
Beberapa minggu lalu..
“Sayang, aku harus memperpanjang tinggal di sini” Daniel melakukan Vcall dengan istrinya Rita
“Berapa lama Say?”
“Mungkin sampai 3 minggu”
“Lama sekali, memangnya persiapan apa saja yang kamu lakukan di situ?”
“Sebenarnya sejak kemarin kami menghadiri seminar pengenalan kantor dan seluruh cabangnya”
“Begitu doang?”
“Bukan hanya itu, mereka juga mengadakan games, yang ternyata games ini bernilai poin.”
“Poin? Untuk apa?”
“Katanya sih poin kinerja, mungkin akan berpengaruh pada fasilitas yang kami dapatkan di sini”
“Kalau begitu kamu harus serius say!, jangan sampai poin mu kecil” ujar Rita memberi semangat
“Insya Allah, oh iya kamu dan bayi sehat-sehat?”
“Alhamdulilllah, bayi ini tenang seminggu belakangan ini”
“Bagaimana dengan anak-anak?”
“Sebentar ya?” Rita memanggil kedua suster anaknya
Tak berapa lama kedua suster datang bersama kedua anak batita
“Kakak, Abang! Ini papi!” Rita memberikan ponselnya kepada kedua anaknya
Raffa mengambil ponsel itu,
“Papi, when home?” tanya Raffa dengan nada lucu
“Nanti ya nak!, kamu jadi anak baik kan?” tanya Daniel, Raffa mengangguk, tak berapa lama Ranna merebut ponsel Rita dari Raffa
“Papi!, Raffa pukul kakak tadi!” Ranna yang bicaranya lancar mengadu pada papinya
“No!, kakak nakal!” Raffa menjawab, mereka saling rebutan ponsel
“Hei!! Kalian ini ribut saja! Kasih ponselnya ke mami!” pinta Daniel,
Raffa merebut ponsel dari Ranna dan memberikan kepada Rita
“Abang, jangan main pukul ya?” tegur Rita, Raffa melihat ke Rita lalu menjauh
“Abang! Dengar mami tidak?” tanya Rita
“Yesss!!” jawab Raffa
“Kak Ranna juga jangan gampang marah! kalian kan harus jaga mami!” ujar Rita menasehati anak pertamanya.
“Tapii..mami kan lebih besar dari Ranna, kenapa Ranna yang jaga mami?” tanyanya
“Mami kan ada adek di perutnya kak!” ujar Daniel
“kenapa sama adek?” tanya Ranna lagi
“Mami dan adek minta dijaga kak Ranna boleh gak?” tanya Rita dengan suara lembut, ia mengusap kepala putri pertamanya, Ranna mengangguk
“Anak pintar!!” puji Rita
“Kak Ranna, cium papi dong!” ujar Daniel, Ranna mendekatkan bibirnya ke ponsel Rita dan mengecupnya
“Muachh!!, mana abang?” tanya Daniel
“Abang!” panggil Rita, Raffa segera menghampiri lalu mencium ponsel seperti yang dilakukan kakaknya
“Kalian anak baik!” puji Daniel, hatinya sangat sedih terpisah jauh dari keluarganya
Raffa dan Ranna kembali ke ruang bermain.
“Kamu sudah makan say?” tanya Rita
“Belum, di sini makan pagi pukul 8, sekarang masih jam 7”
“Oh masih jam 7 pagi, di sini sudah jam 12 siang”
“Kamu jangan kecapekan ya? bagaimana dengan D’Ritz?” tanya Daniel
“Alhamdulillah, semua lancar. Aku merindukan mu” ujar Rita manja
“Aku juga!”
“Kamu jangan telat makan ya? oh iya aku memasukan snack ke bagian dalam koper mu” ujar Rita
“Snack? Snack apa?”
