Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 128: Rita Yang Sekarang


__ADS_3

Keesokan harinya Rita dibawa ke RS oleh Ratna dan Andi, Daniel datang menyusul.


“Jadi bagaimana Dokter?” tanya Ratna


“Begini bu, berdasarkan hasil evaluasi kami, terdapat gumpalan darah kecil di bagian otak anak ibu, sepertinya itu penyebab amnesia.”


“Apa tidak bisa dioperasi dokter?” tanya Ratna lagi


“Posisi gumpalannya tidak memungkinkan untuk dioperasi, tetapi berdasarkan beberapa kasus, biasanya gumpalan kecil seperti ini akan hilang dengan sendirinya, tetapi kapan hilangnya kami tidak dapat memastikan”


“Apa tidak ada tindakan lain dokter, agar anak ini bisa ingat lagi?” tanya Daniel tiba-tiba


“Menurut saya lebih baik, kalian mulai memberi ingatan baru padanya. Ingatan itu seperti kartu memori kalau terkena magnet akan rusak, untuk memperbaikinya ya di format ulang”


“Itukan kalau komputer dokter” timpal Andi


“itu hanya saran, kalau dari Kami itu yang bisa dilakukan!”


Pemeriksaan selesai, Rita di bawa pulang oleh Ratna dan Andi


“Ma, artis Korea itu dari kemarin ngikutin saja, apa dia gak dapat job?” tanya Rita berbisik, diam-diam ia mencuri pandang ke arah Daniel yang berjalan bersama Andi . Ratna tersenyum menepuk tangan Rita, mereka masuk ke mobil SUV velfire putih milik Darmawan.


“Di, Aku sampai sini ya?” pamit Daniel


“Oke , terima kasih sudah menemani!” jawab Andi


“Ibu saya permisi?”


“Iya, terima kasih Daniel!”


“Rita!” panggil Daniel, ia sungkan untuk berakrab dengan Rita yang tidak mengingatnya


“Ya Oppa, selama jalan!” jawab Rita dari dalam mobil, ia tidak memandang Daniel.


Daniel masuk ke mobilnya, hatinya sedih karena Rita seperti orang baru baginya.


Mobil yang ditumpangi Rita berjalan melan meninggalkan rumah sakit, di perjalanan Ratna mencoba merangsang ingatan Rita.


“Rita, kamu beneran gak ingat Daniel sama sekali?” tanya Ratna penasaran


“Daniel? Siapa?” tanya Rita bingung


“Oppa Korea yang tadi!”


“Hmm...enggak, kayaknya umurnya beda jauh ya sama Rita, gak mungkinlah Rita kenal Ma, oh iya Bang Andi, usia kita beda berapa tahun ya?”


“Abang?” Andi kaget Rita memanggilnya Abang


“Abang Becak kali!” ujar Andi ketus, Ratna terkikik.


“Berapa tahun Ma?” tanya Rita


“Cuma setahun kog, Cuma kak Andi ini pintar, jadi iya ikut program percepatan siswa di sekolah, jadi ia lulus lebih cepat.”


“Ooo begitu, Kalau Rita sekolah di mana ma?”


Ratna memutuskan untuk mengajak Rita ke sekolahnya. Mobil vellfire mewah memasuki halaman sekolah cukup membuat para siswa berpaling. Walaupun sekolah itu tergolong elite tetapi sebagian besar siswa yang bersekolah di sana merupakan anak bea siswa dari orang-orang kaya yang ingin berdonasi di bidang pendidikan, sehingga sekolah itu dipenuhi fasilitas yang mumpuni dan berkesan Elite. Sedangkan siswa dari keluarga mampu bisa dihitung dengan jari. Mobil velfire berhenti tepat di depan lobi sekolah, Ratna keluar dari mobil kemudian diikuti oleh Rita. Banyak mata menatap Rita dengan pandangan kagum.


“Oooh ini cucu konglomerat, jadi beneran kaya ya?” mereka berbisik di belakang Rita. Ratna dan Rita memasuki ruang kepala sekolah. Ratna menjelaskan keadaan Rita yang sebenarnya. Kepala sekolah sangat prihatin, ia akan mengkoordinasikan keadaan Rita kepada para guru kelasnya. Setelah bercakap-cakap dengan kepsek, Ratna dan Rita pun kembali ke mobil dan pulang.


