Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 282: Andi dan Dewa (end)


__ADS_3

Pagi harinya, saat sarapan pukul 8, semua sudah berkumpul di ruang makan, hanya Andi dan Dewa yang masih tidur karena mereka baru tidur 6.30 pagi.


“Mana Andi?” tanya Darmawan pada Rita


“Masih tidur kayaknya kek”


“Bangunin Rit, sudah siang! Nanti kebiasaan!” perintah kakek Darmawan


“Kalau Arya menginap di rumah ku, aku selalu memberinya kamar terpisah dari kamar Andi, karena aku gak mau mereka sesukanya main hingga lupa waktu!” ujar kakek Sugi


Beberapa saat kemudian Andi dan Dewa telah bergabung di ruang makan, mereka masih sangat mengantuk .


“Selamat pagi kek!” sapa Dewa


“Kalian main game sampai jam berapa?” tanya Darmawan dengan suara kesal melihat Andi merebahkan kepalanya di atas meja makan sementara Dewa ijin ke toilet untuk mencuci wajahnya,


“Cuci muka pakai air es kak supaya hilang ngantuknya” bisik Rita memberi saran, Dewa mengangguk ia segera ke toilet dan meminta air es pada staf dapur. Beberapa menit kemudian kemudian ia kembali ke ruang makan dengan wajah segar.


“Andi! Kamu ke toilet sana! Cuci muka mu!” hardik kakek Sugi, beliau termasuk orang yang tidak suka dengan ketidakdisiplinan. Dengan ogah-ogahan Andi bangkit dari tempat duduknya dan berjalan oleng menuju toilet.


“Mukanya kenapa tuh?” tanya Robby memperhatikan wajah Andi yang membengkak


“Eh?” tiba-tiba rasa kantuk Andi lenyap seketika, ia lupa menyembunyikan bengkak di wajahnya


“Coba lihat sini!” Kakek Sugi dan kakek Darmawan mendekatinya lalu melihat wajah bengkak Andi


“Kamu kenapa?” tanya Kakek Sugi curiga


“Kamu dipatuk tawon?” tanya kakek Darmawan


“Enggak!, tadi ini, Andi kepentok pintu sewaktu berjalan sambil ngantuk tadi” jawab Andi beralasan


“hmm...kamu itu merusak diri sendiri, kakek tahu kalian teman lama tapi gak segitunya main game sampai lupa waktu!” ujar Kakek Darmawan memarahi


“Keduanya nge-homo kali kek!” ujar Robby tiba-tiba


“Sial lo!” Andi melemparkan sesuatu ke arah Robby


“Sini lo kalau berani!” tantang Robby


“Hey! Kalian ini! Sudah duduk tenang! Andi kalau mau ke toilet segera ke sana! Nanti kakek akan kirimkan perawat ke kamar untuk merawat wajah mu!” ujar kakek Sugi


“Gak usah Kek! Nanti juga sembuh!” tolak Andi, ia bergegas ke toilet dan mencuci wajahnya dengan air dingin.


Selesai makan, para kakek seperti biasa berdiskusi di ruang kerja kakek Darmawan, sedangkan para sepupu ada yang berenang, naik kuda atau balapan gokart seperti yang dilakukan Robby.


“Eh Ray, si Robby kok berani ya kurang ajar sama lo di depan kakek Darmawan?” tanya Dewa


“Dia memang gak ada urat malunya, kayaknya rasa hormat sama orang tua juga sudah hilang!” jawab Andi, ia mengusap bengkak di wajahnya


“Masih sakit ya ?”


“Sakit lah!”


“Memang tadi di rumah sakit lo diobatin apaan?”


“Cuma dikompres doang”


“Lo sudah minum obat nyeri belom?” tanya Dewa


“Belom! Males! Ini kan luka luar kenapa harus ada obat minum?”


“Ray, tadi yang bayar berobat lo di RS siapa? Bukannya duit lo semua diambil?” tanya Dewa


“Oh, tadi gue pinjam identitasnya Daniel, kalau pakai nama gue pasti ketahuan sama kakek”


“Nanti lo ganti?”


