
Daniel dan timnya segera berangkat menuju ke rumah Bruno yang terletak di tengah hutan.
“Chief mengirimkan profil Bruno” Alex membacakan profil Bruno kepada Daniel yang sedang menyetir.
“Bruno residivis kambuhan, ia pernah dihukum karena melakukan kekerasan kepada ibu dan ayahnya. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara, adiknya bernama Leo”
“Residivis?” tanya Daniel
“Ia dihukum karena memukul ayahnya di kepala, juga mendorong ibunya hingga pinggangnya patah, ia dihukum 2 tahun atas kejahatannya. Setelah keluar dari penjara ia diusir keluarganya dan menjadi seorang pelatih menembak, ia kembali masuk penjara karena melecehkan anak didiknya yang berusia belasan tahun, ia dibebaskan setahun yang lalu”
“Bagaimana dengan Leo?” tanya Daniel, hatinya mulai tidak tenang
“Leo, ia keluar- masuk penjara remaja, kasusnya selain mencuri, melakukan kekerasan juga pelecehan seksual. Ia dibebaskan lebih cepat setahun dari Bruno, informasi terakhir, ia tinggal bersama Bruno”
“Hari sudah gelap, jalan menuju kesana berbahaya. Selain gelap juga banyak jebakan beruang!” ujar Chief melalui radio mobilnya
Alex memperhatikan wajah Daniel yang sangat cemas
“Daniel, aku tahu gadis ini sangat berarti bagi mu, tetapi kita juga harus memikirkan keselamatan kita sendiri. Pengalaman ku, di daerah sini paling banyak beruang berukuran besar, dan hewan itu akan tetap melukai meskipun kita sudah menembaknya beberapa kali”
Daniel menepikan mobilnya, ia berpikir lalu menghubungi David yang berkendara dengan mobil lain
“David, bagaimana menurut mu?” tanya Daniel
“Di tepi hutan ada sebuah penginapan untuk para pemburu, mungkin kita bisa menginap malam ini. Aku mendengar berita bahwa akan ada badai malam ini”
“Hmm...baiklah, kita menginap malam ini di rumah itu”
Mobil Daniel tiba lebih dulu, beberapa menit kemudian David beserta rombongan tiba, mereka menyewa 1 kamar yang besar di rumah itu. Mereka tidur di lantai beralaskan selimut besar.
“Penginapan di sini memang unik, mereka hanya menyediakan kamar kosong seperti ini serta alas selimut, karena biasanya pemburu menginap hanya untuk mengistirahatkan tubuhnya, esoknya sudah pergi lagi” ujar Alex bercerita, Daniel merebahkan tubuhnya yang kelelahan. Sebenarnya ia berniat melanjutkan perjalanan tetapi melihat keadaan yang gelap ia mengurungkan niatnya. Menjelang tidur ia membuka album foto di ponselnya. Ia melihat foto kebersamaan dirinya bersama Rita. Alex memperhatikan wajah Daniel yang selalu tersenyum melihat foto itu.
“Kamu sangat menyukainya ya?” tanyanya
“Huh? Mungkin!” Daniel menutup ponselnya
“Mungkin? Wajah mu tidak bisa bohong! Apa kamu masih ragu berhubungan dengannya?”
“hmm...Aku takut keluarganya tidak menyetujui hubungan kami”
“Karena status kalian?”
“Iya!, kedua kakeknya orang terkaya, mereka pasti ingin cucunya menikah dengan orang kaya pula”
“Tapi kalian tetap berhubungan kan?”
“Begitulah, dia gadis yang menarik dan unik”
“Unik?” tanya Alex heran
“Iya unik, dia membalas pernyataan suka ku dengan cara yang unik” Daniel tersenyum mengingat awal ia berhubungan dengan Rita
“Bagaimana?”
“Dia menyiram wajahnya dengan air mineral, dia bilang wajahnya terbakar...hehehe...aku gak tahu dia juga memiliki perasaan yang sama dengan ku, perbedaan usia kami 9 tahun!”
“Tapi tidak menghentikan mu kan?”
“Jika berada didekatnya aku seperti dialirkan energi positif yang tidak ada habisnya.”
“Dia masih SMA kan? Apa kamu gak cemburu jika banyak teman seumuran yang menaksir dirinya?”
