Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)

Rita(Petualangan Cucu Konglomerat)
Chapter 279: Kembalinya Kakek


__ADS_3

Daniel dan Rita kembali ke Jakarta dari Zurich, sesampainya di rumah mereka mendapat kejutan


“Surprise!!” teriak Andi


“Wah!! Kak Andi!” sebelum Rita memeluk kakaknya, Ranna dan Raffa terlebih dahulu menyerang uwa kesayangan mereka


“Uwa!!!”


“Hahahaha..kalian kangen uwa ya?”


“What’s up bro!” sapa Daniel menjabat tangan Andi, ia masih menggendong Rayya


“Baikk...ah..Uwa mau gendong Rayya!”


“Noo!! Uwa!!!” cegah Ranna dan Raffa ribut


“Sebentarrrrrr sajaaa!!!” pinta Andi memelas, akhirnya kedua batita memperbolehkan Uwanya menggendong Rayya


“Berat juga ya Niel?”


“Lumayan, anggap saja latihan angkat beban”


“Kak, kakek ada kan?”


“Ada tuh di ruang tengah!” Andi sangat senang menggendong Rayya yang lucu


“Abang ,Kakak kita sapa Aki Eyang dulu yuk!” ajak Rita


“Ayo!!!” teriak keduanya berlari lincah menuju ruang tengah


“Suster bisa pulang, besok libur dulu gak masalah, saya sudah minta aplusan sama pak Ridwan” ujar Rita kepada kedua suster


“Baik bu!” mereka meninggalkan ruangan, Rita dan Daniel menuju ruang tengah bersama Andi dan kedua batita.


Di ruang tengah, kakek Darmawan sedang duduk di atas kursi roda listrik yang biasa Rita pakai ketika kakinya luka. Ia menatap layar TV


“Assalammu’alaikum kakek!” sapa Rita, ia mencium punggung tangan kakeknya dan memeluk tubuhnya erat


“Aku kangen kakek” bisiknya sambil menitikkan air mata


“Ini siapa?” tanya Darmawan bingung, ia melihat ke arah Andi


“Ini Rita Kek, adiknya Andi. Ini suaminya Daniel! dan ini anak-anaknya” Andi menjelaskan, Daniel melakukan seperti yang Rita lakukan


“Kakek lupa sama aku” gumam Rita sedih, Daniel merangkul istrinya dan mengajaknya duduk, tiba-tiba Ranna berlari menuju kakeknya, seperti biasa ia melakukan lompatan andalannya dan menubruk aki eyangnya hingga kursi dan ia terjengkang ke belakang


“Aki eyang!!!!” teriak Ranna tertawa kegirangan, semua yang ada di situ kaget, lalu segera membantu Darmawan untuk bangun dari kursinya


“Rannaaa!!!!” teriak Rita dan Daniel bersamaan, mereka sangat kaget. Rita hendak memarahi Ranna,


“Aduh..kak Ranna, aki eyang kaget tahu, benjol deh kepala aki!” ujar Darmawan sambil terduduk di lantai dan memegang kepalanya sementara Ranna masih melingkarkan tangannya di leher Darmawan. Suara kakek kembali seperti sediakala


“Eh kakek ingat Ranna!” ujar Daniel yang duluan menyadari, Rita tidak jadi memarahi Ranna. Raffa mendekati Darmawan dan memeluk dan mencium pipinya


“Do you remember me Aki Eyang?” tanyanya dengan lucu


“Sure! Raffa! Abang Raffa!...” Darmawan tersenyum,


“Ah syukurlah” ujar Rita lega


“Eh kalian baru datang?” tanya Darmawan bingung. Rita dan Daniel mengulangi salamnya kepada kakek yang kini telah tersadar


“Iya kek, kami baru dari Zurich” jawab Daniel, ia duduk di sofa bersama Rita. Sementara Ranna dan Raffa masih memeluk Darmawan


“Mereka kangen kakek! Aku juga!” ujar Rita, matanya berkaca-kaca


“beberapa bulan terakhir ini aku seperti berada di dalam kaca, aku melihat sekitar ku tetapi aku sulit untuk mengenali, semua tampak blur” cerita Darmawan


“Kakek dioperasi?” tanya Rita


“Entahlah! Tanyakan pada Andi”


Andi main dengan Rayya digendongannya


“Ah operasi, hanya memasukan jarum kecil ke otak untuk mengambil sumbatan di pembuluh darah”


