Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
chapter 13 Psikopat Pembakar Rumah


__ADS_3

Pengumuman mesjid “Saudara-saudara tolong partisipasinya untuk ikut memadamkan api di Rumah pak Edy jalan Sirsak 7 no.5”..pengumuman diulang-ulang hingga 5x. Ini rumah ke 7 yang terbakar di bulan ini. Para tetangga bergotong royong ikut memadamkan api. Syukurlah tidak ada korban jiwa, hanya saja harta benda habis terbakar si jago merah.


Jum’at pagi Rita memulai aktivitasnya seperti biasa, setelah urusan rumah selesai, ia mulai berlatih di halaman depan rumahnya.


“Selamat pagi nak Rita!” sapa nenek tetangga depan rumah.


“Selamat Pagi,Nek!” jawab Rita menghentikan kegiatannya sejenak.


“Rajin ya pagi-pagi sudah bangun, anak perempuan memang seharusnya seperti itu, jangan seperti cucu nenek, jam segini masih molor, ngorok pula” ujar nenek curhat


“Hahaha..nenek bisa aja, kak Eni kan pulang malam, pasti lelah!” ujar Rita membela


“Bukan Eni, itu si Alyah, tidur jam 9 malam, eh jam segini masih molor, mamanya juga membiarkan, sudah capek nenek menasehati,” gerutunya


“Nenek masuk dulu ya Nak!” ujar nenek meninggalkan Rita sambil masuk ke dalam rumah.


“Iya nek!”, Rita menyudahi latihannya, keringat mengucur deras . Ia mengambil handuk dan mengelap keringatnya, ia tidak langsung mandi karena masih berkeringat, ia membiarkan keringatnya hilang dulu baru mandi. Ia membuka ipadnya dan duduk di teras rumah, membiarkan tubuhnya yang panas menjadi dingin.


Perhatiannya tertuju pada berita rumah terbakar tadi malam.


“Hmmm...Jl.Sirsak 7, itu daerah sini juga, hanya berjarak 2 blok dari sini” gumam Rita


Tiba-tiba Hp Rita berbunyi, lagu “Lily” yang menjadi ringtonenya.


“Assalammu’alaikum, Ma?”, mamaRatna meneleponnya.


“Wa’alaikummussalam..Rita, mama jemput kamu besok saja ya, sekarang ini mama masih di Semarang, nanti sore baru tiba di Jakarta. Kemungkinan mama akan menyuruh pak Amir supir mama menjemput kamu ya!”


“oh begitu? Baiklah ma, nanti kabari Rita saja kalau pak Amir mau jemput!”


“Iya Nak, jangan marah ya sayang? Mama membereskan pekerjaan dulu, supaya kita bisa bersenang-senang ketika kamu sudah di sini!” bujuk mamaRatna


“Iya Ma, ga apa-apa!” ucap Rita


Sebenarnya Rita agak kecewa, ia begitu menantikan hari ini untuk bertemu mamanya yang sudah hampir 9 tahun tidak bertemu. Ia juga telah menolak untuk ikut perkemahan Ekskul di sekolahnya.


Hari Jum’at malam, bertepatan dengan hari pertama libur semester gasal, sekolah Rita mengadakan perkemahan selama 3 hari 2 malam, dimulai hari jum’at sore pukul 4 dan akan berakhir hari Minggu pukul 4 sore. Semua teman-temannya ikut serta pada acara itu hanya Rita yang tidak ikut, itu karena ia telah berjanji untuk menginap di rumah mamanya selama liburan ini.


Hari sebelumnya, Indra menelpon,


“Rita, kamu ikut perkemahan hari Jum’at besok?”


“Rita ga bisa ikut kak, mamaRita akan menjemput Rita Jum’at pagi”


“Ooo,..berapa lama kamu disana?” tanya Indra dengan nada kecewa


“Selama libur semester kak!, Rita sudah lama ga bertemu jadi ini kesempatan untuk berdekatan lagi sama mama” ujar Rita menjelaskan


“iya ya, padahal kakak mau ajak kamu ikut turing ke pandeglang pas liburan ini, bisa ajak geng kamu,dan teman-teman kakak!”


“Skip dulu deh Kak, mungkin next time” ujar Rita tersenyum.


Tak berapa lama, Kiki temannya juga menelepon


“Rittaa...lo ga ikut kemah hari ini?”


“Engga Ki, kan kemarin gue udah bilang, my nyokap mau jemput!”


“Iya sih, siapa tahu nyokap lo batal, ternyata engga ya Rit?”


“Engga, skip aja dulu deh Ki, salam sama anak-anak!”