“Snack beras, aku takut kamu telat makan” ujar Rita, Daniel mencari snack yang dimaksud Rita
“Ah, terima kasih, perut ku memang keroncongan sejak tadi” ia menyantap snack beras itu dengan lahap
“Enak! Terimakasih sayang!” ujarnya ke Rita
“Sama-sama!” jawab Rita tersenyum, suara bell pintu kamar Daniel berbunyi
“Ah ada tamu, nanti malam aku telepon lagi ya sayang! Love you!” Daniel memutus percakapan mereka
“Love you too!” Rita mematikan ponselnya
“ahh..aku jadi single parent sekarang!” keluhnya. Ia menutup wajahnya dengan bantal kursi, kemudian ia kembali membuka ponselnya dan melihat foto-foto mereka. Ia menatap foto Daniel dan menzoom-nya
“Gue mimpi apa ya bisa dapat kamu?” ujarnya, semakin lama ia tatap semakin bertambah kerinduannya.
“Gue terlalu bucin nih!” ujarnya tiba-tiba, kemudian ia menutup ponselnya, lalu ia membuka laptopnya.
Rita mendaftar kuliah ke Universitas Terbuka, yang hanya datang untuk ujian dua kali setahun. Kali ini ia mengambil jurusan Ekonomi Akuntasi. Ia membaca e-book dasar-dasar akuntansi dari kampusnya, lalu mengerjakan tugas yang diberikan dengan serius, konsentrasinya pecah ketika salah seorang anaknya datang sambil menangis menghampirinya.
“Mamiii” Raffa menangis dan memeluknya
“Kenapa sayang?” tanya Rita, perhatiannya masih ke laptop
“Mami!!” Raffa berteriak meminta perhatian
“Eh Abang! Kenapa teriak? Mami dengar kamu kok” kali ini Rita menutup laptopnya
“Mami, abang sick” Raffa menempelkan tangan Rita ke dahinya
“Abang sakit?” Rita memegang kening anak lelakinya, kemudian ia bangkit dan mengambil termometer dari laci di lemari kamarnya dan mengarahkan ke dahi Raffa
“36,9” Dengan sigap Rita membawa anaknya ke kamarnya lalu ia membuka pakaiannya juga pakaian anaknya, ia memberikan ASI langsung kepada Raffa.
“Minum yang banyak ya?” ujarnya sambil mengusap kepala anak lelakinya, Raffa menurut. Tak berapa lama Rita merasakan keringat keluar dari tubuh anaknya, ia mengukur lagi suhu tubuh anaknya
“36,1 kamu sudah gak pusing sayang?” tanya Rita, Raffa menggeleng.
“Yuk ganti baju dan pampers” ia kembali memakai pakaiannya, lalu membawa anaknya ke ruangannya untuk ganti pakaian, setelah itu ia datang ke ruang bermain sambil menggendong Raffa.
“Suster, Raffa jangan main air dulu ya? tadi agak demam. Sepertinya bermain hari ini selesai dulu. Kak Ranna ganti baju lalu makan ya?” suruh Rita. Ranna menurut, mereka meninggalkan ruang bermain. Kedua suster menyuapi Ranna dan Raffa, Rita memompa ASInya dan memasukkan ke botol kaca.
“Ibu ASI nya banyak juga ya?” ujar Salah satu suster
“Alhamdulillah, saya banyak makan sayur katuk” jawab Rita
“Tapi sekarang sudah ada tabletnya kan?” ujar suster yang satu lagi
“Iya, tapi aku ingin yang alami. ASI banyak bukan hanya dari makanan tetapi juga dari pikiran” ujar Rita
“Bapak pulangnya kapan bu?”
“Katanya dua minggu lagi”
“Kok jadi lama ya?”
“Mungkin persiapan tinggal di sana, suster bisa kan ikut saya ke sana?”
“Sudah pasti pindah bu?”
“Kayaknya sih iya, buktinya bapak lama di sana”
Beberapa menit kemudian anak-anak selesai makan siang , kemudian tidur siang. Para suster juga mengambil waktu untuk makan siang dan beristirahat. Rita kembali berkutat dengan tugas kuliahnya. Konsentrasinya kembali buyar ketika ponselnya berdering.
“Halo?”
“Hey, Rita, masih ingat aku?” tanya seseorang dari seberang telepon
“Siapa?”
“Yah lupa ya? aku Sisca, teman mu di Auckland dulu!”
