Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 319: Kecemburuan Raffa, Ultah Rayya dan Selamat Tinggal Michele


__ADS_3

Daniel mengantar Rita kontrol kandungan. Mereka sengaja membawa semua anaknya untuk melihat adik mereka melalui USG.


"Kak Anna, Bang Affa lihat nih Adek!" Daniel menggendong anak sulungnya mendekat ke layar


"Itu adek Pi?" Tanya Ranna heran


"Adek lagi bobo Pi?" Tanya Raffa


"Iya lagi bobo. Mana dek Rayya?"


"Lagi tidur Pi sejak masuk RS tadi, kayaknya dia ketakutan ketemu dokter" ujar Rita.


"Jenis kelaminnya apa dok?" Tanya Daniel


"Sebentar.."dokter mengarahkan mouse ke bagian tertentu


"Laki-laki pak!"


"Tuhh kan aku benar!" Ujar Daniel tersenyum


"Abang ada temannya ya bang!" Ujar Rita, Raffa diam saja, ia terpaku melihat layar


Malam harinya..


"Kesampaian juga punya 2 pasang" ujar Daniel, akhir-akhir ini ia senang mencium perut Rita yang mulai membuncit


"InsyaAllah, mudah-mudahan dilancarkan!"


"Aamiin!"


Sementara Raffa merasa akan ada saingan, ia gelisah tidak bisa tidur . Diam-diam ia keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar orang tuanya.


"Siapa tuh Yang?" tanya Rita, Daniel membuka pintu kamar


"Abang? Kok belum tidur?" Tegur Daniel


"Abang boleh bobo di sini Pi?" Tanya Raffa dengan wajah memelas


"Masuk bang!"


Raffa berlari ke samping maminya


"Mami!!" Ujarnya senang, ia memeluk Rita.


"Kenapa Bang? Mimpi buruk?" Tanya Rita,


Raffa mengangguk, ia merebahkan kepalanya di lengan maminya. Tidak butuh waktu lama ia langsung terlelap.


"Dia sudah tidur?" Bisik Daniel


"Jangan dulu..biar saja malam ini dia tidur di sini" jawab Rita


"Ya sudahlah!" Daniel mengalah. Malam itu benar-benar ujian kesabaran bagi Daniel, cara tidur Raffa yang sering menendang membuatnya kesal. Ia ingin tidur tenang tanpa ditendang anaknya. Perlahan ia menggendong Raffa dan membawanya kembali ke kamarnya.


Keesokan paginya ia terlambat sholat subuh.


Daniel agak kesal, karena ia tidak pernah terlambat sholat sebelumnya,karena ia kurang tidur semalam menyebabkan ia sangat mengantuk pagi harinya.


"Kamu dari tadi aku bangunin sampai aku basuh dengan air wajah mu, gak bangun juga"


Setelah selesai sholat Daniel kembali ke ranjangnya


"Kamu gak kerja?" tanya Rita


"Aku sakit!" Jawabnya kesal, ia kembali menutup tubuhnya dengan selimut dan terlelap


Waktu menunjukkan pukul setengah 9 pagi,


Rita bergegas ke lantai bawah untuk memberitahu Dickens kalau hari ini Daniel tidak masuk kantor .


"Pak Daniel sakit Bu?" Tanya suster Erni heran karena tadi malam ia terlihat sehat.


"Iya, kata suamiku badannya sakit semua"


"baiklah Bu, Semoga pak Daniel lekas sehat kembali"


"terimakasih "


Dickens kembali ke kantor, Rita mengantarkan sampai depan pintu, Ranna menghampirinya


"Mami..hali ini kolam lenang, telakhil ya?"


"Iya kak, puas-puasin deh, nanti siang sudah dibongkar"


"Yuk Dek!" Ajak Ranna ke Raffa.


Raffa menolak, ia mendekati Rita.


"Ya udah, kakak sama dek Ayya aja!" Ranna ke dalam mencari adeknya yang bersama sus Eva.


"Abang kenapa lesu?" Tanya Rita heran


"Sudah sarapan kan suster?" Tanya Rita ke sus Erni


"Sudah Bu, tapi makannya juga sedikit "


Rita menggandeng Raffa ke ruangan lain.


"Abang kenapa sayang?"


"Mamii, Affa mau sama mami telus" jawabnya, ia minta digendong Rita.


Rita mengerti yang dirasakan Raffa, ia duduk dan membiarkan Raffa dalam pelukannya.