“payah deh kalau ga ada tukang pukulnya!”


“Sialan lo, gue dianggap tukang pukul!” ucap Rita tertawa


“Masalahnya kalau ada lo, Indrajit dan teman-temannya yang ganteng pada merapat ke kita, kalau lo ga ikut mana mau mereka merapat!”


“Ajak kak Dewa saja, dia kan sama siapa saja mau!” usul Rita


“Kak Dewa juga ga ikut, ada acara keluarga katanya!”


“Kalau Kak Tomi?”

__ADS_1


“Huuu, Kak Tomi sibuk jagain resto mamanya, sudah fokus bisnis rupanya”


“Ya sudah, kan masih ada indrajit, Farhat,Rafi, kan pada lumayan ganteng tu!”


“Iya siy, tapi pada pelit, Farhat Cuma fokus ke Lisa doang, yang lain pelit!”


“Sudahh..lo beli sendiri aja, kan pada punya duit!”


“Iya siy..tapi ga ada lo ga rame Rit!”


“Iya next time lah kita gabung lagi!”


Kiki mengakhiri panggilan teleponnya.


Rita yang melamun di teras rumah ditegur oleh ayahnya.


“Jam berapa dijemput Rita? Kog kamu belum siap-siap?”


“Engga hari ini yah, mama masih di Semarang, mungkin besok atau lusa”


“yahh..begitulah mamamu, wong syibuk, tapi nanti kamu terpaksa sendirian di rumah Rita, ayah harus nginap di RS, beberapa dokter sedang ikut seminar di luar kota, jadi dokter jaganya terbatas. Ayah harus stand by di sana!”


“Ayah hebat! Padahal sudah kepala RS seharusnya ga usah turun tangan langsung ya!”


“Cuma stand by saja Rit, kalau-kalau dibutuhkan, itukan RS pemerintah, jadi atasan ayah ya Depkes.”


Sore harinya dr.soegiarto meninggalkan rumah. Rita ditinggal sendirian, melamun menatap jalan depan rumahnya. Waktu menunjukkan pukul 6 sore, Rita yang sejak siang hanya mendengarkan Ipod mulai merasakan lapar, tidak ada makanan di rumah, itu karena ia sudah berencana pergi dan ayahnya akan lama di RS sehingga tidak membeli bahan-bahan untuk dimasak. Setelah sholat maghrib Rita mengambil brosur restoran yang melayani pesan antar. Ia memesan nasi goreng seafood, milkshake dan otak-otak goreng, ia membayarnya melalui aplikasi Ovi. Saldo Ovinya mencapai dua juta rupiah, sejak dekat dengan mama Ratna,ia selalu mentransfer ke akun Ovi Rita sebagai tambahan uang saku sehingga Rita tidak perlu khawatir kelaparan. Ia menatap ke jalan, lampu jalan depan rumah sudah dihidupkan sejak pukul 6 tadi. Hari itu cuaca agak panas, Rita membuka jendela kamarnya agar udara masuk. Dia melihat seseorang keluar dari rumah depan, orang tersebut memakai jaket biru dongker, lalu berjalan perlahan dengan tangan dimasukkan ke dalam kantong jaket. Rita memperhatikannya dari jauh. Aneh,pikirnya panas begini pakai jaket!. Beberapa saat kemudian, Rita melihat rumah tetangga seberang menyala terang, Rita yang saat itu sedang kelaparan, mendengar penghuni rumah berlari keluar rumah sambil berteriak “ kebakaran-kebakaran!!”, tetangga-tetangga depan dan samping kiri kanan, mengeluarkan selang air, termasuk Rita, beberapa orang menyiram rumah samping kanan-kirinya supaya api tidak merembet ke rumah yang lain, sementara warga lainnya sibuk menyiram rumah yang terbakar. Penghuni rumah kebingungan, mereka dari mana api itu berasal? Rita memperhatikan penghuni rumah, nenek tidak ada!,


“Al, nenek mana? Tanyanya ke Alyah


“Oh iyaa...papa!..Nenek masih di kamar belakang!” ayahnya Alyah pak Edy terkejut, lalu ia mulai menyiram tubuhnya dengan air dan berusaha masuk ke dalam, orang-orang menahannya, api membakar teras,ruang tamu dan mulai merembet ke kamar belakang. Rita ingat tadi siang selimut tebalnya yang baru dicuci belum kering, dengan bergegas ia mengambil selimut dan membasahi tubuhnya ia membuat maskernya basah dan memakai kacamata renang, lalu ia berlari masuk ke rumah yang terbakar, orang-orang tertegun melihatnya masuk dengan cepat tanpa ada yang bisa mencegahnya. Dengan selimut tebal dan basah itu ia mencari sang nenek yang tidur di kamar belakang. Terdengar suara orang terbatuk-batuk dari dalam kamar, mencoba untuk keluar. Tapi handle pintu terlalu panas hingga mulai meleleh itu membuat pintu sulit terbuka. Rita mendengar suara nenek lalu berteriak


