Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 245: Cerita tersembunyi Kakek Sugi


__ADS_3

"Say, besok kita ke kakek Sugiyono ya, beliau meminta kita menginap di rumahnya sehari atau dua hari sebelum kita ke Swiss"


"Hmm, baiklah, tapi apa kakek Sugiyono gak keberatan aku ikut kamu?"


"Kenapa beliau keberatan?"


"Kakek kamu kan menjodohkan kamu dengan orang lain"


"Kamu masih ingat yang itu saja, jadi kamu pikir kakek Sugi gak setuju gitu sama kita?"


Daniel diam saja tidak menjawab pertanyaan Rita


"Anak kita sudah dua Say, masa beliau gak setuju. Kamu gak usah over thinking sama kakek"


"Tapi kamu juga kelihatan agak segan kesana"


"Hah? Hehehe enggak juga, kadang aura rumah itu kurang cocok sama aku. Banyak hal yang gak enak terjadi di rumah itu, aku kurang nyaman"


"Tapi kata mu umur 16-an kamu sempat tinggal di rumah kakek Sugi kan? Yang ikut TWK itu?"


"Nah itulah, kalau keingetan itu aku sering malas ke sana lagi"


"Tapi kamu kan menang, sudah gitu sekarang Robby bukan lagi musuh mu kan?"


"Iya!, kakek minta kita sesekali menginap di sana bersama anak-anak. Mama bilang, beliau merenovasi kamar ku untuk aku nginap bersama keluarga kita"


"Oh ya? Aku jadi penasaran, apa seperti kamar kita di sini?"


" Kalau kamar ku di sana, mama memang sudah membuatkan dapur mini, tapi letaknya di luar kamar, jadi kalau dari luar ada dua kamar, padahal kalau masuk dari pintu biasa cuma satu kamar"


"Ada berapa lantai di rumah kakek Sugi?"


"Ada berapa ya? 4 kayaknya, karena ada basementnya untuk mess karyawan "


"Oo, hampir sama ya dengan di sini"


"Memang, katanya kakek Dar terinspirasi dari rumah kakek Sugi "


"Apa fasilitasnya juga lengkap?"


"Sangat lengkap! Kakek Sugi punya perkebunan apel dan jeruk, jadi sebelum masuk ke lingkungan rumah, kita melewati kebun buah dulu. Dulu aku sering ngumpet di hutan."


"Hutan?"


"Aku dan Kak Andi menyebut hutan karena banyak pohonnya. Aku belajar memanjat dari situ. Kadang aku ngumpet diantara pohon yang lebat, nanti para pekerja berteriak mencari aku" Rita tersenyum mengingat masa kecilnya


"Sungguh, Aku berharap anak-anak kita tidak sebandel maminya" canda Daniel.


“Hahaha..aku dulu gak suka dipaksa latihan taekwondo dan mengaji jadi aku sering kabur kalau guru privat ku datang”


“Apa kakek gak marah? setahu ku kakek Sugi orang yang sangat tegas”


“Tentu marah, aku sering menangis setelah dimarahi, biasanya yang menenangkan aku ayah. Kakek membiarkan aku ditindas oleh sepupu ku, bahkan di depan matanya sendiri”


“Kenapa begitu?”


“Beliau selalu bilang, kalau ditindas harus melawan siapa pun orangnya, jadi kalau aku menangis karena digebuki sepupu ku, kakek malah menceramahi ku dan bukan sepupu ku”


“Parah juga ya beliau”


“Tapi karena itu aku merasa kakek ada benarnya, di luar sana banyak yang lebih kejam dari para sepupu ku, kalau aku diam saja aku akan tertindas, jadi aku mulai rajin latihan”


“Oh begitu, mungkin cara orang mengungkapkan maksudnya berbeda-beda ya?”


“Benar sekali, kakek Sugi memang tidak seperti kakek Darmawan yang suka merangkul, mencium sayang. Kakek Sugi lebih kepada sikap, dulu aku sering gemetar kalau menerima telepon darinya, padahal beliau hanya ingin menyapa dan membelikan barang-barang” Rita tersenyum mengingat masa lalunya


“Menurut ku Yang, kamu itu mirrrip beliau!”


“Aku? Masa sih?”


“Aku ingat sekali tatapan beliau ketika kamu berhasil mencapai dinding tertinggi waktu memanjat atau wajah cemasnya ketika kamu dikalahkan Rendy. Ia lebih memikirkan kesehatan mu dari pada kemenangan mu wajahnya mirip kamu ketika cemas dan bangga”


“Begitu ya? aku baru tahu” Rita terdiam, tiba-tiba ia merasa kangen sama kakeknya.


