Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 108: Pesan Ayah Kiano


__ADS_3

Perjalanan menuju UEA memakan waktu 20-22 jam, satu jam sebelum mendarat, Kiano dan kawan-kawan diminta untuk berpakaian putih-putih sebagai pernyataan berduka cita.


“Yah, gue gak bawa baju putih gimana dong?” Kiano bingung


“Itu, koper di depan ditujukan untuk Lo!” jawab Andi


“Buat gue?”


“Emang Lo gak tahu? Tadi pak Simon yang ngasih, katanya titipan dari pak Faizul”


“ooh” dengan segera Kiano mengambil koper yang terletak di depan, bersebelahan dengan tempat duduk Daniel dan Rita, sekilas ia melihat Rita dan Daniel yang sedang asyik mengobrol. Rasa cemburu dalam hatinya tidak tertahankan lagi.


“Heh, kalian jangan ngobrol saja, ayo siap-siap. Pada bawa baju putih kan?” tanya Kiano sengaja menengahi obrolan Rita dan Daniel


“Lo gak lihat kita sudah ganti baju putih dari tadi?” tanya Rita


Kiano melihat Rita dan Daniel, mereka tampak serasi , baju putih yang mereka kenakan terlihat seperti baju couple, itu membuat hatinya semakin terbakar cemburu. Kiano melengos dan meninggalkan mereka berdua. Ia membawa koper ke dalam ruang ganti di pesawat, setelah dibuka ia mendapati setelan baju putih beserta penutup kepala, serta sebuah flashdisk.


“Apaan nih?” ia bingung, setelah berganti pakaian ia menaruh baju lamanya di koper, lalu kembali duduk di samping Andi


“Di, Lo bawa laptop gak?”


“Enggak, kenapa?”


“Gue dikasih ini sama Om gue” ia menunjukkan flashdisk


“Coba lo tanya Rita atau Daniel, mungkin mereka bawa adaptor supaya bisa dibaca di hp?”

__ADS_1


Kiano kembali mendekati Rita dan Daniel, ia menunjukkan flashdisknya. Daniel mengambil flashdisk itu, lalu beranjak dari tempat duduknya, ia menemui pramugari, beberapa menit kemudian pramugari menghampiri mereka dan menarik layar yang berada di langit-langit kabin. Pramugari menunjukkan proyektor dengan adaptor flashdisk di dalamnya


“Kamu gak keberatan kita ikut melihat isi flashdisk ini kan?” tanya Daniel ke Kiano, ia sudah mengetahui Kiano mahir berbahasa Inggris. Kiano mengangguk setuju. Kiano menempati tempat duduk Daniel, tetapi pramugari memintanya pindah ke belakang agar gambar di layar bisa dilihat dengan jelas. Kiano duduk 3 kursi dari depan, di sampingnya Andi, Rita lalu Daniel. Mereka menyimak isi flashdisk yang ternyata pesan video dari ayah Kiano.


“Hai Kiano, ini Ayah!... maaf kamu harus mengenal ayah pada saat seperti ini.” Ayah Kiano kelihatan begitu kurus, hidungnya tersambung dengan selang oksigen. Di sampingnya tampak istrinya sedang duduk, wajahnya terlihat sangat lelah. Suara ayahnya terbata-bata, namun demikian masih terdengar jelas.


“Walau kita terpisah jarak yang jauh, ayah tetap memantau perkembangan kamu Kiano. Ayah memiliki foto-fotomu dari awal kamu lahir hingga berusia 4 tahun, tantemu yang mengirimkan ke ayah sebagai penukaran dengan biaya perawatanmu.”