“Nenek! Jauhi pintu!! “ teriaknya, lalu ia menendang bagian kunci pintu tersebut, dengan tiga kali tendangan akhirnya ia berhasil membuka pintu kamar. Nenek yang terbatuk-batuk menurut ketika Rita memapahnya dan bersama-sama masuk ke selimut tebal dan basah tersebut, perlahan sambil menghindari kobaran api dari kiri dan kanannya, akhirnya ia berhasil membawa nenek keluar.


Pak Edy dan keluarganya memeluk nenek , mengucapkan syukur alhamdulillah. Ambulan dan mobil pemadam telah datang, beberapa saat kemudian api berhasil dipadamkan. Nenek dan Rita mendapatkan perawatan. Nenek mengalami luka bakar ringan di telapak tangannya karena memegang handle pintu. Rita mendapatkan oksigen, karena walaupun pakai masker basah, ia cukup banyak menghirup asap. Karena kesigapan para tetangga, rumah tidak terbakar habis. Penghuni rumah dimintai keterangan oleh polisi. Rita juga termasuk menjadi saksi, aksi heroiknya disaksikan banyak orang, dan diliput oleh media online. Beberapa saat kemudian Rita teringat dengan makanan yang dipesannya. Lalu ia minta ijin untuk keluar dari ambulan, nenek ditemani oleh istri pak Edy.


Rita berlari menuju rumahnya, disana telah menunggu kurir yang mengantar pesanannya, ternyata, Tomi.


“Lho Kak Tomi?


“Iya Kak, rumah depan itu, syukurlah sudah padam!”


“Iya tadi kakak sudah lihat, orang sini tertib ya, begitu api padam mereka dengan cepat meninggalkan lokasi jadi ga berkerumun.”


“Iya kak, tadi sempat dijaga polisi. Eh ngomong-ngomong berarti kakak sudah 2 jam nunggu di sini?


“Sebenarnya cuma 1 jam, tadi kamu ditelepon dari restoran kakak ngasih tahu keterlambatan karena agak padat pengantaran hari ini. Kebetulan karena kakak mengenali alamat rumah kamu, sekalian saja kakak antar, plus kakak tambahin bonus permintaan maaf karena pesanannya terlalu lama.”


“Bonusnya apa kak?”


“French Fries ukuran jumbo rit” ujarnya tersenyum.


“Ayo kak, masuk dulu?, Rita sambil membuka pintu rumahnya.


“Ga usah deh Rit, sudah malam, kakak juga harus balik ke resto, lain kali saja ya!”


“Baiklah kak, terimakasih bonusnya!” ucap Rita tersenyum


“Sama-sama Rit!” Tomi meninggalkan rumah Rita dengan penuh kesan. Sekilas ia melihat Rita yang keluar dari rumahnya dengan selimut dan keluar bersama sang nenek. Rita, pahlawan yang rendah hati pikirnya.


Situasi depan rumah Rita tidak seramai tadi, tapi polisi, petugas pemadam dan pak RT masih berada di tempat. Rita yang mulai diliputi kantuk yang luar biasa, menutup jendela kamarnya, dan mulai naik ke tempat tidurnya, saat itu waktu menunjukkan pukul 9.30 malam. Rita bermimpi tentang orang berjaket biru dongker tadi, orang tersebut berusaha membakar rumahnya, Rita terbangun dari tidurnya, dilihatnya jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul 12.00 dinihari.Ia merasa kehausan, ia menyesal tidak menyiapkan air minum di kamarnya, ayahnya tidak pulang ke rumah. Dengan memberanikan diri ia keluar dari kamarnya, lalu menyalakan lampu ruang tengah dan lampu dapur. Ia terkejut ternyata orang yang tadi ia lihat berusaha merusak kompor gasnya supaya terbakar dengan menggunakan pisau dapur. Rita yang masih terkaget-kaget dan masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya,ia juga mencium bau gas di dapurnya.


