
Penolakan Rita terhadap pertunangan tentu saja tidak bisa diterima begitu saja oleh kakek Sugiyono. Walaupun di depan Darmawan ia tampak tenang, tapi di belakangnya ia sangatlah berkeberatan.
“Jadi bagaimana Kak, Rita sudah menolak pertunangan, dan dia mengancam akan bunuh diri atau membunuh Rendy kalau pertunangan itu terjadi, walapun aku sangsi dia akan melakukannya!”ujar Darmawan melalui video call di kantornya.
“Wah itu masalah serius, kalau Rita sudah bilang begitu, berarti bisa jadi dia melakukannya. Kamu gak kenal dia seperti aku mengenalnya. Anak itu punya kemauan keras dan nekat, aku dengar Reza juga sulit mengendalikannya.” Jawab Sugiyono
“Jadi bagaimana? Kita batalkan saja? Lagi pula aku dengar dari Andi, Rendy yang menolak Rita lebih dulu.”
“Andi bilang begitu?”
“Iya, Rita cerita kepada Ratna dan Andi waktu ia diopname”
“hmm....Lalu, bagaimana dengan Rendy sekarang?”
“Ia sudah kembali ke Dubai, aku gak mau melihat mukanya, dia menolak cucu kesayanganku!”
“Namanya anak muda Wan, bisa jadi dia tidak serius” ujar Sugiyono membela
“Aku pikir kak, aku gak rugi dengan batalnya pertunangan mereka, toh aku ikuti saranmu karena menghormati mu, tapi kalau seperti ini, jujur aku tersinggung. Rita itu cucu kita, dan Kita tidak perlu mengemis cinta dari cucu mereka yang gantengnya saja tanggung!” ujar Darmawan dengan nada kesal.
“Hahaha..kamu jangan baperan begitu, namanya anak muda bisa berubah-ubah!” ujar Sugiyono
“Tapi Kak, aku setuju dengan Andi, Rendy ini memang tangkas, tapi sikapnya itu angkuh sekali. Aku merasa dia tidak menganggap keluarga kita sama sekali!”
“Ah masa iya? Kamu jangan terpengaruh sama cerita Andi, bisa jadi dia ingin mendekatkan Rita dengan temannya!”
“Temannya?”
“Iya, Arya Dewangga, mereka kenal sejak kecil. Dan aku dengar mereka sempat dekat waktu liburan di Bali!”
“Ya ga apa lah kak, dari pada dengan Rendy, aku khawatir nanti kalau mereka jadi menikah, Rita akan senasib dengan Lestari!”
“Lestari? Itu siapa ya?”
“Lestari cucu keluarga Suharso, Ia dijodohkan dengan cucu keluarga Amirudin. Setelah mereka menikah eh suaminya si Paul malah pacaran lagi dengan pacar lamanya. Si Lestari di sia-sia di keluarga itu. Orang melihatnya seperti pembantu di keluarga itu!”
“Wan, kamu jangan menyamakan Rita dengan Lestari, kau gak tahu ya kemampuan Rita? Kalau ia mengamuk, lelaki seperti Paul bakal dibikin cacat olehnya. Itu salah satu sebab mengapa aku memilih Rita daripada cucuku yang lain. Rita itu pemberani, aku pikir keluarga manapun tidak akan macam-macam dengannya.”
“Tetap saja kak, Rita itu anak perempuan, ada saat ia sangat rapuh, apalagi kalau ternyata ia benar-benar mencintai lelaki itu, sekuat apapun fisiknya tapi hatinya akan tetap tunduk. Aku yakin salah satu sebab mengapa Lestari tetap bertahan di keluarga itu karena ia sangat mencintai Paul.”
“Wan, kamu harus berhenti membaca novel picisan, sepertinya kamu terlalu banyak waktu luang!.”
“Kok kakak tahu Lestari itu tokoh Novel?”
“Karena aku juga membacanya!” jawab Sugiyono
“Hahahaha...rupanya kita telalu banyak waktu luang ya kak?” ujar Darmawan tertawa”
“Hahahaha....yahh...cucu-cucuku sekarang tinggal bersamaku, rumah ini hidup kembali, aku sekarang lebih sering di perpustakaan, mendengarkan rumpi-an para cucu.”
“Kakak enak cucunya banyak, cucuku cuma 2, mereka sibuk sendiri-sendiri” keluh Darmawan
“Bukannya kamu yang sibuk? Aku dengar dari Andi, ia sekarang sering di rumah untuk menemani Rita, karena kamu tinggal-tinggal terus untuk perjalanan bisnis.”