“Sumbatannya apa Ndi?” tanya Daniel


“seperti gumpalan darah beku, kata dokter kemungkinan karena jatuh waktu itu ada benturan dan memar di otak tapi tidak terlihat oleh CT scan”


“Terapi kakek seperti apa Kak?” tanya Rita


“Ya seperti akupuntur, di bagian kepala, punggung, tangan dan kaki. Jujur saja aku juga kaget kakek bisa mengingat kalian dengan cepat, karena sejak kemarin beliau tidak ingat apa-apa aku saja berkali-kali memperkenalkan diri”


“Mungkin gertakan dari Ranna memecahkan kaca dalam memori otak kakek” ujar Daniel sambil memeluk Ranna dengan sayang


“Apa mungkin itu kebetulan? Kakek tetap dicek dokter kan?” tanya Rita khawatir


“Tentu dong, besok dokternya datang.”


“Syukurlah, aku lega sekali, terima kasih ya Allah!” ujar Rita tanpa henti


“Jadi kalian menetap kembali ke Jakarta?” tanya Andi


“Iya, sesuai penugasan, tetapi setiap bulan aku harus ke Zurich untuk laporan”


“Cuma laporan saja ke Zurich apa gak boros?” ujar Darmawan sambil menggendong Rayya


“Lumayan Kek, kan biaya dinas” jawab Daniel


“Rayya ini lucu sekali ya? Ranna lucu, Raffa lucu, dan Rayya ini super lucu!!” Darmawan mengangkatnya ke atas


“Pelan-pelan kek, kakek kan baru sembuh” ujar Rita memperingatkan


“Aku ingin menghabiskan masa tua ku dengan cucu dan cicit ku. Aku muak dengan perusahaan, biar kalian saja yang mengurusi. Aku sudah memberikan mandat kepada pengacara ku untuk mengurus pemindahan pengurusannnya” ujar Darmawan, Rita dan Daniel diam saja mendengar keputusan kakek.


Malam harinya, Ranna dan Raffa menghampiri Daniel dan Rita yang sedang menonton tayangan berita di TV.


“Mami, Papi, aku mau tidur di tempat Uwa, boleh kan?” tanya Ranna sambil memeluk Daniel untuk membujuknya


“Me too mami, may we?” Raffa memeluk Rita


“Boleh! Tapi jangan nakal ya?” pesan Rita


“Yes mami! Love you!” Raffa mencium pipi Rita dan Daniel, lalu langsung keluar dari kamar , kini tinggal Ranna


“Kalau aku?? Boleh gak?” katanya dengan wajah memelas,


“Tanya mami!” ujar Daniel, ia tidak tahan melihat wajah lucu dan imut putrinya


“Aku boleh gak Mi? Nginep di uwa?” tanyanya lagi. Rita memperhatikan wajah anaknya


“Kenapa kakak mau di tempat uwa?” tanya Rita jahil


“Kakak mau main sama Uwa, selu!”


“Kakak kalau sama uwa suka nomplok-nomplok kayak tadi gak?” tanya Rita


“hmm....” Ranna diam saja, ia sering melakukan tapi kalau ia mengaku ia takut dimarahi


“Kak Ranna boleh nginep di uwa” jawab Rita


“Aciikkk” ia hendak pergi


“Tunggu dulu, dengarkan mami!” Rita menahan tubuh kecilnya


“Ya mami?”


“Jangan nomplok kayak tadi ya? bahaya! nanti kalau Uwa atau Aki eyang sakit gimana? badan kakak sakit gimana?” tanya Rita dengan nada lembut


“Ya mami”


“Ya apa?”

__ADS_1


“Jangan nompok!”


“Betul! Janji ya?” Rita memberikan jari kelingkingnya


“Iya!” jawab Ranna mengaitkan jari kelingking kecilnya


“Cium mami”


“Muach..” Ranna mencium bibir dan pipi kanan dan kiri Rita


“Peluk dong!”, ia juga melakukannya, lalu hendak lari


“EH kakak, kok sama papi enggak?” protes Daniel, dengan langkah malas ia kembali ke papinya, lalu melakukan semua yang ia lakukan ke maminya, setelah itu ia berlari


“Kakak!” panggil Rita, ia menghentikan langkahnya, dan menoleh


“Dadah!” goda Rita


“Dadah!” Ranna langsung berlari kencang keluar kamar orang tuanya.


