
“Kan sudah ada kamu Sayang!, Aku gak pernah nengok lagi ke belakang!” ujar Rita sambil menarik kakinya kembali ke bawah
“Tapi kamu sering mengingatnya?” tanya Daniel agak cemburu
“Karena kak Tommy itu mentor yang hebat!, setidaknya itu menurutku”
“Apa yang sudah dilakukan Tommy selain mengajarimu basket?”
“Karate waktu di SMU, Rate kemenanganku hampir 100% sejak ia melatihku.”
“Hampir?”
“Iya, aku pernah jatuh sakit, jadi aku melewatkan 1 pertandingan.”
“Sayang sekali, tapi kelihatannya kamu suka sekali bertarung ya?”
“hahaha...awalnya aku membencinya, tapi ketika SMP aku menyadari semua pertandingan itu bukan untuk melawan musuh, tetapi untuk melawan diriku sendiri.”
“Kalau Tommy sekarang masih hidup, kira-kira kamu akan menikah dengannya?” tanya Daniel penasaran
“hmm...mungkin iya mungkin tidak, entahlah!”
“Kenapa kamu gak yakin? Bukankah di matamu Tommy itu yang terbaik?” sindir Daniel
“Iya sih, tapi orang bisa saja berubah pikiran kan?”
“Maksudmu dia tidak lagi berarti bagimu?”
“Yahh...perasaan orang bisa berubah, awalnya aku sangat mengaguminya, dia orang pertama yang percaya padaku, disaat ayahku tidak. Dia membuatku tenang, aku selalu merasa dia melindungi ku dengan caranya.”
“Kalian bersekolah di SMP yang sama?”
“Betul, tapi dia 2 tahun lebih tua dariku”
“Kamu anak baru sudah naksir kakak kelas?”
“Sebenarnya, ketika orientasi siswa baru. Teman-temanku pada heboh karena Ferry yang saat itu menjadi ketua Osis. Ferry terkenal sangat tampan, mereka bilang ia seperti model!”
“Apa itu Osis?”
“Organisasi Siswa!, setiap sekolah punya OSIS. Itu seperti perkumpulan siswa dengan banyak kegiatan”
“Kamu jadi anggota OSIS?”
“Enggak!, karena sering berpindah sekolah, aku jadi malas terlibat dengan organisasi yang mengikat. Itu berarti aku harus bertanggung jawab terhadap tugasku sementara aku gak tahu kapan ayah pindah tugas lagi. Jadi lebih baik tidak menonjolkan diri”
“Tapi kamu ikut ekskul taekwondo?”
“itu karena Ferry yang mengajakku.”
“Ayahmu cerita kamu pernah menjadi ketua gank lelaki di SMP?”
“Hahaha...itu lucu sekali, kalau diingat-ingat” Rita tersenyum geli
“Bisa diceritakan? Kayaknya seru?” tanya Daniel penasaran
“Aku menjadi ketua gank itu secara tidak sengaja. Jadi ketika gank sekolah terlibat tawuran, teman-teman gank ku terdesak. Mereka melarikan diri ke sebuah warung atau toko kelontong kecil, kebetulan aku lagi membeli es krim. Mereka sangat ketakutan, mereka bilang itu serangan mendadak.”
“Berapa orang yang bersembunyi di toko?”
“Tiga orang!”
“Lalu?”
“Gank musuh melihat mereka masuk ke toko, lalu dengan menggunakan kayu . Mereka menarik teman gankku keluar dari toko. Tidak ada orang yang berani melerai. Teman-temanku dipukuli dan ditendang”
“Kamu ngeliatin saja?”
“Aku pikir, ini tawuran, biar mereka saling bertarung. Lama-lama juga baikan sendiri, begitu pikirku”
“Lalu?”
“Ternyata salah satu dari mereka membawa senjata tajam.”
“oh ya? sajam seperti apa?”
“Ya, pisau. Mereka memperagakan seolah-olah akan menusuk”
“Melihat itu kamu langsung bertindak?”
“Tidak!, aku juga takut melihat pisau!”
“Lalu? Bagaimana kamu membela teman-temanmu?”
“Ketika salah satu mereka akan menusuk, tiba-tiba aku melihat celah. Dengan cepat aku menendang anak itu hingga tersungkur. Aku berlari menendang pisau itu sejauh mungkin agar mereka tidak menggunakannya lagi”
“Posisimu sedang sembunyi?”
