Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 162: Draft Bagi Waris


__ADS_3

“Assalammu’alaikum..


Sayang!!!” panggil Daniel mencari istrinya di dapur


“Wa’alaikummussalam!” Rita mendatangi suaminya


“Dari mana?”


“Toilet!, kehamilan ini membuatku ingin pipis terus!”


“Tentu saja, kehamilanmu menginjak 8 bulan” Rita mengambil tas dan jas Daniel dan meletakannya di ruang kerja, sementara tanpa di ketahui Rita, Daniel memasang kamera tersembunyi di suatu tempat dengan sensor suara cukup sensitif


“Besok kamu jadi ke Auckland sayang?” tanya Rita, ia memberikan gelas berisi air putih untuk suaminya


“InsyaAllah, setelah jam makan siang”


“Wah aku sendirian dong ya?”


“Seandainya kamu bisa ikut”


“Kehamilan tri semester terakhir, bahaya untuk penerbangan!” ujar Rita agak menyesal


“Mungkin setelah melahirkan kamu bisa ke sana!”


“Bayi juga tidak bisa ikut terbang sebelum 1 tahun sayang!” ujar Rita lagi


“Hmm...begitu ya? kalau begitu orang Auckland yang kemari!”


“Oiya, untuk apa kakek memanggilmu ke sana?”


“Beliau ingin membacakan surat warisan yang baru saja selesai ia buat!”


“Surat warisan? Apa kakek sakit?, aku mengecek ke Lee dan O mereka bilang kakek sehat –sehat saja?”


“Kamu menghubungi mereka?”


“Iya, hampir setiap hari, O sampai kesal karena kalau dia tidak merespon pesan dariku, aku akan mengirim beberapa orang ke tempatnya untuk membangunkannya, hihihi” Rita tertawa membayangkan reaksi kesal O


“Kamu sangat bertanggung jawab ya terhadap kakek?”


“Dulu aku pernah berjanji akan menemaninya supaya ia tidak kesepian, eh ternyata aku menikah dengan cepat. Aku tidak bisa menepati janji itu, setidaknya aku bisa mengawasi kesehatannya dari jauh!”


“Kamu baik sekali ya?”


“Iya juga ya? oh iya kira-kira selain warisan mereka akan membicarakan apa?”


“Mungkin status CEO ku?”


“Hmm..status CEO mu? Apa kamu akan naik pangkat atau turun pangkat?”


“Menurutmu apa aku akan dipromosikan?”


“Mungkin ! aku gak tahu, aku hanya mengharapkan yang terbaik bagimu, tuan Daniel!” Rita menghapus saus dari bibir Daniel


“Kamu tidak berambisi, suamimu berkedudukan tinggi di perusahaan besar seperti Dar,Co?” Daniel penasaran


“Berambisi apa yang kamu mau aku lakukan? Menelpon kakek meminta kedudukan tinggi untuk mu? Aku gak mau! “


“Kenapa? Istri yang lain seperti itu!”


“istri yang lain tidak punya suami seperti mu!, aku menelpon tentang masalah kerjaan ke kakek atau ke Om pasti kamu akan mendiamiku selama beberapa pekan, apalagi minta kedudukan untukmu!”


“Kamu sangat mengenalku! Tapi apa kamu pernah sekali menelpon mereka untuk masalah ini?”


“Enggak pernah! Tanya sendiri saja pada mereka!"


“Bagaimana seandainya aku dipecat?”


“Dipecat? Kenapa?”


“Karena sudah membuat perusahaan rugi besar?”


“Hmm..pekerjaanmu dilakukan secara tim sayang, jika ada potensi akan mendatangkan kerugian bagi perusahaan seharusnya bisa terdeteksi sejak dini kan?”


“Wah kamu makin cerdas ya?” puji Daniel, sambil menyantap makanannya


"sebentar Aku ke toilet lagi!" Rita meninggalkan Daniel di ruang makan, setelah beberapa saat Rita kembali ke meja makan. Daniel mulai menyalakan kameranya secara remote.


