Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 250: Bertemu Anwar


__ADS_3

“Ibu mana?” tanya Daniel pada ART yang menyambutnya pulang dari kantor


“Di kamarnya pak, tadi ada dokter kemari” lapor ART tersebut


“Oh ya?” Daniel segera ke kamarnya, sebelumnya ia mencuci tangan dan mengganti pakaian kerjanya lebih dulu. Setelah itu ia menemui istrinya Rita yang sedang rebahan. Ia ikut rebahan di sampingnya


“Hai!” sapanya, sambil mengelus pipi istrinya lembut, perlahan Rita membuka matanya


“Hai!, sudah baru pulang?”


“Baru saja!, tadi dokter kemari?”


“Iya, tiba-tiba aku merasa pusing. Kepala ku berputar, aku takut terjadi apa-apa pada bayi ini” Rita yang sedang mengandung 4 bulan tampak lemah


“Lalu dokter bilang apa?”


“Aku hanya kelelahan, anemia. Bayinya tidak apa-apa!”


“Alhamdulillah,..syukurlah..”


“Mungkin aku kelelahan karena persiapan ke Swiss”


“Hmm... tentang itu..” Daniel mengubah posisi tidurnya


“Kenapa?”


“Tadi, kami video conference dengan dirut di Swiss, mereka memutuskan aku tidak jadi ditugaskan di Swiss”


“Hah? Kenapa? Apa ada yang salah?” tanya Rita, ia perlahan duduk di ranjangnya


“Mereka memiliki banyak kontrak kerja di Jakarta yang belum selesai, jadi mereka memutuskan untuk melanjutkan di sini, dan aku menjadi perwakilan mereka”


“Maksud mu, kamu jadi kepala cabang Lexi di Jakarta?”


“He eh!” Daniel tersenyum


“Alhamdulillah!” Rita memeluk suaminya erat, Daniel tersenyum tapi juga merasa heran


“Kenapa? Kayaknya kamu gak suka ke Swiss?”


“Suka sih, tapi dengan kondisi hamil seperti ini, pindah ke tempat baru, aku akan kewalahan”


“Kenapa kamu gak bilang sebelumnya?”


“Aku takut keluhan ku menghalangi karir mu, lagi pula aku gak mau kita LDR-an”


“kehamilan anak ketiga ini kamu lebih manja ya? jangan-jangan perempuan?”


“Sepertinya begitu, bentuk perutku memang belum terlihat tetapi tidak seperti waktu aku hamil Raffa yang terlihat bulat kan?”


“Iya juga ya? “ Daniel meletakan kepalanya di atas perut Rita yang mulai membuncit


“kapan mulai USG lagi?” tanya Daniel, ia mengangkat kepalanya


“Dua minggu lagi, eh kamu sudah makan Say?” tanya Rita tiba-tiba ia ingat


“Belum, begitu aku tahu kamu sakit, aku langsung kemari”


“Ayo kita makan dulu!” Rita bangkit dari tempat tidur dibantu oleh suaminya


Hidangan makan malam telah tersedia di meja makan


“Wow! Masih hangat!” Daniel membuka tudung saji elektrik


“Aku meminta chef membuat sapo tahu”


“Sapo tahu?”


“Enak deh, cobain dulu” Rita memberikan piring kosong kepada suaminya. Daniel terbiasa menuang sendiri nasi untuk dirinya dan mengambil sendiri lauk yang ingin ia makan


“Hmm..enak! “ ujarnya, ia menyantap dengan lahap, Rita tersenyum dan ia pun ikut makan bersama suaminya.


Beberapa menit kemudian, mereka selesai makan, ART datang dan membereskan bekas makan mereka.


“Aku mandi dulu ya?” ujarnya, Rita mengangguk,


“Mbak, tolong panggil anak-anak kemari ya?” pinta Rita pada kedua ART yang sedang rapi-rapi di ruang makannya


“Iya bu!”