“Iya, orang toko menarikku untuk bersembunyi. Ia takut tokonya diacak-acak, tapi posisiku menghadap mereka. Aku merasa pertarungan itu tidak adil karena menggunakan sajam. Jadi dengan cepat aku menendang anak itu.”
“Bagaimana dengan teman-temannya?”
“Mereka kaget karena tidak menyangka yang menendang ketuanya adalah seorang cewek”
“Setelah tahu kalau penyerang bosnya cewek, bagaimana reaksi mereka?”
“Sepertinya mereka sedang dalam pengaruh obat tertentu jadi tidak peduli apa yang terjadi. Aku dikeroyok”
“Aduuhh..bagaimana selanjutnya?”
“Aku belajar dari kakak sebelah rumah, dalam pengeroyokan sebelum aku terkepung. Aku harus lebih dulu menyerang salah satu dari mereka. Aku tidak banyak berpikir, yang aku lakukan hanya terud menendang, menarik tangan mereka kemudian membanting setelah aku sadar, pengeroyok sudah pada bergelimpangan.”
“Bagaimana dengan teman-temanmu?”
“Mereka kaget!, orang toko juga kaget. Tak lama kemudian beberapa orang dewasa datang, aku ketakutan lalu pergi meninggalkan tempat itu”
“Kamu malah kabur?”
“Yeahh...sebenarnya itu kali kedua aku terlibat tawuran. Sebelumnya pernah juga tetapi gak ketahuan. Nah kali ini aku sangat takut ketahuan jadi aku langsung kabur”
“Bagaimana dengan anak-anak penyerangmu?”
“mana aku tahu? Dipikiranku hanya kabur dari tempat itu”
“Lalu?”
“ternyata waktu aku kabur, Ferry melihat seorang cewek lari dengan kencang seperti ketakutan”
“Ngapain Ferry di sana?”
“Iya hendak membantu teman-temannya, tapi setelah sampai di sana mereka telah selamat”
“Jadi saat itu kamu gak mengenal dia?” tanya Daniel, Rita menggeleng
“Keesokan harinya, polisi dan kepsek datang ke sekolah kami. Polisi mencari anak-anak yang diserang untuk proses selanjutnya”
“Apa karena sajam?”
“Iya betul!, salah satu orang tua anak itu tokoh penting. Ia melaporkan penyerangan, walaupun korban selamat tetapi penyerangan dengan sajam tidak dibenarkan”
“Tentu saja!” Daniel setuju, ia mengambil potongan semangka dan melahapnya
“Saat itu, aku santai saja. Toh tidak ada yang mengenaliku”
“Apa benar? Tapi Ferry melihatmu kan?”
“Iya, ternyata ia memiliki ingatan fotografi. Ia mencari ke setiap kelas. Akhirnya ia menemukanku”
“Kamu mengakuinya?”
“Tentu tidak! Itu bunuh diri”
“Bagaimana Ferry membuatmu mengaku?”
“Ia mengajakku ke aula yang sepi, dia bilang ada yang ingin dia bicarakan!”
“Kamu menurut?”
“Kan sudah aku bilang, Ferry sangat populer di kalangan para cewek di sekolahku, siapapun yang diajak ngobrol dengannya akan mendapatkan banyak perhatian”
“Jadi kamu mengikutinya agar diperhatikan banyak orang?”
“Sebenarnya di kelasku ada gank cewek cantik, mereka mengelompokkan orang berdasarkan penampilan. Mereka tidak menganggapku, walaupun aku memang tidak ingin menonjol. Tetapi aku mendengar aku ditaruh di daftar terbawah cewek paling tidak menarik.”
__ADS_1
“Kamu sangat kompetitif ya?”
“Tentu dong! Aku tahu aku gak secantik mereka, tapi aku juga gak jelek-jelek amat! Makanya ketika Ferry datang ke kelas dan menghampiriku. Aku langsung berpikir ini kesempatanku mendapatkan skor yang lebih baik dong!”
“Hahaha...kamu ada-ada saja!”
“Namanya masa pubertas, keinginan diakui pasti ada!”
“Lalu, bagaimana?”
“Sepulang sekolah aku menemuinya di aula serba guna, tidak ada siapapun di situ”
“Kamu gak takut?”
“Aku penasaran, apa yang Ferry mau dariku”
“Dia bilang apa?”
“Dia langsung menyerangku!, refleksku berjalan. Aku membela diri, dia sempat terjatuh terkena tendanganku. Hebatnya dia, semakin terdesak justru semakin berbahaya serangannya. Akhirnya aku kalah!”
