
“Pak Daniel, Anda mengajukan lamaran untuk menjadi perwakilan Lexington di Jakarta?” tanya HRD pada sesi wawancara
“Betul pak!”
“Kenapa tidak mengajukan untuk menjadi kepala cabang di Singapura?”
“Saya pikir sudah ada para senior yang lebih cocok dari saya.”
“Apa yang bisa Anda tawarkan sebagai perwakilan Lexington di Jakarta?”
Daniel menjawab pertanyaan HRD dengan lancar dan membuat tim HRD terkesan dengan presentasinya.
“Bagaimana dengan hubungan Anda dengan kakek mertua Anda?”
“Maksud Anda?”
“Jika Anda menjadi perwakilan kami di Jakarta, maka Anda akan bersaing dengan perusahaan milik kakek mertua Anda?”
“Soal itu telah kami bicarakan, dan kakek mertua tidak keberatan. Dan menjadi bagian dari Lexington akan menjadi karier saya selanjutnya”
“Pak Daniel, antara kita saja. Anda tahu kan, jika Anda kami terima menjadi bagian dari Lexington, kami tidak akan mempermudahnya bagi karir Anda, meskipun prestasi Anda di Dar.Co Singapura 2 sangat mengesankan?”
“Saya tahu pak, saya pikir itu akan menjadi tantangan bagi saya”
“Baiklah pak Daniel, kami akan menghubungi Anda untuk hasil wawancara ini” tim HRD menyudahi interview
“Kira-kira kapan saya akan mendapatkan jawabannya?”
“Mungkin dalam satu atau dua minggu ini, karena kami masih melakukan interview pada beberapa kandidat”
“Baiklah, saya tunggu kabarnya!” Daniel menyalami tim HRD dan keluar dari ruangan tersebut.
Hari itu Daniel menghadiri pembubaran tim kerja lantai 20.
“Teman-teman, saya mengucapkan terima kasih atas kerjasamanya selama ini. Alhamdulillah proyek kita selesai tepat waktu walaupun mengalami penundaan karena kebakaran lantai kita”
“Kami sangat sedih kali ini kami harus benar-benar berpisah dari Anda pak Daniel” ujar Eddy sebagai wakil perwakilan para staf Dar.Co
“Benar pak, apa pak Daniel tidak mempertimbangkan lagi untuk bergabung dengan kami di Dar.Co Singapura 1?” tanya Emilia
“Saya ingin menetap di Jakarta tempat istri saya, itulah sebabnya saya memilih Lexington penempatan di Jakarta, sedangkan Dar.Co Jakarta, tidak bisa memfasilitasi itu”
“Hmm...begitu ya pak? Bagaimana jika kami merindukan pak Daniel?” tanya salah satu staf yang memberanikan diri mengungkapkan perasaannya.
“Kita bisa tetap berhubungan melalui group WA, siapa tahu entah kapan kita bisa mengadakan family gathering” ujar Daniel tersenyum, ia juga sedih harus berpisah dari tim solidnya.
Acara perpisahan itu berakhir sore hari sebelum jam malam berlaku, Daniel kembali ke apartemennya.
“Bagaimana interview dan perpisahan hari ini, Sayang?” tanya Rita, ia menyambut suaminya
“Lumayan, Aku pikir mereka akan menerima ku” Daniel segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan berganti pakaian, setelah itu ia menghampiri anak-anaknya yang sedang bermain.
“Kak Rana, Dek Rafa, kalian ngapain saja hari ini?” tanya Daniel, sambil merebahkan dirinya di dekat anak-anaknya. Tanpa pikir panjang kedua anaknya langsung menimpa tubuh papinya
“Wuaahhh!!! Kalian beraninya main keroyokan ya???” Daniel berusaha keluar dari himpitan kedua anak batitanya sementara Rita menyiapkan makan malam untuk mereka.