“Tentu aku cemburu, itu sebabnya aku selalu mengantar dan menjemputnya di sekolah, memastikan dia tidak diantarkan dengan cowok selain aku”
Sementara di rumah Bruno
“Hatch!..hatchi!” Rita berkali-kali bersin
“Kamu flu ya?” tanya hantu Aldo,
“Sebaiknya kamu jangan tidur malam ini” ujar hantu Charlene yang kini bergabung dengan mereka
“kenapa?” tanya Aldo
“Bruno dan adiknya bisa tiba-tiba masuk ke kamar ini” jawab Charlene
Rita bangkit lalu menggeser tempat tidurnya hingga menghalangi pintu masuk ke kamarnya, ia juga menggeser lemari
“Kalau begini aman kan?” ujarnya
“Kamu kuat juga ya?” puji Aldo
“Aku tidur dulu ya? kalian ngobrol deh! Kalian sesama hantu kan?” ujar Rita membaringkan tubuhnya di ranjang, Charlene dan Aldo saling berpandangan
“Jadi Aldo, kamu terperangkap di rumah ini?” tanya Charlene
“Begitulah!”
“Kamu gak ingat penyebab kematian mu?” tanya Charlene, Aldo menggeleng
“Kalian bisa berbisik ngobrolnya? Aku mengantuk!” tegur Rita
Malam itu angin bertiup kencang, suara jendela tertiup angin membuat Rita takut, ia membaca terus berdzikir, itu membuat kedua hantu temannya menjauh
“Jangan terlalu dekat ketika ia membaca doa, itu bisa menghilangkan mu!” ujar Aldo memperingatkan
“Kalau begitu bagus dong!, aku sudah lelah berada di rumah ini” keluh Charlene
“Maksudku menghilang, kamu akan terbakar!”
“oh!” Charlene menjauh dari Rita.
Malam semakin larut, Rita kelelahan ia pun tertidur, tiba-tiba seseorang berteriak membangunkannya
“Rita bangun!!! Ayo bangun!” ujar suara itu, Rita terbangun, ia mendapati kamarnya telah dipenuhi asap
“uhuk...uhuk...kenapa nih?”
“rumah ini kesambar petir!, kamu harus segera keluar!” teriak Aldo
Dengan susah payah Rita menggeser lemari dan ranjang, ia berusaha membuka pintu kamar
“Duk!....duk!...duk!!” berkali-kali ia menggunakan tubuhnya untuk membuka pintu kamar, tetapi rasa sakit di kaki kirinya membuat tendangannya tidak bertenaga. Ia mendengar langkah kaki seseorang, lalu membuka pintu kamarnya, tubuh Rita ditarik dari kamar itu
“Ayo keluar! Kamu mau terbakar?” ujar Shasa menarik Rita ditengah kepulan asap tebal, ia menggunakan bahasa Inggris.
Rita dibawa keluar dari kamar itu dan kembali dikurung di kamar bawah, Shasa memadamkan api di kamar atas, setelah berhasil memadamkan, ia kembali ke ruang tengah.
“Kamar di loteng terbakar hampir setengahnya, kita sudah tidak bisa mengurungnya di sana!” ujar Shasa kepada kedua sepupunya. Leo, sejak tadi hanya asyik bermain game dari ponselnya, sedangkan Bruno menonton film dewasa kesukaannya.
“Kamu seharusnya menikah, daripada menonton film seperti itu!” ujar Shasa
“Menikah? Lalu bercerai seperti kamu?” ledek Bruno
“Setidaknya aku menikmati ketika bersama istriku, tidak seperti mu yang hanya membayangkan!” jawab Shasa
__ADS_1
“Membayangkan? Tidak juga!” Bruno tersenyum misterius, Leo mengenali senyum Bruno
Shasa tiduran di sofa, ia membaca pesan dari putrinya.
“Kamu berkirim pesan dengan siapa?” tanya Leo
“Anakku Amira!”
“Amira! Keponakan ku, bagaimana kabarnya sekarang?” tanya Bruno
“Baik, dia baru saja berusia 16 tahun!”
“Enam belas tahun? pasti sekarang dia semakin cantik seperti ibunya. Terakhir aku bertemu dengannya saat ia 10 tahun” ujar Bruno
“Sepuluh tahun? Bagaimana kamu bertemu dengannya?” tanya Shasa heran
“Yah, aku melihat dia dan ibunya di suatu supermarket, lalu aku mengikuti mereka. Oh ya istri mu sangat cantik!” ujar Bruno
Awalnya Shasa tidak terlalu memperhatikan ucapan Bruno, tiba-tiba ia teringat kejadian saat Amira berusia 10 tahun, saat itu ia masih aktif bertugas sebagai agen aktif KGB.
