Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 262: Daniel sakit


__ADS_3

“Sayang, bangun kamu gak sholat subuh di mesjid?” Rita membangunkan suaminya yang masih lelap tertidur dengan suara lembut


“Hhh..hari ini aku sholat di rumah saja, badan ku pegal-pegal semua” jawab Daniel setengah tertidur, ia baru saja pulang dari tugas dinas di Swiss selama dua minggu. Rita mengambil termometer dan mengukur suhu tubuh suaminya


“Wah agak demam ya? kamu mau aku kop badannya?”


“Enggak!, aku Cuma mau tidur saja hari ini” ujarnya malas


“Iya, sholat dulu lalu tidur lagi ya?” bujuk Rita. Dengan segan Daniel bangkit dari ranjang, ia melihat punggung istrinya, lalu memeluknya dari belakang


“Aku kangen nih!” ujarnya


“Kamu kan lagi gak enak badan, sholat dulu lalu istirahat ya??”bujuk Rita sambil membimbing suaminya ke kamar mandi setelah itu ia menelpon Erina


“Selamat pagi Erina, maaf terlalu pagi ya? sepertinya aku tidak bisa datang hari ini, suamiku sakit. Mungkin kita akan melakukan meetng via online seperti biasanya”


“Oh baik bu, pak Daniel sakit apa?”


“Dia kelelahan, tadi malam baru datang dari Swiss.”


“Oh begitu pantas, baiklah bu. Semoga pak Daniel lekas sehat kembali”


“Terima kasih Er!” Rita menutup percakapan dengan Erina di Singapura. Lalu ia menghubungi tim content kreatornya


“Pagi bu!”


“Hey, Anton tolong bilang ke teman-teman ya, hari ini libur dulu. Suamiku sakit, aku tidak akan bisa bebas bekerja kalau dia sakit”


“Oh pak Daniel sudah pulang bu?”


“Iya, baru tadi malam. Dia sangat kelelahan, jadi aku harus merawatnya”


“Baik bu, akan saya sampaikan ke teman-teman”


“Terima kasih!”


Daniel yang baru selesai sholat subuh, menghampiri box tidur Rayya yang kini berusia 3 bulan


“Hey!! Adek! Sudah bangun ya?” godanya


“hhhaa...ha...ha...” Rayya merespon suara papinya, tubuhnya bergerak-gerak minta digendong.


“Oh, kamu kangen papi ya?” perlahan Daniel mengangkat Rayya dari boxnya, lalu menggendongnya dengan hati-hati


“Anak cantik, sholeha, kamu kok makin berat ya?” Daniel memperhatikan Rayya


“Huaaa....huaa...” Rayya menangis


“Eh kok nangis? Cep..cep..cep..” Daniel mengasuh Rayya dengan sabar


Rita membawa jamu dengan air hangat ke kamar mereka


“Sayang, kamu minum ini dulu, siapa tahu kamu Cuma masuk angin, sini Adek mami gendong” Daniel menyerahkan Rayya pada Rita dan ia meminum jamu dari Rita


“Ih pahit, apaan nih?”


“Itu jamu, untuk menghilangkan pegal-pegal dan masuk angin. Nah kamu minum air jahenya” Daniel menuruti perkataan istrinya


“Hmm...enak...air jahe ini kamu bikin?”


“Iya, enak ya?”


“Iya, segar..tapi badan ku masih sakit semua”


“Kan belum diserap tubuh, kamu tidur lagi deh”


“Iya, aku sudah menghubungi staf ku kalau aku gak masuk kantor hari ini” ujarnya sambil melepaskan sarungnya dan meninggalkan celana boxer


Rita meletakan Rayya kembali di boxnya, Daniel kembali terlelap. Diam-diam ia keluar kamar dan menguncinya ia tidak mau istirahat suaminya terganggu, karena sebentar lagi kedua anak batitanya akan menyerbu masuk ke kamar mereka


Beberapa menit kemudian dugaannya tepat, Ranna dan Raffa bergegas ke kamar tidur orang tua, mereka kesulitan membuka pintu. Ranna mencari Rita, dan menemukannya sedang menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga


“Mami, papi mana?” tanya Ranna


“Mami, i want papi” ujar Raffa


“ssttt...papi lagi bobo, tadi malam baru datang. Kalian mainnya nanti saja ya kalau papi sembuh”


“huuu...huaaa...huaaa...” keduanya menangis mendengar papinya sakit


“sssttt...jangan nangis, nanti papi sembuhnya lama gimana? kalian sarapan dulu ya?”


