Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 204: Di Swiss


__ADS_3

Daniel menggendong Ranna menghadiri resepsi pernikahan Metha, Ranna terus memperhatikannya sejak keluar dari kamar


“Yang, Ranna sejak dari kamar merhatiin kamu terus tuh!” Rita geli melihat ekspresi wajah Ranna yang bingung. Daniel membalikkan Ranna menghadap dirinya


“Ranna ini papi! Masa kamu gak kenal?”, Daniel memakai suaranya yang seperti anak kecil. Ranna mengenali suara papinya, ia berteriak


“paaapaaaapppaaahhhh!!!” teriaknya sambil memukul-mukul wajah Daniel


“ampuunn...ampun..putri Ranna!!” Daniel bertingkah seolah-olah kesakitan dengan pukulan Ranna


“Kalian ini!” Rita geli melihat suami dan anaknya asyik sendiri


“Rita! Daniel!!” panggil kakek Sugiyono


“Kakek! Apa kabar?” Daniel bangkit dan mencium punggung tangan kakek Sugi, Rita mengikutinya


“Ranna! Sini gendong sama aki kakek!” ujar Sugi sambil mengambil Ranna dari gendongan Daniel


“kok Aki kakek?” tanya Rita bingung


“Habis kalau uyut, itu panggilan kakek Dar, jadi untuk kakek, aki kakek saja!” Sugiyono menggendong Ranna dan mencium pipinya


“Ranna, say : aki kakek!” kakek sugi mengajarkan


“kekkkkk!” Ranna meniru


“wahh...Ranna pintar! Aki kakek senang!!” kakek sugi memeluknya gemas


Rita dan Daniel hanya tersenyum melihat kakeknya


“Adiknya Ranna kapan lahir Rit?” tanya Kakek tiba-tiba


“kira-kira 4 bulanan Kek” jawab Rita


“Kamu mau lahiran di mana? Di Jakarta atau Singapura? Kakek dengar, Ranna tetap WNI?”


“Iya Kek, Daniel yang mendaftarkan, dia bilang supaya sama dengan Rita”


“hmm..Daniel kamu gak mau sekalian jadi WNI?” tanya kakek Sugi


“hah? Aku? Hmm...”


“Daniel gak mau pindah kewarganegaraan Kek, lagi pula kita masih menetap di Singapura” jawab Rita


“Iya sih, tapi kakek dengar kondisi Dar,Co di Singapura kurang bagus. Mungkin diambil alih orang! Kalau sudah begitu lebih baik kamu pindah ke Jakarta saja Niel” saran kakek Sugi


“Apa memang sudah separah itu Kek?” tanya Daniel


“Kakek baru mendengar desas-desus dari kolega kakek, belum dengar langsung dari kakek Darmawan”


“Apa separah itu Kek?”


“Kesalahan Dik Darmawan, melimpahkan semua wewenang ke Radian, akhirnya ketika Radian tiada. Ia kebingungan sendiri”


“Tapi Kek, bukan kah yang menentukan kepemimpinan di perusahaan pemegang saham?” tanya Daniel


“Iya, Dar.Co, pemegang saham utamanya ya Darmawan. Hak manajemen di beliau. Aku harap Andi bisa mengambil alih Dar.co sesegera mungkin”


Acara resepsi dimulai. Acara yang berlangsung selama 4 jam, cukup menyenangkan dan menghibur. Sekali lagi Mario sukses menyelenggarakan acara. Ucapan kedua mempelai


“Terima kasih, kepada keluarga ku terkasih. Mama, Papa, Kak Ratna, saudara-saudara ku, teman-temanku. Andi keponakan ku yang ceria, tidak lupa terima kasih tak terhingga untuk keponakan ku yang pemberani Rita. Karena energi positif dari kamu, tante bisa move on dari keterpurukan, terima kasih ya sayang! Love you!..terima kasih Niel, Ranna! Sudah hadir di acara ini. Dan terkhusus terima kasih pada sahabat ku Mario yang mengemas acara pernikahanku menjadi sangat menyenangkan. Terima kasih semuanya!!” Metha mengucapkan dengan penuh rasa haru.


Acara selesai pada pukul 3 sore, tetapi di Swiss pukul 3 masih sangat terang benderang. Rita dan Daniel kembali ke kamar mereka, Ranna tertidur kelelahan karena berpindah-pindah gendongan.


“Ranna lelah sekali hari ini” Daniel menaruhnya di ranjang mereka


“Tentulah, iya berpindah-pindah. Hampir semua orang yang hadir menggendongnya, aku bersyukur Ranna bukan anak yang rewel” Rita melihat wajah anaknya yang lelap tertidur.