“Oh ya dulu kamu sering tugas keluar ya? kasihan istri mu, sepertinya selalu kesepian” ujar Bruno lagi, Leo melirik Bruno dan tersenyum aneh.
Shasa mengingat masa itu, lalu ia tertidur. Diam-diam Bruno menyelinap ke kamar tempat Rita disekap.
“Ih..sulit dibuka!” keluhnya, Rita telah menghalangi pintu dengan lemari dari dalam tetapi Bruno tidak putus asa, film yang baru saja ditontonnya membuat birahinya memuncak, ia seperti beruang kehilangan akal, ia mendorong pintu kamar dengan sekuat tenaga. Rita menambahkan barang lain untuk menahan pintu tersebut. Akhirnya Bruno menyerah, ia kembali ke ruang TV, tiba-tiba ia ditodong dengan pistol oleh Shasa
“Apa yang kamu lakukan dengan istriku enam tahun yang lalu?” tanya Shasa, ia meletakkan pistol di kening Bruno
“Istri mu? Tidak! Aku tidak melakukan apa-apa!” Bruno ketakutan, Leo hendak membantu Bruno, tetapi Shasa menembak lantai sehingga Leo mengurungkan niatnya
“Bohong! Aku mencurigai mu!” ujar Shasa
“Aku tidak..” Bruno belum melanjutkan ucapannya, Shasa menusukkan pisau di telapak tangan Bruno sehingga ia menempel di meja
“Awwwhhh!!” Bruno mengerang kesakitan, Leo ketakutan
“Kamu pindah! Menghadap kemari!” suruh Shasa, Leo menurut. Ia tahu ketrampilan Shasa sebagai seorang agen terlatih. Melawannya berarti kematian yang menyakitkan. Shasa mencabut pisaunya dari tangan Bruno
“ahhh!!! Wusssh...wushhh!” Bruno mengerang kesakitan
“Ikat tangannya dengan ini!” suruh Shasa kepada Leo,
Leo segera mengikat telapak tangan Bruno agar darah berhenti mengalir
“Sebaiknya kamu mengakui perbuatan mu kepada istriku, atau aku akan membuat kalian cacat!” ancam Shasa
“Bruno hanya menciumnya” ujar Leo
“Mencium? Plak!!!” Tangan Shasa menampar pipi Bruno begitu keras sehingga Bruno terjatuh di lantai, melihat kakaknya jatuh, Leo mengambil kesempatan itu untuk menyerang Shasa, ia mengambil pisau di atas meja dan menusukkan ke lengan Shasa
“ahhh!!!” erang Shasa, ia mengambil pistolnya lalu menembak Leo, dan mengenai dada kirinya. Leo pun rubuh. Melihat adiknya di lantai,timbul keberanian Bruno
“Kamu membunuh adik ku?” ia menyerang Shasa, mereka pun saling bergulat memperebutkan senjata. Tiba-tiba..
“Bruk!” Shasa roboh terkena pukulan di kepalanya, Leo yang memukul kepala Shasa
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Bruno,
“Sial, ponsel ku rusak!” Leo mengambil ponsel dari dadanya
“Orang yang tidak tahu diri! Buak!..buak!!” Bruno menendang tubuh Shasa beberapa kali
“Kita apakan dia?” tanya Leo.
“Bantu aku angkat dia ke kursi!” pinta Bruno, keduanya mengangkat tubuh Shasa yang pingsan, dan mengikatnya di kursi. Satu jam kemudian Shasa mendapati dirinya terikat di kursi
“Plak! Buak!!!” Bruno memukulnya dan membalas perlakuan Shasa tadi pada dirinya, ia juga menancapkan pisau ke telapak tangan Shasa.
“Ahhh!!!!!” erang Shasa kesakitan
“Kamu tahu apa yang aku lakukan pada istri mu?” ujar Bruno , Shasa yang kesakitan menatap Bruno dengan kemarahan.
“Bruno menidurinya berkali-kali!...hahaha...dia mengancam jika dia tidak mengikuti kehendaknya, kami akan meniduri Amira!” ujar Leo tertawa
“Kurang ajar!!!” Shasa begitu marah, ia hendak bangkit, tetapi Leo memukulnya
“Buak!!!” Shasa pun kembali duduk,
“Aku cuma sekali! Tadinya mau berkali-kali seperti Bruno tiba-tiba istrimu mentruasi!. Aku jijik!” ujar Leo bercerita
Bruno tersenyum mengingat hal tersebut
“Seharusnya kamu lanjutkan saja!” ujar Bruno tertawa senang
“Tidak!, aku gak berselera!” ujar Leo
“Aku mengancamnya, jika ia mengatakan perbuatan kami padamu, kami akan melakukannya kepada anak kalian!” ujar Bruno berbisik di telinga Shasa.
