
Di Singapura, Daniel menyempatkan diri bertemu dengan Eddy mantan asistennya dulu .
"Terimakasih Ed, karena info dari mu, aku bisa melakukan penyelidikan penuh di Lexicon."
"Sama-sama pak!"
"Oh ya tawaran ke Kanada masih berlaku lho!"
"Terimakasih pak, istri saya sedang mengandung anak ketiga pak"
"Wah selamat ya? Berapa bulan?"
"Terimakasih, masuk bulan kelima"
"Sudah tahu jenis kelaminnya?"
"Perempuan lagi pak" suara kekecewaan terdengar dari suara Eddy
"Jangan begitu Ed! Laki-laki atau perempuan sama saja, yang penting sehat. Aku sudah punya anak laki-laki dan rasanya deg-degan "
"Lho kenapa pak?"
"Karena mereka menempel sekali dengan maminya. Raffa, sejak adiknya lahir menjadi sering rewel. Dia takut tersaingi. Nempeeelll terus sama maminya." Keluh Daniel
"Hahaha...tapi kan pak Daniel sudah ada Ranna dan Rayya, mereka pasti nempel sama pak Daniel kan?"
"Enggak! Mereka juga pro maminya. Kadang aku suka merasa sendirian dan dikeroyok"
Eddy tersenyum baru kali ini ia melihat emosi ex bosnya yang terdengar konyol.
"Bagaimana CITE menurut mu?"
"Membaik pak, saya dengar ada kebijakan baru dari London."
"Oh ya? Apa itu?"
"Saya sendiri baru mendengar kemarin, tentang kebijakan sendiri mungkin berkaitan dengan cabang Paris yang ditutup"
"Hah? CITE Paris ditutup? Bangkrut?"
"Saya dengar sih terkait dengan krisis energi di sana pak. Biaya gas menjadi naik, akibatnya operasional juga naik."
"Kasihan ya para karyawan yang kena PHK"
"Tapi saya dengar juga, CITE akan memindahkan para karyawan tetap ke cabang CITE di seluruh dunia"
"Kalau menolak gimana?"
"Dipersilakan resign"
Daniel menghirup minumannya, notifikasi di ponselnya berbunyi.
"Ah sudah waktunya aku kembali. Oh iya aku lupa bagaimana kabar tentang pak Aldy di bagian HRD? Apa pekerjaannya memuaskan?"
"Iya pak!, Menurut teman saya di sana, beliau cukup berpengalaman menyaring karyawan baru"
"Begitu ya? Baguslah kalau begitu. Baiklah Ed! Ini alamat ku di Kanada, kalau kamu mau main ke sana"
Daniel memberikan kartu nama bisnisnya lalu beranjak dari tempat duduknya
"Sampai jumpa lagi Ed!"
"Sampai jumpa Pak Daniel, salam untuk Bu Rita!"
"Akan saya sampaikan!" Daniel tersenyum dan keluar dari cafe tempat mereka bertemu.
"Eh pak Eddy, itu pak Daniel kan?" Seorang rekan kerjanya menghampiri
"Iya!"
"Makin kinclong saja, beliau sekarang di mana? Masih di Lexi?"
"Beliau jadi presiden Direktur di Lexicon Kanada"
"Hebat sekali!! Aku gak salah deh dulu jadi salah satu timnya. Terus beliau ngapain kesini?"
"Nemani istrinya ujian skripsi "
"Hah? Jauh-jauh dari Kanada?"
"Iya, beliau itu bucin sekali sama istrinya"
"Istrinya yang namanya Rita bukan? Yang jago main basket?"
"Iya!"
"Gak heran pak, kalau saya jadi pak Daniel juga akan bucin. Cantik, muda dan kaya pula!"
"Pak Daniel juga tampan kan?"
"Memang, tapi beliau dingin sekali kalau tidak kenal ya?"
