
Kakek Sugiyono datang ke Auckland, kedatangan kakek Sugi terkesan mendadak, beliau datang bersama cucu-cucunya. Tidak tanggung-tanggung kakek Sugi membawa pesawat sejenis herkules untuk membawa semua rombongan.
“Rit, kakek Sugi datang!” Andi mengetuk pintu kamar Rita
“Hah? Kemari?” Rita tersentak kaget dan membuka jendela kamarnya
“Ah, gak kelihatan dari sini” gumamnya
“Ayo Rit kita sambut!” ajak Andi menarik tangan Rita keluar dari kamarnya.
“Iyaa kak, Jangan ditarik!” Rita mengikuti Andi dari belakang
Kakek Sugiyono dan keenam cucunya telah diterima dengan baik di ruang tamu keluarga Darmawan.
“Kakek!” Andi dan Rita menyapa dan bergantian mencium tangan kakek Sugi
“Andi, Rita, apa kabar kalian? Sudah lama gak ke Jakarta?” tanya kakek
“Mereka sibuk dengan sekolah mereka Kak!” jawab Kakek Darmawan, yang memanggilnya dengan sebutan Kak. Kakek Sugi mengangguk-anggukan kepalanya
“Kakek kabarnya bagaimana?” tanya Rita
“Kakek sudah punya kaki baru, nih seperti yang kamu lihat. Ini kaki robotik, terhubung dengan tulang belakang kakek, jadi sekarang kakek bisa berjalan, berlari. Semua ditopang oleh kaki robot ini!” kakek menunjukkan alat yang menempel pada kakinya hingga mencapai punggungnya.
“Berat gak itu kek?” tanya Andi mendekati kaki kakeknya
“Kalau baterainya habis berat, jadi kakek harus selalu waspada dengan baterainya.”
“Ini sudah dijual umum atau masih ujicoba?” tanya Andi lagi , ia begitu tertarik dengan teknologi
“Belinya harus PO, karena cukup mahal, sudah begitu kakek juga harus ikut terapi untuk menyesuaikan dengan kaki ini” jawab kakek Sugi
“Jadi Kak, maksud kedatangan kakak yang mendadak ini ?” tanya kakek Darmawan gak sabar
“Masih saja tanpa basa-basi ya Dik?” ujar Kakek Sugi tersenyum
“Jadi begini, keluarga kami punya tradisi setiap setahun sekali, yaitu TWK”
“TWK? Apa itu?” tanya Darmawan
“Tes Wawasan Kecucuan” jawab Rita
“Acara seperti apa TWK itu?” tanya Kakek Darmawan penasaran
“Seperti acara uji kemampuan, selain ketrampilan fisik juga otak. Nanti puncaknya berupa martial art!” jawab Kakek Sugi
“Siapa saja yang ikut?” tanya kakek Darmawan
“ Kelima cucuku ini dan 2 lagi yang ada di sini!” jawab Kakek Sugi
“Martial Art? Jadi kakak mau mengadu cucuku dengan cucu kakak yang lainnya?” tanya Darmawan lagi
“Rita dan Andi cucuku juga, apalagi Rita, ia juara TWK tahun lalu, jadi tahun ini ia harus mempertahankannya atau menyerahkannya gelar juaranya begitu saja!”
“WO begitu?” tanya Rita, ia mulai berpikir, begitu juga dengan kakek Darmawan, ia memikirkan perkataan kakek Sugiyono
“Kalau aku menolak bagaimana?” tanya kakek Darmawan
“Kasihan Rita, ia akan dianggap pengecut!, memang kamu mau punya cucu pengecut?” ujar Kakek Sugiyono memancing kakek Darmawan
“Bagaimana dengan Andi? Apakah ia ikut martial art? Kakak kan tahu keadaan jantungnya?”
“Andi hanya ikut yang ringan-ringan saja, berkuda, memanah, berenang, juga mengasah otak. Ini akan menjadi sangat menarik aku jamin deh. Oh ya aku belum kenalkan cucu-cucuku ya?”
“Ini Roby, Desi, Fita, Maia, Rosy, oh sebentar satu lagi nah ini Rendy!” Kakek memanggil seorang anak remaja seusia Andi. Rita dan Andi memandang ke arah Rendy
“Ini siapa kek?” tanya Andi
__ADS_1
“Rendy ini cucunya sahabatku, ia bersekolah di London, kebetulan sedang liburan, aku mengajaknya kemari dan mengikuti TWK”
“Apa aku boleh menambahkan cabang olah raga yang dipertandingkan?” tanya kakek Darmawan tiba-tiba. Andi dan Rita menoleh ke arah kakek yang terlihat menjadi begitu bersemangat
“Boleh saja, selama pertandingan itu memberikan pelajaran buat para cucuku, kenapa tidak?”
“Baiklah, aku mau menambahkan, Panjat tebing dan go kart!”