“Kalian bajingan!!! HAAAAAAA!!!” Shasa berteriak dan menangis mengingat penderitaan istrinya.
“Kamu sih begitu senang bertualang, apa kamu gak tahu istri mu itu kesepian?” ujar Bruno lagi
Shasa terdiam, ia memikirkan cara untuk melepaskan diri
“Badai di luar sudah berhenti” ujar Leo melihat keluar
“Kita pindah dari rumah ini?” tanya Leo lagi
“Tentu!, aku ingin membawa gadis itu, lebih baik kita jadikan dia budak !”
“Budak?”
“Iya budak!, melayani kita setiap malam! Sejak awal aku tidak berniat menukarnya dengan uang sepeser pun. Aku ingin mencoba tubuh wanita kaya!” ujar Bruno
“Aku juga, gadis itu lumayan cantik!” ujar Leo. Ia lengah, pisau yang ia tusukkan di paha Shasa, dibiarkan begitu saja.
Bruno ke kamar Rita, ia tetap kesulitan untuk masuk.
“Sial! Sepertinya anak itu menahan pintunya dari dalam!” keluh Bruno, ketika ia kembali ia melihat Leo sudah bersimbah darah dengan luka tusuk di lehernya
“Leo!!!” Bruno menoleh, kini Shasa menyerangnya. Terjadi pergumulan untuk kedua kalinya. Kali ini tidak ada Leo yang membantunya sehingga Bruno terkapar tidak berdaya di lantai
“Jadi itu penyebab istriku meminta cerai?” Shasa mengarahkan pistolnya ke ************ Bruno
“Leo berbohong Sha! Gak mungkin aku melakukan itu kepada istri sepupu ku!” ujar Bruno menangis ketakutan
“door!!” sebuah peluru ditembakkan ke daerah vital Bruno
“aaahh!!!!” Bruno berteriak kesakitan
“Seharusnya kamu menikah saja! Jangan mengganggu istri orang!” Shasa membiarkan Bruno yang mengerang kesakitan
“Konon kabarnya, jika darah keluar dari tempat itu, kamu akan kehabisan darah lebih cepat!”
Tidak puas dengan erangan Bruno, Shasa mengambil garam dari dapur, lalu membubuhkan ke luka tembak Bruno, ia berteriak kesakitan
__ADS_1
“huaaahhhhhh!!!!!ampun!...ampuni aku Sha!...aku ini sepupu mu!” teriak Bruno kesakitan
“Seharusnya kamu memikirkan itu sebelum menyentuh istri ku!”
“Door!!!” Shasa mengakhiri hidup Bruno dengan satu tembakan di kepala. Ia sendiri semakin lemah karena darah yang tidak henti keluar dari paha dan tangannya. Ia pun pingsan di ruangan itu.
Pagi hari, Daniel dan tim segera menuju rumah Bruno. Sesampainya di sana mereka mendapati dua mayat kakak-beradik yang mati mengenaskan.
“Rita!! Rita!!” panggil Daniel, ia mencari di setiap ruangan di rumah itu”
Rita mendengar suara Daniel
“Daniel???” dengan segera ia menggeser pintu masuk dan memukul-mukul pintu kamar itu
“Danieeelll!!!” teriaknya
Daniel mendengar suara Rita dari lantai bawah
“Di sini bos!” ujar David
“Rita!, mundur! Aku akan mendobrak pintu ini!” teriak Daniel
“Sebentar!” cegah Sean, ia mengambil alat dari tasnya,
“Ini untuk mengetahui apakah ada bahan peledak tertempel di pintu ini” ujar David menjelaskan
Setelah beberapa menit
“Aman!”
“Minggir!” Jack membawa kapak dan menghancurkan gagang pintu kamar
“brak! Brak!!!” seketika pintu kamar terbuka, Daniel mendahului masuk, ia melihat Rita yang berdiri dihadapannya, dengan segera ia memeluknya
“Daniell!! Kamu datang!!” Rita menangis lega
“Kamu sudah aman!” Daniel memeluknya erat dan mencium kepala Rita tanpa henti
“Aku pikir aku akan mati di sini” ujar Rita
“Aku tidak akan membiarkan mu sendirian lagi!” ujar Daniel, ia membawa Rita keluar dari kamar itu.