“Kita perginya malam ini saja gimana?” ujarnya tiba-tiba


“Besok pagi saja, walau pun kamu cucunya tetapi bertamu itu ada adabnya, kecuali ada yang mendesak, jangan bertamu terlalu malam!” ujar Daniel mengingatkan


“Nggihh..kang mas!!” canda Rita


“Hah? Apaan tuh?” tanya Daniel heran dengan jawaban Rita


“Artinya Baiklah oppaaa!” ujar Rita menerjemahkan


“oooo” Daniel mengangguk


Esok paginya mereka berangkat ke rumah Besar Sugiyono. Setibanya di sana mereka disambut dengan meriah, hampir seluruh sepupu Rita yang tinggal di situ ikut menyambut.


"Assalamualaikum!" Ujar Rita dan Daniel bersamaan ketika memasuki rumah besar nan megah itu


"Wa'alaikummussalam, ayo masuk sayang ku" jawab Ratna, ia menghampiri dan memeluk anak perempuannya juga menyalami menantunya


"Wa'alaikummussalam!!" Jawab semua penghuni rumah


"Wow kompak sekali!" Rita kaget dengan sambutan hangat para sepupunya


"Apa kabar Rita? Daniel?" tanya Robby


"Alhamdulillah baik!" Mereka saling bersalaman.


"Eh kami membawa banyak oleh-oleh dari Eropa. Pak Umar, maaf bisa ambil barang nya di mobil saya?" pinta Rita.


“Eh ma, Daniel membuatkan sandwich untuk mama” Rita memberikan kotak kecil untuk mamanya


“Ah sandwich!! Wah terima kasih ya sayangg..mama kebayang-bayang terus sama rasanya”


“Apaan tuh?” tanya kakek Sugi yang muncul tiba-tiba


“Eh kakek!” Rita menyalami dan memeluknya, Daniel menyalaminya


“Ini pah, sandwich buatan Daniel, enak banget deh. Nanti cobain deh!” Ratna mempromosikan


“Kak Ranna, Bang Raffa kemari, salam dulu sama Aki kakek!” ujar Daniel dengan suara tegas.


Ranna dan Raffa yang sedang dikerubungi para sepupu Rita, langsung meninggalkan mereka dan segera menghampiri aki kakek


“Ahh...cicit-cicit ku!” Kakek Sugi merendahkan tubuhnya dan memeluk kedua cicitnya


Lalu menciumi mereka


Rita agak terkejut, ia baru melihat sisi lembut kakeknya


“Ini siapa?” tanyanya kepada kedua cicitnya


“Aki?” Ranna menjawab


“Kek!” Raffa menyambung


“Kalian pintar sekali!!! Aki kakek sudah lama ingin main sama kalian!” ujarnya senang.


“Ayo kalian duduk dulu, biar para staf membereskan barang kalian dan memasukkan ke kamar kalian!, eh kalian nginap di sini kan?” tanya kakek dengan suara tegas


“Iya kek! Mungkin tiga hari, karena Daniel sudah harus melapor ke sana” Jawab Rita


“Kesana?” Kakek Sugi bingung

__ADS_1


“Oh kakek belum dengar ya?” tanya Rita


“Belum! Tentang apa?”


“Daniel pindah kerja kek”


“Hah?”


“Saya pindah ke Lexington Corp, kek” Daniel menyambung pernyataan istrinya


“Lexington Corp? Hmm... itu pemiliknya..si..”


“Alex Ferguson!” jawab Daniel


“Ah iya, Sir Alex”


“Sir? Jadi dia bangsawan juga?” tanya Daniel kaget


“Iya, tapi gelar bangsawan dia ini dia peroleh karena berjasa pada negaranya dan bukan karena diturunkan oleh ayahnya, aku dengar dia anak dari istri siri kan?”


“Benar kek! Wah kakek hebat bisa tahu sedetail itu”


“Aku peringatkan ya, sir Alex ini sangat eksentrik, aku pernah dengar, ia merekrut pegawai tidak di kantor, melainkan di alam, ia mengajak para calon kandidat kemping selama beberapa hari. Katanya dari situ ia bisa melihat kemampuan tiap-tiap kandidat dan memutuskan posisi yang tepat di perusahaannya”


“Ooo begitu” Daniel dan Rita bersamaan


“Kamu tahu gak yang paling hebat dari sir alex ini?”