“Lucu sekali dia!” Daniel geli melihat tingkah anaknya


“Iya, lucu dan bandel, aku heran kenapa yang perempuan lebih bandel dari pada yang lelaki” ujar Rita, Daniel menatap istrinya dengan wajah heran


“Kamu heran? Beneran? Anak itu cerminan orang tuanya! Kamu saja bandel, ya anaknya ikutan!” ledek Daniel


“iya...iya...aku tahu...seperti karma ya?”


“Eh, Rayya mana?” tanya Daniel


“Di pinjam kakek, katanya besok dikembalikan” jawab Rita santai


“Gak apa-apa nih?”


“Sayang, kita masih satu rumah”


“Oh iya ya! karena tinggal kita berdua di kamar ini” Daniel hendak memeluk Rita


“Yang!”


“apa?”


“Banyak CCTV di sini” ujar Rita memperingatkan


“Oh iya!, Daniel ke kamarnya, ia mengambil remote control dan kembali ke ruang tengah


“Apaan tuh?” tanya Rita heran


“Nih!” Daniel memindahkan tampilan cctv ke layar tv, lalu satu persatu kamera yang menyorot ke ruang tengah ia matikan, lalu layar kembali ke mode TV


“Nah aman!” ia ingin memeluk Rita lagi


“Belum, pintu kamarnya masih terbuka” goda Rita


“Ah sial!” dengan kesal ia setengah berlari mengunci pintu kamar dan mematikan beberapa lampu di kamar, lalu ia membuka pakaiannya dan menghampiri istrinya di sofa


“Sudah ah, kemari kamu!” mereka saling berpelukan di sofa besar dan nyaman itu, diiringi lagu instrumental Kenny G dari tv.


“Eh ini lagu favorit ku” ujar Rita, Daniel sibuk menciumi leher istrinya


“Sama!, aku paling suka breathless!” jawab Daniel, ia berpindah mencium bibir istrinya, mereka berciuman dengan panas


“eh”


“Apa lagi?” Daniel hendak membuka pakaian dalam istrinya


“Hah? Gak jadi deh!”


“Apaan sih? Bikin penasaran” Daniel menghentikan kegiatannya


“Aku tadi kepikiran sesuatu tapi lupa!”


“Dasar!” akhirnya mereka menghabiskan malam itu dengan bercinta di sofa, depan TV hingga pagi menjelang.


Pagi harinya, Daniel melakukan jogging pagi, sementara Rita sibuk mengetik di depan teras depan kamarnya


“Aku mens pagi ini, jadi malas untuk lari-lari”


“Kamu mengerjakan tugas kampus?” tanya Daniel sambil melakukan pendinginan


“Enggak, aku lagi menulis novel petualangan”


“Novel petualangan siapa?”


“Itu tentang kehidupan bocah kaya, terinspirasi oleh kehidupan ku”


“Kamu dibayar?”


“hahaha....belum cukup untuk diambil..payah memang sudah banyak kata hasilnya belum bisa dipanen”


“Mungkin cerita mu kurang menarik”


“Mungkin juga, awal-awal pembacaku banyak lho walau gak sampai ratusan tapi ada deh puluhan tapi lama-lama jadi satuan”


“Kok kamu tetap rajin up load?”


“Ya, aku kan lagi latihan menulis, lagi pula aku gak begitu suka dengan cerita yang beredar di pasaran. aku ingin ceria lain dari yang lain”


“Apa pembaca mu mengerti yang kamu ceritakan?”


“Hahaha...seharusnya sih ngerti, walau rata-rata tinggal 8 pembaca tapi ada yang baca juga kan?”


“Mungkin kamu perlu menambahkan bumbu-bumbu perselisihan antar saudara kandung, atau persaingan antar saudara itu lebih menarik kan?”


“Sebenarnya aku lebih senang cerita seperti dalam film God Father, film itu klasik pemainnya juga ganteng-ganteng!”


“Oh yang Al Pacino itu ya?”


“Iya!, film tentang mafia,...mafioso..numero uno! Muach!” Rita melancipkan bibirnya layaknya seorang mafia


“Itu diambil dari kisah nyata mafia yang tidak tersentuh kan? Siapa namanya? Al...”


