Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 282: Pengintaian Andi dan Dewa


__ADS_3

Pukul 2 dini hari Rita terbangun, ia hendak sholat tahajud. Tanpa sengaja ia menyenggol ponsel di samping ranjangnya hingga ponsel terjatuh mengenai kakinya


“Aduuhhh...” erangnya, ia terduduk di karpet hijau di samping ranjang, dan mengusap-usap punggung kakinya. Setelah agak hilang sakitnya, ia mengambil ponsel lalu meletakkan di atas meja. Ia ke kamar mandi untuk mengambil wudhu setelah itu sholat tahajud. Sepuluh menit kemudian, sholatnya selesai, ia mengambil ponselnya dan membuka banyak mis call dari Andi.


“Kak Andi kenapa?” Ia membuka mukenanya lalu keluar kamar menuju kamar Andi


“tok..tok..tok...kak Andi!”Rita mengetuk pintu dan memanggil pelan, tidak ada jawaban dari dalam. Ia mendorong pintu ternyata tidak terkunci


“Eh?” ia memasuki kamar Andi, sebenarnya ia agak segan karena berpikir Dewa sedang tidur di kamar Andi. Tapi ia tidak menemukan kedua orang itu di kamarnya.


“Kemana? Kak Andi!...kak Dewa!” panggilnya, ia mencari sampai teras kamar sampai ia menemukan selembar kertas pesan dari Dewa.


“Rit, kita mengintai pencuri mobil. Kalau kami gak pulang tolong cari kami ya?”


“Gawat!” tanpa pikir panjang Rita menelpon Daniel


Tuuuttt!! Bunyi ponsel Daniel. Ia sudah terlelap tetapi suara ponselnya membangunkannya


“Hah? Siapa nih yang nelpon malam-malam?” Daniel menyalakan lampu di sisi tempat tidurnya


“Rita?” ia segera mengangkatnya


“Ya Rit?” tanyanya dengan suara masih ngantuk


“Maaf mengganggu Niel” suara Rita terdengar khawatir


“Ada apa?”


“Kak Andi mengintai pencuri mobilnya”


“Hah? Bagaimana?”


“Rita menerima pesan dari kak Dewa yang sekarang sedang bersama kak Andi mengintai komplotan pencuri mobilnya"


“Kamu yakin?”


“Mereka gak ada di kamarnya Niel, sebelumnya kak Andi miss call Rita tapi Rita sedang tidur jadi gak ikut mereka”


“Baguslah, aku akan mencari tahu dulu, kamu tunggu kabar di situ!”


“Tapi Niel!”


“Kamu gak usah ikutan, ini bahaya!” ujar Daniel tegas


“Baiklah,apa Rita perlu kasih tahu kakek?”


“Jangan dulu, tunggu kabar dari aku!”


“Baiklah!” mereka mengakhiri percakapannya


Daniel segera mencari informasi dari teman-temannya di Interpol, dari mereka Daniel tahu tempat biasa komplotan itu beroperasi. Daniel berganti pakaian, ia membawa pistolnya lalu menaiki mobilnya menuju taman.


Di taman, Dewa tertidur di jok belakang, sedangkan Andi terjaga di kursi pengemudi.


“Aduhh...leher gue sakit nih , pulang yuk!” rengek Dewa


“Bawel ah! Pengintaian itu seperti ini!” ujar Andi, sebenarnya ia juga sudah sangat mengantuk


“Besok lagi saja deh, lo juga sudah ngantuk kan?”bujuk Dewa


“Tanggung Ar, gue yakin akan menangkap basah mereka sedang beroperasi” jawab Andi bersikeras


Dengan menggerutu, Dewa keluar dari mobil


“Hey ngapain lo?” tanya Andi


“Mau beli kopi! Mengintai itu kalau molor sama saja boong!”


“Ada lo duitnya?”


“Eh iya, duit gue rupiah semua!” Dewa membuka dompetnya


“Dasar! Nih!” Andi membuka dompet dan mengeluarkan lembaran uang 50 dolar new zealand


“Lo mau kopi kan?”


“Iya dong, sama roti ya?” pesan Andi


“Beres!” Dewa bergegas ke mini market 24 jam yang letaknya kira-kira 200 meter dari tempatnya parkir. Ia membeli 2 gelas kopi dan roti-roti. Cukup banyak ia berbelanja, ketika ia hendak kembali ke mobil, Andi sudah tidak ada di tempat itu.