“Go kart? Di sini ada?” tanya Roby tiba-tiba , ia sangat menyukai go kart
“Ada dong! Kalian boleh mencobanya sekarang!” Kakek Darmawan bangkit dari tempat duduknya, ia menelpon staf di lapangan go kart,
“Baiklah, ayo kita ke lapangan go kart!” aku juga sudah menyiapkan bis untuk mengangkut kita semua ke sana!” ujar Kakek Darmawan
Andi dan Rita saling berbisik
“Tumben kakek Darmawan mau berpartisipasi sama yang beginian?” bisik Rita ke Andi
“Iya, kenapa nih?” Andi jaga turut curiga
Mereka naik bis besar menuju ke lapangan go kart milik kakek Darmawan
“Aku baru tahu, kakek punya lapangan Go kart?” tanya Rita
“Kamu gak pernah tanya, kamu juga gak tahu ya gini-gini kakek juara Go Kart internasional!” ujar kakek Darmawan membanggakan dirinya
“Oooo,...mau eksis lagi kak rupanya!” bisik Rita ke Andi
Beberapa menit kemudian sampailah mereka di lapangan go kart. Masing-masing peserta dipinjamkan pakaian balap. Pakaian Balap itu lumayan panas, karena banyak bantalan untuk melindungi bagian vital dari tubuh.
“Kalian boleh mencobanya sekarang, para instruktur akan melatih kalian terlebih dahulu!” ujar kakek Darmawan
Kakek Sugiyono yang sudah lama mengenal kakek Darmawan juga turut curiga, ia mendekati kakek Darmawan dan bertanya
“Apa kamu merencanakan sesuatu?” tanyanya
“Yaah...sejauh aku mengenalmu aku pikir kamu akan menentang aku mengadu cucuku Rita. Kamu gak suka olah raga kasar kan?” ujar Kakek Sugi
“Rita cucuku juga kak, aku ingin tahu juga kemampuan cucuku ini, apa betul ia sehebat yang orang-orang bilang?” jawab kakek Darmawan
“Benarkah itu saja? Bagaimana dengan Andi? Kamu kan begitu protektif padanya?”
“Selama olah raganya tidak terlalu keras untuk jantung, aku pikir Andi harus mengolah tubuhnya sekali-kali!” ujar kakek Darmawan lagi
Agar pertandingan menjadi lebih seru para peserta yang terdiri dari 8 orang dibagi menjadi 4 kelompok ; Roby-Fita, Maia-Desi, Rita-Andi, dan Rosy-Rendy. Peraturannya dibuat ulang, masing-masing kelompok mengumpulkan nilai berdasarkan pertandingan yang dilombakan. Pemenang pertama mendapat 4 poin, kedua\= 3 poin, ketiga \= 2 poin dan keempat \=1 poin. Pengumpul poin terbanyak akan mendapat hadiah berupa uang senilai 1000 USD.
“Wahhh...1000 USD” semua peserta menganga mendengar hadiah yang diberikan kakek Darmawan
“Wah yang sekarang lebih seru nih, aku jadi semangat!” ujar Roby
“Iya, gak sia-sia walau bonyok juga!” ujar Maia
“Kita harus menang Ren, hadiahnya kita bagi dua!” ujar Rosy bersemangat
TWK yang dipertandingkan : 1. Balap kuda, 2. Renang, 3. Balap Go kart, 4. Memanah, 5. Panjat tebing, 6. Uji wawasan , 7. Martial Art Battle
Kakek Darmawan juga sudah menyiapkan 10 kamar untuk rombongan kakek Sugiyono, sehingga mereka tidak perlu kembali ke hotel.
Kakek Sugiyono menghampiri Darmawan lagi
“Ooo ini maksudmu? Mau pamer kekayaan ya?” ledek kakek Sugiyono
“Enggak dong, sudah jelas aku lebih kaya kan?” balas kakek Darmawan
Mendengar jawaban Darmawan kakek Sugiyono menjauhinya dengan wajah masam, lalu ia mengatakan kepada cucu-cucunya
“Pertandingan TWK ini disponsori oleh kakek Darmawan, mari kita terus support beliau supaya terus menjadi sponsor TWK ini untuk tahun-tahun berikutnya!” ujar kakek Sugi yang diam-diam menjulurkan lidahnya ke kakek Darmawan
__ADS_1
Semua yang hadir bertepuk tangan riuh, hanya kakek Darmawan yang kini berwajah masam.
TWK akan dimulai esok hari, para peserta kembali ke rumah besar. Rumah Besar Darmawan yang biasanya sepi, kini ramai layaknya pasar malam. Meja makan yang besar cukup 30 orang kini hampir semua terisi.