“Besok kita ke London ya?” Daniel melihat e-ticket yang dikirim ke ponselnya


“Iya, acara selamatan anaknya Charles Lucas” Rita mengganti pakaiannya dengan daster, lalu membersihkan make upnya di cermin rias. Daniel merebahkan tubuhnya di samping Ranna.


“Mudah-mudahan kamu gak kelelahan ya, aku cemas melihat kamu bergerak. Aku baru sadar setelah kakek Sugi menanyakan usia kandungan mu”


“hahaha...kamu benar-benar aneh, padahal kamu sering menengoknya, tapi malah gak tahu” ujar Rita tersenyum


“Iya ya...hahahaha...lain kali aku akan lebih hati-hati”


“Sepulang dari London, aku sudah tidak boleh terbang-terbang lagi, karena masuk trimester terakhir.”


“Kamu mau tinggal di Jakarta saja?” tanya Daniel


“Kamu di mana?”


“Ya di Singapura!”


“Gak mau ah, kalau pisah dari kamu. Lagi pula kasihan Ranna, dia akan butuh teman setelah adiknya lahir.”


“Sebenarnya aku juga gak mau, tapi kalau mendengar kabar tentang Dar.Co dari kakek Sugi aku jadi cemas sendiri”


“Kamu punya solusi yang?”


“Kalau aku punya uang banyak, aku akan membeli saham Dar.Co untuk mengamankan. Dengan demikian hak manajemen masih dipegang oleh kakek Darmawan”


“Memangnya untuk membeli saham Dar.Co, membutuhkan berapa dolar?”


“Yaa..sekitar 20 juta dolar. Kalau gak salah itu senilai 2 % saham Dar.Co”


“Wah sayang sekali, tabungan D’Ritz belum sampai jutaan, kalau sudah lebih baik aku yang beli sahamnya”


“Oh ya, Rit aku dengar dari BOS, katanya kamu sudah masuk nasabah premium”


“Hehehe...iya ya? kog mereka spill itu? Bukannya itu rahasia?”


“Mereka gak bilang jumlahnya, mereka Cuma bilang; pak Daniel istri anda telah menjadi nasabah premium di sini”


“hehehe..aku dapat banyak voucher lho!”


“Oh ya? voucher apa? kok kamu gak bilang-bilang?”


“Kamu mau?”


“boleh dong! Sekali-sekali dapat sesuatu dari istriku”


“Oh iya ya, aku gak pernah ngasih ke kamu” Rita mengambil sesuatu dari tas Dior pemberian suaminya

__ADS_1


“nih Yang!”


“Voucher belanja senilai 10 dolar di merchant tertentu” Daniel membaca voucher yang Rita berikan


“Mereka ngasih sepuluh lembar, jadi kita bagi dua ya?”


“kalau 10 dolar, 5 lembar jadi 50 dolar, mau beli apaan ya?” Daniel memasukkan 5 voucher ke dalam tas kecilnya


“Kalau bingung, kamu kasihin ke istri kamu saja!” usul Rita


“Enggak ah! Istriku sudah mengambil jatah bulanan 15% ku dari D’Ritz. Aku mau menikmati yang ini” balas Daniel tersenyum.


Setelah makan malam dan sholat Isya mereka terlelap. Esok paginya mereka bersiap untuk check out dan pergi ke London.


“Ting-nong!” bel kamar mereka berbunyi, Daniel membuka kan pintu


“hy Niel!”


“Masuk O!”


“Kalian jadi ke London hari ini?” tanya Mario


“Yap!, kami sudah diundang sejak seminggu lalu, gak enak kalau gak datang”


“Aku gak boleh ikut ya?”


“Kamu harus kembali ke Singapura kan?”


“Yeahh..sebenarnya Ai masih trauma di sana. Ai mau minta sama kakek soto untuk pindah tugas saja di Auckland”


“Kamu gak profesional dong!, kamu kan terikat kontrak sama Singapura 2, bukan sama kakek “


“Tapi kakek kan ownernya, seharusnya bisa kan?”


“Bisa sih, apa sih yang gak bisa. Tapi apa You gak takut kalau memutus kontrak secara sepihak bisa mempengaruhi port folio mu yang sudah bagus?”


