Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 175: Kunjungan ke kelas 5-2


__ADS_3

“Yang, kamu ingat Eddy?” tanya Daniel, mereka tidur-tiduran di sofa depan tv,


“Eddy? Asistenmu kan?” Rita menyenderkan kepalanya di dada suaminya


“Iya, betul. Ia minta bantuanku untuk ngomong sama kamu”


“Bantuan apa?”


“Ia minta kamu datang ke sekolah anaknya !”


“Hah? Memangnya aku mamanya?” ujar Rita


“Makanya kamu dengerin aku dulu!!!” Daniel gemas dengan istrinya, ia memeluk dan menciumi wajah istrinya bertubi-tubi


“ha..ha...ha....iya..iya...terus?” Rita tertawa geli


“Jadi anaknya yang SD itu ada tugas untuk mengundang tokoh yang menginspirasi”


“Tokoh? Aku?” Rita bangkit dari sofa tempat mereka bermesraan


“Iya? Jadi Eddy menunjukkan foto kita waktu pertandingan di kantor itu, lalu ia mengenalimu. Anak itu fans berat kamu lho! Ia mengikutimu di medsos. Coba deh kamu lihat IG mu!” ujar Daniel, ia menarik Rita agar tidur di sampingnya lagi.


“Sebentar Yang! siapa namanya?” Rita mengambil ponsel yang ada di dekatnya


“Lyla_29, kalau gak salah?” Daniel mengintip ponsel istrinya


“hmm...Lyla_29..haaa, ini rupanya. Dia pernah DM aku, untuk kenalan. Tapi aku agak trauma dengan nama ID yang ada underscore atau nomornya, biasanya itu akun palsu”


“Tapi itu beneran Yang!, nih Eddy nge-Chat aku!” Daniel menunjukkan pesan di ponselnya,


“Tolong ya Pak!, anak saya sangat mengharapkannya!” Rita membaca pesan tersebut


“Menurutmu gimana Yang? Aku harus datang apa enggak?”


“Datang saja! Hitung-hitung belajar mengasuh anak kecil.”


“Tapi mereka sudah kelas 5 SD lho! Itu menjelang remaja!”


“Yang, undangan itu pujian lho buat kamu, artinya usaha kamu selama ini diakui, orang. “


“Tapi tujuan aku buka usaha bukan untuk dikenal orang Yang, aku cuma ingin menjadi orang kaya dengan usahaku sendiri, itu saja!”


“Iya, aku tahu. Tapi zaman now, medsos itu kekuatan baru berpromosi lho!. Toko mu sudah dikenal orang, kamu juga beberapa kali muncul di beberapa acara bersama orang-orang terkenal jadi kamu itu termasuk tokoh!”


“Aku tokoh? Kok aku jadi takut ya?”


“Kenapa?”


“Aku ini punya banyak kekurangan, aku pikir tidak pantas menjadi teladan mereka!”


“Kekuranganmu itu artinya kamu masih manusia! Bukan malaikat! lagi pula mereka akan bertanya hal-hal yang standar. Kamu jangan terlampau serius menanggapinya”


“Iya sih!, tapi kira-kira aku ngomong apa ya?”


“Perkenalkan diri dulu saja! Lalu cerita deh tentang awal membuat toko. Buat singkat saja, nanti biarkan mereka yang bertanya lebih detail.”


“Begitu ya? kok kamu bisa membuatnya simple ya?” Rita mengusap pipi suaminya dengan lembut


“Tentu dong, memangnya kamu ingin bercerita tentang asal muasal roti? Atau gandum sebagai bahan dasar roti?” ujar Daniel lagi


“Boleh juga tuh Yang, kan jadi pengetahuan buat mereka!”


“Aku yakin mereka sudah mendapat info itu dari guru mereka, tujuan kamu diundang itu. Karena kamu yang membuka toko diusia muda dan toko itu sukses!”


“Hmm...toko ku memang sudah dikenal, tapi sukses? Aku gak yakin!”


“Kenapa? Banyak toko yang begitu-begitu saja!”


“Tapi mereka bisa bertahan lama, Yang!, aku inginnya toko ini bisa kuwariskan ke anak dan cucuku!”


“hmm...pikiranmu jauh juga ya?”


“Iya ya? hehehe!”


“Yang?” panggil Daniel, ia melihat Rita yang membalas pesan Eddy melalui ponselnya


“Ya?”


“Sakit gak?”


