Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 330: Hujan Badai


__ADS_3

Di kamarnya, suami dan anak-anak sedang rebahan sambil menonton berita di tv.


"Asyik sekali kalian, ada berita apa?" Tanya Rita melihat keseriusan suaminya


"Itu! Hujan badai!"


"Dimana?"


"Di pusat kota! Angin kencang! Potensi banjir" Ujar Daniel serius


"Beneran?" Rita turut menatap layar TV.


"Alhamdulillah..kalian gak ke sekolah, kalau enggak bisa terperangkap di sekolah" ujar Rita lega


"Iya, aku juga kaget, tadi Allan kembali ke rumah ini"


"Sudah sampai mana tadi?"


"Baru setengah jam perjalanan, jalan menuju ke kantor sudah ditutup polisi karena berbahaya, jadi dia kembali ke rumah ini"


"Tadi Emir datang, belum ada badai"


"Jam berapa dia datang?"


"Hmm...satu jam yang lalu"


"Mungkin waktu Emir belanja belum kencang anginnya"


"Mungkin juga, yang penting dia sudah aman di rumah ini" ujar Rita lega.


"Oh iya, bakso sudah jadi, aku minta dibawa ke kamar anak-anak"


"Yuk kita makan bakso!" Ajak Daniel


Ketiga anak mengikuti papinya.


Mereka ke kamar sebelah, disitu bakso dan perlengkapan makan tersedia lengkap.


"Wah ..ini seperti ruang makan kedua!" Ujar Daniel kagum


"Aku pikir kamu malas harus balik lagi ke ruang makan, jadi aku minta bakso ini dibawa kemari"


"Memang, aku malas ke bawah lagi, terlalu jauh!" Daniel menyantap hidangan bakso yang telah disediakan. Rita menyuapi Rayya, dengan memotong bakso menjadi lebih kecil.


"Pelan-pelan makannya kak, bang, tadi mami sudah bikin baksonya kecil, tapi kalau kurang kecil bisa dipotong lagi supaya makannya gampang"


Semua makan bakso dengan serius.


"Bagaimana rasanya?" tanya Rita penasaran


"Enak mi! Ini rasanya otentik apa kamu improvisasi?" Tanya Daniel


"Otentik tapi aku naik kan sedikit levelnya "


"Enak mi!" Puji Ranna, ia menyukai bihun putih, ia melahapnya tanpa putus


"Abang suka?"


"Ya!" Jawab Raffa mengangguk


"Ini bukan makan siang kan?"


"Bukan! Ini selingan saja, baru jam 11!"


Suara angin di luar menakutkan anak-anak, para staf rumah segera menutup jendela dengan rapat dan kunci khusus.


"Abang sudah tahu hari ini akan badai?" Tanya Daniel


Raffa menggeleng


"Kok pas sekali ya? Waktu di Swiss dia memperingatkan ada badai salju" ujar Daniel ke Rita


"Namanya firasat kadang gak bisa diandalkan!" Rita menyuapi Rayya yang makan dengan lahap, ia menyukai mie kuningnya.


Angin kencang merubuhkan beberapa pohon di pekarangan rumah.Daniel tampak khawatir , ia bertanya pada salah satu staf keamanan.


"Apa kita aman dari badai?"


"Daerah sini memang sering badai pak, karena itu kami paling siap menghadapi. Semua jendela dan pintu sudah dikunci dengan kunci khusus anti badai, seharusnya aman"


"Mudah-mudahan kamu benar!"


Tiba-tiba listrik mati, lampu padam keadaan gelap.


"Mami!" Anak-anak berlari berlindung ke maminya.


"Gak apa-apa, yuk ke kamar mami saja!" Ketiga anaknya merapat ke kamar orangtuanya. Genset kembali menyalakan lampu dan pendingin ruangan .


