
Raffa berulang tahun yang kedua, ia sangat bersemangat dengan ultahnya karena teman-teman dari karate dan les melukis akan diundang ke pesta ultahnya. Rita terbiasa mengadakan acara, ia mengajak Raffa untuk berbelanja keperluan pesta.
(Bahasa Inggris)
“Abang, mau kue bertema apa? Thomas? Avenger atau coco melon?” tanya Rita melihat-lihat kue ulang tahun
“Mogli!, abang ingin mowgli” ujarnya
“Hmm..begitu?..permisi...” Rita mendatangi CS toko kue dan memesan tema Mowgli
“Warnanya biru ya bang?”
“Ya mi,..oh ya aku boleh memilih kado untuk teman-teman?”
“Maksud mu cinderamata?”
“Iya!”
“Baiklah!”
Mereka hanya berbelanja berdua, Raffa sangat senang, baru kali ini ia merasakan perhatian mami hanya untuknya. Mereka mampir ke toko mainan, Raffa sangat serius memilih cinderamata untuk teman-temannya.
“Bang, kamu milihnya 2, yang diundang teman lelaki dan perempuan, coba ada berapa teman lelaki yang kamu undang?”
“Hmm...”Raffa berpikir sejenak, lalu ia menyebutkan nama temannya satu per satu.
“Lelaki 10 ya bang, perempuan...8”
“Jangan lupa Michele Mi”
“Iya, 8 itu termasuk Michele”
Akhirnya mereka memilih handuk berbentuk boneka beruang sebanyak 20 buah
“Ini saja mi?”
“Nanti kan digabung dengan dengan kue-kue” ujar Rita tersenyum. Petugas toko mengantarkan belanjaan Rita ke mobilnya. Rita dan Raffa meneruskan belanjanya.
“Makan dulu yuk Bang, mami lapar nih”
“Ayo!!” Raffa memukul pahanya, ia mulai merasa pegal
“Wah abang capek ya?, sini mami gendong”
“gak apa-apa mi?” tanya Raffa gak enak
“Gak apa-apa, dekat ini, itu restonya”, Rita menggendong Raffa, ia menciumi pipi anak lelakinya itu.
“Ahhh...mamiii” Raffa kegelian..
“Nanti kalau abang sudah gede, mami gak bisa cium abang lagi kayak begini” ujarnya sambil memeluknya dengan sayang.
Mereka memesan paket anak dan dewasa, Rita membuka pesan di ponselnya. Daniel memintanya membeli makanan untuk di rumah, ia sangat lapar habis bermain bersama Ranna dan Rayya.
“Mami mau pesan lagi untuk di rumah, abang mau lagi?”
Raffa mengangguk senang, ia menyukai rasa makanan di resto tersebut. Setelah pesanan datang mereka pun hendak pulang, di jalan ia melihat seseorang baru saja masuk ke parkiran mall itu.
“Micheelleee!!!” panggil Raffa,
“Abang!,...masukin kepalanya, itu bahaya nak!” ujar Rita memperingatkan
“Itu michele Mi!”
“Mungkin dia gak dengar, mobilnya lumayan cepat” ujar Rita sambil membayar parkir otomatis.
Dalam perjalanan pulang ke rumah
“Mami”
“Ya?”
“Abang mau menikah dengan Michele”
“Hah? Menikah? Abang tahu gak menikah itu apa?” tanya Rita, Raffa menggeleng
“Menikah itu apa mi?”
“Menikah itu, artinya tinggal bersama, seperti mami dan papi.” Ujar Rita
“Jadi kalau abang menikah dengan Michele, ia akan tinggal sama kita?”
“kalau menikah itu, abang harus bekerja dulu, supaya punya rumah sendiri”
“Kerja? Seperti papi?”
“Iya!”
“hmm...” Raffa terdiam mendengar penjelasan Rita, tak lama kemudian mereka tiba di rumah
“Assalammu’alaikum...”
“Wa’alaikummussalam...” jawab Daniel
“Mami pulang!!!” kebiasaan Ranna langsung nomplok siapa pun yang ia sukai
“aduh...aduh...kakak...!!” Rita tersenyum, Rayya berusaha berjalan mendekati Rita, tapi tanpa sengaja tangan Ranna menyenggolnya hingga ia jatuh. Tapi Rayya bukan anak yang cengeng dengan sekuat tenaga ia menarik celana Ranna agar membantunya bangun, jadilah celana Ranna melorot
“Hahahahaha....” Daniel tertawa geli melihat tingkah kedua anaknya, Rita pun tersenyum dan membantu Rayya berdiri.
