
Kembali ke cerita ketika Rita disangka sebagai Majorka.
Saat itu Rita sedang mengerang kesakitan, kakinya terkilir akibat berusaha melarikan diri dari jendela. Tempat ia ditahan berupa rumah tingkat dua yang berada di pedesaan, jarang ada orang lewat dan jarak antara halaman rumah dengan rumah cukup jauh. Rita sengaja mengikatkan kain putih di bagian atas jendela untuk menarik perhatian.
“duk..duk..duk..” suara orang naik tangga
“Gawat!” dengan tergesa-gesa Rita menjauh dari jendela, keadaannya saat ini tidak bagus untuk melawan.
Seorang wanita tua, sekitar 60 tahunan masuk ke kamar dan melihat Rita yang terduduk di lantai. Ia berkata dengan suaranya yang parau, menggunakan bahasa Inggris dengan logat Rusia
“Ngapain kamu di situ? Percuma mencoba kabur di daerah ini jarang ada yang lewat”
“Kenapa aku ditahan? Aku salah apa?” tanya Rita sambil meringis
“Kamu tidak salah, tapi ayah mu yang salah!”
“Ayah? Memangnya ayah ku ada di sini?” tanya Rita bingung
“Ayah mu Putin punya utang banyak dengan majikan ku, kamu di sini sebagai jaminannya!”
“Eh siapa? Putin? Tapi...” Rita hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba seseorang berbisik di telinganya
“Jangan katakan apapun, kalau mereka tahu kamu bukan orang yang dimaksud, kamu bisa mati”
“Tapi apa? sudahlah, ini roti dan susu, makan dan minumlah selagi hangat! Jangan banyak merengek, pekerjaan ku di sini sudah cukup banyak!” wanita tua itu pergi dari kamar lalu mengunci pintunya.
“Kamu siapa?” tanya Rita pada suara yang tadi membisikinya
“Aku Aldo, hantu kamar ini”
“Hantu? Ya Tuhan!! Aku sudah mulai gila lagi rupanya!” teriak Rita
“Sssttt...jangan takut! Aku gak akan melukai mu!” ujar Aldo lagi
Rita terdiam, ingatannya kembali terbuka ketika ia dapat berinteraksi dengan penghuni rumahnya ketika kecil dahulu. Dengan berjalan terseok-seok, Rita duduk di kursi dan menyantap roti serta susu yang dihidangkan. Tak berapa lama roti dan susu telah habis disantapnya.
“Wah, ternyata kamu makannya lahap juga untuk ukuran orang yang sedang disandera” goda hantu Aldo
“Sejak dulu aku diajarkan supaya tidak membuang-buang makanan! Kalau disediakan ya harus dihabiskan!” jawab Rita santai
“Kamu dari mana? Logat mu seperti bukan dari Rusia, dan kamu selalu melakukan gerakan aneh sebanyak 5 kali sehari yang membuat aku takut muncul di sini” ujar Aldo
“Nama ku Rita, aku dari Indonesia tapi sekarang aku tinggal di Auckland bersama kakek ku!”
“Rita? Hmm..kenapa mereka menyebut mu Majorka?” tanya hantu Aldo bingung
“Beberapa hari yang lalu ada seorang wanita juga menganggap ku sebagai Majorka, keponakannya. Dia bilang Majorka anak dari Vladimir Putin”
“Vladimir Putin? Yang presiden Rusia itu?”
“Bukan! Ini namanya saja yang sama”
“Apa kalian begitu mirip?”
“Mana ku tahu? Mungkin mata mereka perlu diperiksa, aku sendiri juga bingung”
“Sudah berapa hari kamu ditahan di sini?”
“Menurut hitungan ku sih baru 2 hari, tapi Aldo kamu kenapa bisa jadi hantu?”
“Ehem...begini dulu aku juga jadi sandera di sini”
“Lalu?”
“yah terjadi kejadian memalukan”
“Memalukan? Kamu bunuh diri?”
“Bukan!”
“Lalu apa?”
“Gak usah aku ceritakan deh, aku saja malu kalau mengingatnya” jawab hantu Aldo
“Berapa lama kamu sudah jadi hantu?” tanya Rita penasaran
“Berapa lama ya? hmm... entahlah aku juga gak tahu”
“Katanya kalau hantu itu masih gentayangan mungkin ada tugas yang belum selesai di dunia ini”
“Masa? Kamu kebanyakan nonton film kayaknya, tapi aku baru ingat kamu seorang muslim kan, gerakan itu kamu sedang berdoa kan?”
“Iya!”
“Bukannya muslim gak percaya hantu?”
