Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 194: Ke Jakarta


__ADS_3

Suatu hari, setelah aktivitas malam Rita dan Daniel.


“Ah...aku..lusa kita harus ke Jakarta ya? Aku puasa lagi dong?” keluh Daniel


Rita tidur dilengannya


“Kamu tuh, latihanlah sejak sekarang! Jangan diforsir terus! Nanti lutut dan pinggangmu cedera bagaimana?” ujar istrinya sambil memakai lagi piyamanya


“Iya sih, tapi kamu bisa gak hentikan!”


“Hentikan? Hentikan apa?”


“Hentikan menjadi imut dan seksi?”


“Ah kamu paling bisa!” Rita kembali tidur di dada suaminya


“Eh Yang!”


“Ya?”


“Tentang ke Jakarta itu, bisa gak kita datangnya pas resepsi saja? Kamu kan kesibukannya banyak.”


“Enggak, kan sudah aku geser!”


“Kenapa digeser?”


“Acara keluarga seperti ini, jadi alasan bagiku untuk libur agak lama dengan keluargaku!”


“Ooo begitu” Rita terlihat kecewa


“Kenapa? Apa kamu takut bertemu Rendy?” tanya Daniel, nadanya seperti cemburu


“Idih!!!..enak saja!” Rita menggeser tubuhnya kembali ke bantalnya sendiri


“Lalu kenapa? Ayo bilang! Atau aku serang lagi nih!” canda Daniel sambil menggelitik leher Rita


“hahaha...iya...iya...aku bilang!”


“Apa ayo!”


“Tadi pagi Kak Andi dan Rosy datang ke toko ku”


“Rosy dan Andi? “


“Iya, Kak Andi mengantarnya melihat-lihat DRitz”


“Wahh...kamu bisa sombong dong!”


“yaa..gitu deh..dikit!” Rita tidak bisa menyembunyikan wajah bangganya


“Terus?”


“Kak Andi membantuku menjaga Ranna, sedangkan Rosy ingin bicara 4 mata dengan ku”


“Apa ini tentang Rendy?” tanya Daniel, Rita mengangguk


“Apa Rosy takut Rendy belum move on dari mu?” , Rita mengangguk lagi


“Kalau begitu kenapa dia mau menikah dengannya? Itu akan menghabiskan energi, mengejar lelaki yang mencintai orang lain” ujar Daniel


“Iyaaa”


“Bilang dong sama Rosy, pernikahan itu gak bisa membuat orang lain melupakan, hanya sedikit orang yang berhasil melupakan mantan. Selebihnya hanya penantian yang berujung kesepian” ujar Daniel lagi


“Kok kamu tahu sampai begitu?” Rita heran dengan kata-kata suaminya


“Apa kamu pernah mengalaminya? Apa Saveetri?” tanya Rita curiga


“Bukan! Di kantorku lagi booming noveltoon, ceritanya tentang cinta pelarian. Sebenarnya aku gak begitu suka, tetapi aku mendengar para staf mendiskusikan selama makan siang. Jadi aku membuka novelnya dan ikutan membaca. Wahh...seru juga!!”


“Oh ya? apa judul ceritanya?”


“Penantian dan Pengabdian”


“Kok judulnya kayak orang mau daftar PNS?”


“Apa tuh PNS?”


“Kalau di Indonesia PNS itu sekarang ASN , Aparatur Sipil Negara. Kalau kita mau jadi pegawai negeri harus tes yang saingannya banyak, setelah itu menanti hasilnya setelah dapat mengabdi ke negara deh!” ujar Rita


“kamu tuh kurang romantis! Coba sekali-sekali baca novel, jangan majalah science atau bisnis melulu. Sekali-kali membaca pengalaman romantis orang lain!”


“Pentingnya apa? toh aku merasakan romantis dari suamiku sendiri. Ngapain harus ngikutin cerita romantis orang?”


“Benar juga ya? tapi ini ceritanya lain dari yang lain kok!”


“Sebentar! Apa kedua kekasih ini berpisah karena lelakinya menikah dengan gadis pilihan ortunya?”


“Iya!”


“Apa si gadis ini akhirnya bertemu dengan mantan kekasihnya di kantor?”


“Iya!”