“Waduh gawat!..” Dewa kebingungan sambil memegang belanjaannya, beberapa menit kemudian sebuah mobil berwarna biru berhenti di sampingnya


“Dewa!” panggil orang dalam mobil, Dewa menunduk dan memperhatikan orang yang memanggilnya


“Eh pak Daniel?”


“Masuk!” suruh Daniel, Dewa menurut, ia masuk ke mobil Daniel


“Itu Andi!” ujar Dewa gugup karena Daniel memicu mobilnya kencang


“Aku tahu, komplotan itu membawanya bersama mobil”


“Kok Anda bisa tahu?”


“Aku menghubungi teman-teman, sekarang ini aku sedang melacaknya, semoga Andi tidak mereka lukai”


“Kenapa mereka membawa Andi juga?” tanya Dewa heran


“Sepertinya mereka memperhatikan kalian sejak kalian datang, mereka pikir kalian polisi yang menyamar”

__ADS_1


“Hah? Waduh gawat kalau begitu!” Dewa tampak khawatir mengingat cerita Daniel tentang polisi menyamar yang dibunuh komplotan pencuri.


“Teman-teman ku sudah mengikuti mereka, mudah-mudahan tidak jauh”


“ah iya, aku lupa!” Dewa membuka ponselnya, lalu mulai membuka aplikasi yang diberi Andi


“Apa itu?” tanya Daniel


“Tadi Andi memasang penyadap di mobilnya”


“Kalau begitu bagus, apa bisa berfungsi dengan baik?” tanya Daniel


“Sepertinya iya, belok kanan” Dewa memberikan arahan kepada Daniel hingga mereka sampai di sebuah semak-semak menuju hutan, di situ Andi melambai-lambaikan tangannya meminta pertolongan. Daniel menghentikan mobilnya, ia dan Dewa keluar dari mobil dan mengangkat Andi memasuki mobil.


“Mereka sungguh kasar, aku dipukuli mereka!” erang Andi, wajahnya bengkak pada bagian rahang


“Sudah bagus kamu dibiarkan di sini, biasanya mereka membuat orang mati atau minimal koma” ujar Daniel


“Aku memberikan semua uang di dompet ku asal mereka membiarkan aku hidup” ujar Andi


“Mereka tidak mengambil identitas mu kan?” tanya Daniel


“Tidak!”


“Syukurlah!” Daniel merasa lega, lalu ia membawa mobilnya menjauh dari tempat itu


“Kita kemana?” tanya Andi


“Ke rumah sakit! Kamu gak mau kedua kakek mu menjadi gila kan?” jawab Daniel


“Kamu tahu dari mana aku di sini?” tanya Andi, ia mengeluh sakit di perutnya karena pukulan


“Rita, ia membaca pesan di kamar mu?”


“Pesan apa?” Andi heran karena ia tidak pernah menulis pesan pada Rita sebelumnya


“Gue yang nulis! Mengintai ini bahaya tahu! Kita ini amatir!” ujar Dewa


“Kapan lo nulisnya?” tanya Andi


“Tadi setelah dari toilet”


“Oh itu, syukur deh!” Andi merebahkan tubuhnya di kursi belakang dan terlelap


“Dasar Rakha! Dia selalu begitu!” keluh Dewa


“Bahasa Inggris mu bagus!” puji Daniel


“Ayah ku orang Inggris, ayah tiri. Dia selalu berbicara dengan bahasa inggris padaku” jawab Dewa


“Oh begitu, sudah berapa lama kamu dan Andi berteman?”


“Bukannya sewaktu kecil Andi tinggal bersama kakek Sugi?”


“Tidak setiap hari, seingat ku ia berpindah-pindah diantara 2 kakek, tetapi lebih banyak di rumah kakek Darmawan karena beliau tidak punya cucu lain selain Andi” jawab Dewa


Tak berapa lama mereka tiba di rumah sakit, Andi segera mendapatkan perawatan. Ia juga di rongent dan ct scan untuk kepastian tidak ada luka dalam. Selama pemeriksaan, Daniel memberikan kabar pada Rita. “Andi sudah selamat, sekarang kami di rumah sakit untuk mengecek apa dia baik-baik saja atau tidak” tulis Daniel


“Syukurlah! Terimakasih banyak ya Niel! Kamu benar-benar penyelamat!” puji Rita dalam pesannya


“Aku senang kamu menghubungi ku” balas Daniel


Dewa memperhatikan wajah Daniel yang terlihat sangat senang membaca pesan dari Rita.


