
“Saye!” seseorang menepuk pundaknya, Saye menoleh, betapa kagetnya ia, Adrian mantan suaminya menjemputnya di bandara.
“Eh Mas, kog tahu aku tiba hari ini?” tanya Saye bingung
“Aku tanya-tanya penerbangan dari Auckland kesini, dan ternyata betul. Kamu sudah ambil bagasi?” tanya Adrian. Wajahnya terlihat lelah
“Belum, aku sedang mencarinya” Saye celingukan
“Apa warna kopermu?” tanya Adrian
“Coklat tua!”
“Ah, koper bulan madu kita!” Adrian menunggu dengan sabar di bagian bagasi, Budi yang melihat hal tersebut berpamitan dengan Saye.
“Kelihatannya, sudah ada yang membantu, kalau begitu aku permisi dulu!” ujar Budi mengangkat koper dan tasnya
“Baiklah, terimakasih untuk penghiburannya!” ujar Saye tersenyum
“Sama-sama terimakasih untuk coklat blastnya!” ujar Budi tersenyum, kemudian ia pergi
Saye memperhatikannya punggungnya yang semakin menjauh
“Ayo kita pergi!” ajak Adrian, ia mendorong koper Saye dan merangkul pundak Saye. Selama mereka menikah bahkan pada saat berbulan madu, Adrian tidak pernah merangkulnya atau bahkan membawakan kopernya.
“Eh, Mas, kamu sudah makan?” tanya Saye, perutnya mulai keroncongan, karena sudah masuk waktu makan siang.
“Belum, kamu mau makan?” tanya Adrian, Saye mengangguk. Adrian kembali merangkulnya, lalu mengajaknya makan di sebuah resto di bandara.
“Di sini mahal mas, kita makan di luar saja!” ajak Saye, ia menolak masuk ke resto tersebut. Adrian menahannya
“Gak usah, kamu kelihatan kelaparan, tuh wajahmu pucat, aku gak mau kamu pingsan. Ayo, makan di sini saja, gak usah khawatir, uangku banyak!” ujar Adrian, ia memberi isyarat kepada waiter untuk menyediakan 1 meja untuknya. Saye dibuat terbingung-bingung dengan sikap Adrian yang ramah dan manis padanya.
“Apa ini pancingan, supaya aku kembali padanya?” pikir Saye, ia memilih nasi goreng dan jus semangka, sedangkan Adrian memilih hidangan steak yang cukup mahal. Beberapa menit kemudian pesanan mereka tiba
“Silakan!” ujar waiter mempersilahkan
“Wow, besar sekali steaknya!” ujar Saye terkagum-kagum
“Iya ya? wah apa bisa habis jika aku makan sendirian?” ujar Adrian bingung, kemudian ia mulai memotong steaknya, dan memberikan separuh kepada Saye
“Untukku? Kalau kamu masih lapar gimana?” tanya Saye khawatir
“Kamu bisa membagi nasi goreng mu untuk ku!” ujar Adrian tersenyum manis
Saye tidak menjawabnya, ia meminta waiter membawakannya piring kecil, kemudian ia membagi nasi gorengnya ke Adrian.
“Kamu gak suka nasi yang sudah dimakan dan tercampurkan? Jadi sebelum aku makan, aku pisahkan dulu ya!” ujar Saye. Adrian tersenyum dan mengangguk. Mereka makan dengan lahap.
“Sudah berapa lama menunggu mas?” tanya Saye
“Yah 3-4 jam!” ujar Adrian, ia memesan desert puding coklat, dan membaginya dengan Saye
“Ada apa mas? Kog tiba-tiba bersikap manis seperti ini?” agaknya Saye sudah tidak tahan lagi dengan sikap Adrian yang sangat manis padanya
“Apa aku gak boleh memanjakan calon istriku?” ujar Adrian dengan nada menggoda
“Calon istri?..hmm,...Apa Mas sedang sakit parah? Sehingga begitu ingin kembali padaku?” tanya Saye terus terang, Adrian menghentikan makannya
“Apa harus kita bicarakan sekarang?, kamu baru saja tiba, apa tidak lelah?” tanya Adrian
“Sebenarnya aku lelah, tapi melihat sikapmu yang tidak biasanya membuat lelahku hilang, aku jadi penasaran, setelah 4 tahun kita berpisah, kenapa baru sekarang? Tanya Saye
“Kamu masih marah padaku Saye?” tanya Adrian
__ADS_1
“Menurut mu? Apa aku tidak berhak marah?” tanya Saye kesal
“Kita sudah berpisah cukup lama, masuk tahun ke empat, tapi kamu masih marah padaku, itu berarti kamu masih ada rasa padaku kan?” ujar Adrian dengan nada datar
“Apa perasaanku penting Adrian?” Saye tidak memanggil dengan sebutan Mas lagi
“Tentu saja penting!, aku ingin kembali pedamu, dan aku akan memastikan hatimu masih untukku!” ujar Adrian dengan tatapannya yang tajam. Saye menatap matanya, wajah Adrian yang putih, berhidung mancung, alis agak tebal, matanya agak ke dalam. Bentuk wajahnya agak lancip, perawakannya sedang tapi tidak gemuk. Dulu lelaki ini telah membuatnya tergila-gila, ia menolak lamaran beberapa lelaki yang tertarik padanya hanya untuk mengejar Adrian. Kini harapannya terkabul, Adrian lelaki yang sangat ia cintainya kini berpaling padanya.