Tak berapa lama kedua batita yang tampak sebaya muncul di hadapannya, para suster mengikutinya dari belakang, mereka menghampiri Rita yang sedang duduk di depan TV


“Mamiii!!” teriak kedua anak itu


“Hey! Kalian habis main apa?” tanya Rita melihat kedua anaknya yang lucu-lucu


Ranna menunjukkan pistol-pistolan , sedangkan Raffa menunjukkan mobil-mobilan


“Kakak, kenapa main pistol?” tanya Rita heran


“Ini bunyii!” Ranna memencet pistol tersebut, bunyinya cukup keras


“Oh, karena bunyi ya? Kalau abang?” tanya Rita ke Raffa


“Mobil..race!”


“Kamu lagi balapan?”


“hee!” jawab Raffa


“Kakak, Abang, kita gak jadi ke Swiss!” ujar Rita mengabari


Kedua suster saling berpandangan, lalu bertanya


“Gak jadi bu?”


“Enggak!, Bapak ditugaskan di sini!”


“Alhamdulillah...!” kedua suster terlihat lega


“Eh kalian juga merasa keberatan ya? padahal Swiss bagus lho!”


“Iya si bu, tapi itu kan negara orang, mana dingin lagi”


“Kamu tahu?” tanya Rita


“Saya browsing bu, walau pun Swiss menarik, tetapi lebih enak di sini kan?” ujarnya, suster yang satu lagi mengangguk setuju


“Kalau ternyata kita jadi pindah gimana? Kalian gak ikut?” tanya Rita penasaran


“kalau saya, karena belum menikah, pasti ikut bu!” ujar suster Arni


“Mungkin saya akan mencoba beberapa bulan dulu bu” jawab suster Mela


“Mencoba? Kenapa?” tanya Rita heran


“Itu bu, kemarin dia melihat seorang TKW depresi di LN karena suaminya di sini selingkuh dan membawa anak mereka, jadi dia takut suaminya akan begitu” ujar suster Arni


“Oh yang di tok-tok itu ya?” ujar Rita


“Iya bu, lelaki itu memang menyebalkan ya bu, padahal kita ikutan bekerja untuk membantu meringankan bebannya, eh dia malah cari yang lain!” ujar suster Mela


“Ya, mungkin kebetulan, dia dapat lelakinya yang gak bener. Banyak juga kok walau istrinya gak kerja mereka juga selingkuh!” ujar Rita


“Itulah bikin saya mikir lama untuk menikah bu!” ujar suster Arni


“Tapi sus, mau cepat atau lambat gak ngaruh lho!” ujar Rita lagi, tak berapa lama Daniel yang baru saja selesai mandi dan berganti pakaian menghampiri mereka


“Hei Kakak, abang!” ia menggendong kedua anaknya, lalu membawanya ke ruang kerjanya


“Bapak gak suka kalau dengar cerita-cerita selingkuh!” bisik Rita pada kedua suster


“Ah iya bu, jam kerja kami sudah selesai!” suster Arni melihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah 6 sore


“Oh iya, baiklah, terima kasih dan selamat istirahat!” ujar Rita


“Permisi bu!” kedua suster meninggalkan kamar mereka, tak lama Daniel bersama kedua anaknya kembali ke ruang tengah. Kedua anaknya masing-masing membawa coklat


“apaan tuh? Kok mami gak di kasih?” protesnya, Rita melihat coklat belgia


“Nih buat mami!” Daniel memberikan dua bungkus coklat


“Alhamdulillah..mami dapat dua!” ujarnya senang


“Mami 2?” tanya Ranna, wajahnya tampak heran


“Mami 2?” Raffa mengikuti


“Mami 2, satu untuk mami, satu untuk adek!” jawab Daniel


Kedua anaknya seperti mengerti, mereka kembali bermain , Rita membuka bungkus coklat, ia sangat menyukai coklat, lalu mulai memakannya


“Hmm...enak banget!!! Yummy!!!” ujarnya seperti sangat menikmati coklat


“Yummy!!” kedua bocah mengikuti ucapan maminya, Daniel tersenyum melihat kegembiraan istrinya makan coklat


“Kamu gak makan?” tanya Rita


“Aku gak begitu suka coklat, kalau keju aku suka!” jawab Daniel, ia membuka tabletnya


“Coklat ini dari mana?” tanya Rita


“hmm..Tadi ketika aku baru datang, eh di meja kerjaku ada welcome gift, isinya coklat semua, mulai dari biskuit coklat, dan coklat-coklat itu!”

