
Berita sakitnya Rita menyebar cepat, beberapa orang yang pernah ditolong Rita menjenguknya, salah satunya Lucas. Ia langsung datang begitu mendengar Rita jatuh sakit, Ia membawa bunga dan coklat.
“Tok..tok..tok” Lucas mengetuk pintu ruang perawatan
“Permisi!” ia membuka pintu geser di ruang tersebut, dan masuk ke dalam, ia celingukan, karena ruangan tersebut kosong, bersamaan dengannya, seorang perawat datang ke ruang tersebut
“Suster, orang yang dirawat di sini di mana ya?” tanya Lucas bingung
“Oo, ia baru saja dipindah ke ruang VVIP, di gedung sebelah.” Jawab perawat
“Bisa saya tahu nomor kamarnya? Saya kenalannya!” ujar Lucas memperkenalkan diri. Perawat mengajaknya ke meja depan dan memberikan nomor ruangan VIP tempat Rita dirawat.
Di ruangan VVIP
“Ting nong!” bunyi Bel di ruangan tersebut
“Permisi!!” ujar Lucas
“Ya? siapa ya?” Ratna membuka pintu kamar
“EH maaf ini ruang rawat Rita?” tanya Lucas, dia terkejut dengan sosok wanita cantik di hadapannya
“Iya, tapi Rita sedang di check dokter di ruangan lain, maaf Anda siapa ya?”
“Oh, kenalkan, nama saya Lucas, saya temannya Rita!” ujar Lucas memperkenalkan diri
“Saya Ratna, mamanya Rita!”
“Ooo, senang bertemu dengan Anda!” ujar Lucas tersenyum
“Hmm..saya tidak tahu kapan selesainya check upnya, tapi karena Anda sudah datang, ayo silakan masuk!” Ratna mempersilakan Lucas masuk.
Ruangan VVIP itu sangat lega seperti layaknya apartemen, terbagi menjadi beberapa ruangan : ruang tamu, dapur kecil dan ruang tidur pasien dan yang menunggunya, dan toilet.
Lucas duduk di ruang tamu dengan perasaan canggung, sebagai orang Indonesia yang menerima tamu, Ratna menyuguhkan minuman dan beberapa makanan kecil.
“Silakan, dan maaf hidangannya seadanya!” ujar Ratna mempersilakan Lucas untuk minum teh hangat
“Ah terimakasih!” Lucas meminum teh tersebut, sepertinya ia sangat menikmati teh itu.
“Enak sekali teh ini, bisa saya tahu mereknya?” tanya Lucas tanpa basa basi
“Oh, rupanya Anda penggemar teh juga, saya membeli teh tersebut di Bali, kebetulan beberapa minggu lalu saya berada di Bali”
“Bali? Berarti Anda juga orang Indonesia?” tanya Lucas, ia tidak bisa berhenti menuangkan teh ke cangkirnya
“Iya, Saya dan papanya Rita orang Indonesia, setelah papanya Rita sakit, Kami pindah kemari!” cerita Ratna
“Oo, Bagaimana keadaan beliau sekarang?” tanya Lucas sambil menyeruput tehnya
“Beliau meninggal” jawab Ratna dengan nada datar
“Ooo begitu, maaf saya turut berduka!” Lucas meletakkan cangkirnya
“Tak apa, sudah cukup lama beliau meninggal, mungkin sekitar 18 tahun?” ujar Ratna lagi mengingat-ingat
“Ooo begitu!” Lucas menjadi agak lega karena status Ratna yang single
“Jadi pak ??? tadi nama Anda siapa ya?” tanya Ratna ramah
“Saya Charles Lucas , saya dan Rita baru saja berteman!” ujar Lucas bangga
“Ehem,..maaf kalau boleh tanya, usia Anda berapa ya? Anak saya baru akan 17 , tahun ini, kelihatannya umur Anda lebih dari itu!” tanya Ratna heran
“Sebenarnya Edward keponakan saya, berteman baik dengan Rita dan Andi, saya sendiri kenal dengan Rita ketika kami berkemah di gunung!” jawab Lucas
“Berkemah di gunung? Berarti Anda mengenalnya baru 2 minggu lalu?” tanya Ratna lagi
“Yaa, begitulah!, Rita itu gadis yang istimewa bukan?” puji Lucas
“Tentu saja, dia anakku!” Ratna tersenyum bangga, tapi kemudian ia curiga dengan sosok laki-laki paruh baya di depannya, menurutnya Lucas lebih cocok jadi ayah dari pada suaminya, lalu ia kembali bertanya secara detail , tapi sebelum itu terjadi, Rita yang di dorong kursi roda oleh suster telah kembali ke kamarnya. Ia kaget melihat Lucas berada di kamarnya
“Eh pak Lucas?” sapa Rita dengan wajah heran
“Rita, apa kamu merasa lebih baik sekarang?” tanya Lucas ramah.