“Hehehe,..aku rajin membaca dasar- dasar bisnis, jadi sedikit lah aku bisa menyimpulkan pekerjaan di kantor dan siapa yang bertanggung jawab, dst”


“Kamu berniat mengambil kuliah bisnis?” Rita mengangguk, sambil menuangkan air putih ke gelas suaminya


“Aku mau mencoba jadi pebisnis, setidaknya aku bisa melakukan itu sambil mengasuh anak kita!”


“Kamu sudah merencanakan semuanya ya?”


“Tentu saja!, Aku ingin anak kita mandiri, dia tidak mengandalkan atau mengharapkan warisan dari kita!”


“Jadi kamu gak mengharapkan warisan dari kakek?” tanya Daniel penasaran, Rita menggeleng


“Terserah saja, dikasih ya aku bersyukur, gak dikasih, masa sih? Hihihi..”, Rita tertawa, Daniel turut tertawa


“Bagaimana seandainya kakekmu sungguh-sungguh tidak mewariskan apapun padamu?” tanya Daniel , ia sengaja menekankan nada suaranya


“Hmm...tidak memberiku seperser pun? Masa sih? Apa mungkin begitu?”


“Yaa, misalnya, ternyata hasil test DNA mu itu salah, ternyata kamu bukan cucu asli kakek Darmawan, jadi kamu gak berhak atas warisannya?”


“Aku pasti akan sangat bersedih!”


“Bersedih karena gak dapat bagian warisan?”

__ADS_1


“Bukan! bersedih kalau aku bukan cucunya. Beberapa tahun belakangan ini, aku sangat bahagia karena menjadi cucu kedua kakek yang hebat-hebat! Tak berhenti aku mendoakan kesehatan mereka dan keselamatan mereka dalam setiap sholatku”


“Kamu selalu mendoakan mereka?”


“Tentu saja! Hanya itu yang bisa aku berikan, mereka lebih kaya dariku!” Rita mengambilkan segelas juice untuk suaminya


“Bagaimana misalnya ternyata kamu memang cucunya ya seperti sekarang, tapi kamu sungguh-sungguh gak dapat uang darinya sepeser pun!”


“Ya sudah sayang! Apa aku harus memohon minta padanya? Suamiku sudah kaya, ngapain aku memohon-mohon? “


“Misalnya, ternyata aku kehilangan pekerjaan, uangku habis, aku juga jatuh sakit! kamu sangat butuh uang sedangkan kakek sugi , mama dan kakakmu tidak bisa menolong. Kamu bagaimana? Pasti memaksa kakek Darmawan kan?”


“Hmm...sayang! kebetulan kamu membicarakan tentang hal itu!” Rita beranjak dari meja makan, dengan langkah mantap ia mengambil kertas dari lemari dan memberikan kepada suaminya


“Apa ini sayang? D’Rits? Kayaknya toko yang baru buka diujung jalan itu bukan?”


“Iya!” Rita tersenyum


“Kamu yang punya toko itu?”


“Tepat sekali!, Aku melihat toko itu nganggur, aku bertanya tentang biaya sewanya. Ternyata terjangkau dengan uang tabunganku, tadinya aku tidak berniat membuka toko. Aku jadikan toko itu laboratorium ku untuk membuat kue dan roti. Ternyata, wangi dari lab ku mengundang banyak orang. Dan aku memberikan mereka sample, wah mereka banyak yang suka. Jadi pelan-pelan aku buka toko deh!”


“Hah? Kok kamu gak bilang?”


“Beberapa bulan ini setiap pulang kamu kelihatan lelah sekali, sepertinya kamu kepikiran tentang kelahiran anak kita ya? jadi aku pikir nanti saja kalau sudah berjalan lancar aku tinggal bilang padamu!”


“Bagaimana dengan perijinan dan yang lain-lain?”