“ Ayah dan Ibumu bertemu di suatu pesta di kedutaan besar RI untuk UEA. Ayah jatuh cinta padanya sejak pertama kali melihatnya, di pesta itu ayah melihat ibumu sebagai sosok yang sederhana, cerdas dan penuh percaya diri. Eva, gadis manis berkacamata, tingginya biasa saja layaknya orang Asia Tenggara, warna kulitnya agak coklat terkesan eksotis. Ayah tidak bisa melupakan senyum manisnya, Eva satu-satunya wanita yang tidak berupaya untuk mendekati ayah. Banyak wanita yang datang di pesta itu, mereka berusaha mendekati ayah karena keluarga ayah, mereka memuji-muji menjilat dan berpakaian seronok untuk menggoda ayah, tapi Eva tidak. Ia hanya duduk dipojok, sesekali ia beredar mencari makanan dari buffee. Eva sangat menarik, ia begitu bersemangat ketika acara karaoke, suaranya memang fals, sering nadanya tidak sampai, tetapi gaya menyanyinya yang penuh percaya diri membuat ayah sering terkekeh mengingatnya. Kami berkencan beberapa kali sejak itu. Kurang lebih 2 tahun kami dekat, dan ayah memberanikan diri melamarnya. Ayah juga memberinya peringatan tentang keluarga ayah yang mengancam mengeluarkan ayah dari daftar keluarga jika kami menikah tapi itu tidak menyurutkan kami untuk bersatu. Untuk pertamakalinya dalam hidup ayah memperjuangkan yang ayah inginkan tanpa campur tangan orang tua ayah. Kami menikah di Indonesia, seminggu setelah menikah ayah sangat kaget, kakek mu membekukan semua rekening ayah sehingga kami hidup penuh keprihatinan. Ayah mengontak beberapa rekan bisnis ayah, mungkin mereka bisa membantu ayah membuka bisnis baru tapi semua rekan bisnis ayah yang dulu menjilat, sekarang menjauhi ayah karena tidak ada dukungan dari keluarga ayah. Selain itu ibumu juga diberhentikan dari kedutaan dengan alasan yang tidak masuk akal, ayah yakin keluarga ayah ada sangkut pautnya dengan kejadian itu. Ayah begitu terpukul, aku sangat marah, seharusnya mereka tidak melakukan itu kepada ibumu, tetapi Eva perempuan baik, ia terus membesarkan hati ayah. Lepas dari kedutaan, ibumu mendapat pekerjaan di lembaga penyiaran dengan gaji lumayan namun untuk mendapatkan pekerjaan itu ia harus menyembunyikan statusnya sebagai seorang istri. “


“Demi bertahan hidup, kami sepakat untuk menyembunyikan status pernikahan kami. Bulan-bulan awal ia bekerja, aku begitu bersyukur mendapatkan wanita sholeha yang begitu mengabdi kepada suaminya, tetapi di sisi lain aku juga begitu cemburu dengan pencapaiannya, aku hanya diam di rumah. Setiap hari aku melihatnya diantar oleh rekan kerja prianya, Eva mengenalkan aku sebagai kakak laki-lakinya, aku sangat marah padanya. Setelah lelaki itu pulang, Ayah begitu kesal melihat ibumu yang bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Tanpa sengaja aku menipis tangannya ketika ia menyajikan kopi panas di depanku. Air kopi itu membuat tangannya melepuh dan sepertinya ibumu juga terkejut, hingga ia jatuh pingsan. Hari itu mungkin hari paling ayah sesali, di saat ayah akan membawa ibumu ke RS, ayah dan ibu Eva datang berkunjung, mereka terkejut melihat Eva pingsan dengan tangan melepuh. Merekapun membawa Eva ke RS dan melaporkan Ayah ke polisi. Ayah menjelaskan kejadian sebenarnya, tetapi kakekmu tidak menerimanya, ia begitu melindungi Eva. Ayah mendekam selama 2 hari di tahanan polisi. Ayah menghubungi Faizul melalui kedutaan UEA di Jakarta. Faizul bernegoisasi dengan ayah mertuaku untuk mencabut laporan polisi sebagai gantinya aku harus menceraikan Eva. Awalnya aku bersikeras untuk mempertahankan pernikahan kami, tapi ayah harus menerima kenyataan, orang tua Eva tidak mengijinkan Eva kembali ke rumah kontrakan kami. Ayah pikir untuk apa hidup sendirian di negara yang bahkan ayah tidak mengenal seorang pun kecuali ibumu. Dengan berat hati ayah menceraikannya dan kembali ke keluarga ayah. Ayah pikir setelah semua kembali normal ayah akan kembali menjemput Eva.”


“ Aku sangat bahagia mendengar kabar Eva hamil anak kami, tetapi keadaan ayah belum memungkinkan untuk datang menjemputnya, sepertinya keluarga ayah mengetahui rencana ayah terhadap Eva. Menginjak usiamu ke 4 tahun, informasi mengenaimu terputus, Eva menghilang tanpa jejak, aku juga tidak bisa mengirimkan uang perawatanmu. Aku baru mengetahui kabar mengenai kepergian Eva dari tantemu. Mungkin kamu lupa, aku datang ke pemakaman ibumu. Waktu itu usiamu 12 tahun, ingin aku membawamu pergi dari situ dan membesarkanmu, tetapi kekuasaan ayahku begitu menakutkan, ayah belum bisa membawamu. Maafkan aku Nak, tidak berjuang untuk mu!” tiba-tiba ayah Kiano menghentikan ucapannya, ia menangis terisak, istrinya mengusap punggungnya untuk menenangkan.