“Al gozali?” jawab Rita asal


“Bukan! Dulu ada itu cerita di chicago sewaktu di sana masih ada pelarangan miras. Oh iya Al Capone!” ujar Daniel


“Kamu suka nonton juga?”


“Iya dong!, menarik! Al capone ini melakukan banyak kejahatan, dari mulai penyelundupan, pembunuhan sampai perdagangan ilegal miras tetapi pemerintah tidak berani menghukum karena begitu masuk pengadilan orang-orang yang mengadili pasti mati!”


“Tapi akhirnya dia tertangkap kan? Aku ingat filmnya tapi gak pernah sampai habis, karena waktu itu aku gak paham bahasa inggris”


“Iya, akhirnya dia dipenjara karena penggelapan pajak dan penyuapan. Begitu saja pemerintah sudah senang, katanya al capone dihukum enam tahun penjara”


“Cuma enam tahun?”


“memang, tetapi jangan salah, ia juga mati di penjara karena penyakit menular seksual”


“Hih!!! Tuhan itu Maha Adil, orang jahat dimatikan dengan cara hina ya?”


“Yak benar sekali!!!” Daniel membuka kaosnya yang penuh keringat, Rita masuk ke kamar tidurnya dan mengambil kaos ganti


“pakai ini supaya gak masuk angin!” ujar Rita


“Sebenarnya bukan supaya gak masuk angin, kamu cemburu kan para staf perempuan bolak-balik ngeliatin badan ku?” goda Daniel


“Idiihhh....GR!” jawab Rita ngeles


“Kelihatan dari mukanya!” ujar Daniel sambil meminum gatorade


“Kamu kerja hari ini?” tanya Rita


“Libur satu minggu!”

__ADS_1


“Libur? Beneran? Kok banyak banget liburnya? Kamu gak meliburkan diri kan?”


“Kenapa? Kamu khawatir aku jadi miskin ya?” ledek Daniel


“Yah seperti kamu bilang, anak-anak masih kecil dan pengeluaran banyak, tentu saja khawatir”


“Aku libur karena aku dan tim sudah menyelesaikan satu proyek. Kami berhasil menggolkan proyek! Itu proyek perdana ku!” Daniel mengatakannya dengan bangga


“Wahhh....dapat komisi dong?”tanya Rita girang, Daniel menggeleng


“Kalau di Lexi sistemnya tidak seperti di Dar.co, kalau meng-gol kan artinya kami memulai proyek itu dan uang proyeknya akan dibagi setelah selesai pengerjaan. Kamu tahu gak perusahaan apa yang berhasil kami kalahkan?” tanya Daniel


“Apa? Dar.Co?”


“Bukan! SC”


“SC? Kayaknya pernah dengar deh!”


“Itu perusahaan energi punya kakek Sugi”


“hah? Kamu mengalahkan tendernya perusahaan kakek? Waduh...”


“Kenapa waduh? Ini kan profesionalitas!”


“Iya sih tapi...” Rita tampak khawatir


“Kamu gak usah worry begitu, namanya usaha ya ada saja naik turunnya”


“Iya betul sih tapi kalau begini aku jadi gak enak sama kakek Sugi”


“Kenapa gak enak? Kan bukan kamu yang melakukan”


“Tapi kamu kan suami ku!”


“ini kan hanya sebatas pekerjaan, kakek Sugi pasti paham, pokoknya kamu pura-pura gak tahu saja”


“Sebenarnya proyeknya tentang apa sih?”


“Kami memulai proyek pengadaan pembangkit listrik dari bahan bakar terbarukan”


“Bahan bakar terbarukan? Jangan-jangan batu bara ya? itu mah bukan terbaru!”


“Bukan batu bara, Lexi memperbanyak pembuatan photo voltaic, cara kerjanya seperti daun di pohon, mengumpulkan sinar matahari dan mengubahnya menjadi listrik”


“Setahu ku yang sekarang ini harga produksinya masih mahal, sudah gitu belum bisa disimpan sebagai baterai”


“Itu yang lama, produk kami sudah diuji dan berhasil mendapat sertifikat internasional”


“Tapi masih mahal kan?”


“Dimana-mana yang namanya instalasi pasti mahal, anggap saja kamu membeli mahal untuk menghemat lebih banyak di masa depan!” jawab Daniel menerangkan


“Rumah kakek dipenuhi photo pholtaic”


“Aku tahu, itu juga salah satu sebab aku memilih proyek ini, menarik kan?”