Ia mengusap punggung dan kepala Raffa. Cukup lama Raffa menyenderkan tubuhnya, Rita melihat jam dinding, ia berjanji untuk meeting online dengan Erina.


"Abang..gak mau main di kolam? Mumpung kolamnya ada" bujuk Rita sambil mencium pipi Raffa


"Mami ..adek.."


"Kenapa Bang, Adek Rayya?"


"bukan, adek di sini"Raffa menunjuk perut Rita


"kenapa sama adek di sini bang?"


"Kalau ada adek mami tetap sayang Affa?" Tanya Raffa terus terang


Rita mengangkat wajah anaknya


"Abang, mami akan tetap sayang sama Abang walaupun sudah ada adek" jawab Rita sambil menatap mata Raffa


"Iya mi?"


"Iya dong! Buktinya ada adek Rayya, mami tetap sayang Abang kan?"


"Tapi adek Ayya pelempuan kalau adek di sini lelaki"

__ADS_1


"Sama saja Bang, mami akan tetap sayang sama Abang. Mami saja sayang sama kak Anna walau dek Rayya perempuan "


"Iya mi?"


"Iya! Kapan mami boong sama Abang?" Rita memegang wajah anaknya dan mencium pipinya dengan sayang.


Raffa menggeleng, ia kelihatan senang lalu memeluk maminya kemudian turun dari pangkuan Rita. Ia langsung berlari ke belakang rumah dan nyebur ke kolam renang.


"Yee Adek, katanya gak mau!" Ujar Ranna yang wajahnya kena cipratan air .


Daniel mendengarkan percakapan Rita dan Raffa, ia sejak tadi duduk di anak tangga.


Setelah Raffa pergi ia turun tangga dan menghampiri Rita


"Kamu sudah baikan?" Tanya Rita


"Lumayan!" Daniel sudah mengenakan pakaian renang


" Lho kenapa berpakaian begitu? Bukannya tadi bilang sakit?"


"Itu karena hampir semalaman si Raffa nendang aku terus. Mana tidurnya gak karuan. Berkali-kali aku terbangun kena tendangannya."


"Ohh..begitu.."Rita tersenyum


"Aku berenang ah!" Daniel ke halaman belakang, sebelumnya ia mengambil pistol air berbentuk senapan yang sudah diisi air.


Ia langsung masuk ke kolam dan menyemprotkan air ke Ranna dan Raffa


"Papiiii!!!" Teriak keduanya kewalahan. Sementara Rayya yang berenang memakai ban justru terpacu mendekati papinya.


"Piiii!!!" Teriaknya, ia ingin bermain dengan pistol air. Daniel menembak ban pelampung Rayya yang membuatnya semakin menjauh darinya


"Piiii!!!" Teriak Rayya, ia berbalik dan berusaha mendekati Daniel. Ranna dan Raffa mengambil pistol airnya dan membalas tembakan Daniel, terjadilah perang pistol air dan Rayya terjebak di tengah pertempuran


"Aaakkkkkhhhh!!" Teriak Rayya keras


Rita yang sedang online dengan Erina penasaran, ia membawa laptopnya ke halaman belakang, ia melihat pertempuran antara bapak dan anak, ia meletakkan laptop dan merekam moment langka itu.


"Dahhh..Piii!!" Teriak Ranna yang kehabisan amunisi air


"Nyelah PII!!" Kali ini Raffa yang menyerah


"Yeaayyy papi menang!!!" Daniel berteriak kegirangan, ia mengangkat Rayya seolah-olah ia adalah piala.


"Piiii!!!" Teriak Rayya girang. Para suster tampak geli melihat tingkah majikan tampan yang bertingkah seperti anak-anak.


"Mii!!" Panggil Daniel


"Ya??"


"Ada kue-kue gak? Papi lapar nih!"


"Ada, Sebentar!"


Rita yang sekarang kerjanya pindah ke dapur menyiapkan makanan kecil untuk suaminya, ia menyuruh ART menyediakan meja di taman belakang dan menaruh beraneka makanan dan minuman di situ.


"Wahh...pesta kebun!" Daniel keluar dari kolam, ia mengambil piring dan mencicipi makanan yang tersedia.


"Mami lagi ngapain?" Teriaknya


"Lagi online Pi, sebentar!" Rita membawa laptopnya ke halaman belakang, ia lupa sedang online dan membiarkan laptop berkamera itu sehingga Erina dan para karyawan melihat kegiatan keluarga bosnya.


"Wah seru banget tuh!"


