Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
chapter 177: Tawaran Syuting TV


__ADS_3

Di usia kehamilan 6 bulan, Rita mendapat tawaran untuk mengisi acara memasak di salah satu TV cable. Rita menunjukkan kontrak kerja yang akan ia tanda tangani pada Daniel, suaminya


“Yang, kamu lagi sibuk?” Rita menghampiri Daniel yang sedang membuat sketsa perhiasan di meja kerjanya


“Sudah selesai, ada apa?” tanyanya, ia menarik Rita untuk mendekatinya


“Bisa tolong aku untuk mempelajari kontrak kerja ini?” ia memberikan beberapa lembar kertas yang sudah diprint rapi. Daniel membaca judul kontrak tersebut sekilas


“Acara memasak di TV Cook Chanel, kamu yakin?” tanyanya


“Aku pengen coba sih, kontrak awalnya untuk 4 episode, waktu syutingnya gak setiap hari dan gak sampai malam”


“Kamu bilang tentang kondisimu yang sedang hamil?”


“Iya sudah, mereka bilang tak masalah. Toh ini baru episode pilot. Mereka akan menunggu respon pemirsa, apakah mereka menyukainya apa tidak”


“Kenapa tiba-tiba kamu tertarik? Ini masuk TV lho!”


“Iya, tapi kan cuma cable TV, bukan TV nasional. Jadi aku pikir pemirsanya paling hanya yang berlangganan saja”


“Hmm...kemari Yang, duduk di sini!” Daniel memberikan kursi lain kepada istrinya. Kini mereka saling berhadapan


“Katakan padaku, alasan sebenarnya kamu mau mengisi acara TV ini” Daniel menatap mata istrinya tajam. Rita melihat ke arah lain untuk menutupi kegugupannya. Ia selalu merasa gugup jika bertatapan mata langsung dengan suaminya


“hmm...sebenarnya, aku berniat menyewa tempat di sebelah tokoku. Waktu O aku ajak kemari, dia bilang tokoku ini terlalu tanggung dan terlampau sempit. Ia melihat beberapa anak muda berdiri di depan tokoku sambil memakan roti dan minum dari tokoku. Ia mengusulkan, kenapa gak diubah menjadi konsep cafe saja tapi open kitchen. Aku pikir itu ide yang bagus”


“hmm...lalu?” Daniel mengangguk


“Kemudian aku menanyakan harga sewa toko sebelah, dan biaya untuk merenovasinya. Biayanya lumayan besar. Sebenarnya bisa saja aku memakai tabungan darimu, tapi kemudian aku mendapatkan tawaran ini. Kalau dihitung bayarannya lumayan untuk menambah renovasi toko”


“Hmm..kalau  aku berinvestasi gimana?  biar aku yang bayarin sewa toko sebelah dan renovasinya” ujar Daniel


“Gak mau ah!”


“Kenapa? Aku kan suamimu, jauh lebih aman berbisnis dengan orang terdekat kan?”


“Kamu gak pernah membaca tentang suami-istri yang bercerai ketika mereka melakukan bisnis bersama? Aku gak mau begitu. Bagiku, toko roti ini proyek pribadiku, siapapun, baik kamu, mama, kakek, atau kak Andi sekalipun tidak boleh turut campur, kecuali aku minta bantuannya”


“Itu sebabnya kamu hanya memberikan 15% saham toko?” tanya Daniel lagi, Rita mengangguk.


“Apa kamu gak akan kelelahan?” tanya Daniel khawatir


“Aku sudah menjelaskan kondisiku pada Vicky, dia produser acara ini, dia juga seorang ibu. Dia bilang, syuting tidak akan terlalu padat. Karena kita hanya membuat rekaman saja tidak live, jadi tidak akan berat.”


“begitu ya? baiklah. Tapi janji ya, kalau kalau kelelahan. Lebih baik distop syutingnya!”


“Aku janji!” Rita menyalami suaminya sambil tertawa senang


“Baiklah. Aku pelajari kontrak ini dulu. Kapan kamu harus menyerahkannya?”


“Paling lambat seminggu paling cepat tiga hari lagi aku harus mengabari Vicky”


“Baiklah, oh ya, bagaimana kamu mengenal Vicky ?”