"Stylenya beliau memang begitu, tapi beliau sangat baik hati, istrinya juga"
"Tapi kenapa bapak gak mau ikut beliau ke Kanada?"
"Enggak ah!"
"Alasannya?"
"Karier ku di sini sudah lumayan kalau aku pindah ke Lexi hanya menjadi asisten saja lagipula kontrak pak Daniel di Lexicon 2 tahun lagi, belum tentu beliau akan memperpanjang"
"Dua tahun? singkat sekali"
"Memang, Lexi terkenal dengan sistem coba-coba."
"Sistem coba -coba? Baru saya dengar "
"Lexi, saham mayoritasnya di pegang Sir Alec, beliau itu terkenal eksentrik dan tidak bisa diterka jalan pikirannya. Beliau akan mengganti CEO atau Presdir sekehendak hatinya, aku gak cocok dengan bekerja seperti itu. Aku memilih ikut CITE karena di sini tidak ada karyawan kontrak adanya karyawan tetap aku lebih cocok begini"
Daniel telah sampai di apartemen
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikummussalam, hey sudah makan?"
"Belum! Tadi aku hanya minum kopi saja di cafe dengan Eddy"
"Oh ya? Bagaimana kabarnya?"
"Baik, dia makin mantap di CITE"
"Syukurlah"
Rita melihat wajah suaminya yang terlihat murung
"Kamu gak apa-apa Yang?"
"Hah? Enggak! Masak apa kamu hari ini?"
"Cuma sop iga sapi"
"Wah..kesukaan ku itu" Daniel mengambil sendiri nasi dan lauknya
"Kamu sudah makan?"
"Sering!"
"Hah?"
"Aku sering makan, ASI untuk Razan selalu cepat habis syukurlah Rayya sudah tidak mau ASI lagi, kalau tidak kewalahan aku"
"Kamu gak minum suplemen memperbanyak ASI?"
"Gak minum suplemen pun sudah melimpah, Razan saja yang kuat minum, sepertinya dia ingin cepat besar"
"Anak-anak kemana?"
"Mereka tidur siang, tadi habis berenang, di apartemen sini ada kolam renang baru"
"Di sini?"
"Iya, di lantai paling atas, bagus deh, seperti taman di atas langit"
"Tapi aman kan?"
"Tentu saja! Oh ya, sore ini kita kembali ke Kanada?"
"Iya! Tadi aku dapat notif dari jet nya."
"Yang, bulan depan aku kesini lagi untuk ikut wisuda"
"Bulan depan?"
"Iya, bisa?"
"Tentukan dulu tanggalnya, nanti kita bisa atur supaya bisa kesini lagi"
"Kamu gak apa-apa ngikutin aku terus?"
"Aku kan Presdir kalau sehari atau dua hari off gak apa kan?"
"Alhamdulillah..aku lega deh"
Setelah makan Rita dan Daniel mempersiapkan keberangkatan mereka kembali ke Kanada.
"Ting tong!" Bunyi bel apartemen
__ADS_1
"Kamu menunggu orang?" Tanya Daniel, Rita menggeleng, ia masuk ke kamarnya untuk beristirahat, Daniel membuka pintu
"Halo bos!"
"Hei Mario! Apa kabar? Silakan masuk!"
"Oke!" Mario masuk dan duduk di ruang tamu
"Sebentar ya!, Rit! Ada Mario!"
"Hah? Mario?" Rita segera keluar dari kamarnya
"Halo O!" Mereka bersalaman
"Halo Bu! Apa kabar?"
"Baik! Tumben ada di Singapura?"
"Iya!, Eh selamat ya atas kelulusannya! Juga kelahirannya!"
"Terimakasih!
Daniel kembali ke ruang tamu membawa Razan yang berusia 2 Minggu
"Nih, uncle O, kenalkan Razan Muhammad Ihsan!" Daniel memberikan Razan ke Mario
"Ya ampunnn...Razan... panggilannya? Razan?"
