
Dewa dan Rita berjalan menuju lobi hotel dan menemukan meja kursi yang kosong. Mereka duduk saling berhadapan.
“Jadi Rit, ada yang bisa kakak bantu?” tanya Dewa
“Sebenarnya ada yang mau Rita diskusikan sama kak Andi!”
“Tentang firasat mimpi ya?”
“Iya, kakak tahu?”
“Andi cerita sedikit tentang orang yang berhasil kamu cegah melompat dari apartment”
“Betul kak!”
“Kalau kamu bermimpi tentang itu, apa kamu ingat rinciannya?”
“Maksud kakak?”
“apa yang terjadi di kenyataan sama dengan di mimpi kamu?”
“ada yang sama ada juga yang engga kak, tergantung!”
“Maksudnya?”
“hmm...ya seperti waktu Rita bertanding melawan Abiyasa. Dalam mimpi, Rita berhasil ditendang di punggung. Dan Rita pingsan. Pada kenyataannya, Rita menghalangi Abiyasa menendang sepupu Rita yang dilemparkan ke Rita!”
“Waktu di mimpi kenapa kamu bisa ditendang?”
“Rinciannya Rita lupa kak, tetapi sejak mimpi itu, Rita mempersiapkan yang terburuk.”
“Mungkin sebenarnya itu bukan mimpi Rit!”
“Tapi Rita tidur kak!”
“Kakak pernah baca artikel tentang orang yang bisa meramalkan kejadian yang akan datang. Jadi sebenarnya roh orang itu berpindah ke masa depan untuk mengetahui yang terjadi di waktu tersebut. Mungkin kamu seperti itu!”
“Mungkin juga kak!”
“Nah sekarang Rita ingat-ingat deh, berapa persen kesamaan antara mimpi dengan kenyataan?”
“Rita bingung kak!”
“Kalau begitu dimulai sejak kamu mencegah orang melompat, apa perbedaannya?”
“Hmmm..oh iya kak, dalam mimpi cewek itu melompat dari lantai 31. Sedangkan kemarin dari apartment mama itu di lantai 32!”
“Oke, ada yang lain?
“hmm..ada bedanya sih, kayaknya di mimpi itu bukan balkonnya kak Andi!”
“Begitu ya, tapi kamu yakin kalau yang mau melompat itu orang yang sama?
“Karena mimpinya terjadi 2x kak, jadi Rita ingat!”
Keduanya tidak menyadari Andi sudah berada di belakang Rita.
“Oh mau bahas tentang mimpi? Bilang dong dari tadi!” Andi mulai tertarik dan duduk di samping Dewa berhadapan dengan Rita.
“Jadi kali ini kamu mimpi tentang apa?” Tanyanya kepo
“Tentang Aldi yang diculik kak!”
Andi langsung berdiri dan marah.
“Yahh lagi-lagi tentang dia, emang kamu beneran pengen jadi saudaranya dia ya? Sampai masuk ke dalam mimpi? Hardik Andi
“Dihh,..kak Andi jangan kayak anak kecil deh, lama-lama Rita ga sabar nih menghadapi kakak!”
“Kenapa? Kamu mau mukul kakak? Karena bocah sialan itu kamu mau mukul darah daging kamu?”
“Jiaahh darah daging!” umpat Dewa
“Bukan begitu kak Andi, bisa ga jangan emosi dulu? Dengerin dulu cerita Rita, setelah itu terserah deh mau marah-marah, mau mukul kak Dewa ya silakan!”
“Lho kok saya yang kena?” Ujar Dewa Bingung
“Sudah lah Ray ! jangan marah-marah melulu, malu tuh banyak yang melihat kemari! Kamu duduk dulu ya sayaaanggg! “Bujuk Dewa
Andi melihat beberapa orang memperhatikan mereka, akhirnya ia menurut dan duduk.
“Nah begitu dong!” Puji Dewa tersenyum
“Lanjutken Rit!”ujar Dewa
“Jadi dalam mimpi Rita tadi malam, ada 2 orang lelaki dewasa menarik Aldi dengan paksa. Lalu Rita yang ada di situ berusaha membantu Aldi supaya dilepaskan. Hanya saja Rita tidak waspada. Ternyata ada orang ketiga yang memukul punggung Rita dari belakang!”
