Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 271: UJian


__ADS_3

“Kak Ranna kemari!” Rita memanggil anak pertamanya


“Ya mi?” dengan langkah lucu, bocah 2 tahun itu menghampiri maminya


“Mulai sekarang kak Ranna minum susu nya yang sudah mami sediakan di sini ya?” Rita menunjukkan kaleng susu formula rekomendasi dokter. Ranna menggeleng, menolak


“No!”


“Enak kok kak, kemarin mami taruh di botol kak Ranna, habis kan?” , Ranna mengalihkan pandangannya seolah menghindari dari tatapan maminya.


“Kak Ranna, kalau sedang ngomong sama mami, lihat ke mami!” Rita menggendongnya dan menaruh Ranna di atas meja menghadapnya


“Ya Mami” Ranna menatap mata Rita


“Kakak minum susu yang ini ya? jangan yang ada di kulkas, itu untuk adek Raffa dan Rayya”


“Napa?”


“Kakak kan sudah lebih besar, kalau minum susu mami kakak gak akan besar-besar!”


“tapii...”


“Kak Ranna nurut apa kata mami ya? kalau mami dengar kak Ranna ambil susu adek lagi, nanti mainan kak Ranna mama buang!”


“Nooo!!!” wajah Ranna terlihat sedih


“Makanya, nurut apa kata mami, oke?”


Daniel yang sedang menggendong Rayya pagi itu merasa kasihan dengan Ranna


“Gak apa-apa lah mi, toh susu mami masih banyak” ujarnya sambil memberi susu pada Rayya


“Enggak! kak Ranna sudah 2 tahun!, sudah harus berhenti menyusu, sebentar lagi dek Raffa juga!”


Ranna hendak merengek, tetapi ia tahu ketegasan maminya lebih menakutkan dari pada papinya.


“Ngerti ya Kak? Susu untuk kakak yang mana?” Rita mengecek pemahaman anaknya, Ranna menunjuk kaleng susu di sebelahnya


“Pinter, anak sholeha, sekarang peluk mami!” Dengan agak segan Ranna memeluk maminya kemudian turun dari meja ia berlari ke depan TV untuk bergabung dengan Raffa yang sedang rebahan sambil menonton film kartun.


“Kamu ke kampus jam berapa?”


“Jam 8, ujiannya dimulai jam 9” jawab Rita sambil melihat ke jam tangannya


“Selesai ujian jam berapa?”


“hmm...hari ini ada 3 mata kuliah, masing-masing 2 jam, jadi kira-kira aku selesai jam 3 sore!”


“Wah lama juga ya? untuk aku dan anak-anak sudah disiapkan?”


“Sudah dong! Kemarin aku minta dari cafe untuk mengirim makan siang kemari untuk kalian pokoknya semua sudah aku atur deh!”


Daniel mengangguk, ia meletakkan Rayya di kursi goyang bayi menghadap ke TV


“Mau aku antar?” Daniel menawarkan diri


“Gak usah! Lebih gampang naik taksi, lagi pula aku lebih tenang kalau kamu ada di sini bersama anak-anak!” Rita mengecek lagi tasnya


“Kamu bawa pompa ASI?” Daniel memperhatikan bawaan tas istrinya


“tentu dong! Selain aku pakai penampung, kalau sedang istirahat aku memompa ASI ku, supaya susunya tidak terbuang percuma. Aku pernah melihat seorang ibu dadanya basah karena ASInya rembes. Aku mikir ih sayang banget, padahal bisa dapat 1 botol itu”


“Kalau ASI mu bisa sebanyak itu kenapa Ranna dilarang untuk minum ASI?”


“Ranna kan sudah 2 tahun, dia membutuhkan tambahan gizi lebih baik dari ASI ku, susu yang aku beli untuk Ranna direkomendasikan oleh banyak dokter anak lho. Mahal! Aku mempelajari dulu isinya, lalu membaca beberapa referensi tentang susu formula ini. Sebenarnya sudah aku cobakan ke Ranna beberapa kali dan dia suka”


Daniel termangu mendengar penjabaran panjang dari istrinya


“Ranna sudah pernah meminumnya?”


“Sudah, aku membuat sufor lalu aku taruh di botol ASInya, dia minum. Dan aku perhatikan tidak ada reaksi alergi atau apa pun, jadi susu ini aman untuk Ranna”


Daniel mengangguk


“Oke, aku berangkat ya?” Rita mencium tangan suaminya, lalu mencium kepala anaknya satu persatu


“Mami mau kuliah dulu, kalian sama papi ya? jangan nakal oke?”


