
Kejuaraan Karate antar sekolah tiba, Rita begitu bersemangat. Istirahat selama dua hari membuat energinya terisi kembali. Pagi-pagi Rita sudah bangun, setelah sholat shubuh ia memulai latihan kecil, pemanasan di halaman rumahnya.
"Ciat!! Ciat!! Yeah!!!" Rita melakukan tendangan, lalu menarik nafas panjang. Lalu memulai gerakan tangannya. Istirahat dua hari mengisi energinya tetapi juga membuat tubuhnya agak kaku.
Ayahnya memperhatikan Rita latihan dari jendela depan.
"Jam berapa pertandingannya Rita?"
"Jam 10, yah!"Rita menjawab sambil berlari di tempat.
"Ada berapa orang yg mewakili sekolah?"
"kalau dari sekolah kami mengirimkan 1 perwakilan untuk setiap sabuk, tapi dimulai dari Sabuk orange,hijau,biru,coklat dan hitam." Jawab Rita sambil melakukan tendangan.
"Mana yang lebih kamu suka, taekwondo atau karate?"
"Rita lebih suka taekwondo, tetapi karena di sekolah adanya karate, dan sabuk Rita juga sudah tinggi di karate, jadi Rita berniat mendapatkan sabuk hitam di karate."
"Di taekwondo kamu sabuk apa?"
"Sudah hitam yah, kan Rita dari TK sudah latihan."
"Kamu mau jadi atlet bela diri nasional?"
"Mau sih yah, lumayan bisa ke luar negeri dibayarin negara lagi"ujarnya tersenyum.
"Kog selama ini kamu ga ikut seleksi nasional?"
"Di sekolah Rita sebelumnya ada yah, tetapi selalu deh setiap mau ikut seleksi, ayah pindah tugas, jadi Rita ga bisa ikut"
"Wah...sayang sekali ya?"
"Ga papa sih yah, makanya sekarang ini Rita kebut, ikut pertandingan, siapa tahu bisa ikut seleksi pelatnas kan,"katanya tersenyum
"Ayah siy ga keberatan selama kamu bisa balance dengan pelajaran yang lain. Maaf2 saja masa depan atlet di negara ini belum bisa menjamin hidup, kecuali atlet badminton."
"Iya yah, siapp!"
"Sudah jam 8 ,Rit, kamu siap-siap deh.Ayah juga mau lihat pertandingan kamu."
"Asyiikkk, terimakasih Yah"ucapnya sambil masuk ke rumah untuk berganti pakaian.
Pukul 8.45,Ritandan ayahnya telah tiba di sekolah.
"Rita,Kamu sudah sehat? Tanya Tomi
"Alhamdulillah,sudah kak, terimakasih sudah mengantar Rita pulang"
"Iya, kembali kasih" jawab Tomi bercanda.
"Kak, ayah Rita bawa mobil,jadi kita bisa ke SMU 6 bersama-sama"
"Ooh, kita ada 10 orang, kak Rafi membawa mobilnya, kita bagi dua saja , 5 orang di mobil kamu ,5 lagi ikut mobil Rafi."
"Baik kak, tapi ayah saya ga tahu letak SMU 6"
"Hmm..kalau begitu nanti kakak yg ikut di mobil kamu, sebentar, kakak atur dulu siapa saja yg ikut di mobil kamu"
Tomi yang bertindak sebagai manajer tim mengatur, wakil yang perempuan ikut mobil Rita, sedang yang laki-laki ikut di mobil Rafi.
"Ayah, kenalkan, ini Kak Tomi, manajer tim kami, sekaligus yang kemarin antar Rita pulang waktu sakit." Ucap Rita memperkenalkan Tommi kepada Ayahnya.
Tommi mencium punggung tangan ayah Rita.
"Saya Tommi , Om!"
__ADS_1
"Oh,Nak Tommi, ayo masuk mobil kota segera ke tempat pertandingan, takut terlambat."
Tomi, Rita dan tiga temannya yang lain masuk ke mobil. Dengan petunjuk Tommi mereka tiba di tempt pertandingan dengan selamat.
"Om, untuk penonton bisa menempati tribun paling depan, kebetulan sudah ada teman-teman kami yang memberi semangat di sana"
"Baiklah,om kesana, Rita, semangat ya!" Ucap ayahnya sambil berlalu
"Siap yah!!!"
Pertandingan diawali dengan upacara , lalu babak penyisihan.
Dari tribun terdenga suara teriakan"Ritaaa... Semangat!!!"
Rita menoleh, dilihatnya teman2 nya, Lisa,Kowi,Andien dan kiki telah berada di tribun, bersama Indra, Rafi dan Farhat.
Rita menoleh dan mengacungkan tanda jari V.
Pertandingan berlangsung sangat seru.
Rita berhasil masuk ke babak final dari sabuk coklat.
Kemudian Dewa yang mewakili sabuk hitam juga berhasil masuk ke final. Sedangkan teman2 nya yang lain terpaksa menyerah di babak penyisihan.
"Rita??" Tanya seorang peserta
Rita menoleh
"Ayunda?" Tanya Rita
"Yaa ampunnn..ketemu lagi kita" seru Ayunda
Ayunda rival Rita di SMP. Setiap ada pertandingan keduanya selalu bertemu sebagai lawan. Skor pertandingan mereka 2-2
"Jangan bilang lo wakil sekolah ini ?" Tanya Rita
Rita memasang wajah serius, pikirannya berkecamuk, pertandingan terakhir dimenangkan oleh Ayunda dengan cukup telak, ia mengalami retak pada bagian ini jari tangan kanannya.
