
Daniel, Rita dan Ranna tiba di Swiss, mereka langsung check in di hotel milik keluarga Darmawan.
“Ini hotel milik kakek?” Rita mengagumi hotel bintang 5 saat masuk ke dalam lobby, Daniel mengikuti di belakangnya sambil menggendong Ranna
“Masya Allah, besar sekali ya?” mereka mengagumi sejenak, kemudian menghampiri resepsionis. Setelah check in mereka di antar ke kamar mereka di lantai atas
“Kita dikasih kamar VIP!” Rita menunjukkan kunci kamar pada suaminya. Mereka segera menuju kamar mereka.
“Silakan!” room boy mempersilakan mereka masuk ke kamar
“Wow!!” Rita mengagumi kamar mereka yang luas.
“Masih kalah sama kamar kita di Jakarta!” ujar Daniel sambil menaruh tas perlengkapan Ranna
“pastinya, tapi tante sangat dermawan sekali menaruh kita di kamar ini!” Rita langsung merebahkan diri di ranjang empuk yang lebar.
“Tumben, biasanya kamu membersihkan dulu”
“Ah iya!” Rita langsung bangun dan mengambil robot kecil vacuum untuk membersihkan ranjang , setelah beberapa menit, robot kecil menyelesaikan pekerjaannya. Daniel meletakkan Ranna yang sudah bosan digendong. Ia langsung tiduran, lalu tengkurap kemudian duduk. Ia memainkan robot kecil vacuum.
“Jangan main yang ini ya nak, kotor main ini saja!” Rita mengambil robot kecil dari Ranna pelan, dan memberikan mainannya yang sebelumnya ia lap dengan tissue basah
“mamamaaammm!!” ujarnya tertawa
“mami!!”
“maaammmmm!” jawab Ranna
“oke nanti kita belajar lagi!” Rita mencium kepala Ranna gemas, sementara Daniel menaruh pakaian mereka di lemari.
“Yang, lemarinya kamu lap dulu kan?” tanya Rita
“Iyaa!” Daniel segera menaruh pakaiannya lagi ke koper lalu mengelap lemarinya. Setelah itu baru ia menaruh pakaian mereka.
“Yak selesai!” iya menghampiri Ranna lalu tidur di sampingnya
“Ranna..papi capek!” ujarnya sambil memegang pipi Ranna.
“Papappppapppp!” Ranna merangkak dan menindih wajah Daniel
“Ahh....tidakk!!!...aku tidak bisa bernafas!! Mami tolong!!!” canda Daniel, sementara Ranna tertawa geli sambil menarik rambut Daniel
“aduuhhh..jangan ditarik dong sayang!!” larang Daniel
“itu artinya rambut papi sudah panjang, Ranna minta dipangkas!” ujar Rita tersenyum, dan mengambil Ranna dari atas wajah Daniel
“Hah? Aku sudah gondrong?” Daniel bangkit dan mematut dirinya di cermin.
“Iya, aku juga mau potong rambut, sudah terlalu panjang ya?”
Daniel melihat istrinya
“kamu gak mau lebih panjang lagi rambutnya?”
“Enggak ah, takut rontok!”
“Ting-nong!” bunyi bel pintu kamar mereka, Daniel segera bangun dan membuka pintu kamar
“Assalammu’alaikum!” Andi dan Mario sudah berada di depan pintu kamar
“Wa’alaikummussalam!, hey bros!!” Daniel menyalami mereka berdua, Andi langsung masuk ke dalam dan mencari Ranna
“Ranna!!!” ia mengambil Ranna dari gendongan Rita, ia baru saja diganti popok dan pakaiannya
“Hey O! Sehat Lo?” tanya Rita dengan bahasa Indonesia, ia menyalami Mario
“Alhamdulillah selamat!” Mario duduk di ruang tamu, menemani Daniel, sedangkan Andi bermain dengan Ranna. Rita bergabung dengan Mario dan Daniel
“Jadi kamu sudah pulih?” tanya Daniel
“Ya, gitu deh, tapi masih harus kontrol, yu tau gak, sekarang di leher Ai dipasangin Pen. Kalau enggak leher Ai tengkleng!” Mario menunjukkan bekas operasinya, Rita bergidik ngilu
“Sakit gak O?”