Semua anaknya menatap matanya


“Ya mami!” jawab Ranna dan Raffa bersamaan


“Yeee!!” jawab Rayya


“ah adek!” Rita menggendongnya sejenak dan menciuminya gemas. Lalu ia keluar dari apartemennya.


“Oke anak-anak, mami sudah pergi kita ngapain ya hari ini?” tanya Daniel. Kedua anaknya malah mengambil bantal lalu tiduran di depan TV. Sementara para suster sedang sarapan pagi.


“Ah kalian ini!” akhirnya Daniel hanya mengambil Rayya dan membawa ke ruangan kerjanya. Sementara Rita menaiki taksi menuju kampusnya.


Tiga puluh menit kemudian ia telah tiba di kampus, para siswa juga sibuk mencari ruangan ujian mereka.


(Dalam bahasa Inggris)


“Hai!” seorang wanita muda menegur Rita, ia juga baru keluar dari taksi yang mengantarnya


“Hai!” jawab Rita sambil membayar taksinya


“Kamu mengambil kelas hukum profesor Xavier juga?” tanya wanita itu


“iya, kamu juga? Dapat ruangan berapa?”


“401”


“Sama dengan ku kalau begitu, ayo kita bareng ke sana!” ajak Rita


“Aku Cindy!”


“Hai Cindy, aku Rita! Senang berkenalan dengan mu!” mereka berjabat tangan


Rita memperhatikan Cindy, wajahnya oriental , wajah orang Singapura.


“401 itu di lantai 4” ujar Cindy, Rita mengangguk mengiyakan, mereka menaiki lift. Beberapa menit kemudian mereka sampai di ruangan lantai 4


“nomor aku di sini” Cindy menunjukkan nomor ujian dan tempat duduknya


“Oh itu karena kamu huruf C ya? Aku R, di atas!”


“Rita!!!” seseorang memanggilnya dari tempat duduk bagian atas. Bentuk ruang kelasnya berundak-undak . Seperti mangkok, makin ke atas tempat duduknya semakin banyak


Rita mendongak,


“Hai!”


“Sini!”


“Cindy aku ke atas ya?”


“Oke!” Cindy tersenyum, dengan semangat Rita menaiki tangga menuju tempat duduknya


“Kita barengan lagi!” ujar wanita yang memanggilnya tadi


“Iya Maria! “ Rita tersenyum.

__ADS_1


“Eh Rit, aku duduk dua bangku di depan kamu!”


“Oh ya? kok bisa beda dari yang kemarin?”


“mungkin karena sesuai abjad!”


Beberapa menit kemudian, pengawas ujian datang dan membawa soal ujian.


“Tolong ponselnya di matikan!” pinta pengawas


Semua peserta ujian mematikan ponselnya, keadaan dalam ruang kelas sungguh sunyi hanya terdengar suara langkah pengawas membagikan soal.


“Seperti ASMR!” Bisik Maria sambil menoleh ke arah Rita. Ia hanya tersenyum menanggapi.


“Waktu ujian 90 menit, segala bentuk kecurangan tidak akan ditolerir. Jadi jika anda curang di ujian ini, Anda akan langsung dicoret keikutsertaannya di mata kuliah ini dan tidak boleh mengikutinya lagi selamanya!”


“Wahhh...seremmm!!!” bisik para peserta


“Ujian dimulai!”


Rita menggeleng-geleng membaca model soal


“Semua tentang pendapat, bagaimana curangnya?” gumamnya. Ujian hanya terdiri dari 8 soal, tetapi semua soal dalam bentuk uraian kasus yang pernah dibahas sebelumnya. Rita mengingat-ingat kasus yang pernah dibahas oleh sang profesor, dan menuliskan analisa dan pendapatnya.


Pukul setengah sebelas, ujian selesai. Para pengawas ujian berkeliling mengambil lembar jawaban ujian setelah itu keluar dari ruangan.


Maria menghampiri Rita yang sedang membenahi perlengkapan tulisnya


“setelah ini kamu ujian apa?” tanya Maria


“Ekonomi bisnis, kalau kamu?”


“Aku sudah selesai hari ini, jadi aku duluan ya?”


“Oh baiklah Maria, sampai ketemu besok!”


Maria pergi meninggalkan ruangan, sementara Rita membuka ponselnya. Tak lama pesan dari suaminya masuk,


“Sudah ujian pertama?” tanya Daniel


“Baru selesai!”


“Bisa?”


“begitulah! Mudah-mudahan sesuai dengan harapan” jawab Rita


“Ujian kedua kapan?”


“Sebentar lagi, aku pindah ruangan lagi”


“Oh oke!”


“Kamu sudah makan?” tanya Rita


“Sudah!, tuh!!!” Daniel menunjukkan foto dirinya dan anak-anak yang sedang main di play ground


“Kamu gak kerja?”