Keesokan harinya, Rita diantar ke sekolah dengan mobil biasa, Ratna diberitahu oleh kepsek untuk tidak menunjukkan kemewahan di sekolah takut menimbulkan kecemburuan sosial.


“Mama, Rita berangkat ya?” Rita pamit ketika keluar dari mobil


“Hati-hati ya Nak? Nanti siang Alex yang akan menjemput kamu!” ujar Ratna dari dalam mobil, Rita mengangguk, ia pun masuk ke dalam sekolah.


Ketika tiba di kelas, beberapa anak berbisik-bisik membicarakan dirinya, Rita yang sekarang berbeda dengan yang dulu, Rita yang sekarang pemalu. Ia mengambil tempat duduk paling belakang. Sisca yang baru datang ke kelas, berlari menghampirinya


“Rita! Kamu tidak apa-apa?” Sisca mengkhawatirkannya, karena sudah seminggu Rita dalam keadaan koma


“Hah? Kamu siapa?” tanya Rita heran


“Ah masa Cuma seminggu gak ketemu kamu lupa?” tanya Sisca, ia pikir Rita bercanda. Guru kelas masuk, setelah mengabsen, ia menjelaskan keadaan Rita yang sebenarnya. Teman-teman di kelasnya ribut, respon mereka beragam, ada yang bersimpati, ada yang tidak peduli, bahkan ada yang menyukuri. Biasanya anak yang menyukuri keadaan Rita, anak-anak yang pernah berselisih dengannya. Sisca sangat prihatin dengan keadaan Rita, pada jam istirahat ia berusaha mendekatinya tetapi Rita didekati oleh beberapa orang siswa cewek.


“Hei Rit, kamu beneran gak ingat apa-apa?” tanya Shinta


“Kamu siapa?” tanya Rita heran


“Aku Shinta, ini Elsa dan ini Regina!”


“Hai!!!” sapa Rita ramah


“Jadi Rit, pulang sekolah kamu kemana?”


“Pulang sekolah ya pulang! Supirku datang menjemput!” jawab Rita polos


“Wow!!! Punya supir pribadi toh? Kami bisa ikut mobil mu gak?” tanya Elsa


“Rumah mu jauh?” tanya Rita


“Lumayan!”


“Boleh saja!”


“Asyiikk...mulai sekarang kita pulang diantar Rita yaa!!!” teriak Elsa girang. Sisca menghampiri mereka


“hei Kalian jangan mencoba memperalat Rita ya?” larang Sisca


“Memperalat apaan? Kamu jangan sok deh! Jangan mentang-mentang sesama orang kaya, bisa sembarangan sama kami!” Ujar Shinta galak


“Kalian yang keterlaluan! Aku tahu karena Rita tidak ingat apa-apa kalian mencoba mengambil keuntungan darinya kan?” ujar Sisca, ia sengaja mengatakan hal tersebut agar Rita paham apa yang ia hadapi . Tetapi sepertinya Rita tidak peduli, ia sangat senang mempunyai banyak teman


“Aku tidak merasa diperalat kog? Kamu juga mau ikut ?” tanya Rita. Sisca menggeleng, kemudian ia pergi menjauh. Sejak saat itu, hampir setiap hari Rita mengantar ketiga anak itu pulang, hal itu menyebabkan ia selalu terlambat pulang.


“Rita, sekarang banyak kegiatan di sekolah?” tanya Ratna. Sejak Rita sakit, Ratna tinggal di rumah besar itu, ia bekerja dari rumah. Darmawan mengijinkannya walaupun Ratna bekas menantunya, tetapi ia selalu menganggapnya sebagai anak perempuannya.


“Enggak ma biasa, jam 4!”


“Jam 4 ? sampai rumah jam 7? Kamu kemana saja?” tanya Ratna heran


“Rita mengantar teman-teman Rita ma!”


“Mengantar teman? Apa mereka gak bisa pulang sendiri?” tanya Ratna heran


“Hmm...kadang mereka minta diantarkan ke Departemen store. Mereka belanja banyak sekali!”


