
Rita tersadar dari komanya, mama Ratna yang tidur di sampingnya sangat terkejut mendapati Rita yang telah bangun dari tidur panjangnya. Ia kelihatan lebih bugar dari sebelumnya.
“Rita? Kamu sudah sadar Nak?”
“Maaf ya ma, sudah membuat mama khawatir!”
“Enggak sayang!, mama selalu yakin kamu sadar kok!”
Tiba-tiba bunyi suara perut Rita
“Ups maaf ma, kok Rita lapar banget ya?”
“Tentu sayang, mama akan pesankan makanan untuk kamu ya?” Ratna segera mengangkat teleponnya dan memesan makanan dari restaurant terdekat. Selain itu ia juga menghubungi dokter yang merawat Rita.
“Ma, sudah berapa lama Rita tak sadar?” tanya Rita
“Sekitar dua minggu, sayang.”
“Rita ketinggalan pelajaran lagi ya?” keluhnya
“gak apa-apa Rita, sekolahmu sudah tahu kondisi mu”
“yaah, apa mereka akhirnya tahu latar belakangku ma?”
“Kenapa kamu masih mengkhawatirkan hal itu? Kamu kan baru sadar”
“Enggak, Rita hanya khawatir teman-teman Rita di sekolah akan memperlakukan Rita berbeda setelah mereka tahu Rita dari keluarga sangat kaya.”
“Kamu gak perlu khawatir, pak Ridwan sudah memberi kabar pada wali kelasmu, beliau juga sudah menunjukkan surat dokter. Tadinya mereka hendak menjenguk, tetapi dengan berbagai alasan dari pak Ridwan akhirnya mereka tidak jadi menjenguk.”
“Ah syukurlah, mereka akan ribut melihat Rita dirawat di kamar mewah seperti ini”
“hmm...itu sangat mengganggumu ya?”
Rita mengangguk
“Apa itu sebabnya Rita mengontrak rumah?”
“Mama tahu?”
“Tentu, Daniel yang cerita. Ia membawamu ke rumah sakit dari rumah kontrakan”
“Ohh ternyata bukan mimpi” gumam Rita
“Huh? Kenapa? Daniel sekarang ditugaskan di cabang Singapura untuk proyek yang baru, setiap Jum’at dan Sabtu ia menginap di sini menemanimu”
“hmm...” Rita hanya terdiam membisu
“Rit, sepertinya Daniel sungguh-sungguh serius sama kamu. Dia bilang ke kakek akan segera menikahi Rita, kamu mau gak?”
“hmmm..” Rita hanya diam saja
“Ting tong! “ suara bel memotong percakapan mereka, pesanan makanan dari restauran telah datang. Rita memakan hidangannya dengan lahap, Ratna memperhatikan sambil tersenyum lega.
“Makannya pelan-pelan sayang!” ujarnya lembut
Beberapa menit kemudian makanan habis tak bersisa.
“Alhamdulillah kenyang sekali” Rita mengelap mulutnya, kemudian ia mencoba turun dari ranjangnya. Tiba-tiba ia terjatuh
“Aduh!!” erangnya, Ratna yang baru membereskan sisa makanan Rita, langsung membantunya
“Nak, jangan terburu-buru, kamu itu sudah berbaring lebih dari 2 minggu, tubuhmu belum terbiasa. Perlahan saja ya?”
“Rita gak betah ma, Rita ingin mandi, rasanya badan ini lengket!”
“Tunggu ya Nak, sebentar lagi dokter datang!”
Rita kembali ke ranjangnya, Ia melihat ke sekeliling kamarnya
“Cari apa?” tanya Ratna
“Ponsel Rita mana ya ma?”
Ratna beranjak dari tempat duduknya, ia membuka tasnya dan mengambil ponsel Rita.
“Nih Rit, mama gak buka-buka lho!”
“Gak apa kog ma, gak ada yang spesial!” Rita membuka ponselnya. Ia melihat catatan ponsel 2 minggu yang lalu.
“Kok kamu pakai ponsel jadul Rit? Ponsel yang mama beliin mana?”
“Ada kok ma, Rita pakai ini kalau di sekolah. Kalau di rumah pakai yang mama kasih”
“repot banget ya? kamu seperti dalam penyamaran.”