“Jadi kenapa aku harus menolaknya?” pikir Saye sambil meminum jusnya.
“Tuhkan, blepotan!” Adrian mengelap jus yang menempel di bibir Saye.
“Bagaimana dengan istrimu yang sekarang? Dan anakmu?” tanya Saye
"Dia bukan anakku" ujar Adrian enteng
“Yah,kalau boleh jujur, sebenarnya kamu agak bodoh!” ujar Saye
“Aku bodoh?” tanya Adrian
“Ya tentu saja, bukan agak lagi, tapi beneran bodoh. Kamu bertemu dengannya lagi, pada saat ia sudah bersuami, tentu saja itu bukan anak mu, aneh kalau kamu berpikir anak itu anakmu!” ujar Saye, ia hanya menyatakan yang ia pikirkan
“itulah cinta, kita tidak bisa melihatnya dengan jelas, apalagi seperti berada dalam pusaran, aku selalu merasa cintaku tidak pernah cukup untuknya” ujar Adrian
"Kalau begitu kenapa kau ingin kembali kepadaku? Apa aku akan kembali menjadi pelarianmu?” tanya Saye
“Aku lelah mengejarnya, ia bilang ia tidak bahagia bersamaku. Ia kembali kepada suaminya!” ujar Adrian
“Kenapa kamu berpikir aku tidak lelah mengejarmu?” ujar Saye dengan nada tajam
“aku tahu aku orang yang tidak tahu malu, mengemis-ngemis kepada mantanku”
“Tuh sadar!” potong Saye
“Siapa?” Saye bingung
“Istriku, aku memergokinya berselingkuh dengan mantan suaminya, di kamar kami. Mereka menertawakan aku. Aku sudah memegang golok untuk membacok kepala lelaki itu, tapi kemudian terbersit wajahmu Saye! Wajahmu yang menangis memohon kepadaku untuk tidak menceraikanmu. Aku menghentikan tindakanku. Saat itu juga aku laporkan keduanya atas pasal perzinahan.”
“Lalu?”
“Mertuaku memohon kepadaku agar aku mencabut laporan, mereka meminta belas kasihku, karena anak itu akan menderita karena perbuatan ibunya. Aku menangis mengingat anak itu! Perbuatan bejat kedua orang tuanya tidak seharusnya ditanggung oleh anak mereka, kemudian aku cabut laporannya.”
“Apakah istrimu menyesal?”
“Ia marah, ia bilang anak itu bukan anakku, dari awal dia tidak mencintaiku, aku hanya sebagai pelarian baginya. hidup ini lucu , selama ini ia juga mengejar cinta yang lain. Aku tidak membalas kata-katanya yang menyakitkan. Aku menceraikannya langsung talak tiga, aku tidak ingin melihat wajahnya lagi” ujar Adrian dengan nada sedih
“Jadi kamu ingin kembali kepadaku karena menyesal telah menyakitiku?”
“Aku minta maaf setulus hatiku!” ujar Adrian memohon
“Apa kita harus kembali menjadi suami istri?” tanya Saye
“Mengapa tidak? Bukankah kamu masih mencintaiku?” tanya Adrian
“HAH!!!”ujar Saye, lalu ia membuka dompetnya dan memberikan 2 lembar uang ratusan ribu
“Aku bayar bagianku, gak usah dikembalikan!” ujar Saye tegas, ia menarik kopernya dan pergi meninggalkan Adrian.
“Saye! Tunggu !” Adrian menarik tangan Saye mencegahnya keluar dari restauran
“Kenapa? Apa uangmu kurang?” tanya Saye, ia memberi isyarat kepada waiter untuk memberikan tagihan makan hari itu
“Hanya 600 ribu, apa kamu tidak punya uang?” tanya Saye,
__ADS_1
“Ada Saye, tolonglah jangan pergi seperti ini!” Adrian memohon
“Adrian, Aku memang pernah mencintaimu, tapi seperti yang kamu bilang, aku saja tidak pernah cukup untukmu. Aku sudah memaafkanmu! biarkan aku pergi!”