“Ruar binasa Tong!, syukur deh operasi Ai dibayarin kakek, kalau enggak Ai sudah mati! Kalau dioperasi pakai BPJS”
“Ngaco! Mana ada BPJS di Singapura!” ujar Rita
“Sebenarnya apa yang terjadi O?” tanya Daniel penasaran.
“Jadi begini, Ai duduk di samping supir, om Radian di belakang. Terus tiba-tiba tuh supir bilang sakit perut. Dia ijin ke toilet. Kita sih pasrah saja, eh tiba-tiba ada truk besar dari belakang kencang banget, kita ditabrak!”
“Di depan kalian ada mobil lain?”
“Enggak ada!, karena ditabrak kencang, mobil kita jadi jalan oleng nabrak pohon besar.”
“Om Radian, langsung gak sadar?” tanya Rita
“bagian mobil kita membelah di bagian belakang, Om Radian sudah gak bergerak lagi, Ai sendiri sudah tengkleng di leher, gak bisa gerak. Bangun-bangun sudah di dalam ruangan serba putih. Ai pikir sudah lewat. Gak taunya di samping Ai sudah ada Anding!”
“O! Supir kalian gak ditemukan, gimana tuh?” tanya Daniel
“Nah itu!, ternyata dia supir cabutan, supir asli kita berhalangan datang. Sampai sekarang tu supir cabutan lagi buron!”
“Kalau supir truknya?”
“Dia juga buron!”
“Lo gak curiga waktu diajak ke jalan itu O?” tanya Rita
“Curiga apaan? Kan memang selalu lewat situ, Ai sempat heran juga sih kok tumben perusahaan sebesar Dar,Co membawa wakil direktur nyewa grab car. Tapi Ai gak berani nanya sama Om Radian, beliau kan dingin banget. Ai lupa bawa jaket!”
“Maksud lo, kalian nyewa taksi online” tanya Daniel
“Iya, Niel. Ai pikir oh mungkin karena Om Radian mau sidak!”
“Kalian mau berangkat ke kantor atau pulang?”
“Berangkat!, Ai nemuin Om Radian di Singapura 2. Andi kan nelpon Ai, katanya Ai disuruh nemani om Radian ke Singapura 1”
“Om Radian gak bilang apa-apa sama Lo?”
“Beliau Cuma bilang begini, Mario, kamu temani saya ke Singapura 1 ya! terus Ai bilang, sebentar Om, Ai ijin Martin dulu! Terus Om bilang, tadi dia sudah bilang ke Martin! Ai langsung chau deh!”
“Chau?” Daniel bingung
“Pergi maksudnya!” Rita menjelaskan
“Sepanjang jalan kalian gak ngobrol?”
“Ihh..Ai ngajak ngobrol, jawaban beliau Cuma ..mmmm....ya..tidak.. Ai pikir beliau gak suka basa-basi, jadi Ai diem saja”
“Kenapa Lo duduk di sebelah supir O?” tanya Rita
“Om Radian kan Wakil Direktur, sedang kan Ai cuma remahan"
“Direktur Utama!” Daniel membenarkan
“Oh ya? bukannya kakek Soto Dirutnya?”
“Kakek komisaris!” jawab Daniel
“Ooo begitu, Ai pusing deh kalau berurusan sama nama-nama jabatan. Ai milih di depan, selain Ai agak ngeri sama Om Radian, juga lebih nyaman di samping supir. Gak tahunya justru kebiasaan Ai malah menyelamatkan hidup AI”
“Kakek gak menutup penyelidikan kecelakaan kan?” tanya Rita
“Terpaksa ditutup Rit, kata kakek, terlalu lama penyelidikan akan menurunkan nilai saham Dar.Co” ujar Andi sambil mengajarkan Ranna berjalan
“Ranna sudah mau jalan?” tanya O
“Belum, masih 8 bulan” jawab Rita
“Memangnya boleh digituin?” tanya Mario
“Dianya mau begini” jawab Andi geli mengikuti langkah keponakannya yang menghampiri Mario
“Tuh O, dia kangen sama lo!” ujar Rita, Mario menggendong Ranna
“Hai Ranna!..kamu baru sembuh ya? kamu bisa sakit juga? Berani sekali penyakit itu sama kamu ya?”
