
Acara ijab qobul berjalan lancar, Farhat mengucapkan janji kepada ayah Lisa dengan lancar dan mantap, seluruh yang hadir mengucap kata
“Sah!!!” dengan kompak
Lisa pun dipanggil untuk menemui suaminya, ia diantar Andien hingga sampai meja tempat penghulu dan suaminya berada. Qowi memperhatikan Andien, lalu matanya mencari Indra yang duduk di bagian tamu lelaki.
“Eh Rit, lihatin indrajit deh, dia ngeliatin Andien tuh” bisik Qowi
“biarin saja, jangan bilang ke Andien”
“Kenapa?” tanya Qowi heran
“Biar dia bisa bersikap wajar, kalau perlu cuek sama Indra. Biasanya cowok itu lambat merasanya. Siapa tahu kan Indra sebenarnya ada rasa juga sama Andien” balas Rita berbisik, Qowi mengangguk.
Tanpa disadari, Rita juga diperhatikan dari jauh oleh Johny, sepupunya Lisa. Ia tidak berani mendekati karena Rita selalu bersama Qowi atau Andien. Setelah pengantin menandatangani buku nikah dan berfoto bersama dan keluarga mereka. Para tamu yang hadir ikut memberikan selamat.
“Selamat ya Lis!, Selamat menempuh hidup baru!” ujar Rita sambil memeluk Lisa
“Terimakasih Rit!” jawabnya, wajahnya terlihat lebih lega. Qowi dan Andien mengucapkan hal yang sama, mereka sangat terharu. Setelah itu mereka melakukan wefie bersama pengantin, lalu bersama para pagar bagus.
Pagar bagus terdiri dari beberapa teman dan saudara Farhat. Dewa, Indra dan Rafi termasuk menjadi pagar bagus. Ada acara menarik untuk pengantin. Pengantin lelaki dan para pagar bagus melakukan tarian K-Pop Idol lagu Dynamite BTS. Lisa sangat terkejut dengan surprise dari suaminya, Rita, Qowi dan Andien bertepuk tangan senang. Para tamu terhibur dengan penampilan pagar bagus. Kini giliran pagar ayu, yang menari Qowi dan Andien, Rita tidak ikut karena ia merasa tidak percaya diri dengan penampilan tarinya, tetapi ia akan menyuguhkan yang lain. Setelah pagar ayu selesai dengan tarian BlackPink –pink venomnya, kini giliran Rita yang tampil. Dewa dan Indra menjadi asistennya, mereka memegang beberapa kayu untuk dipatahkan.
“Hiattt!!! brakk!!!” bunyi kayu terbelah, Rita memukul kayu tanpa ragu.
“Wow!!!” para tamu bertepuk tangan terkagum. Kini Rita akan melakukan tendangan memutar di udara. Kali ini kayu sasaran di letakan agak tinggi. Rita yang memakai celana panjang dibalik gaunnya yang mewah tanpa ragu berlari menuju sasaran dan melompat seperti terbang , lalu menendang sehingga mematahkan kayu sasaran. Para tamu bertepuk tangan riang, penampilan Rita pun selesai.
“Wow!!! Mba ini, tampak anggun tapi ternyata sangar!” ujar MC yang menutup penampilan Rita. Johny yang melihat atraksi Rita, terlihat memucat. Ia tidak menyangka cewek yang ia taksir sangat mahir bela diri dan kuat, beberapa kali ia menelan ludah.
“Hebat Rit! Sentuhan jagoannya belum hilang!” puji Dewa
“Hehehe...makasih kak!” Rita bangga
“Eh Rit, kandungan lo gak apa-apa tuh?” tanya Qowi khawatir
“Eh?” Dewa dan Indra heran
“Gak apa-apa aman kok, kemarin sempat latihan, bayi ini kooperatif!” Rita merangkul Qowi meninggalkan para senpai yang saling bertatapan tidak percaya
“Eh si Rita lagi hamil ? Atraksinya kayak tadi?” ujar Dewa bingung
“Gak tau ah! Orang yang hamil juga gak complain” jawab Indra, ia merasa ngilu sendiri.