__ADS_1


“Biskuitnya mana?”


“Aku kasih ke OB, kayaknya dari tadi dia ngelirik welcome gift itu”


“Semuanya?”


“Biskuit coklatnya Cuma satu, itu pun segini ukurannya!” jawab Daniel


“Terus, yang lainnya?” tanya Rita menyelidik


“Aku kasih supir, dan pak satpam, lalu aku bawa 4 ini untuk kalian!” jawab Daniel


“Apa mereka harus dikasih juga?” tanya Rita


“Kamu kenapa? Tumben? Memangnya gak boleh aku bagi-bagi ke orang?” tanya Daniel heran


“Masalahnya ini welcome gift!, artinya buat kamu! Seharusnya kamu buka di rumah! Jangan dibagi-bagi dulu!” ujar Rita


Daniel menatap istrinya heran


“Kamu kenapa lihat aku begitu?”


“Aku heran saja”


“Kenapa heran?”


“Kamu kan cucu orang kaya,dengan uang yang kamu miliki bisa membeli coklat sebanyak yang kamu mau!”


“Rasanya beda Say, beli sendiri sama dibeliin orang lain! Kamu mau coba gak?” Rita memotong coklat barnya dan memasukkan ke mulut suaminya


“mmm..” Daniel mengunyah coklat tersebut


“Beda kan?”


“Enggak ah, sama saja coklat-coklat juga!” Daniel mengelap mulutnya


“Kamu gak gitu suka coklat sih, jadi gak tahu bedanya!”


“Sudahlah, ini Cuma cara kamu protes karena aku membagikan welcome gift tanpa seijin mu kan?” ujar Daniel, Rita tersenyum sebagai jawaban pertanyaan suaminya


“Oh iya, say, tadi Anwar WA aku, dia nanyain kamu jadi investasi di restoran Jepang miliknya?” taya Rita


“Anwar? Oh teman mu itu ya? “


Beberapa minggu yang lalu..


“Say, aku kepengen makan masakan Jepang” ujar Rita


“Kamu kan lagi hamil, gak boleh makan masakan yang mentah!”


“Masakan Jepang kan gak semuanya mentah, misalnya katsu, bento”


“Biasanya kamu bikin sendiri katsu dan bento?”


“Aku lagi malas!”


“Payah sekali, aku ngeri bayi ini akan jadi pemalas”


“Jangan dong!, ayo Say, pleaseee? Aku sudah browsing tempat makanan Jepang yang enak!”


“hmm...baiklah, anak-anak gimana?” tanya Daniel


“Mereka baru saja tidur, kayaknya instruktur yang aku sewa bikin mereka bergerak aktif, jadi sekarang mereka kelelahan”


“Kamu sewa instruktur? Untuk apa?”


“Oh itu, untuk mengembangkan gerak motorik mereka, aku lihat dari pada aku bawa mereka ke mall, padahal fasilitas di sini sama lengkapnya jadi aku panggil saja instrukturnya kemari”


“Oh begitu, tetapi tetap saja anak-anak harus ada yang mengawasi”


“Tentu dong!”


Rita meminta Ridwan mengirimkan 2 staff untuk menjaga anak mereka, sementara Rita dan Daniel pergi keluar memakai mobil sedan kuno keluaran tahun 1978.


“Akhirnya kamu milih mobil ini”


“Hehehe...iya, aku sudah bawa ke bengkel dan memodifikasinya, jadi wajah boleh retro tetapi kualitas modern!” Daniel menunjukkan modifikasinya


“Biasanya kalau mobil lama itu kendala di AC ya?” ujar Rita


“Betul!, aku memasang AC baru, seat belt, pokoknya yang berbahaya di mobil ini aku ganti deh supaya safe untuk istri dan anakku”


“Biayanya habis berapa?” tanya Rita menyelidik


“Hehehe...pokoknya kamu gak usah tahu, yang penting gak ganggu uang belanja mu!”


Rita mengangguk, ia membuka ponselnya dan menunjukkan jalan ke sebuah warung masakan Jepang yang sedang viral.