“ahh..hahaha...!!” Ranna merespon ucapan Mario sambil tertawa
“Ranna sudah bisa ngomong lho!” ujar Daniel tiba-tiba
“Ranna, bilang papa!”
“Papapppppappp ahhh” Ranna berteriak
“pinter! Bilang mama!” pinta Daniel lagi
“mamammmmmmmmaammaaaaaa!” Ranna teriak lagi
“Sekarang bilang Oooo!” Mario mengajarkan
“Ohhhhohhhh” Ranna membulatkan mulutnya, pipi tembamnya makin menggemaskan
__ADS_1
“hahahaha!!! Langsung bisa!!!” Mario tertawa senang
“ting nong!” suara bel kamar mereka berbunyi lagi. Kali ini Andi membuka pintu kamar
“Hei Ndi!”
“Kakek!” Andi mencium tangan kakeknya, semua bangun dan menghampiri kakek Darmawan dan mencium tangannya
“Cicit ku, kamu sudah sembuh Nak?” Darmawan langsung mengambil Ranna dari Mario
“Ccccccckkccckk!” Ranna menirukan ucapan Darmawan
“Wah..sebentar lagi kamu ngomong ya?” Darmawan mencium dan memeluknya gemas
“Kakek sudah lama tiba di sini?” tanya Rita, ia menyediakan teh hangat untuknya
“Sudah sejak kemarin, Mario yang menjadi Wedding organizer. Jadi Kakek ikut bersamanya”
“Posisi Om Radian digantikan siapa Kek?” tanya Rita
“Untuk sementara kakek pegang sendiri dulu, sebenarnya kakek ingin Andi memulainya, ia melirik Andi”
“Iya Nding!, gampang kok kerjanya, Cuma nyuruh-nyuruh doang!” ujar Mario
“Kalau nyuruh gak pakai otak memang gampang! Tapi ini kan harus pakai otak.” Ujar Andi
“Ya pakai dong otakmu, kamu kan sudah hampir 21 tahun.” Ujar kakek
“Iya kak, coba saja dulu. Kalau gak bisa tinggal bilang ke kakek!” ujar Rita membujuk
“Nanti apa kata para CEO senior di kantor? Mereka dipimpin sama anak ingusan?” ujar Andi
“Terserah mereka mau bilang apa, toh yang punya perusahaan Yu!” timpal Mario, Rita mengangguk menyetujuinya
“Bagaimana Ndi? Kamu bisa belajar sambil berjalan. Toh kakek tidak meninggalkan kamu sendirian!”
“Kalau kakek yang pegang saja gimana?” tanya Andi masih tidak yakin
“Kakek sudah tua Ndi, Radian yang masih muda saja pergi lebih dulu, apalagi kakek” ujar Darmawan, nada suaranya terdengar memelas
“Aku pikirin dulu ya Kek, sekarang ini konsentrasi dulu saja ke resepsi tante” jawab Andi
Setelah beberapa lama mereka berkumpul di kamar Rita, akhirnya mereka kembali ke kamar masing-masing. Rita dan Daniel beristirahat di ranjang mereka sambil menunggu waktu makan malam.
“Kamu sudah sholat Isya?” tanya Rita
“Sudah, kamu?”
“Sudah juga. Yang!” Rita memiringkan tubuhnya menghadap suaminya
“Hmm?”
“Misalnya nih! kamu jangan marah ya?”
“Misalnya apa?”
“Kakek minta kamu pemegang cabang Singapura, kamu mau gak?”
“Kenapa tiba-tiba kamu bilang begitu?” tanya Daniel
“Menurutku setelah kasus pamannya Jameson, kakek pasti akan lebih memilih keluarga yang memegang usahanya dari pada orang lain”
“Menurutmu begitu?”
“Kamu dengar sendiri tadi kan?”
“Aku takut” ujar Daniel
“Takut orang-orang menghubungkan mu dengan ku?” tanya Rita
“Aku takut, kalau jabatan terlalu tinggi, aku sulit membumi. Aku kehilangan jati diriku. Aku takut kehilangan kamu!”
“Kehilangan? Kenapa bisa?”
“Kesibukan, pembuktian diri “
“Kalau begitu kamu harus bisa menemukan jati dirimu dulu. Bukan pekerjaan yang menjelaskan siapa kamu”
“Maksudnya?”