“Kantor ditutup, semua aktivitas dihentikan dua hari ke depan, tadi Samuel mengirim pesan”


“Wow! Asyik sekali!”


“Hehehe...pas banget ya?”


“Baiklah sayang, sudah waktunya aku pindah kelas ya?”


“Semoga berhasil!”


“Terima kasih!” Rita tersenyum dan memasukan ponselnya ke dalam tas. Ia tidak memperhatikan seseorang memperhatikannya sejak ia masuk ke kelas tadi


“Maaf ini ujian Ekonomi bisnis?” tanya nya pada pengawas ujian yang telah berada di ruangan


“Iya? Nama Anda?”


“Rita Kang ups Rita Darmawan!” Ia menyerahkan kartu ujiannya, pengawas mengecek kartu ujian Rita, kemudian memberikan soal dan lembar jawaban


“Silakan mengambil tempat di mana saja!” ujar pengawas


“Terima kasih!” Rita mengambil tempat duduk di baris kedua dan mulai mengerjakan soal


Tak terasa 90 menit telah berlalu ujian ketiga satu jam lagi. Rita berlari mencari tempat kosong untuk sholat dzuhur. Setelah sholat, ia membuka bekal makanannya dan mulai menyantapnya. Ia mengirimkan gambar makan siangnya ke ponsel suaminya.


“Lagi makan siang” dalam caption gambarnya


“Yummy!, aku makan kiriman cafe !”


“Syukurlah! Anak-anak?”


Daniel menunjukkan foto anak-anak yang sedang tidur siang karena kelelahan sehabis bermain


“lucu sekali mereka!” Rita mengirimkan emoji hati pada gambar anak-anak mereka


“Maaf!” seseorang menegurnya


“Ya?”


“Anda bu Rita, istrinya pak Daniel bukan?” tanya pria muda itu


“Hmm...iya? Anda??”


“Perkenalkan saya Eddy, dulu saya salah satu staf di timnya pak Daniel”


“Maaf, Daniel mana yang Anda maksud ya?” Rita ingin mengecek latar belakang orang yang mendekatinya


“Oh iya, Daniel Kang dari Dar.Co”


“Bagaimana Anda mengenal saya?”


“Saya pernah menjadi lawan Anda di perlombaan Dar,Co dulu. Setelah tim saya kalah telak dari timnya pak Daniel, saya minta dipindah menjadi anggota timnya”


“Oh begitu, tadi nama Anda siapa?”


“Eddy, Eddy Roosevelt”


“Roosevelt yang USA?”


“Oh bukan! Beda jauh!” Eddy tersenyum, ia terlihat lebih tampan jika tersenyum,


“Anda kuliah di sini juga?” tanya Rita


“Iya, bahkan saya tadi mengikuti mata kuliah profesor Xaffier”


“oh ya? E, berarti tempat duduk huruf E di depan”


“Oh ya bu Daniel, bagaimana kabar pak Daniel?”


“Panggil saya Rita saja, suami saya baik-baik saja!”


“Syukurlah! Jujur saja saya kecewa mendengar beliau keluar dari Dar.co”


Rita hanya mengangguk saja menanggapinya


“Oh iya bu Rita, sudah waktunya ke ruangan ujian!”

__ADS_1


“Apa mata kuliah kita sama lagi?” tanya Rita heran


“Eh? Saya ujian Ekonomi penerapan?”


“Sama juga kalau begitu, ayo kita ke ruangan!” ajak Rita


Mereka bercakap-cakap akrab menuju kelas, dan berpisah di karena nomor ujian yang berbeda.


Sembilan puluh menit kemudian ujian selesai, Eddy menghampiri Rita


“Anda mau pulang?” tanyanya ramah


“Tentu!, sebenarnya suami saya sudah menjemput” ujar Rita beralasan, ia sengaja mengambil jarak pada Eddy yang terlihat sok akrab padanya


“OH begitu!” Eddy tampak kecewa


“Apa Anda ingin bertemu suami saya?” tanya Rita menawarkan


“Oh tidak, saya pikir beliau akan melupakan staf kecil seperti saya, baiklah Rita saya tidak akan menganggu Anda lagi” Eddy pergi meninggalkannya. Rita segera memesan taksi dari ponselnya, beberapa menit kemudian ia keluar dari kampus dan pulang ke apartemennya


Eddy memperhatikannya dari kejauhan


“Dijemput suami ya?” gumamnya kesal sambil melempar sisa rokok yang telah ia hisap


Sesampainya di apartemen, waktu menunjukkan pukul 16.30


“Assalammu’alaikum!!” sapa Rita pada anak-anaknya yang telah rapi dan duduk tertib di depan TV


“Wa’alaikummussalam!” jawab Daniel, ia mengenakan apron dan menghampiri istrinya dan mencium pipinya


“Kamu masak apa? bukannya tadi orang cafe sudah membawa makanan kemari?” tanya Rita heran


“Oh ini, tadi tiba-tiba aku ingin masak nasi goreng kimchi. Jadi sepulang dari play ground, kami berbelanja sedikit. Kamu pasti capek dan lapar. Ayo dicoba masakan ku!” Daniel menarik tangan istrinya. Rita menaruh tasnya di sofa, kemudian mengikuti suaminya ke dapur


“Hmm...enak!” ia mencoba sesuap


“Beneran enak?”


