Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 229: Kisah Cinta Rita dan Daniel (1)


__ADS_3

Sebuah mobil SUV biru berhenti di depan kantor pusat Dar.Co, seorang lelaki muda keluar dari pintu penumpang dengan memakai kacamata rayband, ia membukakan pintu untuk bosnya


“Silakan Pak!”


“Terima kasih Niel!” Radian masuk ke kantor dengan percaya diri


“Selamat pagi pak Radian!” sapa para staf yang dilewati Radian


“Pagi!” Radian mengangguk, di belakangnya Daniel membawa tas Radian


“Selamat pagi pak Daniel?” sapa para staf wanita sambil tersenyum


“Eh iya, selamat pagi!” Daniel melepas kacamatanya, wajahnya memerah menahan malu.


Rita melihat kedua cowok tampan itu, tanpa sadar ia mengikuti keduanya dari belakang. Langkahnya dihentikan oleh security gedung.


“Maaf, pengunjung tanpa pengenal dilarang masuk!”


“Oh iya, Saya pemagang baru di kantor ini” Rita memberikan sepucuk surat pengantar kepada security gedung


“Tunggu sebentar!” Security menelpon seseorang di lantai 35, bagian HRD


Rita hendak mengikuti Daniel dan Radian masuk ke lift


“Ehem!”


“Eh ya?”


“Anda belum boleh masuk sampai ada tanda pengenal dari kami!”


“Oh iya, maaf!..pak kedua lelaki tampan tadi siapa ya?”


“Yang tadi baru masuk?”


“Iya, itu pak Radian Direktur utama perusahaan ini sedangkan yang dibelakangnya asistennya Daniel.”


“Ooo”


“Anda bisa magang di sini karena jalur khusus?”


“Ya begitulah”


“Rita?” seorang lelaki muda memanggilnya


“Ya Saya?”


“Hi, saya Andrew, saya akan menjadi pengawas mu selama magang di sini!, ikuti saya!”


“Baiklah!” Rita mengikuti Andrew memasuki lift yang berhenti di lantai 35, setelah itu ,mereka memasuki sebuah ruangan besar yang sangat nyaman, beberapa orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Andrew membawa Rita ke ruang HRD.


“Rita ini Emma, ia staf HRD di sini, ia akan menjelaskan tugas-tugas kamu!”


“Hi!” sapa Rita berusaha menyembunyikan kegugupannya


“Kamu duduk di sana dulu!” perintah Andrew, Rita duduk di sofa yang letaknya cukup jauh dari mereka. Samar-samar ia mendengar percakapan Andrew dan Emma.


“Asistennya bos makin muda saja ya?” tanya Emma


“Kemarin pak Jake yang suruh”


“Pak Jake kenapa harus dia yang jadi asisten bos Radian? Kasihan ya> Apa dia masih kerabat bos yang sedang ada tugas sekolah?” tanya Emma


“Entahlah pak Jake gak mengatakan apa pun” Setelah berkas beres Andres mengajak Rita memasuki ruangan bos


 


Meja kamu di sini, kalau dipanggil bos, ketuk pintu dulu setelah ada jawaban baru masuk. Kamu akan dipanggil melalui interkom ini. Andrew mengetuk pintu kantor bos


“Masuk!: sahut suara dari dalam. Andrew dan Rita masuk ke ruangan Radian


“Selamat pagi pak Radian, ini Rita yang akan menjadi asisten Anda”


“Baik, terima kasih!” jawab Radian sambil masih membaca tabletnya. Andrew meninggalkan Rita sendirian.


Radian bangkit dari kursinya lalu menyalami Rita


“Radian!” sapanya


“Rita”


“Kamu tidak akan diperlakukan istimewa di sini, saya harap kita bisa bekerjasama dengan baik” ujarnya ramah


“Baik Pak!”


Setelah berbasa-basi sejenak, Radian memanggil Daniel


“Saya Pak?” Daniel memasuki ruangan


“Niel, ini Rita, dia yang akan mengatur jadwal ku , Rita ini Daniel asisten ku merangkap wakil ku, kalau aku tidak ada di tempat dia yang akan melaksanakan tugas di sini. Mudah-mudahan kalian bisa bekerja sama dengan baik!”


“Daniel!”


“Rita!” mereka bersalaman, tampak wajah Daniel yang memerah menahan malu sedangkan Rita tampak cuek, ia berusaha menyembunyikan rasa senangnya bertemu dengan cowok tampan.