“Aku menemui profesor yang waktu itu dan meminta nesehat darinya, tidak gratis tentunya!,


“Kamu punya pengacara?”


“Ya profesor itu jadi pengacaraku, beliau juga memberikan draft kepemilikan ini untuk mu, kamu baca dulu ya sayang?” Rita memberikan beberapa lembar kertas kepada Daniel, ia membacanya secara cepat


“Kenapa kepemilikanku cuma 15%? Aku kan suamimu?”


“Itu sarannya dia, tadinya aku tidak setuju”


“Kenapa?” Daniel makin heran


“Karena suamiku tidak akan meminta uang dari istrinya, ia akan bekerja keras untuk istrinya.” Ujar Rita mantap, wajah Daniel tersipu mendengar pujian dari istrinya


“Beliau bilang, bagaimanapun juga suamimu harus ikut memegang saham usaha ini, untuk melindungiku juga, seandainya ada yang ingin mengakuisisi usahamu! Begitu kata profesor itu”


“hmm...15% tidak akan ada artinya kalau yang mengakuisisi itu lebih besar sahamnya, iya kan?”


“Ah sudahlah sayang, pokoknya di toko ini kamu punya saham 15% oke?” Rita mulai tidak sabaran


“Aku akan mempelajari ini nanti!” Daniel menyimpan draft dari Rita tadi, kemudian kembali ke pembahasan semula


“Sayang tentang warisan tadi, kalau semua harta kakekmu dibagikan untuk Andi, tante Metha, Om Radian dan Franky, tapi kamu tidak bagaimana?”


“Kenapa? Kamu gak suka padanya?”


“Aku masih mengingat perlakuan buruknya padamu, lagi pula ditangannya aku yakin Dar,Co akan mengalami kemunduran “


“Dari mana kamu bisa berkesimpulan begitu? Kamu kan tidak mengenalnya?”


“Om Franky memegang peternakan kuda. Aku pernah menyelidiki kenapa kuda-kuda di peternakan mengalami masalah kesehatan. Termasuk kuda kakek si Sembrani dan Ellen kudaku. Ternyata ia menukarkan makanan khusus untuk mereka dengan makanan yang lebih murah, sehingga kuda-kuda kami mengalami kemunduran kesehatan. Aku segera membuang makanan yang tidak bermutu itu dan menggantinya dengan makanan semula. Aku juga meminta bagian pengadaan melaporkan padaku jika terjadi kecurangan lagi!”


“Apa Om Franky tidak marah, kamu berbuat seperti itu?”


“Tentu marah!, Aku menunjukkan beberapa bukti padanya, hampir saja ia menamparku”


“Hah? Ia menamparmu?” Daniel terkejut


“Hampir!, tapi aku berhasil menangkap tangannya dan membuatnya terkilir. Aku bilang sekali lagi ia berbuat seperti itu, aku akan melaporkannya ke kakek!”


“Bagaimana dengan Om Franky”


“Ia sempat mau memukul kepalaku dengan garpu jerami, aku langsung menendang garpu itu, kalau kamu lihat bekas luka jahitan di wajahnya, itu aku yang berbuat. Aku bilang, aku gak segan berbuat yang lebih kasar, apalagi aku gak menganggapnya keluarga!”


Daniel terdiam, ia menyimpan kemarahan, karena Franky berani mengancam istrinya dengan garpu jerami, kemudian ia melanjutkan pertanyaannya


“Bagaimana dengan Om Radian?”


“Om Radian? Dia lumayan! Dia pebisnis yang handal. Aku sering meniru gayanya jika ia bertemu klien...wah keren sekali! Gak heran deh kakek mempercayakan Dar,Co padanya. Tapi Beliau menjadi ceroboh jika tahu tentang konser Blackpink, pasti deh ada yang ngaco! Aku yakin kegemarannya akan blackpink itu untuk mengisi hatinya yang kosong. Kadang aku kasihan padanya, aku ingin bilang padanya. Sudahlah Om move on!”


