
Daniel merawat tubuhnya, ia rajin berolah raga. Setiap pagi ia jogging mengelilingi rumah besar, atau jika hujan ia melakukan sit up atau angkat barbel di kamarnya. Seperti yang ia lakukan pagi ini.
“Kemarin kamu jadi suntik ke rumah sakit?” tanya Rita, ia sedang bermain dengan Rayya di ranjang mereka, sedangkan kedua anaknya yang lain masih pulas tertidur.
“Sudah” Daniel sedang latihan mengangkat barbel
“Lalu?”
“Lalu apa? Cuma suntik saja kok, aku langsung kembali ke kantor”
“Gak di cek dulu kesehatan mu?”
“Ya standar sih, suhu tubuh, detak jantung, tekanan darah, alhamdulillah semua normal”
“hmm..konsultasi dokter?”
“Ya, Cuma sebentar”
“Kamu gak bertanya kenapa menjelang penyuntikan yang kedua justru libido mu naik?”
“Apa iya? Kayaknya biasa saja deh” jawab Daniel, kali ini ia melakukan sit up
“Kita makin sering melakukannya, di rumah Sukabumi , sepulang dari sana juga pagi ini dan beberapa ronde lagi”
“Kenapa? Apa kamu keberatan? Kelihatannya kamu juga menikmati”
“Memang, ,aku khawatir, apa kamu sehat-sehat saja? Jantung mu?”
“Detak jantung ku normal, justru aktivitas bercinta bisa membuat detak jantung normal”
“Dengan intensitas bercinta kita seperti kemarin dan hari ini, mungkin jadi lagi gak ya?”
“Semua mungkin walaupun kecil, aku baca KB lelaki itu diatas 80% efektif”
“Dua puluh persennya jebol?”
“Jebol? Maksudnya?”
“Berakhir kehamilan”
“Mungkin aku salah baca, tetapi kalau jebol ya apa boleh buat...”
“ya..apa boleh buat...dek Rayya jadi kakak,...yeeee!!!” Rita memainkan tangan anaknya seolah kegirangan
Daniel tersenyum melihat tingkah lucu istrinya
“Kamu mau melakukannya lagi?”
“Hah? Sekarang?”
“iya”
“Enggak ah, aku sudah keramas dan mandi junub. Lama-lama aku bisa masuk angin mandi terus” protes Rita
“Hatchi!!!” Daniel bersin-bersin
“Tuuhh kan kamu mulai pilek..”
Daniel mengurungkan niatnya untuk bercinta pagi itu.
“Aku merasa sangat jenuh di kantor, mungkin itu sebabnya aku menjadikan mu sebagai hiburan”
“Aku gak keberatan lho, sungguh! Apalagi makin lama kamu semakin ahli melakukannya”
“oh ya? hehehe...jam terbang memang mempengaruhi”
“Eh dari tadi Rayya mendengarkan percakapan orang dewasa, apa gak apa-apa ya?” tiba-tiba Rita panik melihat wajah anak bungsunya. Daniel mengambil Rayya dari Rita
“Hey...adek..kamu mengerti apa yang mami dan papi bicarakan?” tanya Daniel dengan suara lucu,
“hhaaaa...haaaa...piiiiiiii” kakinya aktif bergerak-gerak
“Dia minta turun pi” Rita melihat bahasa tubuh anaknya, Daniel segera menurunkan anaknya
“Kalau kamu bosan di kantor, pindahkan saja kantornya ke rumah ini, seperti waktu itu..anggap saja penyegaran”
“Boleh?” tanya Daniel
“Ini kan rumah mu juga, terserah kamu”
“hmm....begitu ya? aku akan menanyakan dulu dengan pak Ridwan”
“kenapa? Beliau kan Cuma mengikuti perintah kita saja”
“Iya sih, tapi apa nanti malah merepotkan?”
“Aku pikir sih enggak, coba deh kamu pikir kita kan jarang di rumah ini, beliau Cuma sibuk kalau kita ada di sini kan?”
“Tapi kalau kantor dipindah ke sini, berarti biaya makan dan minuman karyawan aku yang nanggung dong”
“Memang, tetapi kalau hanya sehari atau dua hari tidak akan menguras kantong kan? Anggap saja kamu traktir mereka”
“hmm...gimana ya?” Daniel melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul setengah 8,
“aku harus siap-siap nih” Ia langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang berkeringat setelah olah raga, satu jam kemudian ia telah rapi.