“Apa kek?” tanya Rita dan Daniel bersamaan


“Ia memulai usahanya dari membuat jaket survival, yang memberi modal kakek Darmawan! Dari situ dia berkembang pesat. Dari mulai usaha perlengkapan kemping, sampai merambah ke usaha lain. Beberapa tahun yang lalu beliau sempat menghilang, orang bilang ia sengaja bersembunyi tetapi beberapa waktu lalu dia mengundang beberapa koleganya ke kediamannya”


“Kakek datang?”


“Aku? Oh aku diundang tapi gak bisa karena waktu itu lagi pandemi”


“Pandemi kok dia bisa ngadain acara?” tanya Rita heran


“Kalau untuk sekelas dia sah-sah saja mau pandemi atau tidak!” ujar Sugi sambil menggoda Raffa


“Berarti beliau orang hebat ya?” ujar Rita


“Iya dong, oh ya Niel kamu dapat penempatan di mana?”


“Di kantor pusat kek”


“Kantor pusat? Posisi mu?”


“CEO manager”


“kamu bilang senior CEO?” tanya Rita


“Iya aku pikir juga begitu, eh setelah aku baca lagi surat tugasnya, ternyata CEO manager”


“Wah, itu orang nomor 3 tertinggi di perusahaan, kamu pasti sudah membuatnya terkesan”


“Mungkin kek, Daniel memenangkan juara utama saat kemping perusahaan kemarin” jawab Rita bangga


“ooo pantas! Berapa lama kamu dikontrak”


“Tiga tahun kek!” jawab Rita


“Jadi kalian akan pindah ke Swiss?” tanya Ratna , suaranya agak sedih


“Iya ma, insya Allah, katanya semua akomodasi dan fasilitas rumah sudah disediakan perusahaan, kami tinggal masuk saja”


“Kalian di kota apa?”


“Zurich kek” jawab Daniel


“Kakek sudah kesana?”


“Iya beberapa kali, waktu itu kakek ingin membeli salah satu hotel di sana, tapi gak jadi”


“Kenapa kek?”


“Ternyata di Auckland ada hotel bagus yang dijual murah, jadi aku beli itu saja”


“Oh yang hotel Ashton itu ya?” tanya Rita


“Yak benar!”


Pak Umar bergegas ke mobil Rita dan mengambil koper besar dan kardus ukuran sedang"


"Kopernya langsung bawa ke kamar saja pak" pinta Ratna, ia menggendong Ranna


"Sini main sama nenek, ayo dek Raffa juga" ajak Ratna


"Berenang yuk!" Ajak Daisy


"Iya berenang!" Ujar Robby


"Kalian berenang saja, aku mau bicara dengan Daniel" ujar Sugiyono


"Eh?" Rita melihat ke arah Daniel yang tampak agak pucat.


"Ayo Rit!, Anak-anak sudah gak sabar mau berenang!" Panggil Robby


Rita berlari mengejar mereka.


Sementara Daniel mengikuti Kakek Sugiyono menuju ruang kerjanya di lantai 2


Tak henti Daniel terkagum dengan design rumah Sugiyono yang lebih terang karena cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah di antara kubah.


"Kamu baru kesini sih ya jadi seperti orang bingung" ujar Sugiyono yang berjalan di depannya


"Iya kek, tapi rumah ini unik sekali ya? " Daniel terkagum-kagum


"Hehehe..kamu tahu butuh waktu 10 tahun bagiku untuk membangun rumah yang nyaman untuk keluarga tapi juga ramah lingkungan!"


"Ramah lingkungan?"


"Bagian luar rumah ini dilapisi fotovoltaic jadi seperti menyerap sinar matahari dan mengubahnya menjadi tenaga listrik. Kalau malam hari, pencahayaan didapatkan dari sinar matahari yang didapatkan di pagi hari"


Daniel menyimak penjelasan Sugiyono dengan tekun.


“Di sini tidak ada lift kek?” tanya Daniel, ia cemas melihat Sugiyono yang menaiki setiap anak tangga


“Ada kok, tenang saja, aku memakai kaki robot ku, ini rekomendasi si Andi. Lebih ringan bahannya aku juga banyak terbantu, aku lebih senang naik turun tangga daripada naik lift” ujar Sugi menerangkan


"Di luar rumah ini ada banyak lapangan, mulai tenis, gokart sampai kolam renang outdoor. Aku gak punya peternakan kuda, karena merepotkan, aku mendapatkan hadiah kuda ketika kunjungan ku ke Dubai, aku berikan ke kakek Darmawan, karena ia sangat suka kuda" ujar Sugiyono lagi. Daniel kembali mengangguk menyimak.


