langsung menuju apartemennya.
Setelah Daniel pergi,
"Jadi gimana pak? Apakah Jake akan memperpanjang kontraknya?" tanya James, ia sangat berharap menjadi kepala proyeknya
"Dia bilang akan memperpanjang, asalkan Daniel yang memegang proyeknya"
"Huh!! Apa-apa Daniel! Apa istimewanya dia?"
"Hah! Kamu kan sudah tahu kehebatannya, karena itu kamu hampir dipecat kan?"
"Di-non-aktifkan!" Ujar James membela diri
"Itu cuma cara perusahaan untuk menendangmu perlahan-lahan."
"Kalau saja Anda tidak menyerahkan perbaikan proyek terakhir padaku mungkin sekarang ini, aku masih memegang departemen!"
"Kalau aku melakukan itu,bukan hanya kamu yg di non aktifkan, aku juga! Kamu tahu Benny kan?"
"Pak Benny? dari lantai 10?"
"Iya, dia termasuk evaluator proyek kalian. Beliau yang menyarankan aku menyandingkan kamu dan Daniel untuk perbaikan proyek"
"Apa aku harus melaporkan ini pada Om ku?" ujar James
__ADS_1
"Ya, laporkan saja! Kamu mau mengancamku kan? Sudah bagus aku mengajakmu bertemu klien hari ini, dasar tidak tahu berterima kasih!" Bentak Davis marah
"Maaf Pak Davis, bukan itu maksudku, aku...aku sangat butuh pekerjaan ini"
"Seharusnya kamu berpikir lagi, sebelum bermain-main dengan istri klien mu!"
"Eh Bapak tahu?" James heran
"Apa yang aku gak tahu, tadi Jake terlihat agak kesal melihatmu, sepertinya ia tahu hubungan mu dengan istrinya!" Ujar Davis kesal
"Tapi bukan keinginanku, istrinya mendatangi ku terus, yaah..aku pikir tidak akan ada yang tahu!"
"Hei James! Kalau aku jadi kau, aku akan minta Om ku mencari posisi lain di cabang lain, jangan di sini!, Selamat siang!" Davis meninggalkan James yang kebingungan.
Sementara itu.
"Assalamualaikum!" Daniel telah tiba di apartemen mereka.
"Wa'alaikummussalam" Rita telah berpakaian rapi
"Sebentar ya Yang, aku mandi dan sholat dulu, baru kita berangkat" ujar Daniel langsung berlari ke kamar mandi. Setelah beberapa menit, ia keluar dari kamar mandi kemudian berpakaian lalu sholat dzuhur. Setelah itu, ia merapikan diri.
"Ayo Yang!" Ajaknya.
"Masih jam 2, kamu makan dulu deh, tenang saja, Gak usah terburu-buru. Aku dapat nomor 10."
"Hmm begitu? ya udah aku makan dulu deh" Daniel membuka tudung saji di atas meja makan
"Apa nih Yang?"
"Itu sayur asam, ikan goreng dan tempe bacem, makanan khas Indonesia,cobain deh" Rita menyendokkan nasi ke piring suaminya
Daniel mencicipi kuah sayur
"Hmm...asam..tapi segar!" Ia menuangkan ke atas nasinya dan memakannya dengan lahap, diselingi dengan ikan dan tempe bacem.
"Pelan-pelan makannya, nanti tersedak!" Rita tersenyum melihat suaminya makan masakannya dengan lahap.
"Alhamdulillah.. kenyang...masakan ini setaraf masakan di restoran!" Pujinya
"Ah kamu bisa saja!" Rita senang mendengar pujian suaminya
"Aku bukan asal memuji, masakanmu memang enak Yang, aku harus selalu fitness kalau enggak badanku mekar karena makan melulu"
Tiba-tiba, wajah istrinya berubah kesal
"Eh kenapa?"
"Aku jelek ya? Aku sudah lama gak fitnes, jadi aku mekar?" Rita terisak
"Bukaaann...begitu!" Daniel menenangkan istrinya
"Sejak hamil, aku ikut yoga dan diet, tapi karena gerakannya cuma sedikit, kayaknya aku mulai mekar deh..huhuhu.."
"Enggak kok sayangku, kamu tetap ideal!!" Hibur Daniel
"Apa benar? Kamu gak boongkan?" Rita mengusap air matanya
"Enggak dong, kalaupun kamu mekar, aku tetap sayang, kamu mekar kan karena ada anak kita di perut mu!"