“Apa akhirnya lelaki itu kembali menjalin kasih dengannya?”


“Aku belum membaca sampai situ, laporan yang harus aku baca banyak!”


“kalau aku sih gak bakal baca lagi ceritanya”


“Karena kamu gak suka novel?” tanya Daniel


“Bukan masalah novelnya, menurutku lelaki itu tidak pantas ditungguin. Karena dia sudah menjadi milik orang lain, menunggunya hanya membuat si perempuan menghabiskan masa mudanya dan mengabaikan banyak pilihan yang mungkin berjodoh dengannya”


“Itu berarti cinta pelarian juga bagi si perempuan dong!”


“Bukan, maksud ku, cobalah menemui orang lain, pergi sejauh mungkin, gak usah berurusan dengan mantannya.”


“Bicara memang mudah, tapi kenyataannya sulit kita pernah mengalaminya kan?” ujar Daniel


“Iya sih, aku tahu sulit..itu sebabnya aku gak suka novel!” ujar Rita menegaskan


“Kita kembali ke Rosy, jadi dia bilang apa?”


“Dia meminta ku tidak muncul di acara pernikahan mereka, atau setidaknya datang ketika resepsi saja. Aku tidak perlu mengikuti prosesi adat pernikahan mereka”


“alasannya?”


“Dia tidak mau Rendy goyah karena melihat ku!”


“Apa dia tidak memandang ku?” tanya Daniel agak tersinggung


“Aku juga bilang begitu, terus dia bilang ini bukan tentang aku, tapi tentang Rendy. Sebenarnya ia sudah jatuh hati padanya sejak Rendy tinggal di tempat kakek selama 2 bulan. Tetapi karena dia paling muda diantara sepupu perempuan ku yang lain jadi ia menunggu para sepupu mengenal Rendy dulu. Sampai pada akhirnya Rendy bertemu dengan ku, ia patah hati. Tapi kemudian harapannya tumbuh kembali setelah kita menikah dan memiliki anak.”


“Hmm...lalu?”


“Liburan kemarin, ia meminta kakek untuk membawanya liburan ke Dubai. Ia pergi bersama mama dan Robby. Ia menghubungi Robby di sana. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama, bahkan mereka berdua sudah tidur bersama di hotel Burj Dubai”


“hah? Rosy dan Rendy? Serius?” Daniel kaget


“Iya kan? Aku juga kaget mendengarnya. Selama ini aku melihat Rosy sebagai sosok pemalu dan pendiam. Dia kebalikan dari sosok Robby saudara kembarnya.”


“Iya, aku juga gak menyangka Rendy akan unboxing cucu pak Sugiyono sebelum resmi, wah berani sekali dia!” ujar Daniel masih dengan nada heran


“Kamu betul-betul takut sama kakek Sugi ya?” goda Rita


“Yeahh...aku banyak mendengar berita-berita miring tentangnya ketika beliau muda dulu. Aku saja takjub sekarang beliau berbeda”


“Tapi kamu tetap takut dengannya?”


“Itu aku lakukan untuk mengalihkan ku dari godaan pacar ku!.. Aku takut tidak bisa berhenti jika kita melakukannya sebelum menikah. Terbukti kan? Aku bersyukur kita aman-aman saja! Setidaknya anak-anak ku lahir dalam pernikahan dan bukan hasil perzinahan!”


“Begitu ya? memangnya kamu gak punya rem?”


“Punya! Itu kalau kami lelah, tapi kalau sedang stres atau tertekan , berhubungan dengan istri itu bisa pelampiasan stres yang baik!”


“Berarti aku pelampiasan stress kamu saja?” tanya Rita agak tersinggung


“Aku bilang kan kadang-kadang, selebihnya karena kamu memang sangat menggoda.” Rayu Daniel agar Rita tidak marah


“Jadi gimana Yang tentang Rosy?”


“Yaa..kita datang pas resepsi saja!, toh ini permintaan pengantin”

__ADS_1


“Kalau aku ditanyain kakek Sugi gimana?”


“Ya bilang saja, aku lagi sibuk dan D'Ritz sedang banyak pesanan”


“Iya juga ya? perlu gak aku bilang ke mama?”