“Om Radian sudah move on sejak lama!” ujar Daniel


“Belum sayang!, beliau masih merajuk!, beliau tidak mempercayai dengan hubungan serius. Itu namanya belum move on!”


“Menurutmu move on itu seperti apa?”


“Ya mendapatkan kehidupan yang lebih baik! Om ku itu ganteng, kaya, apa lagi? Hanya karena satu perempuan menyakitinya, ia berhenti mencintai? Ah come on!!!”


“Kamu kan gak tahu ceritanya sayang!”


“Memang sih, tapi menurutku sayang saja, mungkin saja kan ia melewatkan wanita yang sungguh-sungguh mencintainya? Kadang, Tuhan mengambil yang kita pikir sangat kita sayangi tetapi ternyata Tuhan memberikan kita yang jauh lebih baik?”


“Menurutmu begitu?”


“Tentu dong!, setidaknya kalau aku sih begitu!” Rita kembali pergi ke toilet untuk pipis lagi. Daniel menghentikan rekamannya, lalu menyimpannya di tas


Esoknya ia telah berada di Auckland. Ia langsung dipanggil ke ruang kerja Darmawan.


“Sehat Niel?” Kakek memeluk Daniel


“Sehat Kek, alhamdulillah. Oh iya aku membawa kue-kue dari toko barunya Rita” ia memberikan roti dan kue untuk kakek


“Wah cucuku ini, sedang hamil malah makin kreatif saja!” ia membuka salah satu roti itu dan memakannya

__ADS_1


“Enak Niel! Lembut dan empuk! Ini Rita sendiri yang buat?”


“Iya Kek, ia mengambil kursus membuat roti lalu mengembangkan resepnya sendiri”


“Wah kamu makan melulu dong, hati-hati gemuk Niel!” Kakek kembali menyantap roti itu, tiba-tiba suara ketukan pintu berbunyi, Kakek menyembunyikan roti dan kue dari Rita di lemari kerjanya, Daniel tersenyum melihat kelakukan kakek istrinya itu


“Ah kalian sudah datang!, silakan masuk dan duduk!”


“Hello Niel Apa kabar?” Andi menyapanya, kemudian Radian, Metha lalu Franky. Hanya dia yang tidak mau bersalaman dengannya


“Kalian tahukan kenapa dipanggil kemari?” ujar Darmawan


“Iya Om, tetapi kenapa ada dia? Kan dia bukan keturunan keluarga Darmawan?” ujar Franky dengan nada kasar seolah ingin mengusir Daniel dari situ.


“Daniel mewakili istrinya yang sedang hamil besar, aku yang mengundangnya kesini! Kamu diam saja Franky atau kamu aku usir dari sini! ” ujar Darmawan gusar


Franky terdiam, kemudian Darmawan mengemukakan maksudnya mengumpulkan semua ahli waris, walaupun beberapa sengaja tidak ia undang, karena dia tidak anggap. Masing-masing dimintai pendapatnya tentang pembagian warisan, tiba kini giliran Rita. Daniel memberikan rekaman tentang pendapat Rita mengenai warisan. Sebelumnya Kakek meminta Daniel merekam percakapan mereka, tanpa adanya editan. Daniel agak malu karena dalam video terlihat bagaimana Rita melayaninya ketika makan. Berkali-kali Metha berkata


“Woo...Rita...sangat mengabdi sekali!”


“Baper..baper!!” ujar Andi , ia menggoda Daniel yang wajahnya memerah tersipu


"Perutnya sudah kelihatan besar ya?" ujar Kakek


"iya Kek, bayinya membuatnya pipis terus" ujar Daniel


Sampai pada pendapat Rita mengenai warisan itu, Darmawan mengangguk-angguk. Yang hadir juga merasa geram ketika mendengar perlakuan Franky terhadap keponakannya. Radian merasa ngeri melihat bekas luka di wajah kakaknya.