"Tuuuhhh kan berarti aku mekar...nanti kalau aku gemuk, kamu bakal nyari perempuan lain lagi yang lebih cantik" ujar Rita menangis lagi
Daniel bingung harus berkata apa, ia paham perasaan insecure istrinya karena bawaan hormon.
"Aku akan selalu bersamamu, aku gak tertarik sama perempuan lain!" Ujar Daniel dengan wajah serius
"Sungguh?"
"Sungguh! Kapan aku boong sama kamu?" Daniel memeluk istrinya dan mengusap punggungnya.
"Hmm...Yang, aku suka parfum kamu!" Ujar Rita, ia memeluk suaminya, sementara Daniel berdiri membiarkan Rita memeluknya.
Sepuluh menit kemudian..
"Sudah Yang? Kita harus berangkat lho!" Daniel melihat ke arah jam dinding. Ia sangat maklum dengan kelakuan istrinya yang semakin manja padanya.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di dokter.
"Ibu Rita Kang!" Panggil suster
"Yang kita dipanggil tuh" Daniel menyenggol lengan istrinya yang mulai mengantuk.
"Hah?iyaaaa!!" Rita menjawabnya sambil berteriak dan mengulet, semua mata tertuju padanya, ada yang tertawa, ada yang heran...Daniel menarik istrinya, ia pura-pura tidak peduli dengan reaksi orang sekitarnya.
Rita diminta berganti pakaian untuk di USG, selama Rita pergi, Daniel bertanya pada dokter
"Dokter, diusia kehamilan ini, apa kami sudah boleh berhubungan?" tanyanya terus terang.
"Sudah boleh Pak, tetapi hati-hati ya jangan sampai perut istrinya tertekan, oh iya nanti menjelang kelahiran juga baik untuk berhubungan agar cepat keluar bayinya, kecuali posisi bayi sudah di bawah, itu yang gak boleh" terang dokter
"Sebelumnya dia cengeng atau manja?"
"Tidak!"
"Kalau begitu memang hormon atau pengaruh bayi. Nanti kita lihat jenis kelaminnya" dokter bangkit dari kursinya dan pergi ke ruangan USG, Daniel mengikutinya.
"Tarik nafas ya bu... lalu buang nafasnya!" Dokter mulai meletakkan alat USG di perut Rita.
"Detak jantungnya normal, hmm ... semuanya normal. Sekarang kita lihat jenis kelaminnya.." dokter mengarahkan ke bagian paha janin
"Kelihatannya perempuan Bu, Pak!"ujar dokter
"Alhamdulillah.." Rita dan Daniel mengucap bersamaan.
Setelah selesai, mereka kembali menghadap dokter.
"Apa ukuran bayinya terlalu besar dokter?" tanya Rita
"Hmm ..enggak, ini normal kog. Jangan terlalu capek ya Bu!. Kalau sibuk syuting, sebaiknya disela waktunya jangan dipaksakan" ujar dokter tersenyum
"Eh syuting? Dokter tahu?" tanya Rita heran
"Saya nonton acara masak Anda dan Zaneta, menarik! Saya sangat suka!" puji dokter
"Ooh.. terimakasih !" Rita terheran karena baru sekali syuting, sudah tayang dan ia sama sekali tidak tahu kapan penayangan episode pertamanya.
Mereka keluar dari ruang dokter dengan hati lega dan gembira.
"Wahh...aku akan punya anak perempuan!" Gumam Daniel girang.
Sementara Rita duduk sejenak, dan Daniel ke apotek untuk menebus resep obat.
Rita menelpon Vicky sang produser.
"Hai Vicky, episode pertama sudah ditayangkan?"
"Iya, aduh aku lupa memberitahu, oh iya, lusa syuting episode kedua ya, seperti biasa kamu dijemput jam 9 pagi!"
"Baiklah, terimakasih!"
Setelah selesai menelpon, tidak berapa lama Daniel menghampirinya
"Yuk kita pulang!" Ajaknya
"Yang, sekarang kan malam minggu, kita jalan-jalan dulu yuk! Aku bosan di rumah terus!"
"Kamu mau kemana?" tanya Daniel
"Kita ke Mall!"
Daniel melihat jam tangannya,
"Ayo deh, tapi nanti kita mampir ke mesjid dulu ya?"
"Iyaa!" Daniel membawakan tas istrinya.
Di Mall Rita lebih senang di food court, ia banyak makan, sedangkan Daniel hanya makan sedikit dari piring istrinya.