“Apa kalian punya hubungan khusus?” tanya Dewa


“Siapa?” tanya Daniel


“Anda dan Rita?” tanya Dewa penasaran


“Begitulah! Kami cukup dekat!” jawab Daniel


“Cukup dekat? Tapi belum ada hubungan istimewa kan?” tanya Dewa menyelidik


“Kalau ada bagaimana?” tanya Daniel, ia membalas tatapan Dewa


“Hmm..Rita itu agak susah didekati, aku mengenalnya sejak kecil” ujar Dewa menghindari tatapan tajam Daniel


“Susah didekati? Mungkin tergantung orangnya. Kami lumayan dekat sejak hari pertama ia masuk kantor” jawab Daniel, ia tidak mau kalah dengan Dewa


“Tommi!” tiba-tiba Dewa menyebut namanya


“Tommi? Siapa?” tanya Daniel


“Itu pacarnya Rita sejak SMP, hanya Tommi yang bisa membuka sifat Rita” ujar Dewa, juga tidak mau kalah dari Daniel


“Sekarang Tommi kemana?” tanya Daniel


“Sudah meninggal! Sepertinya Rita belum move on dari Tommi” ujar Dewa


Daniel terdiam, ia pernah mendengar dari Rita tentang pacarnya yang meninggal karena kecelakaan


“ting!” notifikasi ponsel Daniel berbunyi lagi, Daniel menjawab pesannya dengan wajah riang.


“Dari Rita ya?” tanya Dewa


“Hah? Iya! Dia mau kemari. Aku melarangnya. Masih setengah 5 pagi dia akan kesulitan jika ketahuan kedua kakek” jawab Daniel


“Rita itu pemberani, aku sering diselamatkan olehnya, agaknya sekarang ini juga termasuk” ujar Dewa

__ADS_1


“Kamu diselamatkan oleh Rita? Bagaimana?” tanya Daniel heran


“Dulu kalau aku menginap di rumah kakek Sugi, aku pasti menjadi korban Robby, hanya Rita yang menyelamatkan ku”


“Bukannya kamu senpai karatenya Rita di SMA?” tanya Daniel heran


“Aku menekuni karate saat kelas 3 SD, itu terinspirasi darinya. Aku malu diselamatkan cewek terus”


“Kenapa kamu gak berani melawan Robby, dari segi usia dan postur tubuh kalian setaraf kan?”


“Aku bukan takut sama Robby tetapi takut pada kakeknya. Jika aku melukainya aku akan kesulitan. Aku dengar Robby pernah memukuli guru taekwondonya hingga babak belur kalau tidak ada Rita yang menghentikan aku gak yakin guru itu masih selamat”


“Memukuli guru taekwondo? Mengapa guru itu tidak melawan?”


“Lebih tepatnya asisten pelatih, Robby sempat maju ke persidangan kenakalan anak dan remaja. Tetapi asisten pelatih itu kalah di persidangan”


“Hah? Kok bisa?” tanya Daniel heran


“Tentu saja kalah, dari segi usia dan kemampuan bela diri as pel itu jauh lebih mumpuni dari pada Robby tapi kenapa ia membiarkan dirinya dipukuli? Kemungkinan aspel itu mengincar uang kakek Sugi, jadi hakim hanya menghukum Robby tahanan di dalam rumah selama 2 bulan. Dan aspel itu tidak mendapatkan apa-apa” cerita Dewa


“Untuk orang yang jarang menginap, kamu termasuk tahu banyak hal tentang keluarganya Andi”


“Begitulah!” Dewa mengakhiri ceritanya, karena Andi telah selesai melakukan semua pemeriksaan dan tidak ada yang membahayakan. Mereka pun pulang.


Mereka tiba di rumah pukul 6.30, Rita sudah menyambut mereka dengan mobil golf di depan pintu gerbang rumah besar.