"Iya, tapi Ranna manggil nya Ican"
"OOO Ican yang Ranna maksud itu ini"
"Memangnya Ranna bilang apa?"
"Dia bilang Ican lebih ganteng dari pada Raffa"
"Oh ya? Dia nelpon kamu?" Tanya Daniel
"Heeh! Ranna dan Raffa, you pikir Ai tahu kalian di sini dari siapa?"
"Anak sekarang memang hebat ya" ujar Daniel kagum
"Btw tumben Lo di Singapura, ada kerjaan?" Tanya Rita
"Oh enggak! Ai kan langganan penerbangan, nah Ai dapat gratis satu kali penerbangan ke Singapura, expired nya bulan ini."
"Ada yang gitu?"
"Adaaa dong, kelas eksekutif! Ai terbang pakai maskapai ini sering banget"
"Itu gratisan nya bisa kemana saja?" Tanya Rita semangat
"Ah you! Sudah kaya masih seneng gretongan!"
"Itu watak alam O!" Ujar Rita tertawa
"Aku ngantuk banget nih, aku tidur dulu ya?"
"Oh iya deh!"
Daniel membawa Raza. kembali ke kamar mereka dan meninggalkan Rita dan Mario untuk ngobrol.
"Bos gak apa-apa Tong?"
"Beliau baru pulang dari pertemuan!"
"Ooo..tapi bos sehat kan?"
"Alhamdulillah sehat, kenapa?"
"Enggak, aku dengar dari Ranna katanya papi disuntik di rumah sakit, Ai pikir bos sakit kali karena kecapekan"
"Dasar si Kakak! Ternyata dia mata-matanya" ujar Rita sebal
"Enggak gitu juga Tong! Kita-kita kan penasaran sama you! Ini pada sehat kah? Apa lagi kakek Sugi ,Anding bilang kalau Ranna atau Raffa nelpon beliau happy banget. Malah suara sama wajahnya direkam, lucu katanya. Jadi kenapa bos Daniel?"
"Beliau disuntik KB!"
"Hah? KB?"
"Iya, soalnya kalau gue yang KB jebol terus, jadi dia yang KB"
"Oallahhh...gitu toh... syukur deh you pada sehat ..Ican eh Razan beneran ganteng ya?"
"MasyaAllah tabarakalloh, terimakasih!"
"Sebenarnya Ai akan tinggal di London, jadi Ai minta ditugaskan di London saja."
"Oh ya? Tapi London kan kak Andi?"
"Iya tong! Makanya pleasee...tolong bilangin Anding, Ai gak mau pindah ke Auckland lagi"
"Aamiin deh dapat cewek cantik"
"Jadi kenapa mau di London saja?"
"Karena Ai sudah punya teman!"
"Teman?"
"Iya teman SE frekuensi! Semua teman Ai di London semua sekarang"
"Terus Lo sudah bilang ke kak Andi?"
"Sudah, tapi kayaknya Andi juga pengen di London, sementara kakek
Maunya salah satu kita di Auckland jaga benteng!"
"Jaga benteng....masih inget aje Lo mainan bocah!"
"Iya tong, pleaseee!"
"Kalau gue bantuin, gue dapat apa?"
"Yah...Udeh kaya kok masih matre?"
"Bawaan orok!" Jawab Rita ngasal
"Eh Lo hamidan lagi? Katanya bos KB?"
"Yeee! Gak mungkin lah kan gue juga lagi masa nifas! Maksudnya bawaan lahir!"
"Oohh begitu, apa ya? Eh Lo sering cek rumah di Sukabumi?"
"Sering! Gue kan pasang CCTV, jadi gue bisa pantau online"
"Bisa? Tapi kan Lo di Kanada"
"Itulah hebatnya teknologi sekarang!"
"Iya juga!"
Tiba-tiba Ranna keluar dari kamarnya
"Mamiiii!" Ia menggosokkan matanya
"Kak Anna! Kemari, siapa nih?" Tanya Rita
Ranna masih belum pulih kesadarannya. Ia terdiam sejenak, lalu kembali ke kamarnya.