"Kamu pesan saja Yang!" Ujar Rita
"Enggak ah, aku cuma mau nyobain sedikit saja, lihat kamu makan, kayaknya enak!"
"Iya, memang enak!"
Setelah makan mereka berkeliling mall.
"Yang, kita belanja perlengkapan bayi yuk!" Ajak Daniel
"Gak usah Yang, Pamali!"
"Pa? Apa ?"
"Pamali, menurut orang jadul kalau belum 7 bulan, jangan beli macam-macam dulu, nanti kalau ada apa-apa sama bayinya gimana?"
"Zaman now masih percaya yang kayak gitu?" tanya Daniel heran
"Percaya gak percaya sih lagi pula nanti mamaku akan membelikannya, ia punya selera yang bagus. Belum lagi dari kakek..wah percuma deh kalau kita beli duluan"
"Iya juga ya, sayang uangnya!"
"Nahh...jadi kita lihat yang lain saja, misalnya ke toko elektronik" Rita menarik suaminya melihat toko elektronik. Mereka berkeliling toko, Rita kelihatan sangat senang sekali
__ADS_1
"Sayang banget ya steamer pakaian kita masih bagus, padahal ada yang lebih canggih" Rita memegang alat steamer di tangannya
"Hampir semua yang ada di sini ada di rumah,Yang" ujar Daniel mengingatkan
"Memang, aku kesal sekali"
"Tapi di keranjang itu, kamu beli apa?" Daniel menunjuk keranjang yang dibawa istrinya
"Oh, ini bor wireless, selain buat ngebor, juga untuk pasang baut pintu. Kamu gak perlu panggil orang untuk memperbaiki pintu"
Daniel menggeleng-geleng melihat kebiasaan aneh istrinya.
"Sudah yuk, Aku mau ke toko baju nih!" Ujar Daniel
"Kamu mau beli baju lagi?"
"Aku mau beli kaos singlet, heran akhir-akhir ini agak susah menemukan kaosku" sindir Daniel
"Aku yang memakainya, kaos mu nyaman sekali, aku merasa kamu selalu memeluk aku" ujar Rita
Daniel tersenyum. Dari toko elektronik mereka mampir ke dept.store, Daniel membeli beberapa T-Shirt longgar dan singlet
"Wahh...singlet beli sampai 20 pcs, gak kebanyakan?" tanya Rita heran.
"Yaa, kalau-kalau istriku lebih banyak ingin dipeluk kan?" sindir Daniel
"Hehehe, kalau kaos kebesaran ini?"
"Ini untuk kamu!"
"Untuk aku?"
"Bahannya lembut dan menyerap keringat, lagi pula sebentar lagi perut mu akan lebih besar "
"Iya, memang. Aku juga sudah memesan celana hamil secara online, celanaku yang lama sudah kekecilan pinggangnya"
"Kenapa gak beli di sini saja?"
"Enggak ah, aku lebih senang membelinya secara online, lebih murah" ujarnya tersenyum.
Setelah puas berkeliling Mall, mereka kembali ke apartemen.
Daniel langsung mencuci semua kaos yang ia beli. Setelah sholat isya dan makan malam, mereka bersiap untuk tidur.
"Yang, kata dokter sudah boleh lho!" Daniel mencium leher istrinya
"Apa aku harus memakai lingerie dulu?" bisik Rita
"Gak usah, kita langsung saja"
Daniel yang cukup lama "berpuasa" akhirnya melampiaskan kebutuhannya.
"Ah..ah.. akhirnya.."ujarnya dengan nafas terengah, ia sangat kelelahan. Rita menarik selimut untuk menutupi tubuhnya
"Kamu kelihatan lega sekali ya?" Ia mengelap keringat dari wajah suaminya
"Aku bertahan sudah..hmm...3 bulan!"
"Selama itu? Masa sih?" Rita merebahkan kepalanya di lengan suaminya
"Terakhir itu setelah aku mulai aktif lagi di kantor, setelah aku tahu kamu hamil beberapa minggu, aku mulai menahan diri untuk menyentuh mu"
"Yah, sayang sekali, padahal kata dokter di bulan kedua sudah boleh"
"Hah? Benarkah?"
"Iya, padahal di bulan-bulan awal itu, aku juga sedang tinggi-tingginya"
"Kok kamu gak bilang? Minta gitu atau kasih kode?"