"tidak bisa! jangan begini Saye, ayolah, Kamu masih sayang aku kan?" tanya Adrian memelas
“Adrian, jangan bikin malu, apa dengan menarikku seperti ini, aku akan tunduk padamu? Malu banyak orang yang memperhatikan!” bisik saye
“Aku gak peduli, kamu harus menerimaku kembali Saye! Atau aku mati!” ujar Adrian, ia nekat mengambil pisau steak dari meja dan berniat untuk mengiris pergelangan tangannya
“Eh Adrian, apa kamu sudah gila?” teriak Saye yang berusaha mencegah Adrian mengiris tangannya. Mereka rebutan pisau steak, orang-orang menyaksikan adegan itu, ada yang hanya menonton, ada yang berteriak, waiter segera memanggil keamanan bandara, mereka membantu Saye memegangi Adrian, yang akhirnya bisa ditenangkan. Ambulan dipanggil, Adrian di bawah ke rumah sakit terdekat. Saye mengikuti ambulan dengan taxi. Hasil diagnosa dokter, Adrian mengalami depresi yang cukup parah. Saye menghubungi keluarga Adrian untuk mengabarkan keadaan Adrian.
Ibunya Adrian sudah renta, perempuan berusia 80 tahun itu sudah sulit berjalan, ia didorong naik kursi roda oleh cucu lelakinya, anak dari kakak Adrian. Saye menyapa mantan mertuanya
“Ibu, apa kabar?” sapa Saye mencium tangannya.
“Saye, anakku!!” ujar sang mantan mertua mengusap rambut Saye dengan sayang
“Seharusnya kamu jangan menceraikannya, Adrian kembali pada wanita ****** itu!” ujar sang ibu kesal
“Sudahlah Nek! Jangan marah-marah nanti darah tingginya kumat!” larang sang cucu
“Setelah ia menceraikan mu, aku mengusirnya dari rumah, Aku begitu marah padanya karena tidak bisa membedakan mana perempuan baik-baik mana perempuan ******!” ujar sang ibu lagi
Oddy , keponakan Adrian berusia 18 tahun, ia cukup dewasa untuk memahami permasalahan omnya
“Jadi bagaimana dengan Om, tante?” tanyanya
“Dokter bilang ia harus dirawat di rumah sakit jiwa, tante pikir itu yang terbaik untuknya. Depresi tidak bisa dianggap remeh, apalagi Om mu berniat melukai dirinya sendiri!” ujar Saye
“Kenapa ia melukai dirinya sendiri?” tanya ibu mertua tiba-tiba
“ehhhh..dia ingin kembali kepadaku!” jawab Saye pelan
“Apakah kamu menolaknya?” tanya ibu lagi, Saye mengangguk
“Kalau begitu, lebih baik kamu pergi! kamu sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya, aku takut melihatmu justru membuatnya makin sakit!” Ibu mengisyaratkan Oddy untuk mendorongnya pergi, Saye menunduk memberi hormat. Setelah membayar tagihan rumah sakit untuk diagnosa dokter dan ambulan, Saye beranjak pergi
“Tante!” panggil Oddy, saye menoleh
“Ya?”
“Aku boleh minta nomer tante, aku akan mengabarkan keadaan Om, jika sudah membaik.
“Hmmm...apa perlu seperti itu?” tanya Saye ragu, ia bertekad untuk melupakan Adrian dan masa lalunya
“Itu kalau tante tidak keberatan, oh iya nenek memintaku untuk menanyakan nomor rekening tante, beliau bilang biaya rumah sakit biar kami yang tangani.” Ujar Ody
Saye lupa, keluarga Adrian cukup kaya, ibunya memiliki usaha restauran yang cukup ternama dan memiliki beberapa cabang di Indonesia.
“Oh iya, baiklah!” Saye memberikan nomor rekeningnya
“Nomor telepon tante?” tanya Ody lagi
Saye mengambil kartu nama dari tas tangannya
“Kamu bisa menghubungi nomor ini!” ujarnya, ia memberikan kartu nama bisnisnya, ia tidak berniat dihubungi secara pribadi baik oleh Adrian maupun keluarganya. Ody menerimanya, lalu kembali ke tempat neneknya.
Sepanjang lorong rumah sakit ia mengingat kembali perjumpaan awal mereka di kampus, hingga masa pernikahan, kemudian saye membuka dompetnya, diambilnya foto pernikahan mereka yang selama ini tersimpan rapi di dompetnya, lalu ia merobeknya
"Selamat tinggal Adrian semoga kamu baik-baik saja!" ucapnya sambil membuang robekan foto ke tempat sampah, kemudian ia mengangkat telpon dari grab car yang sudah ia pesan, Ia meninggalkan rumah sakit, tanpa menoleh lagi. Sejak saat itu ia tidak mendengar kabar tentang Adrian lagi.
_Kisah saye-tamat_
__ADS_1
-Rita-bersambung_