“Terus?” Tanya Dewa dan Aldi bersamaan
“Terus ketika tersadar, Rita sudah berada di sebuah kamar kecil tidak berjendela. Badan Rita lemas sekali. Tangan kanan Rita ada bekas suntikan dan agak bengkak.”
“Terus?”
“Ada seorang laki-laki besar datang ke kamar itu dan membuka pakaian Rita. Rita tidak bisa melawan karena badan Rita tidak bisa digerakkan”.
“Terus?
“Rita langsung bangun, itu seperti kenyataan kak! Rita jadi takut.”
Tiga orang laki-laki masuk ke hotel. Mereka menuju resepsionis. Rita melihat mereka. Ia termenung sejenak mengingat mimpinya.
__ADS_1
“Itu kak, mereka orangnya!” bisik Rita
Dewa dan Andi menoleh untuk melihat ketiga laki-laki itu. Penampilan ketiganya cukup mencurigakan. Yang pertama berambut keriting sebahu, perutnya buncit , berkulit sawo matang. Orang kedua berambut pendek kurus , berkulit putih dan berkumis. Sedangkan yang ketiga, botak, kulitnya sawo matang, di lengan kirinya ada tato bergambar mawar. Tinggi ketiganya hampir sama.
“Ray, tolong lo foto gue dan Rita ya, latarnya itu!” Dewa memberikan ponselnya dan menunjuk ke resepsionis di mana ketiga orang itu masih di sana.
Andi mengerti isyarat Dewa. Ia berbuat seolah-olah memoto Rita dan Dewa, padahal kamera di arahkan ketiga orang itu.
“Terimakasih!” ucap Dewa. Ia melihat ketiga orang tersebut, dan memberikannya kepada Rita
“Ini Rit, coba perhatikan lagi!” Ia memberikan ponselnya ke Rita.
Rita mengambil ponsel Dewa, dan melihatnya.
“Yang menarik paksa Aldi yang kurus dan yang botak. Sedangkan yang buncit ini yang memukul Rita!”
“Apa kita lapor polisi saja? Usul Andi
“Ga bisa Ray, tuduhannya apa? Berdasarkan apa? Sekarang ini mereka belum melakukan apa-apa!” ujar Dewa sambil berpikir
“Kalau begitu Rit, kamu harus menjauhi Aldi dari sekarang!” Ujar Andi
“Yah dia mulai lagi!” Ujar Rita
“Kan kamu bilang tadinya mereka memaksa Aldi, tapi kenapa bisa kamu yang dibawa?” tanya Andi
“Hmm..betul itu Rit!” Ujar Dewa setuju
“Jadi bagaimana dong? Tanya Rita
“Ya kamu tidur lagi deh! Yuk kakak temenin! “ Ujar Dewa sambil bangkit dari kursinya
“Heh! Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan yeh!” Tukas Andi mencegah Dewa bangun dari kursinya.
“Kalian bercanda terus nih, serius dong!” protes Rita
“Ini nih si Arya, masih aje usaha! Ujar Andi
“Yee, siapa yang usaha, justru kita cari keterangan baru, Rita tidur lagi, dan cari tahu kapan itu terjadi!” tukas Dewa
“Tapi ga bisa begitu kak! Karena mimpi itu datang dengan sendirinya. Rita ga bisa stel kapan bisa mimpi lagi.”
“Repot juga ya!” ujar Dewa
“Nah Rit, kamu turuti kak Andi ya, kali ini saja! Jangan dekati Aldi atau Tasya, sampai kita pulang besok! Kamu ga mau diculik kan?” tanya Andi
Mereka terlalu serius membahas mimpi, sehingga tidak memperhatikan ketiga orang itu yang telah pergi.
“Eh kemana mereka?” Tanya Dewa
“Gak tahu kan gue membelakangi” jawab Andi
“Maaf Gek, mau tanya, apa kamarnya sudah penuh? Saya lihat tiga orang tadi ga jadi menginap di sini?”
