Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 310: Raffa yang kasmaran


__ADS_3

Sehari sebelum pertandingan, Ranna dan Raffa berlatih. Kali ini ia diantar Rita yang sudah sembuh kakinya.


Rita memperhatikan kedua anaknya yang sedang sparing dari jauh.


"Mereka makin bagus gerakannya" Rita merekamnya melalui hp dari bangku penonton bersama Rayya dan para baby sitter .


Tapi pada akhirnya Raffa kalah dari Ranna karena perhatiannya teralihkan. Ia melihat Michele datang bersama seorang anak lelaki seumuran dengannya. Mereka tampak akrab.


"Pemenang nya .." sebelum wasit mengumumkan pemenang, Raffa langsung meninggalkan arena dan berlari mendekati Michele


"Hai Michele!"


"Hai Raffa!"


Raffa tersenyum senang karena hampir seminggu ini mereka tidak bertemu.


"Ini siapa?" Tanya Raffa menunjuk anak lelaki bersama Michele


" Ini Dani, dia tetangga baru" jawab Michele memperkenalkan


"Dani?" Namanya mirip nama papinya pikir Raffa, tetapi baginya itu tidak penting


"Kamu berlatih juga kan hari ini?"


"Iya, aku dan teman-teman hanya ikut pertandingan Koreo.."


"Anak-anak yang tanding istirahat dulu, sekarang waktunya anak-anak koreo" ujar Sensei Amy yang bertanggungjawab membuat koreografi. Menggabungkan antara gerakan karate dengan musik K-POP


Semua anak tanding minggir dan menonton.


Raffa hanya memperhatikan Michele, matanya tidak bisa lepas darinya.


"Bu, lihat Raffa deh, dari tadi dia menatap Michele terus" ujar suster Erni pengasuh nya


Rita melihat ke arahnya dan tersenyum.


"Padahal 3 tahun saja belum tapi suka nya sudah kayak gitu" Rita merekamnya.


Sesi latihan selesai, Ranna dan Raffa telah berganti pakaian. Ranna yang merasa lapar berat menghampiri maminya.


"Mami, aku lapar banget " keluhnya. Suster membuka bekal yang telah disiapkan Rita, dan menyuapi Ranna supaya makannya tidak mengotori bangku penonton.


"Raffa mana Kak?" Tanya Rita


"Nungguin Michele" jawab Ranna, ia sangat menyukai nasi goreng buatan maminya.


"Saya susul ya" suster Erni beranjak dari tempat duduknya lalu mencari Raffa di tempat ganti.Raffa dengan sabar menunggu Michele di depan ruang ganti perempuan. Suster melihat Raffa,


"Abang, mami sudah nunggu. Habis ini kita berenang" panggil suster


"Sebentar, Michele lama sekali ya?" Ia hendak masuk ke ruang ganti, tapi ia ingat itu ruang ganti perempuan, walaupun masih kecil ia sudah diajarkan untuk tidak masuk ke ruang ganti perempuan.


"Sustel bisa tolong panggilkan Michele di dalam?" Pinta Raffa


Suster Erni masuk ke ruang ganti dan mencari Michele, tak lama kemudian ia kembali


"Michele sudah pulang Bang, tadi dia gak ganti baju. Langsung pulang saja"


"Tapi tadi Affa lihat dia masuk ke sini" bantahnya


"Iya, dia cuma ambil tasnya lalu pergi"


Raffa terlihat kecewa, ia pun mengikuti susternya


"Abang kenapa?" tanya Rita melihat wajah sedih Raffa.


"Michele sudah pulang tapi gak bilang Abang" keluhnya


"Mungkin mamanya banyak urusan, Abang mau makan?"


Raffa menggeleng, ia kehilangan nafsu makan.


"Kita berenang saja yuk!" Ajak Rita


Rombongan nya pun bergegas meninggalkan tempat latihan dan pergi ke kolam renang.


Jarak tempat les ke kolam renang hanya 20 menit.


Begitu tiba di kolam renang, ia membeli beberapa tiket masuk setelah itu langsung berganti pakaian.


Kolam renangnya luas, ada kolam ombak, kolam air hangat, ada juga kolam untuk anak-anak.


"Yeayy!!!" Rita kegirangan melihat air di kolam renang , ia yang jago berenang langsung berenang di kolam dewasa yang dalam


"Mamiii" panggil Ranna, ia hendak menyusul maminya berenang di tempat yang sama.