“Beneran, aku mau dooonggg!!” Ia mengambil 2 piring dan minta dituangkan


Daniel menuangkan nasi goreng kimchi ke piring istrinya dan piringnya. Mereka berdua makan dengan lahap. Raffa menghampiri Rita


“Mami?”


“Ya?”


“May i taste?”


“Nih, cobain sedikit” Rita menyuapi sedikit nasi ke Raffa


“huk...uuhukk.....spicyyy!!!” Raffa mengambil air dingin dari kulkas


“Kamu gimana sih, kan nasi ini lumayan pedas!” Daniel melihat ke istrinya dengan wajah sebal


“Kan dia mau cobain, ya gak apa-apa.” jawab Rita tersenyum lalu kembali melahap nasinya.


“masih kepedasan bang?” tanya Daniel melihat Raffa terus minum air dingin dari kulkas


“Abang lebay ah!” Rita mengambil coklat dari freezer


“Nih bang, kulum ini” Raffa menurut, coklat melumer di lidahnya dan menghapus rasa pedas di lidah


“I want chocolate!” ia meminta lagi


“Kamu sudah makan sore ini belum?” tanya Rita


“Belum bu! katanya menunggu ibu datang!” jawab salah satu suster


“Kalian ini, kebiasaan!” Rita bangkit dan mengambil makanan bayi yang sudah ia siapkan , lalu memasukkan ke microwave dan memanaskannya


“Oh itu makanan anak-anak” Daniel memperhatikan istrinya


“Iya, aku sudah buat untuk anak-anak, sebenarnya kak Ranna sudah tahu kan makanannya di mana?” ujar Rita, tetapi kelihatannya Ranna bersikap malas


“Anak itu suka seenaknya!” gumam Rita melihar tingkah anak perempuannya


“Sayang, Ranna kan masih 2 tahun, jangan terlalu keras padanya!” ujar Daniel mengingatkan


“Iya sih, aku sering lupa. Karena terkadang ia bertanya layaknya orang dewasa, aku jadi sering berpikir anak ini bisa mandiri di usianya sekarang”


“Gak usah buru-buru lah! Kita nikmati saja masa kecil anak-anak!” ujar Daniel, ia mengambil piring kotor, lalu mencuci bekas makannya dan membersihkan dapur hingga kinclong


Rita mandi dan berganti pakaian, ia memindahkan ASI yang berhasil ia tampung seharian tadi.


“Dapat berapa botol?” tanya Daniel


“Lima!”


“Wow! Dan itu tidak ada kebocoran sama sekali?”


“Enggak ada donggg!!” ujar Rita bangga sambil menulis tanggal dan jam ASI dipompa dan meletakkan di freezer


“Besok berapa mata kuliah lagi?” tanya Daniel, ia menarik Rita duduk di sofa bersamanya.


“Besok dua lagi, setelah itu libuuurrrr...yeaaayyy!!!!” Rita mengangkat Rayya ke atas


“Berapa lama kamu libur kuliah?”


“Sebulan? Kan libur semester!”


“Kalau begitu, kamu ikut aku ke Swiss saja!”


“Ke Swiss?”


“Iya, aku harus ke Swiss selama dua minggu”


“Kapan?”


“Kalau gak Senin selasa ini deh!”


“Seh senin minggu depan?”


“Iya!”


“Asyiikk...aku ikut ah!! Suster!! “ Rita memanggil kedua suster anaknya


“Ya bu?”


“Minggu depan kita ke Swiss, ada yang bisa ikut gak?”


“Swiss? Swiss luar negeri bu?”


“Iya!, memangnya Swiss mana lagi?”


“Saya ikut ah bu!” ujar Suster Erna


“Saya juga bu!” ujar Suster Rini


“Kalau begitu, saya minta paspor kalian, untuk diurus visanya!” ujar Daniel tersenyum


“Yeaayyy....akhirnya kita ke Swiss!!!” Rita bersorak senang.


Anak-anak ikut gembira melihat maminya gembira

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2