“Kalian sudah makan?”
“Belumm...kan nungguin kamu!” ujar Daniel menyambut bawaan istrinya.
Mereka ke ruang makan dan membuka makanan yang Rita beli, tak lupa ia juga membelikan untuk para baby sitter dan ART.
“Kamu belanja banyak?” tanya Daniel disela-sela makan
“Lumayan! Tapi masih tercover kok”
“Acaranya besok jam 10 pagi kan?”
“Iya, acaranya di sini, kamu bisa datang?”
“jam 10? Bisa dong, aku ijin gak ke kantor ah. Aku mau menghadiri acara anakku”
“Ijin setengah hari saja, jangan penuh gak masuk” usul Rita
“Aku kan CEO, bukan staf lagi pula pasti kamu butuh bantuan kan?”
“iya juga,...terserah kamu deh”
Raffa sangat mandiri, ia mengganti pakaian dan menggosok giginya sendiri. ia telah bisa melakukan semuanya sendiri.
“tok..tok..”
“Ya?”
“Papi, boleh ngomong ke papi?” tanya Raffa, kepalanya muncul di depan pintu kamar orang tuanya
“Kemari bang!” Daniel menaruh tabletnya dan menggeser duduknya di ranjang untuk memberikan tempat kepada Raffa. Dengan semangat Raffa naik ke ranjang
“Papi, Abang boleh kelja di kantor papi?”
“Hah? Maksud abang, mau ikut ke kantor papi?”
“Iya, abang mau kelja seperti papi”
“Setiap hari?”
“He eh!”
“Kenapa bang?”
“Abang mau menikah dengan Michele, mami bilang sebelum menikah abang harus kelja dulu”
“ooo...” Daniel tersenyum, ia tidak menyangka kata-kata ini keluar dari anaknya yang berusia 2 tahun.
“boleh gak?”
“hmm...boleh!..tapi kalau kerja sama papi kamu gak boleh malas, gak boleh nangis, dan harus ada terus di kantor dari pagi sampai sore”
“Kalau abang mau main gimana?”
“Gak bisa dong, kan lagi kerja masa main”
__ADS_1
“Kalate dan les melukis gimana?”
“ya harus berhenti, kan kamu harus kerja”
“hmm...?” Raffa terdiam, ia tampak berpikir keras.
“Jadi kapan mau mulai kerja?” tanya Daniel
“Nanti deh Pi, abang kasih tahu lagi ..selamat malam..cup!” Raffa mencium pipi Daniel dan keluar dari kamarnya.
Rita baru saja keluar dari walking closet
“Siapa Yang?”
“Abang!”
“Kenapa dia?”
“Dia mau kerja sama aku, katanya dia mau menikah sama Michele” jawab Daniel tersenyum
“Iya, tadi dia menanyakan arti menikah di mobil,..wah anak-anak sekarang cepat besar” Rita mengoleskan pelembab di tubuhnya
“Michele ini cantik?” tanya Daniel
“Lumayan, tampang bule gitu deh”
“Teman di karate?”
“Iya, tadinya mereka ketemu di les melukis, lama-lama ia ikutan Raffa les karate juga” ujar Rita
“Aku pengen lihat anaknya, apa secantik itu sampai anakku ingin segera menikahinya?” ujar Daniel
“Kamu tuh terlalu serius menanggapi,..santai saja” Rita mengunci pintu dan mematikan lampu kamar, hanya menyisakan lampu di pinggir tempat tidur saja.
“Aku kepengen tahu selera anak lelaki ku, apakah setinggi selera ku?” ujar Daniel sambil merebahkan tubuhnya
“hoaahmm....” Rita yang kelelahan langsung lelap tertidur.
Keesokkan pagi, Rita bersama para baby sitter sibuk membungkus cinderamata untuk teman-teman Raffa, Rita juga menyiapkan kue-kue yang ia buat pagi-pagi sekali. Pesanan kue ulang tahun juga sudah tiba di rumah. Daniel dan Dickens membantu membuat dekorasi di ruang tamu. Rita meminta bantuan anak Beatrice untuk menjadi videografer, ia yang akan merekam semua acara.