“Habis mau bagaimana lagi ma?, ponsel dari mama itu Iphone terbaru yang harganya puluhan juta, terlalu berlebihan kalau Rita bawa ke sekolah”
“Apa kamu gak berlebihan Rit? “
“Ini untuk mencegah ma, ketika di Auckland dulu yang sekolahnya notabene sekolah mewah, mereka sangat ribut mengetahui Rita cucu konglomerat, apalagi di sini. Bisa-bisa banyak yang menjilat Rita, Aku gak suka ma!”
Dokter tiba, ia memeriksa keadaan Rita. Ia meminta perawat untuk mengecek darah dan seluruh cairan tubuh Rita sebelum ia diperbolehkan pulang.
“Apa gak berlebihan ma?” tanya Rita ketika seorang perawat mengambil darah, urine dan cairan dari mulut Rita
“Kamu itu mengalami seperti keracunan, hampir mati otak! Keajaiban kamu bisa sadar!”
“Parah sekali ya ma?” tanya Rita, Ratna mengangguk, air matanya menetes mengingat kondisi kritis Rita beberapa hari yang lalu.
“Hebat ya dokter di sini bisa menemukan anti toksinnya”
__ADS_1
“Sebenarnya, Ayahmu datang Rita!”
“Hah? Ayah?” Rita kaget setengah tidak percaya
“ia dihubungi Andi ketika dokter menyatakan kamu koma”
“Lalu ma?”
“Ia segera kemari, ia juga memeriksa catatan dokter tentang kesehatan kamu!”
“Sekarang Ayah mana?”
“Ia harus kembali ke Sukabumi, ia tidak bisa berlama-lama di sini”
“Yahh!” Rita terlihat sangat kecewa
“Nanti kalau libur sekolah, kamu kunjungi beliau ya? ucapkan terima kasih karena sudah merawat kamu!”
“Tentu ma!, oiya Ayah merawat Rita? Bagaimana?”
“Ayahmu menyimpan tali pusarmu ketika kamu lahir dulu. Dari sel dan cairan itu ia sintesiskan untuk mengobatimu”
“Apa bisa begitu?”
“Menurut penelitian para ahli, tali pusar bayi yang baru lahir itu bisa menjadi obat bagi si pemilik tali pusar itu. Prosesnya mama gak paham, tetapi ia menyuntikan cairan itu berkali-kali ke infus-an mu. Kondisimu menjadi stabil. Kejang otot, detak jantung dan tekanan darah mu berangsur normal. Beliau bilang mungkin 1-2 hari lagi kamu akan bangun. Ternyata perkiraannya benar!”
“Ayah memang hebat ya ma!” Rita tersenyum, Ratna memegang tangan Rita
“kamu mau latihan berdiri? Yuk mama bantu!” Rita mengangguk, perlahan ia mulai menggerakan kakinya, ia menurunkan kakinya , setelah beberapa menit, Ratna membantunya berjalan. Dengan bantuan walker, Rita kini kembali dapat berjalan. Kabar Rita yang telah sadar telah sampai di telinga kakek Sugi dan Robby. Mereka segera datang ke RS untuk menjenguk Rita.
“Kamu sudah lebih baik Rita?” tanya kakek, ia memakai tongkat sekarang
“Alhamdulillah, sudah kek, Rita sudah bisa berjalan sedikit demi sedikit.
Tak lama Kakek Darmawan dan Andi juga tiba di RS, kamar Rita penuh dengan para penjenguk, Rita mencari ayahnya, tetapi tidak datang
“Hebat juga Reza, Aku gak nyangka dia bisa menyimpan tali pusar Rita selama ini” ujar Sugiyono
“Iya, mungkin selama ini kita terlalu keras padanya, Kak!” ujar Darmawan
“Iya, betul, kalian terlalu keras padanya, ketika ia datang ia sempat was-was. Sepertinya ia takut bertemu kalian!”
