
Tak terasa dua bulan telah berlalu, hari-hari kelahiran anak kedua semakin mendekat. Daniel dan Rita disibukkan dengan persiapan kelahiran
“Kamu diam di situ saja, tinggal bilang aku harus taruh apa saja di tas ini” Ujar Daniel, Rita duduk menghadap walking closet mereka
“Pembalut, panties, piyama, sandal, sabun, sikat gigi, handuk” Rita menyebutkan benda-benda yang ia butuhkan, dan Daniel segera menyiapkan itu semua.
“piyamanya bawa 4 ya? paling kamu cuma 2 hari di RS” ujar Daniel
“Piyama nya yang 1 piece ya, jangan yang pakai celana, repot pakainya”
“Oke! Yang ini kan?”
“Iya betul!”
“Kira-kira kapan lahirannya?”
“Perkiraan dokter minggu ini, tapi aku gak tahu kapan.”
“Aku gak sabar melihat anak kedua kita!” Daniel memegang perut buncit istrinya
“Tok-tok-tok” bunyi pintu kamar
“Ya?” Daniel membuka pintu
“Maaf pak, ada tamu” Ujar suster Rini sambil menggendong Ranna
Daniel segera keluar dari kamar mereka
“Siapa ya?”
“Woy!”
“Hei Brother!” Daniel menyapa Andi dengan ramah, mereka saling berpelukan
“Rita!, Andi nih!” panggil Daniel
“Iya! Dengan susah payah Rita bangkit dari kursinya
“Hey Rit!” Andi melihat adiknya yang sedang hamil tua
“Sendirian saja kak?”
“Enggak sama mama, beliau baru check in di hotel”
“Asyik ada mama!”
“Kapan lahirannya?”
“Katanya sih minggu ini, ayo duduk Ndi!” ajak Daniel
“Ranna mana? Tadi aku mau ambil, pengasuhnya langsung menjauh”
“Suster!” panggil Rita
“Ya Bu?”
“ini Uwanya Ranna, Uwa Andi. Ini susternya Ranna, namanya Rini!”
“oh iya pak Andi, maaf tadi Ranna poop saya harus segera mengganti popoknya.”
“Sekarang Ranna mana?” tanya Andi gak sabar
“Sebentar Pak, saya ambil dulu” Rini segera meninggalkan mereka, tidak lama kemudian Ranna yang sudah mulai berjalan menghampiri mereka. Ia sudah berganti pakaian
“Wa..wa..wa...” sapanya, berjalan perlahan, susternya memegangnya dari belakang
“Masya Allah Ranna sudah bisa jalan!” Andi menghampiri dan langsung menggendongnya
“ Sudah banyak langkahnya, papinya kewalahan kalau ngikutin dia jalan” cerita Rita
“hahaha..ini baru cewek lho, kalau cowok sudah pasti repot kalian!” Andi melempar Ranna ke atas
“Hahahahaaaahhhh!” Ranna tertawa keras
Tak lama Mario bergabung bersama mereka
“Hey Ding! Sudah lama datang?”
“Baru 5 menit langsung kesini”
“Tante Ratna mana?” tanya Mario
“Masih di hotel, nanti malam kemari. Oh ya Lo mau diajak ke Paris, mau gak?”
“hmmm...boleh gak bos?” tanya Mario ke Daniel
“Oh sekarang bos lo Daniel?” tanya Andi
“Iya, demi kewarasan Ai.”
“Maksudnya?”
“Beberapa bulan lalu setelah kecelakaan, O hampir mengundurkan diri dari Dar.Co padahal pekerjaannya bagus. Lalu kebetulan kontrak ku dengan BOS selesai. Jadi aku mengambil alih proyek yang dipegang Martin sedangkan Martin memegang proyek baru”
“Ooo begitu, asyik dong O?”
“Yaa gitu deh, Ai lebih nyaman sih di lantai 20”
“Lantai 20 masih ada Yang?” tanya Rita”
“Masih, Jadi sekarang nambah lagi Proyeksi,Manajemen dan Property” jawab Daniel
“Makin banyak nih di bawah Lo Niel!” ujar Andi
“Ya, gitu deh. Aku belajar lagi dari awal, rekan-rekan se tim ku juga”
“Gak jadi merger dengan Singapura 1?” tanya Andi
“Aku gak tahu, kamu gak nanya sama kakek?” tanya Daniel
“Kalau sama aku, kakek hanya membicarakan proyek dengan Charles Lucas, selain itu gak ada lagi”
“Kalau sama Lo O?” tanya Rita
“Apalagi sama Ai, orang Ai mau mundur dari Dar.Co saja beliau diemmm saja. Ai di diemin. Ai kalau mau ngomong sama beliau lewat nenek.”
