Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 95: Kejadian di RS


__ADS_3

“Pak Joey, Anda tidak apa-apa?” tegur Daniel. Joey terbaring di atas ranjang UGD rumah sakit


“Daniel? ini di mana?” tanya Joey kebingungan berada di ruangan serba putih dan orang-orang berpakaian biru muda tampak lalu lalang


“Anda Kecelakaan, mobil Anda menabrak pembatas jalan hingga remuk!”


“Hah? “ Joey tampak bingung , ia mencoba bangkit dari ranjang, tapi luka benturan di kepalanya memaksanya untuk tetap berbaring


“Sebaiknya Anda jangan bangun dulu pak!, tunggu hasil rongent!” ujar dokter jaga, setelah ia menyuntikan obat pengurang sakit ke kantong infus Joey, ia pergi mengunjungi pasien lain


“Daniel, bagaimana dengan Carol istriku? Dia duduk di sampingku!”


“Oh, saya akan cari tahu pak, nanti saya kembali lagi!” Daniel meninggalkan ruang UGD, diikuti oleh Rita. Di ruang tunggu rumah sakit, Daniel bertemu dengan polantas yang tadi menangani kecelakaan Joey


“Selamat Siang pak!, Saya kenalan korban kecelakaan di km 60 tadi”


“Oh, Anda kenalan saudara Joey Armani?”


“Betul pak!, saya Daniel. Tadi pak Joey baru saja sadar dan ia menanyakan keadaan istrinya yang duduk di sampingnya”


“Silakan ikuti saya!” Polantas tadi mengajak Daniel ke sebuah ruangan pendingin,di sana ia bercakap-cakap dengan petugas dan mengantarnya ke ruangan lain. Ruangan lain itu terletak di sebelahnya, ruangan tampak sepi dan dingin, di situ terdapat tempat tidur, 3 di antaranya telah di tempati.


“Tunggu di sini!” ujar petugas itu, ia mendorong 1 tempat tidur yang diatasnya terdapat sesosok jenazah, ia membawanya kehadapan polantas, Daniel dan Rita


“Namanya Coroline Armani, beliau meninggal di tempat” ujar petugas tersebut


“Apakah anda mengenalinya?” tanya polantas tersebut kepada Daniel. Ia memperhatikan wajah jasad tersebut dengan seksama. Separuh wajahnya tertutup darah, sehingga Daniel agak ragu


“Boleh saya foto pak? Saya pikir hanya suaminya yang bisa memastikannya.”


“Anda siapanya?” tanya Polantas itu


“Saya kenalannya pak Joey, kebetulan tadi saya lewat di tempat kejadian. Saya mengenali mobil beliau.”


“Ooo, begitu, baiklah. Foto wajahnya saja, jangan berlebihan. Kita harus menghormati privasi orang yang sudah wafat!” ujar polantas tadi. Daniel mengambil ponselnya dan mengambil foto bagian wajah Caroline


“Sudah pak!” ujarnya kepada polantas tadi. Ketiganya meninggalkan ruangan itu. Daniel dan Rita kembali ke UGD tempat Joey di rawat. Di ruang UGD Joey masih terbaring lemas, kali ini kepalanya sudah dibalut perban. Di sampingnya, tampak seorang perempuan muda, kelihatannya ia sangat cemas


“Selamat Sore!” sapa Daniel


“Selamat Sore!, Maaf Anda siapa ya?” tanya Wanita tersebut


“Saya Daniel temannya pak Joey, tadi saya yang mengenali mobil beliau di jalan!”


“Oooh iya, terima kasih banyak, Saya Silvia. Saya temannya Joey, tadi pihak rumah sakit menghubungi saya, nomor saya ada di nomor darurat Joey”


“Oo begitu, baiklah, karena sudah ada keluarganya di sini, saya bisa tenang!” ujar Daniel, ia berniat segera pergi dari tempat itu


“Daniel!” panggil Joey yang baru tersadar


“Iya Pak?”