"Jangan kak, tempat kakak gak di situ" larang suster Rini.


Ia bersama para suster lainnya membawa anak-anak ke kolam khusus anak-anak. Kolam yang dalamnya hanya 50 cm dan banyak permainan.


" Gak selu di sini, ini hanya untuk anak bayi" keluh Ranna yang mahir berenang.


"Kakak kan juga masih bayi" ujar suster Erni geli mendengar ucapan Ranna


"Kakak sudah besal" sanggahnya


"Kata siapa?"


"Mami dan papi yang bilang. Katanya kak Anna udah besal jadi ngalah sama adek" ujar Ranna


Para suster tertawa mendengar ocehan Ranna, sementara Raffa hanya duduk di pinggiran kolam .


"Abang kok gak berenang?" Tanya suster Erni


Raffa hanya menggeleng, ia masih memikirkan Michele yang pergi begitu saja tanpa pamit dengannya.


Rita sudah puas berenang di bagian dewasa, lalu ia menghampiri anak-anaknya


Rayya sangat gembira bermain air, ia berteriak-teriak memukuli air di sekelilingnya.


Rita gemas melihatnya, lalu menciuminya


"Adekkk...hhhh....mami gemass"


"Aaahhhh!!!" Teriak Rayya ia menolak gendongan Rita dan minta kembali ke kolam.


Rita mengembalikannya, Rayya dalam pengawasan suster Eva.


"Mami!" panggil Ranna


" Ya kak?"


" Di sini gak enak belenang nya, ini untuk bayi!" Keluh Ranna, Rita geli tertawa, apalagi suster Rini menceritakan tentang Ranna yang merasa sudah besar.


"Kakak mau berenang di tempat dalam?" Rita menawarkan


"Tapi Bu, saya gak bisa berenang " protes suster Rini


"Tenang, kalau di tempat dalam, biar saya yang mengawasi " Rita menuntun Ranna ke tempat dewasa dan berenang di sana.


Ranna sangat senang, bolak-balik ia melewati maminya. Ia seperti ikan lumba-lumba yang lincah.


"Kakak...kalau capek bilang ya?" Rita mengawasi di dalam kolam itu, sudut mati memperhatikan Raffa yang murung.


"Abang!" Panggilnya


Raffa menoleh


" Kemari!" Panggil Rita


Dengan segan ia menghampiri


" Ya mi?"


Rita iseng dan menyiramnya dengan air.


" Hahahaha .." Rita tertawa geli


" Ahhh...mamiii" Raffa kesal, lalu ia menangis


"Kenapa bang? Apa matanya perih?" Tanya Rita heran


"Michele pulang, gak bilang-bilang" ujarnya sedih


"OOO...hmm..bang, nanti pulang nya mampir ke rumah Michele saja gimana?"


"Iya Mi?" matanya berbinar senang


"Iya, asal Abang mau berenang dengan senang!"


Wajah Raffa ceria kembali, ia langsung terjun ke kolam dan berlomba kecepatan dengan Ranna.


Setelah beberapa jam di kolam, mereka makan sebentar di salah satu restoran cepat saji. Setelah itu pergi ke rumah Michele.


Sebelumnya Rita memberitahu kedatangannya kepada Erin, mamanya Michele.


" Hai Erin, ini Rita mamanya Raffa "


"Hai Rita?"

__ADS_1


"Begini, anakku ingin main dengan Michele, apa boleh? Kami dalam perjalanan ke situ"


"Main di sini?..hmm ..baiklah, tetapi kami tidak punya apa-apa untuk disuguhkan"


" Gak usah repot, kami bawa sendiri kok"


"Baiklah!"


Beberapa menit kemudian rombongan Rita datang, ia membawa aneka cemilan untuk tuan rumah dan anak-anak yang akan bermain.


"Hai!!" Sapa Rita


"Hai!"


"Michele, Raffa dan Ranna ingin bermain bersama mu, apa boleh?" tanya Rita


Michele mengangguk, ia menggandeng Ranna untuk masuk ke dalam rumah dan naik ke lantai 2. Raffa agak termenung melihat Michele yang lebih peduli pada kakaknya dibandingkan dirinya, tetapi Raffa anak yang positif, ia mengikuti mereka naik ke lantai 2.