“Kamu seharusnya mempelajari dulu tentang keponakan kita kak!” ujar Radian ngilu


“Syukurlah hanya wajahmu yang kena Kak!, seharusnya kamu tahu yang keponakan kita lakukan pada bekas pacarku!” ujar Metha tertawa mengejek


“Anda hampir melukai Adik saya Om!” Andi terlihat sangat marah


“Kamu lihat kan siapa yang menjadi korban di sini?” ujar Franky merasa sebagai korban


“Itu karena kamu yang duluan mengancamnya!, ia tidak akan bereaksi seperti itu jika kamu tidak memancingnya!” ujar Metha lagi ikut memarahi


“Kita akan banyak berbicara setelah ini Franky!” ujar Darmawan dengan suara tegas


Franky langsung keluar dari ruangan itu, ia tahu jika Omnya sudah bersuara seperti itu, kecil kemungkinan baginya untuk mendapatkan warisan seperti keinginannya.


Rekaman Rita telah selesai diperlihatkan


“Aku sudah mendengar pendapat kalian, Aku akan membuat draft warisanku, mudah-mudahan bisa membaginya dengan adil.”


Semua keluar dari ruangan Darmawan, Radian menyalami Daniel


“Sudah lama gak ketemu ya Niel?”


“Iya pak!, kenapa tidak datang ke resepsi?”


“Aku malas bertemu dengan kakak-kakakku!”


“Kakak-kakak? Ada kakak lain selain Franky?”


“Ada beberapa, mereka kesal padaku, karena Om Darmawan tidak menganggap mereka. Ah sudahlah! Ngomong-ngomong kapan Rita melahirkan?”


“Kemungkinan satu setengah bulan lagi Pak!”


“Wah aku akan jadi kakek ya?” ujar Radian


“hmm..pak maafkan perkataannya di video tadi ya? Aku tidak diperbolehkan mengeditnya!”


“Gak apa Niel ,aku jadi ingat tatapan wajah si Rita beberapa waktu lalu, sepertinya ia ingin bilang begitu padaku secara langsung, tapi ia mengurungkannya.”


“Apa mungkin ia takut Anda tersinggung?”


“Rita takut? Kamu bercanda ya Niel? Ada juga aku yang sering gemetaran!, tapi setelah aku ganti asisten, aku jadi ingat dia. Aku jadi lebih teliti terhadap pekerjaanku”


“Rahasia Anda jadi terbongkar ya?”


“Mungkin Rita benar, mengejar konser blackpink untuk menutupi kekosongan hatiku”


“Jadi bagaimana Pak?”


“Kamu masih memanggil saya Pak? Kamu sudah menjadi suami keponakanku!” Radian tersenyum


“Kamu boleh memanggilku Om!”


“Om?”


“Ya? hahaha!” keduanya tertawa


“Jujur Niel aku senang, kamu kini benar-benar jadi keluargaku. Sejak dulu aku menganggapmu adikku. Eh ternyata kamu berjodoh dengan keponakanku ya, hahahaha!”


“Iya pak eh Om! Anda gak keberatan kan?”


“Aku keberatan? Tentu tidak! Jujur saja aku pikir salah satu lelaki yang membuat Rita tunduk, ya kamu! Aku lihat kok bagaimana dia melihatmu dari pertama kali bertemu!”


“Iya Om? Kok saya gak merasa begitu ya?”


“Itu karena kamu pemalu! Aku pikir kalian sudah saling tertarik kan? Aku selalu melihatmu memalingkan wajahmu mencarinya ketika aku ajak pergi. Aku pikir hanya tertarik seperti biasa saja ternyata lebih dalam ya? sebentar jangan-jangan setelah pesta pernikahan itu ya? yang aku menyuruh kamu pergi bersamanya?”


Daniel mengangguk dan tersipu malu


“Nah kan?...Daniel...Daniel!...


perlakukan dia dengan baik ya? kalau tidak? kamu lebih tahu deh daripadaku!” Radian merangkul Daniel kemudian keduanya menuju ke ruang makan.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2