Rita menaruh kedua anak batitanya di kursi bayi, mereka sudah bisa makan sendiri, walaupun masih berantakan


“enak gak?” Rita melihat kedua anaknya tersenyum sambil meminum wedang jahe yang tadi ia buat.


“tttuuuuuttt!!!” suapa ponsel mengganggu sarapan pagi mereka, Ranna dan Raffa saling bertukar lauk


“hei, lauk kalian sama, kenapa harus tukeran?” tanya Rita heran. Keduanya terdiam, lalu melanjutkan makan. Rita mengangkat telepon


“Hei Rit!”


“Hai, Lisa apa kabar?”


“Baik Rit, eh hari ini kita bisa ketemuan?”


“Ketemuan? Kalau hari ini gak bisa Lis, laki gue tadi malam baru pulang dinas luar negeri, jadi sekarang dia lagi istirahat di rumah. Gue saja membatalkan banyak acara hari ini”


“wah sayang banget ya, kalau gue datang juga pasti lo repot”


“Ya begitulah, laki gue ini kalau lagi sakit manjanya gak kalah sama anaknya, jadi gue harus stand by”


“Waduh kalau kayak gitu, lo bakal punya anak lagi dong?”


“hush! Enggak dong, kita berdua sudah KB, jadi insyaAllah aman, lo gimana?”


“Baru isi 2 bulan”


“Wahh...selamat ya Lis”


“Terima kasih, Cuma Rit, kok gue bawaannya kesel banget ya liat laki gue? Gue sebeeellll banget, tapi kalau dia menjauh gue kangen berat. Kenapa ngerepotin gini ya?”


“Memang begitu”


“Lo pernah ngalamin Rit?”


“Kalau benci sama laki sih gak pernah, tapi maboknya yang gak berenti-berenti, waktu Ranna sampai 4 bulan. Kalau Raffa yang ngidam laki gue. Kalay Rayya, gue bawaannya pengen merajut terus, yang lain males”


“Oh begitu, jadi normal ya Rit?”


“Iya Lis, kalau emosi lo memuncak lo istighfar saja, ingat itu bawaan hormon. Bilang ke laki lo supaya lebih sabar”


“ih dia sabar banget Rit, dia yang ngerjain semua tugas rumah tangga. Kalau dia capek dia menyewa orang deh buat bersihin rumah”


“Wah hebat dong”


“Iya, tapi gue suka sebel, karena dia over protektif banget, gue ke warung depan saja dilarang, dia bilang aku saja, nanti kamu jatuh gimana”

__ADS_1


“ciyeee...calon bapak”


“Iya, dia minta dipanggil Yanda, kalau aku bunda.”


“Yanda? Kenapa gak panda saja?”


“Hahaha..sialan lo, kok lo tahu sekarang laki gue gemuk kayak panda?”


“Eh emang? Gak tahu gue, kalau ibunya bunda papanya panda kan?”


“Oh begitu hehehe...ya udah deh Rit, sehat-sehat terus ya, salam sama pak Daniel”


“Alaihissalam, lo juga ya, semoga kehamilannya lancar, aamiin”


“Aamiin”


Mereka mengakhiri percakapan mereka, tak berapa lama para suster datang. Juga ART, mereka memandikan kedua batita , sedangkan ART membersihkan ruangan mereka.


“eh, bu kamar ini gak bisa dibuka?” tanya ART


“Jangan, bapak sedang tidur, kalian kerjakan ruang lain di kamar ini saja”


“Baik bu!”


Pagi itu Rita kembali online dengan Erina di Singapura, sambil mengasuh Rayya, sedangkan Daniel masih terlelap tidur


“Oke Er, aku sudah paham sekarang. Besok kita lanjutkan ya”


“Baik bu, selamat siang!”


“Siang!!”


Telah masuk tengah hari , seseorang datang bertamu, security mengarahkan ke teras depan kamar Rita


“Permisi!,” teriaknya,


“Ya??” Rita keluar kamarnya


Lelaki itu terkesima melihat perempuan muda cantik di hadapannya, ia tidak henti-hentinya menelan ludah


“Ada apa ya?” teguran Rita membangunkan kesadarannya


“Maaf kak, bisa bertemu pak Daniel?” tanya orang itu


“Kak? Anda dari?” belum selesai Rita bertanya, Raffa datang dari dalam kamar dan menubruk tubuh Rita