“Sakit apa? sakit karena hamil? Enggak kok! Biasa saja!” ujar Rita ia masih sibuk membalas pesan Eddy dan membuat janji


“Sakit gak jatuh ke bumi? Kamu kan tadinya bidadari di surga” goda Daniel


“hahaha!!! Kamu lucu sekali!!” Rita menggelitik suaminya yang mudah geli.


Daniel terus menunjukkan perhatian kepada istrinya, menggodanya, lebih sering memeluknya, memujinya bahkan ia tidak bersikap dingin lagi pada istrinya jika ia marah. Akhirnya ia bisa tidur dengan nyenyak istrinya tidak lagi memukulinya saat tidur.


Hari H di sekolah SD High Education, kelas 5-2


“Anak-anak sekalian, hari ini tugas mengundang tokoh, giliran siapa ya?” tanya guru kelas

__ADS_1


“Lyla bu!!!” jawab anak-anak kompak


Rita ada di dalam kelas itu, bersama Eddy dan orang tua murid yang lain. Daniel meminta Eddy untuk merekam acara tersebut .


Lyla, anak Eddy, berusia 10 tahun. Giginya dilapisi behel dan memakai kacamata. Ia maju dengan penuh percaya diri.


“Hai!! Nama saya Lyla Amarant, hari ini saya berhasil mengundang tokoh yang saya kagumi selain kedua orang tua saya. Silakan ms.Rita!” Lyla mempersilakan Rita untuk maju ke depan kelas menemaninya. Rita maju ke depan kelas, ia agak sedikit gugup, tapi pesan dari suaminya agar ia tidak terlampau serius.


“Ehem!!...Halo adik-adik!!! Nama saya Rita Darmawan, umur 18 tahun. Saya pemilik D’Ritz, toko roti yang sedang viral. Kalau kalian nonton sinetron “Flying High” yang sedang trend, toko saya menjadi tempat sutingnya!. Toko roti saya ini masih berumur 7 bulan. Awalnya saya tidak berniat membuka toko, saya hanya menemukan tempat yang menarik untuk dijadikan tempat saya mempraktekan kemampuan membuat kue. Ternyata, wangi dari roti yang saya buat, membuat orang yang lewat serta lingkungan sekeliling toko menyukainya. Awalnya saya memberikan sample kepada mereka, eh ternyata mereka sangat menyukai rasa roti dari toko saya. Akhirnya saya membuka toko itu. Oh iya, saya juga membawa beberapa sample roti untuk kalian semua!”


Eddy membagikan roti mini kepada setiap anak, guru kelas juga kepada orang tua murid. Beberapa murid mencoba roti dari Rita dan mereka sangat menyukainya


“Enak!!!” puji mereka


“Terima kasih! Oh ya, tokonya berada di sekitar apartement di jalan orchard. Cukup sekian dari saya, jika ada yang mau ditanyakan, saya akan dengan senang hati menjawabnya!” Rita merasa lega karena bagian yang sulit telah ia lewati


“Ms Rita?”


“iya?”


“Apa Anda sudah menikah?” tanya salah seorang murid


“Iya sudah!”


“Anda bilang usia Anda masih 18 tahun, apa Anda menikah karena hamil lebih dulu?” tanya anak perempuan itu


Rita kaget begitu juga para orang tua murid dan guru


“Angel, pertanyaan kamu tidak ada hubungannya dengan tema kita kan?” ujar bu guru, ia merasa tidak enak pada Rita


“Tidak, kami menikah karena saling mencintai, dan saya hamil beberapa bulan setelah kami menikah!”


“Apa iya? Soalnya kakakku bilang, biasanya orang menikah muda karena hamil duluan”


“Tapi aku gak begitu, aku bisa membuktikannya!” ujar Rita tegas


“Tidak usah Ms!” guru kelas mencegah Rita untuk menanggapi pertanyaan tersebut


“Ms.Rita, nama tokonya D’Ritz, apa ada artinya?” tanya salah seorang anak


“Rit itu diambil dari namaku, tadinya namanya D’Rits pakai S, maksudnya ini semua hasil karyaku, karena kurang keren, jadi S diganti dengan Z.”


“oo begitu, kalau huruf D-nya?”


“Huruf D itu menggantikan kata The, atau bisa juga diambil dari huruf depan nama suamiku” ujar Rita


“Ms, Rita, jadi suamimu juga pemilik toko?”


“Iya!, dia memiliki sekitar 15% dari saham toko kami!”