"Alhamdulillah... Di sini memang lebih siap daripada di Swiss dulu ya?" Ujar Rita


"Iya, mereka bilang daerah ini memang sering hujan badai jadi mereka sudah mempersiapkan semua pertahanan"


Daniel menenangkan anak-anaknya yang ketakutan. Rita membaca doa saat badai. Beberapa saat kemudian anak-anak mulai tenang.


"Aku ke tempat Allan dulu ya, tiba-tiba aku teringat sesuatu "


"Iya!"


Daniel menemui Allan yang berteduh di rumahnya


"Syukurlah kamu bisa kembali kemari"


"Iya pak, tadi jalan ke kantor sudah ditutup karena air sungai meluap"


"Ada sungai di sini?"


"Ada pak! Kalau angin badai seperti ini biasanya sungai nya meluap jadi banjir bandang"


"Bagaimana pegawai yang lain?"


"Mereka menginap di kantor pak, agaknya badai ini akan terjadi sampai malam"


"Cuaca ekstrim ya? Kamu sudah siapkan kamar tamu untuk mu dan supir?"


"Sudah pak!"


"Kamu bisa ikut makan siang bersama kami"


"Tidak usah pak, saya terbiasa makan bersama karyawan"


"Saya kan juga karyawan "


"Iya juga ya pak!"

__ADS_1


"Ayolah makan bersama kami gak usah sungkan!"


"Baiklah pak!"


"Nanti Emir akan memberitahu kalau sudah waktunya makan siang."


"Baik pak!"


"Mumpung kamu di sini, kita ke ruang kerja ku saja!, Aku ingin mendiskusikan sesuatu "


Allan mengikuti Daniel ke ruang lain di lantai satu.


Sementara di lantai 2, untuk mengalihkan perhatian dari badai di luar, Rita mengajak anak-anak bermain di kamarnya.


"Eh, kemarin waktu di toko buku kalian beli mainan apa?"


"Aku beli puzzle!" Jawab Raffa, ia mengambil Puzzle yang masih terbungkus dalam kotak dan menunjukkannya ke Rita.


"Abang kemarin beli ini?" Tanya Rita


"Iya mi!"


"Pakai uang Abang?"


"Iya!"


"Pintar!" Rita mengusalu kepala Raffa, lalu membaca kardus puzzle


"Ada 200 pcs lho bang, Abang bisa?"


Raffa tidak menjawab, ia sudah tenggelam kesibukannya menyusun puzzle.


Rayya melihat keasyikan Raffa, ia hendak mengacaukan.


"Adek! No!" Rita segera menggendong Rayya menjauh dari Raffa.


"Adek belajar bunyi saja ya? Kemarin buku baru nya mana?"


Rayya berlari mengambil buku baru dan memberikan ke maminya.


"Nih, Dek suara mobil..motor ..kereta"


Rayya serius menyimak. Lalu ia sendiri memencet suara yang keluar di tiap gambar. Ia asyik sendiri dan mengucapkan


"Car! Bus! Motolcicle..."


Rita memperhatikan anak sulungnya yang asyik mewarnai.


"Kakak kemarin beli buku mewarnai?"


"Iya mi, sama clayonnya"


"Kok beli crayon lagi, kan kemarin sudah ada yang dari kado?"


"Yang itu, walnanya ada yang ilang mi"


"Warna apa yang hilang?"


"Pink"


"Pink!" Rayya berlari ke lemari buku, ia memanjat


"Adek!" Rita menghampiri, khawatir Rayya jatuh.


"Oh!" Rita mengerti, dia membantu Rayya mengambil crayon warna pink yang ada di lemari bagian atas


"Nih kak!" Rita memberikan crayon pink ke Ranna


"Wah ada lagi!" Ranna mencari crayon nya yang lama, lalu memasukkan crayon warna pink dan mengunci tas crayonnya


"Nih buat adek!" Dia memberikan 1 set crayon itu ke Rayya


"Oh buat adek, bilang apa dek?"


"Maacih!" Rayya mencium pipi Ranna.


Kini Rayya sudah memiliki crayonnya sendiri.


