
Seminggu sudah Rita diopname, selama itu pula mama Ratna dengan setia menunggu di samping Rita.
"Ma, sudah seminggu mama di sini, bisnis mama bagaimana?" tanya Rita yang sedang disuapi bubur oleh Ratna
"Mama kan bisnis owner Rit, kerjaan bisa mama lakukan di mana saja, aaa" ujar Ratna menyuapi bubur ke mulut Rita
"Kalau begitu, mama bisa dong kerja dari rumah kakek? temani Rita ma!" ujar Rita manja
"kakek memang kakek kamu, tapi beliau sudah bukan mertua mama, gak enak mama tinggal di rumahnya, apalagi untuk menetap!' ujar Ratna menyuapi sendok terakhir
"Iya, setidaknya mama bisa beli rumah di dekat umah kakek, jadi Rita bisa berkunjung ke rumah mama kalau kangen"
"di sini rumah mahal Rit, apalagi bukan warga negara sini, sayang kan, di Jakarta rumah kita sudah sangat besar. Mama sudah menjual apartemen mama dan menetap di rumah kakek Sugi."
"Hah?? sejak kapan ma? apartemen itu hasil jerih payah mama kan? apa gak sayang?"
"sejak kapan ya? kira-kira 6 bulan lalu deh, lagi pula setelah kamu dan Andi tinggal di sini, apartemen terasa sepi sekali, kadang mama suka dengar suara-suara aneh dari apartemen sebelah."
"Suara aneh seperti apa ma?"
"Ya suara orang ramai, seperti berpesta, mama komplain ke satpam, minta mereka menegur penghuni apartemen di sebelah karena suaranya mulai mengganggu mama. eh mereka bilang apartemen di sebelah kita itu sudah setahun ini kosong."
"Waduhh..masa sih hantunya banyak?" tanya Rita
"Mama gak percaya hantu Rit, mungkin ada penyelundup yang tinggal di apartemen itu."
"Kalau memang begitu, masa gak ketahuan satpam? apartemen mama itu mewah sekali lho, gak mungkin kalau ada penyelundup"
"iya juga sih, tapi mama gak mau kepikiran macam-macam, kakek Sugi sering mengeluh kesepian, jadi mama pikir, sudah saatnya mama menemani kakek."
"Kakek banyak staf dan cucu-cucu pada tinggal di situ kan?"
"Iya betul, mama yang membujuk tante-tante mu untuk membiarkan para sepupumu tinggal di rumah besar kakek."
"lagian, kakek bikin rumahnya terlalu besar sih!"
"Rumah kakek Darmawan juga besar banget kan?" tanya Ratna
"Iya sih ma, bahkan penghuninya lebih sedikit dibandingkan rumah kakek Sugi."
"Bukannya lebih seram Rit? kamu termasuk anak indigo kan?"
"So far, Rita gak melihat yang aneh- aneh sih ma, karena Rita belum keliling rumah itu, paling di sekitar kamar Rita, kak Andi dan kamar papa"
"Kamar papa? kamar Eka maksudnya?"
"Iya kamar papa!"
"Mama lupa kalau kamu anaknya Eka." Ratna tersenyum membelai rambut Rita
"Iya, Rita juga belum terbiasa memanggil papa."
"Jadi bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
"Kamar papa kamu? suka ketemu? atau melihat yang aneh? soalnya Andi pernah bermimpi seram di situ"
"Apa ya? kayaknya belum, awal Rita tinggal di situ, kakek mengajak Rita melihat kamar papa. masih tertata rapi, dan kakek sering tidur di situ."
"oo begitu ya, koleksi papamu bagaimana? masih utuh?"
"Masih rapi banget ma! seperti masih baru."
"Kakek memang sangat sayang sama papamu, ketika papamu meninggal, beliau kelihatan down sekali, apalagi setelah nenekmu menyusul papa. Andi dan pekerjaan jadi penghiburnya"
"Iya, kasihan ya kakek, oiya ma, kakek Darmawan dan kakek Sugiyono usianya beda berapa tahun?"
"hmm...berapa tahun ya? 5 tahun kayaknya"
"Ooo pantas kakek Darmawan memanggil kakek , kakak!"
"Assalammu'alaikum!" sapa Andi yang masuk ke kamar inap Rita
"Wa'alaikummussalam, eh Andi, kamu datang sendiri? Dewa mana?" tanya Ratna
"Andi baru mengantarnya ke bandara ma, ia harus pulang. tugas kuliahnya menunggu"
"Hah, tugas kuliah bukannya masih libur?" tanya Ratna heran
''aku gak tahu ma, tadi malam setelah menerima telepon, tiba-tiba ia bilang besok mau pulang!."
