Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 286: Kembali ke Swiss


__ADS_3

“Sayang, Kamu tahu gak sebulan ke depan di Swiss sedang musim dingin” ujar Daniel pada suatu pagi pada istrinya. Mereka baru saja selesai sarapan dan Daniel sedang menunggu dijemput mobil untuk ke kantor


“Oh ya? dingin banget ya?” tanya Rita


“Dingin, di mana-mana putih. Tapi yang paling seronok itu kalau siang. Ada putih ada hijaunya juga!”


“Seronok? Apaan tuh?”


“Seronok, oh itu bahasa Melayu, artinya Indah. Kemarin seharian meeting dengan klien pakai bahasa Melayu campuran Inggris jadi ketularan” jawab Daniel tersenyum


“Hijaunya itu pepohonan?”


“Ya pohon, ya rumput. Kalau pagi kita bisa bikin boneka salju.”


“Memangnya kamu pernah?”


“Enggak sih, tapi aku lihat tetangga depan rumah pada bikin itu”


“Kapan kamu ke Swiss lagi?”


“Bulan depan!”


“Berapa lama?”


“Hmm....Satu bulan?”


“Lama juga ya?” Rita bangkit karena Rayya selesai menyusu.


“tin-tin!” suara mobil jemputan sudah datang


“Nanti kita lanjutkan ya?, aku berangkat!” Daniel mengecup kening istrinya dan pipi anaknya.


“Dadah!! Papi!!!” Rita mengantarkan suaminya sampai mobil


Tak berapa lama Andi, Kakek Darmawan beserta Ranna dan Raffa baru saja kembali dari berkeliling daerah sekitar rumah.


“Dadah!! Ranna ,Raffa! Kakek! Uwa! ” Daniel memanggil mereka dari mobilnya


“Papi!!!” kedua anak kompak membalas panggilan papinya


“Papi kemana Dek?” tanya Andi


“To Office!” jawab Raffa


“Oh, pulangnya kapan?”


“evening!”


“Rajin ya si Daniel” Kakek yang mengendarai kursi roda elektrik memangku Ranna, sedangkan Raffa kadang berjalan, kadang digendong Andi.


“Kakek sudah gak marah kan sama Daniel?” tanya Andi


“Marah? kapan kakek marah?”


“Berkali-kali kakek menghindarinya, apalagi kalau bukan marah?”


“Kakek kecewa padanya, kakek pikir dia bisa menggantikan Radian eh malah bikin besar perusahaan lain!”


“Lalu apa yang membuat kakek berubah pikiran dan memaafkannya?”


“Sebenarnya, beberapa bulan setelah Radian meninggal dan sebelum kakek jatuh sakit, kakek mendengar percakapan para top eksekutif di Dar.Co Singapura.”


“Percakapannya tentang apa Kek?”


“Tentang pengganti Radian di Dar.Co.”


“Lalu?”


“Kakek mendengar pendapat mereka tentang Daniel, wah ucapan mereka benar-benar jahat! Kalau saja mereka bukan pemegang saham kakek sudah pecat-pecatin!”


“Begitu kek? Tapi kakek bilang, ucapan mereka gak usah dipikirin, balas dengan bekerja baik?”


“Gak usah saja! Kakek saja yang mendengar ucapan mereka, hati dan kepala jadi panas. Tangan terkepal pengen mukul mereka satu per satu! Bahkan si cantik di top eksekutif tidak kalah culasnya pada Daniel!”


“Kenapa mereka bisa benci begitu ya? padahal dari sisi pendidikan Daniel sudah S3 business Administrasi, hanya karena latar belakang perekrutannya yang kontroversi di Dar.Co jadi diributin terus.”


“Memang! Mereka gak peduli, padahal berkali-kali proyek yang berhasil dimenangkan Daniel itu memberikan keuntungan besar buat mereka!” ujar Kakek geram


“Tapi kakek untung banyak juga kan??”


“Tentu dong! Anggap saja investasi kakek ke Daniel sudah balik modal! Lagi pula Daniel sudah memberikan banyak cucu yang lucu buat kakek...hehehe....kak Ranna ngantuk ya? tidur deh sebentar lagi sampai kok” Ranna menyenderkan tubuhnya di dada aki eyangnya.