“Mama, maaf, aku juga ingin teh hangat seperti itu, bisa tolong ambilkan?” tanya Rita ,
“tentu saja sayang!” Ratna beranjak dari sofa, lalu pergi ke dapur, dengan segera Rita menghampiri Lucas dan membisikkan sesuatu
“Pak, eh Lucas, saya minta Tolong jangan menceritakan peristiwa kita berdua di gunung!” ujar Rita memelas
“tapi, itu pengalaman hebat dan saya sangat tertolong olehmu!” ujar Lucas
“Saya tahu, tapi kalau Anda ceritakan itu ke banyak orang terutama mama saya, Saya takut beliau tidak akan membolehkan lagi saya pergi camping. Sungguh, saya menolong Anda bukan untuk mendapat pujian Anda atau agar Anda merasa berhutang budi, Saya melakukannya karena saya takut mati sendirian di gunung itu. Jadi anggap saja kita saling membantu ya Pak?” ujar Rita lagi dengan suara berbisik dan memelas
Kata-kata Rita justru membuat Lucas semakin kagum padanya, tetapi ia juga paham kesulitan yang akan dihadapi Rita jika mereka tahu kejadian mendekati mati yang mereka alami, Lucas mengangguk tanda setuju
“Baiklah ! saya tidak akan mengungkit hal itu lagi!” ujar Lucas
“Terimakasih!” Rita tersenyum
“Oh ini, Bunga dan coklat, kamu boleh makan coklat kan?” Lucas
“Ini coklat halal kan?” tanya Rita
“Tentu saja, ini dari minyak nabati, saya membelinya karena tahu Kamu seorang Muslim!” jawab Lucas
“Alhamdulillah, terimakasih Pak! Eh Lucas, jadi apakah anda bersama Edward?”
__ADS_1
“Tidak, Edward sudah kembali ke London, sepertinya Ia sedih mendengar Kamu telah bertunangan!” ujar Lucas
“Bertunangan? Siapa yang bilang?” tanya Rita heran
“Ia mendengar desas-desus selama pertandingan, ia mendengar Kamu ditunangkan oleh salah satu peserta, apa betul begitu? Tanya Lucas menyelidik
“Nah itulah anehnya Pak, jujur saja sampai dengan saat ini saya masih sendiri, belum punya tunangan, kekasih apapun itu namanya!” ujar Rita tegas
“Benarkah?” tanya Lucas sedikit lega, Ratna menghampiri mereka sambil membawa sebelas besar teh hangat, dan ia juga membawa teh yang masih terbungkus
“Ritaa, ini tehnya sayanggg...!” Ratna tersenyum
“Oh iya, ini teh yang masih baru, saya membelinya banyak, dalam satu bungkus ini ada 12 kotak, Anda bisa membawanya pulang!” Ratna memberikan kotak kecil berisi teh kepada Lucas
“Ah terimakasih, akhirnya saya tahu, dari mana datangnya kebaikan Rita!” ujar Lucas tersenyum, ia membuka kotak itu dan mencium bau tehnya
“Ini sangat harum, saya suka sekali, terimakasih !” ujar Lucas tersenyum ramah
“Saya yang berterimakasih, karena Anda meluangkan waktu untuk menjenguk anak saya, maaf kalau ada perbuatan anak saya yang kurang sopan, kadang karena kami tidak tinggal bersama, anak ini suka seenaknya!”
Lucas tersenyum membayangkan hal-hal yang Rita pernah ucapkan kepadanya
“Jadi, saya dengar Anda berasal dari Inggris?” tanya Ratna membuka percakapan
“Iya, kami tinggal di London, Edward tinggal bersama saya!”
“Ohh, orang tua Edward di mana?” tanya Rita
“Mereka bermigrasi ke Dubai, Ayah Edward bekerja sebagai teknisi pesawat di sana, kakak saya Rosalin mengikuti suaminya tinggal di sana. Edward tidak ikut mereka karena Ia cucu laki-laki pertama keluarga kami, ayah saya, kakeknya Edward tidak mau Edward di bawa ke Dubai sehingga Ia tinggal bersama Kami.”