Ranna, Raffa dan Rayya memakai kostum bajak laut, udara saat itu cukup dingin, Rita tidak mengijinkan Raffa berpakaian seperti Mowgli
“Abang, Mowgli itu hanya menggunakan ****** ***** saja, abang gak malu berpakaian begitu?”
“Tapi mi, masa Mowgli pakai baju bajak laut?” protesnya, walaupun ia tertarik, dengan pedang yang dimainkan Ranna dan Rayya
“Kalau abang maksa, terserah, tapi jangan salahin mami kalau nanti sakit ya?”
Semula Raffa hanya menggunakan celana saja, sepuluh menit kemudian ia mulai merasa kedinginan, akhirnya ia memakai kostum yang telah disiapkan Rita sebelumnya.
Rita, Daniel dan para baby sitter ikut memakai kostum bajak laut. Daniel memakai wig, kacamata sebelah dan kumis palsu seolah bajak laut sungguhan, Rayya sempat menangis melihat dandanan papinya, setelah Daniel melepas rambut palsu serta kacamatanya, Rayya terdiam.
Pukul 10 para tamu anak-anak telah datang bersama ibu mereka
“Selamat datang...ayo masuk!!” Ajak Rita kepada teman-teman Raffa.
Mereka datang dengan membawa kado
“Ini Fa, selamat ultah yaaa” satu per satu temannya memberikan kado kepada Raffa
“Terima kasih!” jawab Raffa, matanya berkeliaran, ia tampak gelisah menunggu seseorang. Ia menghampiri Rita
“Mami, Michele tahu pesta aku kan?” tanyanya gelisah
“Iya bang, mungkin dia terlambat, tunggu saja!” ujar Rita sambil menerima kado dari teman-teman Raffa.
Acara di mulai, Daniel menjadi MC acaranya. Awal-awal ditampilkan video kelahiran Raffa, kemudian video ultahnya yang pertama. Mereka mengadakan permainan yang seru dan lucu. Acara di tutup dengan acara bebas yaitu permainan balon dan bola di halaman belakang rumah.
Para ibu duduk di tempat yang telah disediakan, mereka juga disuguhi makanan buatan Rita
“Enak nih, bikin sendiri ya?”
“Kayaknya iya, mamanya Ranna pintar membuat kue-kue” ujar salah satu orang tua
“Oh ya?”
“Iya, Ranna sering membawa makanan ke tempat karate dan membaginya ke anakku, dia bilang maminya yang buat”
“Apa dia bisa menerima pesanan?”
Acara berakhir, semua tamu tampak puas dengan layanan tuan rumah
“Dahh....Raffaa....terima kasih yaaa!!!” ujar teman-temannya meninggalkan rumah
“Daahhh!!!” Rita melambaikan tangannya, tetapi Raffa tampak murung
“Abang kenapa?”
“Michele gak datang mi?” Raffa tampak kesal, ia menjatuhkan tubuhnya di sofa, sementara Ranna dan Rayya menjilati mentega di kue ulang tahun
“aduh kak Ranna makan kuenya yang bener dong, tuh ditiru adeknya”tegur Rita kesal, ia mengambil tissue dan melap mulut dan tangan Rayya yang berantakan dengan mentega.
“susterrr !!”
“Ya bu?”
“Tolong dong ini Rayya, sekalian mandikan deh”
“Iya bu” Suster Eva mengambil Rayya dari Rita. ART mulai merapikan bekas pesta, tapi Raffa tidak mau mengganti pakaiannya
“Abang, sudah sore. Mandi ya?” pinta Rita
“gak mau!, aku nunggu Michele” ujarnya bersikeras
“hmm....” Rita mengambil ponselnya, ia menghubungi mamanya Michele
“Selamat sore!”
“Sore!”
“Saya mamanya Raffa, mau tanya Michele tidak datang ke pesta ultahnya Raffa ?” tanya Rita
“Ohh...maaf mam, hari ini jadwal Michele ke rumah sakit, jadi dia tidak bisa datang” jawab mamanya
“Oh begitu, maaf kalau boleh tahu, Michele sakit apa ya?” tanya Rita
“Michele di diagnosa Leukemia 3 tahun lalu, sekarang ia sudah membaik, tetapi harus sering kontrol”
“Oh begitu, baiklah.. Apa sekarang dia sudah di rumah?”