__ADS_1
“Ya Ampuunn!! Sisca, apa kabar?” tanya Rita kegirangan
“Baikk!! Kamu gimana? sekarang dimana? Aku datang ke rumah mu di Auckland, katanya kamu gak tinggal di situ lagi?”
“Iya, Sis. Aku sekarang tinggal di Jakarta”
“Jakarta? Di mana?”
“Jakarta itu Indonesia”
“Ohh..jadi kamu kembali ke tanah air?”
“Iya betul! Kamu sudah lama kembali dari Belanda?”
“Baru beberapa bulan”
“Kapan kembali ke Belanda?”
“Enggak akan!”
“Lho kenapa? Mama kamu tinggal di Belanda kan?”
“Iya, mama sudah punya keluarga baru, aku sudah punya dua adik sekarang”
“Wahh...selamat ya? kamu senang dong?”
“Enggak!, mereka sungguh mengganggu. Aku bukan baby sitter mereka! Aku mendengar ayah tiri ku juga keberatan aku tinggal bersama mereka”
“Kenapa begitu? Bukannya beliau baik?”
“Mungkin karena beban ekonomi, perusahaan tempat ia bekerja tidak sebaik dulu. Dengan adanya aku jadi beban baginya. Aku pikir, aku sudah selesai kuliah, usiaku sudah 20 tahun, sudah saatnya aku mandiri”
“Iya betul!, lalu?”
“Ya, aku bilang ke mama, akan kembali ke Auckland, aku juga akan mempergunakan warisan dari kakek untuk memulai usaha di Auckland sini”
“Bagus Sis!, jadi kamu tinggal di rumah kakek mu?”
“Hmm...sebenarnya rumah kakek sudah lama di jual, jadi aku membeli rumah yang lebih kecil di sini.”
“Bukannya usaha kakek mu banyak?”
“Betul!, tetapi agaknya mama kesulitan mengelolanya, jadi semua dijual hasilnya dibagi dua dengan aku”
“Ohh begitu”
“Oh iya, Rit. Apa kamu masih berhubungan dengan oppa korea?”
“Kenapa?”
“Aku ingat, kamu sering menangis kalau oppa Korea gak nelpon kamu”
“Hahaha...iya ya? aku memang cengeng dulu”
“Jadi? Apa kalian masih bersama?”
“Hmm...sebenarnya kami sudah menikah tiga tahun yang lalu”
“Hah? Yang benar?? Wah kenapa aku gak diundang?”
“Ya, sebenarnya pernikahannya mendadak, jadi kami hanya merayakannya dengan para kerabat dekat”
“Oo begitu, ternyata kalian menikah” nada suara Sisca berubah
“Kenapa Sis? Kayaknya kamu gak percaya?”
“Percaya kok, Cuma agak kaget saja, berarti kalian menikah saat kamu 17 tahun?”
“Iya!” Rita tertawa
“Sebenarnya gak heran sih melihat gelagat kalian berdua, aku turut berbahagia Rita. Oh ya rencana punya berapa anak?”
“Terima kasih, sebenarnya kami sudah punya dua anak sepasang perempuan dan lelaki, sebentar lagi ada satu lagi di perut ku”
“Jadi 3 ya? ckckckck..gak heran sih, aku melihat Oppa waktu mengambil tas mu di rumah ku, memang tidak akan bisa ditolak!”
“Hehehe iya ya?”
“Oh iya Rita, kapan kamu ke Auckland lagi? Mungkin kita bisa ketemuan?”
“Entahlah, mungkin liburan nanti aku akan minta suami ku liburan ke sana”
“Suami kuuu!! Aneh sekali mendengarnya dari cewek tomboy seperti kamu” ujar Sisca tertawa
“Hahaha..kamu bukan orang pertama yang bilang begitu”
“Tentu saja! Apa kamu mau pergi?” tanya Rita
“Iya, aku senang mendengar kabar mu, baiklah Rita, kapan-kapan kita berhubungan lagi!”
“Baik Sisca!, nanti aku menghubungi mu ya?”