“Kamu boleh kembali ke tempat mu Rit!”


“Baik pak!”


“Duduk Niel!” ujar Radian,


“Rita itu keponakan ku, ia baru saja diakui sebagai cucu Om Darmawan”


“Baru diakui? Sebelumnya dia kemana?”


“Aku kurang begitu paham bagaimana jalan ceritanya, tapi kamu kan sudah kenal sama kakaknya kan?”


“Kakaknya Rita?” Daniel menggeleng


“Andi!, kamu pernah jadi pengasuhnya kan?”


“Ohh iya, saya lupa!”


“Nah Rita ini adik kandungnya Andi, Om Darmawan bilang anaknya agak tomboy dan susah di atur, dia di sini karena dihukum oleh OmDarwaman”

__ADS_1


“Di hukum bekerja?”


“Rita baru 17 tahun, ia mengejar pacar sepupu ku dengan sepeda motor dan merusak mobilnya. Sebenarnya biaya kerusakan tidak seberapa, tetapi Om Darmawan takut Rita akan melakukan hal yang ekstrem lagi jadi dia sengaja menghukumnya di sini”


“Oh begitu, kira-kira berapa lama ia akan di sini Pak?”


“Entahlah, aku hanya diminta mengajarinya, kamu kan mantan pengawal pasti bisa mengatasi anak bandel kayak dia kan?”


“Jadi saya harus mengasuhnya pak?”


“Tidak tepat kalau disebut mengasuh, lebih tepatnya mendidiknya supaya dia tidak sembarangan bertindak lagi”


“Usianya berapa ya Pak?”


“memasuki 17 tahun, masih muda Niel, tapi kalau dengar dari cerita Om, dia sudah mengalami asam garam petualangan.”


“menarik juga ya pak?”


“Mungkin kalian bisa cocok, ia bisa menyembuhkan sifat pemalu mu pada perempuan!”


“Saya pak?”


“Iya, kan siapa tahu. Baiklah aku ada pertemuan online dengan cabang di London, kamu boleh mendiskusikan jadwalku dengan Rita”


“Siap Pak!” Daniel meninggalkan ruangan Radian, ia masuk ke ruangan Rita yang sedang bebenah


“tok-tok!”


“Ya Pak?” Rita langsung berdiri melihat Daniel masuk ke kantornya


“Gak usah sungkan begitu!, ini nomor ponsel ku dan ini tablet untuk mengatur jadwal pak Radian.” Daniel menghampiri Rita dan memberikan tablet ,


“Wangi sekali!” ujar Rita dalam hati, ia tidak memperhatikan ucapan Daniel yang sedang menerangkan


“Rita, kamu harus fokus!” tegur Daniel


“Eh maaf pak!, saya agak terganggu dengan wangi parfum Anda” ujar Rita berterus terang


“Parfum ku?”


“Maaaf ...maaf Pak! Maksud saya tidak menghina, saya terbiasa mengungkapkan apa yang saya pikirkan” ujar Rita agak menyesal, Daniel merasa tersinggung, baru kali ini seseorang mengomentari wangi parfumnya


“Hmm...karena kamu terganggu, sebaiknya kamu pelajari dulu tablet ini, kalau ada kesulitan kamu bisa menanyakan ke saya!” Daniel meninggalkan ruangan Rita


“Baik pak, maaf!!” Rita agak menyesal sudah berterus terang


Waktu makan siang, Rita membawa bekal sendiri ia makan di ruangannya. Andrew datang ke ruangannya


“Eh iya Rit, hampir lupa. Ini kartu pengenal mu, dengan kartu ini kamu bisa langsung masuk tanpa meninggalkan ktp di security bawah, juga bisa makan di kantin sepuasnya, serta asuransi kesehatan selama kamu berada di gedung ini” Andrew memberikan kartu pengenal yang sudah tertempel wajah Rita


“Oh iya Pak, terima kasih!” Rita menerimanya dengan senang hati


“Kamu bawa bekal sendiri ya?” Andrew melihat kotak makanan Rita


“Iya Pak, karena ini hari pertama di kantor”


“Untuk seterusnya gak usah bawa bekal, makanan di kantin ini selain lezat, bergizi juga higienis. Bos besar selalu mengirim orang dari dinas kesehatan untuk memeriksa kualitas makanan di sini jadi kamu gak usah khawatir akan keracunan!”


“Terima kasih pak Andrew!”