“Mami!!! Kak Ranna!!” Ia tertawa-tawa


“Eh mami?” lelaki itu terkesiap wajahnya tampak kaget juga kecewa,


“Hey Raffa!” panggilnya


“Abang kenal sama Om itu?” tanya Rita


“Mr.Samuel” jawab Raffa tersenyum lalu menghampiri dan menyuruhnya duduk


“Oh Anda Samuel? maaf ya, aku tadi sedang banyak pikiran. Aku akan berikan berkas yang disuruh bapak untuk kamu”


“Oh iya bu!”Samuel memaksakan diri tersenyum, hatinya kecewa mengetahui perempuan cantik yang sesuai tipenya ternyata istri bosnya


“Mr.Samuel this is for you!” Raffa memberikan minuman soda dingin pada Samuel


“Thanks” Samuel menerimanya dengan senang hati. Raffa duduk dihadapannya menemani


“Adek!”Panggil Ranna menghampiri


“Kak, i can’t play, i have a guest” jawab Raffa


“Hai, kamu siapa?” tanya Ranna mengulurkan tangannya


Samuel kaget dihampiri anak perempuan kecil berwajah seperti bosnya


“Kak, don’t do that, that’s mr. Samuel. Papi’s friend” ujar Raffa


“ohh..I’m sorry!” Ranna berlari kembali ke kamarnya


“I’m sorry for my sister!” ujar Raffa mewakili


“It’s okay!” jawab Samuel tersenyum


Seorang staf suruhan Rita membawa koper sedang yang berisi berkas yang harus dikembalikan ke kantor


“Terima kasih pak!” ujar Rita


“Ini pak Samuel, maaf pak Daniel masih tidur, tadi dokter sudah memberikan suntikan vitamin C. Jadi ia harus istirahat, mungkin besok atau lusa akan kembali ke kantor” ujar Rita menerangkan


“Baik bu, terima kasih” Samuel menerima koper dari Rita lalu pamit


“Saya permisi dulu bu, Raffa, saya pulang dulu ya?”


“Yes, take care!” ujar Raffa lalu ia kembali masuk ke kamar dan diikuti Rita, Samuel meninggalkan kediaman Daniel dengan wajah agak sedih.


“Ah sial, gue pikir jodoh gak taunyaaaa!” gumamnya kesal


“Kenapa pak?” tanya supir kantor


“Gak kenapa-kenapa!, lanjut saja!” suruh Samuel ketus, wajah Rita terbayang-bayang di kepalanya


Sore hari setelah sholat Ashar Daniel tampak lebih baik, suntikan Vitamin membuatnya kembali segar, ia duduk di ruang TV.


“Hai sayang kamu sudah mendingan?” tanya Rita sambil mencium kepala suaminya


“Alhamdulillah! Dari mana?”


“Ini anak-anak minta jajan ke minimarket”


“Hah? Tumben, bukannya di sini cemilannya banyak?”


“Mereka pengen saja, ada adegan belanja di mini market di film yang mereka tonton jadi mereka minta aku mengantar mereka”


“Ckckckc..anak-anak sekarang”


“Papi, are you oke?” tanya Raffa menghampiri Daniel


“I’m fine!” jawab Daniel tersenyum, Ranna tanpa bertanya, ia naik ke atas sofa dan menjatuhkan dirinya ke tubuh Daniel


“Papi tangkappp!” teriaknya


“Kakak!” Daniel tertindih anak perempuannya, Ranna tertawa geli


“Kak Ranna, papi baru sembuh sudah ditomplok lagi” Rita memperingatkan, ia menggendong Rayya. Yang kelihatannya ingin melakukan seperti yang dilakukan kakaknya


“eh adek kenapa? Kamu mau nomplok papi juga?” tanya Rita heran, karena Rayya aktif bergerak


“Aku kangen kalian!” Daniel memeluk kedua batitanya erat


“Papi, i met mr.Samuel”

__ADS_1


“me too!” Ranna mengikuti


“Kakak say, kamu siapa?”


“No i didn’t!” Ranna takut dimarahi karena tidak sopan


“Yes you did!” jawab Raffa


“Hey don’t fight!” Daniel memperingatkan


“Terus bang?”


“I gave him drink and sit with him until mami came” ujar Raffa


“Smart boy!! Thank you!!” Daniel mencium pipi Raffa


“Samuel tadi orangnya rada lemot ya?” ujar Rita


“Kenapa?”


“Tadi bengong saja ngeliatin aku, tadi juga sempat dipanggil kak. Lalu Raffa datang, baru deh dia panggil Ibu”


“Mungkin dia kaget kali melihat kamu!”