“Syukur deh” ujar Dewa tiba-tiba
“Syukur deh kenapa?” tanya Indra
“Syukur deh, gue bukan lakinya Rita, kalau iya, wah bisa copot jantung gue berkali-kali lihat bini gue kayak gitu” ujar Dewa
“Semua ada hikmahnya bro!, lo sudah move on dari dia kan?”
“Insya Allah!, btw Andien gimana ndra?” tanya Dewa
“Sssttt!” Indra menarik Dewa ke tempat sepi
“Kenapa lo? “ tanya Dewa
“Kemarin Andien nembak gue”
“Iya? Wah lo senang dong?” tanya Dewa, tapi dijawab dengan wajah Indra yang berubah lesu
“Kenapa lo? harusnya lo senang kan gebetan lo juga senang sama lo?”
“Yaaa...tapii...gue bego banget Wa!” Indra kelihatan menyesal
“Bego kenapa?”
“Gue kaget tiba-tiba dia bilang, Aku suka sama kakak, menurut kakak gimana?”
“Dia bilang gitu?”
“Iya! Jujur gue kaget, tapi gue merasa ditodong dan panik akhirnya...”
“Jangan-jangan lo tolak ya?” tanya Dewa, Indra mengangguk pelan, lalu menutup mukanya
“Habis gue panik Wa!, baru kali ini ada cewek nembak gue, biasanya kan gue yang nembak!”
“Memangnya lo bilang apa sama dia?”
“Gue menganggapnya adik kecil, gak lebih!” Indra mengatakan sambil menutup mukanya menyesal
“Ya betul!”
“Betul?” tanya Indra heran
“Ya gue setuju sama lo, kalau lo betul-betul bego, bukan bego lagi goblok malah!...selamat bergabung di klub friend zone brother!” ujar Dewa sinis
“Ahhh....masih mending friend zone, mungkin gue bakal jadi enemy zone!” keluh Indra
“Mumpung masih baru, lo samperin gih. Bilang ke Andien kalau lo berubah pikiran! Jangan kelamaan lho, nanti kayak gue, nyeselnya gak habis-habis!”
“Tapi tadi lo bilang?”
“Ya tetap saja! Kalau lo ada hati sama dia, bilang langsung saja. Sebentar lagi lo balik ke asrama kan? Bakal susah ketemu lagi tuh sama dia!” saran Dewa
“Masa gue bilang, Dien, aku berubah pikiran sebenarnya aku juga punya perasaan yang sama kayak kamu! Gitu? Kalau dia marah gimana? Nanti dia malah mikir ‘ih ni orang gak punya pendirian. Nanti kalau berubah lagi gimana?’ kalau begitu gimana Wa?” tanya Indra khawatir
“Yaaa..memang kenyataannya begitu kan? Lo gak jelas. Sudah kelihatan lo flirting sama dia tapi kadang lo belaga sok jual mahal. Gue merhatiin sikap lo ke Andien tuh beda, cuma lo rada jual mahal saja!”
“Terus gue gimana dong Waa?? Gue kan maluuu???” ujar Indra bingung dan resah
“Makanya gue bilang, terus terang saja ke Andien, dari pada lo gak bisa tidur mikirin?”
“Kalau Andien marah gimana? Dia kesal?”
“Itu konsekuensi lo! Lo sih pakai panik segala! Please deh hentikan kebiasaan ngedeketin tapi gak ngejadiin itu bikin kesel tau!”
“Ngedeketin tapi gak ngejadiin maksud lo?”
“Dulu nih, gue sempet jengkel sama lo!, gue mau deketin si Rita, eh lo malah nempel terus sama dia. Ternyata lo gak jadian sama dia, akhirnya Rita diambil Tomi. Gue empet banget sama Lo!” ujar Dewa jengkel
“Kok empet sama gue? Harusnya sama Tomi dong! Kan dia yang jadian sama Rita!”