“Tidak, hantu itu mahluk ghoib atau tak kasat mata, kami percaya kok. Cuma saja kami gak percaya kalau roh yang mati itu bergentayangan, kalau mati ya mati yang tinggal hanya khorinnya saja atau kembarannya” jawab Rita
“Jadi aku khorin ya?”
“Mungkin! Oh ya Aldo kenapa kamu baru muncul sekarang? Aku sudah memanggil siapa pun penghuni di kamar ini”
“Oh! Itu karena kamu banyak berdoa, panas tahu! Aku takut terbakar jadi lebih baik aku pergi menjauh”
“Aldo, apa kamu tahu siapa yang menahan ku di sini?”
“Entahlah!”
“Entah? Katanya kamu sudah lama jadi hantu di sini?” protes Rita
“Iya! Tapi waktu aku jadi hantu aku juga gak tahu siapa yang menahan ku di kamar ini!”
“Ternyata ada juga ya hantu yang gak berguna!” ujar Rita
Tiba-tiba Aldo menampakkan wajah seramnya, dengan santai Rita mulai membaca ayat kursi
“Panas..panas...ampun...ampun!” teriak Aldo tubuhnya mulai terbakar. Rita menghentikan bacaannya
“Kamu jangan macam-macam deh! Aku bisa membakar mu habis tahu!” ancam Rita
“Maaf! Habis sih kamu! Baru kali ini ada orang yang berani memarahi hantu!”
“Memangnya sebelum aku ada banyak yang ditahan di sini?”
“Banyak!”
“Apa akhirnya mereka dilepaskan?”
“Mana kutahu!”
“Tuh kan, mulai lagi deh!”
“Aku benar-benar gak tahu!” jawab Aldo kesal
__ADS_1
“Aldo! Maksud ku dengan sosok seperti mu, kamu kan bisa bebas berkeliaran di tempat ini. Cari tahu yang dilakukan penghuni rumah ini, jangan diam saja! Apa kamu gak mau balas dendam sama orang yang menahan mu di sini?”
“Balas dendam? Berarti aku akan jadi hantu jahat. Kalau itu terjadi aku akan langsung ke neraka!”
“Tadi kamu jahat sama aku!”
“Itu bukan sosok jahat aku, itu sosok menakuti. Ternyata justru aku yang takut!”
“Nah! Bisa gak kamu keliling cari tahu? Aku penasaran”
"Bukannya ada alat di punggung mu?”
"eh iya!" Rita mengambil ponsel dari belakang bra nya
“Aku harus hemat baterai, sepertinya gak dapat sinyal. Tapi bisa sih kalau sinyal darurat” Rita menyalakan ponselnya, tiba-tiba suara alarm dari luar menyala
“Eh apaan tuh?” tanya Rita heran
“Matikan alat itu!” teriak Aldo, Rita segera mematikan ponselnya, dan melemparnya ke kolong tempat tidur.
Terdengar langkah beberapa orang naik lalu membuka kamar Rita, mereka menodongkan senjata sambil mengatakan sesuatu dalam bahasa Rusia, lalu mendorong Rita ke tembok
“Kamu punya ponsel ya? serahkan!” ancamnya dengan senjata. Rita menggeleng tidak mengerti bahasanya. Orang tersebut mengatakan dalam bahasa Inggris dengan terbata-bata
“Give me your phone! Or i’ll shoot you!” teriaknya, Rita menunjuk ke arah bawah tempat tidur. Temannya yang satu lagi dengan mudahnya membalikkan tempat tidur dan mendapati ponsel Rita Sambil mengatakan sesuatu ke temannya.
“give it to me!” ujar si pengancam, temannya memberikan ponsel Rita, dengan kasar orang itu melemparnya ke lantai dan memberondong ponsel tersebut dengan senapannya. Rita ketakutan, baru kali ini ia melihat senapan yang ditembakkan. Ia berteriak dan menangis
“Maaf!!! Aku tidak tahu!!” teriaknya dalam bahasa Inggris.
Setelah melihat ponsel Rita telah hancur, kedua orang itu keluar kamar dan mengunci pintunya.
Rita masih menangis ketakutan, ia merasa hidupnya tidak akan lama lagi.
“Huu...hu...hu...Ayahhh.....Mamaaa....Kakek....” satu persatu orang dalam hidupnya disebutkan. Ia menangis sambil meringkuk hingga ketiduran. Ketika ia bangun keadaan sudah malam.
“Astaghfirullah, aku gak sholat Ashar dan Maghrib keluhnya.”
Ia bertayamum untuk melaksanakan sholat Magrib dan Isya, ia berdoa untuk keselamatan hidupnya dan berharap seseorang bisa melacak keberadaannya.
