Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 225: Tentang Pekerjaan


__ADS_3

“Yang!, Rita!” panggil Daniel pada istrinya yang sedang terlelap, Daniel mengguncang tubuh istrinya yang sedang terlelap sepertinya ia trauma dengan kejadian beberapa waktu yang lalu. Perlahan Rita membuka matanya


“Eh..hhhh!, kamu sudah pulang?” Rita mengejapkan matanya, berusaha mengumpulkan kembali jiwanya.


“Kamu sudah sholat Ashar?”


“Jam berapa sekarang?”


“Jam 5!”


“Astaghfirullah, aku lelah sekali tadi. Kamu sudah makan?”


“Tenang, aku sudah beli di restauran dekat sini, kamu sholat dulu sana!”


“Alhamdulillah!, eh anak-anak mana?”


“Mereka sedang bermain di ruang TV sedang disuapi makan oleh para baby sitter”


“Ah syukurlah” Rita berlari ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, berganti pakaian kemudian sholat ashar. Sementara Daniel telah rapi di meja makan menunggu istrinya.


“Kamu kenapa gak makan duluan?” tanya Rita menghampiri meja makan


“Enggak ah, mau ditemani kamu!” Daniel tersenyum, Rita membuka bungkusan makanan yang Daniel beli, lalu memindahkannya ke piring. Ia juga memberikan untuk kedua baby sitternya.


“Sus, nanti makan ya?”


“Iya bu, terima kasih!” jawab kedua suster


Rita dan Daniel bercakap-cakap sambil makan malam


“Tadi bagaimana rapatnya?” tanya Rita, ia menuangkan minuman untuk diri dan suaminya


“Hmm...kamu pernah mendengar isu?”


“Isu? Isu apa?”


“Mungkin Mario pernah cerita sama kamu”


“Isu yang mana dulu nih, si O kan ceritanya banyak”


“Tentang aku yang diselidiki kejaksaan!”


“uhuk..uhuk!!” Rita terbatuk-batuk mendengar perkataan terakhir suaminya


“hmm...berarti kamu pernah dengar ya?” tanya Daniel, Rita menjawabnya dengan mengangguk


“Kok kamu gak bilang apa-apa sama aku?” tanya Daniel lagi


“Waktu itu aku mau bilang tapi gak jadi”


“kenapa?”


“Aku takut kamu akan menganggap aku mencampuri pekerjaan mu, aku pikir kalau sudah saatnya kamu pasti akan cerita”


“aku masih suka menakuti mu seperti itu ya?”


“Jujur saja, kakek ku pemegang saham utama di perusahaan tempat suamiku bekerja, akan sulit bagi kakek jika aku mengeluh tentang keadaan suamiku tanpa berbuat apa-apa”


“Apa kamu menceritakan ke kakek?”


“Enggak! Swear! Aku gak pernah menceritakan tentang pekerjaan mu ke kakek!”


“Iya, aku tahu! Kamu gak usah panik begitu!” Daniel melahap makanannya


“Jadi gimana hasil rapatnya?”


“Tadi aku dicecar 250 pertanyaan tentang pendirian apartemen baru. Dulu proyek ini dipegang Martin. Aku bersyukur sebelum diwawancara aku mempelajari berkas yang dikirim oleh om Radian.”


“Oh ya? Jadi data di flash disk itu tentang proyek-proyek Dar,Co?” tanya Rita


“Iya, aku mencocokkannya dengan beberapa proyek yang sudah selesai dan sedang berjalan sekarang ini”


“Lalu kenapa Om Radian mengirimkannya dengan nama samaran?”


“Aku belum membuka semua file, mungkin masih ada yang tersembunyi “


“Sebenarnya yang dicari kejaksaan apa?”


“Ada yang melapor tanpa nama bahwa proyek pendirian apartemen itu dilakukan di luar aturan pemerintah setempat, dan ada keterlibatan penyuapan pejabat yang berwenang untuk meloloskan proyek apartemen ini”


“Apa mereka bisa menemukan buktinya?”