“Apa benar kakek akan melepaskan nama Darmawan di Singapura?” tanya Andi


“Iya! Kakek akan melepas Dar.Co cabang Singapura, kamu kan pegang yang di Auckland, kakek mau concern sama yang di Jakarta saja!”


“Jakarta? Tapi bukan Dar.Co?”


“Sebentar lagi jadi Dar.Co, Kakek menukarkan saham kakek di Dar.CO singapura dengan Dar& Partner di Jakarta. Kakek sedang menunggu kabar dari para lawyer!”


“Si O bagaimana kek? Dia kan sedang pegang proyek di Singapura jadi head projectnya lagi”


“Tanya deh kapan projectnya selesai, lalu tawarkan apa mau lanjut di Singapura atau ikut Dar.Co Jakarta. Bilang begitu sama si O!” ujar Kakek


“Hei Kalian baru kembali?” Rita menghampiri Andi yang kelihatan kepayahan menggendong Raffa yang tertidur digendongannya


“Iya! Daniel sudah berangkat Rit?” tanya Andi basa-basi


“Sudah kak!, dia selalu dijemput jam setengah 9!”


“Makan yuk! Kakek lapar!” ajak kakek


“Makanan sudah tersedia kek, biar anak-anak Rita mandikan dulu!” Rita menggendong kedua anak batitanya


“ups..hati-hati Rit, mereka berat lho!” ujar Andi melihat cara Rita menggendong kedua batitanya


“Kalau digendongnya begini enggak kak!” Rita meletakkan keduanya di bahu seperti layaknya ia mengangkat beras


“Kamu tuh Rit, masa anak mu disangka beras!” ujar Darmawan heran


“Ini masih mending Kek, Daniel selalu membawa mereka seperti tas, anehnya mereka selalu geli tertawa!” jawab Rita sambil masuk ke kamarnya


“Kita memperlakukan anaknya kayak kristal, eh bapak-emaknya malah memperlakukan kayak beras dan tas, lucunya mereka senang lagi” gumam Andi


“Makan yuk Di!”


“Ayuk kek!”


Saat makan siang tiba, Rita bersama ketiga anaknya makan di ruang makan bersama kakek dan Andi.


“Kak Andi, kapan kakak kembali ke Auckland?” tanya Rita sambil menyuapi Rayya


“Insya Allah minggu depan!”


“Oh minggu depan ya?”


“Kenapa?”


“Kakek apa benar kakek akan tinggal di sini saja? Apa ikut kak Andi?” tanya Rita lagi


“Mungkin akan di sini Rit, kenapa? Kamu mau pergi?” tanya kakeknya


“eemm...sebenarnya bulan depan Daniel akan tugas di Swiss selama sebulan, dan Rita berniat ikut”


“Tumben, biasanya lo gak mau ikut, apalagi kegiatan lo banyak kan?” tanya Andi


“Di Swiss lagi musim dingin kak, Rita pengen ngerasain musim dingin di Eropa”

__ADS_1


“oo begitu!”


“Eh kakek ikut Rita saja gimana? di Swiss enak lho kek! Airnya bersih, udaranya juga masih bersih mirip di Auckland!”


“Kalau mirip Auckland, mendingan kakek ke Auckland saja. Eh iya deh Ndi, kakek ke Auckland minggu depan”


“Kakek lebih milih kak Andi daripada Rita?” ujar Rita kecewa


“Bukan begitu Rit, kalau di Swiss itu bukan rumah kalian, kakek agak risih kalau gak tinggal di rumah sendiri. Lagi pula kakek kangen sama kuda kakek”


“oh iya kemarin Lee nelpon, Ellen kuda Rita baru saja beranak, anaknya jantan lagi”


“Wahh...selamat Rit!!!”


“Terima kasih kak!, sekarang Ellen sedang dalam masa pemulihan, apa Ellen masih ingat Rita ya?”


“Ingat dong! Pasti deh, mungkin kalian bisa mampir ke Auckland sepulang dari Zurich?” tanya Darmawan


“Nanti Rita tanya Daniel, kek!”


Minggu depannya Andi dan Kakek telah pergi ke Auckland, rumah kembali sepi.


“Mami lagi ngapain?” tanya Ranna


“Beres-beres!” Rita sibuk packing untuk berangkat ke Swiss


“Cleaning up?” tanya Raffa


“Bukan, packing !” jawab Rita


“Mami, we go again?” tanya Raffa


“Yes! We go to Swiss! Remember Beatrice?”