“Uhuk...uhuk!!!” Rita terbatuk-batuk mendengar pertanyaan aneh yang keluar dari mulut anak kelas 5 SD


“Issac, kenapa kamu bertanya tentang hal itu? Gak ada hubungannya dengan tema kita kan?” bu guru makin kesal dengan pertanyaan yang aneh-aneh


“Ada hubungannya bu!, seperti kalian tahu. Ayahku pengacara perceraian, beliau bilang agar saat bercerai Anda tidak dirugikan oleh pasangan sebaiknya mulai membuat daftar harta yang anda hasilkan sendiri”


“Tapi aku tidak berniat bercerai dari suamiku!” ujar Rita kesal


“Maaf ms Rita, tidak usah ditanggapi!” ujar bu guru


“Ms.Rita?” tanya anak lainnya


“Ya?”


“Usia Anda kan masih muda, kemudian memutuskan menikah, apa Anda tidak merasa kelak akan kehilangan masa muda Anda?” tanyanya


Para guru dan orang tua murid lainnya sangat terkejut dengan pertanyaan-pertanyaan kritis yang diajukan anak kelas 5 SD, mereka sangat bersyukur mereka bukan tokoh terkenal, sehingga tidak banyak yang ingin tahu tentang mereka.


“Tidak!, Saya menikmati masa muda saya. Suami saya membebaskan saya untuk mengejar impian, justru ia menjadi penyemangat bagi saya. Kami seperti rekan satu tim!” ujar Rita lagi


“Anda bilang Anda sedang hamil?” tanya anak lainnya


“iya betul!”


“Usia kehamilannya?”


“Empat bulan! Kami menikah 9 bulan yang lalu, jadi kami menikah bukan karena hamil duluan!” ujar Rita lagi


“Apa Anda akan tetap bekerja ketika sudah ada dedek bayi? Mamaku setelah adikku lahir ia sangat kelelahan. Ia sering mengeluh karena papaku tidak membantunya sama sekali. Papa selalu menghindari mama, karena mama selalu terlihat lelah di matanya” ujar anak itu


“Aku akan mengukur kemampuanku sendiri, jika aku sanggup menjalani usaha ini dengan bayi ditanganku maka akan aku lanjutkan. Kalau tidak, aku akan menyewa orang untuk menjalankan bisnisku.” Ujar Rita mantap


“Apakah suami Anda tidak akan berkeberatan?”


“Sebelum kami menikah, suamiku sudah berjanji padaku kalau pernikahan kami tidak akan menghalangiku mencapai mimpiku”


“Apa ada perjanjian tertulis?” tanya anak yang ayahnya pengacara


“Tidak ada, tapi aku mempercayai ucapan suamiku” jawab Rita


“Sebaiknya Anda merekam kata-kata suami Anda ms, itu kalau tidak ada perjanjian tertulis ayahku bilang...” ia menghentikan ucapannya karena bu guru memotong

__ADS_1


“Ada pertanyaan lain yang lebih menginspirasi?” tanya bu guru


“Ms.Rita, roti-roti anda sangat enak apa Anda akan membuka cabang?” tanya salah satu anak


“Aku belum memikirkan hal tersebut, usahaku ini masih baru, aku juga masih banyak belajar. Aku juga selalu mengembangkan roti rasa baru. Untuk sementara aku sangat puas dengan hal itu” jawab Rita


“Tapi Anda pasti akan membuka banyak cabang kan?” tanya anak itu lagi setengah memaksa


“Mungkin, tapi entahlah! Kenapa?”


“Rumahku jauh dari jl. Orchard. Roti Anda sangat enak, kalau aku ingin membelinya aku harus berjalan jauh dulu ke toko Anda”


“Kamu bisa membelinya lewat pos!, rotiku tahan 3 hari diperjalanan tanpa pengawet, karena aku membuatnya dengan memperhatikan kebersihan. Beberapa langganan kami dari luar kota juga membeli melalui pos”


“begitu ya? apa ada minimal pembelian?”


“Supaya biaya posnya tidak percuma, sebaiknya kamu membeli rotinya lebih dari satu”


“Ooo begitu baiklah!” anak itu bernafas lega


“Ada lagi yang mau bertanya?”