“Papi tampan sekali ya dek?” Rita menggendong Rayya dan memperhatikan suaminya
“Aku akan mempertimbangkan usul mu” mereka keluar dari kamar tidur dan menuju lobby rumah, tak lama kemudian supir kantor datang.
“Aku berangkat ya?” Daniel mencium kening Rita dan mengusap kepala anaknya
“Hati-hati papiii!!!” Rita menggerakkan tangan Rayya untuk melambaikan tangan, mobil yang membawa Daniel menjauh dari rumah besar. Tiba-tiba Rayya berontak dari gendongan Rita, ia ingin turun.
“Kamu mau turun?” Rita menurunkan anaknya dari gendongan.
Dengan perlahan Rayya memegang baju mamanya lalu mulai berdiri, ia memulai langkahnya, dua langkah ia jatuh, tadinya ia mau menangis tetapi Rita yang merekam dengan ponselnya memberikan semangat
“Ayo dek Rayya kamu bisa!!” Rayya bangkit lagi...dua langkah jatuh lagi...bangkit lagi kali ini tiga langkah, semakin lama langkahnya semakin banyak, akhirnya ia sudah jarang terjatuh.
“Hebat Adek!! Sekarang,...” Rita menjauhkan Rayya dari dirinya, lalu ia berteriak
“Adekkk!!! Mami di sini!!” panggil Rita
“hiiii” Rayya tersenyum melihat maminya, lalu ia mulai melangkah mendekati maminya dan ..akhirnya sampai
“Adek...kamu bisa jalann!!! Yeayyy!!!” Rita kegirangan...ia menciumi pipi anaknya bertubi-tubi
“hahahahaha...” Rayya tertawa senang. Rita menuntun Rayya kembali ke kamar mereka, di kamar kedua kakaknya sudah bangun dan sedang asyik menonton TV.
“Kak Ranna, Abang Raffa...lihat nih...dek Rayya sudah bisa jalan!” ujar Rita
“Really??” Raffa terlihat senang, ia menghampiri dan menuntun adeknya, sedangkan Ranna hanya memperhatikan dari jauh, ia asyik minum susu dengan gelas baru.
“Kak Ranna, Selamat Pagi!” tegur Rita, Ia mencium pipi anaknya
“Pagi” Jawab Ranna, ia membalas memeluk maminya
“Kamu gak ngompol kan?”
“Enggak!”
“Kakak pintar!!” Rita mengusap rambut anaknya lembut.
“Bang Raffa!”
“Yes MI?” Raffa berlari mendekati maminya
“Kamu gak ngompol kan?”
“No!” jawab Raffa menggeleng
“Abang pinter!” Rita mencium pipi anak lelakinya,
“Kalian lapar?”
“Mami, i want pancake!” ujar Raffa
__ADS_1
“Pancake?”
“iya, pancake dan telur seperti yang dibuat nanny beatice” ujar Ranna
“Oooh...okehhh!!!” Rita menelpon bagian dapur untuk mengirimkan telur, tepung serta susu cair. Tak berapa lama seorang staf dapur datang dan memberikan bahan yang diminta Rita
Dengan cekatan Rita membuat pancake seperti yang diminta anak-anaknya.
Pancake pun jadi, mereka menyantapnya dengan susu dan telur orak-arik
“Bagaimana? Enak mana? Buatan mami apa granny?”
“Sama!!” jawab Ranna, ia telah selesai makan dan menaruh piringnya di tempat cuci piring
“sama ya?” Rita kelihatan kecewa
“I think, mami’s mol yummy!” ujar Raffa
“Iya bang? Ah terimakasih!” Rita tersenyum senang, Raffa melakukan hal yang sama seperti Ranna.
“Kak, Bang, hari ini kita ke sekolah..kalian siap-siap ya?” Rita meminta para baby sitter yang telah datang untuk mempersiapkan anak-anak untuk berangkat sekolah
“Sekolahnya setiap hari bu?” tanya suster Erni
“Enggak, seminggu 2x, ini hari pertama. Aku mengikut sertakan mereka. Sekolah ini masih baru dan sedang buka kelas baru untuk anak-anak batita” jawab Rita
“Tetapi bulan depan kita sudah di Swiss bu?” tanya suster Rini
“Nah, itulah sebabnya aku hanya mengikutkan mereka bulan ini saja, lumayan kan dari pada mereka nonton TV terus di rumah”
“Lama sekolahnya berapa jam bu?”