“Oh ya? apa mereka orang kaya?”


“Enggak ma, semua Rita traktir. Wah ternyata Aku banyak uang lho!” ujar Rita


Ratna terkaget-kaget, ia mengerti apa yang terjadi. Kemudian ia menghubungi dokter syaraf di RS. Keesokan harinya Rita tidak masuk sekolah, ia harus menjalani pemeriksaan kepala lagi.

__ADS_1


“Belum ada perubahan yang berarti bu!”


“Habis gimana ya dokter, anak saya sekarang ini seperti orang bodoh, akhir-akhir ini ia diperalat oleh teman sekelasnya, anehnya ia tidak keberatan sama sekali.” Ujar Ratna khawatir


“Kalau begitu, ibu ke bagian psikologi saja, kalian bisa mengatasi masalah kalian “ saran dokter syaraf


Ratna menuruti, mereka bertemu dengan psikolog, berdasarkan hasil tes, Rita yang sekarang ingin mendapatkan pengakuan dari teman-temannya selain itu ia juga merasa takut sendirian itu sebabnya ia menuruti kehendak teman-temannya.


“Tapi dokter, sampai kapan ini akan berlangsung? Rita yang dulu sangat percaya diri” tanya Ratna khawatir


“Semua tergantung Rita, jika ia ditanami rasa percaya diri maka perasaan ingin diakui yang terlalu besar bisa ia melalui semuanya” ujar psikolog


Ratna dan Rita pulang dari rumah sakit, selama di perjalanan, Ratna menasehati Rita.


“Rita sayang, kamu tahu kan, mencari uang itu sulit?”


“Iya ma?”


“Mama yakin, Rita yang dulu pandai menabung karena ingin membeli sesuatu untuk dirinya sendiri!”


“Apa gak boleh Rita membelikan teman-teman Rita ma?”


“Boleh saja Rita, tetapi ada batasnya. Apalagi kalau barang-barang mahal, sampai kamu harus menggunakan kartu kredit!”


“Tapi ma!”


“Rita kalau mereka sungguh-sungguh teman kamu, mereka tidak akan memperalat kamu! Coba uji mereka, apa mereka masih menemanimu kalau kamu tidak memberikan apa yang mereka mau?” ujar Ratna lembut, ia sangat sedih melihat Rita yang sekarang.


“Eh Rita, kamu gak mau jalan sama Oppa lagi?”


“Oppa? Ngapain? Enggak ah, bingung mau ngomong apa!”


Keesokan harinya di sekolah, Shinta dan teman-teman kembali mendekati Rita


“Hei Rit, kemarin kemana? Kita sudah nungguin lho! Elsa menemukan tempat baru untuk kita nongkrong!”


“Iya Rit, makanannya agak mahal sih, tapi kalau kamu bisa deh!”


“Ehm..teman-teman maaf ya, karena kita belanja banyak kemarin, mamaku menyita kartu kreditku. “ Ujar Rita berbohong, ia ingin menguji ketulusan teman-temannya


“Yahh..kog bisa begitu?” tanya Regina


“Kamu sih kemarin beli syal mahal banget!” ujar Elsa menyalahkan


“Memangnya uangmu habis Rit?” tanya Shinta tak percaya


Rita mengangguk


“Yaaaa gak seru!!” teriak Shinta


“Tapi kita masih diantar pulang kan?” tanya Elsa tiba-tiba


“Aku juga gak bisa pulang terlambat, karena harus ke RS untuk terapi”


“Terapi? Untuk Apa?” tanya Regina heran


“Sejak kepalaku terbentur, gerak motorik kedua tanganku kaku, kata dokter itu pengaruh benturan. Jadi aku harus melatihnya!”


“Untuk itu kamu harus ke RS? Mahal dong?” tanya Shinta lagi


“Itu dicover asuransi!” jawab Rita


Ketika jam istirahat, Elsa dkk makan di kantin sekolah, Rita yang baru keluar dari kelas melihat mereka bertiga dan menghampiri mereka


Elsa dan kawan-kawan segera bangkit dari tempat duduk mereka


“Sorry ya Rit, kita sudah selesai!” ujar Regina, mereka meninggalkan Rita sendirian.