“aku belum bisa mempercayai para bawahanku untuk mengelola bisnis, jadi aku turun tangan sendiri”
“Bukankah Radian sangat baik melakukan itu?”
“Ia menjalankan bisnisku yang lain, sekarang ia menjalankan bisnisnya sendiri, aku bangga padanya!”
“Kalau begitu jadikan Andi CEO, biarkan dia menjalankan perusahaanmu, kamu jadi komisaris, kamu bisa mengajarinya pelan-pelan!”
“Andi masih terlalu muda, aku pikir mungkin sekitar 5-6 tahun lagi aku akan memberikan bisnis ini kepadanya”
“sebelum itu terjadi kamu harus mengajarinya lebih dulu! “
“Tentu saja kak!, oiya jadi bagaimana tentang Rendy? Kita mundur saja?”
“Jangan!!! Kita pending dulu, kita lihat nanti. Toh seperti kamu bilang Rita masih 17 tahun. Oiya bulan depan ia ulang tahun, apa kamu akan merayakannya?”
“Bulan depan? Tanggal berapa?”
“Tanggal 17 kalau gak salah, aku baru saja menerima WA dari Ratna, ia berencana akan ke Auckland sekitar tanggal 15 untuk mempersiapkan ultah Rita. “
“O ya? Ia akan tinggal di mana?”
“Aku dengar ia sudah booking hotel”
“Mengapa dia gak mengadakannya di sini? Di rumahku? Ada ruangan luas, dia juga bisa tinggal di sini, bisa dekat dengan Andi dan Rita!”
“Mungkin Ratna merasa tidak enak sama kamu yang mantan mertuanya.”
“Tapi dia ibu dari cucuku, tolong kak, suruh dia jangan sungkan kepada ku, aku sudah menganggapnya anakku sendiri!” mohon Darmawan
“Baiklah, akan aku sampaikan!, sudah dulu ya!” kedua kakek mengakhiri percakapan jarak jauh mereka.
Darmawan keluar dari kantornya, semua pegawai menaruh hormat pada lelaki berusia 65 tahun itu yapi masih gagah dan tampan. Ia memasuki mobil sedan mewahnya, ia terkejut ketika mengetahui di dalam mobil telah ada seorang wanita , usianya sekitar 50 tahun tapi masih tampak kecantikannya
“Apa kabar Dar!” sapa wanita itu
“Astaghfirullah! Shanti?? Sejak kapan kamu di sini?”
__ADS_1
Shanti istri kedua Darmawan, yang dulu merupakan pengasuh Eka dan ibunya Mitha.
“Baru saja, aku minta Scott pergi sebentar, sementara aku menunggu mu di sini!”
“Awas ya si Scott” maki Darmawan dalam hati
“Sudah selesai ngambeknya?” tanya Darmawan
“Kamu keterlaluan! Aku ngambek, bukannya disayang-sayang malah dibiarkan! Dua tahun aku di Cilacap kamu gak jemput!”
“Eh kamu di Cilacap? Mitha di Swiss, kamu gak ikut dia saja?”
“Anak itu!! Dia lebih menurut kepadamu dari pada aku ibu kandungnya!” keluh Shanti
“Itu karena kamu selalu mengeluh dan ngambek, jangankan aku, anakmu saja gak tahan kepadamu!” gumam Darmawan
“Tapi kamu keterlaluan Dar!, Aku kan masih istrimu, masa aku dibiarkan sendirian?”
“Yang penting kamu gak kekurangan apapun kan? Pegawaiku terus mensuplai kebutuhanmu kan? Jadi kenapa kamu mengeluh? Seharusnya kamu bersyukur, aku tidak menceraikan mu! Kamu itu istriku seharusnya kamu melayaniku, jangan malah ngambek langsung keluar rumah, dua tahun lagi!”
“Iya,..iya, Aku minta maaf!..Maafin aku ya! Say!” tiba-tiba Shanti mengubah suaranya menjadi manja
“Ih serem ah!” ujar Darmawan merinding
“Ah kamu! Masih saja dingin!, selama ini aku sudah berusaha mendekatimu, aku tahu sejak ibunya Eka meninggal kamu sangat kesepian, aku bersedia menemanimu! Itulah alasan aku mau menikah denganmu!”
“Bukannya karena suami lamamu itu KDRT kepadamu? Jadi kamu memintaku untuk membantumu? Aku ingatkan lagi nih!”