"kog cepat sekali? apa dia gak mau nunggu Rita sembuh? supaya bisa jalan-jalan?" tanya Ratna lagi
"Andi juga bilang begitu, tapi dia bilang, kondisi Rita akan butuh waktu lama untuk pulih, pelesiran di sini juga gak mungkin. jadi dia kirim salam ke mama dan Rita."
"Ooo begitu!" ujar Rita dengan nada kecewa
"Jangan kecewa begitu! Lo gak tegas sih, dia jauh-jauh lho datang kemari, eh Lo malah flirting sama Daniel, sudah pasti Dewa kesal, jadi pulang deh!" ujar Andi sambil membuka makan siangnya
"idihh flirting apaan?" elak Rita
"jiaahh masa Lo gak sadar megang tangan Daniel lama banget. ada tuh rekamannya di cctv!"
"hah? iya ma?" tanya Rita bingung
Ratna mengangguk.
"Daniel itu memang tampan ya Rit, wajahnya itu menarik, gak bosan melihatnya. mama juga suka ngeliat dia."
__ADS_1
"Jiiaahh mama, suka sama berondong!" ledek Andi
"Heh Andi, suka ngeliat aja, gak apa-apa tahu!" ujar Ratna
"Rit, Daniel itu usianya berapa?" tanya Ratna
"26 tahun"
"Masih muda ya, tapi beda usianya 9 tahun lho sama kamu!"
"Memangnya kenapa Ma? tanya Rita lagi
"Dia jauh lebih dewasa dari kamu Rit. Hati-hati ya?, kalau kamu pacaran sama Daniel. Mama takut, pacarannya keterlaluan."
"Maksud mama keterlaluan?" tanya Rita lagi
"Maksudnya, pacarannya kayak orang gede gitu lhoo!!' potong Andi gak sabar
"Sejauh ini Daniel sopan kog sama Rita"
"Itu karena kalian belum pacaran, kalau sudah, pasti sikapnya berubah. Jadi kamu hati-hati saja!" nasehat Ratna
"Jujur saja ya Ma, Kak, Rita memang agak suka sama Daniel. Dia itu gentleman, waktu kami terjebak di gunung, dia benar-benar menjaga Rita. Aku sangat nyaman bersamanya!"
"Tentulah dia menjaga Lo, dia kan pengawalnya Om Radian, pasti Lo juga termasuk klien yang harus dijaga!" ujar Andi dengan nada ketus
"Klien?" tanya Rita
"yaa, bagaimana lagi menyebutnya, menurut gue, sebelum Lo memutuskan untuk menyukai Daniel, Lo harus memastikan dia punya perasaan yang sama gak sama Lo, atau sikapnya itu karena sudah tugasnya." ujar Andi lagi
"Caranya memastikan?" tanya Rita lagi
"Mana gue tahu? yang berpengalaman pacaran kan elo dari pada gue" ujar Andi masih dengan nada ketus
"Sudahlah Andi, kamu kog jadi bete begitu sama adikmu?" ujarRatna menengahkan
"Bukan begitu Ma, menurut Andi nih Ya, Rita ini termasuk yang kurang bersyukur"
"Diih?? kurang bersyukur bagaimana Kak?"
"Iya kurang bersyukur, Lo masa gak tahu atau pura-pura gak tahu?"
"ini tentang apa ya kak?" tanya Rita heran
"tentang Dewa, Lo tahu kan dia suka sama Lo dari dulu, dia itu sudah suka sama elo itu sejak pertama kali ketemu!" ujar Andi
"Kita ketemu di SMA?" ujar Rita
"Tuh kan, lupa dia ma, Dewa itu sudah suka sama Lo itu sejak kecil, dia menginap di sini. sejak umur 8 tahun!" ujar Andi ngegas
"Hah? kog kak Andi bisa tahu, itu kan sudah lama banget, lagi pula waktu itu kita masih anak kecil!" jawab Rita
"Tapi kak, Kak Dewa gak bilang apa-apa tentang perasaannya ke Rita, waktu kita di Bali juga gak bilang apa-apa."
"Itu karena lo bilang Lo suka sama Tomi, makanya dia mundur."
"Kalian saling cerita begitu ya?" tanya Ratna penasaran
"Dia memang begitu orangnya, tapi kalau sudah kenal lama, jadi tahu dari sikapnya. Seperti sekarang, dia langsung pulang" ujar Andi lagi
" Tapi kak, kalau Rita gak punya feeling yang sama, masa harus dipaksakan?"