“Cuma sebentar kok, 90 menit saja. Mereka mulai sesi jam 10.30-12.00.” jawab Rita sambil menelpon salah satu pekerja freelance nya
“ya bu Rita?”
“Dod, hari ini kamu free?”
“Free bu, ada proyek bu?”
“Ada, hari ini saya ingin kamu mengambil video anak-anak ku yang mulai masuk sekolah, bisa datang?”
“Sekarang?”
“iya dong, masa besok?”
“Siap bu, satu jam lagi saya di sana”
“Tiga puluh menit!” pinta Rita
“Siap bu!!!” Dodi menutup ponselnya
Seperti janjinya setengah jam kemudian dia datang bersama temannya. Rita telah siap bersama anak-anak. Setelah Dodi datang mereka pun berangkat ke sekolah.
Sekolah anak-anak batita itu terletak di sebuah gedung daerah perkantoran, tepatnya di lantai 10.
“Sekolah kok tinggi-tinggi ya?” ujar Dodi memecah kesunyian
“ting!” bunyi lift menandai mereka telah sampai di lantai 10. Rita mendaftar ulang ketiga anaknya, ia meminta ijin kepada kepala sekolah untuk mengambil gambar kegiatan ketiga anaknya di sekolah itu.
Kelas dibagi sesuai usia anak-anak. Rayya masuk ke kelas bayi, untuk dilatih motorik kasarnya, sedangkan Ranna dan Raffa karena hanya berbeda 11 bulan, mereka di tempatkan dalam satu kelas. Rita memperhatikan Raffa yang tidak seperti biasanya. Ia hanya berdiri di pinggir lapangan memperhatikan anak-anak lain melakukan kegiatan.
“Abang, kok gak berbaur seperti yang lain?” tanya Rita
“Kak Ranna?” rupanya ia masih ingat pesan Rita untuk selalu mengawasi kakaknya
“Oooh...sekarang abang gak perlu lagi mengawasi kak Ranna, abang ikut main dan belajar bersama ya?”
“oke mi!” wajah Raffa terlihat sangat lega, seolah bebannya selama ini telah terangkat. Rita memperhatikan kegiatan kedua anaknya, yang mengikuti instruksi guru. Para baby sitter mengawasi mereka dari pinggir lapangan.
“Kalian bergantian ya, Aku ada di ruangan sebelah, kelas bayi” ujar Rita
“Iya bu!” jawab Dodi dan temannya, mereka mengambil gambar Ranna dan Raffa yang mengikuti kegiatan dengan semangat. Sementara Rita memantau Rayya yang sedang belajar keseimbangan.
Rita sering tersenyum dan tertawa memperhatikan anak bungsunya, hingga sesinya berakhir.
“Kalau kelas bayi hanya 60 menit bu” jawab instruktur
“Oh begitu”
Rayya digendong suster Eva, baby sitter barunya
“Adek, bilang terima kasih sama teacher!” Rita mengajarkan Rayya untuk menjabat tangan gurunya
“Sama-sama Rayya!” jawab sang guru tersenyum.
“Ayo kita ke tempat kakak” Ajak Rita
Mereka kini berpindah ke ruang sebelah, di situ Raffa sedang bernyanyi. Anak-anak yang lain bertepuk tangan mengikuti nyanyiannya.
“Yess...Raffa, you’re good!...ada lagi yang mau nyanyi?” tanya guru, Ranna maju ke tengah, dengan percaya diri ia mulai bernyanyi.
“Bintanggg...kecilll” suara Ranna cukup keras dan fals. Banyak nada yang tidak sesuai dengan notnya. Beberapa anak kecil menangis mendengar suaranya akhirnya guru terpaksa menghentikannya bernyanyi
“stop..stop..stop..Ranna...sudah selesaikan menyanyinya?” tanya sang guru lembut
“belum ms, anna belum nyanyi cicak” dia selalu menyanyi dua lagu kesukaannya bintang kecil dan cicak di dinding.
“tapi...” gurunya hendak melarang Ranna bernyanyi karena suaranya, tiba-tiba Raffa maju, ia menggandeng tangan kakaknya lalu mereka berdua bernyanyi bersama
“Cicak..cicak...di dinding...” karena diarahkan Raffa, nada bernyanyi Ranna lebih baik dari sebelumnya.