“ooo,..lalu?”
“Dia bilang, kamu kan yang menolong teman-teman kita? ia membantuku berdiri”
“Kamu ngaku?”
“Sebenarnya aku diam saja. Tapi dia anggap itu sebagai jawaban”
“Terus dia bilang apa?”
“terima kasih, lalu pergi”
“Itu saja?”
“Eh dia bilang, di sini ada klub taekwondo, mungkin aku mau bergabung.”
“Bagaimana kamu menjadi ketua gank?”
“Pertarungan kami di saksikan anak-anak itu dari tempat persembunyian, ketika Ferry pergi mereka datang kepadaku. Mereka berterima kasih, lalu menawarkan posisi ketua gank!”
“Kamu menerimanya?”
“tentu saja aku menolak!, tetapi mereka memaksa. Mereka menawarkan tawaran menggiurkan”
“Misalnya?”
“Antar jemput sekolah, apa lagi ya aku lupa”
“Jadi kamu terima?”
“aku diberikan waktu seminggu untuk memikirkannya”
“Aneh ya, anak SMP sudah seperti itu?”
“Iya memang, ternyata tawuran itu sangat terorganisir. Aku juga baru tahu setelah terlibat. “
“Kamu belum jadi ketua tapi sudah terlibat?”
“Beberapa orang penyerang waktu itu menyerang kami, tentulah kami lawan dan menang!”
“Kamu apakan mereka?”
“Aku bebaskan!, aku ancam jangan berani lagi menyerang teman-teman sekolahku!”
“Itu berhasil?”
“Tentu dong! Beberapa sekolah yang menyerang kami, berhasil takluk!”
“Wah kamu hebat juga ya?”
“Yah, sebenarnya waktu itu aku lagi kesal melawan mereka merupakan pelampiasanku”
“Waduh..Nak! kamu jangan meniru mamimu ya?” ujar Daniel sambil mengusap perut Rita
“Akhirnya kamu resmi menjadi ketua?”
“Iya! Sebenarnya lucu sih, hampir semua permintaanku mereka penuhi”
“Misalnya apa?”
“Mereka membelinya dengan uangmu?”
“Tentu, aku hanya meminta mereka membelikan, aku gak mau mereka memalak orang untuk aku, iya kan?”
“Lalu kenapa kamu melepaskan gelar ketuamu?”
“Aku mendengar percakapan teman-teman anggota gank kalau mereka menganggapku lelaki. Aku jadi sedih, aku kan perempuan tulen.”
“Jadi kamu meninggalkan mereka?”
“Aku menemui Ferry, aku minta tolong padanya agar bisa lepas dari gank itu”
“Ferry menolongmu?”
“Tentu!, sejak saat itu kami menjadi akrab!”
“Kalian jadian?”
“Hahaha...tidak sempat! Dia keburu pindah sekolah!”
“Kamu sedih gak?”
“Iya dong, apalagi dia gak ngomong apa-apa sehari sebelumnya!”
“Ketika kalian bertemu lagi, apa kamu bertanya padanya kenapa gak bilang mau pindah?”
“Iya!”
“Terus dia bilang apa?”
“Dia bilang gak mau aku sedih”
“Aneh, pasti kamu sedih kan?”
“Iya, memang. Tapi ketika bertemu dengannya lagi di SMU, dia tidak mengenaliku. “
“oh ya? padahal kamu mengenalinya?”
“Iya, samar-samar. Ternyata ia mengalami amnesia. Ketika pindah ia dan keluarganya mengalami kecelakaan mobil, ayah, ibu dan adiknya meninggal. Cuma dia yang selamat”
“innalillahi wa’innailaihi roji’un, kasihan ya? dia jadi sebatang kara”
“Iya, aku juga menangis saat tahu ceritanya”
“Bagaimana dia mengingatmu?”
“Aku lupa, waktu itu tiba-tiba dia datang ke rumah lalu memelukku. Dia bilang mengenaliku”
“Ternyata, dia juga punya perasaan yang sama ya?”
“Iya! Aku juga gak menyangka!”
“apa kamu juga menyiram wajahmu sendiri, seperti ketika bersamaku?”
“Hahahaha!!! Kamu tuh! Beda dong!”
“Kog bisa beda? Sama saja kan? Kamu bilang kamu gak menyangka dia punya feeling yang sama kayak kamu? Kamu juga bilang begitu kan tentang aku?”