“Tidak Gek, masih banyak kamar, tapi ketiga orang tadi mencari pak Dodi. Apa teman Gek ada yang mau nginap lagi di sini?”
“Hmm..mungkin tapi tidak sekarang, terimakasih Gek”. Setelah itu Rita kembali ke kursinya, di mana Andi dan Dewa memperhatikannya dari jauh.
“Mereka tidak mencari Aldi, kak, tapi Om Dodi!” ujar Rita melaporkan
“Pak Dodi!” balas Andi dengan wajah berkerut
“Iya-iya!” jawab Rita mengalah
“Jadi bagaimana ?” tanya Rita
“Untuk kali ini Rit, kakak setuju dengan Ray, kamu jangan dekat-dekat Aldi atau Tasya dulu, bukannya ga mau membantu, tapi informasi dari mimpi kamu itu sedikit sekali. Tidak ada yang bisa dijadikan petunjuk.” Ujar Dewa
“Betul Rit, memangnya kamu mau diculik ?” tanya Andi
“Ya gak maulah!”Jawab Rita
“Nah makanya menurut!” perintah Andi
“Btw tentang si Aldi, kayaknya tu anak bipolar ya?” ujar Dewa
“Maksud kak Dewa?”
“Ya perhatiin deh, kalau di senangnya luar biasa, tapi begitu dia sedih, sediih banget!, jadi emosinya turun naik!”
“Iya orangnya meledak-ledak, tapi begitu tahu dia salah langsung minta maaf, beneran sakit jiwa!” ujar Andi
“Jangan begitu kak Andi, dia baik juga lho ngajak kita jalan-jalan, padahal ga disuruh papanya, itu inisiatif dia sendiri!” ujar Rita
“Iya sih, Cuma orang kayak begitu susah dapat teman tuh, kecuali temannya model Arya!” ujar Dewa sambil menoleh ke arah Dewa.
“Gue? Memang gue kenapa?”
“Engga apa-apa!” jawab Andi
Beberapa saat kemudian Ratna datang menyapa mereka
“Ahh..rupanya kalian di sini! Mama cari dari tadi! Aldi mencari kalian!” ujarnya
Ketiganya saling berpandangan, bingung harus berkata apa.
“Hmm..baiklah tante, Aldinya dimana?” tanya Dewa sambil bangkit dari duduknya.
Rita dan Andi melotot melihat kearah Dewa.
__ADS_1
“Itu Dia kemari!” ujar Ratna sambil melambaikan tangannya ke Aldi.
“Woy guys! Berenang yuk!” ajaknya
“Kali ini lo bakal bete lagi gak?” tanya Dewa terus terang
“Maaf ya kemarin! Hehehe, seharusnya sih enggak!” ujar Aldi enteng
“Gue ga ikut ah!” ujar Andi bangkit dari kursinya dan meninggalkan mereka.
“Hmm...iya deh ma! Tapi Rita ga bawa baju renang!” ujar Rita
“Ga pa pa pakai baju itu juga, berenangnya di hotel ini kok, jadi bebas, lo mo pakai tuxedo atau gaun malam juga bebas!” ujar Aldi bercanda.
“Hahahaha...lucu juga kamu! “ ujar Ratna tertawa
Akhirnya Dewa dan Rita pergi ke kolam renang bersama Aldi. Di bagian hotel itu, ada kolam renang cukup besar, seperti di PIK. Ada seluncuran, ember yang tumpah jika sudah penuh terisi air. Ada kolam gelombangnya juga.
“Welcome to our New Swimming Pool!” Ujar Aldi dengan membuka tangannya. Ia hanya menggunakan celana renang selutut dan kacamata hitam.
