
“Sayang, kamu kan masih cuti, kenapa kerja?” Rita memeluk suaminya dari belakang yang sedang membaca laporan keuangan
“Mumpung masih libur, aku mempelajari laporan keuangan dan perkembangan restoran dari Anwar, dan membandingkan pemasukan dari data bank”
“Bagaimana? Apa dia jujur?”
“Yeah begitulah, dia juga makin baik membuat laporan, aku mengajarkannya mengunakan aplikasi restoran, jadi dia tinggal masukin data dan kayaknya dia sudah mahir”
Rita mengusap dan mencium rambut suaminya
“Pantas dia sangat menyukai mu”
“Hah? Siapa?”
“Anwar, kemarin dia bilang kalau bukan kamu yang ngajak kerja sama dia gak bakal mau”
“Oh ya? masa sih?” Daniel tersenyum senang
“Dan dia sudah merelakan aku sama kamu. Dasar tu orang, waktu di SMA gak bilang apa-apa”
“Eh? Si Anwar naksir kamu juga?”
“Dia bilang sih begitu, padahal waktu SMA dia bilang jadi saudara saja”
“Memangnya kalau dia nembak, kamu bakal terima dia?”
“ya enggak lah, aku kan sudah ada kamu”
“Terus kenapa kamu mau dia nembak?”
“Supaya aku bisa nolak, aku gak pernah lho bisa nolak cowok yang suka aku”
“Masa? Boong ah! Itu yang deketin kamu waktu kita break? Itu kan kamu nolak?”
“eh iya ya? sebenarnya bukan 100% nolak sih tapi lebih kesepakatan bersama, pokoknya kita berkesimpulan gak bisa bersama saja” Rita menerangkan
“Itu namanya penolakan juga walaupun dengan cara halus”
“tapi waktu SMP dan SMA aku gak pernah nolak lho, orang pada gak nembak. Mereka mundur begitu saja padahal dulu aku sering iri sama cewek-cewek yang jadi rebutan para cowok. Waktu SMP ada lho, cowok yang merebutkan satu cewek, padahal menurut ku ceweknya gak cantik-cantik amat”
“oh ya? terus ceweknya milih yang mana?”
“Gak tahu, aku gak ngikutin kelanjutannya. Aku bagian misahin mereka yang berantem.”
“Kamu memisahkan mereka?”
“Ya, keduanya aku tendang, terus aku marahi. Cewek bertebaran tapi kalian berebutan Cuma satu, malu-maluin! Terus aku tinggal deh”
“Wah...dalam banget itu marahinnya”
“Iya ya? padahal aku kesal banget sama tu cewek, iri sebenarnya”
“iri? Kamu bisa iri juga?”
“Iya, karena salah satu cowok yang ngerebutin cewek itu aku taksir. Makanya aku marah banget”
“waduhh,..kira-kira kamu umur berapa tuh?”
“12 tahun, tepat sebelum pindah ke Sukabumi, besoknya aku pindah sekolah”
“oh iya ya, kamu dulu sering pindah-pindah”
“kalau kamu bagaimana? Gak mungkin kan Cuma satu saja?
“Hmm...coba aku ingat-ingat... pertama kali benar-benar melihat cewek itu sebagai cewek itu kelas 4 SD.”
“Maksudnya? Melihat cewek sebagai cewek?”
“Kamu harus tahu, sebelum masa puber cowok itu menganggap semua orang sama saja, ya cowok , ya cewek. Kecuali diajarkan oleh ortunya, kamu gak boleh kasar ya sama cewek. Jadi ibaratnya kita baru mengenal perbedaan gender”
“Kelas 4 SD? Siapa? Apa ceweknya cantik?”
“Lumayan manis, kalau gak salah namanya So Hee,..Han So Hee. Rambutnya panjang dan selalu dikepang dua”
“Kenapa kamu suka dia?”
“Dia ramah, baik, dia membagi rotinya padaku, ketika beberapa anak nakal membuang makan siang ku”
“Kamu membiarkan dirimu dibully?” tanya Rita kaget
“Dulu tubuhku ceking, mama bilang pencernaan ku bermasalah sehingga aku agak susah makan, anehnya setelah kami pindah rumah, aku normal-normal saja. Bahkan tubuhku tumbuh dengan baik”
“Lalu bagaimana dengan So Hee?”