“Dua tahun lalu kakekmu sudah tiada, jadi ayah bisa menjemputmu untuk tinggal bersama ayah, tapi kamu begitu dingin kepada ayah, mungkin mereka menceritakan yang tidak-tidak tentang ayah. Tapi sungguh Kiano, Ayah sangat menyayangimu. Mungkin kamu lupa lelaki yang memelukmu saat pemakaman ibumu, orang itu aku, ayahmu. Kiano, ayah tahu video ini tidak akan bisa menebus kesalahan ayah padamu, tetapi ayah minta kamu bisa meneruskan bisnis keluarga Ahmed ini, sebagai satu-satunya lelaki dari keturunan Ayah. Ayah sangat menyayangimu, maafkan Ayah jika Ayah sudah pergi sebelum kamu datang.”


Video pun selesai. Kiano terdiam menatap layar dengan pandangan kosong. Andi mendekatinya dan menepuk pundaknya.


“Kiano brengsek!” gerutunya, Andi membuka bajunya dan akan membersihkan bagian yang basah karena air mata, Rita datang menghampirinya


“Sini kak, Rita saja yang membersihkan!” Rita mengambil kemeja Andi, sebagai gantinya ia memberikan t-shirt putih


“Pakai ini dulu kak, sampai baju ini kering!” Andi menuruti Rita, ia mengenakan t-shirt putih lalu keluar dari kamar mandi.


Rita membersihkan pakaian itu, lalu mengeringkannya di pengering tangan, kemudian ia kembali ke tempat duduknya. Ia melihat Kiano yang terlihat begitu terpukul, lalu ia menepuk pundak Andi, untuk bertukar tempat duduk dengannya.


“Lo gak apa-apa Ki?” tegurnya, tiba-tiba Kiano ingin mendekati Rita dan mencoba memeluknya seperti yang ia lakukan ke Andi, Rita refleks dan menampar pipi Kiano. Bukan Kiano saja yang terkejut begitu pula Daniel dan Andi yang duduk di belakangnya.

__ADS_1


“Heh! Gue Cuma bawa 1 baju putih!” tegur Rita


 “Sakit!” Kiano memegang pipinya yang merah karena tamparan Rita, tapi justru itu membuatnya berhenti menangis


“Maaf! Lo sih kalau nangis jorok, sebel gue!” protes Rita


“Gue sedih Rit, Lo tahu kan gue besar tanpa sosok bapak. Lelaki yang pernah dekat sama gue ya bokap lo! Waktu lo pindah gue sedih banget, bukan hanya karena kehilangan sosok sahabat tapi juga sosok bokap. Buat gue bokap lo itu sudah jadi bokap gue Rit, beneran deh”


“Iya tauu,...terus gimana?”


“Setelah 15 tahun ada yang ngaku-ngaku jadi bokap gue. Selama 2 tahun berusaha mendekati gue, memanjakan gue dengan banyak harta. Tapi tetap Rit, hati gue kosong ke dia. Beliau Cuma orang asing yang minta dipanggil ayah. Pikiran gue berubah, ketika mendengar cerita tentang Lo dan dr.Reza. Gue jadi mikir untuk memberikan kesempatan kedua untuk bokap gue, tapi sekarang semuanya sudah terlambat. Bokap gue pergi untuk selamanya. Gue yatim piatu Rit!”


“Turut berduka ya Ki!, setidaknya lo punya kenangan bokap Lo. pesan video itu jangan sampai hilang, itu kenangan terakhir bokap Lo!”


“Iya, gue beruntung sudah bertemu bokap gue ya, Lo sama sekali enggak ya Rit?”


“Sebenarnya, gue pernah pertemu bokap gue kog. Ngobrol, manja-manjaan sama bokap. Sudah cukuplah!”


“Hah? Emang bisa? Bukannya bokap Lo meninggal pas Lo lahir?”


“Susah deh kalau diceritain, pasti Lo gak percaya. Tapi gue cukup bersyukur dengan keadaan gue sekarang ini!” ujar Rita tersenyum


“hmm...Kalau Lo yang cewek bisa berbesar hati, kenapa gue enggak ya?”


“Nahh..gitu dong, kembali jadi Kiano yang absurd dan penuh semangat!” Rita menepuk punggung Kiano


“Aduhh, sakit tahu, pukulan lo masih sakit saja!” Kiano mengaduh

__ADS_1


Pramugari memberitahukan pendaratan, semua penumpang bersiap. Pesawatpun mendarat di bandara IATA bandara Internasional Uni Emirat Arab


-Bersambung_


__ADS_2