“Vicky ini salah satu orang tua murid di sekolah anaknya Eddy yang bulan lalu aku datangi. Ia mencoba sample roti yang aku berikan. Kemudian beberapakali dia datang ke toko dan mengajakku mengobrol dan membicarakan tentang program memasak ini”


“Benar kan? Ada saja jalan untuk berpromosi, karena kamu juga sangat bermurah hati dengan memberikan sample, sehingga kebaikan kembali kepadamu” ujar Daniel tersenyum


“Iya, aku juga gak menyangka. Aku jadi deg-deg an mendengar tawarannya”


“hahaha..aku juga jadi ikutan deg-degan. Gak terbayang istriku akan muncul di TV” ujar Daniel bangga


“Aku senang kamu gak keberatan, tadinya aku pikir kamu akan sangat keberatan”


“Kan, aku sudah janji sebelum kita menikah dulu, gak akan menghalangi cita-citamu?”


“Ah iya juga! Kamu baik sekali, mudah-mudahan seterusnya ya ?” Kali ini Rita yang mencium kening suaminya.


“Aku pelajari kontrak ini dulu ya?”  


“Iya, terima kasih sayang!”


Dua hari kemudian, saat sarapan pagi


“Yang, aku sudah selesai membaca kontraknya, seperti yang mereka bilang. Kontrak ini untuk 4 episode, tidak ada tambahan episode lain kecuali ada perpanjangan kontrak. Waktu syuting tidak di hari libur, tidak sampai malam dan tidak setiap hari. Selebihnya tentang harga per-episode. “


“Menurutmu aku bisa minta naik honor?”


“Jangan dulu, coba dulu 4 episode ini. Kalau pemirsa suka, kamu bisa menentukan harga sesukamu!”


“Benarkah?”


“Tentu!, oh iya, O sudah mulai mengerjakan proyek di apartemen, sepertinya dia sudah mulai terbiasa” ujar Daniel sambil menyantap nasi goreng


“Apa dia masih menggunakan penerjemah?”


“Iya masih!, dia sempat minta ijin kepadaku agar kamu yang menjadi penerjemahnya”


“Lalu kamu menolaknya?”


“Tentu saja!, Aku bilang Rita tidak boleh kelelahan, aku khawatir dengan kehamilannya, lagi pula aku tidak suka kamu berlama-lama di divisi property”


“Kenapa?”


“Yaaaaa,..aku mendengar beberapa rumor buruk tentang perlakuan Martin pada staf wanitanya”


“Oya? Pelecehan begitu?”


“Entahlah, hanya rumor sih. Aku hanya mendengar sedikit dari beberapa orang selama aku makan di kantin”


“Kamu makan di kantin?”


“Iya, aku makan siang di kantin!”


“Aduuhhh...aku lupa membuatkan mu bekal makan siang!” Rita panik, ia bergegas membuka lemari pendingin untuk membuat bekal


“Gak usah repot-repot Yang!, maaf bukan aku meragukan masakanmu!, aku penggemar masakanmu, sungguh!. Hanya saja dengan aku makan siang di kantin, aku bisa mendekatkan diri dengan stafku. Kalau bawa bekal dari rumah, aku pasti makan sendirian di ruangan.” Daniel memeluk istrinya dari belakang.


“Begitu ya? baiklah!, Aku takut kamu merasa aku abaikan” Rita membalikkan tubuhnya agar berhadapan dengan suaminya


“Enggak kok!,..kalau diabaikan pasti aku akan protes! Iya kan Nak? Papi akan protes ke mami!” Daniel menurunkan tubuhnya dan memeluk perut Rita yang mulai kelihatan membuncit


“Hahaha...papimu ada-ada saja ya Nak!” Rita mengelus rambut suaminya. Daniel bangkit kemudian ke westafel untuk menyikat giginya, setelah itu ia mengambil jas dan tasnya kemudian memeluk dan mencium istrinya


“Aku berangkat ya?”, Rita mengantarkan sampai pintu apartemen


“Hati-hati ya?”.


Setelah merapikan bekas sarapan mereka, ia pun bersiap untuk ke toko. Ia sudah menghubungi produser acara tersebut.


Pukul 10 pagi, produser acara yang bernama Vicky dan asistennya, Tony datang ke D’Ritz


“Silakan duduk!” Rita mempersilakan mereka duduk, dan memberikan isyarat kepada karyawannya untuk menyediakan kopi dan roti bagi tamu mereka

__ADS_1


“Hmm...kopinya nikmat sekali, jujur saja. Aku langsung mendapatkan inspirasi tentang acara ini setelah minum kopi di sini” ujar Vicky


“Benarkah? Terima kasih.” Rita tersenyum bangga


“Jadi Anda sudah mempelajari kontrak itu?” tanya Vicky


“Sudah, dan saya dengan senang hati menerima tawaran Anda!”