“Ahh...grany Beatrice!”


Keberangkatan ke Swiss kali ini, Rita membawa dua baby sitter lelaki, Anthony dan Ryan. Anthony lebih tampan dari Ryan, Ranna hanya ingin digendong oleh Anthony


“Si bayi centil!” gumam Rita sambil memperhatikan Ranna yang terus melihat wajah Anthony saat di gendong


“Hahaha..biar saja, yang penting Ranna bisa diam!” ujar Daniel, ia menggendong Rayya


Penerbangan berlangsung aman dan mereka tiba dengan selamat di rumah dinas.


“Alhamdulillah!!!” Rita setengah berteriak ketika telah tiba di depan pintu


“Hush! Berisik!” Daniel memperingatkan, ia membuka pintu rumah,


“Assalamu’alaikum....” Rita dengan menggendong Rayya langsung berlari ke lantai 2 menuju kamar utama, sementara Daniel menyuruh ART membawa barang-barang mereka ke lantai 2. Dan menunjukkan kamar anak-anak serta kamar para nanny.


Rita sudah meletakkan Rayya di tempat tidurnya, sementara ia bergulingan di ranjangnya


“Aku kangen ranjang ini, bantal ini....hhhmmmm.....smell good!!!”


Daniel tersenyum melihat tingkah istrinya yang ke kanak-kanakan.


Rita memfoto dirinya dengan bantal kesayangannya dan mempostingnya di medsos.


“Wah ngapain kamu motoin bantal begitu?” tanya Daniel, ia telah berganti pakaian, sementara Rita masih mengenakan baju hangat serta celana jeans


“Karena aku sangat menyukai bantal ini!” ia memeluk lagi


“Kamu ganti baju deh! Kotor kan? Aku mau sholat Isya!”


“Eh iya!” Rita segera turun dari ranjangnya, ke toilet untuk membersihkan dirinya.


“brrr...dingin...apa pemanas gak dinyalakan?” ia menelpon ART di bawah


“Sudah menyala bu, tetapi karena suhu dingin mencapai negatif 5, airnya butuh waktu lama untuk hangat lagi” terang ART


“Oh begitu, baiklah terima kasih” Rita mengambil selimut dari ranjangnya, tubuhnya menggigil kedinginan


“Hmm...lebih hangat kalau berdua kan?”


“Iya!” jawab Rita tersenyum, Daniel mencium bibir istrinya


“Eh, aku belum bersih!” jawab Rita


“Hanya mencium saja!” mereka berciuman lalu tertidur sambil berpelukan.


Keesokan paginya,..


“Selamat pagi Beatrice!” sapa Rita riang, ia melihat ketiga anaknya telah rapi dan duduk tertib di ruang makan.


“Wah adek, siapa yang memandikan?” tanya Rita


“mr.Tony! Adek wet her bed!” cerita Raffa sambil melahap makanannya


“Oh Tony, terima kasih! Ayo makan bersama kami!” ajak Rita


“Baik bu!” Tony dan Ryan makan pagi bersama Rita dan anak-anak, setelah itu mereka membawa anak-anak untuk bermain.


“kalian tahu tempat bermainnya?” tanya Rita


“Tahu bu, suster Rini memberikan videonya selama ia di sini” jawab Ryan


Rita memperhatikan anak-anaknya yang telah memakai jaket , sarung tangan hingga penutup telinga.


“Nanti kalau kedinginan lebih baik main di dalam rumah saja!” ujar Rita


“Gak mau! Aku mau main di taman!” rengek Ranna


“Iya..iya!” Rita mengijinkan.


Ranna dan Raffa dibawa oleh kedua baby sitter ke taman, sementara Rayya bersama Rita di rumah.


Pukul 10 pagi, seseorang mendatangi rumah mereka.


“Ya?” Rita membuka pintu


“Rita!!!” Metha telah berada di depan pintu rumah dan ia memeluk Rita.


“Tante Metha! Kok tahu?” tanya Rita heran


“Tante melihat medsos mu, dan mengenali lantai rumah ini, ah Rita sedang di Zurich!” ujar Metha langsung masuk ke dalam rumah


“ayo ke ruang tengah tante, lebih hangat!” ajak Rita, sebenarnya sejak kunjungannya ke rumah Metha yang lalu Rita menjadi kurang suka padanya tetapi karena sudah terlanjur Metha datang dia tidak bisa menolaknya.