“Maksudku, walaupun seandainya kamu tidak lagi memegang jabatan itu, tidak masalah, karena kamu tetap Daniel, bukan sang direktur”
“Kamu habis baca buku apa?”
“Aku boleh pinjam?”
“Nanti aku share!, bukunya dalam bentuk Elektronik. “
“oo begitu..kamu lebih pintar dari aku!” Daniel mulai mengantuk
“Justru aku lebih banyak belajar dari kamu!” Rita menutup matanya
Bunyi alarm membangunkan mereka untuk makan malam.
“Aku ngantuk sekali, apa minta mereka antar kemari?” tanya Daniel
“Maunya sih begitu, tapi ada pesan dari kak Andi, mama dan pengantin sudah tiba di hotel, mereka minta kita berkumpul di ruang makan untuk gladi kotor” jawab Rita sambil membaca pesan di ponselnya.
Dengan segan mereka bangun, Rita mengganti pakaian Ranna, sedangkan Daniel membersihkan dirinya, setelah itu gantian Rita. Beberapa menit kemudian mereka telah rapi dan meninggalkan kamar mereka. Sesampainya di restauran hotel
“Halo!! Rita!!!Daniel!..Ranna!!” Metha menyapa sambil memeluk Rita dan Daniel, lalu mengambil Ranna dari gendongan
“Tante, maaf ya gak datang di acara ijab kabul”
“Gak apa-apa, kan karena Ranna sakit..sekarang kamu sudah sehat kan?” tanya Tante ke Ranna
“aaaa....ahhh!!” teriak Ranna
“Dia lagi senang teriak-teriak tante” jawab Rita tersenyum
“Berarti sakit kemarin karena pengen pintar ya?”
“Iya tante!"
"eh kenalkan ini suamiku Francois! , Francois ini keponakan ku Rita, ini suaminya Daniel dan ini anaknya Ranna!” Metha memperkenalkan
“Senang bertemu dengan kalian!” Francois mengatakan dengan tersenyum dan bahasa Inggris dengan logat perancis yang kental.
“Kami juga senang berkenalan dengan Anda!” jawab Daniel tersenyum
Acara gladi kotor berjalan lancar, selesai pukul 10 malam.
“Yak,..saudara-saudara kita bertemu lagi di sini besok jam 11 pagi!” ujar Mario dengan bahasa Inggris yang fasih
Rita dan keluarganya kembali ke kamar.
“Akhirnya...” Rita dan Daniel kembali rebahan di ranjang mereka, Ranna telah di tidurkan di strollernya
“Yang, menurut mu Francois itu seperti apa?” tanya Rita
“Apanya?”
“Baik apa enggak?”
“Baik dong!”
“Kok kamu bisa menyimpulkan? Kenal saja enggak?”
“Tante Metha gak mungkin milih orang yang salah kan?”
“Iya sih, tapi Erick? Mantannya dulu?”
“Menurutku, Tante memang sudah ragu kan padanya? Kamu sendiri yang cerita, dia gak pernah mengenalkan Erick ke keluarganya”
“Iya juga, ternyata kamu pendengar yang baik ya? aku pikir kalau aku cerita kamu gak pernah dengerin”
“Dengar dong, kalau istri ku bawel berarti segala sesuatunya berjalan lancar, tapi kalau mulai diam saja, itu yang bikin aku ngeri”
“hahaha..kamu bisa saja!” akhirnya mereka terlelap
Keesokkan paginya
“Ting nong!” bunyi bel kamar, Daniel membukanya
“Hai mantu!” Ratna datang
“Hai Ma!” Daniel mencium tangan mertuanya
“Bawa masuk kotaknya!” perintahnya kepada dua asistennya
“Apa nih ma?” tanya Daniel heran
“Pakaian pesanan kalian! Letakkan saja di ruang tamu, kalian boleh bebas ngapain saja!” ujar Ratna
“Mama!” Rita menghampiri dan memeluk mamanya
__ADS_1
“Hmm...sudah lama ya? wah perut mu sudah mulai kelihatan nih”
“Iya ma, sudah 6 bulan” Rita mengusap perutnya, Daniel membuka kotak pakaian mereka
“Kok banyak banget ma?”