“Iya!! Aku mengerti!, jadi bagaimana, kamu mau menceraikan aku? Pernikahan kita walaupun Cuma di atas kertas tapi sudah berlangsung lama, lebih dari 12 tahun. Jadi kalau kau menceraikanku seharusnya aku dapat kompensasi yang cukup besar dong?”
“Yang kamu pikirkan hanya uang-uang melulu, apa kamu gak kasihan sama Metha? Kalau kita bercerai, maka dia bukan apa-apa lagi bagiku!”
“Kamu tega?”
“Ini realitas Shan! Jadi berhentilah meminta cerai dan mulailah melayaniku dengan baik!” ujar Darmawan
“Benarkah? Boleh? Aku boleh tidur di kamarmu kan?”
“Enggak dong, itu privasi ku, rumahku luas, kamarnya banyak, kamu bisa pilih salah satu kamar untuk mu!”
Beberapa menit kemudian Scott datang, ia membawa dua buah es krim
“Ini bu, pesanan ibu” scott memberikan es krimnya
“Es krim apa itu?” tanya Darmawan
“Coklat vanila!”
“Semuanya untukku! Kamu kan gak suka vanila?” ujar Darmawan
“Ah kamu masih ingat yang aku gak suka!” ujar Shanti tersenyum senang
Mobil meluncur meninggalkan halaman kantor menuju rumah besar
“Shan, di rumah sekarang ada cucu perempuanku!”
“Hah? Apa kamu menikah lagi tanpa setahuku?” ujar Shanti dengan nada tinggi dan membudsungkan badannya
“Hei!! Dengar dulu penjelasanku! Kamu ini, mudah sekali naik darah!” omel Darmawan
Shanti kembali ke posisi semula
“Cucu perempuan ku ini adiknya Andi!”
“Kog bisa?” potong Shanti
Darmawan menutup matanya menahan kesal
“Jadi dulu ketika Ratna menikah lagi, ternyata ia sedang hamil, nah bayi yang dikandungnya itu, ternyata anaknya Eka!”
“Kamu yakin Dar?” tanya Shanti setengah tidak percaya
“Tentu saja, aku gak mungkin mengakui sembarang orang tanpa ada tes DNA kan? Rita adalah anak Eka, jadi ia cucuku!”
“Ooo pantas, kamu sibuk selama ini, karena punya cucu baru?”
“kenapa memangnya?”
“Tidak, aku heran saja, setelah bertahun-tahun kenapa tiba-tiba cucu ini ada? Sebelumnya kemana saja dia?”
“sebelumnya ia ikut Reza yang ia pikir ayahnya”
“Reza? Dokter ganteng anak angkat mu?”
“Iya, si Reza. Jadi Shanti, aku harap kamu dan Rita bisa akrab, jangan menyulitkan dia ya? aku Cuma ngasih tahu saja. Kalau kamu minta aku memilih mu atau Rita, tentu saja aku memilih Rita. Jadi aku harap kalian bisa berhubungan baik!”
Shanti mengernyitkan dahinya, ia penasaran tentang sosok Rita
Sesampainya di rumah, seluruh satf rumah dikumpulkan, setelah pengarahan, mereka sibuk menyiapkan kamar untuk Shanti, sementara Shanti berkeliling rumah untuk melihat keadaan. Ia mampir ke kamar Andi, ia celingukan mencari keberadaan Andi.
“Maaf bu, mas Andi sedang kuliah” ujar salah satu staf yang ditanyai Shanti. Walaupun mereka berada di NZ, seluruh staf yang WNI maupun WNA memanggil Andi dengan sebutan Mas dan Rita dengan sebutan Mbak
__ADS_1
“Kalau Rita kemana ya?” tanya Shanti lagi
“Mbak Rita sedang berlatih di gym.”
“Fitnes?”
“Bukan, kick boxing, dia sedang menekuni olah raga baru.”
“Ooo,” ucapan staf tersebut sedikit membuat Shanti ciut, cucu tirinya mahir bela diri, ia harus lebih berhati-hati, begitulah pikirnya
Sementara itu, Rita berada di gym, ia ditemani Daniel yang membantunya berlatih.
“Hiah! Hiah! Hiah!” teriak Rita, tendangan terakhir ke bantal pasir yang dipegang Daniel bergerak cukup keras, Daniel terkejut, hingga ia terjatuh.
“Ups Sorry!, Kamu gak apa-apa?” tanya Rita, ia mengulurkan tangannya membantu Daniel berdiri.