“Yuk, makan Pi!” ajak Rita. Daniel segera menggendong kedua anaknya dan meletakan mereka di kursi bayi
“Ha...ha..ha...” Rana dan Rafa tertawa geli karena digendong seperti membawa tas oleh papinya, Rita menggeleng-geleng melihat kelakuan suaminya.
“Besok, kamu masih ke kantor?” tanya Rita sambil menyuapi Rana dan Rafa bergantian
“Aku harus mengambil beberapa berkas di sana” jawabnya sambil melahap makanannya.
“Kamu yakin akan menetap di Jakarta?”
“Tentu!, Aku ingin tinggal di negara mu!” jawab Daniel mantap
“Hmm..apa kamu yakin akan diterima di Lexington?” tanya Rita ragu
“Kenapa kamu gak yakin sama suami mu ini?”
“Bukan begitu, bagaimana pun juga kamu ex-CEO Dar.Co dan juga cucu mantu pemilik Dar.Co, mungkin mereka akan menganggap mu sebagai mata-mata”
“Mata-mata? Hahaha! Kamu itu terlalu banyak nonton film MI jadi pikirannya begitu terus. Lexington itu perusahaan besar skala internasional, mereka akan lebih memilih kinerja profesional dibandingkan hubungan keluarga”
“Itu sebabnya kamu memilih Lexington?” tanya Rita lagi, Daniel mengangguk
Seminggu sebelumnya di Jakarta. Daniel menemui kakek Darmawan di lantai 3 ruang kerjanya.
“Daniel, kamu yakin akan meninggalkan Dar.Co?”
“Yakin Kek, saya sudah memikirkannya lagi pula kalau Lexington menerima , saya akan di tempatkan di cabang Jakarta”
“Kenapa kamu gak tertarik menjadi kepala cabang Dar.Co Singapura? Kamu tahu kan karena jasa mu Dar.Co Singapura berhasil lepas dari tuduhan kejaksaan, kalau kamu melamar mereka pasti akan segera menerima mu tanpa ragu”
“Sebenarnya, dokumen bukti itu dikirimkan ke saya oleh Om Radian, sebelum beliau kecelakaan.” Daniel memberikan flash disk ke Darmawan
“Apa karena ini, Radian harus meninggal dan lantai 20 hangus terbakar?” tanya Darmawan sambil memegang flash disk tersebut
“Mungkin Kek, tapi karena bukti itulah Dar.Co bisa lepas dari tuduhan”
“Niel, apa sulit menjadi cucu mantu ku?” tanya Darmawan tiba-tiba
“Huh, maksud kakek?” Daniel bingung dengan pertanyaan kakek mertuanya
“Apa menjadi cucu mantu ku itu begitu sulit sehingga kamu menolak jabatan penting di cabang perusahaan ku?”
“eh? Hmmm..sebenarnya bukan begitu kek, aku hanya ingin pekerjaan ku diakui karena kemampuan ku bukan karena aku cucu menantu kakek”
“Apa Rita tahu tentang pilihan mu ini? Kalian sudah membicarakannya?”
“Rita mengetahui pilihan saya kek, dia bilang akan mendukung apapun yang menjadi pilihan ku!”
“Begitu ya? cucu ku itu betul-betul sayang sama kamu Niel. Kalau dia bilang begitu berarti dia memilih mu daripada kakeknya. Saya harap kamu selalu menjaga dan tidak mengecewakannya”
“Insya Allah kek!” jawabnya tersenyum, kemudian ia kembali ke lantai bawah.
“Assalammu’alaikum!!” sapanya riang
“Wa’alaikummussalam!” Rita menjawab sapaan suaminya yang langsung masuk ke kamar mereka yang megah.
“Anak-anak mana?” tanyanya
“Masih di lantai 3, main sama uwa dan neneknya” jawab Rita
Lantai 3 rumah besar itu di peruntukan untuk kamar kakek Darmawan, Andi, Ratna serta Mario.