“Kami sempat dekat selama beberapa bulan. Kami sering berangkat sekolah dan pulang sekolah bersama.”
“So sweettt....terus?”
“Ketika naik kelas 5, bisnis papa berkembang pesat, hingga kami bisa pindah ke rumah lebih besar yang letaknya di pinggir jalan. Mama membuka bisnis restoran dan motel. Jarak rumah dari sekolah ku yang lama cukup jauh, akhirnya aku pindah sekolah, kami tidak pernah bertemu lagi sejak itu”
“Waktu SMP kamu gak mencarinya?”
“Waktu SMP? Hmm.. Aku lupa padanya”
“Kok bisa lupa? Oh iya karena ada tetangga baru mu yang cewek itu ya?”
“bukan, aku hanya menganggapnya sebagai adik ku”
“Tapi kenapa kamu bisa lupa pada So hee?”
“Sebentar, kenapa aku bisa lupa ya?” Daniel mengingat-ingat
“Ah sudahlah, aku benar-benar lupa! Lagi pula gak ada gunanya kan? Aku sudah punya kamu dan anak-anak” Daniel merangkul istrinya mesra
“Tadi kamu bilang, kamu suka So Hee karena dia membagi rotinya sama kamu, jangan-jangan kamu suka sama aku gara-gara aku ngasih makan siang ku sama kamu ya?” ujar Rita mengingat pertemuan mereka
“Eh iya ya? aku gak sadar tentang itu. Tapi kamu memang cantik, itu sebabnya aku suka!” ujar Daniel, ia meneruskan pekerjaannya
“Dasar!” Rita tersipu lalu meninggalkan ruang kerja suaminya, ia menghampiri box Rayya.
“Hey adek, sudah bangun ya???”
“Hhhh...hhha...ahhh....!” bayi berusia 3 bulan itu bergerak-gerak minta digendong. Dengan hati-hati Rita mengangkatnya dari boxnya. Tiba-tiba Ranna menghampiri dan minta digendong
“Mami gendong aku” rengeknya
__ADS_1
“oeeeeee....oeeeee..hhh..” tangisannya tampak sedih
Rita menunjukkan ke Ranna
“Tuh kak, adek nangis. Kak Ranna tega sama adek?”
Ranna melihat adeknya, awalnya ia tampak tak peduli dan melihat ke arah lain lalu memeluk maminya. Tetapi lama kelamaan tangisan Rayya membuat hatinya tergerak, ia meminta turun dari gendongan maminya.
“Ah kak Ranna baik banget” puji Rita, ia segera kembali menggendong Rayya, hingga ia berhenti menangis.
“Kak Ranna, yuk makan es krim, mami kasih deh karena kakak sudah baik sama adek”
“asyikkk es kimm!!” Ranna bersorak kegirangan
Rita membuka kulkas dan memberikan satu es krim mangkok kecil yang kemarin sore ia beli
“Nih kak, sendoknya ambil sendiri ya?”
“Satu lagi ma” pinta Ranna
“Satu saja, sebentar lagi makan siang, nanti kamu kekenyangan” larang Rita
“untuk Affa?”
“Oh iya” Rita mengambil satu lagi dan memberikannya kepada Ranna
“Thanks mi!” Ranna berlari kegirangan, ia naik ke meja makan untuk mengambil dua sendok kecil untuk makan es krim, lalu keluar kamar
“Adek mau es krim juga? Hahaha...belum boleh ya?” Rita mengambil dua es krim mangkok , dan mengambil sendok kecil lalu pergi ke ruang kerja suaminya. Ia menempelkan es krim di pipi suaminya
“Aduh dingin apaan tuh?” tanya Daniel kaget
“Es krim!, disambil dong biar gak jenuh” Rita memberikan es krim, kemudian kembali keluar ruangan sambil menggendong Rayya.
“Terima kasih Yang!” teriak Daniel senang
“ya!” jawab Rita dari luar. Ia menggendong Rayya
“Kamu kok lucu banget ya??...mirip siapa ya?? mirip mami apa papi?” Rita memperhatikan wajah anak bungsunya. Rayya tersenyum mendengar ocehan maminya.
“Mirip maminya!” ujar Daniel tiba-tiba, ia memeluk istrinya dari belakang
“eh kaget aku, sudah selesai?”