"Pak Daniel badannya lebih berisi ya?" Ujar staf yang lain


"biaya onlinenya mahal kan?" ujar staf yang lain


"gak apa-apa kapan lagi lihat pak Daniel basah-basahan " ujar staf yang lain


Erina mematikan komunikasi dengan Rita, ia menutup laptopnya.


"Yahh..kok diputus?"protes staf ex Dar.co


"Gak enak ah sama Bu Rita, dia lagi famili time"


"Lho kita famili timenya kapan?"


"Ya terserah, mau sekarang? Tapi seterusnya jangan masuk lagi!" Jawab Erina sebal, semua staf terdiam karena Erina mulai galak.


Ia cemburu dengan Rita, ia teringat beberapa tahun yang lalu ketika ia masih menjadi stafnya Daniel.


Flashback...


Pribadi Daniel yang ramah memesona hatinya. Diam-diam ia menaruh harapan Daniel akan melihat dirinya apalagi ia sering diajak pergi menemui klien bersama Eddy. Hingga suatu siang


"Tok..tok.." Erina mengetuk pintu ruangan Daniel, karena pintu telah terbuka ia masuk ke dalam ruangan, dilihatnya Daniel sedang lelap tertidur di sofa. Perlahan Erina menghampiri, ia mengagumi wajah tampan bosnya yang lelap tertidur dari dekat, ia hendak menyentuh rambut kecil di kening Daniel, tiba-tiba Daniel mengigau


"Rita ..kamu cantik sekali..aku sayang kamuuu..muachh!" Igaunya.


Erina terkejut, hampir saja ia terjungkal ke belakang, ia segera bangun dan keluar dari ruangan bosnya. Jantungnya berdebar kencang takut ketahuan, ia kembali ke ruangannya. Ia termenung memikirkan yang baru saja terjadi dan hari-hari dirinya bersama Daniel sebagai bosnya akhirnya ia sadar tidak ada celah baginya untuk masuk antara Daniel dan Rita.


"Erina!" tegur Daniel pada suatu waktu


"Ya pak?"


"Kamu kan resign dari sini rencana kamu apa?"


"Hmm...saya akan menikmati menjadi ibu rumah tangga dulu pak"


"Begitu ya?"


"Apa bapak mau memberikan penawaran?" tanya Erina, ia heran kenapa bosnya penasaran dengan kehidupannya setelah resign


Daniel tersenyum, ia suka dengan orang yang cepat tanggap.


"Kamu tahu D'Ritz?"


"D'Ritz? Toko roti yang viral itu pak? Katanya kalau beli di toko itu antriannya panjang ya?"


"Yah itu hanya ketika sedang ada promo saja, kalau tidak ada promo biasa saja"


"Kok pak Daniel bisa tahu?"


"D'Ritz itu milik istriku"


"Punya Bu Rita pak?"


"Iya! Dia menyalurkan hobinya bikin kue dan roti, dasar jiwa bisnisnya jalan eh sampai sekarang malah banyak penggemar nya"


"Saya berkali-kali antri pak, selalu kehabisan nomor antrian"


"Begitu ya? Nantilah saya akan minta dia kemari membawa roti-roti buatannya"


"Wah terimakasih banyak pak!" Erina tersenyum senang.


"Istri ku sedang mencari manager untuk membantunya mengelola toko, sebentar lagi dia kan lahiran"

__ADS_1


"Lahiran? Adiknya Ranna pak?" Tanya Erina kaget, seingatnya Ranna belum setahun lahir.


"Iya, jadi bagaimana kamu tertarik? Kamu bisa mendiskusikan jam kerjanya dengan Rita. Dia orangnya sangat santai, dia menganggap D'Ritz itu taman bermainnya "


"Taman bermain tapi terkenal ya pak?"


"Begitulah, ini kartu nama istri ku kamu bisa langsung berhubungan dengannya " Daniel memberikan kartu bisnis berbentuk roti


"Bentuk kartu nya unik pak!" Erina mengamati kartu bisnis itu


"Wanginya bahkan wangi roti, cium saja"


"Eh iya pak, kok bisa ya?" Erina terheran-heran


"Dia bilang supaya orang yang menerima kartu nama itu akan teringat dirinya. Ia sengaja memesan khusus untuk kartu serta wanginya lho"


"Wah..Bu Rita luar biasa..saya gak sabar untuk bekerja sama dengan nya"


"Benar nih Er? Nanti aku bilang istri ku"


"Iya pak, tapi saya menikah dulu ya?"