“ahhh...Ai kesel deh kalau ngomong sama Yu atau bini yu, kalian itu ideal banget ngomongnya bikin orang jadi merasa salah!” Mario pergi dengan wajah kesal, Rita keluar dari kamar mereka


“Perasaan tadi dengar suaranya si O?” tanya nya


“Memang tadi dia kemari, terus keluar lagi “


“Kenapa dia?”


“Ngambek, trauma katanya di Singapura”


“kasihan O, kamu gak bisa bantuin dia yang?”


“bantuin gimana?”


“ya, supaya gak di Singapura lagi”


“hmm...itu tergantung masa kontrak si O dengan cabang Singapura 2”


“yahh..mentok dikontrak lagi ya?”


“Maksud mu?”


“Iya, kamu juga kan? Kontrak itu jadi seperti penjara ya, kamu diikat gak bisa kemana-mana”


“Sebenarnya aku curiga lho Yang sama kamu”


“Sama aku? Kenapa?”


“Aku perhatikan hampir semua orang di Dar,Co ketar-ketir karena ketidakjelasan, tapi kamu terlihat tenang,bahkan terkesan tidak peduli dengan keadaan Dar.Co”


“Kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu?”


“Aku melihat kamu seperti bersembunyi dibalik kontrak BOS”


“Karena aku dibayar besar untuk itu, kamu tahu nilai kontrak BOS itu hampir seperempat jumlah seluruh nilai kontrak di Dar.co Singapura 2, makanya aku mendapatkan 1 lantai khusus!”


“Sama sekali kamu gak bisa pegang proyek lain?”


“Gak bisa! Aku bisa kena denda, kamu bukan orang pertama yang membujukku Yang, sebelumnya mantan kliennya Jameson juga membujukku. Dan aku menunjukkan draft kontrakku dengan BOS. Tapi sungguh setelah kontrak dengan BOS berakhir aku akan segera membantu Dar.Co. aku merasa bersalah memberikan klien itu kepada Jameson”


“Kalau kamu mengerjakan proyek denang D’Ritz?”


“Itu lain! D’Ritz tidak masuk group Dar.Co, dan ini bisnis istriku yang cantik tapi bawel, BOS tidak bisa melarangku untuk membantu bisnis istriku”


“Alhamdulillah!!”


“Kok kamu senang sekali, bukannya kamu sudah percaya dengan Erina?”


“Bagaimana pun juga Erina orang luar, sedangkan kau suamiku. Jujur aku agak cemburu padanya “


“Cemburu? Pada Erina? Kenapa?”


“Kamu begitu percaya padanya, ketika aku ke kantor mu, berkali-kali aku melihat kamu dengan santainya melepas Ranna ke Erina. Aku bertanya-tanya ada apa dengan suami ku?”


“Sayang! Kamu tahu gak kenapa aku percaya padanya?”


“Kenapa?”


“Aku pernah menitipkan Ranna padanya, sebenarnya aku titip ke Eddy. Waktu itu ada rapat CEO mendadak. Kamu lagi sakit, Ranna aku bawa ke kantor. Ketika aku kembali Ranna sudah ada di Erina. Eddy harus pergi karena ada urusan mendesak dengan keluarganya. Aku melihat cctv dan melihat ia mengasuh Ranna dengan baik. Aku bahkan membawa Ranna ke dokter anak untuk mengecek kesehatannya”


“hah? Kamu bawa Ranna ke dokter?” Rita setengah tidak percaya


“Tentu, aku tidak tahu apa yang Erina berikan kepada anakku selain ASI mu. Setelah dicek, Ranna sehat dan tidak ada sesuatu yang aneh di perutnya. Jadi aku percaya padanya” Daniel menjelaskan sambil merapikan pakaian mereka ke koper. Rita bergumam


“Suamiku benar-benar over protektif”


“Kamu gak mudah percaya sama orang ya?” tanya Rita


“Tentu, aku dilatih untuk itu.”


“Kalau aku? Kamu percaya padaku?” tanya Rita


“Tentu aku percaya! Aku gak mungkin menikahi mu kalau aku gak percaya kan?”


“Syukurlah!” Rita merasa lega


“Kamu masih cemburu?” Daniel merangkul istrinya


“sedikit!”

__ADS_1


“Sedikit?”


“Kamu tahu kan? Cemburu itu artinya cinta!”


“Tapi kenapa masih cemburu?”


“Yaa,..kamu kan tampan, setiap perempuan yang melihat mu pasti tidak berkedip. Aku sering was-was takut kamu berpaling!”


Daniel memeluk istrinya menenangkan


“Aku juga merasakan hal yang sama dengan kamu!”