“Bagaimana Caroline? “ tanya Joey


Daniel menghampiri Joey dan membuka foto di ponselnya. Tiba-tiba Joey berteriak


“Ahhhh!!! Carol!!! “ tangisnya pilu, Rita turut menitikkan air mata melihat hal itu


“Menurut dokter, ibu Carol tidak selamat, karena benturan yang sangat keras!”


“Caroll!!!” Joey terus menangis, Silvia mendekatinya dan memeluknya


Daniel dan Rita meninggalkan ruangan tersebut.


“Daniel, Silvia itu siapa?” tanya Rita


“Entahlah, aku juga baru bertemu dengannya!”


“Apa kita pulang sekarang?” tanya Rita

__ADS_1


“Tunggu sebentar lagi, setelah pak Joey tenang, aku akan minta ijin untuk pulang”


Rita duduk di ruang tunggu, di luar UGD, Daniel menghampirinya, ia baru saja membeli minuman dari vending machine di depan pintu masuk dan memberikannya ke Rita


“Terima kasih!” Rita menerima botol mineral dari Daniel lalu meminumnya


“Kamu sudah minum?” tanyanya


“Sudah tadi, aku beli 3, 2 botol sudah kuminum, entah kenapa hari ini aku haus sekali!”


“Apa mereka sudah tenang sekarang?” tanya Rita, ia sudah tidak sabar untuk meninggalkan tempat itu


“Aku ke sana dulu, kamu di sini saja!” pinta Daniel, Rita mengangguk


Alangkah terkejutnya Daniel, ketika ia masuk ke ruang UGD, di situ beberapa dokter dan perawat tergeletak pingsan di lantai, begitu juga dengan pasien2 di UGD, tampak Silvia terbaring tak sadarkan diri di lantai di samping tempat tidur Joey, wajah Joey tertutup bantal. Daniel kebingungan melihat pemandangan tersebut, semakin lama pandangannya buram, ia melihat seseorang melewatinya dan memakai masker gas. Daniel berusaha mengejar orang tersebut hingga keluar ruangan UGD. Daniel berteriak kencang


“Rita, orang itu!”


Orang bertopeng gas itu sambil berlari, ia menoleh ke arah Daniel, ia tidak melihat Rita di depannya. Rita melihat botol yang dipegang orang itu dan topengnya, dengan segera ia menahan nafasnya, lalu menendang lengan orang itu yang tepat berlari ke depannya. Orang itu terkejut dan jatuh miring, topengnya setengah terbuka, isi botolnya mengenai dirinya sendiri hingga ia pingsan. Rita tahu bahwa ia akan ikut pingsan jika ia mendekati orang tersebut, kemudian ia memilih pergi dari ruangan tersebut dan mencari petugas polantas tadi, setelah beberapa saat ia kembali bersama polantas dan petugas rumah sakit, mereka memakai masker gas. Orang tersebut berhasil diamankan, tetapi karena belum diketahui kandungan gas dalam botol tersebut, sehingga orang-orang di sekitar yang menghirup gas tersebut, di karantina, termasuk Daniel.


Daniel masih terbaring di ranjang rumah sakit, ia belum sadar setelah menghirup gas tadi, di sampingnya tempat tidur Joey, kemudian Silvi. Ruangan UGD kini berubah menjadi ruangan isolasi. Beberapa perawat dan dokter yang tadi ditemukan tergeletak telah dipindahkan ke ranjang di ruangan tersebut, mereka belum sadar. Rita menunggu di luar ruangan UGD, ia sangat cemas melihat keadaan Daniel. Ia menghubungi Andi, ia menceritakan keadaan di rumah sakit, dan dirinya yang belum diijinkan untuk keluar dari RS.