Kini mereka telah tiba di ruang kerja Sugiyono.


"Duduk Niel!"


Daniel menurut, ia duduk di sofa besar yang nyaman .


"Sebentar!" Sugiyono menelpon seseorang dari ponselnya


"Erwin?"


"Ya pak?"


"Bisa buatkan kopi dua, bawa ke atas ya?"

__ADS_1


"Baik pak!" Jawab Erwin staf dapur


Setelah menelpon, Sugiyono duduk berhadapan dengan Daniel.


"Kalian akan menetap berapa lama di Swiss?" Tanyanya to the point


"Kurang lebih 3 tahun kek, tapi bisa diperpanjang tergantung kebutuhan perusahaan"


"Hmm...jadi kamu akan membawa Rita dan anak-anak bersama mu kan?"


"Iya kek!"


"Apa kakek Darmawan tidak keberatan dengan kepindahan mu ke Lexi?"


"Kami sudah membicarakannya Kek, beliau bilang akan merelakan saya"


"Jeleknya kakek Darmawan itu, dia gak bisa menyatakan keberatannya, padahal aku yakin dia sangat membutuhkan bantuan mu di perusahaannya"


"Iya kek, tapi.." Daniel kembali merasa tidak enak hati


"Tapi, mungkin ada baiknya juga kamu bekerja sama orang lain, sebagai pengalaman untuk mu, kamu kan masih muda"


"Iya kek!" Daniel agak lega mendengar kata-kata Sugiyono


Kakek Sugi mengambil sebuah amplop besar dari atas mejanya


"Nih Niel kamu baca dulu"


" Apa ini kek?" Daniel membuka amplop besar yang berisi surat perjanjian yang telah ia tandatangani


"Eh ini??" Dia bingung bagaimana surat itu telah ia tandatangani


"Kamu ingat, sebelum menikah dengan Rita, aku meminta kamu menandatangani blanko kosong?"


"Iya?" Daniel mengingat tentang itu, salah satu syarat yang diajukan Sugiyono sebelum Rita dinikahi Daniel.


"Blanko kosong itu sudah ku isi dengan surat perjanjian, intinya Niel, jika kamu selingkuh dari Rita atau meninggalkan Rita atau mengabaikannya maka kamu harus menceraikan Rita dan menyerahkan hak asuh anak-anak mu ke tangan Rita."


Daniel membaca setiap pasal dalam perjanjian itu.


"Bagaimana kalau Rita yang meminta cerai kek? Apa aku juga harus kehilangan anak-anak juga?"


" Tentu saja! Makanya jangan sampai bercerai! “ ujar Sugiyono tegas


Daniel masih membaca


"Poin keempat tentang saham itu apa maksudnya kek?"


"Karena kamu sudah menjadi suaminya Rita, maka kamu akan mendapatkan hak saham di perusahaan ku. Nilai sahamnya akan bertambah seiring dengan usia pernikahan kalian. Dan saham itu batal kuberikan kalau kalian bercerai"


Daniel mengangguk mengerti.


"Kamu jangan berpikir aku ini kejam Niel, aku hanya ingin melindungi cucuku. Semua cucuku, suaminya akan aku begini kan. Kamu kan juga punya anak perempuan, pasti ingin melindunginya kan?"


"Iya kek! Walaupun sebenarnya ini semua tidak diperlukan, tetapi agar kakek tenang maka saya tidak keberatan"


"Bagus Niel!..di luar sana akan banyak perempuan lebih cantik dan lebih menarik dari istri mu. Mungkin sekarang kalian masih saling mabuk kepayang, tapi nanti bertambah usia, anak-anak semakin besar, pekerjaan, maka akan muncul kejenuhan antara hubungan kalian. Untuk itulah perjanjian ini aku buat!"


"Iya kek, Saya mengerti!"


"Hmm...apa kamu keberatan Niel?"


"InsyaAllah tidak kek, saya dan Rita juga akan selalu berusaha agar tetap menjaga hubungan kami"


"Bagus!! Ingat Niel menjaga hubungan itu bukan berarti kalian gak bertengkar, sesekali boleh bertengkar, tapi kamu jangan pergi dari rumah kalau sedang kesal. Atau bahkan mengabaikan Rita seperti waktu itu. Rita itu sangat sensitif dengan perasaan pengabaian. Sekali saja ia diabaikan maka ia akan pergi dari kamu!”