“Lihat Dik, kalau kamu punya cucu banyak, akan selalu seramai ini!” ujar kakek Sugiyono bangga
“Tapi aku suka kesunyian kak, dengan dua cucuku menemaniku di sini sudah cukup!” jawab Darmawan
“Kamu masih cukup muda, menikahlah lagi lalu perbanyak anakmu! Sayang kekayaanmu tidak ada yang mewarisi!” ujar Sugiyono
“Pertama terimakasih atas pujiannya, tapi untuk menikah lagi? Aku rasa lebih baik aku segera menikahkah Andi atau Rita, aku kepengen punya cicit!” jawab Darmawan
“Nah ini kebetulan, aku mau membicarakan sesuatu padamu, tapi tidak di sini, mungkin setelah makan malam.” Ajak kakek Sugi
“Baiklah!” jawab Darmawan.
Selesai makan malam, semua orang kembali ke kamar mereka masing-masing, seperti yang direncanakan, kakek Darmawan dan Sugiyono berbincang-bincang di kamar Eka.
“Kamu masih suka mengurung diri di sini?” tanya Kakek Sugi
“Aku selalu merindukannya setiap hari, bahkan melebihi aku merindukan almarhumah istriku.”
“Eka memang terlalu cepat pergi, tapi kalau kamu perhatikan wajah Rita mirip sekali dengan Eka, aku sering menyesal mengapa aku membiarkan Rita diasuh oleh Reza” ujar Sugiyono
“Ya, aku juga gak habis pikir, dulu aku pernah curiga ketika aku tahu Ratna begitu cepat hamil. Tapi aku melihat tatapan matanya ke Reza, jadi aku pikir mereka sedang kasmaran, wajar jika cepat hamil. Sampai aku tahu ternyata bayi itu ternyata cucuku. Sedikit lagi kesabaranku habis dan ingin menyeret kalian semua ke pengadilan!” ujar Darmawan dengan nada kesal
“Tapi kemudian, Rita mau tinggal di sini, bersamaku, mengurusku, bahkan kemandirian dan keberaniannya membuatku bangga. Aku sadar, kalau dia tidak diasuh oleh Reza dan melewati masa sulit ia tidak akan seperti ini. Jika ia diasuh oleh salah satu dari kita, pasti ia menjadi anak manja!” ujarnya lagi
“Iya betul, seperti Andi!” ujar Sugiyono, Darmawan mengangguk setuju.
“Jadi apa yang ingin kakak bicarakan denganku?” tanya Darmawan
“Begini, Rendy anak yang tadi aku kenalkan? Ia cucu dari kenalanku. Kamu pasti kenal Keluarga Mahendra Wijaya!”
“Mahendra Wijaya? Dia yang berbisnis kapal pesiar mewah?” tanya Darmawan
“Iya, itu hanya salah satu bisnisnya, dia berhasil mengekspansi Dubai, wah makin kaya saja dia!”
“Jadi maksud kakak bagaimana?” tanya Darmawan
“Sebenarnya aku ingin menjodohkan Rendy dengan salah satu cucuku, tapi sudah 1 bulan ia berada di rumahku, tidak ada satupun dari cucu perempuanku yang membuatnya tertarik. Jadi aku memikirkan Rita. Seingatku Andi pernah bilang, Rita itu punya daya tarik yang membuat lelaki menyukainya bahkan tanpa ia repot berdandan.” Ujar Sugiyono panjang lebar
“Aku ragu Rita akan menyukainya?” ujar Darmawan
“Untuk itulah aku minta bantuanmu!, aku pikir kamu orang paling cul... eh lic... eh pandai menyetting sesuatu. Buatlah mereka menjadi dekat, keduanya masih sangat muda, kalau kita jodohkan dari sekarang, siapa tahu kan?” ujar Sugiyono
“Apa keluarga Mahendra menyetujui perjodohan ini?” tanya Darmawan
“Apa kamu gila? Begitu dia tahu yang mau mendekati cucunya adalah keluarga ku dan Kau, Mahendra sangat bersemangat, menurutmu bagaimana mungkin Rendy bisa tinggal di tempatku selama sebulan lebih?”
“Hmmm..sebenarnya aku gak begitu suka perjodohan apalagi kalau ada pemaksaan”
“Kita gak maksa, memangnya kamu berani memaksa dia? Kamu tahu yang sudah ia lakukan pada para penculiknya?”
“Apa?” tanya Darmawan penasaran
“Mereka pernah dirawat di RSJ setelah mendapatkan balasan dari Rita, aku gak tahu persis mereka diapakan olehnya. Asistenku yang menghapus semua bukti yang akan memberatkannya di kemudian hari.”
“Begitu ya? baiklah, tapi ini hanya sekedar pendekatan ya, selebihnya kita serahkan ke Rita!”
“Iya betul!, nah begitu dong! Sekali-kali kita kompak!” ujar Sugiyono tertawa
“Heheheh..kompak ya? itu yang buat potong pohon?” tanya Darmawan bercanda
“Itu Kampak! Ah kamu masih aja kayak dulu!”
“Hahahaha!!!” kedua kakek mantan besan itu tertawa, mereka seperti teman lama yang baru saja bertemu kembali
__ADS_1
-bersambung-