“Ting tong!” bunyi suara bel pintu kamar,
“Sebentar!” Ratna beranjak dari sofa dan membuka pintu kamar
“Metha!” ujarnya kaget
“Kak Ratna?” Metha segera memeluk Ratna, mereka baru saja bertemu setelah sekian lama berpisah
“Ayo masuk!” ajak Ratna menarik Metha
Lucas, merasa kehadirannya akan menganggu reuni mereka, jadi ia berdiri dan berpamitan
“Anda sudah mau pulang?” tanya Rita
“Saya harus kembali ke hotel, kelihatannya pertandingan keluargamu ditunda jadi sepertinya aku kembali ke London dulu, nanti Radian akan menghubungi jika pertandingan di lanjutkan!” ujar Lucas
“Lucas, kenalkan ini Metha, ia sepupu papanya Rita!” Ratna memperkenalkan Metha kepada Lucas
Lucas terkesima dengan kecantikan Metha, ia mengulurkan tangannya
“Lucas!” ujarnya tanpa berkedip
“Metha!” Metha menjawab sambil tersenyum
“Iya, saya tantenya Rita!” ujar Metha, ia berlari kecil menghampiri Rita yang duduk lemas di kursi roda
“Rita sayangg,..tante langsung kemari begitu mendengar kamu sakit!” ujar Metha memeluk Rita erat
“Tante jauh-jauh dari Swiss untuk menjenguk saya?” tanya Rita
“Tentu saja!, masa aku membiarkan pahlawanku sakit dan tidak berbuat apa-apa!” ujar Metha
Rita memberikan isyarat kepada Metha untuk tidak berkata apapun di depan Ratna
“Pahlawanku? Pahlawan apa?” tanya Ratna melotot
Metha salah tingkah
“Memang aku bilang pahlawan? Aku bilang ponakan!” ujar Metha lagi mengoreksi ucapannya
“Hmmm....” Ratna terdiam tapi matanya memancarkan kecurigaan
“Ma, aku lemas, aku mau kembali ke tempat tidur!” ujar Rita, wajahnya terlihat lelah
“Oh baiklah!” Ratna mendorong Rita kembali ke kamarnya
Metha dan Lucas ditinggal berdua di ruang tamu.
“Jadi Anda tinggal di Swiss?” tanya Lucas membuka percakapan
“Baru beberapa bulan ini, ayah saya meminta saya mengawasi perusahaan kami di sana!” jawab Metha
“Perusahaan apa?” tanya Lucas lagi, ia membuka dompetnya dan memberikan kartu namanya, Metha melakukan hal yang sama
“Oh, jadi Anda anak perempuannya pak Darmawan?” tanya Lucas sambil membaca kartu nama yang diberikan Metha
“Lebih tepatnya anak tiri, ibuku dan pak Darmawan menikah ketika aku berusia 10 tahun, aku sudah dianggap anak olehnya”
“Oh begitu, tapi Anda sama cantiknya dengan mamanya Rita!” puji Lucas
“ah, terimakasih, kak Ratna lebih cantik dariku, kakakku sangat mencintainya, sayang ia tidak berumur panjang!” ujar Metha
“Hmm..begitu..”Lucas kembali meminum tehnya
“ting nong!” suara bel kembali berbunyi, Metha bernjak dari Sofa dan membuka pintu
“Radian?”
“Metha?” Radian menyapa sepupunya, Radian datang bersama Daniel.