“Rita, dengan tenaga sebesar ini, seharusnya kamu gak kalah dari Rendy kan? Jangan-jangan dia benar kalau kamu sengaja mengalah?”
Rita tersenyum, ia membuka sarung tangan tinju dan pengaman wajahnya
“Kakek Sugi sangat penasaran dengan kekuatanku, dia gak akan berhenti mengejar sampai aku benar-benar kelihatan kalah!”
“Jadi betul, kamu mengalah?”
“Mungkin juga kalau aku berusaha bersungguh-sungguh. Masalahnya, aku gak mau kakek Sugi terobsesi terus, sampai memaksaku terus bertanding tahun depan.”
“Tapi seru Rit, sayang kamu kalah, padahal hadiahnya lumayan besar!”
Saking asyiknya mereka mengobrol, Daniel yang baru saja memangkas rambutnya, sehingga ia kelihatan lebih tampan dari biasanya. Banyak cewek-cewek yang berada di gym, memperhatikannya dan terus tersenyum, bahkan ada yang memotretnya dari jauh.
“Model rambutmu bagus!, tuh banyak penggemar!” ujar Rita, ia memainkan bagian depan rambut Daniel
“Bagus ya? kemarin rambutku sudah gondrong, besok malam aku harus menggantikan pak Radian datang ke perjamuan , kamu mau ikut?”
“Aku? Apa boleh?”
“Tentu boleh, semua membawa pasangan. Aku gak mau sendirin seperti orang bodoh di sana!”
“Lho bukannya kamu sering menggantikan Om?”
“Iya, itulah, aku bosan sendirian, belum lagi kalau ada istri bos yang genit, aku kesal. Aku tolak dengan halus, mereka tersinggung. Aku pikir ini tidak akan terjadi kalau aku membawa pasangan.”
“Kamu punya pesona yang menarik perempuan dewasa, manfaatin dong!”
“Kamu mau pacarmu ini jadi simpanan emak-emak tua?” ledek Daniel
“Hush jangan ngomong sembarangan, omongan itu doa tahu!” Rita sangat senang, Daniel menganggapnya sebagai pacar.
“Kamu tunggu di sini ya, aku ambil motor!” , Rita mengangguk, beberapa menit kemudian Daniel datang dengan motor racingnya yang berwarna orange
“Ayo naik!” dia memberikan helm kepada Rita. Sebelum mengenakan helm, Rita memperhatikan motor Daniel
“Kayaknya aku kenal motor ini?” pikirnya, lalu ia naik ke atas motor dan membonceng, Daniel meluncur menuju rumah besar dengan kecepatan sedang. Jarak tempat gym ke rumah besar tidak memakan waktu lama, 30 menit kemudian, mereka tiba di rumah besar. Daniel mengantarkan sampai ke depan pintu masuk.
“Sudah ya aku pulang, nanti malam aku telepon lagi!”
“Oke, terimakasih sudah ditemani olah raga, hati-hati di jalan!”
Di pintu depan, Rita dihampiri oleh salah satu staf
“Mba Rita, diminta segera ke ruang makan, oleh kakek!”
“Aku taruh tas dulu ya?”
“Aku saja yang taruh di kamar mbak, kelihatannya tuan sudah menunggu mbak sejak tadi. Mas Andi juga sudah menunggu di meja makan.”
Rita melihat jam tangannya
“Ini bahkan belum masuk jam makan malam, kog tumben?” pikirnya, ia menyerahkan tasnya ke staf dan berjalan cepat menuju ruang makan.
“Assalammu’alaikum Kakek!” sapa Rita dengan nada ceria, seorang staf menyediakan kursi di samping Andi.
“Wa’alaikummussalam!, dari mana Rit?”
“Nge-gym Kek, badanku pegal-pegal kalau engga digerakkan!”
“oo begitu, aku mau memperkenalkan seseorang, Shanti keluarlah!”
Seorang perempuan cukup cantik memasuki ruang makan, ia menempati kursi di samping kiri Darmawan
“Rita ini nenekmu! Beliau mamanya Metha!”
Shanti tersenyum mengangguk, Rita beranjak dari kursinya dan menghampiri Shanti, dengan sopan ia menyalaminya
“Saya Rita Nek!”
“Cucuku sopankan?, hehehe” puji Darmawan
Tak lama kemudian hidangan makan malam pun dihidangkan, mereka menikmati hidangan dengan tenang
-bersambung-
__ADS_1