“Sudah!, ini es krimnya juga sudah habis”
“Hah? Cepet amaat?”
“Kecil begini, sekali suap ya habis, belinya mangkok agak besar dong”
“itu anak-anak yang milih, aku cuma bagian bayar saja”
“Eh yang” Daniel duduk di sofa depan TV, dan mengisyaratkan Rita untuk duduk di sampingnya
“Apa?”
“aku kan suka es krim, kamu juga, anak-anak apa lagi , gimana kalau kita bisnis es krim saja”
“Maksud kamu jualan es krim?”
“Harus punya mesin pembuat es krim”
“Itu gampang, harga mesinnya juga murah”
“Ini es krim yang cone itu?” tanya Rita
“Ya bisa cone, waffle atau di mangkok saja. Kita buka kedai di taman sini tiap hari minggu”
“Apa kamu gak capek? Sudah kerja 5 hari, terus restoran setiap sabtu, eh es krim tiap hari minggu?”
“Ya kita suruh orang lain yang jual, nanti setor ke kita”
“Kenapa kamu tiba-tiba kepikiran untuk jualan es krim?”
“Kamu pernah nonton film Charlie Wonka Chocolate Factory kan?”
“Iya kenapa?”
“Aku nonton itu yang versi awal sewaktu SD. Aku pikir enak ya kerja di tempat yang kita sukai. Nah si Charlie punya pabrik coklat, dia bisa makan coklat sepuasnya. Dulu waktu SD aku tergila-gila sama es krim, aku juga kepengen seperti charlie, punya pabrik pembuatan es krim.”
Rita mendengarkan suaminya dengan serius, sambil memangku Rayya yang memainkan sendok es krim.
“Jadi menurut mu bagaimana?”
“menurut ku? Kalau itu merupakan mimpi mu semasa kecil, ya lakukan saja. Toh secara finansial kamu mampu. Ya wujudkan saja keinginanmu” ujar Rita
“hmm...menurut mu begitu?”
“Iya, menurut ke begitu, biar gak penasaran. Lagi pula kan lumayan kita bisa makan es krim gratis”
“Aku harus cari supplier dulu dong ya?”
“Eh katanya kamu mau uji coba bikin es krim dulu kan? Coba dulu skala kecil, kalau enak, bikin yang banyak jadi bahan bakunya gak percuma”
“Iya juga ya, kamu kok bisa lebih pintar dari aku?” Daniel mencium pipi istrinya, lalu kembali ke ruang kerja untuk mengambil tablet dan kembali ke ruang TV, ia membrowsing sesuatu
“Kamu nyari apa?” tanya Rita penasaran
“Oh ini, aku pernah lihat alat pembuat es krim mini, nanti aku belajar dari youtube cara pembuatannya”
“Kamu mau pakai salah satu ruangan di rumah ini sebagai studio mu?”
“memangnya masih ada ruangan yang kosong di lantai ini?”
“Ada kok, pas di sebelah studio masak ku, itu ada satu ruangan lagi”
“Iya sih, kalau dipikir-pikir aku gak punya tempat untuk berkreasi ya?”
“Iya boleh pakai saja, kalau butuh tempat lagi bilang saja, nanti aku minta pak Ridwan untuk menyuruh orang membereskan ruangannya”
“Iya itu gampang” Daniel kembali berkutat pada tabletnya.
“Lunch timeee!!!” tanda dari dapur muncul di layar lebar
“Waktunya makan siang, yuk makan dulu” ajak Rita
__ADS_1
“Eh kita makan di ruang makan? Gak di sini?”
“Kalau senggang dan weekend di ruang makan saja, gak enak sama staf di sini, mereka bilang ruang makan sering dianggurin”
“Dianggurin?”
“Maksudnya gak dipakai kalau gak ada kakek”
“Iya deh, yuk makan!” Daniel, Rita serta Rayya keluar kamar mereka menuju ruang makan
“Kakak, Abang! Kita makan yuk!” panggil Daniel ketika melewati ruang bermain anak-anak
Kedua batita berlari lincah keluar ruang bermain, para baby sitter kewalahan mengejar mereka
“Kakak, abang gak usah lari-lari nanti jatuh!” larang Daniel
“Gak apa-apa mereka lari Say, supaya makannya banyak!” bisik Rita
“Ah iya juga!”