“Bagus sekali!, Tony ambilkan kontrak yang tadi?” pinta Vicky. Tony segera membuka tasnya lalu mengeluarkan kontrak asli


“Sebentar ya?” Rita membandingkan kontrak yang dibawa Vicky dan kontrak yang diberikan padanya sebelumnya. Setiap halaman yang sudah ia cek, ia beri paraf.


“Baiklah, jadi saya tinggal tanda tangan di sini ya?”


“Iya!, besok kita mulai syuting. Pukul 9 pagi akan datang supir untuk menjemputmu ke lokasi syuting, jadi tolong bersiap-siap sebelum jam tersebut ya?” ujar Vicky


“Baiklah!” Rita tersenyum


“Aku mau membeli beberapa roti untuk di kantor” ujar Vicky


“Ah!! Aku sudah menyiapkan untuk kalian!” Rita memberikan 2 kardus berisi roti kepada Vicky dan Tony


“Wahh...terima kasih banyak! Seperti namanya Anda betul-betul Darmawan!”


“Ah iya, aku lupa. Bisakah aku menggunakan nama panggung? Dan bukan nama sebenarnya?”


“Oh, tentu saja, kamu mau di sebut apa?”


“Rita Kang!, Kang itu nama belakang suamiku”


“Ohh...begitu..baiklah Rita Kang! Sampai jumpa besok!” Vicky dan Tony meninggalkan toko


Malam harinya, setelah sholat Isya Daniel masih sibuk di ruang kerjanya


“Yang!” panggil Rita


“Ya?”


“Kamu masih lama kah?”


“Kenapa?” Daniel masih mengetik di laptopnya


“Aku tidur duluan ya? besok hari pertama syuting!”


“Baiklah!” Daniel melanjutkan pekerjaannya, sementara Rita langsung terlelap.


Keesokan paginya, Rita telah rapi berpakaian. Ia juga sarapan bersama suaminya.


“Jam berapa kamu dijemput?”


“Jam 9”


“Masih satu jam lagi, kamu masih bisa beristirahat”


“Gak apa-apa aku sudah cukup beristirahat, tadi malam aku sudah tidur pukul 7. Jadi aku sudah cukup tidur”


“Kamu kelihatan bersemangat sekali ya?” Daniel menyeruput kopinya


“Iya!..aku gak sabar. Sebenarnya aku agak khawatir tapi aku ingat pesanmu, jangan terlalu overthinking. Jadi aku santuy saja!”


“Iya betul!, oh ya kapan jadwal ke dokter lagi?”


“Aku sudah membuat janji hari Sabtu ini”


“Iya ya? tapi kamu juga harus siap-siap begadang. Katanya bayi baru lahir biasanya tidurnya belum teratur” ujar Rita sambil mengelus perutnya


“tapi kita ikutkan ke latihan tidur”


“Maksudnya?”


“Anak itu harus dibiasakan dengan jam-jam tidur tertentu, selain ia akan lebih sehat, orang tuanya juga sehat. Nanti deh, aku tunjukkan videonya”


“Wahh...papi Daniel, kamu benar-benar sudah siap ya?”


“Belum!!..aku baru mulai!..hehehe...kalau proyekmu itu tokomu, proyekku ya anak ini!”


“Waah...ibunya gimana?” tanya Rita cemburu


“Kalau aku beda dong, maminya aku ikutkan!” ujar Daniel tersenyum


“Yang, bulan lalu waktu aku USG  aku penasaran dengan jenis kelamin bayi ini, eh ternyata ketutupan paha si bayi. Jadi gak ketahuan deh”


“Hahaha...mungkin anak ini ingin bilang Surprise!!!!”


“Kamu inginnya anak lelaki atau anak perempuan?” tanya Rita


“Lelaki gak masalah, perempuan juga boleh! yang penting anak ini sehat, ibunya juga sehat. Mungkin setelah beberapa bulan kita bisa buat lagi”


“Hah? Aku hamil lagi?”


“Biar anaknya seperti kembar! Kan lucu!”


“Untukmu lucu!, buat aku?”