“Terus sekarang masih begitu?” tanya Rita lagi
“Sudah enggak sih, Ai kan gak jadi mundur setelah atasan Ai diganti” ujar Mario
“Kakek gak ngomong apa-apa sama Lo Rit?” tanya Andi sambil memberikan Ranna ke pengasuhnya
“Kakek paling cuma nanya kondisi kehamilan, nanya Ranna. Oh iya Tante Meta lagi hamil 1 bulan, katanya anaknya kembar”
“Alhamdulilllah!” ujar mereka bersamaan
“Tante Metha menetap di Swiss ya?” tanya Andi
“Iya, suaminya kan punya galeri seni di situ” ujar Rita
“Mungkin gak jadi merger kali” ujar Mario lagi
“Kenapa gak jadi?”
__ADS_1
“Dulu alasan merger kan karena Singapura 2 bobrok, nah sekarang 3 departemen dipegang pak Daniel ini, ibaratnya proyek back to track!”
“Berarti sumber kebobrokan ada di divisi property dong!” ujar Andi
“Mungkin, Ai kan gak tahu. Oh iya Ai kemarin melihat Davies di cafe, dia lagi ngobrol sama siapa itu yang pernah ribut sama Yu di kantin?”
“Ribut di kantin? Jameson?” tanya Daniel
“Ah iya, Jameson! Mereka satu club ya?”
“Club apaan? Golf?” tanya Daniel
“Mungkin, Ai cuma lihat sekilas sih, Ai lagi ketemuan sama calon klien Ai!”
“Calon klien? Memangnya boleh terima side job?” tanya Rita
“Selama dia gak ganggu proyek utamanya di Dar.Co, kenapa enggak?” jawab Daniel
“Nah! Bener itu! Kalau si Martin gak ngerti. Pokoknya menurut dia Ai harus stand by di tempat, padahal Ai kan tenaga lepas! Selepas burung!” ujar Mario
“Hahahaha..ada-ada aja lo!” ujar Andi dan Rita tertawa
“Assalammu’alaikum!”
“Wa’alaikummussalam!” jawab mereka serempak
“Eh Mama!” semua bangkit dan menyalami Ratna
“Kalian sudah ngumpul semua di sini, Rita, waduh..sebentar lagi ini ya?” Ratna melihat perut Rita yang sudah ke bawah
“Iya ya ma?” Ia memegang perutnya
“Duduk saja, nanti di rumah sakit pasti di suruh jalan”
“Yang, sekarang saja yuk ke rumah sakitnya” ujar Rita, ia mulai merasakan kontraksi di perutnya
“Eh sekarang? Beneran?” Daniel tidak percaya
“Bener!!” ujar Rita dengan nada tinggi menahan sakit
“Ya udah, ayo!” Daniel mengambil koper di kamar lalu segera keluar dari apartemen untuk mengambil mobil.
“Ranna di sini saja sama kita, nanti kalau sudah lahir kabarin ya?” ujar Andi
“Iya!, ayo yang!” ajak Daniel, Rita memegang tangan Daniel.
“Gak ada kursi roda sih ya?” ujar Mario agak ngilu memperhatikan Rita yang berjalan pelan
“Sekalian latihan, nanti di rumah sakit sudah lebar bukaannya, jadi gampang melahirkan” ujar Ratna
“Tapi kasihan lihat dia jalan susah begitu”
“Itu salah satu latihan O, memang sakit. Tapi pahalanya gede lho!” ujar Ratna lagi, ia menggendong Ranna
“Tante, nginap di hotel?”
“Iya, dekat sini, Andi nginap di tempat kamu ya?”
“Iya tante, Ai sudah siapin!”
“Kamu bisa ikut tante 2 minggu lagi ke Paris?”
“Fashion Week lagi?”
“Enggak, tante mau buka butik di sana, tante butuh desain interior buat butik tante”
“Kok Paris tante,kenapa gak London saja?”
“Iya sih, tapi persaingan berat tante”
“Tante gak sendirian kog, ada teman tante yang ikutan invest, dia juga bikin baju sama kayak tante”
“Siapa Ma?” tanya Andi
“Istrinya Charles Lucas, dia bilang ingin menyalurkan bakat mendesain, mama sih ayo saja, selama kita fair kan?”