__ADS_1
“Kan gara-gara Lo ! ibaratnya nih, gue mau beli makanan, eh lo ada diantara makanan dan gue , menghalangi. Akhirnya makanan inceran gue diambil orang. Nah elo itu model kayak gitu!” ujar Dewa lagi
“Lo jadi marah sama gue Wa?” tanya Indra
“Enggak marah! cuma kesel saja!”
“Bedanya apa? lagi pula gak ada Tomi atau gue pun, lo tetap gak dapat Rita kan?” ujar Indra
Dewa meninggalkan Indra sendirian, ia keluar dari tempat itu dan mencari warung terdekat, ia membeli satu batang rokok dan merokok untuk menghilangkan kekesalan.
Tak lama kemudian sebuah mobil velfire putih melewatinya. Karena mobilnya terlalu besar dan tidak tersedia tempat parkir, akhirnya penumpang mobil turun. Dewa mengenali orang itu.
“Eh itu si Daniel” gumamnya. Daniel agak bingung ia kelihatan repot dengan membawa Rafa dan Ranna . Awalnya Dewa ingin bersikap tidak peduli tetapi ia teringat Daniel pernah membantunya ketika di NZ dulu. Akhirnya ia menghampiri
“Hai mr.Daniel!” panggilnya, ia menyalami Daniel dengan ramah.
“Hai , Dewa bukan?” jawab Daniel tersenyum,
“Repot ya?” Dewa melihat kedua anak yang tidak bisa diam
“Iya, tadi mau tidak diajak, tapi mereka ribut mau ketemu maminya” Daniel, menggendong Rafa dan Ranna bersamaan
“Hey, Ranna, Rafa ini Om Dewa!” Daniel memperkenalkan
“Halo!!” Sapa Dewa ramah. Ranna memperhatikan Dewa, lalu tanpa malu ia langsung ingin digendong oleh Dewa
“Eh?” Dewa heran
“Kak Ranna jangan begitu!” tegur Daniel
“He’s handsome!” jawab Ranna sambil memeluk Dewa
“Hahaha...ditaksir anak bayi” Dewa merasa geli sendiri. Daniel lega melihat reaksi Dewa
“Ayo masuk, aku kira Rita sudah menunggu sejak tadi” ujar Dewa. Daniel menggendong Rafa dan Dewa menggendong Rana. Kedatangan Daniel mengundang perhatian orang-orang di situ, terutama kaum perempuan.
Daniel mengenakan kemeja putih dan celana biru dongker, walau sederhana tetapi karena badan dan wajahnya menarik sehingga ia tampak glowing. Setelah mengisi buku tamu ia pun memasuki ruangan
“Rit! Pangeran lo tuh!” ujar Qowi, Rita sedang duduk memegangi perutnya.
“Eh?” ia melihat suami dan kedua anaknya . Rafa melihat Rita, ia langsung minta turun dan berlari menghampirinya
“Mamiii!” teriaknya
“Eh Rafa!” Rita menggendong lalu menciumnya. Sementara Dewa yang menggendong Ranna juga menghampiri.
“Ini satu lagi!” ujar Dewa
“Sini nak sama tante!” ujar Qowi, setelah ia menyalami Daniel
Ranna melihat Qowi lalu ia menatap Dewa, ia ingin tetap bersama Dewa dan memeluknya tanpa mau lepas.
“Jiaahh!!! Nih anak sudah ngerti yang bening!!!” canda Qowi,
Dewa tertawa, Rita juga geli melihat kelakuan anak pertamanya. Dengan lembut ia mengajak Ranna
“Kak Ranna, yuk salam dulu ke tante Lisa!” ajaknya tersenyum, Ranna menurut , ia melepaskan Dewa. Rita mengajak Daniel dan kedua anaknya bersalaman dengan Lisa dan Farhat.
“Selamat ya?” ujar Daniel kepada Lisa dan Farhat
“Terima kasih! Silakan dinikmati makanannya!” ujar Farhat ramah
Selesai berfoto bersama, Rita mengajak Daniel dan kedua anaknya ke meja yang masih kosong, di situ secara bergantian ia mengambil makanan untuk suami dan anak-anaknya. Johny memperhatikannya dari jauh.