"Anak-anak, mainnya 2 jam saja ya? Setelah itu kita pulang" teriak Rita mengingatkan


"Iya mami!" Jawab Ranna dan Raffa bersamaan.


Alangkah terkejutnya Raffa, ternyata Dani sudah berada di kamar Michele . Mereka sangat akrab.


"Ini kue-kue untuk di sini" Rita memberikan sebuah kotak kepada Erin.


"Terimakasih, ayo silakan duduk"


Para baby sitter mengawasi anak-anak bermain di lantai 2


" Kamu pasti sangat sibuk ya?" Ujar Erin


"Oh enggak! "


"Anak mu tiga masih kecil-kecil, aku saja kadang kerepotan menjaga Michele"


"Untuk itu ada Baby sitter kan?" Jawab Rita tersenyum


"Apa kamu sedang hamil lagi?" tanya Erin


"Eh kelihatan ya? Wah berarti anak nya akan besar. Padahal baru 10 minggu."


"Kalian pasti orang berada ya?"


"Ah tidak, biasa saja. Baby sitter dan semuanya itu dibayari kantor. Mereka bilang itu salah satu fasilitas" jawab Rita berbohong


"Apa Michele tidak punya kakak? Atau adek?" Tanya Rita mengalihkan pembicaraan


Erin menggeleng


" Sejak Michele diagnosa kanker, aku maupun suami ku seperti trauma. Kami takut adek Michele akan mengalami hal yang sama"


"Belum tentu"


"Jenis kanker darah Michele itu tergolong langka, ada unsur genetik. Salah seorang sepupu papanya Michele meninggal karena penyakit itu"


Rita terdiam


"Turut prihatin ya"


"Terimakasih, oh iya aku dengar dari ibu-ibu yang lain katanya kamu mahir membuat kue?"


" Ah biasa saja kok!" Rita merendah


Sementara di lantai 2, terjadi keributan antara Raffa dengan Dani.


Suster Erni memisahkan keduanya.


"Kalian jangan bertengkar!"


Entah sengaja atau tidak, Dani memukul pipi suster Erni, Raffa tidak terima susternya dipukul


"Kamu memukul sustel ku!" Raffa marah, ia membalas dengan kembali memukul Dani di pipi, terjadilah pergumulan antara Dani dan Raffa.


Suster Erni dibantu suster Rini memisahkan kedua anak kecil itu.


"Raffa kamu jangan bandel!" Teriak Michele


Raffa kaget mendengar Michele justru memarahinya. Bahkan Michele mengusap pipi Dani dihadapannya.


Raffa menangis, ia turun ke lantai bawah lalu menemui maminya.


"Mami ayo kita pulang!" Ujarnya


"Abang kenapa?"


"Ayo pulang Mi!!" rengeknya


"Baiklah!"


"Yuk kita pulang!"


"Kami pulang dulu ya?" Ranna berpamitan mewakili adeknya yang lebih dulu masuk ke mobil


"Iya, terimakasih sudah datang"


"Terimakasih ya Erin, maaf mengganggu!"


Rita dan rombongan kembali ke mobil yang mengantarnya pulang.


Raffa terus murung di perjalanan lalu tertidur kelelahan.


"Dia kenapa suster?" tanya Rita, Erni hendak menjawab, tapi Ranna mewakili


"Adek lebutan mainan sama Dani, sustel Elni misahin, eh Dani pukul sustel Elni. Adek malah, belantem deh"


"Gak sengaja terpukul Bu, tetapi saya tersanjung Raffa membela saya" suster Erni mengusap kepala Raffa yang tertidur di pangkuannya


"Dani itu siapa?" Tanya Rita


"Oh itu tetangganya Michele Bu, karena mama ya kerja, kalau pagi sampai sore dititipkan di rumah Michele." Jawab suster Rini


"Oh begitu, jadi ceritanya Dani itu saingannya Raffa ya"


"Iya Bu"


"Terus kenapa tiba-tiba dia minta pulang?"


"Karena Michele lebih membela Dani dari pada dirinya" jawab Erni


"Oh begitu...heran ya..baru umur 2 tahun percintaannya sudah complicated" keluh Rita


Para suster tertawa geli mendengar keluhan bosnya.


Malam itu, Rita menceritakan kepada Daniel, sehabis makan malam.