“Iya lah! Gak mungkin gue ngebiarin Daniel ngebayarin, bagaimana pun juga dia kan cuma pegawai biasa”


“Pegawai biasa ya?” gumam Dewa


Mereka memasuki kamar, rasa kantuk telah hilang, mereka berdiskusi di ruang tengah kamar Andi


“Lo rugi dua kali dong Ray? Dua kali mobil lo diambil orang”


“Gak apa-apa deh Ar, seperti yang Rita bilang yang penting gue selamat”


“Kayaknya lo kapok ya? kalau dengar dari suara lo sih?”


“Hehehe...iya, waktu gue di dorong masuk mobil, gue takut banget keingetan cerita Daniel tentang informan yang tewas ditembak. Sepanjang jalan gue dzikir, minta tolong sama Allah semoga ada yang menyelamatkan gue, alhamdulillah doa gue langsung terkabul”


“Lo sengaja dikeluarin dari mobil?”


“Iya, setelah mereka yakin kalau gue bukan polisi yang menyamar, mereka bilang kita ambil duit dan mobilnya terus pergi deh”


“Terus lo dipukulnya kapan?”


“Itu di dalam mobil, mereka nanya gue polisi apa bukan. Badan gue digerayangi, jijik banget dah. Setelah gak menemukan apa-apa mereka mukulin badan gue, terakhir baru mukul muka gue”


“Syukurlah lo gak ditembak!”


“Iya!, syukur mereka gak bawa itu, mereka bilang gak berencana ngambil mobil malam itu, tapi karena ngeliat tingkah laku kita yang mencurigakan mereka jadi beraksi”


“tuuuh kan gue bilangin juga apa!”


“Iya...iya...kapok deh gue. Akhirnya gue merasakan diculik, walau Cuma sebentar, gue ngalamin yang Rita pernah alamin, ternyata gak enak ya? menakutkan!”


“Lo kira enak diculik? Memangnya itu kemauan Rita?”ledek Dewa


“Dulu gue sering iri sama Rita yang aksinya banyak banget, tapi sekarang enggak lagi deh!”


“Bagus deh! Mungkin ini kehendak Allah ya, gue dikirim untuk mendampingi lo di sini “


“Iya Ar, terimakasih ya sudah nemenin gue”


“Sama-sama!, tapi kayaknya gue gak bisa lama di sini”


“Kenapa? Bukannya libur kuliah lo masih lama?”


“Bukan begitu, kayaknya kalau gue di sini mengganggu hubungan Rita”


“Hubungan Rita? Sama siapa?”

__ADS_1


“Sama Daniel lah memangnya sama siapa lagi?”


“Dibilangin! Rita itu mau dijodohin sama Rendy cucu pemilik kapal pesiar dari Dubai! Itu sebabnya gue narik lo kemari supaya Rita menolak perjodohan itu!”


“Juragan dari Dubai? Kenapa lo gak setuju ? Itu bagus buat usaha kakek lo kan?”


“Kakek gue itu sudah kaya banget, ngapain mau ngorbanin cucu sendiri demi mengejar harta? Gue sebagai kakak berkewajiban melindungi adek gue!” ujar Andi ngotot


“Wokeh!! Selow aje man! Jangan nge-gas!” ujar Dewa menenangkan


“Habis sih suka pada memaksakan begitu, gue paling BENCI kalau ada pemaksaan begitu!”


“Memangnya Rita merasa dipaksa?”


“Enggak sih, kayaknya dia juga gak tahu tentang perjodohan itu”


“oh ya? kalau gak tahu kenapa lo ngotot mau menggagalkan? Apa Lo gak berlebihan?”


“Lo gak kenal kakek Sugi sih, kalau kita gak melawan dengan keras beliau suka bertindak otoriter, gue kasihan sama Rita dan jujur saja nih gue gak mau kehilangan adek gue untuk kedua kalinya!”


“Iya deh! Kakak yang bahiiikkk!!!” goda Dewa


“Tapi Ray, lo gak keberatan kalau Rita jadian sama Daniel?” tanya Dewa lagi


“Hmm...Daniel baik sih, tapi gue gak yakin Rita mau serius sama dia kalau agamanya beda. Walau gue tahu Rita sudah jatuh hati sama Daniel sejak pertama ketemu” jawab Andi


“Eh, Rita sudah jatuh hati sama Daniel? wahh...lo gimana sih, gue jadi pengganggu dong!” protes Dewa


“Tapi kan mereka belum jadian, kesempatan lo juga masih terbuka Ar!”


“Gak mau ah, gue nyerah saja!”


“Payah lo!”