"Adek mau mewarnai?"


"Heeh!"


Rita mengambil kertas kosong di kamarnya, lalu kembali ke kamar anaknya dan menggambar sesuatu.


"Mami gambar apa?" Tanya Raffa


"Rumah dan mobil"


"Sini mi" Raffa yang pandai menggambar membuat sketsa untuk diwarnai Rayya.


"Nih Dek!"


"Wah, bagus banget bang!" Puji Rita


"Mi!" Ranna menunjukkan hasil pewarnaan gambarnya.


"MasyaAllah..bagus banget kak! Kamu pintar milih warna!" Puji Rita. Ranna dan Raffa tampak puas dengan pujian maminya.


Mereka sibuk dengan aktivitas.


"Hoaammm!" Rayya menguap


"Eh sudah jam 12 ya? Tidur dulu yuk!" Rita mengirim pesan ke ponsel suaminya.


"Kamu makan siang duluan saja, aku dan anak-anak mau tidur siang dulu"


"Oke!" Jawab Daniel


Rita memasang alarm di ponselnya pukul 1 agar ia bisa sholat Dzuhur. Melihat maminya tidur, kedua anaknya yang lain ikut tidur. Mereka tidur di kamar maminya yang tempat tidurnya luas.


Hujan badai berlangsung dua hari berturut-turut, dua hari pula anak-anak dan Daniel berdiam di rumah.


"Banjir di Kanada, aku pikir di Indonesia saja" ujar Rita melihat berita di TV


"Cuaca ekstrim hampir merata di seluruh dunia, kalau ada sungai pasti meluap" jawab Daniel


"Aku bersyukur kita berkumpul di rumah ini, para pegawai juga selamat "


"Iya, nanti aku akan mengadakan bakti sosial, atas nama Lexicon tentunya "


"Bakti sosial? Seperti apa?"


"Ya membagikan bahan makanan, membersihkan jalanan yang penuh sampah. Ini juga untuk kepentingan Lexicon menaikkan pamor setelah beberapa waktu lalu diterpa isu menjadi salah satu perusahaan yang tidak ramah lingkungan"

__ADS_1


" Apa ada dananya?"


"Ada CSR, kita bisa pakai itu"


"Aku boleh ikut menyumbang gak?"


"Menyumbang apa?"


"Kamu bilang saja kekurangan apa, nanti aku penuhi"


"Pakai uang kamu?"


"Aku baru saja menjual tas mewah koleksi ku"


"Yang mana?"


"Tenang saja, bukan dari kamu kok, tas lama, dulu diberikan kenalan kakek Sugi"


"Lakunya mahal?"


"Lumayan! Setidaknya aku bisa membuat tas itu jadi berguna kan?"


Malam harinya, Daniel dan Rita ngobrol sebelum tidur


"Badai mulai mereda sore ini, mungkin besok sudah bisa ke kantor lagi"


"Tapi lihat situasi ya? Jangan dipaksa pergi, aku takut kamu terperangkap badai malah gak bisa kembali ke rumah ini, jujur saja, sebenarnya aku lebih senang kita ngumpul seperti dua hari kemarin, tapi gak bisa ya?"


"Heee..." Jawab Daniel yang sudah terlelap


Keesokan paginya, cuaca kembali cerah, Rita belum membolehkan anak-anak ke sekolah.


"Minggu depan saja ya? Mami takut masih ada badai"


"Iya mi!!" Anak-anak kembali ke kamarnya dengan riang.


Rita sudah menerima uang transfer hasil penjualan tasnya.


"Sayang, bagaimana aku menyalurkan bantuan untuk para korban?"


"Nanti Allan yang urus, kamu bisa transfer uangnya ke rekening ini"


Daniel mengirimkan nomor rekening, Rita mengirimkan beberapa puluh ribu dolar


"aku kirim 6 ribu dollar"


"lumayan! Terimakasih sayang!"