“Belum, mereka meminta semua berkas yang terkait”


“Kalau tentang penyuapan, seharusnya mereka juga memeriksa para pejabat penerima suap dong?”


“Mereka sudah lakukan itu tetapi tidak ditemukan bukti penyuapan, jadi mereka akan menyelidiki dari sisi pemberi suap”


“Menurut mu apa Martin melakukan itu?”


“Entahlah,aku berharap dia tidak melakukannya”


“Bagaimana dengan Davies, dia kan supervisornya? apa yang dia lakukan?”


“Dia juga diwawancarai tapi kami terpisah”


“Ada berapa orang yang diinterogasi? Oh ya kalian pergi ke kejaksaan?”


“Hmm..tadi kira-kira 3 orang, selain aku, Davies, dan Martin. Belum kami ditanyai di kantor, mereka baru mengumpulkan keterangan. Aku meminta surat tugas mereka dan menverifikasinya dan ternyata benar dari kejaksaan”


“Dari semua CEO hanya kamu yang melakukan itu?”


“Tentu, kamu tahu kan sekarang ini orang mudah sekali mengaku-ngaku dari instansi pemerintah tujuannya tak lain ingin memeras perusahaan jika mendapatkan pelanggaran”


“Misalnya nih, jika benar terjadi pelanggaran aturan, apa kalian akan ‘mengurusnya secara damai’ atau bagaimana?”


“Hmm..itu akan kami rapatkan, selain dengan para CEO yang terlibat, juga dengan penasehat hukum kami”


“Apa Dar,Co menyewa penasehat hukum atau kakek sudah memiliki kantor penasehat hukum sendiri?”


“Setahu ku Dar,Co Singapura menggunakan jasa Hanada Lawfirm”


“Hanada Lawfirm? Namanya seperti bukan dari sini?”


“Memang, Lawfirm pusatnya di Auckland”


“Apa kamu pernah bertemu dengan tim penasehat Hanada sebelumnya?”


“Belum pernah, tapi..eh entahlah aku lupa mungkin dulu pernah ketika aku masih asistennya om Radian.”


“hmm...begitu? Apa Dar,Co pernah berselisih di pengadilan?”


“kalau Dar,Co Auckland sering, tapi kalau di sini aku gak tahu tapi kok rasanya aku seperti ditanya oleh jaksa ya?”


“huh? Kapan? Sekarang?” tanya Rita


“Iya! Kamu pintar menggali informasi” puji Daniel


“Hehehe..Aku kan orang awam, kalau orang awam pasti hal-hal semacam itu yang ditanyakan terutama jika kami tertarik untuk membeli saham Dar,Co”


“Apa kamu diam-diam membeli saham Dar,Co?”


“hahaha..belum! aku akan beli kalau mereka membuat suamiku jadi CEO nya” canda Rita


“hahaha...aku sudah CEO kan?”


“Maksudku CEO of CEO!”

__ADS_1


“Oh iya, tadi aku mendengar isue yang datang dari inspektorat di lantai 10”


“Inspektorat? Apa itu?”


“Kamu gak tahu?”, Rita menggeleng


“Di Dar,Co kami memiliki polisi sendiri, ibaratnya begitulah. Mereka yang mengawasi kinerja kami semua. Rekomendasi dari lantai 10 bisa mempengaruhi semua posisi para pemegang jabatan di Dar,Co”


“Berarti mereka juga diwawancara dong dengan kejaksaan?”


“Mungkin juga, tapi aku gak mengenal orang-orang dari lantai 10, kecuali Benny”


“Isue apa yang kamu dengar dari lantai 10?”


“Davies akan dinonaktifkan sebagai kepala cabang Singapura 2”


“Oh ya? kenapa?”


“ Kinerjanya menurun. Ada yang cerita ini karena ia bercerai dari istrinya, ia selalu terlihat kacau. Beberapa karyawan mendapatinya mabuk di siang hari di waktu bekerja”


“Kasihan Davies”


“Iya, tadi kami sempat berpas-pasan saat akan diwawancarai, ia tampak dekil tak terurus. Pakaiannya kusut sepertinya ia tinggal di kantor”


“Kalian saling menyapa?”