“Nama butiknya apa?” tanya Mario
“Belum tahu, mungkin gabungan nama kita, kemarin dia mau konsultasi di bagian periklanan, mau buat logo”
“Sharing sahamnya 50-50 ma?” tanya Andi
“Iya, nanti kamu minta tolong bagian legal untuk mempelajari kontrak kerja samanya ya?”
“Iya Ma”
“Kalau tente punya perusahaan sendiri, perusahaan punya kakek Sugi diturunkan ke siapa dong?”
“Tante sih sudah bilang ke kakek Sugi, baik tante, Andi, Rita kita jadi pemegang saham saja, yang memegang manajemennya Robby CS”
“Robby? Apa dia bisa?” tanya Mario
“Yang melatihnya kakek Sugi langsung lho, gak mungkin dia gak bisa” ujar Andi
“Iya sih, tapi Robby kan orangnya rada-rada. Jujur nih, Ai gaul sama dia, seperti gaul sama bocah! Tapi dia baik sih, royal!”
“Royal? Lo ditraktir terus ya?” tanya Andi
“Eh, AI gak minta lho!, dia sendiri yang mau. Dia bilang best pal itu saling ngejajanin, ya udah Ai gak nolak”
“Lo pernah nge jajanin dia gak?”
“Kalau dia kemari Ai jajanin deh!”
“Intinya lo belum ngejajanin dia ya?” goda Andi
“Belom! Eh iya Tante , gak rugi cuma jadi silent partner saja?”
“Enggak dong, kan kita gak usah repot mikirin perusahaan. Yang penting kita dapat laporannya bener, dan setorannya tentu saja!”
“hahahaha...bisa saja tante!”
Sementara Daniel dan Rita telah sampai di rumah sakit
“Sudah bukaan 8 bu, sebentar lagi ya?”
“Iya!” Rita menyenderkan tubuhnya ke tubuh suaminya. Kontraksinya semakin kuat, Rita berpegangan ke tempat tidur sambil mengatur nafasnya, sementara Daniel mengusap punggungnya sambil membaca surat pendek al-qur’an untuk menenangkan diri.
“Aduh yang!” Rita memegang lengan suaminya, menahan sakit
“Aduhhhh!” Daniel ikut mengerang, karena lengannya sakit ditekan Rita
Satu jam kemudian, Rita dibawa ke ruang persalinan
“Oke bu, sudah siap ya?” dokter memberikan aba-aba untuk Rita supaya mendorong
“ha..ha..hatchi!” tiba-tiba Rita bersin dan anaknya pun keluar dengan lancar
“eh, sudah?” tanya nya heran
“Sudah!, tadi Anda bersin cukup keras, hingga mendorong bayinya keluar” ujar dokter tersenyum
“Alhamdulillah!” ujar Rita dan Daniel bersamaan. Bayi dibersihkan kemudian diberikan ke Daniel, ia mengadzankan, yang memberinya pelukan kangguru. Setelah itu diletakkan di dada ibunya untuk mencari ****** susu ibunya.
__ADS_1
“Assalammu’alaikum, Rafardhan Ahmad Kang!” sapa Rita dengan wajah terharu, Daniel juga terharu, ia merasa hidupnya kini telah lengkap.
“Selamat ya Pak!, anak pertama ya?” tanya salah satu suster
“Bukan, ini anak kedua. Yang pertama perempuan sedang bersama neneknya” jawab Daniel
Malam harinya Ratna datang membawa Ranna. Ranna menangis ketika dipertemukan dengan mami dan papinya.
“Huuuuaaa..mamamamamm...papapapppp” tangisnya
“Aduhh...sayang...maaf ya??...” Rita mengambil Ranna dari neneknya
“Bayinya mana Niel?” tanya Ratna
“Sebentar lagi diantar ma”
Tak lama bayi kecil lelaki datang di dorong dalam tempat tidur bayi
“Haii!!! Siapa namanya Niel?” tanya Ratna sambil mengambil bayi dari tempat tidurnya
“Rafardhan Ahmad Kang!”
“Rafardhan, artinya apa?”
“Bercahaya, berkilau”
“Wow! Pinter kamu nyari nama!” puji Ratna
“Halo Fardhan!, ini nenek Ratna senang berkenalan!”
“Kak Andi kemari ma?”