“Wah luas dan besar juga ya?” ujar Rita dan Dewa terkagum
“Nah, kolam renang ini baru selesai dibuat tahun ini. Rencananya akan dibuka untuk umum yang membeli tiket masuk. Tapi kalau untuk penghuni hotel gratis!” ujar Aldi berpromosi
“Wah asyik banget dong!” ujar Dewa yang membuka kaosnya dan memberikannya ke Rita, kemudian ia langsung menceburkan dirinya ke kolam. Rita tertawa melihat Dewa yang bertingkah seperti anak kecil yang senang bermain air. Ternyata Dewa mahir berenang.
Beberapa saat kemudian, Rita bergabung dengan Aldi dan Dewa. Ia menjadi wasit pertandingan renang siapa yang lebih cepat.
Dewa dan Aldi bersiap di posisinya masing-masing , Rita yang berada di tepian memberika aba-aba,
“Bersiap?? Mulai!!!” teriak Rita
Dewa dan Aldi berenang dengan gaya bebas, keduanya saling menyusul!
“Ayo Kak Aldi! Teriak Tasya yang ternyata sudah berada di sisi kolam!
Mendapat sorakan dari Tasya, Aldi semakin bersemangat.
Rita bersiap dengan kameranya dipinggir kolam, untuk melihat siapa yang menyentuh pinggir kolam.
“Yak!!! Kak Dewa memenangkan pertandingan!” Teriak Rita girang
“Mana coba!” tukas Aldi tidak percaya.
Rita memberikan rekamannya, dan ternyata benar Dewa lebih cepat 2 detik dari Aldi
“Ah Sialan!!! Sedikit lagi padahal!” umpatnya
“Hehehe..hebat juga lo Dy!, Bedanya Cuma sedikit!” Ujar Dewa
“Yahh..cewek lo curang nih!” ujar Aldi
“Enak aje lo! Curang apaan?, kan ada rekamannya” tukas Rita melotot
Dewa tersenyum senang karena Aldi menyebut Rita sebagai “ceweknya”
“Udahan yuk?” ujar Dewa, sudah sore, ia keluar dari kolam dan mengambil bajunya. Ia menggunakan bajunya sebagai handuk.
“Yuk Rit!” ajaknya
“Ayo Kak!” Rita menurut
“Kalian duluan deh, gue satu puteran lagi!” ujar Aldi. Ia kembali berenang. Aldi betul-betul menyukai berenang, gaya berenangnya seperti ikan yang ia sukai. Sementara Tasya menunggunya sambil bermain tablet. Dewa dan Rita kembali ke kamar mereka.
Malam harinya, saat makan makan malam, mama memberitahu anak-anaknya, akan check out kembali ke Jakarta besok siang. Andi berteriak girang
“Yesss!!! Akhirnya!”Andi berteriak sambil berdiri mengepalkan tangannya ke atas
‘Andi!” tegur mamanya sambil melotot.
Andi kembali duduk dan melanjutkan makannya dengan riang.
Rita dan dewa memperhatikannya sambil tersenyum. Karena mau pulang besok Andi agak ramah dengan Aldi dan Tasya.
“Hey, man, besok kita check out man!” tegur Andi ke Aldi sambil bersenandung dan berjalan melewatinya kembali ke kamar.
Andi, Dewa dan Rita kembali ke kamar masing-masing untuk mempersiapkan kepulangan mereka besok.
Di pagi harinya menjelang sarapan. Andi dan Dewa mengetuk kamar Rita.
“tok.tok..tok...Rit, sarapan yuk!” ajak Andi
Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Dewa menekan handle pintu
“Cklek!” ternyata tidak terkunci
Andi dan Dewa berpandangan, kemudian masuk ke kamar Rita.
Kamarnya telah rapi, dan ada sepucuk surat dan ponsel android Rita diletakan di atas meja Rias.
“Ray! “ Panggil Dewa ke Andi sambil menunjuk ke meja rias Rita. Di saat yang bersamaan, Aldi mendatangi mereka
“Rita diculik!” ucapnya dengan nada tinggi dan nafas tersengal.
Author : kira-kira apa yang terjadi dengan Rita? Apakah mimpinya menjadi kenyataan? Tunggu chapter berikutnya. Oiya like dan comments untuk dukungannya, terimakasih 😇🤗😍
__ADS_1