“Kalau Ferry, dia itu terlihat kalau dia itu perhatian sama aku!, kalau kamu engga. Wajahmu datar!. Memang kamu perhatian, tetapi ekspresi wajahmu itu tidak bisa terbaca. Karena pada dasarnya kamu orang baik dan bertanggung jawab. Kak Andi selalu bilang, Daniel hanya bersikap baik padaku, dan melaksanakan tugasnya dengan baik. Kalau Ferry lain, dia benar-benar ekspresif. “
“Begitu? Tapi mana yang lebih kamu sukai?”
“Ya kamu lah! Aku kan gak bakal menikah dengan orang yang tidak aku sukai?” Rita tersenyum lalu bangkit dari tempat duduknya
“Mau kemana?”
“Mandi, tubuhku lengket!”
“Aku ikut ya?”
“Enggak! Aku lagi malas!” Rita buru-buru mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi, Daniel tersenyum melihat tingkah istrinya.
Malam harinya sebelum tidur
__ADS_1
“Yang!” panggil Daniel, ia melihat istrinya masih disibukan dengan laptopnya
“Iya? Kamu sudah ngantuk ya? duluan deh!, lagi tanggung nih”
“Kamu ngerjain apa?” Daniel menghampiri istrinya
“Penjualan hari ini”
“Apa surplus?”
“Iya, aku harus memesan bahan lagi hari minggu ini”
“Yang, kamu harus mengajarkan aku menakar bahan, kalau kamu melahirkan dan bahan yang akan diolah habis, aku bisa melakukannya untukmu”
“Hmm...kamu mau melakukannya?”
“Tentu saja!, kamu percaya suamimu ini kan?” Daniel memeluk istrinya dari belakang dan mencium lehernya
“Jangan sekarang ya Yang, aku lagi malas!”
“Aku gak ngapa-ngapain kok!” tangan Daniel bergerilya, Rita kelihatan kesal
“Sayang!, aku beneran lho!” ujarnya dengan nada tegas.
“Hmm...baiklah!” akhirnya Daniel menyerah. Ia agak kecewa, tapi ia berusaha mengerti dan meninggalkan istrinya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Beberapa jam kemudian, Rita melihat waktu sudah menunjukkan pukul 1.
“Ahh...sudah malam!! Akhirnya selesai juga!” Ia melihat Daniel sudah terlelap tidur. Ia menutup laptopnya dan mendekati suaminya
“Kasihan!, maafkan aku ya?” bisiknya, lalu ia mencium pipi suaminya. Lalu ia mematikan lampu tidur dan mulai tidur.
Keesokan paginya, Rita bangun kesiangan. Daniel telah berangkat ke kantor. Rita melihat dapur telah rapi, Daniel juga telah membuat sarapan untuknya. Rita segera menelpon suaminya
“Halo?” Daniel menjawab
“Yang, maaf aku kesiangan!”
“Iya, gak apa-apa. Kamu makan masakan aku kan?”
“Iya!! Enak!! Kamu makin pandai masak!” puji Rita, Daniel tersenyum senang
“Syukurlah, habiskan ya? jangan terlalu lelah bekerja!” ujar Daniel mengingatkan
“Baiklah, terima kasih ya Yang!, maaf mengganggu mu!”
“Enggak!, aku juga baru sampai kok!”
“Hah? Sudah jam 9.30 baru sampai? Apa semacet itu?”
“Enggak! Aku tadi ke proyek dulu, baru ke kantor”
“Oo begitu!, baiklah! Pulangnya jangan kemalaman ya?” ujar Rita mengingatkan
“Baiklah! Love you!!”
“Love you too!” Rita memutuskan telponnya, setelah sarapan ia membersihkan bekas makannya lalu pergi mandi. Tak berapa lama ia pergi ke tokonya seperti biasanya tokonya ramai pengunjung. Ia langsung ke kantor kecilnya, dan memeriksa persediaan bahan baku. Tiba-tiba mamanya muncul
“Assalammu’alaikum!!”
“Wa’alaikummussalam! Mama? Kok gak bilang mau datang?” Rita menyambut mamanya di kantor kecilnya
“Wah ini kantor kecilmu ya?”
“Iya ma, ini taman bermainku!” ujar Rita
“Taman bermain?”
“Iya, ini tempat Rita untuk menuangkan ide-ide roti baru. Mama mau coba?”
“Boleh!”Rita memanggil karyawannya melalui interkom untuk membawa minuman dan beberapa roti rasa baru.