“Dari pada adeknya gue milih kakaknya saja!”


“Idihh!!! Jangan-jangan lo AC-DC ya? Rita pernah cerita lo flirting sama Tommi”


“Kalau iya gimana?” goda Dewa


“Sana ah! Pait...pait...pait!!!” Andi menjauhi Dewa


“Bercanda lagi, masa gue AC-DC, Lo harus tahu koleksi cewek gue” ujar Dewa ketelapasan


“Eh? Wah sial!!! Gue lupa kalau lo play boy cap botol kecap!”


“Sial lo!” Dewa tertawa mendengar julukan dari Andi


“Jadi lo mau balik ke Sukabumi?” tanya Andi


“Iya deh, lagi pula kejadian tadi kayaknya kakek Sugi kelihatan gak suka sama gue”


“Beliau memang begitu sikapnya, tapi sebenarnya orangnya baik. Lo dengar sendiri kan kemarin dia mau nawarin lo pekerjaan di firma hukumnya”


“Ah elo gimana sih, masa gak ngerti kode. Itu basa-basi doang. Kan gue sudah bilang jurusan teknik elektro.”


“Hoo...begitu ya?”


“Nah gitu!”


“Eh ada ambulan” Dewa melihat keluar


“Siapa yang sakit?” tanya Andi


“Eh itu Rita!”Dewa melihat Rita yang terbaring di ranjang ambulan Rendy masuk ke dalam mobil bersamanya


Andi dan Dewa segera turun ke bawah untuk mengejar Rita tetapi mereka terlambat ambulan telah meninggalkan rumah besar.


“Rita kenapa mai?” tanya Andi pada Maia


“Demam, tadi pingsan di perpus.” Jawab Maia kembali masuk ke dalam


“Demam? Tadi pagi gak apa-apa ya?” bisik Dewa


“Mungkin dia gak merasakan, dia itu orangnya begitu. Sakit gak dirasain tiba-tiba pingsan saja”


“Eh rumah sakit mana tadi?”


“Paling rumah sakit yang kemarin”


“Kita gak kesana?”


“Ayo!” ajak Andi


Tiba-tiba kedua kakek yang baru saja selesai berkuda menghampiri Andi dan Dewa


“Kalian mau kemana?” tanya kakek Darmawan


“Ke rumah sakit kek!” jawab Andi


“Memangnya rahang kamu sakit banget?” tanya Kakek Sugi sambil memegang rahang Andi


Tampaknya kedua kakek tidak tahu Rita dibawa ke rumah sakit


“Bukan saya kek, tapi Rita”


“Hah? Kenapa Rita?” tiba-tiba suara kakek Sugi berubah cemas


“Tadi demam lalu pingsan di perpus” jawab Andi kaget dengan perubahan sikap kakek Sugi


“Kenapa lagi dia, ayo kita ke RS dik!” ajak kakek Sugi pada kakek Darmawan


“Ayo! Rumah sakit mana Di?” tanya kakek Darmawan, walau tampak lebih tenang dari pada kakek Sugi tapi wajah khawatir Darmawan tidak bisa disembunyikan


“Tadi sih ambulannya dari rumah sakit langganan kita kek!”


“Ayo kita kesana!”


“Kek, ganti baju dulu, baju berkudanya bau banget” ujar Andi mencium bau tidak sedap dari kedua kakek


“Eh iya, kita mandi dan berganti pakaian, lalu ke rumah sakit!” kedua kakek bergegas ke kamar masing-masing


“Ray, kita juga belum mandi lho!” ujar Dewa mengingatkan

__ADS_1


“Ayo kita mandi juga”


“Tapi gue mandinya lama lho!” ujar Dewa


“Kalau gitu, lo mandi di kamar mandinya Rita saja, kan orangnya gak ada”


“malu ah, masa di kamar mandi cewek”


“Kamarnya Rita gak seperti kamar cewek tahu, gak ada tuh warna pink dia kan penyuka warna hijau pastel” ujar Andi


“Iya deh, gue ambil baju dulu di kamar lo!”


Setelah mengambil tasnya, Dewa masuk ke kamar Rita, dan mengunci pintunya dari dalam ia cemas ada orang yang masuk ke dalam. Ia berkeliling kamar sebentar, ia melihat foto-foto yang terpampang di dinding. Tanpa sengaja ia melihat pesan yang baru masuk di ponsel Rita, dan tampaklah foto Daniel yang menjadi display di ponselnya Rita.