“Enggak, capek katanya tapi tadi mama sama Mario ke mari, dia lagi membeli sesuatu buat adiknya Ranna”
“Ah si O repot-repot” ujar Rita
“Dia bilang, sudah kepikiran sejak lama”
“Apaan kira-kira kadonya?” tanya Rita penasaran sambil melihat ke Daniel yang bermain dengan Ranna
“Hai!!!” Mario datang membawa bungkusan besar
“Hei O! apaan tu?” tanya Daniel
“Nih bos, Ai sudah mikirin lama banget, setelah browsing dan searching dapat juga”
Daniel membuka bungkusan besar itu
“Gendongan?” ujarnya heran
“Tapi ini gendongan langka, Ai sudah praktek tadi sama yang jual. Nih, si baby taruh di depan, nah si kakak taruh di belakang jadi gendongnya dobel”
“Oooo...gitu” ujar Daniel dan Rita bersamaan
“terus strollernya?”
“ ya stroller lama saja, ini gendongan khusus si bapak!” ujar Mario
“Tapi untuk yang bayi belum bisa ya?” tanya Rita sambil melihat tulisan di kardus
“Hmm...seharusnya bisa”
“Tuh untuk yang di depan minimal usia 2 bulan”
“yahh??? Kok Ai gak lihat tadi?” keluhnya kecewa
“Gak apa-apa O!, toh Fardhan akan digendong mamanya dulu dua bulan ini”
“Eh tadi namanya siapa?”
“Rafardhan Ahmad Kang, panggilannya Fardhan atau Rafa!” jawab Daniel
“R lagi ya?” ujar Mario
“Iya, itu keharusan dari keluarga Sugiyono” ujar mama Ratna
“Kalau misalnya nih, si Rita berkembang biak banyak banget, kehabisan nama R, gimana?”
“Sialan lo!” ujar Rita sambil melempar bantal ke arah Mario
“Kan misalnya!”
“Ya harus R depannya, kalau perlu maksa” jawab Ratna
“Maksa gimana?”
“Iya, misalnya habis nih huruf R, tadinya Bunga jadi Runga” jawab Ratna
“Ah becanda nih Tante”
“Enggak! nih gak percaya, Rosy juga lagi hamil tuh, kakek Sugi sampai datang ke Dubai untuk inspeksi nama calon bayi, depannya harus R!” cerita Ratna
“Kok mama tahu?”
“Mamanya Rosy cerita, dia bilang kakek Sugi akan marah besar sama Rendy kalau nama anaknya gak huruf R”
“Wah..serem itu” ujar Rita bergidik
“Nih, mama disuruh fotoin label bayi kamu” Ratna menunjukkan pesan dari kakek Sugi
“Kakek Sugi terobsesi dengan huruf R ya? untung kakek Dar enggak” ujar Mario
“Siapa bilang, Lo kan anak angkatnya. Nanti nama depan anak lo harus huruf D!” canda Rita
“Boong ah!”
“Coba saja, tanya Kakek!” canda Rita
“Nama anak huruf D? Ya Daniel!” ujar Mario
“Gak boleh sama dong! Kreatif dikit!” ujar Rita lagi, Ratna dan Daniel geli melihat Mario yang kebingungan memikirkan nama bayi diawali huruf D”
Rita dan Daniel menginap di rumah sakit bersama Ranna
“Wahh..tadinya kita berdua sekarang jadi berempat!” Daniel mencium kening istrinya yang sedang menyusui Fardhan
“Iya ya, seperti mimpi. Aku gak pernah menyangka akan ada dua anak lahir dari rahim ku” ujar Rita sambil mencium Fardhan dan Ranna yang ditidurkan di sisinya
“Kamu ibu yang hebat! Mudah-mudahan anak ketiga juga bisa normal ya?” ujar Daniel
“Hah? Anak ketiga? Memangnya kamu mau berapa?”
“Aku kan sudah bilang, pengen 5!, enam juga boleh!”
“Apa kita gak akan kewalahan?” tanya Rita tersenyum
“Enggak! aku akan bekerja lebih giat untuk menghidupi kalian!” ujar Daniel mencium rambut Ranna
“Yang penting kamu sehat, aku sering memikirkan tentang virus itu. Aku takut kamu tinggal!” ujar Rita
“Insya Allah, aku akan menjaga kesehatan ku, kamu juga ya?” Daniel mengangkat Ranna dari tempat tidur Rita dan meletakan di strollernya, dan Fardhan dia taruh kembali di boksnya, sementara Daniel tidur di samping Rita sambil memeluknya.
_bersambung_
__ADS_1