“Eh?”


“Kamu gak percaya? Kamu tahu gak cinta pertamanya Rita siapa?”


“Tommy?”


“Bukan Tommy, tapi Reza.”


“Tapi kan itu ayahnya?”


“Cinta pertama anak perempuan itu ayahnya Niel, kamu cinta pertamanya Ranna!”


“Masa sih kek? Soalnya kelihatannya Ranna tidak sedekat itu sama saya”


“Ranna masih 2 tahun, lama-lama ia akan melihat sosok lelaki dari ayahnya. Itu yang dilihat Rita dari Reza”


“oh begitu, tentang pengabaian itu gimana kek?”


“Jujur aku bilang, Darmawan itu beruntung.”


“Maksud kakek?”


“Dia datang ketika Rita merasa Reza telah meninggalkannya, aku dengar dari Ratna. Reza sudah menikah lagi ketika Rita sedang di sini dan ia sama sekali tidak diberitahu. Dari situ Rita bertekad meninggalkan Reza, apalagi ia mendengar kalau ada kakeknya yang lain. Kalau saja Reza tidak mengabaikannya, Aku yakin Rita akan sekuat tenaganya menentang kepindahannya ke Auckland”


Daniel mengangguk paham.


“Waktu Rita pindah ke Auckland, apa kakek tidak keberatan?”


“Tidak, sebenarnya tentang Rita, cucu Darmawan aku sudah lama tahu, tapi karena mempertimbangkan kesehatan Rita saat itu, jadi aku pikir nanti setelah keadaan sudah normal aku akan mengatakannya pada Darmawan.”


“Kesehatan Rita?”


“Kamu belum dengar? Rita mendapat jantung dari anak angkat Reza. Ia sengaja menikahi ibunya supaya bisa mendapatkan jantung dan liver anaknya. Ketika lahir jantung Rita cacat, keturunan dari Eka ayahnya. Aku sempat putus asa, tetapi kemudian aku mendengar sepak terjang Reza. Awalnya dia tidak mengakui untuk apa uang rumah sakit yang aku percayakan padanya dia habiskan. Setelah dipaksa baru deh ia menceritakan yang sebenarnya.”


“Jadi ayah Reza sampai menikahi wanita itu?”


“Iya, makanya aku sempat marah, aku pikir orang ini tidak tahu diri, anakku sangat mencintainya tetapi ia selingkuh dan menggunakan uang ku. Tentu aku memaksanya meninggalkan Ratna!”


“Setelah kakek tahu kebenarannya bagaimana?” tanya Daniel


“Aku memanggil dia kembali, juga Ratna. Aku menawarkan apa mereka ingin kembali bersama lagi dan mereka bilang, sudah tidak memiliki perasaan antara satu dan lainnya. Aku tidak bisa memaksanya”


“Apa Rita dan Andi tahu kakek berusaha mendekatkan orang tua mereka?”


“Sepertinya tidak, Reza dan Ratna yang meminta, mereka bilang ini antara mereka saja, anak-anak tidak perlu dilibatkan.”


Daniel mengangguk memahami


“Saya yang memegang surat ini Kek?”


“Jangan dong, itu punya ku, aku hanya menunjukkannya kepada mu. Niel, aku ini sudah tua, kekuatan ku sudah tidak seperti dulu, aku mencemaskan semua anggota keluarga ku. Jujur saja aku lega Rita dan kamu berjodoh”


“Eh tetapi?”


“Oh tentang Rendy?”


“Ya itu salah satu cara ku untuk memancing seseorang yang bersembunyi keluar.”


“Seseorang?”


“Iya, seseorang itu kamu Niel!. Radian melapor perkembangan hubungan kalian ke Darmawan, wah kamu itu lamban sekali ya? Rendy itu hanya rencana cadangan ku, makanya aku gak bilang apa-apa sama Rita. Eh gak disangka, si Arya muncul. Kami sempat deg-deg-an. Kami takut Rita berubah pikiran, karena Arya itu sudah dekat dengannya sejak ia kecil. Selain tampan, dia juga berprestasi di sekolahnya”


Daniel termangu mendengar perkataan Sugiyono


“Jadi Niel, aku titip Rita ya”


“Eh iya kek!”


“Ayo kita ke kolam renang, kolam renang kami berukuran standar olimpiade” Sugiyono mengajak Daniel pergi dari ruangan itu dan menuju kolam renang.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2