“Di sini?” tanya Daniel


“Iya betul, namanya Motto Taberu”


“Hmm...itu artinya makan lagi” Ujar Daniel sambil memarkir mobilnya di pinggir, mengikuti instruksi tukang parkir. Kemudian mereka berdua keluar dari mobil dan menuju tenda tersebut


“Wah rame juga ya?” ujar Rita, matanya berkeliling mencari meja yang kosong, beberapa menit kemudian, ia segera mendapatkannya


“Tolong ini dibersihkan!” pintanya pada pelayan tenda. Daniel duduk di hadapan Rita, sambil membaca menu, tak lama pelayan datang membawa catatan


“Sudah mau pesan?” tanyanya


“Aku mau takoyaki, ramen, katsudon dan okonomiyaki” ujar Rita bersemangat


“Itu akan habis sendirian?” tanya Daniel kaget melihat selera makan istrinya yang meningkat


“Insya Allah, aku sengaja tidak makan di rumah sore tadi” ujar Rita


“Aku pesan mie udon dan tempura”


“minumnya?”


“Matcha 2, air mineral 2” jawab Rita segera


“Ditunggu ya ?”


Mereka menunggu makanan dihidangkan dengan sabar, Daniel memperhatikan, semakin malam pengunjung semakin ramai


“Wow, sepertinya pemasaran warung ini berhasil ya?” ujarnya melihat semakin banyak pengunjung yang mengantri


“Kita buktikan saja!” jawab Rita, tak berapa lama hidangan yang mereka pesan tiba.


Daniel menyantap mie udonnya


“Hmm....” alisnya terangkat, ia begitu menikmati kelezatan mie tersebut. Rita juga tampak menikmati mie ramennya. Mereka saling berbagi katsudon, okonomiyaki takoyaki dan tempura.


“Kamu ingat katsu ini gak?” tanya Daniel ke Rita


“Katsu? Hmm..oh..kita makan katsu di kantor ya?” jawab Rita tersenyum, Daniel tersenyum


“Katsu ini memang rasanya sedikit dibawah katsu buatan mu!”


“Masa sih? Menurutku enakan ini deh!” Rita menyantap Katsunya


“Oh mungkin karena saat itu, aku lagi kelaparan!” jawab Daniel, kali ini ia mengambil takoyaki jumbo


Mereka hampir menghabiskan hidangan, tiba-tiba terdengar keributan di luar tenda.


“Eh ada apa ribut-ribut?” tanya Daniel heran, ia melihat Rita menyuap potongan okonomiyakinya yang terakhir


“Gak tahu!” jawab Rita cuek


“Kamu mau pesan buat di bawa pulang?” tanya Daniel


“Mauuu!! Yuk pesan takoyaki dan okonomiyakinya!” ujar Rita dengan wajah berbinar


Rita menghampiri kasir hendak membayar, dan memesan untuk dibawa pulang


“Maaf mba, kami tidak melayani pemesanan untuk dibawa pulang” jawab sang kasir


“Eh kenapa?” tanya Rita heran


“Itu kebijakan chef kami, dia memprioritaskan untuk yang makan di sini”


“Aneh sekali!” Rita membayar pesanan mereka


“Habis berapa?” tanya Daniel


“Seratus dua puluh lima ribu!” Rita memberikan receipt ke suaminya


“Eh, kita gak nunggu pesanan kita?” tanyanya


“Gak boleh beli dibawa pulang!” jawab Rita kecewa,


“Kenapa begitu?”


“Chefnya reseh!” jawabnya kesal.


Rita dan Daniel hendak ke mobil mereka, Rita melihat seseorang yang dikenalnya sedang berbicara serius.