“Lho kalian pesan 3 set kan? Karena yang kemarin kalian gak datang, jadi mama bawa sekarang”
“Dress code nya warna apa ma?”
“Warna kesukaan Metha, coklat!..mama membawakan warna cream, karena pengantinnya pakai warna coklat keemasan”
“Wahh...mewah banget bajunya” Rita membuka pakaian untuknya
“Bagian pinggangnya karet Rit, mama selalu pikir, kamu akan sering hamil” ujar Ratna
“uhuk..uhuk...” Daniel terbatuk-batuk meninggalkan kedua ibu dan anak itu bercakap-cakap. Ia kembali ke kamar untuk menemani Ranna yang sedang bermain sendirian di ranjang mereka
“Ranna!..kamu mau punya adik berapa?” tanya Daniel pelan
“aaaa...”
“nih papi kasih jari papi kamu pilih ya?” Daniel memberikan jari 4 dan 5
“Yang mana?” tanyanya,
“aahhh!!!” Ranna menyentuh tangan Daniel yang berjari 4
“Ooo..kamu pengen punya adik 4? Baiklah!! Nanti bilang ke mami ya?” Daniel mengangkatnya dan membawanya menemui ibu mertuanya
“Nenek!!!” panggil Daniel, ia memberikan Ranna ke mertuanya
“Ranna! Cucu ku! Kamu sudah sehat Nak?” Ratna mencium Ranna dengan sayang
“Sudah nek!” Daniel mewakili menjawabnya dengan suara anak-anak
“Dasar!” Rita geli mendengar suaminya yang jahil
“Rita kamu sudah bisa make up sendiri kan?” tanya Ratna
“Sudah ma, dia sudah ambil kursus dandan. Sekarang dia bisa berhias sendiri” jawab Daniel
“Bagus lah!, kalian harus sudah siap maksimal setengah jam sebelum acara ya?” ujar Ratna mengingatkan,
“Aku pinjam Ranna dulu ya?” ujar Ratna sambil membawanya pergi
Daniel mengunci pintu.
“Masih jam 7 pagi, mama pagi banget ya kemari” Rita mengagumi pakaian yang dibawa mamanya
“Yang, kamu gak perhatiin pagi ini? Di luar putih banget!, kalau kita keluar kedinginan. Padahal Swiss itu terkenal juga dengan lapangan rumput yang hijau!” ujar Daniel
“Iya, padahal aku berniat jalan-jalan sekitar hotel sebelum kita pergi sarapan”
“Jadi kita ngapain nih?” tanya Daniel
“Ranna sama mama, pastinya dia akan dikasih ke kita pas sarapan”
“Kesempatan kita berduaan nih yang!” Daniel memeluk istrinya
“Kamu mau melakukannya sekarang?” tanya Rita
“Hampir seminggu ini kita sibuk dengan Ranna, lalu kita ada di hotel di Swiss, kapan lagi?” Daniel mulai mencium bibir istrinya, pagi itu mereka bercinta dengan intens
“Hah..hah...hah..padahal cuma minggu ini saja yang sibuk, tapi kayaknya sudah lama banget aku gak nyentuh kamu?” ujar Daniel kelelahan
“ Kenapa mama tiba-tiba pergi?” tanya Rita sambil menutup tubuhnya dengan selimut,
“Mungkin mama menangkap maksudku untuk membawa Ranna pergi, supaya aku bisa berduaan dengan istriku”
“Masa? Mama tahu kode dari mu?” tanya Rita heran
“buktinya kan? Hah...aku lega sekali bisa berduaan sama kamu seperti ini..”
“Kamu aneh”
“Aneh?”
“Kamu pengen punya anak banyak, tapi kamu ingin sering berduaan gimana itu?”
“Aku sudah tanya Ranna, pengen punya adik berapa. Dia menunjuk angka 4!, jadi kita akan membuat anak lagi!” ujar Daniel sambil memeluk istrinya lagi.
Setelah aktivitas bercinta mereka selesai, mereka berdua membersihkan diri dan bersiap untuk sarapan. Mereka bertemu dengan Ranna di restauran ia sedang bermain dengan Uwa nya. Ratna melihat Rita dan Daniel datang, rambut mereka terlihat masih basah.