“Aku menyapanya lebih dulu, ia hanya menjawab “yeah!” Dia langsung masuk ke dalam ruangan tanpa berkata apapun padaku”


“Gak sopan ya dia”


“Gak sopan?”


“Iya, dia pernah menginap di sini, menjadikan kamu teman curhatnya eh dia mengabaikan mu”


“Gak apa-apa, mendengar akhir rumah tangganya aku jadi kasihan padanya. Mungkin aku juga akan seperti itu kalau rumah tanggaku bermasalah”


“Mudah-mudahan rumah tangga kita baik-baik saja ya, aku jadi berpikir kakek benar!”


“Kakek benar?”


“Iya!, Dia tidak membiarkan ku berlama-lama di perusahaannya, mungkin beliau sudah tahu tentang hubungan kita sejak awal dan dia tidak mau kita berdua berada di satu tempat kerja”


“Bukannya beliau takut kamu berulah lagi?” canda Daniel


“Aku berulah?”


“Yah, ingat gak alasan kakek menarik mu supaya tidak lagi menjadi asisten om Radian?”


“Apa tuh? Aku gak ingat?”


“Kejadian di gunung!, Kakek tidak mau Om Radian mengajak mu ke tempat-tempat ekstrem lagi”


“Oh begitu jujur lho aku baru tahu!”


“Itu karena setelah kejadian di gunung kamu langsung masuk sekolah formal kan? Jadi kamu gak mikirin tentang pekerjaan lagi”


“oh iya ya? btw Yang , kalau seperti ini agaknya kakek akan melakukan melebur Singapura 2 ke Singapura 1”


“Menurut mu begitu?”


“Kalau aku jadi kakek akan begitu, mungkin Davies juga akan diberhentikan atau dimutasi. Eh gak mungkin mutasi ya?”


“Kalau perusahaan swasta tidak ada istilah mutasi”


“Hmm...begitu” Rita memandang suaminya


“Kenapa kamu melihatku dengan tatapan begitu?” tanya Daniel, ia selesai makan dan membereskan bekas makannya. Rita belum menghabiskan makanannya, menyusui dua anak balita membuatnya makan lebih banyak.


“Feeling ku nih, kamu akan menjadi pengganti Davies”


“Tapi mereka tidak memiliki terobosan seperti kamu, mungkin kamu bisa mencobanya”


“Kamu pikir jadi kepala cabang bisa coba-coba? Kalau gak cocok bisa dilepas begitu saja?”


“gak bisa ya? hehehe!”


“Lagi pula kalau aku jadi kepala cabang, pekerjaan ku semakin sibuk. Mungkin kita akan jarang bertemu seperti ini”


“Kenapa? Kok bisa begitu?”


“Yang aku dengar dari istri Davies sih begitu. Pekerjaan membuat Davies tidak memperhatikan keluarganya, terutama istrinya”


“Tapi kamu pernah cerita kan kalau Davies sengaja jarang pulang untuk menghindari istrinya yang sering selingkuh. Mungkin kalau kamu akan berbeda”


“Entahlah, pikiranku sedang kacau. Aku sholat Isya ke mesjid ya?”


“Iya, hati-hati ya!”


Daniel meninggalkan istri dan kedua anaknya di apartemen.


Waktu menunjukkan pukul 8.30 malam, anak-anak sudah mengantuk para baby sitter menidurkan mereka di kamarnya sedangkan Rita kuliah online.


“Sudah jam 9, kemana suamiku?” Rita menelpon suaminya, bunyi ponsel suaminya terdengar dari kamar tidur mereka


“Eh, gak bawa hp rupanya” Rita memutuskan untuk menunggunya sebentar lagi. Kuliah onlinenya selesai pukul 10 malam, Daniel belum juga muncul. Rita memutuskan untuk mencarinya, ia ke apartemen O.


“ting-nong!” bel pintu apartemen O,


“Sebentar!” jawab suara dari dalam, ia pun membuka pintu


“Eh tong! Ngapain malam-malam?”