“Belum jadian ya? dasar Rakha sok tahu!” ujar Dewa kesal, ia segera masuk ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Andi, Dewa serta kedua kakek telah siap berangkat ke rumah sakit


“Kamu mau pulang Arya?” tanya Kakek Sugi melihat Dewa membawa tas ranselnya


“Iya kek, saya harus kembali karena dipanggil dosen pembimbing” jawab Dewa berbohong


“Bukannya kamu lagi libur semester?” tanya kakek Darmawan


“Iya kek, tapi karena saya menjadi asisten dosen semester lalu jadi saya diminta datang ke kampus”


“Kampus? Langsung ke Bandung?”


“Saya pulang dulu mengambil baju kek dan perlengkapan lainnya” jawab Dewa


“Kamu pinter sih ya makanya jadi asisten dosen” Kakek Darmawan melirik Andi untuk menyindirnya


“Ngapain jadi asdos, gak dibayar capek pula” jawab Andi


“Memangnya kamu gak dibayar Arya?” tanya kakek Darmawan


“ Saya dapat transport kek untuk setiap pertemuan yang saya ajar”


“Oh begitu, berapa? 100 ribu? 200 ribu?” tanya kakek lagi penasaran


“kecil sih kek, sekitar 50 ribu/ pertemuan”


“Wah kecil ya?”


Tak lama mereka telah tiba di rumah sakit, sebelumnya kedua kakek menemui dokter yang merawat Rita


“Cucu kami sakit apa dok?” tanya kakek Sugi


“Berdasarkan hasil laboratorium, ada bakteri di ususnya, bisa dibilang ia sakit typus, apa makanannya tidak dijaga?” tanya dokter


“Cucu saya itu baru pulang dari kemping dokter, mungkin dia makan langsung dari alam” jawab Kakek Darmawan


“Rita kemping?” tanya Kakek Sugi


“iya, diajak Radian” jawab Darmawan sekenanya


“Tumben Radian ngajak anak cewek gumam Sugiyono


Selesai konsultasi mereka menemui Rita yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit


Dewa melihat adegan Rita yang tertidur sambil memegang tangan Daniel, hatinya terbakar.


“Ray, gue langsung balik saja deh ya?”


“Eh gak pamit ke Rita dulu?”


“Gak usah deh, salam saja!”


“Lo sudah dapat tiket?”


“Nanti gampang gue beli langsung di sana saja!”


“Gue anter sampai bandara deh!”


“Gak usah Ray, gue bisa kok!”


“Memangnya duit lo cukup?”


“eh iya, duit gue rupiah semua” Dewa menyesal belom sempat ke money changer


“Lo gak usah ribet!, gue anter lo sampai bandara” dengan supir mereka menaiki mobil mewah menuju bandara, di jalan Andi memesankan tiket penerbangan menuju Jakarta


“Penerbangan lo jam 2 siang, sekarang masih jam 1”


“Terima kasih ya Ray, jadi enak nih!”


“Gue kan yang undang elo kemari sudah seharusnya gue balikin ke alam lo!”


“Sialan!” Dewa tertawa mendengar ucapan Andi


“Sorry ya Ar!”


“Sorry kenapa?”


“Antara Lo dan Rita tidak berjalan lancar, padahal gue lihat lo sudah meluk dia gue pikir semuanya akan lancar”


“Oh pelukan itu? Gue sudah merasa Cuma dari gue saja, Rita gak membalas pelukan gue”


“Hoo begitu ya? para kakek sudah heboh melihat pelukan lo!”


“Ooo...pantes mereka kelihatan sebel sama gue!”


“he eh! Lo sih, langsung nyosor saja, untung Rita sudah jinak sama lo jadi lo gak dipukul, kalau sembarangan orang meluk, habis deh babak belur dipukulin”


“Rita sangar juga ya?” Dewa merinding membayangkan dirinya dipukuli Rita


Menjelang pukul 2, Dewa bersiap memasuki pesawat


“Thanks ya! Salam untuk Rita dan nyokap!”


“Iya Ar, nanti disampaikan!”


Pukul 2 lebih 10 menit, pesawat yang membawa Dewa take off meninggalkan New Zealand. Andi kembali ke rumah sakit untuk menemui Rita.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2