“Beatrice, ini tante ku Metha, bisa buatkan kopi atau teh yang hangat?” pinta Rita


“Kopi saja!” jawab Metha tersenyum,


“Kalau begitu kopi 2 Beatrice, terima kasih!” ujar Rita


Beatrice pergi sambil tersenyum


“Wah...ini rumah Daniel Rit?”


“Bukan Tan! Ini rumah dinasnya Daniel selama bertugas di sini”


“Sebenarnya papa juga punya apartment di pusat kota, kalian bisa tinggal di sana dan lebih dekat ke kantornya Daniel..Lexington kan?” ujar Metha sambil memperhatikan sekeliling rumah


“Daniel gak mau Tan!, dia bilang ini kan kerjaan dari Lexi sudah seharusnya fasilitas dari Lexi bukan dari Darmawan!” jawab Rita


“Anak-anak mana Rit?”


“Oh mereka sedang main di taman, katanya mau melihat salju! Tante kenapa gak membawa anak-anak tante?”

__ADS_1


“Mereka sedang berada bersama papanya” suara Metha tampak tidak suka


Beatrice datang membawa kopi dan cemilan


“Ah roti jagung! Enak banget, masih hangat lagi. Ayo tante dicoba!” Rita memberikan kopi dan roti jagung kepada tantenya


“Terima kasih” Metha menyeruput kopi dan memakan rotinya.


“Ah..enak sekali!!! Siapa tadi?”


“Tadi? Oh itu Beatrice, dia pinter masak, jahit, membersihkan rumah, itu tante bantal yang Rita foto di medsos, Beatrice yang mencucinya, wangi dan bersih!”


“Oh ya? kamu memang beruntung Rita!” ujar Metha tersenyum


“uhukk...uhukk...huuaaaa!!” suara Rayya menangis di lantai 2


“wah Raya menangis, Rita tinggal sebentar ya, tante gak buru-buru kan?”


“Enggak! santai saja Rit!” jawab Metha


Rita ke lantai dua untuk menenangkan Rayya


“wah, popoknya penuh ya? ganti dulu ya?” Rita mengganti popok Rayya, lalu mengganti bajunya.


“Nah sudah beres, yuk ketemu oma Metha!” ajak Rita, ketika ia kembali Metha telah terlelap di sofa di ruang tengah. Wajah lelah terpancar, perlahan Rita meninggalkan ruang tengah dan pergi ke dapur.


“Tante ku sedang tidur” ujarnya pada Beatrice


“Iya, tadi saya melihatnya.” Jawab Beatrice tersenyum


“Jadi Beatrice, bisa kamu membagi resep roti jagung tadi?” pinta Rita


“Tentu saja, mudah kok membuatnya. Anda hanya membutuhkan jagung, tepung, kuning telur, susu serta baking soda. Semua dicampur lalu tambahkan gula dan ..” Beatrice menerangkan, tiba-tiba Rita melihat melalui jendela dapurnya


“Sebentar mam!” dia langsung membuka pintu dapur dan memanggil para nanny untuk masuk melalui pintu dapur.


“lewat sini!” teriak Rita, ia tidak ingin suara ribut anak-anaknya membangunkan Metha


“huuuu...huuuu..” Ranna menangis


“Kenapa kak Ranna nangis?” tanya Rita sebelum ia menjawab Raffa menjawab lebih dulu


“She hit a boy!” jawab Raffa


“I didn’t!” elak Ranna , ia takut dimarahi


“yes you did!” ujar Raffa


“Kenapa Ranna sampai memukul?” tanya Rita pada Tony


“begini bu, Ranna bermain ayunan lebih dulu, lalu ada seorang anak lelaki menghampiri dan ia ingin ayunan yang Ranna mainkan.


Ranna menolak, dia lebih dulu di situ. Saya juga menengahi. Tiba-tiba anak itu berteriak memaki Ranna. Ia menyebut Ranna si mata sipit. Saya pikir Ranna tidak tahu artinya, jadi saya biarkan. Eh ternyata Ranna turun dari ayunan dan menampar pipi anak itu dua kali!”