“O tolong jaga kedua anak gue, mereka sama baby sitternya sih, tapi harus ada yang ngawasin mereka”


“Memangnya Yu mau kemana?”


“Daniel belum pulang dari mesjid”


“Et dah, masih jam 10, takut amat. Nanti juga pulang!”


“Gak biasanya O! sudah deh tolongin gue sebentar saja! Kalau ngantuk lo tidur di sofa”


“Kenapa berlebihan gitu sih? Kecuali kalau gak balik lebih dari 24 jam!”


“Sudah! Jangan bawel!” Rita memberikan nomor kunci pintu otomatis apartemen mereka, lalu langsung pergi ke mesjid mencari suaminya.


Ketika turun di loby apartemen, seorang security menghampirinya


“Bu Daniel, tadi kami ingin membangunkan pak Daniel tapi kelihatannya beliau sangat lelah, jadi kami membiarkan ia tidur” ujar security yang bernama Danny


“Oh begitu” Rita menghampiri suaminya, dan melihatnya yang sedang tertidur sambil menundukkan kepalanya


“Sayang, yuk pindah tidurnya!” ajak Rita


“Hhh?” Daniel setengah tersadar, Rita membopongnya, perlahan mereka naik lift ke apartemen mereka.


“O!” panggil Rita, meminta Mario membantunya membopong Daniel ke tempat tidur.


“Thanks O!”


“Ketemu dimana pak Bos?” bisik Mario, sambil keluar dari kamar


“Di loby bawah ketiduran”


“Ya ampyunn..capek banget kali ya?”


“Iya, dia bilang tadi menjawab 250 pertanyaan jaksa”

__ADS_1


“Owhh, pantas teler, ya udah. Ai balik ya?”


“Thanks ya O!” Mario melambaikan tangan dan kembali ke apartemen bawah. Rita mengunci pintu apartemen dan mengganti kodenya. Ia memeriksa kamar anak-anak, para baby sitter telah terlelap bersama anak-anak. Rita mengunci pintu kamarnya lalu mengganti pakaian dengan piyama.


“Eh kamu sudah bangun?” Rita kaget melihat suaminya memperhatikannya, Daniel menariknya ke ranjang mereka lalu bercinta.


Beberapa jam kemudian, selesai bercinta


“Kamu gak apa-apa Yang?” tanya Rita, ia merebahkan kepalanya ke lengan suaminya


“Sekarang sudah gak apa-apa” Daniel mencium kening istri lalu memeluknya. Mereka pun terlelap.


Pagi harinya, Rita telah menyiapkan sarapan pagi untuk mereka.


“Selamat pagi!” Daniel menyapa anak-anak mereka yang telah berkumpul di meja makan untuk sarapan


“Pagi, kamu segar sekali hari ini?” Rita memperhatikan wajah suaminya


“Mungkin tertidur di loby bawah dengan nyenyak itu bagus juga, lelahku jadi hilang”


“Aku mendapat pesan dari penerbangan, mereka bertanya kapan kita akan kembali ke Jakarta?”


“Hmm..aku belum tahu, kapan batas waktu pulangnya?”


“Besok!”


“Apa kamu mau kembali lebih dulu? Nanti aku menyusul?”


“Aku gak mau kalau gak sama kamu!”


“Hmm...begitu ya? sore ini kita putuskan akan kembali atau tidak ke Jakarta”


“Kalau kita gak kembali, aku mau memulangkan kedua baby sitter saja, Aku kepikiran dengan keluarga mereka di Jakarta”


“Lalu kamu bagaimana? Apa bisa menghandle kedua bocah?”


“Aku bisa memanggil suster Rini, untuk membantu.”


“Kamu atur saja ya? aku berangkat!” Daniel mencium kening istri dan anak-anaknya


“Papi kerja dulu ya?”


“Piiii!!!” kedua anaknya melambaikan tangan melepas papinya pergi bekerja.


“Jadi kami akan pulang lebih dulu ke Jakarta bu?” tanya salah satu suster


“Iya, kalian tidak siap tinggal lama di sini, pakaian dan perlengkapan kalian ada di Jakarta semua karena sebelumnya kita tidak berencana tinggal lama di sini”


“Apa bapak baik-baik saja bu?” tanya suster Dewi


“Bapak baik, kenapa?”