“Bilang saja,aku pikir mama mu juga sedang sibuk membuka butiknya yang baru di New York”


“Oh ya? kok kamu tahu?”


“Aku membaca beritanya. Mama mu hebat, gak heran anak nya juga hebat!”


“Hehehe...terima kasih!”


“Aku sudah terlanjur mengajukan cuti satu minggu. Bagaimana kalau kita wisata ke tempat lain?”


“Tempat lain? Maksud mu wisata di Indonesia?”


“Iya! Misalnya Labuhan Bajo, atau Gunung Bromo”


“Jangan gunung deh, aku masih trauma dengan kejadian waktu itu” ujar Rita


“iya juga ya. Aku juga baru ingat, usia kandungan mu jalan 4 bulan ya. Ranna juga lagi aktif-aktifnya, aku gak bisa mengajak kalian bertualang”


“Sudah lah, di rumah saja. Kamu tahu gak, kemarin kak Andi memberi Ranna VR.”


“Virtual Reality? Ranna masih bayi, tidak baik untuk otaknya!”


“Iya, sebenarnya aku yang memintanya. Aku bilang ke Kak Andi, sering bosan kalau sendirian di apartemen. Jadi dia membawakan ku ini, sepasang lho!”


“Wah asyik nih! ada kegiatan pas weekend!” ujar Daniel


“Huaahh..tidur Yang, sudah jam 11!, jam 2 harus bangun kan?”


“Iya!” Daniel ke kamar mandi untuk mandi junub, kemudian kembali ke ranjang dan memasang alarm pukul 2. Setelah Daniel, Rita menyusul untuk mandi junub, setelah itu mereka terlelap.


Hari pernikahan Rosy dan Rendy telah tiba, Mario sangat sibuk menjadi Wedding Organizer. Ia juga meminta orang untuk merekam kegiatannya untuk memperkaya port folionya.


“O!, Besok ijab kabulnya, kok Rita dan Daniel belum datang?” tanya Andi, di sela-sela kesibukan Mario mengatur susunan acara


“Mereka bilang datang pas resepsi!” jawab Mario


“Kok? Kenapa?” tanya Andi heran


“Ritong sedang banyak pesanan roti, Daniel membantunya.”


“Tapi Daniel sudah cuti kan?”


“Sudah!, dia kan suami siaga!, dia gak mau Ritong kecapekan apalagi kandungannya sekarang sudah jalan 4 bulan”


“Kandungan? Memangnya Rita sedang hamil?” Andi kaget, karena ketika mereka bertemu ia tidak melihat tanda-tanda kehamilan di adiknya


“Iyaaa...masa Yu gak tau? Perutnya mulai kelihatan! Memangnya Yu pikir apa?”


“Yaaa...kembung saja, kan kalau ibu-ibu biasanya perutnya gendut setelah melahirkan!”


“Ahaiii....kembung! Anding...Anding...yang lebih cocok busung lapar dari pada kembung!” ledek Mario


“Apa para kakek tahu Rita sedang hamil lagi?” tanya Andi


“Gak tahu!, kayaknya enggak! Mereka diam-diam saja. Mungkin malu kali, Ranna masih bayi sudah bakal punya adik lagi”


“Kok Lo bisa tahu O?”


“Ya tahu lah, Ai kan tiap malam makan bersama mereka di apartemennya. Jadi Ai lihat perubahan badannya si Ritong, terus Daniel juga sering kelihatan mabuk kalau pagi. Ai sering ngeliat dia muntah di tempat parkir”


“Kok bisa?”


“Pernah dengar bini nya hamilton, lakinya ngidam? Nah itu mereka!”


“Ooo..begitu..aku perlu kasih tahu para kakek gak?” tanya Andi


“Jangan dulu lah! Biar mereka saja yang bilang. Kan Surprise Tuh!” ujar Mario


“Eh O!, dari kemarin Rendy gak kelihatan, dia beneran datang kan?” tanya Andi penasaran


“Iya, Ai juga penasaran, Ai denger dulu Rendy itu ditunangin sama Ritong ya?”


“Enggak!”


“Bukan begitu, Rendy dikenalkan ke Rita. Tapi menurut Rita, Rendy sendiri yang meminta supaya Rita yang menolak perjodohan mereka. Ya sudah Rita tolak..eh...dia malah berubah pikiran”


“Begitu? Dia minta Ritong menolak perjodohan? Belakangan dia bilang tertarik sama Ritong? Gimana otaknya tu orang?”