"Hmm ...apa tidak ada anak perempuan lain di tempat kursus itu?" tanya Daniel sambil berganti pakaiannya menjadi piyama


"Banyak! Tapi kayaknya Michele yang nyangkut dihatinya"


"Biarin saja deh, kita awasi saja dari jauh"


"Hah? Memangnya gak apa-apa?"


"Kalau sudah kelewatan baru kita turun tangan, lagi pula memangnya kamu bisa melarang Raffa untuk tidak menyukai Michele?"


" Ya gak bisa lah!"


"Nah itu! Jadi biarkan saja Raffa yang memutuskannya sendiri. Eh ngomong-ngomong, apa kabar janin kecil ku?" Tiba-tiba Daniel memeluk perut Rita berbicara pada janin.


" Yah..tadi dia berenang..apa sudah kelihatan ya?" Tanya Rita memegang perutnya


"Iya kelihatan "


"Padahal baru 2 bulan, sebelumnya gak begini kan ya?"


"Apa mungkin kembar?" Tanya Daniel


"Kembar? Aku gak ada keturunan kembar, kalau kamu?"


"Ada sih, tapi bukan kembar identik, tapi kembar beda telur"


"Jadi nanti muka anaknya beda gitu ya?"


"Iya, masing-masing punya plasenta sendiri"


"Tapi kemarin di USG cuma satu kok"


"Itu USG apa?"


"Empat dimensi, aku juga pengen tahu"


"Mungkin anaknya besar"


"Mungkin "


"Papi mau peluk dulu ah!!" Daniel memeluk perut Rita, lalu mencium keningnya.


"Mudah-mudahan kamu dan bayi ini sehat-sehat terus ya, aamiin "

__ADS_1


"Aamiin "


Keesokan paginya Rita dan Daniel terkejut, Raffa telah berpakaian rapi. Ia meminta susternya untuk memakaikan setelan hitam untuk bekerja.


"Pagi papi" sapanya


"Pagi..wah Abang ..mau kemana rapi sekali?" Tanya Daniel


"Abang mau bekerja sekarang Pi, Abang boleh ikut kan?"


"Eh sekarang?" Daniel melihat ke arah Rita, hari ini ia ada rapat penting sehingga tidak bisa mengawasi Raffa


"Abang, yang namanya bekerja itu tidak bisa mendadak, Abang harus buat janji dulu sama atasan Abang" ujar Rita berusaha mencegah


"Atasan itu apa?"


"Atasan itu bos!" Jawab Daniel. Raffa sering mendengar Mario memanggil Daniel dengan sebutan bos.


"Jadi bos itu papi?" Tanya nya


"Eh..heee .iya" jawab Daniel ragu-ragu


"Abang ijin sama papi deh sekalang..Abang mau kelja"


Daniel dan Rita agak bingung menolaknya, ia takut melukai hati anaknya. Tanpa terduga Ranna masuk, ia baru saja selesai mandi. Ia melihat Raffa berpakaian rapi


"Mau kemana Dek?" Tanyanya, suster Rini membantunya mengambil nasi goreng dan telur ceplok kesukaannya


"Abang mau kelja sama papi" jawab Raffa


"Sekalang?..tapi nanti Paw Patlol lagi selu dek, kemalin belsambung kan?" Ujar Ranna mengingatkan


Raffa sangat menyukai Paw Patrol, ia jadi bingung sendiri.


"Kerjanya nanti saja bang, kapan-kapan " bujuk Rita, ia melihat kesempatan anaknya bingung


Mendengar ucapan maminya, Raffa berubah pikiran, ia naik ke lantai 2 dan berganti pakaian, lalu kembali ke ruang makan.


"Keljanya nanti saja ya Pi?"


" Iya Bang!!..jangan mendadak ya? Setidaknya harus kasih tahu papi 1 bulan sebelumnya "


"Sebulan itu belapa lama mi?"


Tanya Raffa


"30 hari" jawab Rita tersenyum, ia menuangkan nasi goreng ke piring Raffa.


Satu jam kemudian sarapan selesai, seperti biasa ia pamit pada istri dan anak-anaknya


"Papi berangkat ya?" Tak lupa ia mencium pipi Ranna


"Terimakasih ya Sayang!!"


"Ya papoiii!" Jawab Ranna ngasal, Daniel mencubit pipi anaknya gemas.


Sambil menggendong Rayya, Rita mengantarkan sampai pagar depan rumah


"Dadah..papiii!!"


"Daaahh..piii!!" Teriak Rayya


"Wah..kamu sudah pinter ngomong ya??" Rita menciumi Rayya.