__ADS_1
“Kamu sudah lama datang?” tanya Radian,
“Baru 5 menit yang lalu, oh iya kenalkan ini Lucas!” ujar Metha memperkenalkan Lucas
“Pak Radian! Kita bertemu lagi di sini!” Lucas menyambut Radian dengan senang
“Daniel!” ia juga menyalami Daniel
Mereka duduk di ruang tamu, cukup canggung karena tuan rumah berada di ruang tidur
“hmm Rita mana?” tanya Radian
“Dia baru selesai check up, sekarang berada di kamar bersama mamanya!” jawab Metha
“Kak Ratna di sini?” tanya Radian, ia bangkit dari sofa dan beranjak ke ruang tidur, diikuti oleh Daniel
Di ruang tidur
“Tok..tok..” Radian meniru suara ketokan pintu
Ratna menoleh
“Oh Radian!” Ratna, menghampiri dan memeluknya
“Apa kabar?” tanya ya sambil mengusap punggung Radian
“Baik kak!, kakak bagaimana? Rita sakit apa kak?” tanya Radian
“Ayo kita keluar, Rita baru saja minum obat, sudah ngantuk katanya” Ratna mengajak Radian meninggalkan ruang tidur. Daniel tidak mengikuti mereka , ia tetap berada di ruang tidur. Ia mengambil kursi di samping tempat tidur Rita, lalu ia memegang tangannya dan berkata dengan suara pelan
“Apa kabar Rita?” tanya Daniel pelan, tidak dijawab Rita karena ia sudah terlelap
Daniel menatap wajah Rita yang tertidur cukup lama, kemudian ia bermaksud kembali ke ruang tamu, tapi tangannya tertahan oleh tangan Rita. Daniel tersenyum melihat tangannya yang digenggam Rita, ia putuskan untuk duduk menunggu sejenak.
Beberapa menit kemudian, suara Andi dan Dewa memasuki ruangan, Daniel terkejut, segera ia melepaskan genggaman tangan Rita
“Daniel? Sudah lama di sini?” tanya Andi berbisik
“Baru beberapa menit!” ujarnya, ia pun pergi dari ruangan tersebut dan menepuk pundak Dewa untuk menyapanya, Dewa hanya mengangguk.
Di ruang tamu, Radian menunggu Daniel kembali
“Sudah?” tanya Radian
“Hah?”
“Kamu sudah bertemu Rita?” tanya Radian
“Dia sudah terlelap “ ujar Daniel lagi
“Hmm..baiklah, ayo kita kembali ke kantor!, Lucas senang bertemu dengan mu di sini, tapi maaf kami harus kembali ke kantor!”
“Oh, sama, aku juga!” Lucas
Mereka berpamitan kepada Ratna, lalu pergi. Kini tinggal Metha, Andi dan Dewa.
“Ramai sekali ya Ma?” tanya Andi
“Iya, mama heran, Rita pergi kemana saja selama di sini? Kenalannya banyak sudah begitu kelihatan orang kaya semua!” ujar Ratna
“Yang orang lain hanya Lucas, kak!, Radian bukan orang lain!” ujar Metha
“Itu lelaki yang bersama Radian, yang putih itu siapa?” tanya Ratna
“Oh itu Daniel, dia orang Korea, asistennya Radian!”
“Kelihatannya akrab sekali dengan Rita, sampai ia menunggui Rita sampai tertidur!” ujar Ratna
“Daniel ma?” tanya Andi
“Iya!, ada setengah jam ia di kamar Rita!” ujar Ratna
“Dia gak ngapa-ngapain kan?” tanya Andi
“Emang bisa ngapain? Tuh ada cctv, dr tadi mama memperhatikan dari sini!”
“Ooo begitu!” ujar Andi, ia melirik Dewa, yang kelihatannya gelisah
“Jadi Nak Dewa, kamu ambil jurusan apa di Bandung?” tanya Ratna
“Jurusan hukum tante, Aku ingin jadi pengacara!” jawab Dewa mantap
“Kalau kamu mau belajar di sini boleh, tinggal bilang saja sama kakeknya Rita, dia pasti mau memberikan bea siswa untuk anak sepandai kamu, bahkan setelah lulus kamu bisa bekerja di perusahaannnya!” ujar Ratna lagi
“Terimakasih tante, tapi mama gak mau saya kuliah terlalu jauh, takut saya nyasar katanya, hehehe!” jawab Dewa bercanda
“hahahaha, bisa saja kamu!” Ratna tertawa
“Oh kamu temannya Andi ya? saya Metha tantenya Andi!” Metha memperkenalkan diri
“Oh iya, Ar, sorry lupa ini tante gue yang tinggal di Swiss!” ujar Andi memperkenalkan Dewa
“Dewa tante!” Dewa menyalami Metha
“Oh iya, tante Metha fasih berbicara bahasa Indonesia?” tanya Dewa heran
“Metha lahir di Cirebon, jadi bisa berbahasa Indonesia.” Jawab Ratna
“ohh, orang lokal yang go internasional?” ujar Dewa tersenyum
__ADS_1
“Hahahaha, bener itu!!!” tawa Metha
-bersambung_