“Nahh...iya kan? Gue saja yang cowok sebel sama lagaknya. Tapi dia pernah nolong Rita sih, jadi gue gak gitu benci lagi sama dia”


“Robby tahu gak si Rendy orangnya model kayak gitu?”


“Gak tahu deh, kalau tahu wah bisa habis itu si Rendy”


“Jangan dikasih tahu! Toh belum tentu Rendy masih suka sama Ritong!”


“Lo sendiri gimana O? Masih suka sama Rita?”


“hmm..gue sama Ritong? Rasa sayang gue sudah beda sih, apalagi kalian termasuk Daniel sudah menganggap gue saudara kalian. Jadi gue menganggap Ritong itu ya seperti adik. Adik yang gahar! Hahaha!” Mario geli tertawa mengingat Rita


“Hatchi..hatchi...hatchi!!” Rita bersin-bersin


“Kamu lagi pilek?” tanya Daniel di sela-sela mencetak roti pesanan


“Enggak! Ada yang ngomongin aku nih!” Rita membersihkan hidungnya


Pekerjaan mereka selesai pukul 2 siang, Daniel membantu mempacking pesanan roti dan memasukkannya ke mobil bagian pengiriman. Setelah itu ia bersama Rita dan Ranna berjalan kembali ke apartemen mereka. Tanpa mereka sadari, Rendy memperhatikan mereka bertiga dari kejauhan.


“Jadi pak, kita mengikuti mereka?” tanya supir sewaan


“Gak usah! Kembali ke Changi saja!, besok aku menikah!” ujar Rendy.


Mobil melaju meninggalkan DRitz, Rendy melihat Rita, Daniel dan Anak mereka masuk ke sebuah toko di daerah situ. Ia menetapkan hatinya untuk menikah dengan Rosy. Hatinya masih sakit karena menyesal, tak terasa air matanya menetes . Supir melihatnya dari kaca spion


“Anda tidak apa-apa Pak?” tanya nya cemas, Rendy diam saja. Lama-lama tangisannya semakin kencang. Pak Supir kebingungan, tetapi ia tetap melajukan kendaraannya menuju bandara.


Sesampainya di Changi, Rendy memberikan tips untuk supir tersebut.


“Saya harap Anda baik-baik saja Pak!” ujar supir tersebut, ia melihat wajah Rendy yang terlihat lega


“Terima kasih!” Rendy mengambil kopernya lalu masuk ke lobby bandara. Sambil menunggu pesawat ke Jakarta, ia duduk di ruang tunggu dambil melihat-lihat ponselnya. Ia menghapus semua foto-foto Rita serta video yang ia ambil sejak lama. Bahkan ketika resepsi Rita, ia menghapus semuanya bahkan nomor kontaknya.


“Kali ini aku tidak akan mengharapkan kamu lagi!, Selamat Tinggal untuk selamanya!” Rendy bergumam dan masuk ke pesawat untuk keberangkatan ke Jakarta


Rita dan Daniel sengaja mengambil penerbangan malam, mereka berangkat pukul 7 malam dan tiba di Jakarta pukul 9 malam. Mereka telah dijemput oleh Ridwan, kepala ART kelg. Darmawan


“Halo pak Ridwan!” sapa Rita ramah


“Ah Neng Rita apa bu Rita ya?” Ridwan bingung,


“Apapun boleh Pak!” jawab Rita tersenyum


Ridwan mengambil koper Rita dan Daniel, sementara Daniel menggendong Ranna yang terlelap


“Malam, pak Daniel!” sapa Ridwan ramah


“Selamat Malam! Apa kabar pak Ridwan!” Daniel menyalami Ridwan, ia banyak berhutang budi padanya


“Alhamdulillah baik Pak!..ayo Pak! Bu! Kita sudah di tunggu pak Darmawan!”


“Kakek sudah di Jakarta pak? Sejak kapan?” tanya Rita


“Sudah hampir 5 bulan Neng!, beliau bilang sedang memantau salah satu cabang perusahaannya di Singapura.”


“Ooo,...kok gak tinggal di Singapura saja?”