“Kak, jangan bilang kakek dulu, aku bisa kena masalah!” pinta Rita, ia takut kakeknya marah karena ia terlibat masalah lagi


“Enggak, kakek tadi menelpon, beliau dalam perjalanan ke Jerman, lusa beliau akan menemui om Radian di London.”


“sudah dulu ya kak, dokter memanggil ku!” Rita memutuskan percakapannya


“Dek Rita, kami boleh mengambil sample darah dek Rita?”


“Untuk apa dokter?”


“Begini, tadi dari beberapa orang yang kontak langsung dengan pelaku, beberapa orang kini tidak sadarkan diri, termasuk polantas. Hanya adik, yang masih terlihar segar”


“Oo begitu, apa belum diketahui kandungan gas tersebut dokter?”


Rita mengikuti perawat yang mengenakan hazmat


“Suster, saya gak dikasih pakaian itu?” tanya Rita


“Anda sudah terpapar langsung tadi, kemungkinan besar Anda sudah tertular, sedangkan pakaian ini hanya untuk mereka yang sama sekali belum terpapar langsung!”


“oo begitu!” Rita memberikan tangannya untuk diambil darahnya. Perawat mengambil beberapa CC darah Rita. Dan beberapa cairan dari hidung dan air liurnya untuk memastikan


“Setelah ini saya boleh pulang?” tanya Rita


“Belum boleh, Anda harus masuk ruang isolasi, tapi terpisah dari ruangan teman anda, karena resiko anda lebih kecil dibandingkan mereka!” ujar perawat tadi. Rita mengikuti perawat tadi ke sebuah kamar, mereka memberi piyama.


“Untuk sementara anda pakai ini, baju Anda akan kami desinfektan terlebih dahulu!”


Rita menurut, ia berganti pakaian piyama dan memberikan pakaian dan tas kecilnya kepada perawat tadi, hanya ponsel dan dompet yang ia pegang sekarang. Karena bosan ia menghubungi Andi lagi


“Kak, aku sekarang masuk ruang isolasi!”


“Hah? Serius Rit? Hasil tesnya apa?”


“Belum keluar kak, tapi memang aneh, orang-orang yang tadi menangkap orang itu pada pingsan semua dan hingga sekarang belum sadar. Hanya Rita yang tidak terpengaruh!”


“Hah? Kog bisa?”


“Entahlah Kak!, kak Andi sudah menghubungi Om Radian?”


“Sudah!”


“Lalu kata Om apa?”


“Nanti malam ia akan kembali ke NZ, lalu menjemputmu di RS!”


“Kalau kakek?”

__ADS_1


“Kakek belum tahu, rencananya berubah, semula ke London, ia batalkan. Sekarang beliau ke Dubai menyusul kakek Sugiyono. Kamu tahu Rit? Kakeknya Rendy meninggal dunia tadi malam!”


“innalillahi wa’innaillaihi roji’un, sakit apa kak?”


“Entahlah, tapi kakeknya sudah kritis sejak seminggu yang lalu!”


“Apa Rendy tahu?”


“Dia sudah di sana, ia sendiri yang mengabarkan ke kakek Sugiyono dan kakek Darmawan”


“oo begitu, kasihan Rendy!” ujar Rita prihatin


“Lo gak usah mikirin orang lain, pikirin diri lo sendiri!, Rit sudah makan?”


“Belum kak, tadi rencananya dari RS mau makan, gak nyangka kejadian kayak begini!”


“Kasih tahu alamat RS nya dan ruangan berapa, gue kirim ya, Lo harus makan Rit, supaya imunnya kuat!”


Rita memberitahu alamat RS dan ruangan tempat ia diisolasi. Setengah jam kemudian, kiriman makanan dari Andi datang. Perawat memberikannya ke Rita. Dengan lahap Rita menyantap makanannya. Setelah makanannya habis, Rita berjalan mengelilingi kamarnya, ia merasa bosan. Jam dinding menunjukkan pukul 7 malam. Rasa kantuk menerpanya, ia berbaring di tempat tidur lalu terlelap.