“Ada makanan apa? tiba-tiba aku lapar” tanya Daniel, ia duduk di meja makan .
Kamar Rita dan Daniel memang berkonsep kamar rumah, artinya di dalam kamar megah tersebut sudah terdapat fasilitas layaknya rumah, seperti dapur, ruang makan, ruang laundry, ruang tidur utama dan ruang tidur anak-anak.
Rita mengambil makanan dari lemari pemanas, dan menyediakannya di meja makan.
“Aku menyimpan sayur dan lauknya agak berlebih, aku takut kelaparan” ujarnya
Daniel menyantap makanan yang disediakan, Rita menemaninya sambil merajut.
“Kamu berniat bikin apa?”
“Aku ingin bikin topi, lalu sweater” jawabnya, ia merajut dengan tekun
“Apa itu keinginan anak dalam perut mu atau keinginan mu?” tanya Daniel, Rita kini sedang hamil anak ketiga, usia kandungannya beranjak 3 bulan.
“Mungkin keinginan anak ini, entahlah aku begitu menyukai video tutorial merajut dan sampai masuk ke dalam mimpi”
__ADS_1
“Hmm...minggu depan Aku harus ke Singapura untuk wawancara kerja dengan Lexington, kamu mau ikut?”
“Ikut dong!”
“Gak apa-apa dengan bayinya?”
“Masih 3 bulan, masih aman. Oh iya setelah dari Singapura aku ingin datang ke pernikahan teman ku di Sukabumi”
“Oh ya? siapa?”
“Lisa!”
“Si pandai? Dengan siapa ia menikah?”
“Dengan pacarnya yang dulu, Farhat”
“Tetangga dan juga kakak kelas kan?”
“Iya betul! Kamu ingat ya?”
“Tentu!, Aku punya ingatan yang cukup kuat, itu karena kalau ada yang bercerita aku membayangkannya sehingga aku bisa ingat”
“Oh begitu, jadi kamu gak keberatan kan aku datang?”
“Apa kamu akan menjadi tamu atau menjadi salah satu panitia?”
“Tugas ku hanya menjadi bride maid”
“Apa para senpai mu datang juga?”
“Tentu, mereka kan teman-temannya Farhat”
“Kapan waktunya?”
“Kamu mau ikut?”
“Kamu keberatan aku ikut?”
“Enggak, tapi nanti kamu jaga anak-anak ya?”
“Eh, kamu gak mau bawa anak-anak ke pesta itu?”
“Enggak dong, akan merepotkan!”
“waduhh..”
“Kamu kenapa? Takut anak-anak menyusahkan ya?”
“bukan begitu, aku takut maminya banyak yang mendekati kalau dia tidak bawa anak!” jawab Daniel khawatir
“Ah kamu bisa saja memuji!” Rita tersenyum
“Ini beneran! Aku was-was kalau melihat kamu berkebaya tanpa menggendong anak, nanti disangkanya kamu masih single”
“Enggak lah, memangnya kamu gak bisa melihat tubuhku yang sudah mekar seperti ibu-ibu?”
“Masa sih? Kamu kelihatan seperti masih gadis , mungkin karena kehamilannya masih 3 bulan, jadi belum terlihat”
“Apa ini rencana mu supaya aku hamil terus?” tanya Rita curiga
“Ranna sudah setahun lebih, Rafa juga sudah bisa berjalan, sudah waktunya memberikan adik buat mereka kan?”
“Tapi ini terlalu cepat, kamu bilang setidaknya berjarak 2 tahun kan?”
“Ya, anggap saja rejeki tak terduga, sebenarnya aku juga heran sama kamu, biasanya kamu gak pernah lupa minum pil KB sebelum atau sesudah berhubungan”
“Aku melewatkan jadwal kontrol dengan dokter kandungan, itu karena Rafa demam”
“Nahh..jadi memang sudah takdir. Oh iya kira-kira laki-laki atau perempuan?”