“Kalian gak mau ke salon dulu?” tanyanya
“oh iya ma, di sini ada?” tanya Rita
“Ada, kalian makanlah dulu, nanti mama minta staf hotel untuk memanggil hair dresser ke kamar kalian!”
“Hair dresser? Apa gak ada barber shop di sini?” tanya Rita
“Ada sih, kamu lebih senang ke salon?”
“Iya!”
“Baiklah, nanti mama minta salah satu staf sini untuk mengantar kalian!”
Selesai makan, Rita dan Daniel ke salon, beberapa menit kemudian mereka telah selesai dirapikan rambutnya. Daniel memotong rambutnya bergaya militer, itu membuatnya terlihat lebih tampan dan lebih muda dari usianya. Sedangkan Rita, rambutnya dipotong menjadi sebahu, dan berponi, ia tampak seperti gadis belasan tahun. Keduanya saling menatap tak percaya
“Rita?”
“Daniel?”
“Baiklah!” Kedua hair dresser menyadarkan keduanya, setelah Daniel membayar, ia merangkul Rita dengan sayang
“Aku seperti mengasuh adikku” bisiknya, karena Rita terlihat menjadi sangat imut
“Aku juga seperti tahanan militer!” bisik Rita. Keduanya kembali ke restauran untuk mengambil Ranna
“Rita? Daniel? kalian?” Ratna heran dengan penampilan mereka yang menjadi seperti remaja
“Ahaii!! Ritong!! Kayak bocah yang lagi hamil !” celetuk Mario
“Biarin!” jawab Rita sambil mengambil Ranna dari Andi
“Lapor pak! Ranna sudah ganti popok! Laporan selesai!” goda Andi ke Daniel
“Ya..ya..ya..” Daniel tersenyum, mereka kembali ke kamar
“Apa kita kelihatan terlalu teenager ya?” Rita mulai insecure
“Kamu cantik kok! Nanti setelah pakai riasan juga normal lagi!” ujar Daniel sambil mencium rambut istrinya
“Yang, kok kamu malah dicukur kayak militer gitu?” tanya Rita heran
“Tadi aku lihat-lihat model rambut, setelah dipikir-pikir, hampir semua gaya rambut pernah aku coba, Cuma yang ini belum. Gimana? Cocok gak?”
“Cocok sih! Tapi kamu kelihatan seperti militer beneran!”
“Hahahaha...gak apa-apa lah! Yang penting tetap tampan kan!” Daniel meletakan dua jarinya di dagu
“Dasar narsis!”
Ranna mengganti pakaian Ranna dengan dress kecil berwarna cream, kemudian ia sendiri mengenakan dress berwarna sama, dengan aksesoris berwarna hijau lumut. Setelah merias diri, ia kelihatan cantik. Daniel juga mengenakan jas berwarna cream dengan hiasan hijau di kantong, membuatnya terlihat elegan.
“Wow!! Yang mama mu betul-betul bagus seleranya!” Daniel mematut diri di cermin, ia terpukau melihat Rita yang telah selesai berdandan
“Kamu harus mengurangi riasan mu, karena sekarang ini kamu seperti pengantin!” ujar Daniel
“Oh ya?” Rita kembali ke meja riasnya, dan menggunakan warna yang lebih soft tapi matching dengan pakaiannya
“Bagaimana yang?” tanyanya, Daniel menghampiri lalu mencium bibirnya lama
“Kalau aku serakah, aku gak bakal membiarkan lelaki lain mengagumi kecantikan mu!” bisiknya, Rita tersipu
“ah kamu!, jadi gimana nih? oke gak?”
“Kalau gak pakai riasan saja gimana?”
“Maksud mu?”
“Ya..lipstik sama bedak saja!”
“Ah kamu ada-ada saja” Rita kembali ke meja riasnya, dan mengurangi lagi
“kalau begini?” tanyanya
“Kamu sudah cantik dari sana nya, jadi dikurangi terus, tetap cantik” puji Daniel, Rita tersipu mendengar pujian suaminya
“Alhamdulillah!, baiklah sudah fix!” ia menyemprotkan cairan untuk mempertahankan riasan
Ranna yang diberi bando kecil di rambutnya, tampak lucu dan manis, mereka muncul di pernikahan. Beberapa pasang mata melihat mereka tanpa berkedip
_bersambung_
__ADS_1