“Ah, itu menurutmu Ratna, papa gak pernah lagi mengancamnya!” ujar Darmawan yang disetujui oleh Sugiyono
“Ah iya, bulan depan, Saye menikah, ia mengundang kita!” ujar Ratna menunjukkan undangan pernikahan
“Tante Saye menikah lagi ma?” tanya Rita senang
“Jangan-jangan rujuk ya?” tanya Andi
“Enggak kog, kemarin Reza cerita, calonnya Saye kebetulan bertemu di penerbangan, ketika ia pulang dari Auckland”
“Ooo, itu sudah beberapa bulan yang lalu!” Andi membaca undangan itu
“Tentu saja, sekalian kamu tengok ayahmu, ucapkan terima kasih kakek padanya. Suruh dia dan keluarga barunya datang ke rumah kita!” ujar Darmawan tersenyum
“Kakek yakin?” tanya Andi menegaskan
“Tentu yakin, dia sudah menyelamatkan cucu kakek!” Darmawan merangkul Rita dengan sayang.
“Kapan Rita boleh keluar RS?” tanya Sugiyono
“Sedang tunggu hasil lab pa, kalau sudah tidak ditemukan racun lagi, ia bisa pulang” jawab Ratna
“Rit, sebenarnya si Endo itu menyuntikan apa ke elo?”
“Endo? Siapa Endo?” tanya Rita
“Itu kakek keduanya mantan cewek gue!” ujar Robby
“Udeh jadi mantan?” tanya Rita, Robby mengangguk
“Iyalah, tapi sayang juga Rob, karena tu cewek lo jadi orang bener!” ujar Andi tiba-tiba
“Gue udeh bener kok dari dulu, Cuma sekarang gue sudah gak marah lagi sama kalian!”
“Ooo” kakek Sugiyono hanya manggut-manggut tanpa tahu maksudnya
“Jadi dia nyuntikin apa?”
“Gak nyuntik apa-apa, Cuma sepet kosong! Itu juga kena perut”
“Tapi kok?” Robby bingung
“Justru karena sepet kosong itu berbahaya, karena ia menyuntikan udara ke pembuluh darah di usus kamu, mungkin karena itu usus kamu jadi meradang” ujar dokter yang datang tiba-tiba
“Kalau Cuma udara kenapa Rita sampai koma dokter?” tanya Ratna heran
“Mungkin ada kuman dari usus yang tidak sengaja masuk ke aliran darahnya sehingga mencapai otak. Syukurlah dokter Reza memberikan cairan itu.”
“Cairan itu fungsinya apa?”
“Saya sendiri belum tahu kandungannya, tetapi dari hasil lab Rita, semua sudah bersih. Bahkan ia lebih sehat dari awal datang kemari”
“Bekas operasinya bagaimana dokter?’
“Untuk sementara kamu jangan melakukan aktivitas yang berat dulu Rita karena bekas pembedahan”
“Tuh Rita, dengerin kata dokter! Kamu jangan latihan dulu, baik bela diri maupun berkuda” ujar Ratna memperingatkan
“Jadi Rita sudah boleh pulang dokter!”
__ADS_1
“Iya sudah”
“Alhamdulillah!”
Rita beres-beres di kamarnya, sedangkan yang lainnya menunggu di ruang tunggu VVIP.
“Robby, kita pulang duluan saja yuk!” ajak kakek Sugiyono
“Ayo kek!” Robby menurut, setelah pamit pada Ratna , Rita dan Darmawan merekapun meninggalkan RS.
“Ratna, papa dan Andi pulang duluan ya? kita ketemu di rumah!” ujar Darmawan
“Iya pa!” jawab Ratna
“Ma, apa selama Rita koma mereka selalu di sini?” tanya Rita, ia sedang berganti pakaian
“Iya, bahkan Robby berkali-kali minta maaf sama kamu. Ia juga minta maaf sama Andi. Mama jadi terharu melihatnya. Yang paling senang itu kakek Sugiyono.”
“Kenapa ma?”
“Beliau bilang, Andi sudah diputuskan menerima warisan perusahaan dari kakek Darmawan, padahal kakek Sugiyono sudah mempersiapkan Andi sebagai penerusnya.”
“Aku gak dianggap ma?” tanya Rita
“Perusahaan kakek banyak Rit, nanti kamu juga dapat deh. Tapi memangnya kamu mau?”