“Rita ini David, Sean, Jack, Alex, mereka tim yang dibentuk kakek untuk mencari mu!” ujar Daniel memperkenalkan
“Anda tidak apa-apa?” tanya David melihat wajah Rita
“Tidak apa, hanya kaki ku bengkak karena berusaha melarikan diri dari loteng” ujar Rita
“Wajah mu juga bengkak!” ujar Daniel memperhatikan pipi Rita yang membengkak
“Ini Brian, dia yang akan mengobati Anda!” ujar David. Brian mengajak Rita duduk dan mengobati wajah serta kakinya.
“Aduhh!!!” erang Rita
“Perban ini akan dibalutkan erat ke kaki Anda, jadi jangan terlalu banyak bergerak” ujar Brian
“Kamu tidak disentuh mereka kan?” tanya Alex penasaran
“Tidak! Mereka memukul ku ketika hendak memindahkan ku dari rumah ini” cerita Rita sambil memegang rahangnya
“Di sini hanya ada dua mayat, Bruno dan adiknya, mayat Shasa tidak ada” ujar Sean melaporkan
“Apa kamu tahu yang terjadi disini?” tanya Alex pada Rita
“Tidak tahu! Aku sibuk mempertahankan pintu itu agar tidak bisa terbuka dari luar. Beberapa orang berusaha masuk ke kamar ini” ujar Rita
“Pandai!” puji Daniel sambil mengusap kepala Rita dengan sayang.
“Aku sudah melaporkan ini kepada Chief Emir, dia dan tim akan segera kemari. Sebaiknya Anda dan Daniel segera meninggalkan tempat ini” ujar Alex
“Kamu gak ikut dengan kami?” tanya Daniel
“Tidak!, diantara kalian hanya aku yang petugas resmi, jadi sudah seharusnya aku yang membereskan di sini
“Semua sudah?” tanya Davis pada Sean, ia mengangguk dan memberikan sebuah memori card kepada Alex
“Apa ini?”
“Ini dokumentasi saat kita tiba di sini dan keadaan rumah ketika kita sampai, dengan demikian kita tidak akan dituduh macam-macam!” ujar David
“Hmm...baiklah! terima kasih!” Alex mengantongi memory card itu.
“Aku meninggalkan mobil di sini, dan ikut mobil David!” ujar Daniel
“Tidak usah!, sebentar lagi Chief datang, mobil David sudah cukup sesak!”
“Baiklah! Sampai ketemu Alex terima kasih bantuannya!” Daniel menyalami Alex, Rita juga menyalaminya
“Terima kasih atas bantuannya!” ujar Rita
“Rita! Orang ini sangat menyukai mu!” ledek Alex
Daniel tersenyum lalu menuntun Rita menuju mobil David.
Dari kejauhan Shasa memperhatikan rombongan Daniel dan David yang menjauh dari rumah itu. Tak berapa lama ia kembali ke rumah itu.
Ia kaget, didapatinya Alex yang sedang menunggunya
“Aku gak menyangka kamu membunuh kedua sepupu mu!” ujar Alex
“Yeahh...mereka berbuat tidak baik pada istri ku!” ujar Shasa sambil duduk
“Kamu gak apa-apa?” Alex ngilu melihat luka di tubuh Shasa
“Aku sudah menyuntik diriku dengan obat anti infeksi”ujarnya sambil mengambil rokok dari tangan Alex
“Apa Chief akan tiba di sini?” tanya Shasa
“Tidak! Aku tidak menghubunginya, sebaiknya kita segera mengubur kedua sepupu mu dan membakar tempat ini. Kamu adalah agen aktif kami di Rusia, gak mungkin kami membiarkan mu di penjara” ujar Alex
“Bagaimana dengan tuduhan penculikan?” tanya Shasa
“itu urusan orang di atas, sekarang yang terpenting, membawa kamu kembali ke Moscow, itu tugas ku!” ujar Alex
Setelah Shasa diobati, mereka menguburkan jasad kedua sepupu di hutan dalam satu lubang yang cukup dalam, kemudian membakar rumah itu hingga rata dengan tanah. Mereka pun kembali ke moscow dengan kendaraan yang Shasa sembunyikan di hutan.
Sementara Rita dan Daniel telah berada di pesawat jet milik kakek Darmawan.
“Terima kasih!” ujar Rita sambil memegang tangan Daniel, yang membalasnya dengan mencium tangan Rita sambil tersenyum manis.
“Aku tidak akan membiarkan istri ku terluka” batin Daniel.
Pesawat menuju Auckland dengan kecepatan tinggi, membawa Rita yang kembali pulang dengan selamat.
_Majorka-3 End_
__ADS_1
_Bersambung_