“Heh ngapain lo! teriaknya” orang tersebut yang kaget dengan kemunculan Rita di dapur lalu bergegas mendorong Rita, lalu lari menjauhi dapur, Rita yang terjatuh lalu mengambil ulekan batu didekatnya, lalu melemparkan ke bagian belakang orang tersebut dan mengenai kepalanya. Orang itu mengerang kesakitan lalu ia berbalik arah dan mulai menyerang Rita yang mengenali wajahnya. Rita yang masih shock mengambil kursi dapur untuk memberikan jarak antara ia dan orang tersebut. Orang tersebut sepertinya panik, menakut-nakuti dengan mengarahkan pisaunya ke Rita, lalu ia merusak sofa hingga busa sofa rusak keluar,lalu mengambil korek api gas dari saku jaketnya, ia akan membakar sofa tersebut. Rita mencium bau gas semakin menyengat berusaha mencegah orang tersebut menyalakan korek, ia melemparkan kursi yang ia pegang ke arah orang tersebut, lalu melakukan tendangan. Orang tersebut jatuh terjengkang, korek apinya terlepas dari tangannya. Rita tidak membuang kesempatan, ia menghampiri orang yang tersebut lalu melayangkan tendangannya ke wajah orang tersebut, hingga orang itu pingsan. Setelah melihat orang itu pingsan, Rita menendang korek api itu menjauh lalu ia membuka semua jendela dan pintu rumahnya. Ia mengambil Hp ke kamar, lalu bergegas menuju ke polisi yang masih berjaga. Polisi dan pak RT yang menerima laporan Rita bergegas datang ke rumah Rita, dilihatnya orang yang masih pingsan di ruang tamu. Polisi menghubungi tim forensik. Sekitar 45 menit kemudian, tim forensik dari kepolisian memenuhi rumah Rita, mereka mengambil foto-foto sebagai bukti. Ayah yang ditelepon Rita datang dengan wajah panik,


”Rita..Rita! “panggilnya .Rita yang terduduk di ruang tengah bangkit dari duduknya


“Ayah! Rita di sini! Jawabnya, Ayahnya menghampirnya dan memeluknya


“Kamu ga apa-apa kan nak?’ sambil mengelus rambut Rita


“Ga apa-apa Yah, Cuma selang kompornya rusak dirusak.


“Itu bisa diganti, tapi nyawa kamu itu lebih berharga.” Ucap ayahnya lega.

__ADS_1


Pak RT menghampiri dr.soegiarto dan Rita, ia meminta mereka memberikan keterangan di kantor polisi esok pagi. Tak berapa lama rumah Rita kembali sepi, masing-masing pulang ke rumahnya. Begitupun Rita dan ayahnya. Hari itu merupakan hari yang panjang baginya.


Sabtu pagi harinya sekitar pukul 9.00 Rita dan ayahnya ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Rita menceritakan kronologis kejadian di rumahnya, semua orang mendengarkan, nafas mereka tertahan, terutama pada saat Rita menceritakan perkelahiannya dengan pembakar.


“O iya pak, kemarin sekitar jam 6 sore , saya juga lihat orang itu mondar-mandir lewat rumah depan, saya pikir aneh banget udara panas kog pakai jaket”


“Apa kamu melihat yang aneh lagi?” Tanya polisi


“Saya juga lihat orang itu di kerumunan pada saat orang sibuk memadamkan api, karena saya mencari nenek yang belum keluar dari rumah.”


“Iya de, ternyata orang ini juga yang menyebabkan kebakaran di komplek-komplek sekitar rumah adek!” ujar polisi tersebut.


“Bagaimana membuktikannya pak?” tanya ayah Rita


“Dia selalu menyimpan kenang-kenangan dari rumah yang ia bakar. Seperti nomor Rumah, tim kami yang ditugaskan untuk menggeledah rumah pelaku telah menemukan barang bukti, di rumahnya juga banya benda-benda untuk menyulut api. “terang polisi


“Tapi kog dia balik lagi dan menyerang rumah saya?” tanya dr.soegiarto


“Dia marah sama adik ini! Karena teriakan adik ini membuat orang-orang bergegas memadamkan api sehingga Rumah depan tidak terbakar habis. Sepertinya ia penasaran.” Terang polisi lagi


“Tapi dia malah menyerang anak saya?” tanya ayah Rita lagi


“Itu karena ia ga menyangka aksinya dipergoki anak bapak, hampir saja ia menusuk anak bapak karena panik. Tapi de Rita ini hebat, bisa menjaga dirinya!” puji polisi


“Tetap saja pak, ia anak perempuan, tenaganya terbatas, saya bersyukur bapak-bapak polisi masih berjaga di sekitar situ, setidaknya bisa mengamankan, yang saya takuti pelaku tersebut sadar dari pingsannya dan kembali menyerang anak saya!” ucap ayah Rita