“Oke, dadah!!!” Sisca menutup teleponnya, Rita melakukan yang sama
“Aduh kenapa aku tiba-tiba pengen ngemil cake coklat?” gumamnya. Rita membuka aplikasi ambilfood dan memesan cake coklat, es krim dan beberapa roti dari toko roti sekitar rumahnya. Beberapa menit kemudian, roti dan cake yang ia pesan pun datang. Ia memakannya dengan lahap sambil mengerjakan tugas akuntansi.
Hari telah sore, ia telah menyelesaikan tugasnya. Ia mengecek anak-anaknya yang telah mandi rapi dan juga makan sore. Para suster pamit untuk pulang.
“Terima kasih!” ujar Rita kepada kedua suster. Seorang ART bernama Mila membantunya mengawasi kedua anaknya yang sedang menonton TV, sementara ia mandi sore.
“Mbak, hari ini makan malamnya apa?” tanya Rita
“DI aplikasi belum muncul bu?”
“Belum!”
“Oh mungkin ada kendala”
“Kendala? Kendala apa?”
“Kemarin pak Ridwan kesulitan mencairkan dana untuk belanja rumah ini”
“Oh ya? kenapa beliau gak bilang apa-apa sama saya?” Rita menelpon pak Ridwan, dan memintanya datang ke kamarnya
“Sore mbak Rita!”
“Sore pak Ridwan, saya dengar bapak kesulitan belanja rumah ini?” tanya Rita to the point
“Oh itu bu Rita, saya juga bingung, biasanya semuanya otomatis, tetapi kemarin orang bank melakukan verifikasi, jadi saya harus membereskannya”
“Hmm...verifikasi data pak?”
“Iya bu”
“Waktu itu bapak pernah cerita kalau rumah ini sudah memiliki akun-akun sendiri, jadi saya gak perlu khawatir? Apa dananya masih cukup pak? Setiap bulan suami saya juga mentransfer untuk keperluan rumah ini sebesar 50 juta rupiah”
“Oh begitu bu?”
“Pak Ridwan gak tahu?”
“Enggak bu, saya hanya pakai-pakai saja”
“Wah gak bisa begitu pak, semuanya harus jelas. Maaf ya pak bukannya tidak percaya tetapi pemasukan dan pengeluaran harus jelas. Ini juga baik untuk fungsi kontrol”
“Begitu ya bu Rita?, sebenarnya saya agak kesulitan tentang itu”
“Kalau pak Ridwan gak keberatan, bapak bisa membagi laporan keuangan bulanannya ke saya biar bisa saya cek!”
“Boleh bu?” tanya Ridwan dengan wajah berbinar
“Tentu pak!”
“Baiklah, boleh mulai dari bulan lalu bu?”
“Tentu pak!” jawab Rita tersenyum
“Baiklah, nanti saya kirim ke tablet ibu ya?”
“Baik pak!”
“Kalau begitu saya permisi dulu”
“Oh iya pak, makan malamnya apa ya?”
“Sesuai permintaan bu Rita saja!”
“Begitu? Kalau begitu saya mau lasagna, kentang goreng, dan jus alpukat”
“baiklah bu, nanti saya sampaikan ke bagian dapur”
“Terima kasih ya pak!”
“Sama-sama bu!” Ridwan segera keluar dari kamar Rita
__ADS_1
“Pak Ridwan lagi banyak urusan keluarga kayaknya” ujar Mila itu membuka percakapan
“Urusan keluarga? Maksud mu? Bukannya anaknya sudah lama lahir?” tanya Rita
“Iya bu, katanya sih anak sulungnya akan menikah dalam waktu dekat ini”
“Oh ya? bagus dong!”
“Tapi bu” tiba-tiba Mila tersebut merendahkan suaranya
“Tapi kenapa?”
“Katanya, calon menantu pak Ridwan sudah beristri”
“Hah? Terus?”
“Pak Ridwan keberatan sebenarnya, tetapi putrinya sudah hamil 2 bulan. Jadi mau tidak mau mereka harus segera dinikahkan”
“Memangnya usia putrinya berapa tahun?”
“Berapa ya? 22 tahun kayaknya?”
“Kok mbak tahu?”
“Saya kan tetangga-an dengan pak Ridwan.”