Ponsel Rita yang telah rusak dibuang keluar oleh kedua penjahat itu. Para penjahat itu tidak tahu kalau ponsel rusak itu masih memancarkan sinyal sebelum mati total.
Di tempat lain, Daniel melacak keberadaan Rita melalui temannya di Interpol
“Niel!,sinyal terakhir dari ponselnya Rita!” ujar Aaron teman Daniel yang masih agen Interpol
“Oh ya? di mana?”
“Wilayah Omsk”
“Omsk? Mana tuh?”
“Desa Kopay Rusia!”
“Hah? Rusia?” Daniel terkejut
“Kemarin kamu bilang tentang Majorka? Itu nama Rusia kan?”
“Iya!, nama ayahnya Vladimir Putin!”
“Presiden?”
“Bukan! Ini Vladimir yang lain”
“Ya?”
“Aku sudah mendapatkan keterangan dari polisi yang menginterogasi tantenya Majorka”
“informasi apa yang didapat?”
“Ia menyembunyikan Majorka di basementnya, sepertinya ia sengaja mengumpankan Rita untuk menggantikan Majorka”
“Sialan!” maki Daniel kesal
“Sinyal terakhir itu, bisa dilacak tempat tepatnya?” tanya Daniel
“Aku sudah mengirimnya ke agen kita di sana, mereka mengawasi beberapa rumah, sepertinya orang-orang di sana sangat waspada dengan orang asing”
“Aku akan ke sana! Bisa tolong hubungkan aku dengan agen di sana?”
“Tapi Niel, kamu bukan lagi agen interpol, kamu sudah orang sipil” jawab Ben
“Kalau begitu, kamu saja menemani aku gimana? kamu tahu gak siapa Rita ini?”
“Ya, aku tahu! Dia cucu dua orang terkaya di dunia kan?”
“Betul! Soal transport dan biaya lainnya termasuk untuk kalian tidak akan menjadi masalah bagi mereka!” bujuk Daniel
“Hmm...baiklah!, aku akan menuliskan permohonan ke bos untuk minta pengantar ke sana, tapi benar ya semua biaya ditanggung bos mu!”
“Tentu saja!” jawab Daniel
Malam harinya Daniel melapor pada Darmawan dan Sugiyono tentang keberadaan Rita
“Jadi di Rusia ya? jauh amat!” ujar Darmawan, raut wajahnya tampak cemas
“Betul pak, saya dan teman saya akan berangkat ke sana besok pagi” jawab Daniel
“Niel, aku akan mengirimkan 5 orang tentara bayaran untuk mengawal kalian kesana. Kalian akan bertemu di bandara. Aku akan mengirimkan profil mereka ke ponsel mu”
“Baik pak,oh iya tentang biaya-biaya gimana pak?”
“Aku sudah mengirimkan sejumlah uang ke rekening mu Niel, kamu bisa menggunakan kartu kredit mu tanpa batas!” jawab Kakek Darmawan
“Baik pak! Terima kasih!”
“Niel!”
“Ya pak?”
“Hati-hati ya?”
“Baik pak!”
Pukul 5 pagi, Daniel mempersiapkan keberangkatannya, ia janjian dengan temannya dari Interpol di bandara.
“Selamat pagi Niel!” sapa Alex agen Interpol
“Pagi Alex! Kok kamu yang datang? Kemana Ben?”
“Bos kita merasa Ben bukan orang yang tepat untuk menemani mu ke Rusia, dia gak fasih berbahasa Rusia sedangkan aku pernah bertugas di Rusia beberapa tahun”
“Oh begitu, baiklah Alex aku sedang menunggu bala bantuan”
__ADS_1
“Bala bantuan?”
“Iya, kakeknya Rita mengirimkan 5 orang terlatih untuk membebaskan cucunya”
“Rita ini cucu orang kaya?” tanya Alex sambil membaca profil Rita
“Benar, cucu perempuan satu-satunya keluarga Darmawan”
“Hmm..masih 17 tahun, cantik juga!” ujar Alex, Daniel menampakan wajah tidak suka
“Apa kamu fasih berbahasa Rusia?” tanya Daniel mengalihkan percakapan
“Aku pernah tinggal di Moskow selama beberapa tahun”
“Ngapain?”
“Pelatihan Interpol oleh matan para agen Rusia”
“Kalian dilatih mantan KGB?” tanya Daniel terkejut
“Begitulah!, pelatihan yang sungguh-sungguh berat, dari 20 orang hanya 3 yang berhasil lolos pelatihan sampai selesai”
“Tiga diantaranya kamu?” tanya Daniel, Alex mengangguk.