“Nih ma! Cobain ya? ini minuman rasa baru dan roti-roti rasa baru”
Ratna menyantapnya tanpa ragu
“hmm....enak Rit!, roti dan minuman ini dijual perpaket?”
“Enggak ma!, sendiri-sendiri”
“Kalau per paket lebih enak Rit. Rotinya gak terlalu manis, dilengkapi minuman manis. Enak deh!”
“begitu ya ma? Nanti Rita bikin paketnya deh!”
“Oh iya Rit, bagaimana kandunganmu? Sekarang sudah 7 bulan kan?”
“Iya ma, makin berat! Aku juga agak susah tidur” keluh Rita
“Iya memang, sudah mulai serba salah ya? kamu ikut yoga kan?”
“Ikut, tapi Cuma seminggu sekali, karena kesibukan di toko”
“Rit, kamu jangan terlalu sibuk sampai melupakan mengurus suamimu ya?” Ratna mengingatkan. Rita kaget, bagaimana mamanya bisa tahu
“Daniel pengertian kok ma! Dia tahu istrinya sibuk!”
“Rit!, mama kasih tahu ya? pengertian lelaki itu ada batasnya! Apalagi kalau urusan perut dan ranjang. Mungkin kalau sekali-sekali kamu menolak dia mengerti, tapi kalau jadi kebiasaaan? Nanti dia berpikir ngapain aku punya istri yang gak ngurus suami.”
“Masa sih Ma?”
“Beneran Rit!, makanya mama selalu mengingatkan kamu!..Daniel memang baik, tapi dia cowok normal dan punya kebutuhan. Kamu gak mau kan dia mencari cewek lain?”
“Audzubillahi minzalik, jangan sampai deh!”
“Nah makanya!, kalau kamu menganggap toko ini hanya taman bermain bagimu kamu harus memprioritaskan suamimu!”
“Kok mama bisa tahu sih?”
“Sebenarnya tadi mama mampir mengunjungi Mario, mama mampir ke lantainya Daniel. Mama lihat pakaiannya gak rapi, seperti gak terurus.”
“Mungkin dia baru dari proyek ma!”
“Dia kan sudah setingkat CEO masa pakaiannya kucel dan agak kotor begitu!”
“Tapi ma, Daniel gak bilang apa-apa kok!”
“Iya, mama tahu tapi kamu kan istrinya, masa kamu mau suamimu dibilang gak terurus?”
“Begitu ya?”
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ternyata ia hanya bermimpi bertemu mamanya. Ia masih tertidur di sofa di dalam apartemennya.
“Ah aku lelah banget ternyata.” Ia bangun kemudian pergi ke ruang laundry. Ia melihat beberapa pakaian yang belum sempat ia cuci dan uap. Ia merasa malas, lalu ia menelpon jasa laundry untuk menjemput pakaian yang hendak dicuci. Dan meminta OB untuk membersihka apartemen. Tak berapa lama kemudian, laundry dan OB datang. Mereka mengerjakan perintah Rita. Ketika sore harinya, Daniel datang ia melihat istrinya yang telah segar bugar.
“Kamu sudah baikkan?” tanyanya sambil mencium kening istrinya
“Lumayan! Aku gak ke toko hari ini. Aku memilih di rumah saja, menyimpan energi untuk kamu!” ujar Rita, ia melihat baju Daniel yang lecek dan agak kotor
“Aku mandi dulu ya?” Daniel segera masuk ke kamar mandi, sementara Rita menyiapkan makanan untuknya.
Setelah makan dan sholat, malam harinya mereka bercinta seperti biasanya.
“Yang, maafkan aku ya?” ujar Rita, ia tiduran di lengan suaminya yang masih terengah-engah kelelahan
“Kenapa?”
“Kemarin aku menolak mu!”
“Gak apa-apa, kan sekarang sudah terpenuhi” Daniel mencium rambut istrinya
“Aku lihat bajumu kucel, kotor, kamu bahkan memasak sarapan sendiri, aku jadi gak enak! Aku melalaikanmu ya?”
“Bajuku kucel?”
“Iya!, tadi aku lihat kotor di bagian tangannya”
“Oh itu, tadi aku membantu mengganti ban mobil yang bocor, Rain kelihatan kerepotan jadi aku bantu! Mungkin terkena di situ”
“Begitu ya? tapi tetap aku minta maaf! Aku janji deh gak akan melalaikan kamu lagi!”
“Kamu baik banget ya?” puji Daniel sambil memeluk istrinya
“Kamu juga!” balas Rita
__ADS_1
_Bersambung_