“Lalu, apa ada yang marah?” tanya Rita


“Sebelum pengasuh anak itu datang kami langsung kabur dari tempat itu bu” jawab Ryan


“Ahh..baiklah, untuk sementara kalian jangan main ke tempat itu dulu ya, main di rumah saja atau kita ke play ground, gimana?” tanya Rita menghibur


“Bener ma? Asyik!!!” Ranna lega tidak dimarahi


“Tapi kakak, lain kali jangan main pukul ya? nanti kalau dibalas pukul kak Ranna luka bagaimana?” ujar Rita lembut


“Enggak!” jawab Ranna


“Enggak apa?”


“Anna gak akan luka karna ada mr.tony!” Ranna menunjuk tony


“Oke deh! Ya udah main di atas saja, eh pelan-pelan ya? di ruang tengah ada tante Metha lagi tidur jangan mengganggunya”


Ryan dan Tony membawa kedua batita ke kamar mereka untuk bermain, sementara Rita dan Rayya tetap di dapur.


“Aku heran, di sini masih ada saja yang rasis ya?” tanya Rita ke Beatrice


“Biasanya yang masih rasis itu ada keturunan Jerman, mereka terkenal rasis.” Ujar Beatrice


Sore menjelang, Metha baru bangun dari tidurnya


“Ahh...jam berapa ini?” ia melihat jam di tangannya, ia bangun dari sofa, sudah lama ia tidak lelap tertidur. Ia berjalan ke dapur, dimana Rita sedang membantu Beatrice menyiapkan makan malam.


“Tante sudah bangun, enak sekali tidurnya” sapa Rita


“Sofa itu nyaman sekali, kamu benar Beatrice mencuci sarung bantalnya membuat aku nyaman, itu wangi lavender ya?” tanya Metha


“Benar sekali bu!” jawab Beatrice tersenyum


“Rita, boleh aku menginap di sini?” pinta Metha


“Beatrice, apa kita punya kamar ekstra?” tanya Rita


“Di sofa seperti tadi juga gak masalah!” ujar Metha bersikeras


“Jangan!, ada kok kamar ekstra, di samping kamar utama, nanti saya minta Eden untuk membersihkannya!” ujar Beatrice, ia mengangkat telepon dari dapur dan mengatakan sesuatu dalam bahasa perancis.


Beberapa menit kemudian dua orang datang lalu mereka membersihkan kamar di lantai 2.


Malam harinya Metha makan malam bersama keluarga Rita.


“Tante Metha, kita terakhir bertemu di pertemuan tentang warisan ya?” tanya Daniel basa-basi


“Iya, waktu itu Radian masih ada ya? oh iya Niel, bagaimana dengan harta peninggalan Radian? Seperti rumah dan mobilnya?” tanya Metha


“Wah, saya tidak tahu tante, karena setelah saya tugas di Singapura sudah tidak mengurusi urusan pak Radian”


“Begitu? Aku pikir karena kalian dekat seperti saudara, mungkin Radian memberikan hartanya pada mu”


“Saya pikir gak mungkin tante, apalagi masih ada kakak-kakaknya om Radian kan? Mereka pasti berebutan harta adiknya” ujar Rita


“iya ya benar juga! Aku sering lupa kalau Franky itu ada”


Selesai makan malam, mereka kembali ke kamar masing-masing.


Metha membuka jendela kamarnya untuk merokok, hatinya sedang gundah. Sayup-sayup ia mendengar percakapan antara Daniel dan Rita dari kamar sebelah.


“Sayang, tadi siang Ranna memukul seorang anak lelaki”


“Kenapa?”


“Anak itu meneriakinya dengan sebutan ‘mata sipit’, jadi dia memukulnya”


“Mata sipit? Apa Ranna tahu artinya?” tanya Daniel heran


“Mungkin ia merasa anak itu menghinanya, lalu ia menamparnya 2x di pipi”


“Kemana Antony?”


“Dia kecolongan, katanya Ranna tidak bisa ditebak!”


“Hmm...mirip maminya!” ujar Daniel


“Apa kamu bilang? Ranna itu mirip kamu tahu! Orang-orang saja bilang!” Rita menggelitik pinggang Daniel


“Tapi sifatnya mirip kamu!” Daniel kegelian, mereka saling menggelitik dan bergulingan


“Kamu sudah bersihkan?” tanya Daniel, Rita mengangguk, mereka berpelukan dan melanjutkan dengan bercinta.

__ADS_1


“Ah sialan!” maki Metha, ia membuang rokok dan kembali ke kamarnya.


_Bersambung_


__ADS_2