“Hmm...kayaknya aku kenal deh!” gumamnya dalam hati,


“Say, aku mau beli gorengan dulu ya?” pamitnya ke Daniel, ia melihat penjual gorengan di sepanjang jalan. Daniel khawatir, ia mengikuti istrinya dari belakang. Dugaannya tepat, terjadi perkelahian di dekat tenda Jepang tadi, seseorang dikeroyok oleh beberapa orang. Rita tanpa sadar menghampiri orang-orang yang sedang menendang secara bergantian


“Hei kalian! Jangan berani keroyokan!” teriaknya, teriakannya membuat orang-orang tersebut menghentikan , dan menatap Rita tajam

__ADS_1


“Eh cewek, lagi hamil lagi!” ujar salah satu mereka, kemudian mereka membubarkan diri


Rita menolong orang yang dikeroyok itu, dan Daniel segera membantunya


“Ayo kita bawa ke klinik!” ujar Daniel menuntun korban


Orang tersebut menurut, ketika dibawa masuk ke mobil, wajahnya yang babak belur dan tubuhnya terluka berbaring di kursi belakang mobil Daniel


“kamu seharusnya jangan gegabah” ujar Daniel memperingatkan Rita


“Iya aku tahu! Aku hanya refleks saja. aku takut jatuh korban”ujar Rita


Tak berapa lama mereka tiba di klinik rawat jalan 24 jam.


“Aku saja yang membawanya!” ujar Daniel. Ia membantu mengeluarkan orang itu dari mobil dan membawanya menemui dokter jaga. Luka orang itu dibersihkan dan diobati. Satu jam kemudian orang tersebut terlihat lebih baik.


“Terima kasih!” ujarnya ke Daniel saat mereka hendak kembali ke mobil, Rita yang menunggu di luar mobil sambil mengemil gorengan, ia menghampiri Daniel. saat itu penerangan agak gelap


“Kenapa gak tunggu di mobil?” tanya Daniel khawatir


“Aku bosan!” jawab Rita


“Rita?” panggil korban


“Eh?” Rita melihat ke arah korban


“Ingat gue gak?” tanya korban dengan wajah penuh obat oles luka


“Hmm...” Rita menegaskan ke arah wajah orang itu


“Gue Anwar!!” ujar orang itu


“Hmm...Anwar? kita SMA yang sama? Ingat gak? Lemper?”


“Lemper? Elo Anwar Fuadi?” tanya Rita mengingat


“Iya bener!! Wahh dunia sempit!!” Anwar yang sejak tadi diam saja tampak kelihatan sangat senang


“Oh Anwar! Sayang, ini Anwar teman ku di SMA!” ujar Rita memperkenalkan Daniel kepada Anwar


“Sayang? Eh ini suami lo?” tanya Anwar, ia terharu dan memeluk Daniel


“Terima kasih!!!” ujarnya lega, ia sangat senang bertemu dengan Rita dan Daniel, mereka kembali ke tenda mereka yang terpaksa ditutup.


“Banyak pelanggan yang kecewa tu War!” ujar Rita, mereka duduk di dalam tenda yang hanya tinggal menyediakan 1 meja dan 3 kursi


“Habis mau gimana lagi, chefnya bonyok” jawabnya


“Gue dengar lo kerja di Jepang?” tanya Rita


“Memang!, Cuma beberapa tahun, balik lagi kesini. Lalu membuat warung tenda ini” jawab Anwar


“Masakannya enak!” puji Daniel


“Terimakasih mister!” ujar Anwar tersenyum


“Namanya Daniel!” Rita menyeruput matcha yang disediakan untuknya


“Oh iya pak Daniel, nama saya Anwar. Terima kasih sudah banyak dibantu!” Anwar menyalaminya dengan ramah


“Gak apa-apa!” jawab Daniel tersenyum


“Tadi lo kenapa dikeroyok?” tanya Rita


“Begini, mereka minta uang keamanan. Padahal gue selalu ngasih supaya pelanggan gue gak diganggu. Tapi mereka bilang gak pernah nerima uang dari gue. Jadi ternyata, yang datang ke sini itu beda-beda orang. Nah yang tadi itu versi sangarnya. Gue sudah tunjukkan bukti salah satu anak buahnya sudah minta uang ke gue. Eh mereka gak nerima, ya udah jadi korban deh gue” Anwar menerangkan


“Kenapa gak lapor polisi?”