“Beliau gak mau! Beliau bilang lebih senang bolak-balik dengan jet pribadinya, Cuma sebentar Jakarta-Singapura”


“oo begitu”


“Si eneng ini namanya siapa?” tanya Ridwan memegang tangan kecil Ranna


“Ini Ranna Pak, Ranna Khadijah Kang, usianya 5 bulan!” jawab Rita tersenyum,


“Lagi isi lagi Neng?” tanya Ridwan. Ia melihat Rita yang lebih berisi


“Kelihatan ya pak?” tanya Rita

__ADS_1


“Iya! Kayaknya anaknya bakal lelaki deh, soalnya bentuk perut neng Rita membulat seperti telur. Dulu istri saya hamil anak kedua begitu”


“Oh iya, kabar anak dan mantan istri pak Ridwan gimana?”


“Sekarang sudah jadi istri lagi Neng!” jawab Ridwan malu-malu


“Alhamdulillah!!!” ujar Rita lega, ia menerjemahkan ke Daniel


“Selamat ya Pak!”


“Terima kasih ya Pak, Neng!..sekarang istri saya lagi hamil anak ketiga, usia kandungannya 8 bulan!”


“Wow!..Selamat lagi deh!” ujar Rita dan Daniel


“Boleh tahu pak? Kok bisa rujuk lagi?” tanya Rita penasaran


“Yaa sebenarnya, saya terinspirasi sama hubungan kalian berdua!”


“Kami?”


“Iya!!..Saya melihat pak Daniel memperjuangkan neng Rita, dan Neng Rita juga memperjuangkan Pak Daniel. Saya pikir, saya gak pernah memperjuangkan istri saya. Jadi selama beberapa bulan saya terus mendekati mantan saya. Memberinya perhatian, yaa..seperti zaman kami pacaran dulu. Lama-lama istri saya luruh, akhirnya kami rujuk. Kami pindah ke rumah baru yang lebih besar, itu lho rumah yang dulu bu Rita sewa!”


“Oh ya? wah rumah penuh kenangan itu!” ujar Rita tersenyum


Mereka tiba di kediaman Darmawan, kakek menyambut mereka di pintu masuk


“Rita! Daniel! Ranna!” ia langsung mengambil Ranna dari gendongan Daniel, Ranna sudah bangun dari tidurnya


“Apa kabar Kek?” Rita mencium dan memeluk kakeknya, Daniel juga mengikutinya


“Alhamdulillah baik!!, kalian sudah makan?”


“Belum kek!”


“Ah kebetulan!, langsung ke ruang makan yuk!..Ranna! yuk main sama cicit!” Darmawan menggendong Ranna dengan riang. Daniel merangkul Rita menuju ruang makan.


“Wow! Tempat ini diperluas?” tanya Rita


“Ini kerjaannya si O! Dia bilang ruang makan di sini kelihatan lesu, jadi dia rombak kesana-kemari eh jadi begini!”


“Lebih luas dan bagus ya?” ujar Rita meminta persetujuan suaminya


“Oh iya, kamar kalian di sini juga sudah direnovasi. Bagus deh, itu idenya si O! Dia bilang, kamar kalian akan seperti rumah dalam rumah!”


“Rumah dalam rumah?” Rita dan Daniel bingung


“Nanti lah kalian lihat sendiri!, barang-barang kalian sudah dibawa ke kamar kalian oleh Ridwan, sekarang makan dulu!”


Daniel dan Rita menyantap makanan yang disuguhkan, sementara Darmawan bermain dengan Ranna


“Ranna sudah 5 bulan kan Rit?” tanya Darmawan


“Iya Kek!”


“Sudah Mpasi kan?”


“Sudah Kek!, tadi dia sudah makan di mobil. Makannya banyak! Capek habis nyetir pesawat kayaknya!” canda Rita


“Hahaha...kamu ada-ada saja! Oh iya, adiknya Ranna, sudah berapa bulan?” tanya Darmawan


“Hah? Kakek tahu?”


“Iya dong, baru lihat kamu saja sudah kelihatan kok kamu isi lagi”


Daniel wajahnya memerah


“sudah 4 bulan Kek!” jawab Daniel


“Beda sebulan ya sama Ranna”


“Empat bulan kurang Kek, ini pembulatan saja!” jawab Rita


“Jadi kira-kira berapa minggu ?”