“Tentu dong, aku sudah mengajarkan Ranna dengan memanggilnya kakak, dan Rafa dengan abang”
“Aku jadi kepikiran tentang kamu yang menemukan bukti menyangkal tuduhan jaksa”
“Iya, aku juga kaget. Kok bisa ya? terjadi begitu cepat. Tiba-tiba aku mengingat beberapa dokumen yang aku baca sebelumnya”
“Kamu sampai mengingat jenis dokumen, halaman sampai paragrafnya?”
“Iya betul!, aku harus berterima kasih pada instruktur yang melatihku mengingat saat pelatihan di interpol dulu”
“iya, instruktur itu seperti guru mereka pahlawan tanpa tanda jasa!”
“Huh? Aku sudah selesai” Daniel mencuci bekas makannya, lalu duduk di ruang tamu menyalakan TV.
Tak berapa lama, kedua anaknya datang menghambur, diikuti kedua baby sitternya.
“Kalian sudah makan?” tanya Rita kepada kedua baby sitter
“Belum bu!”
“Sudah waktunya istirahat, kalian silakan makan siang biar anak-anak bersama papinya” ujar Rita
“Baik bu!” kedua baby sitter meninggalkan ruangan mereka, sedangkan Ranna dan Rafa mendekati Rita yang sedang merajut
“Ini apa mi?” tanya Ranna
“rajutan!”
“Rajut? Tali?” tanya Rafa
“Tali, benang!” jawab Rita
“untuk apa mi?” tanya Ranna lagi
“Mami mau buat topi untuk adek!” jawab Rita
“Adek!” Ranna menunjuk Rafa yang sedang memainkan benang rajut
“Bukan adek Rafa, adek di perut mami!” jawab Rita sambil menunjuk perutnya
“Ada adek mi?” tanya Rafa, ia menyenderkan kepalanya ke perut Rita
“Ada! Dulu kak Rana dan bang Rafa juga ada di perut mami” jawab Rita
“Di sini?” Ranna memukul perut Rita
“Jangan kak!” larang Rafa
“Iya kak! Nanti adek sakit!” jawab Rita, Ranna menghentikan pukulannya, lalu ia turun dari kursi dan menghampiri papinya yang sedang nonton TV
“Papi!” Ranna naik ke sofa dan menyender ke tubuh papinya
“Apa nak?” Tanya Daniel, ia memangku Ranna dan mencium kepalanya
“Pi, ada adek di perut mami!” ujar Ranna memberitahu, Rafa mengikuti kakaknya, ia menghampiri papinya
“Adek di mami, di sini ada gak?” tanya Rafa sambil memukul perut Daniel yang kenyang setelah makan
“Aduh! Sakit dong bang!” larang Daniel
“maaafff...ya dek!” ujar Rafa sambil memegang perut Daniel
Daniel dan Rita tersenyum geli melihat kelakuan anak-anaknya.
“Di perut papi gak ada adek bang!, adek adanya di mami!” ujar Daniel menerangkan
__ADS_1
“Jadi ini apa?” Ranna memukul perut papinya
“Aduhhh..sakit kakak!!” Daniel berpura-pura pingsan
“Haaa..papiii!!!” panggil Rafa ketakutan melihat papinya pingsan, sementara Ranna cuek, ia mengambil remote TV dan memindahkan chanel TV ke Coco Melon
“Hey Kakak, kamu gak takut papi sakit?” tanya Daniel heran, Ranna melihat ke papinya lalu kembali menonton Coco Melon , Rafa perhatiannya kini tertuju ke tayangan anak-anak, ia tidak mempedulikan papinya lagi.