Bakti sosial Lexicon mengundang awak media untuk meliputnya. Daniel sebagai pemrakarsa acara diwawancarai awak tv.


"ini bentuk solidaritas kami dari Lexicon untuk membantu para korban bencana banjir kemarin" ujar Daniel menjawab pertanyaan reporter


"apa ini bentuk penebusan dosa Lexicon setelah tuduhan pembuangan limbah ilegal?"


"penebusan dosa? Saya kurang mengerti maksud Anda, melihat banyak orang yang terluka dan menderita karena bencana badai kemarin tidak mungkin diam saja. Hati kami tergerak untuk membantu para korban , setidaknya sedikit meringankan derita mereka, itu saja! " jawab Daniel tegas.


Reporter itu terdiam, kamera menyorot kegiatan para karyawan Lexicon membantu membersihkan sampah dan memberikan sumbangan kepada para korban bencana.


Acara TV itu disaksikan oleh Para petinggi Lexington, Sir Alec bertepuk tangan mendengar jawaban Daniel yang menohok sang reporter.


"jawaban hebat!" puji Sir Alec


"apa dia sudah membuat perubahan di Lexicon?" tanya pemegang saham yang lain


"aku menerima laporan dari Allan, ia membenahi beberapa kepengurusan, semua ini butuh proses, aku tak sabar menunggu hasil kerjanya. Tapi aku optimis citra Lexicon di Kanada akan kembali baik" ujar Sir Alec


"Anda sangat mempercayai dia ya?"


"aku mempercayai hasil kerjanya, sifat orang itu akan terlihat dari hasil pekerjaannya. Aku melihat pekerjaannya dan aku pikir dia orang yang tulus"


"Aku harap kamu tidak membuat keputusan yang salah mengangkat orang baru dan sangat muda menjadi kepala cabang Kanada"


"Saat memulai usaha pun aku masih sangat muda, yang dibutuhkan hanya kepercayaan..seperti Darmawan yang mempercayai ku"


"Darmawan? Bukannya dia kakek mertuanya Daniel?"


"Memang!"


"Aku curiga, kenapa Darmawan membiarkan cucu mantunya bekerja untuk orang lain?"


"Terkadang seseorang butuh pengakuan dari orang diluar keluarga agar bisa diakui."


"pembuktian ya?"


"mungkin! Aku berniat mengunjungi Lexicon, tapi aku harus ke Perancis dulu, beberapa aset Lexi rusak karena demonstrasi kemarin!"


"Mungkin kalau Daniel berhasil membenahi Lexicon, aku akan mengirimnya ke Perancis untuk membereskan kekacauan di sana" ujar Sir Alec melanjutkan


Sementara di Lexicon


"pak, Lexicon berhasil memperbaiki citranya Dimata masyarakat, ini hasil surveynya"


Allan memberikan hasil survei ke Daniel


"hmm ...apa naik secara signifikan?"


"iya pak, nilai saham kita kembali naik"


"Syukurlah! Apa ada meeting lagi hari ini?"


"Tidak ada pak!"


"Kalau begitu aku pulang ya, FYI aku mendapatkan inspirasi di rumah, di jalan, kalau terkurung di kantor aku tidak bisa berpikir kreatif"


"iya pak! Saya mengerti!"


"terimakasih!" Daniel mengambil jas dan tasnya lalu pergi dari kantornya, di luar kantor ada keramaian, security kewalahan mengatasi keramaian itu.


"Ada apa ini?" tanya Daniel


"Ah itu, orang yang ada di TV!" teriak salah satu pendemo, mereka berlari mendekati Daniel, Allan menghalangi mereka.


"jangan terlalu dekat!" Allan memperingati, ia menyuruh security melindungi Daniel.


"Sebentar, saya harus tahu ada apa?" tanya Daniel ia menolak disuruh pergi


"tolong kami pak!" teriak salah satu orang


"tolong? Baik! Kita adakan pertemuan, Allan tolong siapkan ruang pertemuan!"


"baik pak!"


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2