“tak menyangka Alex orang hebat” dalam pikiran Daniel
“Ini, agen kita di Rusia, dia akan mengantar kita sampai desa Kopay. Untuk kesana kita akan menggunakan motor boat!”
Daniel membaca profil penghubung mereka di Rusia
“Kasparov? Seperti nama pecatur”
“Itu anaknya”
“Oh ya? sejak kapan Dia jadi penghubung?”
“Itu ada tahunnya, oh iya Niel, kenapa kamu berhenti dari Interpol?” tanya Alex
“Mama ku khawatir dengan tugas berbahaya di Interpol jadi ketika mendapatkan tawaran kerja di Dar.Co aku langsung mengambilnya”
“Oh ya? sudah berapa lama kamu di Dar.co?”
“Empat tahun?”
“Kamu sudah keluar dari Interpol empat tahun lalu tapi masih berhubungan baik dengan teman-teman di Interpol”
“Begitulah, itu namanya hubungan saling menguntungkan”
“Hmm..Rita ini siapa mu?”
“Eh? Kan aku sudah bilang dia cucu Darmawan”
“apa benar? Apa kalian memiliki hubungan istimewa?”
Sebelum Daniel menjawab lima orang lelaki muda berbadan tegap menghampiri Daniel
“Selamat pagi, maaf terlambat! Saya David, ini teman-teman saya : Sean, Andy, Jack dan Brian” David memperkenalkan diri
“Pagi, saya Daniel dan ini Alex teman saya, ia agen interpol”
“Jadi Daniel, kita langsung berangkat ke Rusia?” tanya David
“Iya betul, ini tiket kalian!” Daniel membagikan tiket pada masing-masing orang
Beberapa menit kemudian ke tujuh orang itu telah berangkat menuju moskow, sementara di rumah penyekapan.
(bahasa Rusia)
“Anak yang baru disekap itu”
“Iya?”
“Ternyata ia bukan anaknya Vladimir”
“Kamu tahu dari mana?”
“Teman ku di kepolisian mengikuti interogasi adik iparnya Vladimir”
“Sial!!! Aku harus membunuh lagi!” ujar orang yang bernama Bruno
“Jangan!, dia lebih berharga dari pada anaknya Vladimir”
“Maksud mu?”
“Nih!” Teman Bruno, Shasa memberikan informasi melalui ponselnya
“Rita, cucu dari dua pengusaha terkaya di dunia. Darmawan dan Sugiyono. Total kekayaan keduanya mencapai trilyunan dolar”
“Nah, maksud ku. Dari pada dibunuh lebih baik kita minta tebusan dari kedua kakek anak itu, jumlahnya 1 juta dolar, bagaimana?”
“Apa kamu tahu cara menghubungi mereka?” tanya Bruno
“Aku akan menanyakan pada teman ku di kepolisian”
“Baiklah, tapi kemarin anak itu sudah melihat wajah ku dan wajah si Leo. Ini berbahaya kalau dia mengenali kita”
“Gak usah khawatir kita berada di tempat terpencil di Rusia tidak ada yang akan kemari” ujar Shasa optimis.
Keesokan paginya, kamar Rita didatangi beberapa orang
“Hey bangun!” Rita dipaksa bangun
“Aduh! Sakit tahu!” Rita mengaduh dengan kakinya yang membengkak
“Kenapa kaki mu?” tanya Shasa, Rita diam saja dan membuang muka
“Kurang ajar! Plak!” Shasa menampar pipi Rita keras
“Hey Sha! Jangan terlalu kasar padanya, kita akan meminta uang dari kakeknya, jangan biarkan dia terluka di wajah” ujar Bruno dalam bahasa Rusia
“Buak!!” ia memukul perut Rita keras, hingga membuatnya pingsan
“Kenapa kamu lebih kasar?” tanya Shasa
“Aku kesal melihat wajahnya, lagi pula kita akan memindahkannya dari tempat ini. Teman kamu bilang kan mereka sudah mengirim beberapa orang untuk membebaskan anak ini” ujar Bruno
“Iya juga, kita akan membawanya kemana?”
“hmm..lebih baik pondok memancing milik kakek ku, tempat itu sudah lama tidak didatangi”
“Ayo! Aduh berat sekali!” Shasa berusaha mengangkat Rita dengan kedua tangannya
“seharusnya kamu tidak membuatnya pingsan!” ujar Shasa lagi, ia dan Bruno memapah Rita menaiki mobil pick up butut berwarna hitam. Mereka tidak memperhatikan seorang anak melihat, ia bersembunyi karena ia melihat Rita yang hidungnya mengeluarkan darah akibat dipukul oleh Shasa. Anak itu bersembunyi di balik pohon.
__ADS_1
_Bersambung_