“Iya sih pak, tapi kalau bapak perhatikan, orang tersebut masih dalam perawatan di RS, hidung dan tangannya patah, saya pikir dia menghadapi lawan yang kuat!” terang polisi lagi


“Berdasarkan hasil pemeriksaan kejiwaan, orang ini terobsesi dengan nyala api yang besar, awalnya ia melihat orang membakar sampah, lalu ia mulai membakar rumahnya sendiri. Adiknya masih berumur 7 tahun menjadi korban dan meninggal dunia. Kejadian tersebut dianggap kecelakaan, sehingga ia tidak dihukum. Kemudian kedua orang tuanya bercerai, ia dititipi di rumah neneknya. Hobinya membakar rumah semakin menjadi-jadi, ia juga membakar rumah neneknya, syukurlah neneknya selamat, hanya saja ia diusir oleh neneknya. Kini ia tinggal di rumah kontrakan, kerjanya di pabrik batu bata bagian pembakaran. Agaknya dendam pada nenek yang mengusirnya muncul kembali ketika ia melihat ibu pak Edy” cerita polisi itu


“apa dia merasa menyesal pak? Tanya ayah Rita


“Kalau menurut psikiater, tidak ada penyesalan sama sekali. Kemungkinan ia akan dirawat di Rumah Sakit Jiwa” terang polisi lagi.


Satu setengah jam Rita dan ayahnya berada di kantor polisi, kemudian mereka diperbolehkan pulang. Sesampainya rumah, ternyata mama Ratna dan teman-teman Rita telah menunggu.


“Ritaaa!!! Panggil teman-temannya menghampirnya dan memeluknya satu-persatu


“Lo ga apa—apa kan?” tanya Kowi


“Om gue nelpon, dia cerita tentang lo, gue bilang ke teman-teman, terus kita buru-buru meninggalkan perkemahan langsung ke sini!” cerita Lisa


Rita menghampiri mamaRatna dan mencium tangannya. mamaRatna memeluk Rita erat. Rindu bertahun-tahun terobati sudah. Teman-temannya memperhatikan dengan rasa haru. Lalu mereka masuk kembali ke rumah.


Rita menceritakan kejadian malam kemarin, teman-temannya terkagum-kagum, mamaRatna lemas menjatuhkan dirinya ke sofa, mendengar Rita menolong nenek dengan masuk ke rumah yang terbakar. Lalu ia berkata,


“Sudah Rita, mama sudah putuskan, kamu tinggal saja sama mama, di sini kamu tidak aman, mama dengar kamu sudah diserang tuyul, preman, sekarang pelaku pembakaran, besok apa lagi? Kamu masih beruntung bisa selamat, kalau besok-besok apes gimana? Ucap mamaRatna dengan nada tegas.


Ayah Rita menatap tajam mamaRatna, ia ingin membalas kata-katanya tetapi saat itu banyak anak-anak. Rita yang merasakan perubahan suasana mengalihkan pembicaraan ke teman-temannya


“ eh kog kalian pada kemari? Emang kemahnya sudah selesai?” tanyanya


“Ah payah kemahnya ga seru, indrajit dkk ga pada datang, yang datang Doni doang, cuma dia sibuk sama anak kelas 10, kelas 11 dicuekin, ya kita pada pulang saja.!” Ucap Kiki kesal


“Ga apa-apa tu? Tanya Rita


“ya ga apa-apa lah, toh sebenarnya kemah itu untuk lebih mendekatkan kelas 10 ke sekolah, kita mah cuma pelengkap saja.” Ucap Lisa menambahkan


“Kalau kita diapa-apain, bilang saja sama papanya Lisa yang pengawas, kan pada ga berani tuh!” sambung Andien


“hahahaha...” mereka tergelak bersama-sama


Mereka ditraktir makan bakso oleh mamaRatna, dua jam kemudian, supir mamaRatna membawa tas Rita untuk ditaruh ke bagasi mobil mercy hitam seri terbaru. Rita berpamitan dengan ayahnya dan teman-temannya.


“Ayah,Rita pergi dulu ya, nanti setelah sampai Rita telepon ayah!” ucapnya sambil mencium tangan ayahnya. Ayahnya mengangguk memberikan ijin.


“Teman-teman, sampai ketemu 2 minggu lagi!”


“ahh shiaapp!!!,” ucap mereka kompak, Rita masuk ke mobil, mama Ratna telah menunggunya.


“Tante Ratna terimakasih ya traktirannya!” ucap Kowi Cs


“Sama-sama” jawab MamaRatna tersenyum, dan mobil pun berjalan meninggalkan rumah dr.Soegiarto.

__ADS_1


Kowi CS pun pulang ke rumah masing-masing.


__ADS_2