“Lho katanya kamu menikmati masa hamil ? jadi gak apa-apa dong kalau hamil terus”


“Memang, tapi awal-awal kehamilan itu yang menyiksa. Kamu ingatkan 2 bulan pertama aku muntah-muntah terus. Kecuali kalau kamu menggantikan aku nyidam”


“Memangnya bisa?”


“Tapi ada kok, kasus. Istrinya hamil, eh suaminya yang muntah-muntah alias nyidam. Katanya suaminya sayang banget itu sama istrinya”


“Jadi kalau suami gak nyidam artinya gak sayang sama istrinya?” ujar Daniel agak tersinggung


“hehehe...siapa tahu kan?” goda Rita


“Aku...” tiba-tiba wajah Daniel menjadi serius


“Yang! Jangan terlampau serius, aku bercanda kok!” ujar Rita, ia agak takut melihat wajah suaminya yang berubah serius


“Aku takut....kalau kelahiran anak ini aku bisa kehilanganmu. Atau aku harus memilih anak itu atau istriku...wah..jangan sampai deh!”  Daniel kembali menyeruput kopinya


“Kok jadi kamu sekarang yang overthinking? Semoga kelahirannya lancar-lancar saja, akupun rajin yoga dan berdiet. Bagaimanapun juga, kalau mamanya sehat bayi ini juga sehat kan?”,Daniel tersenyum melihat wajah istrinya yang semakin glow up dalam masa kehamilannya ini


“Kayaknya anaknya perempuan deh” ujarnya


“Tahu dari mana?” tanya Rita heran


“Soalnya mamanya kelihatan lebih cantik dari biasanya, kata orang biasanya anaknya perempuan!” ujar Daniel,


“Ah kamu bisa saja memuji!” Rita tersenyum senang


Daniel mengambil jas serta tasnya kemudian mencium kening istrinya

__ADS_1


“Hati-hati ya!” ujar Rita tersenyum


“Aku berangkat!”


Pukul 9 pagi, Rita dijemput oleh supir dan membawanya ke suatu tempat. Ia didandani, ia membaca skript hari ini“


“Rita, kenalkan ini Zanet, ia yang akan menjadi chef utama!” ujar Vicky memperkenalkan


 “Senang berkenalan dengan Anda!” ujar Rita, mereka bersalaman. Rita mengenali Zaneta sebagai salah satu koki yang menjadi juara 2 kejuaraan memasak yang cukup terkenal di TV.


“Aku sudah mencoba roti dari tokomu, kemarin Vicky membawa dan memberikan ke aku, enak dan lembut. Aku gak menyangka kokinya masih sangat muda”


“Terima kasih pujiannya, saya juga mengagumi masakanmu, beberapakali saya membuatnya di rumah dan suamiku sangat menyukainya”


“hah? Kamu sudah menikah?” Zaneta terkejut


“Iya sudah, kami sedang menunggu kelahiran si kecil” Rita menunjukkan perutnya


“wahh...aku takjub lho zaman now masih ada orang yang menikah muda” ujar Zaneta


“Yahh..begitulah!” Jawab Rita malu.


“Baiklah kita mulai syutingnya!” Vicky memberikan arahan. Zaneta dibantu Rita membuat masakan yang dengan resep yang paling mudah. Syuting berjalan lancar, pukul tiga sore syuting telah selesai. Rita bersiap pulang


“Kerja yang bagus Rita! nanti aku hubungi untuk syuting berikutnya!” vicky menepuk punggungnya


“Aku pulang duluan teman-teman!” Zaneta pamit , ia kelihatan sangat senang syuting telah berakhir.


Supir mengantar kembali Rita pulang ke apartemen, Rita minta diturunkan di tokonya.


“Terima kasih !” ujarnya pada supir yang mengantarnya, kemudian ia masuk ke tokonya


“Halooo...sapanya kepada para pegawainya, pegawainya ada 5 orang, 3 lelaki dan 2 perempuan. Ismael menjadi supervisornya


“Sore bu!” sapa Ismael, ia membawa hasil penjual siang tadi.