“Anak-anak ini! Kenapa pada cuek begini sih?” gerutu Daniel, Rita melirik suaminya, lalu tiba-tiba ia berpura-pura
“Aduuh!!!” ia seolah-olah tertusuk jarum, lalu pelan-pelan menjatuhkan diri ke lantai, melihat maminya kesakitan di lantai, seketika Ranna dan Rafa berhamburan menghampiri maminya, Ranna dan Rafa langsung mengerubungi maminya
“Mamiii!!” tangis keduanya, Daniel melihat kedua anaknya yang menangis melihat maminya kesakitan, lalu menghampiri istrinya
“Kamu gak apa-apa?” tanyanya khawatir,
“Enggak apa-apa, Cuma kaget saja!” jawab Rita, ia mencium dan memeluk kedua anaknya erat
“Mami gak apa-apa sayang!” ujarnya menenangkan, kedua anaknya berhenti menangis, lalu kembali menonton , Daniel terlihat sangat cemburu.
“Kenapa mereka tidak begitu sama aku?” gerutunya
“Itu karena mereka merasa asing sama kamu!”
“Tapi kalau malam aku kan selalu bersama mereka!” sanggah Daniel
“Betul! Tapi untuk dekat sama anak-anak kamu harus ikut main sama mereka! Gak bisa Cuma kadang-kadang saja”
“Begitu?” Daniel memikirkan perkataan istrinya.
Ketika malam tiba, seperti biasa mereka melakukan aktivitas suami-istri, Rita menyenderkan tubuhnya ke tubuh suaminya
“Aku senang sekali memeluk mu seperti ini!” ujarnya, Daniel masih kecapekan nafasnya memburu
“hah..hah..hah..”
“Kamu kurang olah raga!” ujar Rita
“Ini kita habis berolahraga, sama dengan kardio”
“Iya sih, tapi ada olah raga yang lain, bukan ini saja. Aku merasakan kok setelah setiap pagi berjalan, nafas ku tidak sesak lagi”
Daniel bangkit dari tempat tidur
“Aku mau mandi dan sholat!” ujarnya
Rita heran dengan sikap suaminya yang tidak seperti biasanya. Ia kembali memakai piyamanya lalu memasang alarm agar tidak terlambat untuk mandi dan sholat subuh.
Pagi harinya setelah sholat subuh Rita kembali tidur, karena cuaca mendung sehingga enak untuk kembali tidur. Anak-anaknya datang ke kamarnya lalu tidur di samping ibunya. Daniel yang baru saja kembali dari jogging pagi melihat istrinya dikerubuti anaknya agak kesal, setelah mandi dan berganti pakaian, ia pergi ke ruang kerjanya dan online.
“Hey pak Aldy apa kabar!” Daniel menghubungi terapisnya di Singapura
“Hey Daniel! wah sudah lama ya kita tidak nge gym bareng!”
“Iya, Anda kelihatan sibuk?” Ia melihat Aldy yang sedang menggendong bayi anak ke empatnya
“Ya seperti yang kamu lihat, Aku sekarang kembali ke Makasar, istriku sudah wisuda kemarin”
“Selamat ya! bilang sama istri mu!”
“Terima kasih! Oh iya, ada apa? tidak seperti biasanya kamu menghubungiku pagi sekali?”
“Hahaha...iya sebenarnya ada yang menggangguku, jadikan ini sesi terapi ku ya?”
“Boleh-boleh!, jadi apa yang ingin kamu tanyakan?”
“Sebenarnya ini tentang aku dan anak-anak ku!” Daniel menceritakan kekhawatirannya
“Jadi kamu cemburu karena anak-anak lebih dekat dengan mamanya?” tanya Aldy
“Sebenarnya bukan itu saja, Aku merasa aku bukan papi yang baik untuk anak-anak ku”
“Kenapa kamu bisa berpendapat begitu? Kamu baru saja menjadi ayah, baru 2 tahun kan? Kenapa bisa menyimpulkan kalau kamu bukan papi yang baik?”