“Iya, sudah”
“Bisa biarkan dia bicara dengan anakku? Raffa sudah menunggunya sejak pagi”
“Baiklah...Micheleee”
“Abang, kamu ngomong langsung ke Michele ya?” Rita memberikan ponselnya ke Raffa
“Ya halo?” Raffa tampak senang berbicara dengan Michele melalui ponsel. Ia yang tadinya murung menjadi kembali riang.
“Nih Mi, terimakasih ya?” ujar Raffa, ia mencium pipi maminya, lalu ke atas untuk mandi dan berganti pakaian.
“Abang senang sekali?” tanya Daniel, ia baru saja selesai berganti pakaian
“Iya, tadi Michele tidak bisa datang, aku menelpon mamanya agar mereka bisa berbicara”
“Kamu sampai melakukan itu?”
“Apa boleh buat, anakku sudah menunggunya sejak pagi. Aku gak tahan melihatnya murung”
“Ranna dan Rayya mana?” tanya Daniel
“Mereka di atas sedang mandi, kamu gak lihat ke kamar mereka?”
“Enggak, di sini masih berantakan ya?” Daniel melihat ruang tamu dan ruang tengah yang masih berantakan dengan aksesoris pesta.
“Iya, sebentar lagi orang yang bertugas membersihkan datang, juga orang yang mengambil balon di belakang, kamu bisa gantikan aku menunggu mereka di sini? Aku belum mandi dan sholat” pinta Rita, Daniel mengangguk menyanggupi. Rita pun segera ke lantai 2 untuk mandi dan sholat.
Malam itu sungguh melelahkan, keluarga itu telah terlelap padahal masih pukul 8 malam.
Keesokan paginya, rumah kembali ramai dengan suara beberapa orang sarapan pagi.
“ hari ini kalian karate ya?” tanya Daniel kepada kedua anaknya
“Ya papi!” jawab Ranna dan Raffa kompak
__ADS_1
“Kak Ranna les vokalnya bagaimana?”
Ranna mulai menunjukkan kebolehannya, ia menyanyikan lagu twinkle little star, Rayya menyukai lagu itu, ia berteriak kegirangan
“Adek...diam dong,..kakak lagi nyanyi” ujar Daniel
Suara Ranna masih belum bagus, tetapi ia bisa bernyanyi sesuai nada
“yeeahh...kakak...hebat!!!” mereka bertepuk tangan , Ranna tampak senang
“Abang, melukis apa?” tanya Daniel, Raffa berlari ke ruang tengah dan mengambil buku gambarnya, ia menunjukkan hasil les menggambarnya.Ia senang menggambar kereta api
“Ini Thomas bang?” tanya Daniel, Raffa mengangguk, walaupun masih tampak kasar, tapi terlihat bakat menggambar papinya menurun pada diri Raffa
“Wah ..kalian hebat sekali ya?”
“Oh iya, hari Minggu besok mereka tanding!” ujar Rita melihat jadwal
“Tanding? Karate?”
“Iya!”
“Mereka baru 2 bulan les sudah tanding? Gak apa-apa tuh?” tanya Daniel
“Mereka memang baru 2 bulan, tetapi untuk pertandingan ini mereka latihan intensif"
“Kok aku merasa yang bersemangat itu maminya ya?”
“Apa iya? Habis mereka lucu-lucu banget lho!” ujar Rita gemas
“Hari Minggu ini kan?”
“Bukan, Minggu depan”
“Oh!..insyaAllah papi mau nonton ah!”
“Asiikkk!!!” ujar Raffa dan Ranna bersamaan
Di tempat les karate, Ranna dan Raffa berada 1 kelas. Mereka tampak lebih menonjol dibandingkan anak-anak lainnya. Sejak kecil mereka sering melihat mami mereka berlatih tarung sehingga mereka terbiasa.
Ranna maju lebih dulu melawan anak lelaki, Raffa duduk memperhatikan, di sampingnya Michele yang baru saja datang.
“Apa kakak mu gak apa-apa melawan Anton?” bisik Michele
“Kakak ku sangat kuat, lihat saja deh!” jawab Raffa
Pada ronde pertama Ranna terdorong keluar, itu membuatnya kesal lalu ia membalasnya di ronde kedua, akhirnya ia berhasil menang di ronde ketiga.
“Yak..bagus Ranna!!” semua bertepuk tangan. Anton menangis tersedu karena kalah, sedangkan Ranna tersenyum kegirangan.