"bukan begitu, setidaknya beri dia kesempatan untuk membuktikan perasaannya."
"Nah itu yang Rita takut kak, kalau ternyata hubungan kami gak berhasil, justru akan aneh kan kalau kita ketemu lagi. atau perasaan gak enak ketemu dia?"
"Betul tuh Ndi! mama juga dulu gak mau tuh kalau jadian sama temannya kakak" ujar Ratna memotong
"Tapi mama kan anak tunggal, gak punya kakak." ujar Andi lagi heran
"Maksud mama, mama mengerti perasaan Rita. kalau mama jadi di juga mama akan menolak"
"Nahh!" ujar Rita senang karena mamanya mengerti perasaannya. Andi melengos dan pindah ke ruang tamu.
"Lalu ma, tentang Rendy bagaimana?" tanya Rita
"Rendy? kamu suka gak sama dia?"
"Bagaimana bisa suka, kenal saja belum!"
"Kalau dikasih waktu untuk mengenalnya kamu mau?" tanya Ratna
Andi yang kembali ke kamar itu menyimak percakapan ibu dan anak sambil makan burger yang ia bawa.
"Kalau untuk mengenalnya saja Rita gak keberatan, tapi kalau mengenal dalam rangka ditunangkan, Rita gak setuju!"
"hmm..begitu ya, apa kakek tahu perasaan Rita?"
"Belum ma, mereka juga gak ngomong apa-apa tentang pertunangan ini."
"kalau mereka gak ngomong apa-apa kog kamu bisa tahu?" tanya Ratna heran
"Andi makannya yang betul!" tegur Ratna yang melihat Andi makan dengan mulut belepotan saus tomat. Ditegur Ratna, Andi langsung keluar kamar dan mengambil tisue untuk mengelap mulutnya.
"Rendy yang bilang ma, dia bilang dia sudah punya pacar di Dubai."
"kan baru pacar, bukan istri" ujar Ratna lagi
"kog tumben mama sikapnya kayak begitu? apa ada yang kalian sembunyikan? Kog kayaknya Rita harus bertunangan dengan Rendy? kenapa gak sepupu yang lain?" tanya Rita
__ADS_1
"soal itu mama kurang paham, setahu mama, kakek Sugi berinvestasi di perusahaan keluarganya Rendy, nilai investasinya sangat besar, kakek ingin supaya investasinya aman, akan lebih baik jika ada hubungan keluarga melalui pernikahan"
"Ih serem amat, kog jadi kayak sinetron?" ujar Andi tiba-tiba
"iya betul ma, kog Rita yang jadi korban, kalau ternyata Rita diperlakukan dengan tidak baik sama keluarganya Rendy bagaimana?"
"yang salah itu imajinasi kalian, gak mungkinlah mereka memperlakukan menantunya dengan buruk!" pungkas Ratna
"Coba deh mama, sekali-kali nonton drama, ya drakor atau sinetron, jangan kerja melulu. cerita penulis biasanya dari kisah nyata tuh" ujar Andi lagi
"Betul tuh Ma, apa keluarga mereka gak punya anak perempuan? jadi yang bisa dijodohkan kak Andi atau Roby!" ujar Rita lagi
"Lo gimana sih Rit, kenapa jadi gue? Gue kan lagi ngebelain Lo, kog malah gue yang dijorokin?" protes Andi sewot
"Hahaha, bukan begitu kak, Rita merasa aneh, kenapa di mana-mana yang jadi korban cucu perempuan?"
"Kayaknya cucu paling muda itu Rendy deh, saudaranya yang lain sudah berumah tangga" ujar Ratna
"Mama pernah ketemu keluarganya Rendy?" tanya Andi
"Mama kan ikut ke Dubai menemani kakek untuk survey."
"Jadi menurut mama, apakah keluarga mereka baik?" tanya Rita
"kami dijamu dengan sangat baik,mama dan papanya Rendy juga sangat baik, kami sangat terkesan. Makanya mama dan kakek pikir, keluarga baik-baik cocok untuk anak baik seperti kamu!" Ratna mencium ubun-ubun kepala Rita.