Ketika di toilet siswa, mereka bertiga berembuk


“Ah payah! Si Rita sumber uang kita gak bisa dikerjai lagi!” keluh Shinta


“Iya nih, padahal aku sudah berjanji mau membelikan pacarku kemeja mahal yang di toko kemarin itu lho!” ujar Elsa


“Apa Ia cuma pura-pura kartu kreditnya di sita?” duga Regina mematut dirinya di cermin


“Ah sudahlah, kita gak usah dekati dia lagi, aku takut tiba-tiba ingatannya muncul. Kalian ingat kan terakhir kali berurusan dengannya?” ujar Elsa


“Iya, karena dia kita gagal membodohi adik kelas. Gara-gara dia kita kena hukuman!” ujar Shinta


“Eh, apa Rita yang amnesia itu, masih ingat kemampuan bela dirinya?” tanya Regina tiba-tiba


“Kamu mau coba?” tanya Elsa


“Ih, serem amat, jangan kita! Kamu tahu kan cowok yang kemarin berselisih dengannya?” ujar Shinta


“Siapa?”


“Alfons!”


“Kenapa dengan cowok genit itu?” tanya Elsa


“Alfons dilukai oleh Rita hingga ia membawa urusannya ke polisi” cerita Shinta


“Oh ya? kog aku gak up date?” tanya elsa


“Aku diceritakan oleh pacarku, dia temannya Alfons!”


“Apa Rita ditahan?” tanya Regina


“Tidak, ternyata Alfons yang melecehkannya lebih dulu, dan itu terungkap dari CCTV sekolah”


“Alfons tidak hanya genit dan kurang ganteng, dia juga bodoh!” ujar Regina


“Bodoh?”


“Seharusnya ia menghindari CCTV, jika begitu hanya tinggal ucapan dia dan Rita!” ujar Regina


“Walau aku gak suka dengan Rita, tetapi aku tidak setuju dengan tindak pelecehan, itu merendahkan perempuan!” ujar Elsa


“ Iya aku tahu, feminis macam kamu!” ujar Regina menggandeng Elsa. Mereka bertiga pergi meninggalkan toilet. Mereka tidak tahu percakapan mereka direkam oleh Sisca.


Hari Sabtu pagi, Sisca sengaja datang ke rumah Rita. Ia sangat takjub dengan besarnya rumah Rita.


“Hei, selamat pagi!” sapa Rita ramah, ia mengajak Sisca masuk ke dalam rumahnya


“Kamu namanya siapa ya?” tanya Rita


“Aku Sisca!” jawab Sisca sebal


“Ah iya Sisca, ayo masuk, kebetulan kita lagi sarapan!” ajak Rita

__ADS_1


Darmawan, Ratna, dan Andi sedang sarapan bersama


“Selamat pagi!” sapa Sisca


“Selamat Pagi!” jawab mereka bersamaan


“Oh teman Rita ya?” tanya Ratna ramah


“Iya Tante, saya Sisca!”


“Silakan duduk Sisca!, Lee, tolong sediakan satu piring lagi untuk Sisca!” pinta Rita


Lee datang membawa piring kosong, sendok, pisau dan garpu.


“Silakan!” ujar Lee


“Silakan ambil yang kamu suka Sisca!, oh ya aku kakeknya Rita” ujar Darmawan ramah


Sisca mengangguk, ia mengambil 2 tangkup roti bakar dan omelet. Ia juga mengambil jus jeruk


Mereka sarapan dengan tenang.


“Kamu suka berkuda Sisca?” tanya Darmawan


“Tidak kek!”


“Hmm..mungkin sesekali kamu bisa ajak Sisca untuk berkuda Rita!” ujar Darmawan


“Apa aku bisa berkuda Kek?” tanya Rita


Ratna, Andi dan Darmawan saling berpandangan, mereka lupa Rita yang sekarang lupa segalanya.


“Yaa, kalian berdua bisa mencobanya!” ujar Darmawan lagi.


Selesai sarapan, Sisca dan Rita berbicara di teras depan kamar Rita. Di situ tersedia teh manis hangat dan roti-roti.