“Ah sial, lakinya lebih ganteng!” gerutunya
“Bukan hanya ganteng, tapi juga kaya! Tadi dia naik velfire!” ujar sepupunya yang lain
“eh iya?”
“He eh! Kebanting deh lo! mau jandanya juga gak bakalan dia mau jadi janda” ledek sepupunya yang lain
“Udeh Johny! Gimana sih lo! Elo juga gak jelek-jelek amat! Cari cewek lain! Jangan emak-emak lo incer!” ujar sepupunya lagi
“Gitu ya? tapi cewek lain gak menarik!” jawab Johny bersikeras
“bodo amat!” ujar sepupunya kesal
Selesai makan, Rita berpamitan dengan Lisa dan keluarga.
“Lo balik ke Jakarta Rit?” tanya Lisa
“Enggak, mungkin di sini dulu, bapaknya pengen di sini dulu sampai mulai kerja lagi”
“Eh balik ke Singapura?”
“Enggak! sekarang di Jakarta, beliau pindah kerja!”
“Oh begitu, eh bilangin terima kasih ya sama laki lo!”
“Kenapa?”
“Dia tadi ngasih tiket perjalanan PP Jakarta- Malaysia, sama hotelnya!”
“Eh iya?” Rita kaget
“Iya, lo gak tahu?”
Rita menggeleng
“Ya nanti gue sampaikan! Kita balik dulu ya?” Rita pun pamit meninggalkan acara
“Daaahh!!!” Andien, Qowi, Dewa dan Indra mengantarnya sampai pintu gerbang, Rita , Daniel dan kedua anaknya menaiki motor listrik
“Aku saja yang bawa” ujar Daniel, ia ingin mencoba motor itu
“Tapi kamu kan gak tahu jalan?”
“Kamu kasih tahu, lagi pula kedua anak ini gak bisa diam kalau aku yang pegang” ujar Daniel
Rita menurut, ia dan anak-anaknya duduk di belakang, dan Daniel menyetir motor itu. Awalnya tersendat, tapi lama-lama Daniel bisa menguasai, merekapun pulang.
__ADS_1
“Tadi Lisa bilang terimakasih kadonya!” ujar Rita
“Oh itu sama-sama!”
“Mahal banget itu ya?”
“Oh itu, sebenarnya kemarin aku menang perlombaan, hadiahnya itu, wisata jakarta-genting, sama penginapannya”
“Memangnya kamu gak mau kita pergi ke situ?” tanya Rita heran
“Enggak!, menurut ku Genting –Malaysia terlalu biasa!, aku mau ngajak kamu ke Swiss saja!” ujarnya
“Swiss? Kapan?” tanya Rita girang
“Dua hari lagi!”
“Yeaaayyy!!! Kakak kita ke Swiss!!!” Rita bertepuk tangan kegirangan
“Yeaayyy!!!” ujar Rafa dan Ranna mengikuti.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah
“Mba, bisa tolong tas saya di motor?” tanya Rita kepada ARTnya
“Bu,maaf baju ibu ada nodanya?” tanya ART
“Eh noda apa?” Rita kaget, Daniel melihat celana bagian belakang istrinya
“Yang, kamu mens?” tanyanya
“Eh? Aku kan lagi hamil” Rita menyerahkan Rafa ke susternya, ia segera ke kamar mandi dan memeriksa, Daniel mengikutinya. Setelah beberapa menit ia keluar dari kamar mandi
“Say, antar aku ke rumah sakit” pintanya, ia agak takut, karena atraksi tadi membuatnya pendarahan.
Daniel segera membawanya ke rumah sakit, anak-anak ditinggal bersama neneknya.
Sesampainya di rumah sakit, dokter melakukan USG terhadap kandungan Rita.
“Sebelumnya pernah pendarahan bu?” tanya dokter
“Belum pernah dokter” jawab Rita
“Apa Anda melakukan pekerjaan berat akhir-akhir ini?”