“Baik pak, eh Andrew!” Rita tersenyum


Andrew meninggalkan ruangan Rita, ia berpas-pasan dengan Daniel yang masih sibuk


“Hey Niel!”


“Drew!, ngapain ke sini?”


“Ngasih kartu pengenal ke pemagang baru”


“Oh!” Daniel mengangguk


“Yuk Niel aku duluan!”


“oke!” Daniel kembali ke ruangannya, rasa lapar menyelimutinya. Tiba-tiba ia teringat akan tugasnya mendidik Rita. Ia segera ke ruangan Rita.


“tok-tok!” Daniel mengetuk ruangan Rita, tidak ada jawaban. Ketika ia masuk, ia mendapati Rita sedang melaksanakan sholat.


“Oh!” lalu ia mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan Rita, ia memutuskan ke kantin untuk makan siang.


“Niel sini!” panggil Andrew, ia menunjuk kursi di depannya yang masih kosong, Daniel membawa nampan berisi makanan dan duduk di hadapan Andrew. Beberapa menit kemudian, di bagian belakang Andrew dan Daniel telah duduk para karyawan perempuan. Andrew tersenyum senang.


“Kamu kenapa tersenyum?” tanya Daniel heran


“Enggak! hehehe!” Andrew tertawa


“Kenapa sih?”


“Dengan ada kamu di sini, para cewek jadi memperhatikan aku!” ujar Andrew tersenyum senang, Daniel melihat sekelilingnya, tiba-tiba nafsu makannya hilang.


“Kenapa kok gak dihabiskan?” tanya Andrew ia melihat Daniel menghentikan makannya


“Enggak, tiba-tiba perut ku sakit” ujarnya berbohong


“Kamu makan apa tadi?” tanya Andrew heran karena makanan yang ia bawa tidak berbeda dengan makanan yang Daniel pilih


“Enggak aku suka tiba-tiba merasa stres saja, ini mempengaruhi keadaan lambung ku” ujar Daniel sambil meminum air mineral


“stress tiba-tiba?” Andrew menyadari sesuatu, karyawan cewek yang berada di sekitarnya memperhatikannya makan


“aku duluan ya Drew!” Daniel beranjak dan membawa nampan makanan yang tinggal separuh.


“Iya Niel!”, para staf cewek


“Yaahhhh” mereka menyesal Daniel telah pergi meninggalkan kantin. Daniel membeli air mineral di vending machine, ia melewati ruangan Rita. Sekilas ia melihat Rita yang sedang serius mempelajari tablet yang tadi ia berikan.


“tok-tok!” Daniel mampir ke ruangannya


“Ya Pak?” Rita bangkit dari kursinya


“Gak usah formal begitu!”


“Eh iya Pak,”Rita kembali duduk di kursinya

__ADS_1


“Ada yang ingin kamu tanyakan?”


“Belum pak, saya masih mempelajarinya.”


“Jangan terlalu lama, FYI tablet itu terhubung dengan sekretaris lawan pak Radian”


“Lawan? Maksudnya pak?”


“Maksud ku, jika pak Radian ada pertemuan dengan seseorang, sekretaris orang itu akan mengirimkan jadwalnya ke tablet itu, nah tugas kamu menyesuaikan dengan jadwal sebelumnya. Jangan sampai bentrok. Dan perkirakan waktunya juga. Jangan sampai jadwal kamu bikin terlalu ketat waktunya sampai-sampai pak Radian harus terburu-buru memenuhinya”


“Oh begitu” Rita mengangguk


Tiba-tiba perut Daniel berbunyi


“Aduuhh..memalukan saja!” Daniel duduk di kursi dihadapan Rita


“Anda tidak apa-apa Pak?” tanya Rita khawatir


“Tidak apa-apa, aku hanya lapar”


“Lapar? Bapak tidak makan siang? Setahu saya kantin di sini enak makanannya”


“Memang, tapi suasananya bikin aku stres” ujar Daniel, ia tidak menyadari rasa pemalunya hilang jika didekat Rita.