“Gimana ya? lapor juga percuma. Hanya berhasil sesekali, setelah beberapa minggu kumat lagi”


“Kenapa gak menyewa rumah atau toko saja?” ujar Daniel tiba-tiba


“Iya War? Tenda lo kan selalu rame? Tanggung-tanggung amat, sewa toko saja!” ujar Rita


“Tenda gue memang rame, tapi kalau dihitung untuk biaya tenaga kerja, beli bahan makanan belum cukup untuk sewa. Lagi pula gue harus cari tempat yang strategis”


“Rit, bilangin, kalau kita invest gimana?” bisik Daniel


“Eh? Kamu yakin?” tanya Rita kaget


“Coba tanya aja dulu, siapa tahu dia tertarik” bisik Daniel dengan bahasa Inggris


“ War, kalau kita bantuin lo gimana?” ujar Rita


“Bantuin gimana? ini biaya berobat?” Anwar memberikan uang kepada Rita untuk mengganti biaya berobat untuknya. Daniel menolak


“Gak usah, murah kok!” ujarnya


“Katanya gak usah War!” ujar Rita mengembalikan beberapa lembar ratusan


“Beneran nih?” tanya Anwar


“Bener!, ya udah sudah malam nih, gue ninggalin anak-anak di rumah”


“Eh? Anak lo sudah berapa Rit?” tanya Anwar heran


“Mau tiga!” jawab Rita tersenyum


“Eh Rit, gue minta nomor WA lo ya?” , Rita memberikan kartu namanya


“Eh D’Ritz? Lo pemiliknya?” tanya Anwar


‘’Hehehe. Lo tahu juga ya?” tanya Rita


“Ada teman gue yang TKI di Singapura, dia penggemar roti dari D Ritz. Tiap pulang kerja beli kesitu, antrinya sampai panjang!”


“Hehehe..alhamdulillah..jadi War, hubungi gue kalau tertarik gue invest ya?”


“Eh, invest? Maksud lo?” tanya Anwar


“Maksud laki gue, kalau lo tertarik menjadikan tenda lo menjadi restaurant lo bisa hubungi gue!” ujar Rita


Anwar diam saja ia masih terkejut bertemu dengan teman lama yang membantu mengobatinya. Rita dan Daniel pun kembali pulang ke rumah.


Anwar membereskan tendanya, walaupun dengan tubuh sakit-sakit. Sejenak ia beristirahat, dan memindahkan nomor telepon Rita ke ponselnya.


“Tadi siapa bos?” tanya anak buahnya


“Mantan!” jawab Anwar


“oo..mantan, enak ya akur sama mantan” ujar anak buahnya


Anwar terus melihat kartu nama bertuliskan “Rita Kang, bussiness Owner “


Di mobil dalam perjalanan pulang


“Tadi berobat habis berapa?” tanya Rita


“Tiga ratus ribu”


“Lumayan ya?”


“Iya, tadi dia disuntik, kata dokter supaya gak infeksi” jawab Daniel sambil menyetir


“Kok kamu gak mau dia ngembaliin uang kamu?” tanya Rita heran


“Enggak ah, aku sudah niatin , kalau ada orang yang butuh berobat dan aku mampu, aku mau bayarin”


“Ih kamu baik banget!” Rita mengecup pipi suaminya


“Aku jadi ingat, dulu aku juga dikeroyok”


“Oh kasus yang dulu itu?”


“Iya, Cuma waktu aku gak ada cewek pemberani yang menghentikan”


“Jadi kamu gimana?”


“Aku pingsan sampai babak belur, begitu sadar aku sudah di rumah”


“Siapa yang bantuin?”


“Kakek kamu, keduanya mencariku, lalu menemukanku tergeletak di tengah jalan. Mereka membawaku ke rumah sakit”


“Jadi kamu mau membalasnya ke orang lain?”


“Aku pikir, saat itu bisa saja aku mati di tengah jalan kan? Tapi syukurlah ada dua orang yang mengenalku. Aku tidak percaya kebetulan, aku percaya saat itu Tuhan sedang menolongku melalui para kakek!”


Rita mengangguk


“Kamu sudah kenyang kan?”


“Sudah, aku tadi sempat makan gorengan lagi, nih tinggal pisang”


“Coba?” Rita memasukan pisang goreng ke mulut suaminya.


“Enak ya?”


“He eh!” Daniel mengangguk


Mereka pun tiba di rumah besar mereka


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2