“Pak Ridwan bukannya kontrak rumah?” tanya Rita
“Sudah lama dia punya rumah sendiri bu, dapat bantuan kredit rumah dari pak Darmawan, sama seperti saya. Rumah kami berdempetan, maklumlah rumah ekonomis”
“Kakek saya memberikan kredit rumah?”
“Iya, bu. Kredit rumah lunak, bayarnya sangat murah. Ini diperuntukan untuk kami karyawan yang sudah bekerja pada beliau lebih dari 8 tahun.”
“Lokasinya jauh mbak?”
“Dekat sini kok!, dulu tanah itu milik Pertamina. Karena sering terjadi kebakaran jadi Pertamina menjualnya lalu pindah ke tempat lain nah tanah itu dibeli oleh pak Darmawan untuk perumahan karyawan”
“Pertamina? Oh yang 2 km dari sini?”
“Betul bu!”
“Ada berapa rumah di sana?”
“Sudah banyak sih bu, mungkin puluhan karena sudah tercampur juga dengan warga pendatang”
“Kok bisa kakek beli tanah dari Pertamina?”
“Beberapa tahun yang lalu terjadi kebakaran besar katanya sih Pertamina tidak memperhatikan keselamatan. Korban jiwanya cukup banyak bu, Pertamina dan warga setempat sempat saling bersikeras siapa yang tetap tinggal atau yang pergi.”
“Lalu?”
“Lalu Pak Darmawan membeli tanah di tempat yang cukup aman dan sepi dari perumahan penduduk bu, jadi istilahnya tukar guling gitu.”
“Oh begitu, hebat ya kakek” Rita mengangguk terkagum-kagum
“Iya bu, kami semua sangat terbantu dengan uluran tangan pak Darmawan, Semoga beliau dan keturunannya sehat selalu dan rejekinya makin lancar” ujar Mila
“Aamiin, eh mbak jam kerjanya sampai kapan?” tanya Rita tiba-tiba
“Saya dapat shift sore hari ini, jadi akan selesai jam 10 malam nanti”
“Oh begitu, syukurlah, bisa bantu saya di sini ya untuk jaga anak-anak!”
“Tentu bu, tadi pak Ridwan juga berpesan begitu. Katanya pak Daniel pulangnya ditunda ya bu?”
“Iya, mungkin 2 minggu lagi baru pulang”
“Lama juga ya bu?”
“Iya, saya juga kaget, tadi pagi suami saya baru bilang”
“Tapi syukurlah anak-anak gak rewel ya bu” ujar Mila itu sambil memperhatikan kedua batita yang serius menonton TV
“Iya alhamdulillah. Tapi di sini ramai, ada mbak, ada pak Ridwan, jadi kalau ada apa-apa saya bisa minta tolong. Kalau di Swiss, pasti saya akan kesulitan”
“Iya sih bu, tapi kalau terlalu lama jauh dari suami juga tidak baik bu. Dia enak dengan kerjaannya, kita disini ngurus anak-anak, kan stress!”
“Mbak sudah menikah berapa lama?”
“Saya sudah menikah 15 tahun, anak saya paling besar sekarang SMA sedangkan yang paling kecil SMP kelas 3, keduanya hanya terpaut 1 tahun. Usia saya 24 tahun waktu menikah”
“Oh ya? saat itu sudah bekerja sama kakek saya?”
“Belum, saya bekerja dengan pak Darmawan itu waktu usia saya 29 tahun. Suami menjadi buruh di Kalimantan dan gak pulang-pulang. Ia mengirim uang ke saya hanya 3 bulan sekali”
“Tiga bulan sekali? Kok bisa? Lalu sehari-hari mbak gimana?” tanya Rita
“Saya bikin warung di depan rumah bapak-ibu saya. Jualan ciki, es potong, seblak, mie goreng, lumayan deh untuk menyambung hidup”
“Usia segitu anaknya sudah ada?”
“Sudah bu, saya hamil 3 bulan setelah menikah, setahun kemudian adeknya muncul”
“Kok mbak mau LDR-an?”
“Sebelum menikah suami saya bekerja di pabrik elektronik bu, ehh selang tiga tahun sejak menikah pabriknya tidak berproduksi lagi lalu bangkrut.