Anak-anak terdiam, kelihatannya mereka sudah mulai bosan


“Baiklah, Lyla, silakan menutup acara ini”


“Terima kasih Ms.Rita atas kesediaannya datang kemari, saya sangaaaattt berterima kasih. Jujur saja Anda lebih cantik aslinya dari pada di foto!” puji Lyla


“Terima kasih kembali, kamu juga cantik!” puji Rita


“Baiklah teman-teman, sekian dari Kami!” Lyla dan Rita menundukkan kepalanya


“plok...plok...plok..” tepukan meriah dari seluruh kelas. Rita dan para orang tua lainnya meninggalkan kelas tersebut. Orang tua yang mengenali Rita ada yang meminta berfoto bersamanya, dan meminta kartu nama tokonya. Rita melayani mereka dengan sopan dan ramah. Hingga tinggal dirinya dan Eddy


“Bu Rita, terima kasih banyak ya! maaf anak saya merepotkan!”


“Tidak kok Pak, justru saya sangat tersanjung, suami saya bilang, ini salah satu cara saya mempromosikan toko saya!”


“Anda dan Pak Daniel betul-betul pasangan serasi ya, bikin iri saja. “


“Ah tidak pak, jangan seperti itu, kami masih baru dan masih harus banyak mengenal satu sama lain!”


Akhirnya Rita kembali ke tokonya, sedangkan Eddy kembali ke kantor untuk menyerahkan hasil rekaman acara tadi kepada Daniel.


“Sudah Ed? Jadi gimana? Sukses?”


“Sukses pak, bu Rita sangat luwes menghadapi anak-anak!”


“Alhamdulillah..syukurlah, tapi kamu gak mengeditnya kan? Aku ingin rekaman aslinya tanpa editan”


“Iya pak, tapi maaf ya kalau hasil rekamannya kurang bagus”


“Gak apa-apa Ed, silakan kamu kembali ke ruanganmu!”


“Terima kasih Pak!” Eddy kembali ke ruangannya, sedangkan Daniel membuka kamera yang Eddy serahkan


Ia terbatuk-batuk mendengar pertanyaan-pertanyaan aneh dari anak kelas 5 SD, ia lebih banyak menggeleng setengah tidak percaya.


Pukul 4 sore jam kantor selesai, ia segera bergegas pulang. Sesampainya di rumah, ia mendapati istrinya sedang menunggunya di sofa depan tv.


“Sayang kamu gak apa-apa?” tanyanya khawatir


“Tenang Yang, kamu kenapa?” tanyanya heran


“Aku gak menyangka anak kelas 5 SD bertanya hal-hal berat semacam itu!”


“hahaha..iya ya, apa Eddy merekam reaksi para guru dan orang tua murid ketika mereka mendengar pertanyaan tadi?”


“Tidak!, tapi aku mendengar perkataan mereka yang sempat terekam, sungguh mengejutkan memang. Sungguh, kamu gak apa-apa?” Daniel memeluk istrinya untuk menenangkannya


“Sungguh, aku tidak apa-apa, ayo makan. Sini jas dan tas mu!” Daniel memberikan tas dan jasnya kepada istrinya, lalu mereka makan di ruang makan. Mereka tidak banyak berbicara


“Yang!” ujar Daniel


“Sebentar aku duluan!” ujar Rita


“Baiklah!” Daniel menghentikan makannya


“Yang aku katakan di depan kelas itu sungguh-sungguh, aku tidak menyesal menikah muda. Karena aku menikah dengan mu. Kalau dengan yang lain belum tentu aku mau. Jadi aku minta kamu jangan merasa bersalah mengajakku menikah di usia ini, oke?” ujar Rita. Daniel tersenyum, ia senang RitaA menangkap maksudnya


“Jadi...kamu ingin punya berapa anak?” tanya Daniel


“hhh...anak zaman now betul-betul merepotkan. Mudah-mudahan kamu gak begitu ya Nak!” Rita mengelus perutnya


“Iya Nak! Papi sangat sayang sama mamimu, jadi kamu juga harus sayang mami ya!!!” Daniel mendekatkan wajahnya ke perut Rita


“Eh!!!”


“Kenapa?”


“Bayi ini merespon ucapanmu!”

__ADS_1


“Wahh..sudah empat bulan, sudah bernyawa ya,kita harus rajin mendoakannya ya ?” ujar Daniel. Rita mengangguk. Daniel melanjutkan makannya, setelah selesai ia membersihkan sendiri piring dan gelasnya, kemudian lanjut mandi. Ia sudah sholat ashar di kantor. Sementara Rita membuka laptopnya dan membuka situs perkuliahan, ia sedang memikirkan jurusan kuliah yang akan ia ambil.


_Bersambung_


__ADS_2