"Dek! Ada uncle O!" Ranna membangunkan Raffa
"Dek! Uncle O!" Ranna juga membangunkan Rayya
"Huaaa!" Rayya menangis
Raffa duduk sejenak, ia mengumpulkan kesadarannya
"Jangan nangis dek! Ada uncle O, yuk!" Ajak Raffa, ia membantu Rayya turun dari tempat tidurnya lalu keluar dari kamar. Ranna berlari lalu nomplok ke Mario
"Uncle O!" Ujarnya sambil memeluknya
"Hadeuuuhh!! Kak Anna! Bukannya kemarin baru Vcall om?"
"Uncle O!" Raffa datang menggandeng Rayya dan mencium tangan Mario
"Aduuhh..yang ini sopan banget,..nah ini siapa?" Tanya Mario sambil tersenyum
Rayya yang pemalu bersembunyi dibalik badan Abang nya
"Ayya!" Katanya lalu berlari ke maminya. Raffa duduk di samping Rita, sambil menyandar, sedangkan Ranna dipangku Mario.
"Anak-anak you ngangenin Tong! Ai tadinya sebel sama anak-anak eh ketemu mereka jadi malah senang sama bocah!"
"Uncle, ikut ke Kanada ya?" Tanya Ranna
"Ikut? Gimane?"
"Laki gue Charter jet, untuk kemari."
"Wuidihh.."
"Yee, soalnya kalau penerbangan biasa gak bisa ajak Razan yang masih new born"
"Ya orang kaya sih Syah-syah saja..oh iya Ai kemarin kan sempat ke Sukabumi, Ai juga lihat restorannya bos!"
"Bos? Laki gue?"
__ADS_1
"Iye! Bos Mane lagi?"
"Laki gue buka restoran di Sukabumi?"
"He eh! Ai kan jadi interior designer nya, masa you gak tahu?"
"Enggak!"wajah Rita terlihat sebal karena tidak dilibatkan bisnis kuliner suaminya
"Restonya besar gak?" Tanya nya penasaran
"Mau lihat?" Mario membuka ponsel tabletnya
"Sebentar!" Rita meninggalkan Mario ke dapur.
Rayya menyender ke Raffa
"Abang, punya 2 adek gimana perasaannya?" Tanya Mario
"Adek Abangnya Rayya!" Jawabnya santai
"Lho Ican?"
Raffa menunjuk Ranna
"Ican adeknya Anna uncle" jawab Ranna
"Kok begitu?"
"Anna suka Ican, tampan!" Jawab Ranna loncat-loncatan di sofa yang diduduki Mario
"Kak Anna duduk yang bener dong, uncle pusing mau ngomong sama kakak, muter dulu!" protes Mario
Ranna duduk di atas meja berhadapan dengan Mario
"Kak Anna nanti mejanya pecah lho!" Larang Mario, Ranna pun berpindah duduknya
"Uncle!"
"Ya?"
"Uncle! Sudah punya pacal belum?"
"Hah?" Mario kaget dengan pertanyaan Ranna
"Belum !"
"Benelan?"
"Benel eh bener! Kenapa?"
"Sinsei Elsa juga belum, cantik deh. Uncle mau?"
Mario tersenyum geli
"Sinseinya Elsa mau gak sama uncle? Kalau sinsei Elsa mau uncle juga mau!" Jawab Mario becanda
"Nanti deh Anna tanyain, ya Dek Affa?"
"Heeh!" Raffa asyik minum susu dari botol kesayangannya
Rita datang dari dapur membawa minuman dan cemilan.
"Tong, anak-anak masih latihan?"
"Iya dong! Mereka juga sudah play group! Minum dulu O!"