“Raffa, ayo maju!” pinta Sensei
Raffa melawan anak seusianya, dan seperti dugaan, ia memenangkan 2 ronde
“Hebat Raffa!!!” Raffa memberi hormat kepada lawan juga kepada wasit, sesi berlatih selesai, Rita menjemput mereka.
“Mami?”
“Ya Bang?”
“Aku boleh menginap di rumah Michele?”
“Hah? Menginap? Sekarang?” tanya Rita, Raffa mengangguk
“Michele, apa kamu sudah bilang ke mama kamu?” Michele menggeleng
“Abang, kalau mau menginap kamu harus minta ijin dulu, karena Michele masih tinggal bersama mamanya jadi kamu harus ijin menginap dengan mamanya Michele” ujar Rita menjelaskan, Raffa mengangguk
“Kalau begitu, Michele saja yang menginap di rumah kita” ujar Raffa
“Hah?”
“Please mami?”
“tapi...”
“Mami yang minta ijin ke mamanya Michele”
“Sebentar ya Bang?”
Rita menelpon suaminya untuk minta pendapatnya
“Bagaimana menurut mu?”
“Ya kamu telpon saja mamanya Michele, lebih baik dia di kita daripada Raffa ke sana” jawab Daniel
“Begitu? Apa kamu gak keberatan?”
“Aku? Kenapa keberatan?”
“Ya,..ada orang asing di rumah kita”
“Sayang, Michele hanya anak kecil, dan dia teman anakku. Lagi pula aku penasaran dengan Michele” ujar Daniel
“Begitu ya? baiklah!” Rita mengakhiri telponnya, lalu menghubungi mamanya Michele,
“Hmm...bagaimana ya? tapi ada obat yang harus Michele minum setiap malam” ujar mamanya
“Begini saja, aku akan mampir ke rumah mu, untuk mengambil pakaian dan obat Michele bagaimana?” tanya Rita
“kamu mau ke rumah kami?”
“Iya, berikan saja alamatnya” ujar Rita
Mama Michele memberikan alamat rumahnya, Rita memasukkan ke program GPS.
“Kita kemana mami?” tanya Ranna dengan mulut belepotan es krim
“Kakak makannya yang benar, suster, jangan sampai tangan Ranna mengotori jok mobil ini” pinta Rita
“Baik bu” ujar suster Rini, mengelap tangan Ranna
Ia pun mulai menyetir menuju rumah Michele. Jarak rumah Michele dari tempat les membutuhkan waktu 40 menit. Rumah Michele cukup besar,
“Rumah Barbie!” teriak Ranna. Dari luar rumah Michele bergaya seperti rumah Barbie, berlantai 2, catnya berwarna pink dan atapnya berwarna ungu.
“Kamu suka Barbie ya Chele?” tanya Rita , Michele menggeleng
“Mama yang suka, dia memiliki banyak koleksi boneka Barbie di lemari kaca” ceritanya
“Oh begitu” Rita hanya sebentar di rumah itu, ia menerima beberapa butir obat yang harus diminum Michele dan pakaian tidur Michele yang berwarna pink juga pakaian untuk esok hari.
Raffa sangat senang Michele bisa menginap di rumahnya.
“Mami sudah minta Beatrice menyiapkan kasur ekstra di kamar kalian”
“Asyikk!!” Michele kelihatan senang, ia juga telah akrab dengan Ranna juga Rayya.
Makan malam tiba, untuk pertama kalinya Daniel bertemu dengan Michele.
“Oh ini yang namanya Michele?”
“Aku Michele”
“Aku Daniel, papinya Ranna, Raffa dan Rayya” ujar Daniel memperkenalkan diri,
“Lengkap amat!” ujar Rita tersenyum
“Takutnya dia tahunya aku papinya Raffa saja” elak Daniel
“Yuk kita makan!”
Cukup banyak hidangan tersaji, pembicaraan hangat di ruang makan membuat Michele betah berada di keluarga itu.
“Setelah makan jangan lupa sikat gigi ya?, oh iya Michele, kemari” Rita memanggilnya
Ia memberikan beberapa butir tablet untuk diminum Michele
“Itu apa mi?” tanya Raffa
“Ini? Obatnya Michele”
Tiba-tiba Raffa menepak obat itu dari tangan Rita
_Bersambung_
__ADS_1