"Minta? Aku sudah kasih kode lho, aku bolak-balik hanya pakai handuk di depanmu, eh kamu diam saja. Aku jadi merasa ditolak"
"Oh itu, wah sayang banget ya, padahal aku kepengen itu, aku sampai lari keliling lapangan untuk meredakan keinginan"
"Hahaha...bisa begitu ya? Apa kita perlu memperbaiki cara komunikasi kita?"
"Lain kali kalau kamu kepengin, bilang langsung saja.Aku siap sedia!" Ujar Daniel mantap
"Hahaha.." Rita tertawa
"Yang!" Panggilnya
"Huh?"
"Kamu masih capek ya?"
"Kenapa?"
"Aku mau lagi!" ujar Rita tersenyum
Akhirnya mereka menghabiskan malam itu di ranjang.
Keesokan paginya, mereka bangun kesiangan. Rita mendapatkan banyak mis call dari pegawainya. Daniel sedang mandi, sedangkan Rita menelpon balik pegawainya.
"Hari ini libur saja, saya sedang tidak enak badan. Siapa saja yang sudah datang?" tanya Rita kepada Ismael melalui telpon
"Semuanya sudah datang bu, bahkan kami sudah membuka toko"
"Tutup saja lagi, kalian tetap absen ya"
"Baik Bu"
"Siapa Yang?" tanya Daniel, ia telah selesai mandi, kini giliran Rita
"Pegawai ku, aku bilang hari ini libur saja, aku sangat kelelahan "ujarnya sambil masuk ke kamar mandi
Daniel tersenyum malu
"Tentu saja, berapa kali tadi malam?" gumamnya.
Setiap hari Minggu ia yang menyiapkan makanan untuk mereka berdua.
Rita telah rapi berpakaian, ia mencoba kaos kedombrongan yang dibelikan suaminya kemarin
"Sudah kering Yang?" tanya Daniel, ia membuat omelet, kentang tumbuk dan sosis goreng.
"Sudah, kamu benar, bahannya lembut" Rita mematut diri di depan cermin, ia memakai celana pendek yang tertutupi oleh kaos tadi.Daniel melihat tubuh istrinya yang semakin berisi
"Ayo duduk, kita sarapan!" ia menggeser kursi untuk istrinya
"Terimakasih" Rita tersenyum memegang pipi suaminya
"Kamu kelihatan senang sekali?" Tanya Daniel
"Tentu saja, sejak kemarin aku merasa istimewa, pagi ini aku tinggal makan tanpa memikirkan toko" ujarnya sambil menyantap sosis
"Mungkin kamu harus buat supaya pegawai mu mandiri." usul Daniel
"Maksudnya?"
"Selama ini kan selalu kamu yang membuat adonan, nah sekarang biarkan mereka yang membuatnya, kamu tinggal mengontrolnya saja"
"Tapi nanti mereka mencuri resepku bagaimana?" tanyanya khawatir
"Kalau begitu kamu buat takarannya, misalnya kamu sudah menaruh tiap2 bahan diplastik, jadi pegawai mu hanya tinggal memasukkannya saja, tanpa tahu isi dan takaran bahannya"
"Hmm...begitu?"
"Beberapa restoran yang aku tahu sih begitu, kecuali kentang goreng, mereka cuma menggorengnya."
"Usulmu diterima pak Daniel! Kalau begitu, setelah ini, kamu antar aku ke toko plastik ya?" Pinta Rita
"Plastik?, Kenapa gak beli wadah yang sudah jadi saja? Kan kamu gak akan kehabisan plastik karena bisa terus di refil"
"Iya sih, tapi aku repot harus terus mencucinya sebelum menaruh bahan yang baru"
"Ah..iya benar juga!" Ujar Daniel
Setelah selesai makan, mereka pergi ke pasar modern yang letaknya cukup dekat dengan apartemen mereka.
Rita membeli beberapa pak plastik, timbangan, spidol, dan bahan-bahan untuk roti lainnya.
"Hari ini bisa dikirim ke toko saya pak?" tanya Rita, ia memberikan alamatnya.
Ketika mereka hendak pergi, tanpa sengaja Daniel menyenggol seseorang.
"Ah maaf!" Ujarnya
"Daniel?"
"Eh James? Kamu belanja di sini juga?"tanya Daniel heran
"Yeah.."
"Oh,kenalkan ini istriku Rita!" Daniel mengenalkan istrinya
"Senang berkenalan dengan Anda!" James tersenyum
Setelah itu mereka berpisah.
"Siapa James?" tanya perempuan yang bersamanya
__ADS_1
"Cuma kenalan! Istrinya cantik sekali" James tersenyum nakal
_bersambung_