Dalam mimpinya, Rita berjalan keluar dari kamar isolasi, ia melihat kejadian siang tadi, yang mana ia menendang penjahat itu dan membuat botol berisi cairan yang digenggamnya tumpah. Kemudian Rita berjalan ke ruangan lain. Di situ ia melihat Silvi dan Joey yang sedang bercakap-cakap.


“Kenapa kamu melakukannya?” tanya Joey


“Maksud mu apa? Melakukan apa?” tanya Silvi bingung


“Kamu datang kemari, kamu bilang di telepon pihak rumah sakit, tapi aku tidak pernah menyimpan nomor mu di ponselku!”


“Aku lihat berita di TV tentang kecelakaan mobilmu, aku konfirmasi ke TV, dan mereka memberikan alamat RS ini!”


“Lalu untuk apa kamu di sini?”


“Aku mengkhawatirkanmu Joey!”


“Untuk apa? Hubungan kita sudah lama berakhir!” ujar Joey


“Berakhir menurutmu, tapi menurutku tidak bisa!, aku hamil Joey! Dan ini anak mu!”


“Pembohong! Kamu mengatakan yang tidak-tidak kepada Caroline, sehingga ia akan menceraikan aku!”


“Aku tidak bohong Joey!”


“Itu bukan anakku!”


“Kamu jahat sekali Joey! Kita berhubungan lebih dari sekali, sekarang kamu mau mengingkari bahwa anak ini bukan anakmu!” Silvi menahan tangisnya


Joey menunduk,


“Hubungan kita itu suatu kesalahan, aku sangat mencintai Caroline, aku tidak ingin bercerai darinya!”


“Dasar laki-laki busuk! Setelah puas denganku, kamu membuangku? Bahkan dengan anakmu di kandunganku?”


“Plak!” silvy menampar pipi Joey


“Aduh!, tamparan Silvy memang tidak keras, tetapi luka di kepalanya masih terasa sakit


“Itu bukan anakku!”


“Kamu gak percaya? Mau tes DNA?” tantang Silvy


“waktu aku kecil, aku terjatuh dari pohon dan mengalami cedera di tulang belakang, karena cedera ini aku tidak obati semakin bertambah usia, cedera ini mempengaruhi kesuburanku sebagai pria. Aku dan Caroline sudah 12 tahun menikah dan kami belum juga punya anak,agaknya itu karena cedera itu. Aku sudah memastikan ke beberapa dokter, dan mereka menyatakan hal yang sama. Aku tidak mungkin bisa memberikan anak kepada Coroline, jadi berhentilah berbohong Silvy! Aku akan minta orang untuk mengecek rem mobilku, mungkin kamu ingin mencelakaiku dan Carol!”


“Hahaha! Dongeng apa itu? Mungkin kamu tidak bisa hamil dari Carol, tapi dari aku bisa!”


“Terserah! Yang jelas setelah aku keluar dari sini, aku tidak mau bertanggung jawab apapun atas kehamilan mu! Karena itu bukan anakku!” ujar Joey dingin


Silvy sangat marah, Ia menutup sekitar ruang tersebut dengan gorden, sehingga hanya tinggal dirinya dan Joey, lalu dengan kasar ia mengambil bantal dari kepala Joey, dan ia tindih kepala Joey dengan bantal tersebut. Joey meronta-ronta tak berdaya, Silvy terus menekan bantal ke wajah Joey hingga ia berhenti bergerak. Setelah sadar Joey tidak lagi bergerak, Silvy mengangkat bantalnya, dan ia melihat Joey sudah tidak bernafas, Silvy menangis tersedu, ia pun pingsan di lantai . Tak lama kemudian seseorang bertopeng gas datang ke UGD ia melepaskan gas dari dalam botol, hingga para perawat dan dokter tidak sadarkan diri


-Bersambung

__ADS_1


__ADS_2