“Tidak dokter”
“Dokter, kedua anak kami terkadang digendong bersamaan apa itu bahaya buat istri saya?” tanya Daniel
“Sebaiknya jangan pak!, takutnya kandungan ini gak kuat”
“Sekarang bagaimana dokter?” tanya Rita agak takut
“Bayinya aman bu, nanti saya beri obat untuk menghentikan pendarahan dan memperkuat kandungan”
“Terima kasih dokter!” jawab Daniel dan Rita.
Karena khawatir, Daniel agak sangsi dengan pendapat dokter di rumah sakit kecil itu, malam harinya mereka kembali ke Jakarta, setelah tiba Rita langsung dibawa ke rumah sakit langganan mereka.
Dokter agak khawatir dengan kondisi Rita, sehingga ia diminta untuk menginap satu hari di rumah sakit untuk observasi. Daniel tidak merasa keberatan.
“Kamu tenang saja ya?” ujarnya sambil memegang tangan istrinya erat, Rita memegang tangan suaminya
“Maaf ya, ngerepotin kamu!” ujarnya
“Gak apa-apa, yang penting kamu sehat!” ujar Daniel, ia mencium kening istrinya.
Daniel tidur di kamar rumah sakit menemani istrinya, malam itu, Rita menangis pelan, ia menyesal melakukan atraksi yang membahayakan kandungannya. Ia terus berdoa semalaman, agar tidak terjadi apa-apa pada kandungannya.
“Maaf ya Nak, mama bodoh sekali!” tangisnya pelan sambil mengusap perutnya.
Keesokan paginya, ia kembali diperiksa. Kandungannya di USG kembali.
“Sudah normal bu, pak, mungkin selanjutnya hindari pekerjaan berat ya? atau aktivitas seperti berlari, memanjat, senam yang berlebihan”
“Kalau gak senam saya jadi gendut gimana dok?” tanya Rita
“Gerakannya jangan yang ekstrem, Yoga untuk ibu hamil saja lebih aman. Bukankah anak pertama dan kedua ibu juga melakukan Yoga?” ujar dokter
“Iya dok, tapi biasanya waktu anak pertama dan kedua saya gak pendarahan?” tanya Rita
“Mungkin kondisi anda kelelahan, atau banyak pikiran, sehingga bayinya stress kan bisa”
“Dokter, dua hari lagi kami ke Swiss, aman gak untuk bayi kami?” tanya Daniel
“Aman sih, asal minum obatnya teratur ya? dan untuk sementara jangan berhubungan dulu. Karena ditakutkan akan kontraksi.”
“Baik dokter, terima kasih banyak!”
Rita dan Daniel pun kembali pulang.
“Maaf ya Sayang!” Rita menggenggam tangan suaminya dan menciumnya selama perjalanan pulang ke rumah. Daniel membalasnya dengan mengusap punggung istrinya dan merangkulnya dengan sayang. Sesampainya di rumah
“Bagaimana kondisi mu?” tanya Ratna
“Sudah baik ma, kata dokter bayinya stres” jawab Rita
“Kok bisa stress? Memangnya kamu apain?” tanya Ratna, Rita diam saja. Ia menemui kedua anaknya.
“Kalian baik-baik saja kan?” tanyanya sambil memeluk kedua anaknya
“Kak Ranna, abang Raffa kemari!” tiba-tiba Daniel memanggil kedua anak batitanya dengan suara tegas
Ranna dan Raffa menghampiri papinya
“Dengarkan ya? mulai sekarang jangan minta gendong sama mami bersamaan! Kalian kan sudah bisa jalan? Mami sakit. Adik di perut mami kesakitan kalau gendong kalian!” ujar Daniel
Rita agak geli melihat adegan itu, selain kedua anak masih belum ngerti, tapi juga itu karena kesalahannya. Kedua anak yang diberitahu papinya menggangguk seolah mengerti.
“Sekarang peluk papi!” pinta Daniel. Keduanya memeluk papinya
“Anak baik!, kalau sama papi digendong bersamaan gak apa-apa tapi kalau sama mami, no!!” ujar Daniel sambil mencium kepala kedua anaknya.
__ADS_1
_bersambung_