“Kenapa menjemput di sini?” tanya Andi heran


“Aku tadi melihat kakek Sugi di teras depan, kalau dia tahu kak Andi baru pulang, kakak tahu kan kira-kira apa yang terjadi” ujar Rita


“Ah benar juga!” Andi di bantu Dewa dan Daniel duduk di mobil golf setelah itu Daniel kembali ke mobilnya


“Sekali lagi terima kasih ya Niel? Kamu pasti mengantuk!” ujar Rita tersenyum manis


“enggak, ini seperti mengingatkan ku akan tugas lama!” ujar Daniel sambil masuk ke mobilnya


“Dadah!!!” mobil Daniel keluar dari pekarangan rumah besar, Rita menaiki mobil golf dan mengambil jalan belakang untuk menghindari teras depan rumah. Jalan yang dilewati berbatu


“Aduh..pelan-pelan Rit!” erang Andi


“Kak Andi, begini saja kesakitan sudah belagu mau ngejar penjahat!” ujar Rita kesal


“Penasaran Rit,habis gue kesal berani-beraninya mereka ngambil mobil kesayangan gue!” ujar Andi kesal


“Itu Cuma mobil kak! Kalau nyawa kakak melayang gimana? kalau sudah mati gak bisa hidup lagi kan?” ujar Rita ketus


“Iya..iya...gue salah!” jawab Andi kesal


“Untung kak Dewa nulis pesan, kalau enggak bisa terjadi yang macam-macam kan?”


“Kenapa lo berinisiatif nelpon Daniel Rit? Kenapa gak bilang ke kakek saja? Atau bagian keamanan misalnya?” tanya Andi menyelidik


“Kan sebelumnya kita sudah dengar cerita tentang Daniel dan rekan interpolnya, jadi Rita pikir kalau Daniel yang mengatasi pasti urusannya cepat beres. Kalau Rita bilang ke kakek, Rita takut kakek kolaps lagi atau yang lebih parah panik dan mengerahkan tentara untuk mencari kak Andi, itu kan repot kak!”


“Iya juga! Bagus deh inisiatif lo!” beberapa menit kemudian mereka tiba di pintu belakang rumah, diam-diam mereka masuk ke dalam rumah melalui pintu karyawan. Karena masih pagi, karyawan belum banyak yang datang. Mereka tiba di kamar Andi dengan selamat.


“Ah syukurlah!” ujar Andi dan Rita bersamaan


“Kak, Rita tinggal dulu ya?” Rita meninggalkan Andi dan Dewa di kamarnya mereka langsung tertidur begitu wajah mengenai kasur yang nyaman. Perlahan Rita keluar dari kamar mereka dan menutup pintu kamar dengan tulisan pesan di depan pintu ‘ jangan diganggu!’


Ia sendiri kembali ke kamarnya, dan merebahkan tubuhnya sambil membuka ponselnya. Diam-diam ia mengambil gambar Daniel ketika mereka sedang di ruang makan.


“Masya Allah, Kamu tampan sekali! Makin dilihat makin menagih!” ujar Rita sambil memeluk ponselnya, sementara di apartemennya Daniel


“hatchi...hatchi...hatchii!! kayaknya aku flu nih!” dengan rasa kantuk yang amat sangat, ia menelpon kantornya


“Ron!”


“Ya pak Daniel?”


“Hatchi...hatchi...” Daniel terus bersin


“Kenapa pak Daniel?”


“Hari ini aku off dulu Ron, aku flu dan demam, mungkin besok aku akan kembali ke kantor”


“Baik pak!” jawab Ronny


Daniel kembali ke ranjangnya dan melanjutkan tidurnya. Siang harinya ia terbangun karena suara bel pintu membangunkannya. Dengan segan ia membuka pintu


“Pesan antar!”


“Hah? Aku gak pesan apa-apa?” ujar Daniel masih setengah sadar


“Ini bubur dan makan siang pak, kiriman dari Rita” ujar kurir itu, sambil menurunkan makanan dari kotak kaleng dan memberikannya pada Daniel


“Oh dari Rita, baiklah, terima kasih!” ia menerimanya dengan senang hati dan meletakkan di atas meja.


“Masih hangat!” ia mengirim pesan ke Rita


“Makanannya baru sampai, terima kasih banyak!”


“Aku menelpon ke kantor, katanya hari ini kamu sakit. Aku pikir ini gara-gara aku minta tolong jadi aku kirim bubur dan makan siang supaya kamu sehat lagi” jawab Rita


“hahaha...mungkin sudah lama aku gak melakukan pengintaian, jadi masuk angin, terima kasih ya?”


“Sama-sama, semoga lekas pulih!” jawab Rita


Daniel tersenyum membaca pesan dari Rita, dengan lahap ia menyantap makanan tersebut.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2