“eh, saya membawa bekal pak, sebenarnya ini cemilan saya. Belum dimakan kok” Rita membuka kotak makannya yang bertingkat 3 dan memberikan cemilan yang berupa nugget ayam


“Nanti kamu gimana?” tanya Daniel


“Sebenarnya tadi saya menggorengnya kelebihan, itu karena saya gugup menghadapi hari pertama di kantor jadi hampir setengah bungkus nugget masuk semua ke penggorengan” cerita Rita


“Kamu memasak sendiri?” Daniel mengambil nugget dari kotak makan Rita


“Oh iya, tadi saya juga membuat nasi kepal, bersih kok pak. Saya membuatnya memakai sarung tangan” ia membuka kotak kedua, Daniel memakannya dengan lahap


“Enak! Kamu pandai memasak!” Daniel melahap nasi kepal Rita untuk kali kedua


“Sebenarnya saya ingin menjadi chef, nanti setelah tamat SMA saya akan mengambil kuliah kuliner di Perancis”


“Kenapa Perancis?”


“Anda tahu Gordon Ramsay?”


“Gordon Ramsay? Chef yang suka berteriak-teriak di TV itu?”


“Iya!, Beliau bilang pusat masakan terkenal di dunia itu Perancis, seperti halnya fashion”


“Aku memakan 3 kepal nasi nih, gak apa-apa kamu jadi gak makan?” tanya Daniel, Rita membuka bekal kotak 1.


“Tadi saya sudah menghabiskan makanan di kotak 1, dan sudah sangat kenyang. Bingung juga tadi karena masih banyak makanan di kotak kedua dan ketiga”


“Ya sudah, aku habiskan semuanya ya?” Daniel memegang kotak kedua dan menghabiskan nasi kepal dengan lahapnya, sementara Rita kembali menekuni tabletnya


“Apa besok kamu juga akan membawa bekal?” tanya Daniel


“Pak Daniel mau saya buatkan?” tanya Rita senang


“Gak usah deh kalau merepotkan!”


“Enggak kok pak, saya selalu banyak waktu” ujar Rita


Selesai makan di ruangan Rita, Daniel ke toilet untuk membersihkan gigi dan wajahnya. Ia kelihatan bahagia sekali.


“Eh Niel, masih sakit perut?” tanya Andrew ketika berpas-pasan saat hendak pulang


“Oh, sudah hilang!” jawab Daniel senang


“Hmm..cepat sekali, obat apa yang kamu minum?”


“Aku gak minum obat, aku cuma makan nasi kepal!, aku duluan Drew!” Daniel keluar dari kantor, ia melihat Rita yang masuk mobil dijemput oleh supir keluarga Darmawan.


Sesampainya di rumah, Rita merebahkan diri di sofa ruang tengah.


“Heh! Pindah ke kamar gih!” tegur Andi


“Nanti saja kak, aku capek sekali” keluh Rita


“memangnya lo ngerjain apa di sana?”


“Sebenarnya gak ngerjain apa-apa, Cuma mempelajari tablet jadwalnya Om Radian. Susah banget ngertinya”


“Susah gimana? Coba lihat!” tanya Andi


Rita bangkit dan membuka tas ranselnya, mengeluarkan tablet dan memberikan ke Andi.


Andi membuka tablet dan mempelajari sistemnya.


“Ini gampang Rit, nih gue ajarin!” Andi mengajarkan mengoperasikan tablet itu, beberapa menit kemudian Rita telah mahir menggunakannya


“Wah ternyata gampang banget ya, tadi kenapa susah banget ngertinya”


“Mungkin lo lagi banyak pikiran kali, cara kerja tablet ini seperti smartphone, masa gitu aja gak ngerti. Memangnya asistennya om Radian gak ngajarin?”


“Pak Daniel ngajarin, tapi aku gak ngerti”


“Daniel? ah...gue ngerti deh! Lo naksir dia ya?” ledek Andi


“Kalau iya kenapa?” jawab Rita terus terang


“Widihh..Rita ternyata seleranya pria yang lebih tua”


“Pak Daniel gak tua-tua amat” sanggah Rita


“Kalau gak tua tuh manggilnya Pak?” ledek Andi                                                  


“ini kan untuk kesopanan, bagaimana pun juga ia memang lebih tua dari aku kan?”


“Kalau naksir main-main sih gak pa-pa Rit, asal jangan keterusan”


“Memangnya kenapa kak?”


“Dia banyak bedanya dari Lo. gue bilang dari awal nih, supaya lo jangan terlampau serius naksir dia!” Andi meninggalkan adeknya sendirian di ruang tengah. Rita memperhatikan tampilan bayangannya di tablet.


“Banyak beda ya?” gumamnya dengan suara agak sedih. Ia mengambil tasnya lalu menaiki tangga menuju kamarnya.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2