“Apa benar ada duitnya? Maksud ku, energi terbarukan di Indonesia ini belum populer, orang masih mengandalkan energi fosil untuk bahan bakar, selain mudah didapat juga lebih murah!”


“Segala sesuatu harus dimulai dulu, kita tidak akan maju kalau terpaku pada masa lalu"


“Ciyeee...masa lalu! Tadi berapa lama liburnya?”


“Seminggu!, setelah itu aku harus ke beberapa sekolah dan kampus di Jakarta untuk mengadakan sosialisasi tentang pembangkit listrik ini, aku sudah minta tolong sama Anwar, ternyata dia anggota aktif alumni di SMAnya.”


“Anwar? SMA ku dong?”


“Iya, katanya sekalian untuk menyambut ‘Earth Day’ kan pas banget tuh, katanya lagi akan ada bazar, mungkin kamu bisa iseng menjual sesuatu di bazar itu”


“Bol jug!” Rita menepuk tangannya


“Apaan *** jug?”


“Boleh juga!”


“Ohh...kira-kira kamu mau jual apaan?”


“Belum kepikiran, tetapi harus sesuai dengan isi kantong anak SMA”


Seminggu kemudian,...


“Besok aku presentasi yang pertama di sekolah mu, kamu dengerin ya? ini presentasi ku yang pertama dengan bahasa Indonesia” ujar Daniel, logat Koreanya masih terasa


“Ya pak!!!” jawab Rita


Daniel memulai presentasinya, tetapi Rita senyam-senyum lalu tertawa-tawa


“Hei! Kenapa kamu senyum-senyum dan tertawa melulu? Kamu gak menyimak ya? itu gak sopan tahu!” bentak Daniel


“Kamu gak boleh bilang begitu, Yang!” ujar Rita


“Lho kenapa? Memang gak boleh begitu! Itu namanya tidak menghargai orang di depan!” protes Daniel


“Kamu gak tahu anak SMA noraknya kayak apa sih, apalagi yang presentasi cowok tampan, biasanya para siswi cewek ribut, dan lebih banyak moto dari pada nyimak”


“Jadi kamu sengaja berbuat begitu supaya aku siap?”


“Betul! Kamu pasang wajah datar dan cuek saja, gaya kamu yang cool keluarin seolah kamu presentasi di depan para bos!” ujar Rita memberi saran


“Memang aku seperti itu tadi, tapi kamu ribut sendiri”


“Nah, kamu harus fokus, jangan melihat ke aku yang rame sendiri!”


“Begitu ya?”


“He eh!”


“Lebih repot dari yang aku pikirkan, menggunakan bahasa Indonesia saja aku kaku”


“Kamu sudah bagus pengucapannya, beneran deh!”


“Aku dan tim sudah menyiapkan presentasi yang menarik, seharusnya mereka tertarik ya?”


“Kalau begitu coba saja tunjukkan ke aku!”


“Nanti kamu ribut sendiri!”


“Enggak deh, kan ada juga orang yang fokus” jawab Rita


Daniel memulai presentasinya, bahan presentasi dibuat sangat menarik seperti tayangan tiga dimensi, Rita sendiri dibuat fokus pada presentasi di depannya


“Nah, ada pertanyaan?” tanya Daniel, Rita terdiam, dia masih memikirkan tayangan presentasi tadi


“Halooo!!!!” tegur Daniel


“Ah iya! Bagus banget Yang!, seharusnya masuk ke TV , seperti kampanye orang pasti banyak yang tertarik deh”


“Apa benar?” Daniel tersenyum senang


“Beneran!”


“Sudah ah, aku mau tidur lebih awal supaya besok segar, kamu mulai bazar jam berapa?”


“Jam 7 sudah harus di tempat, karena mempersiapkan boothnya”


“Oh begitu, kalau aku dan tim akan datang pukul 9 , pukul 10.30 kami akan berangkat ke kampus trisakti”


“Oh Cuma sebentar ya di SMA?”


“Iya, kan seperti mengisi acara saja, kok kamu kecewa?”


“Kalau Cuma sebentar aku malas jualan”


“Jangan begitu, Anwar marah lho, dia sudah bela-belain menyediakan booth untuk kamu”

__ADS_1


“Iya..iya...”


_Bersambung_


__ADS_2