“Aku tidak suka pada ayah ku karena ia kasar pada ibu ku, jadi aku takut aku akan begitu juga sama anak-anak ku”
“Ingat ini Niel! Menjadi orang tua itu proses seumur hidup!, kamu jangan menyerah. Kamu sangat menyayangi anak-anak mu, mereka pasti tahu itu. Hanya saja mereka tidak terbiasa dengan mu. Cobalah bangun relasi dengan mereka, main dengan mereka, menghabiskan waktu dengan mereka. Dan ingat menjadi teman mereka bukan berarti kamu kehilangan wibawa, bagaimana pun juga harus ada yang mereka takuti. Yang terpenting Niel, kamu harus ingat kalau kamu bukan ayah mu! Kamu lebih baik dari beliau!” ujar Aldy menasehati
“Main bersama? Rita juga mengusulkan itu” ujar Daniel mengingat
“Oh ya Rita, bagaimana kabar istri mu?”
“Alhamdulillah baik! Ia sedang hamil anak ketiga kami!”
“Waduhh...selamat ya Pak Daniel!, kalian masih belum tiga puluh tetapi anaknya sudah mau tiga!”
“Hehehe...terima kasih!”
“Oh iya, kamu sudah tidak mengacuhkan istri mu kalau lagi kesal kan?”
“Eh?” Daniel mengingat-ingat
“Orang yang harus kamu dekati selain anak mu adalah istri mu, baik-baiklah kamu sama dia. Perlakukan dia dengan baik, kalian itu tim. Jika anak-anak beranjak dewasa yang tinggal hanya kamu dan istri mu. Itu pun kalau dia tahan dengan perlakuan mu!” ujar Aldy berterus terang
“Sebenarnya tadi malam, aku agak mengacuhkannya!”
“Segeralah minta maaf padanya! Apalagi ia sedang mengandung. Ibu hamil sangat sensitif dengan perlakuan suaminya” nasehat
“Baik pak! Terima kasih banyak! sudah satu jam. Nanti saya transfer ya!”
“Oke Niel!, salam sama Rita dan anak-anak!”
“Baik!” Daniel mengakhiri pertemuan onlinenya dengan terapisnya. Ia segera mematikan komputernya dan ke dapur kecil milik mereka. Ia membuatkan makanan cemilan kesukaan istrinya.
“Sayang! Bangun!” Daniel membangunkan istrinya dengan lembut. Ia memeluk dan mencium kepalanya
“Hah? Sudah siang ?” tanyanya
“He eh! Tadi anak-anak sudah dibawa baby sitter, mereka sudah main di luar”
“aahhh!!! Aku capek tapi juga lapar!” ujar Rita sambil mengangkat kedua tangannya
“Eh kamu kenapa gak kerja?” tanya nya ke Daniel
“Enggak!, aku ambil cuti. Biar Dar.Co membalas kebaikan ku dengan memberi ku cuti tapi di bayar!” tiba-tiba Daniel memeluk istrinya
“Eh kenapa?” tanya Rita heran
“Maaf! Tadi malam aku tidak baik sama kamu!” ujarnya
“Hmm...kamu merasa juga ya?”
“He eh!, yuk! Aku sudah buat cemilan untuk kamu!” Daniel ingin menggendong istrinya di belakang
“Gak apa-apa nih? nanti pinggang mu sakit?”
“Kamu gak berat kok!”
“Asyik!” Rita naik ke punggung suaminya lalu mereka keluar dari kamar dan duduk di meja makan yang penuh dengan makanan
“Wahhh!!!...pestaa!!!!” Rita tersenyum senang dan memeluk Daniel dengan mesra
“I Love you!” ujarnya lalu menempelkan jidatnya ke jidat suaminya, kemudian langsung melahap makanan yang disediakan, Daniel melihatnya dengan tersenyum senang. Dalam hatinya ia menjawab
“I Love you too!”
__ADS_1
_bersambung_