Hari itu anak-anak tidak latihan karena dua hari lagi akan bertanding. Rita sengaja memberikan mereka kesibukan dengan berbagai aktivitas di rumah.


"Suster aku membeli peralatan gambar untuk anak-anak, tolong bimbing mereka ya? Buku gambar nya sudah ada gambarnya, mereka hanya tinggal mewarnai"


"Iya Bu" jawab Rini dan Erni bersamaan, sementara Eva menemani Rayya mempelajari suara-suara hewan dari buku yang dibeli Rita sebelumnya.


"Tiingggg" ponsel Rita berdering


"Kak Andi!"


"Hei Rit!"


"Ya kak?"


"Raffa kenapa?"


"Kenapa? Aku gak tau kak, kayaknya dia biasa saja"


"Kemarin dia nelpon aku"


"Hah nelpon?"Rita heran, lalu ia teringat smartwatch yang diberikan Andi kepadanya


"Raffa kemarin bertengkar sama temannya, kayaknya dia masih kesal"


"Oh begitu, tapi kemarin dia bilang mau menikah dengan Michele. Dia mengundang ku untuk datang"


"Oh ya kapan katanya?"


"Setelah ia bekerja"


"Wahh....hahahaha.." Rita tidak tahan menahan geli


Kemudian ia menceritakan tentang Raffa yang jatuh hati pada Michele


"Oh begitu ..repot juga ya, masih 2 tahun padahal"


"Iya kak, mungkin dia pikir kerja itu cuma sehari, tadi dia mau ikut Daniel ke kantor, tapi sekarang ini dia sangat sibuk jadi gak bisa menemani.. syukurlah ada Ranna batal deh dia ikut kerja"


"Mungkin Elo harus gunakan Ranna Rit"


"Gunakan Ranna? Gimana kak?"


"Bagaimanapun juga mereka sesama anak kecil, cuma anak kecil yang tahu pikirannya kan? Elo bisa membujuk Raffa lewat Ranna, gimana kek caranya"


"Iya deh kak, nanti Rita coba"


"Eh, Rit, muka Lo agak gemukan ya sekarang?"


"Masa sih Kak?"


"Bener! Lagi Minum obat atau alergi?"


"Rita lagi isi lagi kak, adeknya Rayya"


"Oh ya? Berapa bulan? Laki-laki apa perempuan?"


"Baru 2 bulan kak, belum tahu jenis kelaminnya. Doain saja ya kak, mudah-mudahan lancar"


"Aamiin...wah..nambah keponakan baru" Andi tampak senang sekali


"Ya sudah Rit, kapan-kapan gue telpon lagi, iya kak, terimakasih"


Mereka menyudahi teleponnya


"Wah Kek, Rayya akan punya adek lagi"


"Iya? Wah...tambah rame dong"


"Pastinya"


"Sudah berapa bulan?"


"Dua bulan, tapi Rita kelihatan lebih gemuk, biasanya enggak."


"Hush! Kamu tuh harus lebih sensitif , adek mu itu lagi hamil, jangan diingatkan tentang kegemukan, nanti dia diet terus bayinya kelaparan di perut gimana?"


"UPS..iya juga ya.. Katanya Daniel sangat sibuk dengan proyeknya"


"Mungkin itu rejeki bayi juga, kake dengar bank Swiss mengucurkan dana proyeknya lumayan besar"


"Proyeknya apa kek?"


"Itu membangun pembangkit listrik terbarukan, tapi ini di Afrika Selatan. Mungkin dia akan sering kesana"


"Afrika Selatan?..ckckckck...kasihan Rita. Sudahlah lagi hamil, eh suaminya akan sering pergi ninggalin untuk tugas"


"Tapi sih, kakek pikir enggak akan"


"Kenapa kek? Kok bisa yakin?"


"Iya dong, Daniel itu top CEO bukan kepala proyek langsung, dia bisa memantau nya online"


"Top CEO? Sekarang sudah di situ posisinya?"


"Iya! Makanya dia pindah rumah kan?"


"Kok kakek bisa tahu banget?"


"Tentu dong, kakek kan pengen tahu kinerja cucu mantu kakek."


"Itu bukannya memata-matai kek?"


"Ya gak apa-apa, ini dalam rangka menjaga cucu dan cicit kakek juga"


"Oh begitu.."

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2