Mereka sampai di ruang makan beberapa menit kemudian, hidangan disediakan dalam bentuk prasmanan
“Wah soto..perkedel..nasi rempah..enak banget!” Rita tampak sumringah melihat hidangan siang itu
Mereka mengambil sendiri hidangannya, sementara staf dapur menyiapkan tiga minuman di meja makan. Para bayi juga duduk rapi di kursi mereka, Rita menyiapkan makanan untuk anak-anaknya
“Kalian makan ini ya, supaya cepat besar!”
“Kakak, Abang, baca doa dulu sebelum makan!” ujar Daniel memperingatkan
Keduanya berdoa secara bergantian dengan suara lucu, lalu makan dengan lahap
“Enak!” puji Daniel
“iya ya?” Rita setuju
“Mba, nanti hidangan ini, dibawa ke kamar saya ya? untuk makan sore”
“Eh, malam gak makan di sini bu?” tanya staf itu
“Enggak, kita makan siang saja di sini. Kalau ada tambahan cemilan juga bole bawa ke kamar saya”
“Baik bu!” ujar staf tersebut
Setelah makan siang selesai, mereka meninggalkan ruang makan
“Terima kasih ya?” ujar Daniel dan Rita bersamaan
“Sama-sama pak,bu!” jawab staf dapur, mereka sibuk merapikan ruang makan, sementara anak-anak yang kekenyangan .
“Papi gendong!” pinta Ranna , Raffa juga mengikuti
“Jangan ah, baru makan, ayo kita jalan saja, supaya nasi di perut bisa turun, jadi gak buncit perutnya” tolak Daniel. kedua anaknya menurut, mereka berjalan di tuntun papinya.
“Habis ini kalian cuci tangan, cuci kaki lalu bobo siang ya?” ujar Rita
“Eh habis makan kok tidur?” tanya Daniel
“Kalau bilang tidur siang sama mereka, artinya tunggu dua jam baru deh mereka tidur” jawab Rita
“Oh begitu, eh susternya dimana?”
“Ini masuk jam istirahat mereka, nanti jam 2 mereka mulai lagi”
“Oh begitu” Daniel mengangguk
Mereka melewati ruang kosong di sebelah studio Rita
“Nih Say, ruangan kosong yang aku bilang” mereka membuka pintu ruangan tersebut
“Wah luas juga ya? dan bersih pula”
“Iya, ruangan disini memang harus dibersihkan setiap hari, menurut pak Ridwan agar kalau dibutuhkan tinggal pakai.”
“Tapi aku butuh pintu keluar, seperti studio kamu!”
“Itu gampang, nanti aku minta pak Ridwan menyuruh orang memodifikasi ruangan ini untuk studio kamu”
“Ah bagus deh, terima kasih sayang!” Daniel merangkul istrinya
“haaaa...haaaa,....” Rayya terlihat senang melihat papinya
“Sini deh aku yang gendong adek!” Rita melepas gendongan Rayya dan memberikan ke Daniel
“Ayo sini Rita kecil, sama papi!” ujar Daniel sambil mencium pipi Rayya, sedangkan kedua kakaknya memegang tangan maminya
“Mi,” panggil Ranna
“Ya kak?”
“Papi..”
“Kenapa papi”
“nice!”
“Iya dong papi nice, kakak dan abang affa juga nice” ujar Rita menimpali
“Huuuuuaaaaaaaa” tiba-tiba Raffa menangis kencang, kedua orang tuanya kaget
“Eh abang kenapa?”
“Eyangggg.....!!!” tangisnya kencang
“Eyang? Aki eyang?” tanya Rita
“Heeh”
“Kenapa Aki eyang?”
“Fall!!!” Raffa menangis lebih keras, Rita menggendongnya ketakutan. Daniel menggendong Ranna yang ikutan panik dan menangis ketakutan. Mereka kembali ke kamar, pesan video berkali-kali dari Andi terpampang di ruang TV mereka
“Rita, kakek Darmawan stroke, beliau jatuh di kamar mandi apartemen. Sekarang di rawat di rumah sakit kakek Sugi. Gue menuju ke RS itu sekarang” demikian bunyi pesan video dari Andi
Rita dan Daniel saling berpandangan..
__ADS_1
_bersambung_