“Tadi malam, saya dengar pak Daniel pulang dibopong ibu?”


“Oh itu, beliau ketiduran di loby bawah, kelelahan eh ketiduran”


“Kerja keras sekali ya beliau?”


“Ya, begitulah, ada anak dan istri yang harus ia nafkahi”


“Pak Daniel masih muda sangat rajin bekerja, suami saya selalu mengeluh kalau bekerja, capeklah, sakitlah..hhh...sampai bosan saya dengar keluhannya” ujar suster Emy


“Oh suster Emy sudah menikah?” tanya Rita sambil menggendong Rafa


“Sudah bu, anak baru 1 perempuan, umurnya sekarang 8 tahun, tinggal bersama kakek dan neneknya di kampung”


“Oh ya? kampungnya di mana?”


“Di Yogya bu”


“Sering pulang sus?”


“Tergantung suami,kalau dia ngajak pulang ya saya ikut pulang”


“Suami suster pekerjaannya apa?”


“Supir pribadi bu, bosnya orang India, pelit banget.Padahal tugasnya banyak tapi tidak pernah ngasih tip sama sekali” keluh suster Emy


“Kalau suster Dewi, sudah menikah?” tanya Rita


“Sudah bu, baru setahun”


“oh ya? masih baru”


“Iya bu” Dewi tersipu-sipu


“Dia ini suaminya PNS bu, padahal gaji suaminya sudah besar kenapa masih mau kerja?” ujar Suster Emy


“Pernikahan saya masih baru, kami masih mengenal. Bahkan kami belum merencanakan punya anak. Ibu saya bilang jangan melepas pekerjaan saya karena belum tentu suami saya akan terus setia untuk menafkahi”


“kok pikirannya begitu? Berarti ibu kamu ingin kamu bercerai dong dengan suami mu?”


“Astaghfirullah, enggak dong. Ibu saya hanya ingin saya tetap punya penghasilan agar saya bisa mandiri walaupun tetap dinafkahi suami”


Rita hanya mendengarkan obrolan kedua suster anaknya yang usianya lebih tua dari dirinya.


“Bu Rita, sebaiknya jangan LDR-an sama pak Daniel” ujar suster Emy tiba-tiba


“eh kenapa?” tanya Rita heran


“Pak Daniel tampan sekali, pasti banyak perempuan yang tergila-gila padanya. Perempuan sekarang nekat-nekat bu. Suami saya saja yang gak ganteng-ganteng amat digoda sama ART di rumah majikan, syukurlah ada yang bilang jadi saya langsung labrak cewek itu”


“Apa kalau dilabrak cewek itu pasti gak deketin suami suster?” tanya Rita


“Setidaknya dia tahu kalau suami saya sudah ada yang punya, selebihnya tinggal kita memberikan servis yang lebih ke suami”


“Servis? Memangnya kita mobil?” ujar suster Dewi tiba-tiba


“hahahaha!” Rita tertawa geli


“Maksudnya melayani suami lebih intens lagi, lebih memperhatikan kebutuhannya, jadi dia gak akan berpaling ke cewek lain” ujar Suster Emy, Rita mengangguk setuju


Pukul 9 pagi mereka meninggalkan apartemen menuju D’Ritz. Rita cukup sibuk mengatur bahan baku yang baru saja ia pesan karena Erina ijin tidak masuk kerja.


“Ismael, berapa pesanan yang harus dipenuhi hari ini?” tanya Rita


“300 ratus pieces bu, untuk makan siang kantor”


“Apa jenis roti yang dipesan?”


“Roti gandum sosis, coklat-keju dan puding”


“Jadi masing-masing 100?”


“Iya bu”


“Di kirim ke kantor mana? Jam berapa?”


“Dar,co”


“Dar,Co? Coba lihat alamatnya?” Rita membaca pesanan dari kantor suaminya


“Nanti aku ikut mengantar pesanannya!”


“Baik bu!”


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2