Mario meminum suguhannya
"Kalau Rayya nanti dua tahun baru ikut latihan ya dek?" Rita menciumnya
"Mami, uncle mau sama sinsei Elsa!" Ujar Ranna
"Sinsei Elsa?"
"Uhuk..uhuk..becanda tong!"
"Yah cuma becanda" raut wajah kecewa tersirat diwajah Ranna
"Memangnya kenapa kak?" Tanya Rita
"Sinsei Elsa diputusin pacalnya mi" terang Raffa lancar
"Kok kalian bisa tahu sih?" Tanya Rita heran
"Pacalnya sinsei Elsa datang, eh sinsei malah, telus sinsei nangis bilang putus saja!" Ujar Ranna menjelaskan
"Oh iya mi, putus itu kayak apa ya?" Tanya Ranna polos
"Putus itu..." Belum sempat Rita jawab, Raffa keburu menyahut
"Putus itu altinya tidak pacalan lagi, iya kan mi?"
"Eh..iya!" Rita kaget dengan pengertian anak keduanya
"Hihihihi" Mario geli melihat raut muka Rita yang heran
Setelah agak lama di apartemen Rita, Mario pamit pulang
"Yah..uncle gak ikut ke Kanada?" Tanya Ranna
"Nanti deh kak, uncle harus ke London dulu ketemu uwaNdi"
"OOO"
"Eh, hampir lupa, nih untuk Razan"
Mario memberikan E money bertuliskan nama Razan
"Ya ampun O, repot amat? Buat maminya gak ada nih?"
"Et dah, Ritong itu titipan Robby"
"Robby? Memangnya dia di Singapura?"
"Kemarin waktu Ai di Jakarta Ai mampir ke kakek Sugiyono, terus Robby nitipin ginian"
"Oh Lo sempat ke Jakarta juga?"
"Iye! Dari London, Ai ke Sukabumi terus ke Jakarta terus kesini deh"
"Wuidihh..hebat euy.. mondar-mandir luar negeri luar kota!"
"Iya euy! Niat Ai itu mau nyobain bandara baru, Kertajati di Majalengka itu, eh ternyata belum bisa ya? Masih terbatas maskapainya"
"Eh, iya sebentar!" Rita masuk ke dalam lalu membawa bungkusan di dalam tas belanja
"Apaan nih Tong?" Tanya Mario
"Itu cireng! D'Ritz kan jualan cireng, jadi gue beli untuk di Kanada"
"Owner kok beli juga?"
"Kan beda kantong, nanti ujungnya juga balik ke gue lagi"
"Iya juga deh, Ai balik dulu ya, salam sama bos Daniel yee!"
"Langsung ke bandara nih?"
"Heeh! Makin cepat makin baik!"
"Anak-anak, salam dulu dong sama uncle!"
Ranna dan Raffa bergantian memeluk Mario, hanya Rayya yang masih malu-malu digendong Rita
"Dah! Hati-hati ya!" Rita dan anak-anak mengantar sampai pintu, setelah itu mereka kembali masuk lagi
"Anak-anak mandi ya? Sebentar lagi kita pulang ke Kanada "
"Mami, uncle ngasih ini tadi"
Ranna menunjukkan kartu e-money bergambar dirinya
"Dari uncle?"
"Iya! Punya kakak gambal kak Anna, punya Affa gambal Affa, punya Ayya gambal bunga"
Rayya menarik kartu Ranna
"Ih Ayya! Itu punya kakak!"
"Dek! kembaliin!" Ujar Raffa dengan nada sebal
Rayya mengembalikan ke Ranna
"Mami adek mana?"
"Adek yang ini" Rita memberikan kartu bergambar bunga
"Gak mau! Hueee!" Rayya menangis
"Adek mau kaltu yang ada gambal adek mi" ujar Raffa
"Iya, nanti di Kanada kita bikin ya?"
"Iya!" Jawab Rayya mengangguk
Sore harinya mereka berangkat ke bandara untuk terbang ke Kanada.
__ADS_1
_bersambung_