“Sisca, ada apa pagi-pagi kamu sudah datang kemari?” tanya Rita


“Aku harus pergi jam 10 nanti, jadi sebelum itu aku ingin menunjukkan kamu ini!” Sisca memberikan rekaman video percakapan Shinta CS.


Rita menonton video itu dengan serius.


“Ooh ternyata mereka bukan temanku ya?” ujarnya


“Dari awal aku ingin memperingatkanmu Rit, tetapi kelihatannya sulit untuk mendekati mu!”


“Sisca, apakah kamu teman aku?” tanya Rita


“Kita baru kenal semester ini, kamu menemaniku ketika kakekku meninggal, kamu juga telah banyak membantuku!” ujar Sisca


“Jadi di sekolah aku tidak punya banyak teman?”


“Sebenarnya kamu lebih senang menyendiri di depan perpustakaan, hanya beberapa orang yang berhasil mendekatimu!”


“oh ya siapa?”


“Aku dan Kevin!”


“Kevin? Siapa itu?”


“Ini!, dia cowok yang pernah dekat denganmu!”


Sisca menunjukkan foto Kevin di ponselnya


“Kamu banyak menyimpan foto Kevin, apa kamu menyukainya?” tanya Rita


“Sebenarnya Kamu berjanji akan menjadi comblang antara aku dan Kevin tetapi kelihatannya Kevin lebih menyukaimu Rit. Dari pada aku sakit hati, lebih baik aku merelakannya” ujar Sisca sedih


“Merelakan Kevin untukku?” tanya Rita, Sisca mengangguk


“Apa aku menyukainya?” tanya Rita


“Mungkin, karena beberapakali kamu banyak membantunya!”


“Begitukah? Apakah Kevin yang aslinya sama gantengnya dengan difoto ?”


“Kamu bisa cari tahu sendiri, Rita, aku harus pergi. Mamaku sudah menungguku di depan gerbang rumah mu!”


“Ajak masuk dong!”


“Lain kali ya Rit, Kami ada urusan penting yang tidak bisa terlambat!”


“Baiklah, terima kasih Sis atas infonya, hati-hati di jalan dan salam sama mamamu!” ujar Rita ketika ia mengantarkan Sisca sampai depan pintu masuk. Sisca pun berlalu, Lee menghampiri Rita


“Mba Rita sudah ditunggu Mary di ruang latihan!”


“Mary? Siapa lagi itu?” gumam Rita bingung


Ia berganti pakaian olah raga, lalu menemui Mary di gym. Ketika tiba di sana ia mendengar 2 orang sedang bertanding. Ternyata Daniel dan Mary sedang bertanding, Rita memperhatikan Daniel yang hari itu mengenakan t-shirt buntung berwarna merah dan celana sebatas dengkul. Rambut coklatnya diikat oleh ikat kepala putih. Penampilan Daniel cukup membuat Rita terpana.


“Ganteng juga ya Oppa ini” batin Rita


Daniel melihat kedatangan Rita


“Ah Rita!” panggilnya


“Anyeong Haseo!” sapa Rita


Daniel hanya mengangguk


“Sekarang ia selalu mengajakku berbahasa Korea”Ujar Daniel kepada Mary. Ia menghentikan kegiatannya dan mengambil air minum


“Rita, aku mendengar keadaanmu, apa kamu baik-baik saja?” tanya Mary, nada suaranya terdengar cemas.


“Maaf Anda siapa ya?” tanya Rita bingung


“Aku Mary, pelatih mu”


“Oh Mary, senang kenal denganmu!”ujar Rita lagi


Mary melihat ke arah Daniel, ia mengangguk mengerti


“Rita, terakhir kita berlatih, aku mengajarkan gerakan untuk mengatasi tenagamu yang berlebihan, kamu mau coba?” tanya Mary. Daniel memperhatikannya dari jauh.


“Oh ya gerakan seperti apa?” tanya Rita


Tiba-tiba Mary memukul lengan Rita.


“Auw!!!” Teriak Rita memegang lengan atasnya


“Sakit tahu!” ujarnya

__ADS_1


“Ayo balas aku Rita!” ujar Mary memprovokasi


_Bersambung_


__ADS_2