“Aku?” tanya Rita heran


“Iya!, kamu memangnya gak tahu berapa banyak cowok yang mengejar kamu?”


“Cuma 2 kan? Sekarang sudah gak ada?”


“siapa bilang 2, nih ya aku sebutin: Dewa, Kiano, Rendy, Mario, Edward, Charles, lalu itu teman mu di SMA Anwar!”


“Anwar? Kok kamu bisa kenal dia?”


“Oh kamu gak tahu? Dia datang ke rumah Jakarta?”


“Enggak? kapan?”


“Dia ngikutin kamu sepulang sekolah. Dia kaget kamu masuk ke rumah besar.”


“Kok kamu bisa tahu?”


“Andi yang cerita. Dia yang menemui Anwar dan menjelaskan tentang status mu yang sudah menikah”


“Terus?”


“Dia nangis, lalu pergi”


“Ooo..itu waktu aku pergi sama mama untuk beli keperluan umroh ya?”


“Mungkin!”


“oo pantesan, sejak itu dia pindah duduknya”


“hah? Kalian sebangku?”


“Kalau di Indonesia meja sekolahnya panjang, yang pisah bangku saja. Jadi kami semeja, kita menyebutnya sebangku”


“Kamu gak ngomong lagi sama dia?”


“Enggak!, Dia pindah duduk saja aku gak curiga ada apa-apa. aku pikir mungkin karena dia pengen duduk dengan sesama cowok”


“Anwar itu, apa baik ?”


“Lumayan!, dia pengen kerja di Jepang katanya. Aku jadi teringat sama dia. Apa dia sudah di Jepang?”


“Hey!!! Kamu jangan mikirin lelaki lain!” ujar Daniel memperingatkan


“hahahaha....iya ya? habis kamu yang mengingatkan”


Tiba-tiba Ranna bangun dan menangis


“huaaa...aaaa!!” ia langsung tengkurap


“Biar aku saja!” Daniel mengangkat Ranna dan membawanya ke kamar mandi, sambil berbicara


“Ranna, nanti kalau sudah besar jangan terlalu banyak main sama cowok ya?”


Rita tersenyum mendengar perkataan suaminya. Pukul 12 mereka check out dari hotel dan menuju bandara.


“Tante, Rita pamit dulu ya?”


“Iya, salam ya sama Charles, tolong sampaikan ketidak hadiran tante”


“Siap tante!”


“Niel, Ranna ! sampai bertemu lagi!” Metha memeluk Ranna dan menyalami Daniel


Rita dan Daniel bergabung dalam mobil yang sama dengan Darmawan, Ratna dan Andi untuk menuju bandara.


“Ranna! Sini sama Uwa!” Andi mengambil Ranna dari gendongan Daniel


“Ranna beratnya berapa Rit?” tanya Ratna


“Berapa Yang?”


“sepuluh puluh kilo!”


“Wow!..berat banget!”


“iya ya tapi dia tinggi jadi gak kelihatan gembul!” ujar Darmawan memperhatikan cicitnya


“Kita naik pesawat khusus dari mereka ya Kek?” tanya Rita


“Iya!, mereka benar-benar menjamu kita. Kalian sudah membawa kado untuk anaknya kan?”


“Sudah kami kirim beberapa hari yang lalu kek!” jawab Daniel


“Baguslah, aku sedang bingung dengan proyek Radian dengan perusahaan Charles. Kalau kamu gak terikat kontrak eksklusif dengan BOS, kamu yang akan menggantikan Radian di London Niel, jujur saja aku mulai kesal dengan ikatan kontrak kamu dengan BOS!” ujar Darmawan dengan suara kesal


Rita memegang tangan Daniel, yang diam saja mendengarkan perkataan kakeknya.


“Kek, Andi sudah memikirkannya.”


“Bagaimana?”


“Andi saja yang menggantikan proyek Om Radian dengan Charles. Lagi pula Andi sudah kenal baik dengan Simon dan Edward. Kakek bisa konsentrasi dengan Dar.Co Auckland!”


“Beneran Ndi?” suara Kakek Darmawan terdengar senang


“Iya Kek!, lagi pula Om Radian pasti meninggalkan catatan-catatan tentang kontrak itu kan?”


“Ada ndi! Nanti kakek suruh Henry , asisten Radian di London mengumpulkan berkasnya! Alhamdulillah!!!” wajah kakek terlihat sangat lega.


Beberapa menit kemudian mereka tiba di bandara dan menaiki Charles Jet Air yang mengantar mereka menuju London.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2