“Hmm...apa adonannya masih banyak?” tanya Rita


“Tinggal sedikit bu” jawab Ismael


“Apa bisa habis pukul 8 malam ini?” tanya Rita


“Sepertinya akan habis sebelum pukul 8” ujar Ismael


“Apa pesanan masih banyak?” tanya Rita


“Yang pesan online melalui aplikasi masih banyak bu, tapi seperti ibu lihat, stok di toko ini mulai habis, sementara tamu terus berdatangan”


“Hmm...baiklah!” Rita masuk ke dapur, ia menimbang beberapa bahan, kemudian memasukkannya ke dalam mesin pengaduk. Setelah beberapa menit, adonan roti telah jadi. Ia menaruhnya di ruangan lembab agar mengembang.


“Aku sholat dulu” ia meninggalkan dapur dan pergi ke ruangannya untuk sholat. Beberapa menit kemudian ia memeriksa penjualan siang ini.


“tok-tok-tok” suara pintu ruangannya diketuk


“Ya?”


“Bu, adonannya sudah habis.” Ujar Ismael


“Stock di toko juga sudah kosong?”


“Sudah bu”


“Kalau begitu kita tutup saja!”


“Tapi kasihan beberapa orang yang sudah antri sejak tadi”


“Berapa orang lagi?”


“sekitar 10 orang!”


“wah masih banyak!, yang orderan online sudah semua?”


“sudah bu!, karena kita memenuhi orderan online, yang offline justru tidak terpenuhi” ujar Ismael


“Kamu bisa bilang kepada yang mengantri untuk menunggu? Dan catat pesanan mereka. Oh iya beri tanda tutup di depan toko supaya tidak ada lagi yang datang memesan!”


“Baiklah bu!”


Dengan sigap Rita, kembali ke dapur dan mengecek adonan yang tadi ia buat,


“Sudah cukup mengembang, baiklah!” ia mulai memindahkan adonan roti tersebut dan memberikannya kepada pegawainya untuk dicetak. Kira-kira 40 menit kemudian, roti telah selesai dibuat, masing-masing pelanggan mendapatkan pesanannya.


“Eh roti ini jauh lebih enak dari yang biasanya!” ujar salah satu pelanggan yang langsung memakannya sambil keluar dari toko.


Rita mendengarnya, ia mencoba roti yang baru saja matang


“hmm...benar, lebih enak dari biasanya” Ia sengaja membuatnya berlebih dari pesanan, sebagian ia bagikan ke pegawainya, sebagian ia bawa pulang.


Pukul 6 sore ia tiba di apartemen, ia melihat suaminya sudah pergi ke mesjid untuk sholat maghrib.


Setelah bebersih, ia menyiapkan makan malam. Alat-alat masak super canggih di rumahnya membantunya memasak dengan cepat. Setelah semua bahan ia masukan, ia meninggalkannya untuk sholat maghrib.  Makan malam sudah siap tersedia ketika Daniel tiba dari mesjid setelah sholat Isya.


“Kamu pulang jam berapa hari ini?” tanya Rita


“Pukul 5, aku melewati tokomu tadinya aku mau mengajakmu makan di luar, tapi aku lihat di toko masih banyak pelanggan. Jadi aku urungkan dan langsung pulang”


“Tadi aku selesai syuting pukul 3, pulangnya aku ke toko. Wah pesanan kami makin banyak. Eh yang aku membawa roti yang baru saja aku buat , cobain deh!” ia memberikan rotinya , setelah mereka makan malam.


“Eh enak Lho!”


“Lebih enak dari biasanya?” tanya Rita


“Iya, yang biasanya enak, tapi ini lebih enak”


“Padahal sudah gak panas ya?”


“Iya, aku mau makan lagi, masih ada?”


“Ini!, tadi tersisa 2”


“Aku makan ya?” Daniel membuka bungkusannya dan memakannya dengan lahap, Rita tersenyum memperhatikan suaminya makan. Ia berpikir penyebab rotinya lebih enak.


Pukul 8 malam, Daniel baru saja keluar untuk membuang sampah. Ia hendak mengunci pintu apartemen


“Yang, apa kamu akan ke toko lagi malam ini?” tanya Daniel


“Enggak, aku pikir, besok pagi saja aku membuat adonannya. Mungkin karena itu rotinya sangat enak”


“Ya..ya..bisa jadi..kamu sudah lelah bukan?”


“Iya, aku bakal langsung tidur begitu kena bantal” ujar Rita, ia langsung naik ke ranjangnya.


Daniel memeriksa semua pintu dan jendela di apartemen mereka, setelah yakin aman. Ia pun naik ke ranjangnya dan ikut terlelap dengan memeluk istrinya.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2