“yeaayy!!! Selesai!!” guru tampak senang begitu juga dengan Ranna, ia kembali ke tempat duduknya.
Sekolah pun berakhir, semua murid mengucapkan terima kasih kepada guru, lalu membubarkan diri
“Selesai!!! Wah kalian pinter lho!! Yuk pulang!”
“Sampai bertemu lusa ya?” ujar sang guru
“Sampai lusa ms!!” ujar Ranna senang, Raffa juga melambaikan tangan
Di mobil Rita bertanya kepada kedua anaknya
“Kalian senang sekolah?”
“Kakak senang!” jawab Ranna, sambil memakan sosis yang sengaja Rita bekal
“Kalau abang?” tanya Rita
“Not bad! But kak Anna don’t sing to much” ujarnya tiba-tiba
“kenapa?” tanya Ranna
“cos, you sing annoying!” ujar Raffa, ia berterus terang seperti papinya
“enggak!”teriak Ranna kesal ia mendorong Raffa pelan
“Hei Kakak! Kebiasaan ah!” larang Rita kesal
“Kalian tadi merekam semuanya kan?” tanya Rita kepada timnya
“iya bu, ini perlu diedit ?”
“perlu dong, kalian bawa laptopnya kan? Setidaknya potong hal-hal yang berulang” ujar Rita
“Itu bu, adegan Ranna bernyanyi tadi gimana?” tanya Dodi
“Kenapa memangnya”
“yaa..banyak anak yang menangis..”
“Masa???” Rita tidak percaya
“Iya bu” ujar para baby sitter tiba-tiba ikut berbicara
“jangan diedit, biarkan saja. Saya mau melihat separah apa. masa sih parah banget..biar Ranna bisa lihat juga” ujar Rita
__ADS_1
“apa gak apa-apa bu? Nanti Ranna jadi sedih gimana?” tanya suster Erni yang sangat dekat dengan Ranna
“gak akan apa-apa” ujar Rita menenangkan.
Mereka tiba di rumah pukul 1, setelah makan siang, anak-anak tidur siang, sedangkan Dodi melanjutkan pekerjaannya.
Pukul 3 sore, video telah selesai diedit, Rita menontonnya sejenak.
“Baiklah, cukup begini saja, terima kasih ya? aku sudah mentransfer bayaran kalian hari ini”
“Terima kasih bu, kalau butuh kami tinggal telepon ya?”
“Beres!”
Dodi dan temannya meninggalkan rumah besar, Rita membagi cuplikan video kepada Andi dan suaminya.
Di kantor, Daniel terlihat sangat jenuh..ia membuka pesan dari istrinya
“video? “ lalu ia memutarnya..ia tampak senang menonton kegiatan sekolah anak-anaknya sampai adegan Ranna bernyanyi, ia menghentikan videonya sejenak, lalu tertawa geli. Ia tidak menyangka cara Ranna bernyanyi seperti Rita. Mario yang menerima video dari Andi mengirimkan pesan ke Daniel
“Bos...itu Ranna nyanyi...kok kayak maminya ya?”
“hahahaha...iya...” Daniel mengirim pesan dengan emoticon
“Apa gak bisa lakukan sesuatu bos? Kasihan Ranna kalau dia jadi dilarang nyanyi lagi” ujar Mario dalam pesan WA nya
“maksud mu?”
“Bos lihat kan? Kalau Raffa gak ikutan nyanyi sudah pasti Ranna akan dipaksa berhenti nyanyi, nanti dia akan sedih bos. Kasihan masa depannya masih panjang” jawab Mario
“Kamu terlalu berlebihan!” jawab Daniel
Video yang dibagikan Rita telah sampai kepada kedua kakek dan para sepupu. Tanggapan mereka beragam. Banyak yang memuji Raffa karena kedewasaannya membantu Ranna, tidak sedikit yang mengritik Ranna.
“Rita..anak-anakmu lucu sekali” ujar Kakek Sugi melalui Vcall, padahal ia tidak pernah Vcal sebelumnya
“Terima kasih kek!”
“Oh iya, jangan lupa anak-anak diles kan bela diri! Juga mengaji!”
“Iya kek!”
“oh satu lagi untuk Ranna, sekalian les vokal,..walaupun gak jadi penyanyi, setidaknya ia bisa nyanyi sesuai nadanya” ujar kakek Sugi
Lain lagi dari kakek Darmawan
“Rita,...Rayya sudah bisa jalan ya?”