“Sekitar 13 minggu!”


“Sudah tahu jenis kelamin nya?”


“Kayaknya sih lelaki kek!” jawab Daniel


“Kok kayaknya, memangnya gak di USG?”


“Di USG kek, tetapi anak ini seperti Ranna dulu, ia ngumpetin di balik pahanya!” jawab Daniel


“Ooo begitu, jadi kamu tahu cowok dari mana?”


“Rita kelihatan lebih banyak makan, lalu malas berdandan.”


“Oh ya? waktu Ranna dulu gimana?” tanya Darmawan lagi


“Waktu Ranna dulu, dia senang berdandan, tapi memang aura anak perempuan terlihat!” ujar Daniel


“Oo begitu,..bakal repot ya kalian. Apa butuh asisten?”


“Nanti lah kek!, kami masih memikirkan”


“Lama amat mikirnya!, harus dipersiapkan dari sekarang dong!” ujar Kakek lagi


Daniel mengangguk lalu melahap makan malamnya.


Makan malam selesai, Rita memberikan ASI melalui botol kepada Ranna yang mulai mengantuk lagi.


“Kalian pasti sangat lelah, kalian istirahat lah di kamar!” ujar Kakek


“Baik Kek! Selamat malam!” Ujar Rita dan Daniel bersamaan.


Daniel menggendong Ranna yang mulai berat, sedangkan Rita membawa perlengkapannya. Mereka menaiki lift menuju kamar mereka.


Ting! Pintu lift terbuka, mereka memasuki kamar mereka yang megah dan mewah


“Masya Allah!!! Yang!!! Ini mah bukan kamar! Ini rumah!” teriak Rita kegirangan. Ia berlari, berkeliling. Kamarnya yang dulu sudah sangat luas, kamar barunya lebih luas lagi, bahkan lebih luas dari apartemen mereka di Singapura.


“Yang...ada kamar Ranna di samping kamar kita!..dapurnya...wow!!!...teras!!..wah...kita pindah ke sini saja!” ujar Rita kegirangan. Daniel menggendong Ranna sambil berkeliling kamar mereka. Ruang TV, ruang kerja, ruang cuci,dapur..semua yang ada di rumah ada dalam kamar itu. Ia juga terkagum-kagum


“Benar juga ya, rumah dalam rumah!”


“Yang! Ini!” Rita membuka pintu keluar


“Kamu bisa keluar lewat sini, langsung ke garasi mobil. Kamu gak perlu lagi lewat pintu depan!”


Daniel keluar kamar itu dan melihatnya


“Masya Allah!...Si O benar-benar kreatif!” kagumnya


“Iya!...wah..aku rekamin deh, untuk nambahin port folio dia!” ujar Rita semangat


“Besok saja yang! Kamu lagi hamil malah lari-lari!” ujar Daniel khawatir melihat istrinya yang terlampau lincah.


“iya!”


Daniel mengunci pintu kamar mereka.


“Kamar mandinya jauh ya?” ujarnya


“Itu kamar mandi tamu yang!, kamar mandi kita di sini!” Rita teriak dari kamar mereka


“Hush! Sudah malam nanti mengganggu kakek!” larang Daniel


Daniel kaget ketika di kamar Rita mengenakan kaca mata infra red seperti robot, ia berkeliling mengenakannya


“kamu kenapa sih?” tanyanya geli melihat tingkah aneh istrinya


“Ini penemuan terbaru kak Andi, dia bilang bisa mendeteksi apakah di suatu ruangan itu ada alat penyadap atau tidak. Atau ruangan ini kedap suara atau tidak” ujarnya sambil berkeliling


“ooo...Andi memberikan kamu barang-barang aneh lagi” Daniel mengangguk, ia tidur-tiduran di ranjang baru mereka.


“Enak banget nih ranjangnya!”


“Iya kan? Ini ranjang anti sakit punggung direkomendasikan oleh para chiropractor”


“Andi juga?”


“Bukan, ini Rita!. Aku yang memilih. Hehehe..kalau soal kesehatan aku yang tahu!” ujarnya tersenyum

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2