"Hahaha..iya Er, silakan!" Jawab Daniel tertawa


Daniel ingat panggangan Barbeque hadiah Rita, ia mengambil panggangan itu dan memanggang daging yang ia beli beberapa waktu yang lalu.


"Hmm...wangi sekali, kamu masak apa?" Tanya Rita


"Ini daging steak yang waktu itu, aku bikin sausnya sayurannya juga aku panggang di sini"


"Memangnya matang?"


"Semua sayur ini sudah matang cuma di Frozen. Aku sudah mencucinya lalu memanggangnya di sini, nanti kamu coba ya?"


Beberapa menit kemudian semua panggangan sudah matang, Daniel memindahkan ke mangkuk besar, khusus untuk Rita ia sediakan tersendiri di piring.


"Silakan untuk ibu anak-anak ku"


"Terimakasih papi anak-anak ku!" Jawab Rita


"Papi aku mau!" Raffa mengambil piring, Daniel memberikan potongan daging dan sayuran


"Kak Ranna?" tanya Daniel


"Mauu!! Tapi Anna gak mau sayulannya!"


Daniel memberikan potongan daging ke Ranna


"Suster, kalau kalian mau silakan!"


"Terimakasih pak!" Mereka sudah terlihat kepingin sejak mencium wangi daging panggang sejak tadi


"Gimana kak?"


"Enak Pi!!" Ranna menjilati saus dari tangannya


"Enak Bang?"


"Yummy Pi! Sayulannya juga enak!"


"Mi, Rayya boleh makan ini gak?" Tanya Daniel


"Boleh Pi, tapi dipotong kecil-kecil ya karena giginya belum terlalu banyak"


Daniel memotong daging menjadi kecil-kecil dan menyuapi Rayya


"Enak dek?"


Rayya memberikan jempolnya


"Ah kamu menggemaskan sekalii!!" Daniel mencium pipi Rayya gemas


"Papi!" Panggil Ranna


"Ya kak?"


"Gemas itu apa?"


"Gemas itu lucu"


"Ohh..Anna menggemaskan gak Pi?" Tanya Ranna


Daniel meletakkan piringnya


"Kemari Kak!"


Ranna menghampiri, Daniel menarik Ranna dan menciumi pipinya bertubi-tubi


"Ah...papiii!!" Ranna kegelian


"Nah itu namanya gemas kak!" Daniel melepaskannya. Rita tersenyum melihat suaminya yang mulai merata menunjukkan rasa sayangnya.


Hari Minggu yang ditunggu


tiba, Rayya genap berusia setahun


Daniel dan keluarga memakai kostum keluarga incredible, mereka tampak kompak dan lucu. Daniel yang bertindak sebagai MC memimpin jalannya acara.


Rita mengundang teman-teman les dan karate Ranna dan Raffa serta beberapa teman Rayya yang ia kenal juga para guru dari tempat les .


Raffa tampak tegar ketika bertemu dengan Michele, ia menggenggam tangan papinya erat ketika menyalami Michele.


Rita memberikan sambutan dan ucapan perpisahan kepada para teman-teman anaknya karena lusa mereka sudah pindah ke Kanada.


"Terimakasih atas bantuannya selama ini kepada Ranna,Raffa dan Rayya, adek-adek, instruktur dan para Sensei , silakan berkunjung ke rumah kami di Kanada jika kalian ke sana!"


Acara berlangsung meriah serta lancar, Raffa tidak memedulikan Michele, ia asyik bermain balon dengan teman-teman karatenya.


Michele memperhatikan nya dari jauh, kemudian ia meminta pulang.


"Maaf sepertinya Michele tidak enak badan"pamit Erin


"Ranna, Raffa!" Panggil Rita


Keduanya berlari lincah menghampiri maminya


"Salam sama Tante dan Michele, setelah ini kalian gak ketemu lagi" ujar Rita


Ranna dan Raffa menyalami Erin mamanya Michele.


Raffa agak ragu menyalami Michele, awalnya Michele hendak memeluk Raffa, tetapi Raffa menjauh


"No! Telimakasih sudah datang" ujarnya dingin lalu ia pergi


Michele menggandeng mamanya dan pergi meninggalkan rumah Rita. Tanpa Rita ketahui Raffa menyelipkan robot Optimus Prime pemberian Michele di tas souvenir yang diberikan Rita, sepertinya Raffa bertekad untuk melupakan Michele selamanya.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2