"Oke, yu, kita ketemu di lapangan ya" pamit Rita
"Oshh!" Jawab Ayu
Tomi memperhatikan perubahan wajah Rita yang menjadi sangat serius.
"Teman kamu Rit?"
"Rival kak, kami sering menjadi lawan di setiap pertandingan."
"Hebat juga dia, dari tadi lawannya dibuat kesakitan."
"Iya kak, walau kelihatan lembut, tetapi kemampuan melumpuhkan lawan kuat sekali. Terakhir tanding jempol Rita retak."
"Hmm..kamu harus hati-hati terhadap serangan dari kaki kanannya, dia selalu memulai dari kaki kanan, lalu gerakan memelintir, kalau bisa kamu harus mengantisipasi serangannya. Lupakan pertemuan yang lalu, kakak yakin dia juga telah melihat kemajuan kamu"
"Iya kak, Rita akan fokus dan berhati-hati"
Pertandingan dua Rival antara Rita dan Ayunda berlangsung seru. Rita yang telah mendapatkan masukan dari Tomi berhasil mengantisipasi serangan Ayunda.
Tetapi karena Rita terlalu bernafsu untuk mengalahkan sehingga ia lengah.
Pertandingan penentuan dimulai.
Rita memulai serangannya, Ayunda menangkisnya, lalu keduanya saling memberikan pukulan dan tendangan. Rita yang telah memahami arah serangan Ayunda akhirnya berhasil melayangkan tendangan kearah samping tubuh Ayunda yang membuatnya terhuyung.
Wasit berteriak,
__ADS_1
Pertandingan selesai
Wasit berdiri diantara Rita dan Ayunda dan memberikan mengangkat tangannya ke arah Rita. Rita memenangkan pertandingan.
Rita dan Ayu saling bersalaman kemudian berlalu.
Pada pertandingan tersebut Rita dan Dewa berhasil menjadi juara, dan mendapatkan piala. Baru tahun ini karate SMU 5 berhasil mendapatkan dua gelar sekaligus . Juara pertama di sabuk Coklat dan juara pertama di sabuk hitam.
Pertandingan selesai pukul 4 sore, kebetulan hari itu hari Sabtu, setelah Rita CS saling berpamitan ke rumah masing-masing, mereka berjanji untuk merayakan kemenangan di warung pak Umar esok hari.
Hari Minggu pagi pukul 10.30 Rita Cs telah tiba di warung pak Umar. Disana telah menunggu Indra, Dewa, Tomi, Rafi dan Farhat.
"Ayo kalian duduk di sini" Indra bertindak sebagai EO.
Sengaja ia menempatkan duduknya di dekat Rita.
Mereka memesan es krim Strawberry coklat, dan french fries ukuran besar dan Pizza ukuran jumbo. Acara tersebut disponsori oleh Dewa.
Acara berlangsung cukup riuh. Indra dan Rafi ternyata bisa menjadi duo paling lucu, sehingga membuat Teman-temannya tertawa geli. Bahkan Rita sampai dibuatnya terbatuk-batuk.
Tomi yang duduk bersebrangan dengan Rita menyodorkan gelas berisi air putih kepada Rita.
"Terimakasih Kak!" Ucapnya tersenyum
"Tomm..kata ciwi2 ini lo dikenal jutek sama cewek kog sama Rita perhatian banget..?" Goda Indra
"Ah, siapa bilang gue jutek? Gue jutek cuma sama Rani dan gengnya"
"Kenapa Kak, sama Kak Rani? " Tanya Kowi penasaran.
"Hmm..apa ya.. pokoknya kakak sebel saja sama gengnya ,norak banget. Waktu itu pernah gengnya membully anak kelas 10 gara-gara tu anak kasih surat ke kakak."
"Terus gimana Kak?"
"Anak itu menangis, sampai pindah sekolah karena ga kuat dibully terus-menerus."
"Resiko orang keren itu ya begitu tom" canda Dewa tiba-tiba.
"Lo gimana Wa?"
"Hmm.. kayaknya gue bukan seleranya Rani deh, jadi dia juga biasa aja sama gue."
"Rafi, lo bukannya suka sama Rani? Tanya Farhat tiba-tiba
"Uhuk...uhukk..uhukk." Rafi yang kaget mendengar perkataan Farhat menjadi malu.
Cewek-cewek dihadapannya menatapnya dengan pandangan kepo.
"Sudah engga, ngapain ngejar-ngejar orang yang suka sam orang lain" ucapnya
"Btw tentang kejar-mengejar Jum'at kemarin gue lagi manggil Pak Edi di ruang guru, eh gue dengar pak Somaji cerita beliau habis dikejar-kejar sekumpulan orang.Hampir saja beliau kena pukul. Sekarang dia ga naik motor dulu."Cerita Dewa
" Debt Colector kali!" Ucap Rafi ngasal
"Debt colector ga bakal mukul, apalagi di jalan yang banyak orang." Ucap Farhat
"Terus apa lagi?" Tanya Tomi
"Pak Somaji dikejar waktu dia isi bensin di pom bensin yang besar itu"cerita Dewa lagi
"Serem juga ya" ucap Rita
"Pak Somaji ga lapor polisi? Biasanya polisi akan meminta rekaman CCTV pada hari tersebut." Tanya Lisa
"Hmm..saya ga tau, cerita lengkapnya" ucap Dewa.
__ADS_1
Tomi termangu mendengar cerita Dewa, ia merasa bersalah pada pak Somaji.
Hari sudah siang, mereka berpamitan untuk pulang.