“Kenapa kaget? Jangan-jangan aku mirip ART ya? tadi aku pakai daster sih, tapi dasternya bagus kok!” Rita tampak khawatir


“Enggak, mungkin dia kaget istriku masih sangat muda dan cantik. Mungkin dia pikir kamu adik ku”


“Ah masa sih? Kamu bisa saja memuji. Wajah ku kelihatan lelah begini, mana sudah punya buntut 3!” Rita mengambil kaca di tas kecilnya


“Yah, kamu gak percaya, besok di kantor pasti rame deh, ngegosipin tentang kamu”


“Masa?” Rita tidak percaya


“Beneran, kamu ingatkan waktu pekan olah raga di Dar.Co itu kan heboh banget aku bawa istri”


“Kamu jangan menyamakan Lexi dengan Dar.co”


“Beneran!, kalau ternyata kamu jadi bahan gosip, kamu mau ngasih aku apa?” tanya Daniel menantang


“Kamu maunya apa?”


“Kamu pakai baju sexy seharian!” ujar Daniel


“Enggak!”


“Kenapa?”


“Kita di rumah ini, CCTV bertebaran, kamu mau tubuh istri mu terekspos?” ujar Rita


“Benar juga ya? kalau gitu, kamu datang ke kantor, kita kencan sepulang aku kerja, anak-anak dititipi saja!”


“Eh kencan?”


“Iya, kali ini aku ingin kencan sama kamu, berdua saja!”


“hmm..baiklah, aku atur dulu waktunya”


“Nah begitu dong!”


“Tapi kalau ternyata gak ada gosip tentang aku, aku dapat apa?”


“Aku beliin tas desainer terbaru deh”


“Beneran?”


“Bener! Kemarin aku sudah lihat-lihat di toko di Swiss”


“Wah kalau beli di sana kamu bakal kena pajak cukup besar di sini”


“Tenang, nanti seorang staf ku akan memakainya sebagai barang pribadi, kardus dan kemasanya sudah aku bawa”


“Jadi kamu sudah beli?”


“Sudah, itu bungkusnya aku taruh di dalam ransel bagasi.”


“Apa mereka gak curiga? Ada bungkus, gak ada tasnya?”


“itu buktinya aman-aman saja”


“Kok kayak menghindari pajak ya?”


“Aku baca ntang pemungutan pajak di sini, kayaknya suka-suka pemungutnya ya? jadi kalau bisa diakali ya akali deh, sekali-sekali”


“Tapi Say, tas yang mahal itu, pajaknya gimana?”


“Nah itu, aku juga gak tahu, karena aku kan nerimanya di Jakarta, yang bawa dari sana stafnya sir Alec”


“Gak usah deh say, aku takut, paling-paling berapa sih pajaknya. Aku bayar deh”


“Gini deh, kalau ternyata nanti staf ku harus bayar atas tas yang ia pakai, ya bayar saja, tapi kalau ternyata enggak, ya enggak usah, beres kan?”


“iya deh begitu saja! Btw kamu sudah enakan badannya?”


“Lumayan”


“Memangnya kamu ngapain saja di sana?”


“Biasa lah sir Alec, kita dibikin muter-muter gunung mencari harta karun, setelah dua hari baru deh kerja di kantor”


“Beliau kenapa begitu ya?”


“Katanya supaya para CEO gak buncit perutnya karena berjalan kaki naik turun gunung”


“Tapi kalau akhirnya kamu sakit gimana?”


“Katanya kalau memang sakit ya wajar, apalagi udara di sana dan di sini berbeda jauh, beliau ngasih waktu sakit 3 hari dan tetap dibayar”


“Alhamdulillah!” Rita tampak lega


“kelihatannya kamu lega sekali? Takut aku gak punya uang ya?”


“Bukan itu saja, aku takut kamu sakitnya parah, aku takut ditinggal kamu dengan anak sebanyak ini”


“Baru tiga, ayo kita buat lagi!”


“Hey, kamu masih KB kan?”


“oh iya, dokter bilang bisa bertahan antara 6-12 bulan, setelah itu harus disuntik lagi”


“Kamu harus jaga kesehatan, anak-anak kita masih kecil. walaupun kakek ku kaya, tapi aku gak mau mengemis sama kakek ku kalau kamu gak ada”


“Siap bu bos!, sekarang pak bos lapar nih, ada makanan apa?”


“Oh iya, aku bikin sayur bayam dengan tempe bacem, supay perut kamu nyaman”


“Sayur bayam? Baiklah!”

__ADS_1


Mereka bersantap sore sambil bercerita tentang kegiatannya selama dua minggu saling terpisah


_bersambung_


__ADS_2