"Pasti dong mereka baik dan ramah, wong kakek mau invest duit banyak." ujar Andi lagi
"Iya juga ya?" ujar Ratna tiba-tiba
"ting tong!" suara bel pintu kamar Rita berbunyi
"coba dibuka Ndi!" perintah Ratna. Andi bergegas menuju pintu, dan membukanya
"Eh Daniel" sapanya, ia celingukan melihat ke kiri kanan
"Kamu sendirian? Om Radian mana?" tanya Andi
"Pak Radian sedang di London, ia diundang oleh pak Charles." jawab Daniel, ia membawakan beberapa makanan untuk Rita. Andi mempersilakan masuk
"Kog kamu gak ikut? " tanya Andi heran
"Besok, kami ada acara gathering, pak Radian tidak bisa hadir, jadi beliau minta saya yang datang mewakilinya."
"Oh begitu!"
"Bagaimana keadaan Rita?" tanya Daniel
"Cari tahu sendiri saja, dia masih tiduran di kamar!"
"Oh Daniel!" sapa Ratna ramah
"Selamat siang bu!" sapa Daniel sopan
"Selamat Siang, kamu baik sekali mengunjungi Rita di sini!"
"Iya,ini waktu makan siang, sebelum pergi ke London pak Radian meminta saya untuk mengunjungi kalian di sini, siapa tahu kalian membutuhkan bantuan saya."
"ohh begitu, Radian memang selalu baik, kalau kamu ingin bertemu Rita, silakan masuk ke kamar, dia baru selesai makan siang."
Daniel mengangguk, dengan tenang ia memasuki kamar Rita
"Halo Rit, bagaimana kabar mu?" tanya Daniel
"Hei!, Masuklah, silakan duduk!" Rita mempersilakan, Daniel menarik kursi di samping tempat tidur Rita
"Jadi, bagaimana sekarang, apa berangsur pulih?" tanya Daniel, ia menatap Rita tajam, dan itu membuat jantung Rita berdegup kencang.
"Iya ya, dilihat dari dekat Daniel tampan sekali!" pikir Rita, ia tidak mendengarkan ucapan Daniel.
"Halo!!! wah kamu melamun lagi ya?" tanya Daniel
"Hah? enggak, cuma lagi mikir, tadi mau ngomong apa ya, tapi sudahlah, aku lupa!" ujar Rita tersenyum.
"Oiya, Daniel sekarang kan jam makan siang, kamu sudah makan?" tanya Rita
"Sebenarnya aku bawa kog, ini dia, tadi yang untuk Andi dan mama kamu sudah aku taruh di atas meja!"
"Ini apa Daniel?" tanya Ratna membuka tas perbekalan yang diletakan Daniel
"Itu makan siang untuk di sini Bu, saya membelinya sekalian bersama makan siang saya."
"Wah, sayang sekali, saya dan Andi baru saja selesai makan siang"
"Itu bisa untuk makan malam, karena kemasannya bisa selalu hangat!" ujar Daniel
"maksud saya, kita gak bisa menemanimu makan, kamu ditemani Rita saja ya, saya dan Andi mau keluar sebentar."
"Baik bu!"
Ratna dan Andi keluar dari kamar VVIP tempat Rita di rawat, Daniel mengambil makan siangnya dan duduk di samping ranjang Rita.
'Aku makan di sini ya?"
"Iya!"Rita memperhatikan Daniel yang makan dengan lahap, tanpa terasa rasa kantuk menerpanya, ia pun tertidur. Daniel telah selesai makan, perlahan ia merapikan bekas makannya dan membuangnya ke tempat sampah. Ia melihat jam ditangannya, sudah satu jam ia berada di kamar itu,Andi dan Ratna belum juga kembali. Daniel kembali ke kamar Rita , Dia memperhatikan Rita yang tertidur lelap. Ia duduk di samping ranjang Rita, tak terasa ia mengantuk, ia merebahkan kepalanya di samping Rita, dan tertidur. beberapa menit kemudian, ponsel di saku Daniel bergetar, ia pun terbangun, ia tersadar berada di samping Rita yang masih lelap. Perlahan ia keluar dari kamar itu dan menerima telepon dari kantor yang membutuhkan dirinya. Ia mengambil jaketnya, dan kembali ke kamar Rita, tak tega untuk membangunkannya, perlahan ia mendekati Rita, dan mengecup keningnya lembut, perlahan ia meninggalkan kamar Rita. Pintu kamar tertutup, Daniel telah pergi, Rita membuka matanya, rupanya ia sudah bangun sejak tadi, dia memegang jantungnya yang berdegup kencang.
"Wah gawat, tadi apaan ya?" Rita memegang keningnya yang baru dikecup Daniel, ia merasa malu, senang dan juga berbunga-bunga, ia tersenyum kegirangan, Daniel memiliki perasaan yang sama dengannya.
_Bersambung_
__ADS_1