“Iya kek, baru tadi pagi..tadi di sekolahnya ia memimpin anak-anak lain dalam hal keseimbangan”
“Wah hebat!...Raffa juga sangat hebat..kelihatan sekali jiwa pemimpinnya”
“Terimakasih kek!” Rita terlihat senang dengan pujian dari kakeknya
“oh iya Rit, Ranna,...dia lucu sekali bernyanyinya...kakek terus memutar-mutar videonya gak bikin bosen” kakek Darmawan tertawa renyah
“Terimakasih kek!”
Video Call terakhir hari itu dari Andi
“Hey Rit!”
“Kak Andi hebat banget!..langsung viral di keluarga video anak-anak!” ledek Rita
“hehehe...sayang kalau mereka gak menikmati tingkah lucu anak-anak lo Rit”
“iya sih,..tapi...kak apa perlu Ranna les vokal?”
“Les vokal? Les nyanyi maksudnya?”
“Iya, tadi kakek Sugi bilang, Ranna menyanyinya parah..”
“Hahahaha...kakek Sugi memang terlampau serius”
“Tapi tadi mama bilang juga,..les saja, Cuma untuk iseng. Supaya Ranna gak malu-maluin kalau disuruh nyanyi”
“Mama bilang begitu?” tanya Andi
“iya!,...apa separah itu?”
“menurut gue sih lucu Rit,..tapi semua terserah lo sih,..kalau dicoba gak apa-apa. namanya anak-anak”
“hmm...begitu ya?”
“iya!,..eh sudah dulu ya Rit,..ada telpon dari Irak nih!”
“oke kak, see you!”
Pukul 5 sore Daniel telah sampai di rumah, ia disambut Rayya yang berdiri menunggunya di depan pintu kamar
“wahhh...adek..sudah bisa jalan!!” Daniel tampak senang kedatangannya ditunggu putri kecilnya, ia menuntun anaknya ke kamar mereka
“Assalammu’alaikum...” sapa Daniel
“Wa’alaikummussalam!” jawab Rita,..anak-anak berlarian menghampiri papinya, Ranna mengambil jasnya dan Raffa mengambil tas kerjanya
“Waduuhhh...kalian bersemangat sekali” ujar Daniel tersenyum senang
Jas dan tas mereka taruh di ruang kerja papinya
“Papi, we went to school this morning” cerita Raffa
“oh ya?” Daniel bersikap seolah tidak tahu
“ya papi, kakak nyanyi dong!” ujar Ranna
“Oh ya? kakak nyanyi apa?”
“Bintang kecil dan cicak di dinding”
“I help kakak to sing!” ujar Raffa
“sedikit!” ujar Ranna, ia tampak kesal mengingat Raffa membantunya bernyanyi.
Malam telah larut, anak-anak telah terlelap di kamarnya, Rita dan Daniel sedang merundingkan sesuatu
“Yang, kayaknya Ranna memang harus les vokal deh” ujar Rita, Daniel tersenyum,..lama-lama ia tertawa geli. Itu membuat Rita sedikit tersinggung
“Kamu kenapa tertawa?”
“Karena lucu saja!”
“Lucu? Ranna bernyanyi memang lucu, tapi tadi beberapa anak sempat menangis mendengarnya”
Daniel kembali tersenyum, ia tidak tahan, akhirnya tertawa
“hahahahaha...”
“kamu kenapa sih Yang?” tanya Rita heran, akhirnya ia ikut tertawa karena melihat suaminya tertawa
“Tadi siang aku jenuh sekali di kantor, lalu aku membuka video dari kamu,..wah..benar-benar mood booster..terutama yang Ranna bernyanyi”
“oh ya? jadi menurut mu ia gak perlu les vokal?”
“Les saja!” ujar Daniel
“Menurut mu begitu?”
“Walaupun menurut ku lucu, tapi menurut orang lain belum tentu, lagi pula kamu lihat tadi kan, Ranna gak suka Raffa membantunya bernyanyi?”
“Iya sih, berarti kegiatan anak ku akan banyak ya?” Rita menulis di tabletnya.
“Kamu jadi mau ngantor dari rumah?” tanya Rita lagi, Daniel telah merebahkan tubuhnya, matanya mulai menutup
“Gak jadi ah,..terlalu ribet” ujarnya, lalu ia terlelap.
Rita mematikan lampu kamar, lalu ikut terlelap
__ADS_1
_bersambung_