“Kalau dikasih mau sih ma, pengen tahu saja rasanya jadi CEO”
“Ooo, oh iya, mama sudah mengabari Daniel, mungkin nanti sore ia akan datang langsung ke rumah”
“Daniel ma?”
“Iya? Kenapa kamu masih marah ya sama dia?”
“Rita masih menyimpan dendam sih ma, kalau mengingat dia mengacuhkan Rita dulu, Rita masih sering marah!”
“Itu karena kamu terlalu sayang sama dia Rit. Makanya kamu kecewa berat. Mama kasih tahu ya, yang namanya hubungan itu ada pasang surutnya. Kadang kita sayaaang banget, kadang kita benciii banget. Tetapi pada akhirnya usaha kalian untuk tetap bersatu yang menentukan apakah hubungannya bisa terus berlanjut atau tidak!”
“Begitu ya ma? Walau sekarang sepertinya Rita mati rasa?”
“Huh? Mati rasa?”
“Iya, dulu kalau melihat Daniel, rasanya dada ini berdebar-debar, tidak sabar untuk bertemu dengannya. Tetapi setelah kejadian ini, Rita seperti tidak ada feeling apa-apa ma?”
“Hmm..Jangan terburu-buru memutuskan Rita, apalagi kamu baru sembuh. Daniel yang menyelamatkanmu lho! Mama juga sudah menganggapnya mantu mama”
“Kog buru-buru?”
“Kakek Darmawan juga!, malah dia bilang, kalau Rita sadar segera nikahkan saja sama Daniel. Supaya kakek gak deg-degan terus”
“Kenapa kakek deg-deg-an?”
“Iya melihat kalian nempel mirip permen karet yang nempel di meja, kakek takut kamu hamil duluan!” bisik Ratna
“Ih mama, gak mungkinlah!”
“Kenapa gak mungkin Rit? Kamu hampir 18 tahun, usia dia juga sudah dewasa, apalagi kalian saling suka, gak mungkin kalau pacaran cuma pegangan tangan saja”
“Hmm..tapi kita pacarannya begitu ma, paling kita nge-gym bareng. Atau makan di resto ke tempat ramai deh pokoknya, kita gak pernah ke tempat sepi berduaan!” ujar Rita meyakinkan
“Apa Daniel gak keberatan pacaran kayak gitu?”
“Enggak!, dulu waktu dia kecelakaan, Rita tanya ke dia mau ikut ke rumah atau di rumahnya. Daniel memilih ikut ke rumah kita”
“Kenapa Daniel begitu?”
“Katanya takut ada apa-apa!”
“Hmmm....apa kalian bisa dipercaya?” tanya Ratna memicingkan matanya
“Terserah mama deh”
“Jadi kamu gak mau nikah?”
“Gak tau deh!” ujar Rita, ia baru saja selesai berdandan. Seorang dokter muda datang ke kamarnya
“Selamat Siang!” sapanya
“Siang!!!” Rita terpaku sejenak menatap wajah dokter muda itu
“Ini resep vitamin yang harus kamu minum, kalau ada keluhan kontrol lagi saja kemari” ujar dokter itu tersenyum
Ratna melihat Rita yang terbengong-bengong melihat dokter tampan itu, ia menjawab perkataan dokter untuk menutupi kegugupan Rita
“Baik dokter terima kasih banyak!” ujar Ratna
Dokter muda itupun pergi dari kamar Rita
“Ma!” panggil Rita
“Kayaknya Rita sakit lagi deh!”
“Apa-apaan sih kamu Rit? Orang sudah boleh pulang. Kamu sudah sehat!”
“Dokter tadi ma, bikin Rita sakit! Mirip kak Tommy, ganteng banget!!”ujar Rita
“Hush!! Rita! Kamu itu ada-ada saja, ayo kita pulang. Tuh pak Umar, ia sudah membawakan kursi roda untuk kamu!”
“Gak usah ma, Rita bisa jalan sendiri kok!”
“Heii!!!. Orang baru sembuh harus simpan tenaga, sudah kamu duduk saja biar pak Umar yang dorong kamu!”
__ADS_1
Mereka pun meninggalkan rumah sakit dan kembali ke rumah besar.
_Bersambung_