Uang pesangon selain untuk hidup juga untuk mencari kerja. Akhirnya setelah setahun, suami saya mendapat panggilan kerja di Kalimantan. Katanya sih perkebunan kelapa sawit”
“Terus?”
“Ya berangkatlah dia”
“Mbak gak mau ikut?”
“Sebelumnya dia menunjukkan keadaan tinggal di sana semua serba susah apalagi dengan dua anak balita. Jadi kami pikir ya sudah kita LDR-an saja”
“Terus, suami mbak pulang juga kan sesekali?”
“Iya bu, badannya kurus kulitnya hitam, kasihan sekali saya. Sakit hati saya kalau harus mengirimnya kembali ke Kalimantan”
“Terus bu?” Rita semakin tertarik dengan cerita ARTnya
“Karena terpaksa, akhirnya ia kembali ke Kalimantan, ada kali 3 tahun tidak ada kabar darinya”
“Tiga tahun gak ada kabar? Mbak gimana dong dengan anak-anak?”
“Tadinya saya mau nyusul ke Kalimantan, tapi orang tua saya keberatan. Mereka menyuruh saya untuk ke pengadilan agama untuk menceraikan suami saya, karena sudah pergi 3 tahun tanpa kabar dan tidak memberikan nafkah lahir dan batin”
“Waduh berat ya mbak? Terus mbak mengikuti saran orang tua mbak?”
“Iya, saya mengajukan cerai, orang PA mengumumkan melalui radio, katanya sih supaya dapat kabar dari suami saya”
“Lalu? Suami mba ketemu?”
“Iya, akhirnya ia kembali kemari. Dia gak mau menceraikan saya”
“Kemana saja ia selama 3 tahun menghilang?”
“Dia dipecat dari pekerjaannya, uangnya dia pakai untuk mencari pekerjaan di sana dan mencari pekerjaan. Karena usianya sudah di atas 35 tahun jadi susah mencari kerja. Mau ngabarin kemari gak ada ongkos apalagi untuk pulang”
“Terus dia bisa tahu tentang gugatan cerai mbak gimana?”
“Alhamdulillah, berita dari PA itu sampai ke telinga temannya, dan temannya menyampaikan kepada suami saya”
“Suami mbak pulang kemari gimana?”
“Saya yang ongkosi mbak, alhamdulillah saya sudah dapat pekerjaan di sini. Pak Darmawan betul-betul Darmawan, beliau mencari pekerja yang betul-betul butuh pekerjaan, seperti saya yang single parent. Gajinya juga lumayan, saya sangat bersyukur”
“Alhamdulillah,..sekarang suami mbak gimana?”
“Sekarang dia saya modali untuk jualan nasi goreng.”
“Mbak masih nerima dia gitu? Padahal dia sudah pergi tiga tahun lamanya”
“Iya sih mbak, tapi saya mikirnya, dia pergi kan karena bekerja untuk kami. Selain itu dia juga setia mbak, saya dengar dari teman-temannya dia gak iseng main perempuan. Jadi saya mau menerimanya”
“Oh begitu, iya ya, kalau lelakinya setia dan gak main perempuan itu lebih aman”
“Iya mbak, kalau main perempuan, apalagi PSK, sudahlah bawa penyakit, bukan buat dia saja buat saya juga pastinya”
“Mbak yakin suami mbak gak main PSK? Itu 3 tahun itu lama lho mbak!”
“Yakin bu!, karena sebelum saya membatalkan gugatan, saya minta periksa ke RS. Supaya dia bisa cek STD”
“Wah mbak hebat bisa tahu tentang penyakit menular seksual”
“Iya mbak, kalau kerja di pak Darmawan, kita gak asal kerja-kerja saja, kita juga diberi pengetahuan umum, bahkan kami dilatih bahasa inggris juga”
“Oh ya?”
“Iya, mbak. Makanya kami itu yang sudah senior sering mengingatkan para junior kami, jangan banyak tingkah deh kerja di pak Darmawan, karena di sini sudah bagus banget!”
__ADS_1
“Hahaha..terima kasih mbak!, eh sebentar suami saya nelpon “ Rita mengangkat teleponnya dan menerimanya di kamar tidur mereka
_Bersambung_